[Oneshoot] The Opposite Place

the opposite place done

scripwriter : chioneexo | main cast(s) : Mark and Jr./Jinyoung [GOT7] | supporting cast(s) : Jeonghan [SEVENTEEN] | duration : 1615w | genre : brothership, fantasy, sad | rating  : PG-15

 

find a place where your sadness will be healed—DBSK’s BOLERO

 

Alangkah baiknya jika hujan di luar berhenti barang semenit saja, supaya aku bisa keluar tanpa merisaukan soal basah dan perihal sayapku yang nanti jadi berat. Tapi, yah, akhirnya di tempat Jinyoung-lah aku berteduh, menemani bocah-hampir-remaja itu menghirup dingin malam sambil mati-matian tidak memperdengarkan bengeknya padaku. Kalau boleh memilih, aku tidak mau mendaratkan kaki di tempat orang sekarat, hal itu mengembalikan memoriku pada hal-hal yang tidak ingin kujalani. Apalagi ini Jinyoung, sejak masih jadi anak ingusan, dia sudah bisa melihat wujudku tanpa merasa takut. Ya, Jinyoung ini spesial, dan tidak ada satu Jinyoung yang sama di luar sana yang dapat melihatku tanpa misuh-misuh sambil berlari pontang-panting.

 

“Mark, buat apa lama-lama disini? Kau buang-buang waktu.” Jinyoung mencoba mengusirku lewat tatapannya, dia berusaha tidak peduli meski dia menginginkanku. Aku berani taruhan, Jinyoung menyukai eksistensiku. Sungguh.

 

“Masih hujan, aku tidak mau terbakar petir.”

 

“Teman-temanmu sibuk sementara kau di sini menunggu hujan reda,” ucapnya kalem. Jinyoung membiarkan jendela kamarnya terbuka dan menampilkan balkon besar berisi tanaman rambat yang menghalangi terpaan hujan, aku duduk di salah satu bangku yang menghadap ke arah kolam air mancur di taman, kemudian menyapu pandang pada cairan infus yang menggantung hampir kosong di atas tiang pengaitnya. Jinyoung membutuhkan yang baru, kalau tidak dia bisa mati kelaparan.

 

“Harusnya keluargamu membiarkan satu perawat tinggal di sini, kau tidak mungkin mengganti infus sendiri sementara aku pergi.”

 

“Tapi selama ini mereka mengira aku bisa ganti infus sendiri.”

 

Kemudian Jinyoung terdiam, dia hanya berpaling ketika aku membuang tadah infus ke tempat sampah, lalu mengambil yang baru dan memasang benda itu seperti sedia kala. Raut wajah Jinyoung bahkan lebih pucat di bawah temaram lampu balkon, ia memadamkan lampu utama kamar dengan alasan merasa lebih damai. Tapi, well¸ sebenarnya hal itu demi menyembunyikan presensiku dari orang-orang rumahnya.

 

“Mark, dadaku sakit,” rengeknya tanpa repot-repot menoleh, ia sibuk meringis sambil menyerapahi rasa sakit yang kini tengah menjalarinya.

 

“Bersabarlah, kau sendiri yang bilang ingin segera pergi dari sini. Proses takkan mengkhianati hasil, kau pasti bisa bebas setelah ini.”

 

“Tapi tidak bersamamu, ‘kan?” Jinyoung terbatuk setelahnya, uap-uap kemerahan seperti terlihat dari mulutnya, lalu menghilang dua sekon kemudian. Mata bocah itu melantur pada langit-langit, dari kemarin ia menanyaiku tentang bagaimana rupa seorang Jeonghan ketika ia terbang. Apakah sama gelapnya seperti aku? Apa dia punya wajah yang tampan sepertiku? Atau, justru Jinyoung akan balik berlari saat melihat wajahnya yang bersinar?

 

“Berapa kali kukatakan padamu, hanya Jeonghan yang bisa pergi denganmu. Aku mana boleh! Bisa-bisa dipecat lagi.”

 

Jinyoung tertawa dalam, terbatuk sebentar, lalu ia berujar, “siapa yang berani memecatmu? Hanya kau yang bisa memutuskan kau pantas berhenti atau tidak. Kau big bossnya, ingat?”

