[Oneshot] Time and Memories

tnm

TIME AND MEMORIES

a movie by doremigirl

Casts: Min Yoongi (Suga), Jeon Jungkook, Kim Seokjin (BTS) | Genre: slice of life, brothership, family | Rating: Teen | Length: 2000+ words

.

“Will you stop the time?”

BTS—Butterfly

.

.

KADANG aku selalu bertanya-tanya seperti apa kami nanti sepuluh tahun ke depan. Pemikiranku memang terlalu jauh; terlalu berandai. Tapi entah mengapa aku acap kali melakukannya meski banyak orang mengingatkanku untuk berhenti.

Mungkin sudah insting, makanya tidak bisa benar-benar hilang.

Pagi ini, keadaan di rumah secara tidak wajar mulai bising. Ada bunyi kelontangan yang kukenali sebagai peralatan dapur. Ketika aku menuruni anak tangga, kulihat Seokjin sudah memakai celemeknya. Ia bereksperimen dengan keju hampir kadaluarsa dari kulkas. Melihatku turun, ia memasang senyum tercerahya.

“Pagi, Broer!” sapanya sambil menunjukkan tangannya yang belepotan tepung. Manik mataku bergulir lagi ke arah meja makan. Jungkook sudah menanti di sana dengan wajah separuh mengantuk. Jadi satu kamar dengan Seokjin artinya harus siap bangun pagi. Aku menepuk pundak lelaki yang lebih muda dariku itu, kemudian mengacak rambut cokelat kayunya.

“Ah, Yoongi Hyung! Dia sangat menyebalkan!” Begitu kata Jungkook seraya mengedikkan kepalanya pada Seokjin. Aku melepaskan tawa; terdengar sangat mengerikan dengan tenggorokanku yang masih belum terjamah air. Rupanya Jungkook sadar hal itu; ia menyodorkan segelas air putih.

Di saat-saat seperti ini kadang aku bertanya-tanya. Sepuluh tahun lagi, masihkah Jungkook berceloteh tentang Seokjin seperti ini? Jungkook mungkin punya segudang topik menyebalkan untuk dibahas. Seokjin dan kedisiplinannya bukanlah topik menarik lagi untuk dikeluhkan. Mungkin aku akan mulai menasihatinya alih-alih diam dan tertawa seperti ini.

“Seokjin Hyung, kau bilang aku boleh pinjam kameramu nanti.” Jungkook tiba-tiba memecah keheningan. Seokjin yang sedang berkutat dengan panci kemudian berhenti lalu menatap lelaki muda itu. Ada sedikit keragu-raguan di matanya; Jungkook pernah hampir merusak tablet kesayangannya. Meski demikian, akhirnya ia mengangguk.

Sepuluh tahun ke depan, kamera analog Seokjin mungkin akan jadi barang antik. Kualitas fotonya akan terlihat seperti dibuat zaman dulu, dan ketika melihatnya mungkin kami akan merasa sudah berhasil melewati masa metamorfosis dengan sempurna. Setidaknya itulah yang kurasakan ketika melihat foto-foto masa kecilku.

Ya, Yoongi. Akhir-akhir ini kau banyak melamun.” Seraya membawa dua mangkuk macaroni cheese, Seokjin berkata. Ia menatap wajahku lekat-lekat. Sedikit tersirat kekhawatiran di sana. Aku hanya mengangkat bahu.

Seokjin memang selalu seperti itu. Bagiku dan Jungkook, dia seperti kakak kandung kami. Seseorang yang menaruh perhatian lebih pada kami, seseorang yang rela meluangkan waktu untuk menyediakan segala kebutuhan kami tanpa terkecuali. Seokjin merawatku dan Jungkook dengan perlakuan yang sangat layak. Dia yang terbaik.

Kembali ke keadaanku, aku tidak benar-benar bisa mendefinisikan mengapa semua pikiran ini terus berkelebat. Yang aku tahu, aku menikmatinya. Itu saja.

