dizzy-crazy

Dizzy Crazy Called Love

A “Random” story by : Bambina88

Aku terbangun dalam situasi dimana aku adalah istri dari Xi Luhan, pria terkenal seatero China dan lebih parahnya lagi; dia di sini, terlelap. Tidur di sampingku.

scripwriter : Bambina88 | main cast(s) : Xi Luhan | supportingcast(s) : Mizzy Frost/Cha Jaekyung [OC] | duration : 2500+W | genre : Fantasy, Random-Romance, Comedy-idk- | rating  : PG-17

Aku terbangun dalam situasi dimana aku adalah istri dari Xi Luhan, pria terkenal seatero China dan lebih parahnya lagi; dia di sini, terlelap. Tidur di sampingku.

 

Dua minggu yang lalu aku masih sibuk dengan Skripsi yang tidak kunjung usai dan rasanya sudah mampu membuat otakku berceceran di lantai. Profesor sialan itu tidak habisnya mengembalikan revisiku dengan alasan seribu satu. Dari sibuk sampai yang tidak masuk akal, ini tidak menarik. Hell yah, siapa peduli? Toh ya, aku hanya ingin memakai Toga dan pergi jauh-jauh dari Universitas ini -camkan tidak bertemu Profesor itu lagi.

Pagi ini aku tidak sempat sarapan –lagi tidak membawa ponsel. Jam dinding sudah menunjukan pukul tujuh tiga puluh dan aku masih betah di hadapan laptop dengan setumpuk buku di sampingku. Spidol warna yang berceran di meja serta segulung tisu yang habis dipakai karena, sial aku sakit hari ini. Petugas perpustakaan bahkan masih sibuk membersihkan jendela yang berdebu sementara di sekelilingku hanya ada lima entah, tiga orang lain yang aku pikir bernasib sama denganku, berambisi menyelesaikan skripsi dan cepat-cepat memakai toga.

Semuanya masih berjalan normal, se-normal-normalnya. Dan aku, bukanlah tipe gadis penghayal yang bisanya berimajinasi sambil bergulung dalam selimut. Setidaknya itu dua minggu yang lalu, sebelum semuanya menjadi gila.

 

***

“Sayang, sudah bangun?” tanyanya, tangannya menarik anak rambutku seraya membelainya pelan.

Cahaya dari jendela di belakangnya membuat kepalaku sedikit berputar, aku sempat membukakan mataku sejenak dan yang ada hanya bayangan seorang pria tersenyum di hadapanku, ah halusinasi. Lantas aku kembali menutup mata dan menggeliat merasakan kasur-kotor-nyaman tempat tidurku biasanya. Ah mana Neko, kucingku? Kenapa alarmnya tidak berbunyi? Seingatku aku menyalakannya pukul enam tiga puluh tadi malam, mungkin karena aku bangun terlalu pagi dan mataku silau ditimpa cahaya pukul –entah pukul berapa dan aku rasakan keningku basah. Seseorang mencium keningku.

Tunggu,

Ada apa ini?!

Aku terlonjak dan membukakan mataku lebar-lebar. Melihat sekeliling dan pandanganku berakhir pada pria yang masih menatapku keheranan. Ini bukan kamarku, bukan tempat dimana aku biasa tidur dan yang membangunkanku juga bukan Weker kesayangan yang biasa aku banting setiap pagi! Ditambah tidak ada ceceran kertas HVS, sisa makanan ringan, laptop, juga setumpuk revisi skripsi.

Jelasnya ini bukan kamarku dan, dimana ini? Aku kembali memfokuskan padanganku agar semuanya terlihat jelas, ini sebuah kamar yang cukup luas dan aku terbangun dalam keadaan tidur bersama seorang yang tidak aku kenali. Kepalaku kembali berputar, aku merasakan jika pria itu kembali merangkulku dan melayangkan kembali kecupannya, tidak dikening. Tapi dibibir. Pria gila, enak aja berani cium-cium kening sama bibir.

“AARRGHHH!!” aku lantas berteriak membuat pria di sampingku meringis dan refleks menutup telinganya.

