Ride and Fly

collage

WINNER Mino and OC Val

on

Ride and Fly

by 21browniepoints

Childhood, Fluff,  Friendship, Hurt/Comfort, Romance

Oneshot

15 for skinship and intimate things

Four times Mino and Val flying.

I wanna fly with you (on my skateboard)

Mereka berdua masih sembilan dan tujuh, rambut Val dipotong pendek dan rambut Mino mengembang tebal. Val masih setipis papan dan Mino masih segendut galon air. Cengiran lebar kekanakan masih menghiasi mulut keduanya. Dan sebuah papan luncur di tangan Mino.

“Kau serius mau melakukan ini?” tanya Mino pada gadis kurus di sebelahnya.

“Kenapa? Kau katanya bisa main skateboard? Kau takut?” sejak kecil gadis ini sudah memegang kepercayaan diri super tinggi, atau lebih pantas disebut dengan kebodohan?

“Huh? Takut katamu? Song Mino tidak mengenal takut!”

“Pfft. Bilang itu pada rumah hantu yang kita kunjungi tiga hari lalu.”

“Itu kan beda!”

“Ya sudah cepat naik!”

Mino meletakkan papan luncurnya di puncak jalan turunan itu. Kakinya naik satu, dan ia menoleh pada gadis di belakangnya. “Kau siap?”

Val meletakkan kakinya yang kanan pada papan luuncur yang sama.

“Dalam hitungan yang ketiga ya?”

“SATU!”

Kaki mereka yang kiri mengayuh bersamaan. Val memeluk pinggang Mino yang empuk, kukunya yang panjang menggali tumpukan lemak itu membuat Mino kegelian dan hampir kehilangan keseimbangan.

“DUA!”

Jeritan mulai terdengar. Val menenggelamkan wajahnya di punggung Mino, baunya seperti cuka bercampur kimchi basi.

“TIGA!”

Puluhan bunyi tidak manusiawi terdengar dari mulut kedua anak itu dan benda-benda yang mereka tabrak.

Ya pokoknya begitulah ceritanya hingga Song Minho harus absen selama satu minggu dari sekolahnya karena kakinya terkilir parah dan Val mendapat ceramah gratis selama tiga jam dari ibunya karena berhasil melukai anak tetangga.

I wanna fly with you (on my scooter)

“Apa itu?”

Mata Val memicing memperhatikan benda di hadapannya. Seperti mesin ‘sesuatu’ yang bisa membawa mereka berpindah tempat.

“Aku dibelikan Ayah ini. Kalau bisa aku perbaiki sendiri, Ayah akan memperbolehkanku mengendarainya.” Wajah Mino tak beralih dari onggokan mesin itu.

“Mesin apa sih ini? Mesin waktu?”

Mino kali ini menatapnya sambil mengernyitkan alis, “Dewasalah Val, mana ada mesin waktu di dunia ini. Kau kebanyakan nonton Doraemon.”

“Duh, Doraemon itu bakal jadi tontonan seumur hidup.”

Mino kini melempar kunci sebelasnya dan mengelap tangannya yang berlumur oli. “Kita sudah dewasa, kau seharusnya tidak nonton Doraemon dan menghisap lolipop lagi.”

Plop. Lolipop jeruk itu mengeluarkan suara keras saat Val mengeluarkannya dari mulut. “Apa sih maksudmu? Aku bakal nonton Doraemon sesukaku dan makan lolipop jeruk kesukaanku lalu apa hubungannya dengan jadi dewasa?”

Sepasang bahu terangkat. “Aku tak tahu, kau yang harus cari tahu.”

“Kau makin aneh Mino. Apa ini gara-gara kau bergaul dengan Pyo Jihoon dan Woo Jiho?”

“Kau nggak ngerti.”

“Kalau gitu jelaskan?”

“Sudahlah, aku mau pergi.”

“Kemana?”

