[Vignette] I Still

I Still copy

A Debut Movie by Joonisa

Cast [VIXX] Kim Ravi, [OC] Yoo Miwon

Duration Vignette [1.4k Words)

Genre Dark, Romance, Hurt, Sad

Rating PG – 17

.

Manusia bahkan jauh lebih rumit – @snqlxoals818

Better to read Wonshik Story’s first

.

WARNING: Contained kissing, alcohol, curse, and a bit abusive scene

.

Rambut kusut tak tertata, wajah kusam, dan lingkaran hitam di bawah mata sudah cukup menggambarkan kalalu gadis itu tengah dalam keadaan kacau. Tatapannya kosong ke luar jendela. Ia meniupkan uap yang keluar dari sela bibirnya yang sedikit pecah-pecah ke kaca jendela, lalu menuliskan nama seseorang di sana. Ia hendak menambahkan tanda hati di samping nama orang itu, namun urung dilakukannya karena tiba-tiba presensi orang itu hadir di hadapannya.

Hanya berselang sedetik, sebuah umpatan meluncur dari bibir gadis itu karena yang datang bukan orang yang dimaksud, tetapi kesamaan presensi mereka bagai pinang dibelah dua.

“Sialan, kupikir kau – “

“Wonshik? Ck, masih tidak bisa membedakan antara diriku dan Wonshik?”

Pria itu tiba-tiba menarik tengkuk si gadis dan mendaratkan bibir tepat di keningnya, membuat gadis itu luluh seketika di saat tangannya sudah terkepal kuat untuk meninju rahang tegas pria itu. Tanpa merasa bersalah, setelah mencium kening si gadis, pria itu menyeruput beberapa kali green tea latte kepunyaan gadis itu lalu duduk dengan posisi nyaman di kursi seberang.

“Sudah berapa kali kubilang, Wonshik tidak akan pernah menciummu di kening. Hanya aku, Ravi, yang berani dan sanggup melakukannya.”

“Itu terjadi hanya karena Wonshik sudah punya pacar. Kalau belum, mungkin dia lebih berani darimu.”

Pria yang bernama Ravi itu menyunggingkan senyum miring, lalu memajukan tubuhnya ke arah gadis itu.

“Aku jauh lebih nekat dari Wonshik, Yoo Miwon.”

“Dasar iblis!”

Miwon mengeluarkan sebatang rokok beserta pematik dari dalam saku mantelnya. Tawa Ravi pecah saat melihat jemari Miwon bergetar hebat bahkan sebelum pematik itu mengeluarkan api. Ravi merebut kedua benda itu dari tangan Miwon, lalu menyalakan rokok itu dengan mudah layaknya membersihkan debu di ujung kelingking.

“Berikan padaku, Ravi!” Miwon mengulurkan tangannya hendak mengambil rokok yang ujungnya telah terbakar sempurna dari tangan Ravi, namun pria itu dengan cepat mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

“Sejak kapan kau merokok?”

“Sejak saudara kembarmu yang berengsek itu lebih memillih gadis lain daripada aku!” Miwon berteriak tepat di depan wajahnya dengan air mata yang menumpuk di bagian pelupuk. Ravi terdiam beberapa jenak saat Miwon menumpahkan air matanya sambil menutup wajah dengan telapak tangan. Gadis itu benar-benar terlihat sakit saat menangis, membuat air mata Ravi juga ikut-ikutan ingin menjatuhkan diri.

Gadis yang disukainya dibuat menderita oleh pria lain. Rasa sakit itu, Ravi juga merasakannya.

Tanpa siapa pun mengira, Ravi menusuk puntung rokok yang masih menyala itu ke telapak tangan kirinya. Ia menggigit bibir kuat-kuat saat rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya begitu ujung merah rokok itu mulai mengoyak epidermis dan menembus daging tangannya.

“RAVI APA YANG KAU LAKUKAN?”

Miwon merebut rokok itu lalu melemparnya ke lantai, lantas menginjak-injak ujung yang masih menyala itu sampai padam tak bersisa. Tatapannya lalu beralih pada Ravi yang sedari tadi juga menatapnya.