“Sayang, ada apa? Kamu mimpi buruk lagi?”

Sayang?

What the hell, aku seharusnya sedang bersama laptop dan menyelesaikan revisiku, siapa lagi yang berani memanggilku sayang selain benda tak berakal, Neko atau yang lebih parah benda tak bernyawa, laptopku? Aku yakin sekali jika aku tidak pernah mendengar panggilan sayang sejak aku terlelap dalam bangku kuliah. Pria sarap enak aja main sruduk pagi-pagi.

“Harusnya aku yang tanya, kenapa aku ada di sini? Siapa kamu? Dimana ini?” kepanikanku bertambah seraya semakin sadarnya bahwa ini bukanlah tempat dimana sepantasnya aku berada, ya benar. Ini jelas-jelas bukan kamarku dan dia siapa, aku pun tidak tahu.

“Sayang jangan mengada-ngada, ini apartemenmu. Aku Xi Luhan, suamimu.”

Suami? Aku tidak pernah ingat punya suami, tidak. Tidak. Ada yang salah dengan ini, aku kembali mengerutkan keningku dan pria itu kini berada tepat sejajar denganku. Apa dia psyco?

“JANGAN DEKATI AKU, PERGI KAMU.” Secepat kilat aku beranjak dari kasur, berlari menuju kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Di luar aku masih bisa mendengar jika ia mengetuk pintu kamar mandi dan memanggilku beberapa kali. Namaku? Ya Namaku Mizzy. Mizzy Frost, mahasiswa tingkat akhir.

“Sayang, buka pintunya. Aku tahu kamu masih syock dengan kejadian itu, tenangkan dulu dirimu Sayang. Buka pintunya sekarang.” Luhan mengetuk pintunya kembali dan memutar kenopnya beberapa kali. Kepanikan Mizzy bertambah, jelas saja ini bukan tempatnya dan segala sesuatunya terasa asing. Bahkan bisa dipastikan ia pun tidak mampu mengenali dirinya sendiri siapa.

Tuhan, biarkan skripsiku kembali saja.

Aku mengatur nafasku yang tidak beraturan. Menjernihkan pikiranku yang semula seperti angin ribut dipagi hari. Aku bingung sekarang dan rasanya yang mampu menjawab rasa bingungku yang berlebih hanya dia. Ragu-ragu aku memutar kenop kamar mandi dan menatap seseorang yang kini berdiri di hadapanku, orang asing yang mengaku sebagai suami.

Nah gitu dong sayang, ayo biar aku yang buat sarapan. Kamu mau apa? Telur? Sandwich?”

Senyum lebar menghiasi wajahnya, dan aku hanya bisa menatapnya bingung, tidak percaya, ambigu, dan berbagai macam prasangka dengan halis menyatu. Pria itu, katanya namanya Xi Luhan menggandeng tanganku dan mendudukanku pada sebuah meja makan di dekat dapur, mengaku sebagai suami dan tidur bersamaku hingga pagi. Ini mengerikan.

Pria itu kembali beberapa menit kemudian dengan nampan yang berisi sepiring Sandwich dan segelas Susu hangat. Aku yang masih kebingungan dengan segala sesuatunya hanya bisa melihatnya hingga ia terduduk di kursi kosong seberang. Senyumnya masih saja mengembang dan aku akui jika tampangnya jauh dari kesan buruk. Mizzy, sadarkan dirimu!

“Apa ini tidak beracun? Kau menaruh sesuatu kan di dalam sini? Sehingga aku memakannya dan tak sadarkan diri dan….. Dan kamu bisa bunuh aku kapan pun?”

Luhan heran menatapku, kemudian kembali tersenyum. Lagi-lagi tersenyum. Pria sarap akal bulusmu memuakkan.

“Lihat, aku memakannya ini tidak beracun. Sudah jangan bicara yang aneh-aneh,” ia mengambil sandwich di piringku dan menggigitnya, aku kembali menghembuskan nafas dan menatapnya.

“Namamu? Dimana ini?” aku kembali melayangkan pertanyaan pada pria yang masih sibuk mengunyah sandwichnya, sementara aku akui jika memang aku lapar tapi tidak untuk sandwich beracun, pikirku.