“Aku diajak Jiho hyung ke tempatnya. Aku akan tampil di panggung, dia bilang rapku keren.”

Gantian Val yang mengernyitkan kening. “Kau ikut kompetisi rap yang… itu?”

“Jangan kaget begitu.”

Val memungut kertas yang berada di bawah kakinya. Poster tentang kompetisi rap yang rencananya akan diikuti oleh Mino. Ia mengantonginya dan melangkah keluar dari gudang itu. Ia tak dibutuhkan lagi di sini.

“Huh? Val? Kau tidak mengucapkan semoga beruntung atau apa?”

Val menoleh. “Oh. Good luck then.”

Mino tahu Val marah padanya.

Jam setengah dua belas malam. Jihoon sudah pulang sejak tadi, ia kalah di babak perdelapan. Mino menang dibabak itu, mengalahkan seorang yang terlihat seperti preman dengan tato dan tubuh sebesar gajah. Tapi dia keok dibabak perempat. Jiho hyung menyuruhnya untuk tinggal, tapi ada perasaan aneh yang memintanya untuk pulang, seperti ia kelupaan sesuatu yang penting. Jadi ia pamit dan berjanji datang lagi ke tempat itu.

Ia keluar dari jalan kecil di samping bangunan bar. Ruangan bawah tanah bar itu memang sengaja disewa untuk acara macam ini. Rasanya lega, keluar dari tempat itu. Ia bisa menghirup udara sebanyak-banyaknya tanpa merasa ada asap rokok dan bau keringat. Mino nyengir lebar mengenang pengalaman barunya. Dunia underground, rap, hentakan musik, dan jeritan penonton. Ia memutuskan bahwa ini adalah impiannya. Ia tak akan melanjutkan bengkel ayahnya, ia bakal bersinar seperti bintang, meluncurkan barisan kalimat dari mulutnya dengan jeritan para penggemar di latar belakang.

“Kau bersenang-senang?”

Suara itu adalah suara yang dikenalnya. Preman sombong yang berlaga bersamanya tadi. Kali ini ia tidak sendiri, di belakangnya ada dua orang lagi yang tubuhnya sama besarnya. Mino merasa tegang. Ia mencium bahaya.

“Kau senang bisa mengalahkanku?”

Ia membisu.

“Kau pikir aku bisa dikalahkan oleh anak kecil gendut sepertimu?”

Mino masih membisu.

Lengkingan klakson dan cahaya lampu mengganggu mereka. Sekelebat muncul kenangan masa lalu di hadapan Mino. Ia berdoa dalam hati tapi kakinya masih tertanam di sana. Sementara ketiga pria berbadan besar itu melangkah mundur demi menghindari motor gila itu.

Hop on!”

Entah bagaimana adrenalin Mino yang tersisa mengajaknya melompat ke skuter merah yang sedang berjalan itu, meninggalkan tiga orang lainnya di jalan. Motor itu dipacu secepatnya melewati jaring-jaring jalan tikus di bagian kota yang sama sekali tidak dikenal oleh Mino. Ketiga orang itu mengejar mereka dengan berlari. Gadis yang memboncengnya otomatis menarik gas sekencang-kencangnya.

“WHOOOOAAAAAA!”

Mereka menepi di sebuah mini market 24 jam. Mino duduk di depan, menunggu gadis itu menyeduh mi instan dalam cup. Ia memiringkan kepalanya. Ia punya ide yang bagus untuk treknya nanti! Tapi ia butuh kertas.

Val datang dengan sebuah mi cup di tangannya dan sebatang es krim. Mino buru-buru melepas tutup mi cup itu, tapi sisi aluminium tidak gampang ditulis dengan pensil yang selalu ia bawa.

“Nih tulis di sini.”

