[Oneshot] Birthday Date

birthday date

Birthday Date

presented by thelittlerin

.

SPEED Choi Sungmin, OC Choi Rin

Family, Fluff | PG-15 | Oneshot

.

Apa yang dilakukan Choi Bersaudara di hari ulang tahun mereka?

.

happy watching ^^


6th December 2015. 08.13 PM

 

Layar televisi yang berpendar, suara tawa yang menggelegar darinya, dan dua anak manusia yang tergeletak di sofa abu-abu menjadi satu-satunya penghuni rumah berukuran sedang itu. Sengaja memang, membesarkan volume suara televisi agar keheningan tak mengambil alih kepemilikan rumah itu.

Satu tangan sibuk memindah saluran secara bergantian, sedangkan yang lainnya sibuk merogoh kantung keripik kentang.

“Aku bosan,” kata salah seorang di antaranya—yang sedari tadi sibuk memindah channel televisi demi mendapatkan tontonan yang bermutu.

“Menurutmu aku tidak?” balas yang lain—sebelum kembali memasukkan segenggam penuh keripik kentang terakhir ke dalam mulut. Matanya menatap layar televisi tanpa minat—acara kesukaannya tidak tayang malam ini—dengan mulut yang sibuk mengunyah.”Mau keluar?”

Sang gadis mengernyitkan kening. Lantas melihat jam yang tergantung di dinding di atas televisi untuk memastikan dia tidak memiliki disorientasi waktu secara tiba-tiba.”Malam-malam begini?” Jemarinya menunjuk ke arah jam, di mana jarum pendeknya mengarah ke angka delapan dan jarum panjangnya mengarah ke angka tiga.

Choi Sungmin bangkit dari posisinya—sebagian karena keripiknya sudah habis dan sebagian lagi karena ingin membersihkan remah-remah keripik dari kausnya.”Bukankah ini masih sore?” jawabnya tanpa menengok sedikit pun ke arah sang adik, lebih memilih menyingkirkan remah-remah dari tubuhnya—Sungmin tidak mau ada semut yang mengerubunginya saat dia tidur nanti.

“Kamu ini punya disorientasi waktu apa bagaimana,” gumam Rin. Tangannya kembali sibuk memindah channel televisi, sedikit berharap ada program bermutu yang tayang selama dirinya berbicara dengan Sungmin.”Memangnya ada apa malam-malam begini? Midnight movies?”

Snack bar—rasanya lebih enak malam-malam seperti ini.”

Windows shopping.”

“Boleh juga. Dongdaemun ‘kan lumayan sepi kalau malam.”

“Dan kalau beruntung kita bisa dapat midnight sale,” sambung Rin lagi.”Aku butuh sepatu baru.”

Arcade. Aku sudah lama tidak main di sana.”

“Aku ingin melihat matahari terbit dari Sungai Han.”

“Memangnya kelihatan?” tanya Sungmin—sungguh-sungguh serius. Namun keseriusannya itu tidak berbuah manis—kaki Rin entah dari mana datang menyerang, membuat lelaki itu hampir terjatuh dari atas sofa.

Sandwich di dekat taman Sungai Han. Kamu tahu ‘kan, Sungmin-ah?”

Ah, yang itu? Aku juga ingin makan itu.”

Lalu, entah kenapa keheningan tiba-tiba datang menyergap. Suara tawa dari televisi masih menggelegar dan kedua saudara kembar itu sibuk memikirkan sesuatu.

“Rin-ah.”

“Jangan bilang kamu memikirkan hal yang sama denganku.”

“Lima belas menit cukup untuk siap-siap ‘kan?”

Dan tak perlu komando lebih lanjut lagi, keduanya sudah melesat menuju kamar masing-masing. Mencari pakaian yang pantas dan bersiap-siap untuk melaksanakan rencana mereka malam ini.

.

.

6th December 2015. 09.18 PM

 

Yes!!”

Aaakkk!!”

Dua teriakan menggelegar, berbuah tatapan heran dari orang-orang di sekitar. Sepasang laki-laki dan perempuan, berteriak di loket tiket bioskop malam-malam, tentu menyisakan pertanyaan bagi yang tak tahu apa-apa—mungkin petugas keamanan di ujung sana menjadi pengecualian karena dia sudah mengamati kedua orang itu sedari tadi.

“Sungmin-ah, please?”