“Xi Luhan, suamimu. Ini apartemen kita. Seoul, Korea Selatan. Cha Jaekyung.”

Namaku, Cha…. apa? Ini di Seoul? Korea? Bukan di California?

“Hey, namaku Mizzy Frost. Bukan, Cha Jae… terserah. Kau pasti salah, aku MIZZY. MIZZY FROST!”

Aku bisa melihatnya tertawa hingga matanya menyipit. Apa yang lucu? Jelas bukan jika namaku Mizzy bukan Cha Jaekyung seperti yang disebutnya.

“Apa yang lucu?” Aku kembali bertanya dengan halis mengerut, pria itu lantas berhenti tertawa dan meluruskan kembali raut wajahnya.

“Maaf, maaf sayang. Hanya saja, nama barumu keren. Aku suka,”

“Jangan panggil sayang, aku pusing.”

Pria itu terkekeh sejenak dan menggigit kembali sandwichnya. Aku memutar mataku menatap sekeliling yang terasa asing bagiku. Ruangan apartemennya cukup biasa, standar apartemen pada umumnya hanya saja tata letak pada ruangannya lebih terkesan minimalis, ruang tengah di isi dengan sofa santai berwarna coklat kayu dan beberapa boneka beruang sementara meja kayu di depannya dialasi oleh karpet berbulu berwarna hijau, jendela apartemennya kebanyakan dihiasi tirai berwarna biru pudar dengan banyak sekali aksen kupu-kupu. Sejenak jika dilihat apartemen ini memiliki angin segar tersendiri, entah itu karena tata letaknya atau entah karena perpaduan warna yang kebanyakan berasal dari warna-warna alam. Aku yakin jika pemiliknya memang memiliki kreatifitas dan selera yang baik akan hal ini. Tunggu, bukankah pemiliknya itu aku?

“Ada apa?” tanya Xi Luhan kembali, kali ini ia melambaikan tangannya tepat di depan mataku dan aku segera tersadar dari lamunanku.

“Tadi, kau bilang siapa namaku? Bisa kau jelaskan hal-hal umum yang terjadi?” aku menatap Luhan dengan pandangan serius sehingga pria itu berdehem dua kali berusaha menahan tawanya. Namun karena aku menatapnya kepalang serius maka ia hanya mengangguk dua kali dan tersenyum.

“Jadi sebelumnya, perkenalkan nama saya Xi Luhan. Pria umur 29 tahun yang sekarang menjadi suami dari seorang desaigner bernama Cha Jaekyung wanita berumur 25 tahun. Sekarang tahun 2017, bulan November, hari Minggu.”

Apa yang dikatakannya seratus persen berbeda dalam logika. Seharusnya ini tahun 2015 dan bukan tahun 2017 seperti yang dikatakannya. Hey, umurku saja baru 22 tahun dan aku masih bersekolah di Universitas California semester akhir.

“Ini 2015, umurku masih 22 tahun. Bagaimana bisa sekarang tahun 2017? Lagi, aku masih kuliah sekarang. Dan tambahan namaku Mizzy Frost.”

Luhan mengerang frustasi bahkan hingga ia mengacak rambutnya tidak karuan. Lagi keduanya sama-sama keheranan. Tentu, aku yang paling heran disini.

Pria itu lantas beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu depan, tidak menghiraukan panggilanku yang masih kebingungan dibuatnya. Menit berikutnya ia menyerahkan selembar koran, mengajakku keruang tengah dan menyalakan televisi. Acara berita pagi, dan semuanya terasa berbeda.

“Aku tahu kau menginginkan anak sejak lama, kita bisa buat kapan saja. Lusa, minggu depan. Atau sekarangpun tidak masalah, aku siap… Tidak perlu menunda-nunda lagi.”

Sinting.

Anak apa?