“Apa kau sudah gila?” Miwon menatap Ravi tak percaya, namun yang ditatap justru membalasnya dengan tersenyum lebar.

“Baru tahu, ya? Bukannya sudah dari dulu?”

Miwon kembali ke kursinya sembari mendengus kasar. Tak mengacuhkan Ravi, ia mengeluarkan sebotol minuman keras dari dalam tas, lalu menuangnya ke dalam gelas kosong yang tersedia di atas meja café itu. Lagi-lagi Ravi tertawa nyaring, namun Miwon tidak terpengaruh dan terus menuang minuman itu ke dalam gelas. Saat Miwon hendak meminumnya, ia melirik sekilas pada Ravi, namun Ravi hanya menatapnya sambil melipat kedua tangan di dada. Miwon sedikit berharap Ravi akan mencegahnya minum dan tidak berbuat sesuatu yang melukai dirinya sendiri.

Sampai saat Miwon meneguk minumannya pertama kali, Ravi tidak juga bereaksi. Namun sebuah pernyataan terlontar dari bibirnya saat Miwon meneguk minuman keras itu untuk kedua kalinya.

“Manusia jauh lebih rumit,ya.”

Miwon menatap Ravi heran, lantas berujar,“Memangnya kau bukan manusia?”

“Bukannya beberapa saat yang lalu kau menyebutku iblis?”

Kali ini giliran Miwon yang tertawa. Ia tidak menyangka kalau Ravi akan mengingat umpatannya yang sebenarnya ia anggap hanya angin lalu itu. Melihat tawa Miwon, membuat seulas senyum mengembang di wajah Ravi. Tanpa disadari oleh Miwon, Ravi beringsut mendekat padanya, mengambil botol minuman keras itu dan menuang habis isinya ke lantai.

“Hei! Kenapa dibuang? Itu ‘kan mahal!” Miwon memukul-mukul lengan Ravi namun Ravi hanya bergeming. Setelah melempar botol yang sudah kosong ke sembarang arah, ia menatap Miwon lekat-lekat. Secara sengaja Ravi mengikis jarak di antara mereka berdua, membuat Miwon gelagapan.

“Kau tahu ‘kan, kalau aku pemilik café ini?”

“Lantas?”

“Aku sanggup memberikan yang lebih mahal dan lebih candu dibandingkan dengan minuman yang baru saja kutuang ke lantai, Nona Miwon.”

“Oh… Oh ya?”

Ravi perlahan mendaratkan bibirnya di atas bibir Miwon, menciumnya lembut seraya meraih tubuh gemetar gadis itu ke dalam pelukannya. Semakin lama ciuman itu semakin dalam dan tidak satu pun dari mereka yang berniat mengakhirinya.

Café yang sudah tutup sejak dua jam yang lalu itu pun menjadi saksi bisu saat Ravi dan Miwon menghabiskan malam di sana.

.

.

Miwon terbangun saat matahari yang menembus jendela itu memaksa masuk ke matanya. Ia menggeliat lalu berguling ke samping seperti yang biasa dilakukannya saat baru bangun tidur. Namun saat berguling, ia merasa ada sesuatu yang menahan tubuhnya. Miwon menoleh dan menemukan Ravi yang masih tertidur pulas di sebelahnya dengan pakaian lengkap.

Tolong garis bawahi tiga kata terakhir.

Melihat dirinya dan Wonshik masih berpakaian lengkap – meski tanpa mantel – Miwon berasumsi kalau tidak terjadi apa-apa di antara mereka berdua selain berciuman. Miwon meraba bibirnya, pikirannya berjalan mundur menuju kejadian tadi malam. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi setelah Ravi memeluk sambil menciumnya, namun yang ia dapat hanya ingatan kalau ia tiba-tiba merasa pusing dan setelah itu ia tidak bisa mengingat apa-apa.