 

“Masih ada yang lebih tinggi lagi, dan aku tidak bisa melawan perintahnya. Pokoknya, kalau kau mau ikut denganku, kau harus bunuh diri sekarang,” gurauku. Jinyoung malah berpalis muka, seolah-olah bilang bahwa itu gagasan bodoh.

 

“Enak saja menyuruhku bunuh diri, mati perlahan saja sudah sakit, apalagi mati terpaksa. Kau tidak pernah merasakan sakit, bukan?” Jinyoung berusaha duduk, tangan ringkih bocah itu menampilkan urat nadi biru keunguan dengan pemandangan tulang-kulit yang sesuai dengan keadaannya. Dengan tubuh yang begitu kurus, dia masih bisa bangkit dan memberi aba-aba padaku untuk mendekatinya.

 

“Kenapa? Kedinginan?” tanyaku.

 

“Tidak, aku mau kau di sini saja. Duduk di dekatku.”

 

“Blah, tadi siapa yang mengusirku, coba?”

 

“Tidak serius, Mark. Kau bisa tinggal selama yang kau suka,” kemudian Jinyoung beringsut menempelkan kepalanya ke pundakku, ia suka begitu sejak kami pertama bertemu, dia bilang bahuku hangat dan lebar, dia juga menyebutku sebagai kakak lelakinya karena aku sering menceritakan kisah iblis dan malaikat setiap kali Jinyoung berangkat tidur. Dia anak manis yang kehilangan jati diri akibat perlakuan orang tuanya. Aku bersumpah akan membawa mereka kelak jika waktunya sudah tiba.

 

“Nanti, kalau Jeonghan datang padamu, kuharap kau jangan kaget jika dia tersenyum begitu lebar sampai tulang pipinya membulat. Rumahmu akan sangat bagus, Jinyoung-ah, ada banyak buah persik kesukaanmu di sana.”

 

“Tapi kau tidak ada, Mark. Buat apa kalau begitu? Aku ‘kan tidak kenal siapa Jeonghan, aku tidak tahu kemana tujuanku bersamanya, aku lebih suka di sini bersamamu.”

 

Hal-hal seperti itulah yang membuatku terheran-heran pada Jinyoung. Secara fisik, aku ini figur bersayap hitam yang menjengkelkan dan tak berperasaan. Siapa yang tak berbuat kebajikan, marilah ikut denganku. Tugasku sesederhana itu. Lain perkara dengan Jinyoung, bukan aku yang akan mengambilnya, tapi Jeonghan.

 

Well, dia itu malaikat ceroboh yang suka pamer senyum. Tapi dia baik kok.”

 

“Tidak sebaik kau pastinya.”

 

Hahaha, dia bilang aku baik.

 

“Hmm, mari kupikirkan dulu cara menjelaskannya padamu,” kukatakan hal itu sembari memutar otak, berusaha tidak menyebut-nyebut hal keji yang membuat Jinyoung takut pada tempat tinggalku, pada habitatku yang kumuh dan nista itu.

 

“Nah, begini ya, Jinyoung, kalau kau ikut denganku, hidupmu jadi tidak menyenangkan. Kau bisa bilang bahwa berpelukan bersamaku di sini adalah hal yang menyenangkan, tapi kelak tidak akan sama. Kau bisa hangus kalau tinggal di rumahku. Kau mau terbakar seperti ketika aku terbakar petir?”

 

“Tidak mau.”

 

“Kalau begitu ikutlah dengan Jeonghan. Dia punya tempat yang sejuk dan tidak berbahaya.”

 

“Baiklah, kalau itu yang kau inginkan.”

 

Sayup-sayup, hujan sudah berubah jadi gerimis, aku hendak melangkah tapi tak begitu tega membiarkan Jinyoung menggelugut sendirian. Dalam senyap, segalanya jadi jelas, atau aku saja yang merasa indraku berubah tajam. Aku bisa mendengar napas Jinyoung berbunyi ‘ngik-ngik’ panjang serta batuknya yang tak kunjung berakhir, sontak membuatku menaikkan bedcover sampai menutupi lehernya.

 

“Mark, aku sudah tahu kok tempat seperti apa rumahmu itu.”

 

Sekalipun aku tahu Jinyoung bukan bocah bodoh, tapi sedih juga rasanya kalau dia bilang begitu. Mengingat, dia berharap akulah yang membawanya setelah ini, lalu kami bisa menikmati waktu panjang dan menyenangkan sambil bercerita dan tertawa.