Tentu saja seorang Choi Sungmin berpura-pura tak mendengar perkataan Rin dan melihat sorot memohon dari kedua maniknya. Dengan senyum mengembang lelaki itu menelisik poster-poster film yang ada, padahal dia sendiri sudah memutuskan film apa yang akan mereka tonton sejak lima menit yang lalu.

“Choi Sungmin, kamu menyebalkan,” kata Rin saat Sungmin menunjukkan dua lembar tiket di tangan.

“Tidak ada yang lebih seru dibandingkan menonton film horror di malam hari, Choi Rin,” balas Sungmin sembari merangkul adik kembarnya itu.”Nah, berhubung masih ada waktu empat puluh lima menit sebelum filmnya mulai, bagaimana kalau kita makan es krim?”

Tak ada yang bisa dilakukan Rin untuk menolak ajakan Sungmin. Pertama, lelaki itu sudah menyeret dirinya melangkah menuju toko es krim di seberang jalan. Kedua, itu satu-satunya jalan supaya Rin tidak perlu membayar uang tiket yang dibeli Sungmin—harga es krimnya lebih murah karena mereka tak bisa makan lebih dari satu scoop saat ini. Ketiga, siapa sih yang bisa menolak es krim?

“Satu scoop vanilla cookies dan satu scoop choco chip.” Dan seperti biasa, Sungmin membiarkan Rin memilih. Ini seperti perjanjian tak tertulis di antara keduanya, siapa yang memesan, dialah yang membayar semua biayanya.

Keduanya lantas mengambil tempat di dekat pintu keluar—supaya mereka bisa keluar lebih cepat saat waktu pemutaran film sudah semakin dekat. Suara erangan sesekali terdengar—milik Rin saat Sungmin tahu-tahu menyendok es krim vanilla-nya.

“Rin-ah,” panggil Sungmin setengah berbisik—karena mereka sudah masuk ke dalam teater bioskop dan tidak baik berbuat keributan di tempat seperti ini.

“Apa?”

“Jangan teriak di samping telingaku ya.”

Rin, yang sebelumnya sedang mengubah mode telepon genggamnya menjadi silent mode—tidak ada gunanya juga, toh siapa yang mau meneleponnya malam-malam seperti ini?—langsung menatap Sungmin sebal.

“Sialan,” desisnya sembari menusuk tulang iga Sungmin dengan siku kanannya.”Memangnya aku pernah seperti itu?”

Sungmin mengendikkan bahunya.

“Aku ‘kan hanya berjaga-jaga.”

.

.

7th December 2015. 00.05 AM

 

“Kamu harus lihat ekspresi bibi itu tadi.”

“Memangnya kenapa?” tanya Sungmin, matanya tidak lepas dari layar telepon genggamnya—ada anak kurang kerjaan yang bernama Kim Taehyung yang mengiriminya pesan pada pukul setengah dua belas tadi.

“Wajahnya terlihat….terkejut?”

“Tentu saja,” sambung Sungmin, handphone birunya diselipkan ke dalam saku jaketnya.”Untuk dua orang yang terlihat sepasang kekasih, kita memesan terlalu banyak.”

“Aku lapar.”

“Memangnya kapan kamu tidak lapar?”

“Sial.”

Setelah melemparkan tisu ke arah sang kakak, Rin memutuskan untuk mengabaikan Sungmin. Gadis itu lantas mengambil telepon genggamnya dari dalam tas, sembari memikirkan apa yang harus ia lakukan dengan benda kotak berwarna putih itu—tidak ada yang akan membalas pesannya di dini hari seperti ini.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku sedang tidak mau bercerita apa pun,” kata Rin setelah beberapa saat, setelah menyadari kalau Sungmin tengah menatapnya dengan intens.

“Ayolah, aku berhak tahu,” balas Sungmin.”Dan di waktu-waktu seperti ini harusnya kamu bisa bercerita dengan jujur.”

Rin mengerang kesal—sampai-sampai dia tak punya minat dengan telepon genggamnya dan memilih menatap sang kakak sebal.”Choi Sungmin, ini hari ulang tahunku dan aku mau melewatkannya dengan bahagia.”

Perkataan itu tentu saja tak mempan bagi seorang Choi Sungmin.

Hey, hari ini hari ulang tahunku dan aku berhak meminta apa saja—lagipula kamu belum memberiku hadiah,” kata Sungmin tak mau kalah.”Terima kasih, Bi,” katanya lagi setelah bibi penjual makanan selesai menyerahkan semua pesanan mereka.