Miwon melihat sekelilingnya. Ruangan yang ia tempati saat ini jelas bukan kamarnya karena di kamarnya tidak ada aroma parfum maskulin, lantai parkit, dinding dengan wallpaper cokelat keemasan, dan foto pria kembar yang tergantung di dinding.

“Sudah bangun?”

Suara berat Ravi mengalihkan fokus Miwon. Pria itu merentangkan tangannya tinggi-tinggi selama beberapa saat, lalu melenguh setelah selesai melakukannya. Orang-orang biasa menyebutnya sebagai peregangan.

“Apa kau memerkosaku semalam?”

Pertanyaan tanpa basa-basi dari Miwon kontan membuat Ravi menautkan alis , tak terima terhadap pertanyaan yang lebih mirip dengan tuduhan itu.

”Mana ada pemerkosa yang tidur di sebelah korban setelah melakukannya? Yang benar saja!”

“Lalu kenapa kita bisa tidur berdua di sini?”

“Kau mabuk dan tidak mau diantar pulang. Jadi, yah, selama semalaman kita berbagi kamar.”

Miwon menatap Ravi penuh selidik. Alih-alih merasa terganggu, Ravi justru menangkup gemas wajah gadis itu.

“Cukup ingat bagian saat aku menciummu, bisa ‘kan?”

Miwon menepis tangan Ravi, lalu beranjak dari tempat tidur seraya mengambil tas dan mantelnya tanpa ada niat sama sekali untuk membahas kejadian malam itu. Baginya, ciuman itu hanya pelampiasan karena patah hati ditambah dengan mabuk. Lagipula ia melakukannya dengan Ravi, seseorang yang secara fisik 99% menyerupai Wonshik, jadi kesimpulannya Miwon hanya menganggap Ravi sebagai pelarian.

“Miwon.”

Suara Ravi menghentikan tangan Miwon saat ia hendak menarik gagang pintu. Ia menggigit bibir, takut untuk membalikkan badan. Jadi ia memutuskan untuk diam di belakang pintu.

“Kalau kau merokok lagi, aku akan melubangi bagian tubuhku yang lain. Kalau kau minum lagi, aku akan melakukan apa yang kau lakukan pada pergelangan tanganmu.”

Miwon tercekat. Ia lantas berbalik, menjatuhkan tasnya, lalu secepat kilat memeriksa pergelangan tangan Ravi.

Dan benar saja, luka sayatan itu masih menganga, basah, bahkan berdarah.

“Astaga Ravi, apa kau sudah gila?”

“Bukankah harusnya pertanyaan itu untukmu?”

Miwon lagi-lagi harus tercekat. Beberapa hari yang lalu ia mengiris-iris pergelangan tangannya. Bukan untuk bunuh diri, hanya ingin merasakan sensasi perih yang menguar perlahan saat darah mulai merembes keluar dari pembuluhnya. Pengalihan patah hati, Miwon menyebutnya demikian.

Ravi meraih tangan Miwon, menariknya mendekat, lalu memeluknya dengan erat. Beberapa bulir air mata mengalir di pipi keduanya.

“Tolong, jangan rusak dirimu sendiri.”

“Manusia jauh lebih rumit, Ravi.”

“Aku tahu! Tapi bukan berarti hal itu mustahil ‘kan? Kau terluka gara-gara saudaraku, lalu kau pikir aku yang jauh-jauh hari telah menaruh hati padamu akan tinggal diam saat kau menghancurkan dirimu sendiri?”

Ravi memeluk Miwon semakin erat. Ia tidak ingin melepaskan gadis itu begitu saja. Perlahan, tangan Miwon tergerak untuk membalas pelukan Ravi, kemudian menepuk-nepuk punggungnya.

“Asal kau masih tetap di sini dan tidak meninggalkanku, kurasa aku akan baik-baik saja.”

.

.

“Yakin, tidak mau ke rumah sakit?”

“Diperban saja sudah cukup. Tenang saja, aku lebih kuat dari yang kau pikir.” Ravi mengayun-ayun pergelangan tangannya yang sudah diperban rapi oleh Miwon. Miwon tersenyum singkat, kemudian merapikan kotak obat dan mengembalikannya ke salah satu laci di café.