 

“Tapi kau tidak tahu detailnya, akan lebih memuakkan dan menjijikkan kalau tahu yang asli.”

 

“Jadi, mengapa kau tidak ikut saja ke rumah Jeonghan?”

 

“Aku tidak diperkenankan menjejakkan kaki di tempat itu, tahu. Lagipula, pekerjaanku dan bumi ini sudah cukup asik, tidak perlu repot-repot mampir ke rumah Jeonghan.”

 

“Itu artinya kau tidak mau menjengukku nanti?” Jinyoung berubah masam, padahal bukan itu maksudku.

 

“Tidak juga sih. Hanya saja, rumah Jeonghan terlarang buatku, aku tidak bisa ke sana seenak jidat seperti aku mampir kemari.”

 

“Oh,” sahutnya singkat, lalu terbatuk dan terbatuk lagi sampai telingaku ngilu mendengarnya. Batuk Jinyoung tidak berhenti sampai dua menit, lalu liur berdarah menetes keluar dari sudut bibir pucatnya, ia mencengkeram bajuku sambil sesekali melolong kesakitan. Tak menunggu lama, Jinyoung menangis, ia sesenggukan sementara aku mengelap sekitaran mulutnya dengan kain hitam hasil robekan ujung bajuku.

 

“Sstt…jangan menangis, Jinyoung-ah.”

 

“Sakit sekali, Mark. Kalau begini, aku lebih baik mati saja sekarang, aku tidak mau terus-terusan batuk! Mengapa kau tidak bilang kapan tepatnya aku mati?!”

 

“Itu melanggar aturan.”

 

“Persetan dengan aturan! Iblis tidak butuh aturan!” Jinyoung terlihat marah dan putus asa, ia masih dalam posisi mencengkeram bajuku.

 

Benar, iblis tidak butuh aturan. Iblis memang melanggar aturan-aturan. Tapi cukuplah sampai di situ saja, toh tugas mencabut roh manusia tidak begitu memusingkanku, kalau aku harus terlibat masalah dengan melanggar aturan, aku bisa jadi objek siksaan di rumahku sendiri nantinya.

 

“Dua hari lagi.”

 

Jinyoung berhenti menangis, ia menatapku dalam pekat dan tanpa berkedip.

 

“D-dua hari?”

 

“Mengapa? Kau takut, Jinyoung-ah?”

 

“Tidak.”

 

Aku tahu kau belum mau mati.

 

“Tapi, Mark, kau bilang itu melanggar aturan? Mengapa kau bilang?”

 

“Karena aku tak tahan melihatmu begini. Kalau boleh mengaku, sebenarnya sudah banyak pelanggaran-pelanggaran kecil yang kulakukan karena sering menungguimu di sini, tapi aku masih bisa bertahan dengan seratus cambukan. Kuharap hukumanku setelah ini tak begitu berat.”

 

“M-maafkan aku, Mark,” ucapnya sembari menangis lebih keras.

 

Bodoh, mengapa aku jadi bilang tentang hukumanku? Dia jadi begini, deh.

 

“Berhentilah menangis. Gunakan dua harimu untuk minta maaf pada orangtua, saudara, dan kawan-kawanmu. Tinggalkan kesan yang baik, beri pesan pada ibumu tentang bunga apa yang kau suka untuk diletakkan di atas nisan, beritahu Randall untuk memberi makan dua anjing kesayanganmu, tulislah sepanjang-panjangnya perasaanmu di atas kertas lalu lipat dengan rapi. Kau harus siap, aku tidak tahu kapan tepatnya Jeonghan akan kemari, tapi yang jelas dua hari lagi,” ujarku panjang-lebar, lalu bangkit dari tempat tidur Jinyoung sambil melebarkan sayap keras-keras, membuat beberapa bulunya lepas dan bertebaran di lantai kamar.

 

“Kau mau bertugas, Mark?” Tanya Jinyoung, sisa-sisa tangisnya masih terdengar namun tidak seheboh tadi.

 

“Ya. Dan ini bisa jadi pertemuan terakhir kita.”

 

“…”

 

“Jadilah anak yang baik. Jangan repotkan Jeonghan, kau mengerti?”

 

“Baiklah, Mark.”

