[Vignette] Void

1425401734285

a movie by tsukiyamarisa

starring [WINNER] Kang Seungyoon and [OC] Choi Lula duration Vignette (1000+) genre Romance, Sad rating 15

.

v o i d

(adj/n)

empty; not occupied; completely lacking

a feeling or state of emptiness, loneliness, or loss

.

.

.

.

“Berhentilah bersikap menyebalkan, Kang Seungyoon.”

Satu kalimat bernada datar dari Choi Lula, dan Seungyoon langsung berhenti menyuapkan kue ke mulutnya. Kening berkerut, selagi pikiran bertanya-tanya kapankah kiranya ia bersikap menyebalkan. Seingat Seungyoon, hari ini ia berpolah super manis. Ia menjemput Lula di tempat kerja seperti biasa, membelikan kue cokelat dengan topping buah-buahan favorit gadisnya, serta meminjamkan mantel tebalnya pada Lula lantaran cuaca sudah makin dingin. Semua hal-hal romantis yang biasa dilakukan seorang lelaki pada gadisnya; sehingga Seungyoon tak paham mengapa konklusi seperti itulah yang tahu-tahu ia dengar.

“Aku tidak menyukainya.”

Belum sempat Seungyoon berkata-kata, Lula sudah kembali berbicara. Gadis itu tak lagi asyik memakan jatah kuenya, memilih untuk meletakkan garpu dan memandang datar ke arah jendela kafe. Ekspresinya tak tertebak, bukan seperti Lula yang biasanya akan emosi atau bersikap galak karena masalah sepele. Ada keseriusan yang tersemat di sana, dan bohong kalau Seungyoon mengaku bahwa ia tidak bisa merasakannya.

“Apa yang…” Seungyoon memutuskan untuk angkat bicara, ikut meletakkan garpunya sebelum melanjutkan, “Apa yang tidak kamu sukai?”

“Kamu.”

Singkat, namun Seungyoon bisa merasakan punggungnya menegak dan seluruh tubuhnya membeku seperti cabang-cabang pohon di luar sana. Selama beberapa saat bergeming, tak sanggup untuk berkedip atau berkata-kata barang sedikit pun. Maniknya lamat-lamat menelisik sang gadis, menyadari bahwa Lula kini tengah bersitatap dengannya dengan sorot mata kosong. Bukan sorot ceria atau berbinar, bukan pula kesedihan atau kekesalan. Iris itu hampa—sebuah pertanda buruk bagi Seungyoon.

“Kenapa?”

Susah-payah Seungyoon mengeluarkan satu kata itu, sementara Lula menarik napas dalam-dalam. Gadis itu terlihat enggan menjelaskan, jemarinya sibuk menyisiri rambut yang terurai sepanjang punggung. Tidak biasanya Lula membiarkan rambut itu tergerai, berkebalikan dengan Seungyoon yang menganggap gadisnya lebih cantik seperti ini. Maka, tidak salah bukan jika tadinya Seungyoon menganggap Lula sedang ingin menyenangkan hatinya? Mana ia tahu kalau semuanya akan menjadi seperti ini?

“Aku tidak suka,” ulang Lula lagi, tatapnya tahu-tahu berubah tajam. “Sikap posesifmu itu, aku tidak suka. Kupikir, aku bebas bermain atau pergi bersama teman-temanku, benar?”

Ah.

Seungyoon tidak bisa langsung menjawab, tidak karena ia tahu persis apa maksud Lula saat ini. Pernyataan barusan membuat Seungyoon ingat akan kejadian tempo hari, saat ia mengajak Lula pergi untuk merayakan hari ulang tahun gadis itu. Namun, Lula menolak. Berkata bahwa ia sibuk dengan kerja paruh waktunya, serta sudah terlanjur membuat janji dengan salah seorang kawan dekatnya semasa SMA.

Dan Seungyoon kecewa karena itu.