“Bagaimana kau dan klub underground-mu?” Mengalihkan perhatian, Seokjin bertanya. Dia sendiri yang menyarankan agar aku ikut klub itu. Dia pernah menemukan satu lirikku, dan menurutnya itu sangat brilian. Ia mengenalkanku pada beberapa kawannya; mulai menjadikan ini sebagai rutinitas untukku yang cenderung pasif.

Mereka semua memang menjadikan aku dan lirikku sebagai favorit. Tapi menurutku mereka terasa seperti sedang baca catatan harianku; bukan dalam artian sesungguhnya, sih. Aku memang sering menyelipkan tentang sedikit perasaanku dalam lirik rap. Karena itu juga aku sedikit sensitif kalau mereka berkomentar tentangnya—maksudku, ini tentang perasaan. Tidak bisa dijelaskan benar atau tidaknya.

Kompleks memang.

“Ya, berjalan seperti biasa.” Akhirnya, hanya jawaban retoris yang terlontar. Seokjin mengerutkan bibirnya, lantas mulai menyendokkan makanan kekuningan itu ke mulutnya. Aku melirik Jungkook; mangkuknya sudah setengah habis. Pantas saja dia tidak banyak bicara sejak makanan datang.

Hyung, kau tidak mau makan punyamu?” Jungkook melirik mangkuk dan aku bergantian. Mulutnya masih penuh dengan macaroni ketika ia melanjutkan, “Kalau kau tidak mau aku bisa menghabiskannya untukmu.”

“Tidak, terima kasih. Makan saja punyamu sana!”

.

Hyung, kau pernah dengar kisah kelinci di bulan tidak?”

Jam memang berputar dengan sangat cepat. Baru saja aku sarapan, tidak terasa malam sudah menjelang. Aku dan Jungkook sedang duduk di balkon, menatap bulan besar yang berada tepat di kepala kami. Aku berdecak kecil.

“Tentu saja! Mereka membuat mochi di sana, ‘kan?” sahutku. Jungkook terkekeh seraya mengangguk. Ia mengelus-elus perutnya.

“Sebenarnya, sih Hyung. Kadang aku rindu mochi buatan ibuku,” kata Jungkook. Aku sontak menoleh padanya. Ia masih menatap bulan, mengaguminya seakan gravitasinya hanya berputar pada benda langit itu.

Ada satu hal kompleks lain di antara aku, Seokjin dan Jungkook. Karena hal itulah kami rekat layaknya saudara: jauh dari keluarga. Aku lebih suka menyebut kami bertiga para perantau daripada melarikan diri dari rumah. Toh, kami pergi bukannya untuk melupakan segalanya; namun untuk mencari sesuatu yang kami definisikan sebagai kebebasan.

Jungkook pergi dari rumah karena ia lelah dengan semua tekanan di sana. Untuk anak seumuran Jungkook ia termasuk cukup bijak. Setidaknya ia tidak terjerumus dalam hal-hal yang buruk. Aku dan Seokjin menemukan ia di stasiun menuju Busan. Tertidur seraya memeluk tas ranselnya. Sebuah rasa entah mengapa mengusik hati nuraniku ketika melihatnya. Semacam menemukan saudara seperjuangan.

Kurang lebih begitu pula keadaanku ketika memutuskan untuk berkelana. Orang tuaku ingin aku menjadi seorang akuntan; atau pekerja publik. Padahal aku tidak suka bekerja di kantor. Meski cenderung tidak banyak bicara aku suka kebebasan, bertemu dengan orang-orang yang baru, dan mempelajari sesuatu yang tidak orang lain kuasai. Baru tiga bulan kujalani profesiku itu sebelum akhirnya aku berhenti.

Berbeda dengan kami berdua, Seokjin pergi bukan karena tekanan. Ia pergi karena dia memang tak punya tempat untuk tinggal. Ia hidup sebatang kara di kota besar ini. Beruntung ia lelaki yang cukup cerdas sehingga bisa memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk bertahan hidup. Aku sangat mengagumi Seokjin dan kemampuannya mengakali situasi. Itulah sebabnya ia selalu menjadi tempat di mana kami berlindung ketika masalah menghadang.