Gadis itu mengangsurkan sebuah kertas kosong terlipat padanya. Ia menerimanya dan mulai menulis cepat. Kata demi kata mengalir sama lancarnya seperti terjangan air terjun Victoria. Hingga ia memenuhi kertas tersebut. Setelah selesai ia meletakkanya dibawah siku, tampak puas berkali-kali membaca kalimat itu, melatih rapnya sambil memakan mi instannya yang sudah mengembang

“Val.”

“Hmmmmmm.”

“Val, dari mana kau tahu aku ada di sana?”

Val membalik kertas yang ia berikan tadi. Itu adalah selebaran dari Jiho hyung, undangan untuknya.

“Oh.”

Kesunyian merambati mereka lagi. Val sudah menyelesaikan es krimnya dan sekarang mulai menghisap lolipop lagi.

“Val, apa kau marah padaku?”

“Marah? Kenapa harus marah?”

“Kau terlihat marah saat di gudang tadi sore.”

“Itu hanya perasaanmu saja.”

“Omong-omong itu skuter dari mana?”

“Hahaha ini sebenarnya skuter Ayahmu, masak kau tidak tahu?”

“Huh?”

Val menepuk keningnya kencang. Lalu menghembuskan napas, menyesal. “Ini skuter warisan, kata ayahmu. Ia rencananya bakal memberikan ini padamu begitu usiamu tujuh belas. Dan itu minggu depan. Aku meminjamnya karena ingin membawamu jalan-jalan. Tapi ini sudah terlalu malam.”

Mata Mino membundar. Bagaimana bisa ia lupa hari ulang tahunnya? Tunggu sebentar, tapi bukan itu saja yang ia lupakan. Ada lagi.

“Val, hari ini tanggal berapa?”

“23 Maret. Kenapa memangnya? Kau melupakan sesuatu ya?”

Mino mengangguk. “Aku lupa tapi sepertinya aku harus melakukan sesuatu hari ini.”

“Memberiku selamat mungkin?”

“Se-selamat?”

“Kau benar-benar lupa ya? Tadi siang aku baru saja dapat medali emas dalam spelling contest.”

“VAAAAAAAL SELAMAT YAAAAAAAAA KOK AKU BISA LUPAAAAA!!!” Mino nyaris membalikkan meja di hadapan mereka saat melempar dirinya memeluk Val. Ia agak lupa diri sebentar, sembarangan saja memeluk anak gadis. Sementara Val sedang berusaha agar dada mereka tak bersentuhan. Duh, pubertas memang mengubah segalanya ya?

“DUH KAU JANGAN MARAH GITU, AKU BENAR-BENAR LUPA SOAL ITU HUUUU AKU HARUS GIMANA INI?”

Val mengangkat bahunya. “Aku serius tidak marah. Aku cuma sedih sih, kau abaikan.”

“HEH KAMU KEMANAKAN VALKYRIE?” Mino mengguncangkan badan Val. “Valkyrie kan tidak pernah merasa sedih karena aku abaikan.”

“Justru sebaliknya. Katakanlah aku terlalu posesif atau bagaimana, tapi setiap kau pergi jalan dengan Jiho atau Jihoon, aku… entah kenapa merasa kalau kau semakin menjauh.”

Remaja lelaki itu menurunkan tangannya yang mencengram erat lengan Val. “Aku tidak suka ini.”

“Kau bilang kita harus bertumbuh dewasa ‘kan? Song Mino aku rasa ini adalah bagian dari bertumbuh dewasa. Aku sebenarnya tidak suka kau bergaul dengan Jiho. Jihoon masih oke denganku, tapi Jiho tidak terlihat seperti anak baik-baik. Tapi kau tampak bahagia bersama mereka dan aku merasa ketinggalan jauh dari dirimu.”

“Val aku semakin tidak mengerti arah pembicaraanmu.”

“Ya sudah ayo pulang saja.”

Mino terdiam. Ia masih mengakar di tempatnya.