Ia kesal, ia merasa bahwa dirinya memiliki hak untuk menghabiskan waktu dengan Lula setelah hampir seminggu tidak pergi berdua. Oh, Seungyoon bahkan sampai membatalkan janji dengan kedua kawannya. Berharap agar Lula mau berbuat sama, namun kekecewaanlah yang ia dapat. Sebuah kecemburuan yang tidak masuk akal, tetapi Seungyoon tak bisa menahan dirinya untuk tidak merasa demikian.

Apa salah jika ia berpikir begitu?

Saat ini, dihadapkan dengan mimik wajah Lula yang dingin, Seungyoon tak bisa menjawab. Ia hanya bisa memanggil nama Lula perlahan, membiarkan otaknya bekerja menyusun kata sebelum ia berujar, “Aku minta maaf.”

“Aku tidak butuh.”

“Choi Lula….”

“Maafmu tidak akan mengubah sikapmu, Seungyoon,” potong Lula cepat, kedua lengan tersilang di depan dada ketika ia melanjutkan, “Ini bukan hanya soal kemarin. Ini tentang segalanya.”

Segalanya?

“Aku bukannya tidak senang, aku bersyukur tiap kali kamu ada di sana ketika aku butuh.” Lula melanjutkan, tak acuh pada keterkejutan yang melintas di wajah Seungyoon. “Tapi, bukan berarti aku menginginkan presensimu di tiap detiknya. Mendatangi tempat kerjaku, menungguku selesai kelas, sering menghabiskan waktu di rumahku…”

“Lula, aku—”

“…aku tidak butuh yang seperti itu.”

Hening mengikuti ucapan itu, seraya Lula meraih garpu dan mulai memainkannya. Mungkin niatnya hendak berpura-pura bahwa pembicaraan barusan tidak pernah terjadi, yang tentu saja mustahil bagi Seungyoon. Lelaki itu masih tak mampu berkata-kata, antara bingung dan takut jika dirinya malah memperunyam keadaan. Namun, di sisi lain, ia juga penasaran. Apa maksud Lula mengatakan semua ini jika bukan untuk mendapatkan maaf dari Seungyoon? Mungkinkah gadis itu….

Tidak.

Sedikit menggelengkan kepalanya, Seungyoon berusaha menampik pemikiran itu kendati degup jantungnya tak mau berkompromi. Rasanya hampir mirip seperti ketika ia menyatakan perasaan pada Lula dulu, meskipun kini ada sesak dan cemas yang mengikuti. Seakan-akan ada yang tengah merampas isi hatinya secara paksa, tanpa persetujuan dan izin dari si pemilik.

Dan sialnya, rasa terpaksa itu tak kunjung hilang.

Tidak karena Lula baru saja membuka mulutnya lagi untuk berkata, “Kita sampai di sini saja.”

“Apa?”

“Aku sudah lelah, Seungyoon. Kita sampai di sini saja.”

“Lula, aku tidak bisa—”

“Aku tahu kalau ini egois, Seungyoon,” gumam Lula, seolah dengan demikian Seungyoon mau menyetujui keputusannya. “Aku tahu, tapi bukan hubungan seperti ini yang aku inginkan. Aku….”

“Kamu lebih memilih untuk sendiri dan bebas.” Seungyoon menyahut, merasakan manisnya kue yang ia makan tadi berubah seperti olok-olok. Lidahnya pahit untuk mengucapkan semua ini, namun—walau setengah terpaksa—kalimat tanya itu toh tetap ia utarakan. “Iya, ‘kan?”

Sesaat, Lula hanya mengerjapkan kedua kelopaknya. Memberi satu jenak yang berisi harapan bagi Seungyoon, harapan yang terlihat bagai gelembung sabun sebelum akhirnya pecah tak berbekas. Semu, lantaran alih-alih memberi tahu Seungyoon bahwa yang tadi itu hanyalah sebuah candaan, tanggapan Lula adalah sebuah anggukan yang diiringi dengan perpisahan.

“Terima kasih sudah mengerti, Seungyoon-a.”