Apa sih yang dibicarakannya? Semalam pun aku bahkan masih ingat jika aku berambisi untuk memakai toga bulan depan bukannya membuat anak bersama pria asing. Aku membolak-balikan koran yang diberikannya dan masih sama, ini bulan November dan tahun 2017. Menyalakan televisi dengan acara asing namun bisa dipastikan jika ini memang tahu 2017. Gila kali yah, tidak mungkin jika aku tidur selama tiga tahun lebih dan bangun dalam keadaan sudah bersuami. Aku menatap Luhan sekali lagi ragu antara bingung dan menerima semua kenyataan, Luhan meyakinkanku dengan duduk dan menggenggam kedua tanganku. Kenyataan yang harus aku telan bulat-bulat sehingga kerongkonganku tidak mampu, kenyataan jika aku tertidur dan terbangun dalam keadaan bersuami Xi Luhan.

“Tadi kau bilang siapa namaku?” Aku berani lagi bertanya ketika Luhan menyodorkanku kembali sandwich dan segelas susu yang belum sempat aku makan.

“Cha Jaekyung, tapi aku suka nama barumu. Terdengar lebih keren, Mizzy Frost.” Luhan memotong sandwich milikku hingga beberapa bagian, aku hanya bisa memperhatikannya sesekali mengedarkan pandanganku pada ruangan asing tempatku terbangun saat ini. “Ini, buka mulutmu. Mizzy,” lanjutnya mencoba menyuapiku, aku ragu menerima suapan sandwichnya. Tapi sepertinya rasa laparku mengalahkan ketakutan dan rasa bingungku sendiri.

“Tidak usah, panggil saja Jaekyung. Mizzy, itu nama duniaku yang lain.”

“Dunia yang lain apa? Duniamu cuman disini, Jaekyu….. ehm, Mizzy.”

Setidaknya dia sabar dan selalu tersenyum. Beruntung sekali gadis yang mendapatkan pria jenis seperti ini, eh itu kan aku? Tapi, itu bukan aku. Ah, entahlah. Aku pusing.

“Kamu mungkin butuh ke dokter Jaekyung ehm ya, Mizzy. Kita pergi siang ini,”

Aku memegang kepalaku frustasi, merangkup wajahku sendiri dan memejamkan mataku rapat-rapat. Sungguh, aku berharap jika ini adalah mimpi. Ini tidak nyata dan aku hanya perlu tertidur kembali untuk mengembalikan semuanya. Ya benar. Aku hanya perlu tidur lagi.

“Lu…… Hey.. Dimana kamarnya?” Aku menyentuh pundaknya dengan telunjukku dua kali, Luhan menghentikan aktivitasnya dan menatapku. “Kamar? Dimana?” ucapku lagi penuh penekanan.

“Apa? Kamu mau buat anak? Ayo.” Kalimatnya yakin sekali dan wajahnya mengembang hingga deretan giginya terlihat. Dasar mesum. Bagaimana bisa dia mengartikan ‘dimana kamar?’ dengan ‘ayo buat anak.’?!

“Anak apa? Kamarnya dimana? Aku mau tidur lagi, aku lelah!” Jawabku ketus. Dia lantas hanya menjawab ‘oh’ kemudian menunjuk pada pintu berwarna gading. Sebenarnya aku sendiri tidak tega jika aku harus menyakiti hati seorang pria, dan aku tidak mengenalnya dengan baik. Tapi sungguh, aku sendiri juga kacau dengan pikiranku, terutama kenyataan. Dan mungkin setelah aku tidur nanti aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Toh ini kan tidak nyata.

***

Aku tidak tahu pasti sudah berapa jam lamanya aku terlelap. Kasur ini kepalang sangat nyaman dan luar biasa menjerat setiap senti tubuhku, aku menggeliat lagi memeluk apapun yang ada didekatku dan tersenyum lebih-lebih menyeringai, Aku kembali. Aku membukakan mataku, memejamkannya kembali dan mencari ponsel yang biasanya terbaring di samping ranjang, enggan membuka mata. Tidak ada, tidak ada ponselku. Lalu mana Neko? Kucingku?

