[2/2] Cheater

PhotoGrid_1449137581333

CHEATER

fanfiction by slmnabil

Starring BTS’s Kim Taehyung and OC’s Jenny Muff Genre Fluff Duration Double-Ficlet Rating PG-15

~

“Lihat ‘kan? Dengan teman baikmu juga bisa.”


Jadi,

dari,

kapan?

Taehyung tidak terkejut saat berkali-kali Jenny menyerbunya dengan sejenis kalimat tanya. Mereka sudah setengah jalan menuju perpustakaan, tapi toh gadis ini belum lelah juga. Ia penasaran apakah Jenny punya pengisi daya manusia.

“Taehyung, jadi dari kapan kamu suka padaku? Jawab dong.”

Jimin, teman Jenny yang duduk di kursi kemudi mobil kelamaan kesal juga mendengarnya. “Ya ampun Jen, kamu harus tahu laki-laki juga punya rahasia.”

Taehyung setuju, tapi berbeda halnya dengan Jenny. Daripada menghiraukan argumen orang lain, ia lebih minat dengan penyelidikan dalam kepalanya mengenai kapan Taehyung mulai suka padanya.

“Kalau kamu mau jadi pacarku, nanti kuberitahu,” katanya menantang.

Rupanya sukses mengunci mulut bebek Jenny, membuatnya tak bisa lagi berkelit.

Ia memang belum mengatakan iya pada Taehyung mengingat ia masih terlalu kaget tiba-tiba ada cowok yang bilang suka padanya. Jenny baru berpacaran satu kali, itupun saat sekolah dasar. Cinta monyet tidak bisa disamakan dengan cintanya anak 17 tahun bukan? Jadi anggap saja ini yang pertama untuk Jenny.

“Sudah sampai,” Jimin bilang, membuat percakapan keduanya mau tak mau ditunda sejenak.

“Pacarannya nanti saja, Jen!” seru teman-temannya jahil sebelum ke luar duluan dari mobil.

“Kami tidak pacaran tahu!”

“Belum,” elak Taehyung seraya melemparkan senyum pada Jenny dan menghilang beberapa saat setelahnya.

Ugh, ia tiba-tiba terlihat keren. Menyebalkan. 

Jenny ke luar dari mobil paling akhir, dan ia tidak bisa tidak terkejut melihat Kim Taehyung yang masih menunggu di pintu masuk. Sebenarnya sudah sering sih dia melakukan itu, tapi rasanya hari ini berbeda saja. Daripada ia mati kutu kalau Taehyung sadar dirinya gugup sendiri, Jenny lebih memilih untuk menjaga jarak. Tanpa menghiraukan Taehyung, ia masuk lebih dulu.

Tapi bukan Taehyung namanya jika ia tidak sensitif akan setiap perubahan. Matanya mengawasi Jenny saat melintasi tubuhnya begitu saja. Seolah refleks, cekungan kurva terpatri di bibirnya.

Dia lucu sekali. 

“Berjalan di sampingku, tidak usah jauh-jauh begitu,” kata Taehyung sambil menjejaki karet sepatu milik Jenny. “Atau kugandeng tanganmu.”

Keduanya berhenti, menyisakan beberapa langkah di antaranya. Sedetik kemudian Jenny memutar tubuh.

“Nih,” katanya seraya menyodorkan tangannya pada Taehyung.

Tugas Taehyung sekarang hanyalah meraih uluran itu dan tidak pernah melepaskannya.

“You grab it!” pekik Jenny.

“Kamu yang menawarkan.”

“Tapi bukan aku yang meminta.”

Setiap gerakan kaki menuju ruang perpustakaan diramaikan dengan perdebatan soal siapa yang ingin menggandeng tangan siapa. Taehyung sih tidak begitu perduli karena toh tidak penting juga. Tapi celotehan Jenny yang khawatir gambaran keren dari dirinya tercoreng benar-benar butuh ditoleransi.

Dan Taehyung tidak akan bosan.

.

.

.

Jenny biasanya tidak begitu sering menjadi bahan jahilan teman-temannya. Tapi tiba-tiba ia jadi lakon paling menderita karena terus-terusan diganggu.

Masalah utamanya adalah Kim Taehyung. Jenny tidak mengerti kenapa Taehyung tidak kunjung melepaskan genggaman tangannya bahkan sampai di hadapan teman-temannya sekalipun.

“Jangan terlalu kentara kalau kalian sudah berkencan,” kata Jungkook.

“Kamu juga begitu kok dengan Minji!” debat Jenny tidak mau kalah.

Taehyung tersenyum, lagi. Entah sudah berapa kali ia melakukannya, Jenny penasaran apakah otot-otot wajahnya tidak akan mengendur. Kalian harus tahu, jauh di dalam pikiran Taehyung sana sebenarnya ia dapat menarik sebuah kesimpulan dari argumen Jenny; Gadis itu bukannya ingin menolak dirinya kok. Ia belum pasti saja.