Sebagai yang termuda, Jungkook pastilah mengalami masa-masa sulit karena absennya kedua orang tua. Aku mengelus rambut kayunya. “Tumben kau merindukan rumahmu,” sindirku.

“Aku hanya kangen mochi-nya saja. Habis makan mochi aku akan kabur lagi,” gurau Jungkook. Senyumnya tak lepas-lepas dari bibir.

“Rampok saja rumahmu sendiri sekalian.”

“.. maunya sih begitu.”

Aku tergelak seraya menoyor kepalanya. “Sembarangan saja, dasar bocah!”

.

Tawa Jungkook pada hari itu ternyata menyimpan suatu rahasia. Sehabis dari klub underground keesokan harinya, aku terkejut ketika mendapati Seokjin berada di dapur dengan keringat dingin pada wajahnya.

Hyung kenapa? Habis lihat film horor?” tanyaku. Sekilas, aku melirik jam dinding. Jam setengah sembilan. Seokjin datang lebih awal hari ini. Biasanya dia akan bekerja di bar sampai shift-nya berakhir jam sebelas malam.

“Demi Tuhan, Yoongi! Jungkook menghilang!” serunya. Manik matanya mulai melebar dan memerah. Tidak main-main, ia sudah kepalang panik. Aku terlampau kaku untuk mengeluarkan sepatah kata. Sebenarnya apa yang terjadi?

Sementara Seokjin akhirnya memutuskan untuk mencari lelaki itu di luar, aku masuk ke dalam kamar Jungkook dan Seokjin. Ranjang tingkatnya masih rapi. Aku menemukan ponsel putihnya di atas meja belajar. Jungkook memang niat untuk pergi saat ini.

Ketika aku hendak meninggalkan kamar, mataku tiba-tiba tertuju pada satu pesan yang membuat ponsel Jungkook berkedip.

Jungkook, kau di mana? Aku lupa mengatakannya padamu. Bawa pakaian putihmu. Kami menunggu di rumah sakit.

Otakku terlalu lambat untuk merespons. Seokjin kemudian menerobos masuk dan mengambil ponsel yang berada dalam genggamanku. Tatapannya menajam saat menemukan nama kakak Jungkook tertera di sana. Seokjin tanpa ba-bi-bu langsung menelepon nomor sang pengirim.

“.. Ibu Jungkook meninggal.” Itulah kabar yang dibawa Seokjin seusai terlibat perbincangan dengan kakak Jungkook. “Jungkook sudah mengetahuinya. Tapi sejak empat jam yang lalu ia tidak kunjung datang ke rumah sakit.”

Lalu, aku teringat lagi perkataan Jungkook kemarin. Mendadak firasat tidak enak menjalari seluruh sarafku. Aku kemudian keluar rumah seraya berlari. Tidak mempedulikan dinginnya aspal yang tak mampu dihalau sandal tipis ini.

Yang kupikirkan sekarang hanya Jungkook.

.

Seokjin menjemputku dengan mobilnya sesaat setelah ia menyadari ke mana aku akan melangkah. Ia memacu mobilnya kencang; membelah jalan dengan ganas. Tak pernah kulihat Seokjin sekhawatir ini. Biasanya dia adalah tipikal lelaki yang bisa mengendalikan ekspresinya. Biar itu kesal, atau sedih. Ekspresi Seokjin hanya bisa diukur dari nada bicaranya—itupun hanya segelintir orang yang dapat mengerti tekniknya.

Keringat dingin terus mengucur dari pelipis Seokjin; aku sedikit takut ia akan tiba-tiba pingsan dan menabrakkan mobil ini. Terkadang aku kesal pada pikiranku sendiri. Terlalu banyak kemungkinan yang membuatku takut.

Ketakutan itu mungkin dirasakan Seokjin pula saat ini.