Rin terdiam, kemudian menghela napas.”Memangnya kamu ingin tahu apa?” tanyanya sembari memandangi isi meja, berpikir keras mana yang akan dia santap terlebih dahulu.

“Ada masalah apa denganmu?”

Rin mengalihkan pandangan dari tteokbokki di hadapannya, memandang Sungmin dengan tatapan bertanya.

“Apanya?”

“Tidak usah berbohong. Aku tahu kamu selalu memakai topeng.”

Kali ini Rin paham. Gadis itu lantas kembali memfokuskan perhatian pada berbagai makanan di hadapannya. Sedang tak mau membahas topik-topik seperti itu sekarang.

“Tidak ada apa-apa.”

“Choi Rin.”

Nada suaranya pelan dan tegas. Dan entah mengapa, mendengar suara Sungmin yang seperti itu membuat Rin ingin menangis. Melepas topeng yang dikenakannya selama ini dan menunjukkan rupa sesungguhnya di balik topeng tersenyumnya.

“Rin-ah.”

“Aku melakukan kesalahan—aku mengakuinya, oke? Dan ada satu orang yang bersikap seolah-olah semuanya disebabkan olehku. Padahal—“ Tenggorokannya tercekat dan Rin hampir menangis—gadis itu buru-buru menegak air mineralnya sebelum hal itu benar-benar terjadi.”Padahal jika dia memperhatikan, ada orang lain yang melakukan kesalahan yang sama.”

Sungmin menghela napas. Sudah lama dia tak melihat sosok adiknya yang seperti ini. Rapuh dan berhati lemah—semuanya tersembunyi dengan baik oleh topeng yang dikenakan Rin. Mungkin keputusannya memaksa adiknya bercerita malam ini sudah tepat.

“A-aku tak suka bagaimana dia menimpakan semua kesalahan padaku hanya karena aku yang mengatur semuanya. Dia seperti tak mau tahu bagaimana pekerjaaan yang dilakukan oleh orang-orang yang kumintai tolong.”

Tangan Sungmin terulur ke depan, menggenggam tangan mungil Rin yang mulai bergetar. Mendorong saudari kembarnya itu untuk bercerita lebih lanjut.

“Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Kamu boleh bilang aku egois setelah ini—toh aku memang egois.”

Hening sejenak. Rin sibuk mengatur napas agar dirinya tidak berakhir menangis di tempat umum seperti ini.

“Sudah lega?”

Itu yang dikatakan Sungmin setelah Rin berhasil mengendalikan dirinya lagi. Tak berniat memberikan saran apa pun karena Rin jelas tak membutuhkannya saat ini. Choi Sungmin tahu dengan pasti kalau adik kembarnya itu lebih membutuhkan tempat bersandar—jangan beritahu Rin soal pilihan kata ini—untuk saat ini. Lagipula lelaki itu juga tak tahu saran apa yang harus dia berikan.

“Giliranmu.” Sekarang saatnya Rin untuk balas dendam, tentu saja.

Sungmin menyesap isi gelas miliknya. Seakan menantang sang adik untuk menanyainya apa saja. Seolah-olah lelaki itu tak memiliki rahasia apa pun yang perlu disembunyikan.

“Kamu sudah putus ya?”

Tanpa tedeng aling-aling, tanpa peringatan apa pun—bahkan Sungmin tak pernah memprediksi ini—Rin menanyakan sesuatu yang sudah disimpan baik-baik oleh Sungmin selama beberapa hari (atau minggu?) terakhir ini.

“Tidak ada pertanyaan lain?”

Choi Rin memutar bola matanya kesal.”Kamu lebih memilih aku yang bertanya atau anak-anak penasaran itu?” tanyanya sekali lagi. Nadanya lebih terdengar seperti ancaman ketimbang pertanyaan—dan Sungmin benar-benar merasa terintimidasi oleh pertanyaan itu.

Perkataan Rin ada benarnya. Sungmin tidak akan selamat jika yang bertanya adalah anak-anak seumurannya yang selalu dipenuhi rasa penasaran dan keingintahuan—walaupun sebenarnya kedua hal itu sama saja. Dirinya akan terus diserang sampai dirinya tak bisa berkutik.

“Baiklah,” jawab Sungmin sembari membenarkan posisi duduk. Mungkin memang lebih baik untuk memberitahu adiknya ketimbang diinterogasi oleh teman-temannya sendiri.”Iya.”