 

Dengan berat hati, aku menutup kerai sekalian jendelanya, memandang wujud manusia Jinyoung untuk kali terkahir, lalu terbang menuju langit abu-abu. Entah ini benar atau tidak, tapi sepertinya Jinyoung menangis lagi setelah aku tak menapakkan kaki di balkonnya.

 

Di atap gazebo taman, kudapati Jeonghan bersenandung ramah dengan jalinan mahkota bunga di tangannya, ia sepertinya tak keberatan dengan hujan jika dilihat dari baju dan sayapnya yang basah. Jeonghan memandangku curiga, lalu tersenyum lebar dan berkata, “iblis juga bisa menangis, ya.”

 

“Aku tidak menangis.”

 

“Siapa bilang matamu yang menangis? Hatimu, maksudku.”

 

“Terserah.”

 

“Kau sudah rela bahwa bocah itu akan pergi denganku?” Jeonghan turun dari atap, ia berputar-putar mencari bunga aster untuk mahkotanya.

 

“Buat apa tidak rela? Toh dia bukan akan ke neraka.”

 

“Benar kau sudah rela?” Kini Jeonghan berputar-putar kurang ajar di atas kepalaku.

 

Aku terdiam, lalu menoleh ke jendela kamar Jinyoung lagi. Kamar bocah itu nampak terang, itu tandanya ada seseorang yang masuk.

 

“Hei, Jeonghan.”

 

“Uhu, aku mendengarkanmu, Mark.”

 

“Jaga dia baik-baik. Well, aku tahu memohon seperti ini akan meruntuhkan harga diriku sebagai iblis. Tapi, serius, kau harus memperlakukannya dengan sangat baik. Dia sudah cukup menderita selama ini. Dan, tambahan, Jinyoung suka buah persik.”

 

Jeonghan tidak menjawab, alih-alih meneruskan mahkota bunganya yang jelek, malaikat itu malah serius memandangi wajahku.

 

“Kau benar-benar sayang padanya, Mark?”

 

“Lebih dari yang kau tahu.”

 

Kemudian tawa Jeonghan menggema seperti tawa riang penari jalanan, ia melanjutkan senandungnya dengan lirik-lirik aneh yang menyindirku sebagai ‘iblis berhati baik’. Aku tidak keberatan, selama Jeonghan memberi jaminan akan kebahagiaan Jinyoung, tak punya harga diri pun aku bisa terima.

 

Dua hari lagi, Jinyoung-ah.

 

end

 

a/n :  okeee, jangan ketawa plis aku tau ini failed banget T_T , ff GOT7 pertama dan genrenya udah begitu /slapped/ . Pairing Mark-Jr itu rekomendasinya adekku yang ngepens banget sama GOT7, dia bilang mereka berdua emang pair yang femes macem HunHan. Wkwkw, aku sih nurut apa kata dia aja :3 dan Jeonghan ada di sini karena dia sangat angelic, dengan rambut panjang dan wajah keibuan serta kecantikan tiada tara /halah/ cocok banget jadi malaikat❤

 

mind to review?

9 thoughts on “[Oneshoot] The Opposite Place”

  1. INI NGGAK GAGAL KOK.

    agak ngakak sih emang di bagian Jeonghan yang nyolot(?) begitu sama Mark. Kemudian mikir kok malaikat bisa begitu(?).

    TAPI INI ASLI BIKIN BAPER.

    KENAPA MARK SAMA JEONGHAN NGGAK TUKERAN TEMPAT AJA? KAYAKNYA LEBIH COCOK BEGITU 😭

    Suka

  2. Waaaaaa ><

    Aku ngakak waktu baca mark jadi iblis. Padahal mark itu sifat aslinya angel bgt loh 😍

    Dan apa cuma aku di sini yg nyaris mewek gara2 baca adegan waktu jr kesakitan? ;–; aah yaampun kasihan bgt(?)

    👆 komen macam apa ini wkwk. Anyway ini keren. Keep writing ya~^^

    Suka

  3. Siapa blng gagal. Ni ff sukses berat. Bkin aq mewek. Nangis bombay. Kasian bgt jinyoungx. Tpi masih gantung jdinya kurang greget. Btw bayangin mark jdi iblis rasanya seru jga. Hehehe..
    Muka angel. Tpi iblis..

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s