Menjadi seseorang yang pernah merasakan sakitnya kehilangan orang yang dicintai membuat Seokjin seakan terlempar kembali ke masa lalu. Kondisi Jungkook sama seperti dirinya dulu. Pantas saja akalnya langsung melayang ke mana-mana.

“Aku dulu pernah mau bunuh diri.” Seokjin bercerita dengan nada tergesa. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku sudah pernah menceritakannya padamu, ‘kan Yoongi? Mungkin hanya Jungkook yang tak tahu tentang fakta ini.”

Oh, iya.

Dulu, sewaktu Jungkook memutuskan untuk jalan-jalan bersama temannya, Seokjin pernah menceritakan tentang hal itu. Daripada denganku, Jungkook lebih punya banyak kemiripan dengan Seokjin. Cara mereka berpikir, dan memilih keputusan kurang lebih sama. Sama seperti Jungkook, Seokjin dulunya pernah memutuskan untuk membebaskan dirinya sendiri dari segala hal yang mengekang dirinya. Dia bilang sekarang ia kadang rindu diomeli oleh orang tuanya.

Kemudian Seokjin bercerita tentang betapa depresinya ia ketika ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Ia hampir memutuskan untuk minum pil sebanyak-banyaknya sampai seorang tetangga datang dan menyelamatkan hidupnya.

Sebagai orang yang punya rasa empati yang besar, aku secara tidak sadar sedikit berkaca-kaca mendengarnya.

“Itulah sebabnya kau ..”

“Ya,” ucap Seokjin muram. “Aku takut ia akan melakukan hal yang sama denganku.”

Sebenarnya tanpa perlu kutanya lagi, aku tahu kami sepemikiran.

.

Jungkook berdiri di sana. Di atas tumpukan kotak berisi salju, menatap ke arah sungai dengan tangan yang melekat pada jembatan. Tatapannya kosong.

Sebenarnya, selama ini aku menganggap lelaki yang lebih muda dariku itu sebagai seorang yang sangat cerdik. Dia lincah, hampir bisa melakukan apa saja. Suaranya pun bagus. Semacam memiliki kemampuan untuk menguasai apapun dalam kurun waktu singkat.

Kupikir Jungkook punya segalanya—namun melihat keadaannya sekarang membuatku melihat sisi lain dari lelaki itu.

Seokjin sontak berlari dan menarik Jungkook. “Hentikan!” gertaknya. Anehnya, Jungkook tak melawan. Ia pasrah saja ketika Seokjin hampir menonjoknya di wajah. Tindakannya tidak dapat ditoleransi lelaki tertua di antara kami.

“Kau gila, hah!” Seokjin menyembur Jungkook dengan kemarahan. Lelaki muda itu hanya membuang wajah. “Keluargamu menunggu di rumah sakit, dan kau di sini! Apa kau tidak tahu khawatirnya mereka? Sadar, Jungkook!”

“Duniaku berakhir, Hyung.” Jungkook menimpali. Bibirnya bergetar. “Aku bahkan belum sempat makan mochi buatan ibuku untuk terakhir kalinya. Aku tidak sempat melihat tawanya, mendengar suaranya .. semuanya berakhir.”

Memutuskan untuk melerai keduanya, akhirnya aku melangkah ke arah Jungkook dan memberinya pelukan. Lelaki itu menangis sekeras-kerasnya. Aku bertukar pandang pada Seokjin. Sudahlah, perintahku. Seokjin menangkapnya, lalu menghela napas keras-keras.

“Terima kasih, Yoongi Hyung .. Seokjin Hyung,” gumam Jungkook.

Tiba-tiba sebuah pikiran melintas lagi di kepalaku. Sepuluh tahun lagi, Jungkook pasti akan tetap mengingat memoar tentang kemarahan Seokjin hari ini.

.

Sepuluh tahun lagi.

Aku sangat ingin menghabiskan waktu bersama mereka berdua selama itu. Aku ingin melihat Jungkook meraih mimpinya, ingin juga melihat Seokjin menikah. Sebenarnya penasaran, namun aku tak mau melepaskan momen ini.