“Mau kuantar pulang?”

Miwon menatap Ravi sejenak, menimbang-nimbang apa ia harus menerima ajakan itu atau tidak.

“Tidak usah. Istirahatlah.”

Berlawanan dengan apa yang dikatakan Miwon, Ravi justru meraih jaketnya yang tergantung di gantungan dekat pintu lantas merangkul Miwon untuk keluar dari sana.

“Bagaimanapun aku harus menjelaskan pada orang tuamu kenapa kau tidak pulang semalaman, bukan?”

Ravi mengerling, membuat Miwon tersenyum masam. Ia memilih untuk membiarkan Ravi mengantarnya pulang agar rasa bersalahnya bisa terbayarkan.

.

Karena diam-diam hati Miwon berucap…

.

…kalau Wonshik masih ada di sana.

.

FIN

a/n:

Selamat debut Yoo Miwon😄

Ravi x Miwon = RaWon Couple😄 LOL

Terima kasih untuk Yeni yang sudah ngasih prompt dan maap kalau eksekusinya jadi begini😀. Makasih juga udah mau direpotin buat ngebeta😀

Sebenarnya, seperti yang disebutkan di atas, kalau Ravi adalah kembaran Wonshik. So i want make this default, Wonshik itu sisi terang sementara Ravi adalah sisi gelap. Bukan berarti yang satu baik yang satu jahat, tapi lebih tepatnya Wonshik always lovey-dovey sementara Ravi always lovesick.

See ya in WonYo and RaWon couple fic😄

BHAY

12 thoughts on “[Vignette] I Still”

  1. Couple namenya…bikin laper. Hahahaha😀
    Ini beneran kembar ‘kan? Aku kira dua kepribadian gt kayak di Kill Me Heal Me soalnya lagi banyak fanfic begituan :3
    Nice fic! :B btw, kak nisa, aku kemaren komen di fanfic yg lain yg tokohnya -kayaknya- namanya wonshik juga. Jadi…apa Ravi itu stagenamenya wonshik apa gmn? ._.

    Suka

    1. Hahaha RaWon couple😄
      Iya ini beneran kembar, not multiple personalities..
      Yap bener, Ravi itu Stage namenya Wonshik.. nama asli kim wonshik, nama panggung ravi.. gitu hehe..
      BTW thanks komennya ya ^^

      Suka

  2. Sampe vixx comeback pake tema pake short aku masih keukeuh di tim #WonYo!!!
    Miwon bikin geregetan ya. Ngiriin yoanne gitu ih situ kan udah ada ravi ya sono main ama ravi aja (kemudian kepala berapi)
    Rapih banget kakneezzz ficnya! Walaupun menurutku masih ada sedikit paragraf yg bisa dijadiin satu aja, biar hemat wkwk.

    P.s: aku ngebayangin ravi disini pake rambut era LR kak lol

    Suka

    1. Berarti sampai summer aja ya kamu memihak WonYo hahahaha😄
      Lha gimana nit, Miwon sebenernya temen woncik dr kecil tp pas udah gede Miwon jadi cinta ama woncik eh woncik.malah ama yoanne😄
      Ficnya rapih gara2 di-beta-in ama zenphay😄
      YAP BENAR SEKALI, RAVI IN BEAUTIFUL LIAR CONCEPT MEANWHILE WONSHIK IN CHAINED UP CONCEPT😄

      Suka

      1. Gatau kakz. Siapa tau winter taon depan mereka keukeuh pake short (digampar papa hwang)
        KASIAN MIWON HA HA HA HA (dari yoanne)
        Sudahlah kak pokoknya kutunggu wonyo fic lainnya yaaaaaaahhhh

        Suka

    1. Hmm.. kayanya sih gitu soalnya RaWon ini sama2 lovesick, yg satu cinta ama siapa yg lain cinta sama siapa tapi melampiaskannya sama siapa huft😄
      Yap… thanks for the comment ya ,^^

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s