“Neko, sayang.. Neko sayang…” aku menggeliat kembali sambil bergumam memanggil Neko, kucing abu berlemak. “Mii….miaaaww…miii…” aku kembali menirukan suara Neko yang khas, walaupun aku sendiri tidak tahu bagaimana suara Neko yang khas. Suara kucing kan sama, Miaw. Lah, pokoknya itu suara khas Neko.

“Sayang sudah bangun?”

Tunggu…

Aku masih memejamkan mataku dan mendengar suara itu lagi. Ya, suara dia. Suara Xi Luhan, suamiku di dunia yang lain. Aku yang masih enggan membukakan mataku berusaha mengenyahkan pikiran jika aku masih terjebak dalam delusi halusinasi.

“Neko…. miaaw….miiaww… Neko, sayang… come here..” suaraku sengaja ditinggikan, mungkin Neko tidak mendengar. Kucing itu kepalang pemalas karena timbunan lemak ditubuhnya. Terus-terusan aku menirukan suara kucing “Miaaw…miaaww…” sampai aku sadar seseorang memegang kedua pergelangan tanganku dan mataku terbelak.

Oh my god….

Mataku membulat tidak percaya karena nyatanya dia masih di sini. Ralat, aku masih terjebak di sini. Di dunia lain yang tidak aku ketahui. Ditambah ini kepalang parah dan bisa jadi membuat hidung mimisan. Siapa yang tidak kaget dengan pria dengan kulit seputih susu tanpa baju dan celana jeans terbuka berada tepat di atasmu dan memegang kedua pergelangan tanganmu?

Garis bawahi, tanpa baju dengan celana jeans terbuka.

Bahkan aku bisa melihat dengan jelas setiap senti tubuhnya yang nyaris putih pucat tanpa celah. Bisa dipastikan aku mimisan jika disuguhi pemandangan seperti ini setiap hari.

“Ka…..kamu….. baju! Mana, baju?!?!!”

Aku kepalang gelangapan menanggapinya, pria itu lantas berdehem dan menyingkirkan tubuhnya. Yah, lebih baik seperti itu. Xi luhan lebih baik jauh-jauh dariku sebelum aku benar-benar mimisan dibuatnya.

“Aku sedang ganti baju tadi, tapi tiba-tiba kau berbicara ‘Neko… Neko…’ dan menirukan suara kucing, jangan salah paham.” Jelasnya, oh jadi selama ini dia ganti baju dikamar ini? Jaekyung, aku salut. Bisa-bisanya bertahan dengan jenis pria seperti ini.

“Jadi, kenapa saya masih berada di sini?”

Aku melayangkan pertanyaan yang mungkin saja tidak ada jawabannya. Mana dia tahu, mana aku tahu, bahkan jika aku bertanya pada Tuhan, Tuhan pun akan menjawab, ‘Entahlah pikirkan saja sendiri.’

“Sayang kamu sakit ya?”

Ia lantas mendekat dan menempelkan tangannya di keningku, entah apapun yang dikatakannya aku tidak sakit atau hilang ingatan. Nyatanya aku hanya tertidur dan terbangun dalam keadaan bersuami tampan dengan badan seputih susu. Oh ya, aku terlihat tolol seperti ini.

“Tidak, jangan dekat-dekat. Pakai bajumu.” Aku meringis menepis tangannya yang semula merangkup wajahku, ini terlalu mendadak dan membuat semuanya terasa begitu membingungkan. Oh tuhan, aku tidak akan membeci skripsi dan profesor itu lagi sekarang. Aku hanya ingin pulang, dan hidup normal. Ini terlalu gila bagiku.

Ia tampak tidak senang dengan perlakuanku yang seperti orang asing banginya. Tentu saja itu normal bagiku karena bagaimanapun dia tetap saja asing, tapi mungkin tidak bagi dia yang biasanya bersama gadis bernama Cha Jaekyung.

Aku menyerah sendiri dan lebih baik menurut apa yang dikatakannya setelah beberapa jam sejak pagi aku terjebak dalam dunia yang tidak aku ketahui dari mana asalnya. Aku merasa kosong lebih-lebih blank dengan pikiranku sendiri. Penyihir jenis apa sih sebenarnya yang mampu memutar balikkan keadaan seperti ini?