Setelah pemakaman ibunya, Jungkook kembali ke rumah bersama kami. Masih memakai jas, ia memutuskan untuk tidur-tiduran di atas atap; memang dasar badung.

“Mau bunuh diri? Sudah, terserah padamu! Aku tidak memaksa!” tegurku dengan nada sarkastik. Jungkook hanya membalasnya dengan cengiran. Meski masih ada gurat kesedihan di wajahnya, namun ia tak se depresi kemarin. Nasihat Seokjin selama perjalanan ke rumah sakit mungkin menghantamnya keras.

Hyung, kemarilah! Bintangnya indah!” Ia berteriak. Aku mendengus perlahan, lantas mulai memanjat. Jungkook benar. Perpaduan langit malam dan lampu kota membuat pemandangan hari ini terlihat seperti mimpi.

Kami terhanyut dalam kesunyian selama beberapa saat. “Yoongi Hyung, meski kau tak banyak bicara aku selalu berterima kasih padamu.”

“Untuk apa?”

“Menyelamatkanku saat itu,” jawab Jungkook ringkas. Ada senyum kelegaan di wajahnya. “Kalau kau dan Seokjin Hyung tidak datang, mungkin aku sudah melakukan hal terbodoh dengan membuang masa depanku.”

“Aku .. entahlah. Aku sangat bahagia punya kakak-kakak seperti kalian. Aku mendapatkan banyak hal yang tak bisa kupelajari orang lain dari kalian. Kau mengajarkanku membuat rap; Seokjin Hyung mengajarkanku tentang hidup. Aku rasa aku tak mampu membayar kebaikan kalian,”

“Tetaplah hidup,” gumamku simpel. Jungkook menimpalinya dengan tatapan bertanya. “Untuk membayar kami, kau harus tetap hidup Jungkook.”

Jungkook lantas tertawa mendengar perkataanku. Entah apa yang sesungguhnya mengusik pikirannya hari itu. Aku berharap tidak akan ada rahasia lainnya yang tersimpan.

Tak lama, terdengar bunyi debam dari lantai bawah. Aku menoleh cepat, lantas mendapati Seokjin menatap balkon dengan keringat dingin lagi.

“Ya Tuhan! Kukira kalian mau bermain-main dengan nyawa lagi!” pekiknya histeris. Napasnya tak beraturan.

Hyungnim, ayo kemari! Bintangnya indah!” panggilku.

Setelah Seokjin memutuskan untuk naik atap, barulah aku menyadari satu hal. Hidup kami sangat berat; tapi karena suatu hal kami bisa menjalaninya dengan cara yang layak. Mungkin ini karena kami bersama. Aku tak bisa membayangkan apabila salah satu dari kami pergi. Jalinan ini tak mau kulepas; mereka adalah orang-orang yang berharga untukku.

Aku ingin menghentikan memori di waktu ini.

—FIN

.

.

A/N: Haluu! Adakah yang masih ingat saya di sini? Iya, keberadaan saya memang kurang eksis di sini huhu. Buat yang lupa, saya Veli 98 liner yang bersembunyi di nama pena doremigirl. Maafkan sekali buat semuanya karena jarang punya waktu untuk menulis lagi. Saya cuma berharap mungkin fic ini bisa membuat saya setidaknya ada napasnya gitu di sini lol.

Saya lagi suka banget sama lagu Butterfly-nya BTS ini. Setiap orang bakal punya interpretasi yang beda-beda tentangnya. Mungkin saya bakal eksplor lagi karakter yang lain. Mungkin. Harusnya untuk yang ini ditambahin slight!canon, ya (mengingat Suga yang in rl kayak kakek-kakek, lol) Saya lagi nyoba untuk ngangkat tema yang sedikit lebih berat, semoga bisa diterima ehehe.

Sekian, adakah yang mau berbaik hati meninggalkan review?

22 thoughts on “[Oneshot] Time and Memories”

  1. Ceritanya sumpah bagus banget! Aku sampe kebawa emosi jadinya nangis 😢 ini bukan lebay loh ya thor, ini beneran >< pengen banget punya kakak kaya Jin😆
    Semangat terus buat ffnya thor, fighting!