Tapi menunggu sampai Jenny mendapatkan keyakinan terlalu lama baginya. Karena selama ini perasaan Taehyung terlalu ditekan khawatir pertemanan mereka akan terganggu. Dan kini sudah saatnya ia lepaskan semua belenggu itu.

“Aku pinjam Jenny ya,” kata Taehyung seraya menarik Jenny ke antara rak-rak buku yang tidak begitu ramai.

Ia duduk bersilang kaki, disusul oleh Jenny yang melakukan hal serupa. Keduanya berhadapan, dan sialnya Jenny malah yang tidak terlihat keren.

“Ada apa?”

“Nih, ponselmu,” Taehyung menyodorkan barang yang sebelumnya Jenny lupakan.

“Ketinggalan lagi.”

“Dan selalu aku yang mengembalikan.”

Jenny memendarkan pandangannya sejauh mungkin dari jangakuannya, menghindari Kim Taehyung yang memusatkan atensi padanya. Ia benar-benar butuh semacam distraksi agar cowok ini berhenti melakukannya.

“Ada yang mengajakku berkencan dua hari yang lalu.”

Holy crap! Aku bicara apa sih?

“Lantas?”

Jenny semakin kikuk. “Kalau kamu begini terus, bakal kuterima dia.”

“Tak masalah. Lagipula kita akan terus berteman.”

“Ya tapi tidak sedekat sekarang,” tukas Jenny.

Oke, sekarang Taehyung jadi tidak mengerti. Dia baru saja mengajak kencan teman baiknya tapi malah menyinggung soal ajakan kencan yang lain. Dan lagi, ia malah terancam mengurangi intensitas pertemuannya. Apakah itu tidak aneh? Tapi yah, dunia ini memang didominasi hal-hal tidak logis kok.

“Kita tidak akan bisa menjaga jarak, ada hubungan yang tidak dia miliki denganmu sepertiku,” ia mengambil jeda, “Siapapun pacarmu nanti, dia tidak pernah merasakan diselamatkan dari kematian olehmu.”

“Kamu juga tidak akan punya hubungan seperti aku dan pacarku nanti,” Jenny agak bimbang mengatakannya, “My first kiss couldn’t be yours, Tae.”

Kalau boleh beropini, bagi Taehyung pikiran Jenny agak kuno. Dan hanya butuh waktu tiga detik untuk mengubah sudut pandang gadis itu dari sisi yang berbeda.

Taehyung cuma sedikit memajukan tubuhnya dan melakukan ‘sesuatu yang agak nyeleweng’ dari aturan Jenny Muff.

“Siapa bilang harus dengan pacar? Lihat ‘kan? Dengan teman baikmu juga bisa.”

Jenny bisa kegilaan sendiri kalau seperti ini ceritanya. Ia merasa ingin muntah dan detak jantungnya berlomba dengan desiran aliran darah yang semakin terasa. Bulu kuduk dari atas sampai bawahnya meremang.

“Tae, kamu habis minum pepsi atau cola?”

Taehyung tersenyum jahil. “Akan kuberitahu, asal kamu mau jadi pacarku.”

Jenny tidak tahu bagaimana ceritanya, tapi ia ingin menjawab kuriositasnya.

“Oke.”

Taehyung tersenyum jahil.

.

.

.

“Kamu boleh memastikannya sendiri kok, Jen.”

~

Fin.

11 thoughts on “[2/2] Cheater”

  1. Wahahahaha nabil!!!!! I like it like that bil, seru sekali disini, aku bisa merasakannya bil wkwkwkwk. Apalagi tadi saya rada ngefly ada yang nyebut Minji di atas. Wkwkkwkwwk. So far tidak ada typo di sini. Mantjap bil, teruskan ya. I love you so much babe.

    Suka

  2. Bener itu, cinta pas SD mah harus dilupakan :’v SAYA SUKA BIIIIILLLLL kissnya tidak kentara, tapi saya ngerti :v seneng ih bacanya sambil senyum senyum sendiri :3 charging step 3 : done! Tumben bikin fluff gini wkwkwk tapi asli saya seneng :v tadi pagi charging step 1 : makan ayam goreng, terus tadi iang charging step 2 : ketemu minimini deket dan lama, sekarang charging step 3 : baca ff fluff yang emang ga pasaran dan bikin saya seneng. I’m full now babe!😝

    Suka

    1. Ini gua bikin lu banget men wkwk xd dan kamu ngertilah mana bisa nabil bikin kiss yang dijelaskan begituan. gua masih suci hihi. Nggatau ini kenapa fluff bisa jadi, padahal ngga yakin sih awalnya. Selamat deh kalau sudah full

      Suka

  3. Suka. Banget. Udah gitu aja :”)
    Dari pemilihan dan kombinasi kata, penokohan Taehyung dan Jenny, adegan-adegan witty keduanya. Agh! SUKAA~❤

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s