“Kenapa? Kamu sudah sadar dia terlalu kecil untukmu?”

Sungmin membelalakkan matanya. Sejak kapan adiknya jadi seperti ini?

“Aku tidak pernah bertanya seperti itu padamu, Nona.”

“Hey, aku berhak bertanya.”

“Dan aku juga berhak tidak menjawab, Nona Choi.”

Kalimat balasan dari Sungmin itu menjadi penutup percakapan serius mereka di dini hari ini. Selanjutnya, yang terdengar dari keduanya hanyalah gumaman kesal dan sesekali teriakan ketika salah seorang di antara mereka mengambil porsi makan yang lain.

Mereka tepat berumur dua puluh satu hari ini tetapi tetap tak ada yang berubah di antara keduanya.

.

.

7th December 2015, 02.08 AM

 

Hampir pukul dua dini hari tetapi pusat perbelanjaan ini masih sama seperti waktu-waktu tersibuknya. Terang dan menawan, berusaha memikat siapa pun yang sengaja maupun tidak sengaja menginjakkan kakinya di tempat ini. Sungmin jarang sekali berbelanja, apalagi di tengah malam seperti ini, namun entah mengapa dirinya tak menolak ketika Rin menariknya masuk.

Mungkin saja dia sedang berbaik hati karena ini hari ulang tahun mereka.

“Kamu ini maniak sepatu atau apa sih?”

Itu pertanyaan yang diutarakan Sungmin ketika Rin menunggu sepatu dengan ukuran kaki yang pas dengan miliknya datang. Lelaki itu tiba-tiba saja teringat akan koleksi sepatu adiknya di rumah. Untuk apa gadis itu membeli sepatu lagi?

“Sepatu lariku sudah rusak, Choi Sungmin,” kata Rin, tangannya terjulur mengambil sepatu yang berada di pajangan toko, namun segera mengembalikannya setelah melihat harga yang tidak manusiawi untuknya.”Kamu mau aku terjatuh?”

Well, sekali-sekali bolehlah.”

Rin baru saja akan memukul Sungmin dengan sepatu bertumit tinggi di tangannya ketika pramuniaga toko datang membawakan sepatu yang dimintanya. Tak mau mempermalukan diri sendiri, Rin menaruh sepatu di tangannya sebelum kemudian menerima sepatu itu sembari tersenyum.

“Bagaimana?” tanya Rin setelah mencoba sepatu berwarna abu-abu itu.

Sungmin terdiam sejenak—entah sedang berpikir atau pura-pura berpikir.”Kalau kamu suka, ambil saja.” Jawaban yang sangat tidak membantu sama sekali.

“Kalau hanya itu, aku juga tahu,” balas Rin sebal. Seharusnya dia tak usah menanyakan apapun kepada kakak kembarnya itu, buang-buang waktu saja. Gadis itu lantas mengembalikan sepatu yang dicobanya kepada sang pramuniaga, memberitahunya kalau dia akan membeli sepatu abu dengan aksen biru muda itu.

Namun, ketika Rin berbalik, dirinya tak menemukan Sungmin di hadapannya. Dia kemudian mengedarkan pandangannya, demi menemukan sosok Choi Sungmin sedang melihat-lihat sepatu di dekat pintu keluar. Hampir saja membuat Rin panik karena merasa telah kehilangan sang kakak.

Choi Rin mendengus kesal, terlebih ketika Sungmin sama sekali tak menoleh ke arahnya. Lalu memutuskan memakai sneakers putihnya kembali—Rin menyesal kenapa dia harus memakai sneakers hari ini, sekarang ia kerepotan mengikat tali sepatunya lagi. Seharusnya dia tadi mengambil sepatu datarnya saja.

“Ini sudah dibayar oleh pacar anda.”

Rin melongo. Bukan karena sang pramuniaga menyebutkan kata ‘pacar’—dia sudah sering mendengarnya ketika pergi bersama Sungmin—tetapi lantaran sepatu yang dibelinya sudah dibayar oleh seseorang.

Hal itu hanya berarti Sungmin sudah membayar belanjaannya.

Untungnya Rin dapat dengan cepat mengatur raut wajahnya kembali. Namun dirinya masih terkejut saat ia mengucapkan terima kasih dan menerima kantong belanja dari tangan sang pramuniaga. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dan alami.

