[1/2] Cheater

PhotoGrid_1449137581333

CHEATER

fanfiction by slmnabil

Starring BTS’s Kim Taehyung and OC’s Jenny Muff Genre Au, Friendship Duration Double-Ficlet Rating PG-15

φ

“Terkadang, aku merasa kamu curang Jen.”


Selama ini, ia hidup dalam kelam.

Jika kamu penasaran sepekat apa kegelapan, tanya Taehyung. Jika kamu tanya sedalam apa dasar laut, tanya Taehyung. Jika kamu ingin tahu sesakit apa rasanya hidup, tanya Taehyung. Karena ia bilang, ia tepat menggambarkan bagaimana rasanya ingin mati tapi kehidupan masih terlalu sayang padanya.

“Lompat saja sana kalau berani.”

Taehyung selalu ingat perkataan pertama, sorot mata pertama, dan ekspresi pertama yang ia dapati dari seorang Jenny Muff. Saat orang lain mewanti-wantinya untuk tidak melompat dari gedung tingkat 20, gadis itu lebih memilih menantangnya dengan menyilangkan tangan.

“Paling-paling kamu cuma cari perhatian,” tukasnya.

Taehyung hanya diam. Selangkah saja ia maju, kematian bisa saja tertawa menang. Sebelumnya ia sudah bertekad kalau hari ini ia harus jadi bunuh diri, mengingat percobaannya yang empat kali kemarin gagal.

Oke, lompat saja. Sakitnya hanya sebentar kok. 

Tanpa memejamkan mata, Taehyung menggerakan derap kakinya. Ia tidak ingin pandangannya tertutup, biar kehidupan lihat sekejam apa ia memperlakukan seorang manusia. Agar orang-orang fana tahu, akibat yang mereka timbulkan setelah menghardik Taehyung karena menganggapnya berandalan cuma karena satu kesalahan di masa lalunya.

Ia kira semuanya sudah berakhir, ia harap juga demikian. Namun nyatanya, gravitasi masih enggan membiarkan Taehyung sejalan dengannya.

“Sial, dia melompat,” umpat Jenny seraya menjejakkan karet sepatunya cepat sebelum lengan Taehyung menjadi sulit digapai.

“Kena kau,” ia bilang saat kelima ruas jarinya berhasil mencengkram kuat pergelangan tangan Taehyung.

Jujur saja, Jenny tidak begitu paham kenapa ia sampai mau melakukan yang seperti ini. Kenal dengan pemuda ini saja tidak. Ia bukannya tergabung dalam kelompok Penyelamat Kehidupan. Tapi kalau kamu yang sedang bersantai di atap dengan alunan musik kesukaanmu, ditemani deret-deret aksara yang tercetak di atas kertas, kemudian ada cowok edan tiba-tiba mau bunuh diri. Kamu bisa diam?

“Berusaha mendaki dong, mau sampai kapan kamu membiarkan perempuan menolong cowok yang menggelantung seperti ini? Tanganku pegal nih,” kata Jenny.

Sekelibat pandangan mereka bertemu. Sudah ada ribuan kali ia bersirobok dengan iris mata orang lain, namun ini pertama kalinya Taehyung ingin menyimpan sorot mata itu untuk dirinya. Tidak pernah ada orang yang mau memperhatikan dia. Tapi Jenny yang baru ia lihat hari ini mengulurkan tangan untuk menyelamatkan dirinya.

Dan saat akhirnya Taehyung memutuskan untuk mengais ke permukaan, ia tahu kalau secercah sinar menyilaukan baru saja menghantam pupilnya.

.

.

.

Pendengaran Taehyung rasanya seperti diobrak-abrik.

“Sudah dong Jen tertawanya.”

Di hadapannya duduklah Jenny Muff yang tengah terpingkal sembari memegangi perutnya. Taehyung cuma bilang kemarin ia dipukuli setelah dituduh mencuri tas milik seorang wanita paruh baya, tapi ia melakukan perlawanan karena memang tidak begitu. Saat akhirnya wanita itu ingat meninggalkan tasnya di toilet, orang-orang cepat-cepat pergi sambil menutup wajah.

“Bayangkan betapa malunya mereka,” kata Jenny masih dengan napas tidak teratur.

“Oke, tertawa sepuasmu. Lagipula aku suka.”

Taehyung membaringkan tubuhnya ke ubin, memejamkan mata dan menikmati alunan tawa Jenny yang masuk ke pendengarannya.

Sejak kejadian pahlawan-pahlawanan Jenny yang menggagalkan opera bunuh diri Taehyung, keduanya menjadi semakin dekat. Dengan awalan bertukar nama, Taehyung sering mengajak Jenny bertemu sepulang gadis itu dari sekolah.

“Kenapa kamu tidak sekolah?”

