[Ficlet] Another Incident

seunghan-ai

a movie by tsukiyamarisa

Another Incident

starring [17] Boo Seungkwan and [OC] Choi Han duration Ficlet (800 words) genre School-life, Friendship rating T

.

related to: JINXED

.

“Sudah tidak marah, ‘kan?”

.

.

.

Pukul satu siang, dan Choi Han sudah memasang tampang cemberut yang agaknya akan bertahan sepanjang jam istirahat.

Gadis berambut gelombang sebahu itu hanya bisa menghela napas panjang-panjang, dalam diam bertanya-tanya apakah ia pernah membuat kesalahan besar di kehidupannya yang lampau. Kesalahan yang membuat ia terpaksa duduk di sudut kantin sekolah, berhadapan dengan seorang lelaki berpipi tembam dan dua cup es krim.

“Cokelat untukmu! Kamu pasti suka rasa cokelat—“

“Aku tidak suka cokelat.”

Han memotong singkat, tak mengerti mengapa dirinya mau-mau saja menjelaskan. Padahal, ia tadi datang kemari secara terpaksa. Dipaksa mungkin lebih tepat, lantaran Boo Seungkwan—temannya yang super berisik itu—langsung menarik tangan Han ketika bel istirahat berbunyi. Abaikan segala protes dan teriakan, selagi orang-orang di sepanjang koridor memandang mereka dengan alis terangkat.

Itu saja sudah cukup untuk membuat rasa kesal menumpuk, tetapi seolah tak paham, Seungkwan tetap mengajaknya pergi ke kantin. Berceloteh mengenai janjinya tempo hari, bahwa ia akan membelikan Han es krim sebagai tanda permintaan maaf. Han sudah berkata kalau ia tidak butuh, namun agaknya Boo Seungkwan itu cukup keras kepala dan suka seenaknya sendiri.

Omong-omong soal permintaan maaf, Han tidak merasa dirinya sudah benar-benar bisa melupakan kejadian kemarin. Saat-saat ketika ia terpaksa duduk bersimpuh di koridor akibat dijadikan tukang-pos-dadakan oleh Seungkwan, juga hukuman tambahan yang ia terima lantaran kehadiran lelaki itu membuatnya tak tahan untuk mengomel. Pokoknya, di mata Han, Seungkwan itu bawa sial dan—

“Ya sudah. Kamu mau punyaku?”

Memotong jalan pikir Han yang sedang berapi-api layaknya lahan pertempuran, Seungkwan menyodorkan cup es krim vanilla-nya. Isinya sudah dimakan separuh, membuat Han sontak mengernyitkan kening dan mendengus pelan.

“Kamu bercanda, ya? Aku tidak mau berbagi—“

“Kalau begitu, biar kubelikan lagi.”

Lantas, belum sempat Han mencegah, Seungkwan sudah lebih dulu melesat pergi. Meninggalkan Han yang hanya bisa bengong, tak mengerti mengapa lelaki itu begitu keras kepala ingin membelikannya es krim. Jelas-jelas Han tak menuntut ini-itu; satu-satunya hal yang dia inginkan adalah melihat Seungkwan menjauhinya. Sikap temannya itu menguras energi, membuat Han harus sering-sering menghela napas dan memijat kening demi menghadapinya.

“Satu es krim vanilla yang masih utuh untuk Nona Galak!”

Contohnya, seperti sekarang ini.

Seungkwan mengucapkan kalimat itu dengan senyum lebar, seakan panggilan Nona Galak bukan sesuatu yang menyinggung perasaan. Ia bahkan membukakan cup es krim tersebut, meletakkan sendok mungil yang ada ke tangan kanan Han sambil memasang cengiran.

“Dimakan, dong! Atau satu saja tidak cukup?”

“Cukup,” jawab Han singkat, berdecak tetapi tetap bergerak untuk memakan es krimnya. Prinsip gadis itu hanyalah satu: tidak boleh menyia-nyiakan pemberian. Lagi pula, semakin cepat ia makan es krim ini, semakin cepat pula ia bisa menyingkir dari Seungkwan, bukan? Han butuh ketenangan. Ia ingin sekali kembali ke kelas dan menyelesaikan novel yang baru dibelinya kemarin. Bukan malah menghabiskan waktunya dengan—

“Han-a.

Han hanya melirik sekilas untuk menunjukkan bahwa ia mendengarkan.

“Masih marah padaku, ya?”

“Kalau iya kenapa, dan kalau tidak kenapa?”

“Kalau iya, berarti besok aku harus mentraktirmu es krim lagi dan—“

“Aku tidak marah,” sahut Han cepat, menyuapkan sesendok es krim vanilla sebelum menambahkan, “Jadi, jangan menyeret-nyeretku ke kantin lagi, oke? Toh, kamu tidak berutang apa-apa padaku.”