“Oh iya, hadiah uang yang aku terima tadi, aku belikan baju baru dan sepatu baru buat Jungkook. Maaf ya aku tidak beli sesuatu yang mahal untukmu. Aku hanya beli ini.” Val menyerahkan sebuah kado tebal bersampul putih. Cengirannya pecah menghiasi wajah. “Semoga ini berguna untukmu karena aku lihat kau semakin sering mencatat sesuatu.”

Kali ini Mino memeluk Val dan gadis itu tidak menolaknya. “Kau masih ingat padaku bahkan saat aku tidak ingat padamu…”

“Kau kan kawanku, Mino. Omong-omong bagaimana kemampuanku membawa skuter? Asyik ya, mengebut seperti itu! Kayak terbang!”

“Yah, kau pikir hanya segitu keren? Aku bisa bawa lebih kencang lagi!”

“Dan merusaknya? Hell no!

Val bukan menyebutnya hadiah perpisahan. Tapi beberapa bulan kemudian Mino baru sadar bahwa gadis itu memang menjauhinya karena alasan yang sampai sekarang Mino tidak pernah mengerti.

I wanna fly with you (in my car)

“Hai gadis manis, mau ikut Paman tidak?”

Val melemparkan tatapan membunuhnya dari trotoar. Di tangannya tergenggam semprotan merica dan ia sudah mempersiapkan diri bakal melempar tinju jika ada lagi yang mengganggunya. Sejauh ini ia berhasil menghindari mereka-mereka yang mabuk dan sebentar lagi ia bakal sampai ke rumahnya. Jadi sekali lagi ada yang mengganggu, Val yakin seratus persen ia akan mematahkan hidung lelaki itu.

Tapi Val tidak pernah tega mematahkan hidung Mino. Mobil yang menepi itu menampakkan pengemudinya, lelaki yang lebih tua dua tahun darinya, berkulit gelap dengan senyum secerah mentari.

“Mau aku antar pulang?” tawarnya lagi, kali ini tidak dengan bercanda.

Val menarik napas lega. Ia segera membuka pintu penumpang depan dan mendaratkan pantatnya di kursi. “Thanks ya.”

“Kau bisa minta tolong padaku kapan pun kau butuh.”

Sudah lama sekali mereka tidak duduk berdua seperti ini. “Val, aku tidak pernah tahu kau pacaran dengan Jiho hyung? Kau… pernah bilang kau tidak suka dengan dia kan?”

“Dia satu-satunya pria yang memintaku menjadi pacarnya dalam 23 tahun hidupku, mengapa aku harus bilang tidak?”

“Kau se-jomblo itu?”

“Dasar berengsek.” Val menggumamkan kalimat itu sambil menempelkan wajahnya di kaca samping. Meniupkan embun lalu menghapusnya. “Aku bukan kau yang disukai semua orang, Mino.”

“Tapi hari ini kau memutuskannya?”

“Kau mau aku cerita? Jiho memang tidak pernah cerita soal ini? Panjang lho, bisa-bisa sampai ke Busan kalau aku turuti keinginanmu.”

“Kalau itu membuatmu lebih baik, tidak apa-apa. Lagipula aku juga butuh penyegaran otak sedikit.”

“Oh, ya rapper boygrup terkenal butuh penyegaran juga ya, aku kadang lupa kalau kau itu manusia. Aku pikir kau dewa?”

“Sialan. Lama tidak bertemu mulutmu makin pandai mencerca.”

Keduanya menyembunyikan tawa.

“Jadi…” tanya Mino menggantungkan kalimatnya.

“Yah, pokoknya waktu itu aku menerima ajakannya berpacaran karena hanya ingin tahu bagaimana rasanya. Tapi Jiho memang berengsek dan sialnya aku terbiasa dengan keberadaannya dan aku rasa aku menyukainya. Setelah itu aku tahu bahwa ia menjalin hubungan dengan perempuan lain. Lalu, yah kau tahu, tadi aku minta putus…”

“Jiho hyung tampak senang waktu ia bersama denganmu.”