    Suka

  2. cuma bisa nganga O.o ini fanfic atau novel sih? kereen bighit beb >_<
    jadi berkaca2 pan pengen ikut nangis.. T.T emang ya lagu butterfly ini menggetarkan hayati pisan. T.T
    keep writing dah thor, ditunggu karakter selanjutnya :'D

    Suka

  3. Ini pertama kalinya aku komen di IFK muehehe maafkan aku yang selalu bersembunyi. Tapi ff berhasil menggetarkan hatiku untuk menulis komentar disini😀 aku beneran nangis yaampun ini entah karena salut banget sama mereka bertiga, Truss Suga… Dia bikin aku terharu TT ah sudah ya kak keep writing mereka lagiii laff

    Suka

  4. Astaga, aku nangis baca ini! Feelnya dapet banget~
    Aku suka tipe cerita yang kayak gini, ditambah lagi bacanya pas lagi baper-bapernya. Siiip, suskses bikin tambah baper :”””)
    Nice fic!

    Suka

  5. Ih ngerangkai katanya pinter banget deh jadinya tuh feel nya ngena banget di hati huhuhuhu T_T aduh daebak sekali aduh mana banyak sugakookie moment hahaha love their brother relationship so muuuch❤ Jin juga ya ampun suamiable (?) banget aduh wkwkwk ditunggu karya2 selanjutnyaaaaa ^3^

    Suka

  6. wah wah suka suka >_< pertama kali komen di sini. sedih banget bacanya, tbh awalnya agak gimana gitu (?) tapi makin kebawa makin kerasa feelnya. jadi ngebayangin :') 10 tahun lagi jin sudah menikah sama aku /g. jadi ngebayangin bangtan kaya gimana 10 tahun lagi. keep writing<3

    Suka

  7. YaAlloh… Subhanallohh ini fic sumpah cem liat dramaaa kek kisah nyata gituui :”) bahasanya enteng tapi feelnya dapet sumpaahh baguuuttt :”””))))) moral value nya juga kena! Jjang laah iniii
    Semangat nulis yaaaa!!!
    Nada/mins 98

    Suka

  8. annyeong author-nim! new reader here ^^ ff-nya keren banget thor! < emang dari dulu ngerasa kalo jin ama jungkook itu cocok banget jadi adik kakak kkkkk~ keep writing author nim! fighting! ^^

    Suka

  9. halu vell^^! aku xian garis 97, salam kenall😀
    well, aku ngga bisa berkomentar soal tata bahasa yang kaya gimana2 atau apa tapi secara keseluruhan, enjoy banget baca fict ini🙂 di samping temayang menurutku tidak berat tapi lebih mendekati ke dunia riilnya mereka di koria sana dengan tingkat depresi yang luar biasa tingginya yang bisa diidap oleh siapa saja. dan mengenai isu itu, hebatnya kamu adalah kamu bisa mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih sederhana dan indah. simply beautiful, ceritanya😀

    pengolahan karakter yang menyerempet canon versi mas suga juga asyik banget dibacanya. ngga ketinggalan sama karakter komikal mas jin and jungkuk yang di tengah2 minta diapa-apain itu gegara niatan mau loncat dari jembatan*dan kalau bener kejadian, masa depan kita berdua gimana masss?T_T*. terus peleraian ala-ala cowo di sini juga oke, vell. ya kalau cowo mah emang ngga banyak cingcong ya, they speak with action gitu judulnya. haha.

    ah intinya suka sekali sama boy-zone yang menjadi ruang lingkup cerita ini juga topik yang kamu angkat. untuk story-line, 200% from 100% lah😀

    minor koreksi hanya dari segi ke-typo-an yang sering aku anggap sebagai euforia menulis, so itu sih masih waja. hehe, typo is gwaencahana, sarangiya😀

    pokoknya, semangat terus untuk vell di sana menulisnya dan segalanya ya. god bless! keep writing ;D

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s