Di ruang tengah aku masih diam terduduk sementara Luhan pergi –entah mengambil sesuatu. Aku masih betah mengedarkan pandanganku dengan lesu, tidak bersemangat dan ini di luar nalar, hingga pandanganku tertuju pada album di atas meja, aku yang penasaran lantas mengambilnya dan membuka lembar perlembar halamannya.

Oh, album pernikahan.

Setidaknya itu yang terpikir karena hampir semua yang ada dalam album itu adalah foto pernikahan aku dengan pria itu. Aku hampir tidak mempercayai ini, jika aku melihat diriku sendiri dalam balutan gaun bersama seseorang padahal aku sendiri tidak pernah ingat pernah melakukannya. Setidaknya aku tampak cantik di foto itu, anggun, dan cantik. Begitupun dengan dia. Xi Luhan tampan yah, sedikit cantik tapi tetap saja dia terlihat tegas dan Macho.

Ada Mom and Daddy, Harley sepupuku, Primroses keponakanku, Grandpa, Aunt, semuanya ada. Hanya saja, yang membuatku ‘menggelitik’ adalah aku sendiri tidak menyadari semua ini pernah terjadi.

“Kau ingat sekarang?”

Aku tidak menyadari kehadirannya sampai Luhan tepat berada di sampingku dan bertanya. Pikiranku terlalu sibuk dengan kenangan yang kosong, ada jarak antara kenanganku yang dulu dengan sekarang. Aku menggeleng pelan sambil tersenyum lemah menjawabnya, Luhan membalasnya tapi dia terlihat lelah. Aku juga sama.

Its okay, everything will be allright.” Ucapnya tegas, sorot matanya tajam tapi lembut. Aku yakin mungkin inilah yang membuat Jaekyung mau menikah dengannya, ada kehangatan dan perlindungan semua itu ada pada dirinya.

“Maaf, ini sedikit merepotkan.” Ucapku pelan, terlalu pelan untuk sebuah kalimat. Terlalu keras untuk sebuah bisikan.

“Tidak apa. Kita mulai lagi dari awal.”

 

-To Be Continue-

ps :

hey everybodeh~~ long time no see, banyak banget yang berubah yah sama IFK aku terhura banget :’) entahlah rasanya aku kangen banget jadi penulis IFK walaupun ini sedang nyusun skripshit :’)

ah entahlah, ini ff percobaan aku… kalo pada suka ya lanjut kalo engga…. aku mau cut aja.

anyway, anyone still remember me? kkk

Regard : Bambina88

8 thoughts on “Dizzy Crazy Called Love”

  1. Hahahqhq lucuuu
    Itu kenapa sih bisa loncat taun gitu? Gue juga mau dong bisa langsung ke masa depan dan langsung nikah gitu–ya sukur sukur dapet suami ganteng. Menghindari penelitian dan skripsit iniiiii 😢😢😢😢

    Suka

  2. Wwuaaahh kok bisa sihh yg mizzy yg lgi sibuk” kejar kelulusan tba” trbangun dlm keadaan brsuami, bkin dia stress sndri kkkkk~ dri 2015 smpe 2017….gileee kerenn bgtt, malah dpet suaminya luhan beeuhh, next chap-nya ditunggu HWAITING!!!

    Suka

  3. AAAAHHH SO KYUT :(:(:(

    suaminya udah ganteng sabar banget, ganteng KENAPA LUHAN KENAPA CASANOVA KITA udahlah mau aja sama Luhan;;) siapa yang gamau sama dia sih?!?!?!. Kok bisa sih tibatiba ada di masa depan penasaran banget asli:( ditunggu chapter selanjutnya yaaa^^

    Suka

  4. Ok, ini emg random,tp aku SUKAAA!!💞
    gmn ga random coba? bgn2 udh nikah. mizzy, aku tau kok perasaanmu…antara bingung, stress & ga percaya.mana luhan lg suaminya,OMG! Klo jd mizzy,aku milih ini😘
    ayo ceritain flashbacknya, greget nih jdnya!🙏

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s