Belum lagi ketika kedua maniknya menangkap sehelai kertas berwarna biru di atas kotak sepatunya, rasa heran dan penasaran kini bercampur menjadi satu di dalam benak Rin. Apa lagi itu?

H.B.D.

Don’t be sad. Don’t cry

CSM

Seriously…” Rin ingin tertawa dan menangis terharu—serta memukul Sungmin setelah membaca ucapan selamat itu.

Sungmin sendiri hanya mengamati semuanya dari depan pintu toko. Tak mengucapkan apa-apa bahkan hingga saat Rin sudah berdiri di hadapannya. Dan lelaki itu masih diam ketika tangannya terjulur ke depan dan mengusap puncak kepala Rin lembut.

“Selamat ulang tahun.”

“Selamat ulang tahun juga.”

Keduanya tersenyum—kemudian Sungmin dengan santainya mengalungkan lengannya di pundak Rin.”Sekarang, boleh aku minta hadiahku?” Pertanyaan itu langsung membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari Rin—dan juga sikutan tajam di tulang rusuknya.

“Memangnya kamu mau apa?”

Yang ditanyai terdiam sejenak, pandangannya berputar mengitari seluruh toko yang ada di sekitar.

“Terserah saja. Aku sedang tidak ingin apa-apa.”

Jawaban Sungmin sontak membuat saudari kembarnya terkejut. Padahal Rin sudah bersiap-siap memarahi lelaki itu apabila dia mulai menyebutkan daftar keinginannya yang terkadang tidak masuk akal. Dia sedang kerasukan ataukah ini pengaruh udara pukul dua pagi?

Jawaban dari Sungmin pula yang membuat Rin turut mengedarkan pandangannya. Mencari sesuatu yang sekiranya dapat dibelikan sebagai hadiah ulang tahun untuk lelaki yang tepat berusia dua puluh satu itu.

“Tolong jangan pilih salah satu warna favoritmu,” gumam Sungmin panik ketika Rin menariknya ke sebuah toko berisi pakaian-pakaian formal.”Aku masih ingin hidup normal di kampus, kamu tahu?”

Keduanya berhenti di depan rak yang penuh dengan kemeja pria—Rin dengan semangat mencarikan warna yang cocok untuk Sungmin.”Lemarimu butuh sedikit warna tahu. Aku bosan hanya melihat warna-warna gelap di sana,” jawab Rin, tangannya masih sibuk memilah-milah kemeja di hadapannya.

“Memangnya kamu mengharapkan apa? Warna pink?” tanya Sungmin. Kedua matanya sibuk memandangi tangan Rin, takut jika kedua tangan itu mengambil kemeja dengan warna yang mencolok.”Tidak, tidak yang itu, Rin,” katanya ketika Rin menarik keluar kemeja berwarna ungu muda.

“Aku bosan melihatmu memakai warna itu-itu saja,” gerutu Rin. Gadis itu kemudian mengembalikan kemeja di tangannya sebelum akhirnya menarik sebuah kemeja serupa dengan warna hijau muda.”Bagaimana kalau yang ini?”

“Ada yang lain?”

“Ini atau aku tidak akan memberikanmu hadiah ulang tahun.”

“Kalau begitu, ayo kembalikan sepatumu.”

“Choi Sungmin.”

Rin akhirnya menatap Sungmin dengan kedua mata membesar—tatapan memohon yang dibenci Sungmin karena itu mengingatkannya pada kucing bermata besar di film Shrek.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Sungmin tak terlalu benci dengan warna kemeja itu. Namun lelaki itu tak bisa membayangkan bagaimana rupa dirinya ketika memakainya—juga bagaimana reaksi teman-temannya ketika melihat dirinya.

“Baiklah,” ujar Sungmin pada akhirnya—yang langsung disambut senyuman penuh kemenangan Rin sesudahnya.

“Warna hijau tidak terlalu buruk, Sungmin-ah,” kata Rin berusaha menguatkan Sungmin saat membayar kemeja pilihannya itu di meja kasir.

Well, terima kasih, Choi Rin.”

Tolong perhatikan nada sarkas pada kalimat Sungmin itu.

“Sama-sama.”

.

.

7th December 2015, 04.15 AM

 

“Kita datang terlalu pagi.”

“Aku tahu.”

Tak semuanya berjalan indah sesuai rencana, begitu pula dengan rencana dua bersaudara itu. Arcade favorit Sungmin tidak buka selama dua puluh empat jam—tempat itu sudah tutup lebih dari empat jam yang lalu—yang mengakibatkan keduanya tiba di Sungai Han lebih cepat dari perkiraan. Padahal awalnya Rin berencana menikmati pemandangan matahari terbit sembari minum minuman hangat.