Seungkwan tak menjawab, namun kedua maniknya mengamati sang gadis tanpa berkedip. Seakan sedang menilai dan mempertimbangkan, menunggu sampai Han menghabiskan es krimnya sebelum ia berkata, “Tapi, kemarin aku berjanji padamu. Dan kamu malah langsung pulang setelah selesai membersihkan—“

“Itu bukan janji, oke?” Han memotong, mendelik ke arah Seungkwan. “Kamu sendiri yang membuatnya, aku tidak mengiakan.”

“Tapi—“

“Dengar.” Satu tarikan napas dalam, dan Han beralih menyilangkan kedua lengannya di depan dada. “Bisakah kamu membiarkanku menjalani hari dengan tenang? Kita bahkan tidak pernah menjadi teman akrab, ‘kan?”

Seungkwan mengangguk kecil. Membenarkan, tetapi lekas-lekas menggeleng pada detik selanjutnya sambil berujar, “Ibuku bilang, pria sejati harus menepati kata-katanya. Aku tidak bermaksud menganggu, aku hanya mau menepati kata-kataku.”

Selama beberapa jenak, Han hanya bungkam. Penjelasan Seungkwan itu sedikit membuat ia geli,  tak bisa menahan dirinya untuk merasa heran. Masih ada, ya, orang seperti itu pada zaman seperti ini? Sedikit kekanak-kanakan, begitu batin Han berkata, terlebih karena mereka bukan lagi anak SD yang—

“Han-a?”

“Oke.”

“Oke?”

“Aku tidak marah, aku sudah paham dengan penjelasanmu,” jelas Han, tangan terulur untuk mengambil cup es krimnya yang sudah kosong. “Sekarang, es krimku sudah habis. Kamu juga sudah menepati janjimu. Jadi, urusan kita selesai sampai di sini, ‘kan?”

“Eh—“

“Karena aku ingin kembali ke kelas sekarang,” lanjut Han, dengan lekas bangkit berdiri tanpa menunggu tanggapan Seungkwan. Benaknya bersorak gembira, senang karena urusan ini akhirnya terselesaikan. Namun, Han melupakan sesuatu.

Choi Han lupa kalau Boo Seungkwan itu terkadang bisa jadi sangat spontan dan menyebalkan, sehingga ia nyaris saja jatuh tersandung langkahnya sendiri ketika Seungkwan tahu-tahu menarik lengannya. Memaksa Han untuk berhenti, selagi telunjuk lelaki itu menyentuh sudut bibir Han untuk memaksanya menghadirkan sebuah lengkungan.

“Aku akan mengizinkanmu pergi kalau kamu sudah tersenyum. Sudah tidak marah, ‘kan?”

Oh, well, tadi Han memang sudah tidak marah.

Tetapi, dengan kedua telunjuk Seungkwan yang kini menempel di pipinya serta bisik-bisik dari seluruh penjuru kantin, agaknya mustahil jika Han….

.

.

.

“Hei, lihat! Apa lelaki itu baru saja menyatakan cintanya?”

.

“Awawaw, mereka manis, ya!”

.

“Apa dia akan diterima?”

.

“Ah, tapi gadis itu terlihat—“

.

“YA! DIAM KALIAN SEMUA! SIAPA JUGA YANG MAU DEKAT-DEKAT DENGAN SEUNGKWAN LAGI, HAH?!”

.

.

.

Tuh, kan.

Kalau sudah begini, apa masih bisa Han memaafkan Seungkwan untuk kali kedua?

.

fin.

sebelumnya minta maaf dulu, tapi jangan bosen ya liat saya nge-post mulu T T

kebetulan dalam rangka memenuhi target fics di 2015, dan karena currently masih ada 20 fics tersisa, ya kurang lebih saya akan muncul sebanyak itu di sini atau di wp pribadi. Termasuk untuk playlistfic Bangtan, beberapa bday fic (yep, Seokjin, Taehyung, Joshua), dan fic random lain.

Oke, see ya later!❤

4 thoughts on “[Ficlet] Another Incident”

  1. Bentar mer. Mau ngakak…….aku malah kebayang omongannya lais semalem yang bilang seungkwan-jeonghan ato malah seungkwan-hansol…….jadi aku ngakak sepanjang fic soalnya ini lucu dan visualnya han malah ganti ganti dari junghan ke hansol /dikeplak amer/ udah mer ini random banget tapi menghibur sekali………..
    Semangat buat targetnya meer! tsukiyamarisa-nim pasti bisaa! ><)99

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s