Lantas, sang gadis pun bangkit dan melangkah pergi. Tanpa frasa ‘sampai jumpa lagi’ seperti biasanya, meninggalkan jaket Seungyoon yang tadi sempat tersampir di pundaknya pada kursi. Membiarkan sang pemilik untuk bertemankan kesendirian, tanpa seseorang untuk berbagi kisah dan tawa. Karena, berlawanan dengan ucapan terima kasih Lula, Seungyoon sama sekali tidak mau mengakui bahwa semua ini telah berakhir. Jikalau bisa, ia masih ingin menggenggam dan merengkuh sisa-sisa kehangatan yang ada. Namun, sayangnya, Lula telah pergi membawa semua itu.

Oh, Seungyoon benar-benar merasa seperti orang bodoh sekarang.

Ia bahkan tidak berpikir untuk mengejar gadisnya, pun berusaha memperbaiki kesalahan. Satu-satunya hal yang Seungyoon lakukan saat ini adalah menyandarkan tubuh pada kursi tempatnya duduk, menulikan diri dari celotehan atau gumam percakapan bahagia yang merebak. Ia merasa kosong, terlebih ketika kedua irisnya menangkap salju pertama di tahun ini yang mulai meluruh turun. Kristal-kristal es yang menandakan betapa suhu telah turun begitu drastis, sama cepatnya dengan perubahan yang baru saja terjadi pada hidup Seungyoon.

Well, Seungyoon tidak menyangka kalau dirinya akan mengatakan ini tetapi….

.

.

.

…untuk pertama kalinya, ia paham mengapa patah hati itu identik dengan musim dingin.

.

fin.

maafkan saya yang muncul2 bikin Seungyoon-Lula putus, tapi emang plot mereka putus udah ada di otak sejak lama (_ _)

soal balikan apa nggaknya…. ya kapan-kapan deh kita tunggu perkembangan selanjutnya/?

8 thoughts on “[Vignette] Void”

  1. AMER… KEMAREN HAKYEON PUTUS, SEKARANG KSY? KA ES YE?
    Ada apa dengan para SC ya Tuhan apakah ini semua karena musim dingin? Atau apakah ada OC lain yang ingin didebutkan?
    ((etapi caranya Lula putus sama kaya owe WKWKWKWK))
    *ngilang*

    Suka

  2. Finally putus juga lula sama seungyoon duh /sujud sukur/ /sungkem/ /dilempar jumroh/ jujur aja aku ga terlalu suka sikap lula ke seungyoon jadi selalu bertanya ‘kapan putus sih’ ‘kok tahan sih’ /ditabok/ tapi pas putus jujur aja nyesek sih. Yah gimana yah jadi galau saya juga /kemudian digebukin seerte/ cepatlah move on ya mbak mas hueheh…

    Suka

  3. Alasan putusnya…bikin baper. Hahaha😀 Kadang, perlakuan posesif kayak gitu bakalan sweet pada suatu waktu, tapi kemudian bakal menemukan turning pointnya, emang. Tapi ya…yasudahlah._.

    Suka

  4. HORE PUTUSSSSSS! HORE! HORE! SEUNGYOON PUNYA INSPIRASI BUAT BIKIN LAGU BAPER BUAT WINNER! MAKASIH YA LULA-YANG

    emaap akun 21browniepoints dibajak seunghoon.

    yatapi aku juga kalo jadi lula gini juga sih yakan lula bukan hanya milik seungyoon seorang, kasian yongje dong gabisa jalan sama kakaknya nanti ㅠㅠ

    nice one!

    Suka

  5. Barusan dicurhatin orang baru putus sampe sini nemu sungyon lula putus. 😒

    Oke. Amanat dari cerita ini “Berlebihan itu tidak baik.” Kalo menurutku sih masalah semacam lula sungyon masih bisa diselesain. Ga harus jalan putus. Kalo dari awal lula jujur sama sungyon maka perlahan sungyon bakal ngerti letak kesalahannya.

    Tapi ya, kalo belum jodoh mau gimana lagi. 😅

    Niseu fic kak mer. ^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s