“Mau bagaimana lagi? Aku juga lupa kalau arcade itu sudah tutup pukul sebelas malam.”

Duduk berdampingan di bangku kayu di tepi Sungai Han, sembari menikmati pemandangan langit dini hari yang masih tergolong gelap yang berhiaskan sinar lampu—kota Seoul tidak pernah tidur sepertinya. Udara dini hari musim dingin yang menggigit mulai terasa, membuat keduanya serempak merapatkan jaket masing-masing.

“Rin-ah, tentang yang tadi….” Sungmin kembali angkat bicara, berusaha membangun topik pembicaraan.

“Tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja,” jawab Rin cepat—tanpa menoleh ke arah sang kakak.”Semua yang kuceritakan tadi tidak akan membuatku kenapa-kenapa kok.”

“Jangan bohong.”

“Kalaupun ada yang berubah, paling-paling hanya aku yang akan terus merasa kesal dan sekaligus bersalah,” kata Rin lagi. Masih tak berani menatap Sungmin tepat di mata—ia takut menangis.”Kesal karena dia seakan tak mau tahu dan bersalah karena aku juga turut andil dalam semua yang terjadi.”

Sungmin terdiam. Benar ‘kan, apa katanya? Adiknya itu tidak membutuhkan nasihat apa pun saat ini, yang dibutuhkan gadis itu hanyalah tempat untuk menumpahkan segala isi pikirannya. Usahanya menawarkan saran atau pendapat atau apa pun hanya akan sia-sia—seperti yang terjadi barusan.

“Kamu juga, Sungmin-ah. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Pertanyaan balasan dari Rin membuat Sungmin tak urung menoleh. Berpikir sejenak untuk mencerna kalimat tanya itu sebelum mengetahui apa maksud Rin.

Well, sama sepertimu—“

“Kenapa sama denganku?”potong Rin cepat, heran dengan jawaban Sungmin yang tiba-tiba membawa dirinya sebagai contoh.

“Tolong dengarkan aku sampai selesai, Nona,” jawab Sungmin sebal.”Sama sepertimu, aku juga tak tahu apa yang terjadi. Dia yang memutuskan semua ini, bukan aku.”

Hening sejenak. Rin menatap Sungmin dengan tatapan terkejut, sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan lelaki itu barusan. Bahkan gadis itu sempat curiga kalau-kalau Choi Sungmin sedang berbohong.

“Aku tidak bohong.”

Rin menatap mata Sungmin sekali lagi. Walaupun dia buruk dalam membaca sinar mata seseorang, kali ini Rin yakin jika Sungmin mengatakan yang sebenarnya. Sembari menghela napas, gadis itu lantas menepuk pundak Sungmin pelan.

“Kalau begitu, nasib kita sekarang sama.”

.

.

7th December 2015, 06.38 AM

 

Keduanya berjalan beriringan, dengan kedua tangan penuh membawa barang bawaan masing-masing. Sungmin dengan kantong belanja dan kopi hangat miliknya serta Rin dengan susu cokelat hangat dan menu sarapan mereka berdua—mereka tidak berhasil mendapatkan sandwich kesukaan, tetapi untungnya kedua bersaudara itu masih bisa mendapatkan bubur ayam untuk sarapan.

Matahari mulai bersinar dan beberapa orang sudah terlihat keluar dari persembunyiannya. Hari ini hari Senin dan orang-orang nampaknya sibuk untuk memulai hari di awal minggu ini.

“Sungmin-ah, menurutmu ibu sudah pulang?” tanya Rin, ingat akan ucapan sang Ibu yang berjanji akan tiba di rumah pagi ini.

Sungmin melihat jam tangannya dan berpikir sejenak, menimbang-nimbang jarak dan waktu perjalanan antara rumah dengan rumah nenek mereka.”Seharusnya sudah.”

“Ibu tidak akan kaget ‘kan?”

Ada nada khawatir di dalam suara Rin. Tentu saja, dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ibu mereka ketika mendapati kedua anaknya tidak ada di rumah pada jam-jam seperti ini. Terlebih ketika keduanya sama sekali tidak mengabarkan ke mana mereka akan pergi semalam.