Saat Jenny bertanya seperti itu, Taehyung hanya bilang tidak ada sekolah yang mau menerima anak dengan catatan kriminal sepertinya.

“Itu ‘kan dulu, Tae,” sekalipun Jenny melayangkan argumen pendebat ia masih ada kendala lain lagi.

“Aku tidak punya uang. Dan aku terlalu malas bangun pagi.”

“Dasar kau pemalas.” Jenny menoyor kepalanya.

Dengan alasan tidak mau punya teman yang tak tahu apa-apa, Jenny mulai mengajarkan Taehyung materi yang didapatnya dari sekolah. Agendanya, Taehyung akan menjemput Jenny lalu keduanya menuju atap gedung yang menjadi markas besar mereka.

Tapi, Taehyung tidak hanya mendapatkan pengajaran dan seorang guru yang baik. Ia juga menemukan seorang teman dari diri Jenny. Teman yang berharga. Dari segala kemungkinan sifat yang bisa seseorang sukai dari seseorang yang lain, Taehyung rasa ia menemukan semuanya hanya dari satu kepribadian.

Hanya dari Jenny.

“Ups, aku ada kerja kelompok. Teman-temanku sudah di bawah. Aku pergi dulu ya, Tae. Jangan lupa jemput aku besok. Dah,” kombinasi kata yang mengintonasi dari mulut Jenny membuat Taehyung tersadar dari pikirannya yang tengah berkelana.

Sontak saja ia mendudukkan dirinya. Lalu memperhatikan Jenny yang tengah sibuk memasukkan barang bawaannya ke ransel. Taehyung tidak melepaskan pandangannya dari objek paling ujung, sebuah ponsel putih yang selalu Jenny lupakan.

Dan hari ini juga begitu.

“Dah, Taehyung.”

Kemudian ia pergi.

Taehyung tersenyum. “Dasar pelupa,” gumamnya geli seraya menyusul langkah Jenny menuju lantai dasar. Beruntung sebelum pintu besinya tertutup, ia sampai lebih cepat.

Jenny menatapnya penasaran. “Ada apa?”

Taehyung membentuk senyum simpul. “Tidak,” katanya seraya masuk dan menyejajarkan diri dengan Jenny.

Pintu lift pun tertutup, mengantarkan mereka ke lantai bawah.

“Kerja kelompok di mana, Jen?”

“Perpustakaan umum. Mau ikut? Kamu tidak pernah mau pergi ke sana,” sahut Jenny.

Memang tidak. Ini rahasia, tapi Taehyung sebenarnya tidak suka buku apalagi harus membaca kata-kata rumit. Tapi kalau Jenny yang mendongengkannya, mana bisa Taehyung menolak?

“Terkadang aku merasa kamu curang, Jen.”

“Kenapa?”

“Kamu bisa pergi dengan siapa saja, tapi aku cuma bisa dengamu saja.”

Jenny merasa Taehyung agak fanatik dengan teki-teki akhir-akhir ini. “Karena itu aku mengajakmu ‘kan, agar kamu bisa main dengan temanku yang lain. Dan perpustakaan itu tempat yang damai lho, Tae.”

Taehyung bungkam, ia memerhatikan Jenny tanpa bicara banyak. Dan beberapa saat begitu pintu lift kembali terbuka, sebuah tinju rasanya baru saja menghantam isi perut Jenny.

“Oke, asal kamu bilang pada temanmu kalau kau bawa pacar barumu.”

Bagi Jenny, Taehyung kadang tidak bisa ditebak.

“Aku sudah lama naksir padamu, masa tidak sadar sih?”

.

.

.

Mana bisa aku tahu kalau kamu tidak bilang?

~

A/N buat njul, balad gue yang paling sering kasih review~

17 thoughts on “[1/2] Cheater”

  1. Waaaaaaaa taehyung nembak saya wuhuuuuu😍😍😍😍😍😍 fly fly to the sky inimah euy, awas aja kalo chapter 2nya bikin jatoh :’v ff ini semacam charging step 3 setelah makan ayam dan liat doi beli kue cubit :v super zkaleeeh!! Tinggal saya nih ga mulai mulai nulis wkwkwk, ngotretnya kelamaan :’v segera lanjutkan biiiiiiilllll saya suka saya sukaaaaaaa💙💙💙💙💙

    Suka

  2. Tuh bil, kata yang di atas juga penulisnya pintar mengolah kata. Kamu terbaiks di hatiku bil, tapi entah mengapa aku tidak merasa ngefly bacanya wakswakswaks mungkin karena ini buat zulfa. Ohya ada satu tadi typonya wkwkwk, jangan berhenti ya bil, kalo kamu berhenti sekolah ntar kan gabisa meraih cita2 *ngomong apa saya teh*.

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s