Eum…..karena belum ada telepon ataupun pesan dari ibu, kurasa ada dua kemungkinan,” jawab Sungmin, sebelum menyisip kopinya pelan.”Pertama, ibu belum sampai di rumah. Kedua, ibu sudah sampai di rumah tetapi tidak khawatir.”

“Kurasa kemungkinan yang kedua sedikit tidak masuk akal,” sambung Rin.”Kalau aku belum sampai di rumah hinggal pukul sepuluh malam, ibu akan sibuk mengirimiku pesan. Bagaimana mungkin kita tidak ditelepon saat ibu tahu kita tidak ada di rumah?”

“Benar juga.”

Dengan begitu, keduanya langsung menarik kesimpulan. Kemudian terus melangkah dalam diam seolah tak pernah membicarakan apa pun.

Dua tiga orang berjalan—ada juga yang sedang berlari—melewati mereka. Tak ada yang sama dengan orang-orang tersebut, yang menyamakan hanyalah tatapan yang diberikan kepada sang dua anak kembar itu. Heran—kenapa ada sepasang manusia yang berjalan dengan banyak barang bawaan di jam seperti ini.

“Kamu tidak ada jadwal kuliah hari ini?” tanya Rin tiba-tiba, saat Sungmin membuka pintu pagar rumah.

“Tidak, hanya ada latihan sore nanti. Mau lihat?”

“Kuliahku diundur hingga sehabis makan siang. Aku akan datang kalau sempat,” jawab Rin sembari melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Tak lupa menaruh sepatu yang dipakai di rak sepatu—kalau tidak, ibu mereka akan memarahi keduanya—sebelum menaruh bawaan di meja ruang tengah.

Tanpa berkata sepatah kata apa pun lagi, keduanya serempak menghempaskan tubuh di atas sofa. Kembali pada posisi yang sama seperti sebelum mereka pergi meninggalkan rumah—Rin bersandar pada lengan sofa dan Sungmin juga melakukan hal yang sama di ujung satunya.

“Kalau aku tertidur, bangunkan aku tiga jam lagi,” kata Rin tanpa menatap Sungmin—matanya terpaku pada layar telepon genggamnya, berusaha membalas pesan dari teman-temannya sembari melawan kantuk yang mulai menyerang.

Sungmin hanya menggumam, lantaran dia juga melakukan hal yang sama dengan Rin.

“Aku juga ya,” balas Sungmin beberapa saat kemudian.

Keheningan melanda selama beberapa menit kemudian. Hanya terdengar suara gesekan tubuh kedua orang itu dengan permukaan sofa yang lembut—keduanya berusaha mencari posisi yang nyaman untuk dapat beristirahat dengan tenang.

Dan entah sejak kapan, tak ada lagi suara yang terdengar.

Kedua anak kembar itu telah berkelana ke dunia mimpi masing-masing.

 

fin.

A/N

Yap, Happy Birthday  buat Choi Sungmin!! ^^ Semoga cepet comeback, mas *eh

Selamat ulang tahun juga buat movie-freaks yang berulang tahun di bulan terakhir ini. We share this special month together, guys!

Dan juga sepertinya saya bakal sering publish fic di akhir tahun ini, so brace yourself hohohohohohoho ((itupun kalo draft-nya selesai)) ((dan gak mager publish)) ((dan slot-nya gak penuh))

so, mind to review then?

3 thoughts on “[Oneshot] Birthday Date”

  1. HBD YA RIN-A!!! SUNGMIN JUGA!

    First of all… INI LUCUK BANGET!! NANA-SUNGJAE AJA GAK KAYA GINI! Kita gak pernah pergi jalan2 malem-malem gini… jadi pengen…
    Terus-terus mereka yang sama-sama terbuka buat satu sama lain itu lucu banget, entah kenapa kok kayaknya sungmin dewasa banget… gak kaya biasanya… kesambet apa coba? Kok ulang tahun jadi bener gini…? Ya walaupun otak keseleo lupa ultah tapi nggak papa lah ya…
    Intinya ini ff family yang fluffnya kerasa banget sampe pengen uyel-uyel choi siblings hahaha~

    Makasiiih Rin buat ff familynya!!
    All.want.candy

    Suka

    1. ini karena kita berdua lagi gak ada kerjaan dan laper dan siapa yang bisa menolak prospek makan banyak(?) mungkin gara2 jadi dewasa terus dia lupa ultahnya sendiri ‘-‘ /enggak/

      makasih deaaaa ^^

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s