“Aku ragu soal itu.”

“Kau… patah hati?”

Val menggigit bibir bawahnya. “Well, siapa yang tidak?”

Sesudah itu sepi.

“Kau tahu Val, aku senang kita bisa bicara sebebas ini. Aku rasa aku merindukanmu.”

“Aku tidak mengerti, hal apa yang membuatmu merindukanku? Aku pikir kau senang waktu aku meninggalkanmu dan mulai mencari kawan lain? Maksudku memang agak kekanakan, tapi selain aku tidak suka dengan kawan-kawanmu dan suasana underground, kau kan jadi lebih bebas karena tidak ada aku yang mengganggumu? Kau harusnya tidak merindukanku.”

“Tapi nyatanya aku rindu.”

Val memutuskan untuk diam. Ia sebenarnya senang. Ia tak pernah punya kawan yang lebih dekat dari hubungannya dengan Mino. Lelaki atau perempuan, semua rasanya pernah ia kecewakan dan sakiti dan mulai menjauh darinya. Mungkin memang Val yang terlalu berengsek.

Mereka tidak berakhir di Busan, tapi di salah satu pantai sekitar dua jam jauhnya dari kota Seoul. Angin malam bertiup dahsyat. Mino membuka jendela dan atap (ya atap, sialan memang penghasilan idol ini) mobilnya hingga rambut panjang Val bertebaran kemana-mana. Angin laut malam yang dingin memedihkan mata Val. Ia menutup matanya dan bernapas pelan-pelan. Kepalanya terasa berat, dan ia mulai mengantuk.

Val terlonjak kaget ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipinya dan sebuah benda yang menyelimutinya jatuh ke pangkuannya. Ia mengedip, mencoba menghalau sisa-sisa kantuk dari matanya dan menangkap bayangan wajah Mino yang sedang terkikik geli. Dan sekaleng bir yang berembun di telapak tangan besar milik Mino.

Merasa kesal karena acara tidurnya terganggu, Val segera mengambil kaleng minuman dingin itu dan berdiri di jok lalu mencoba menempelkannya ke wajah Mino, menyebabkan korbannya tertawa makin keras sambil menghalau lengan perempuan itu. Val semakin menjulurkan tubuhnya hingga ia hampir kehilangan keseimbangan dan jatuh di pasir. Tapi lengan besar Mino menahannya agar tak jatuh. Begitu Val mendapatkan lagi keseimbangannya, ia segera melompati pintu dan berlari menerjang pria itu, membalasnya dengan menempelkan kaleng bir itu pada perut Mino. Sementara korbannya menjeritkan kata-kata tak bermakna yang tertelan dalam tawa menggelegar karena kegelian.

“Oke aku kalah…” Mino mengatakannya dengan suara serak karena terlalu banyak tertawa dan berteriak. “Dan omong-omong kau baru saja meloncat keluar dari mobilku?”

“Mobilmu mobil atap terbuka, siapa yang peduli ada pintu kalau memang kau bisa keluar bebas dengan meloncat seperti itu?” Val membanting bokongnya ke pasir, melupakan higiene dan menghela udara laut yang asin. Mino menyusulnya.

Mino menepuk belakang kepala Val terlalu semangat hingga perempuan itu hampir terjerembab ke pasir. “Oops sorry.”

Tapi Val tidak bereaksi. Ia membiarkan saja telapak tangan Mino mendarat di belakang kepalanya, membuat rambutnya yang kering dan berantakan menjadi semakin berantakan. Berat memang, tapi kehangatan yang meradiasi dari sana benar-benar nyaman.

“Gimana?”

“Gimana apanya?”

“Pekerjaanmu. Asyik di YG?”

“Asyik! Mau kukenalkan dengan kawan-kawanku? Siapa tahu kau bisa cocok? Ada yang mirip dengan Jiho hyung lho, namanya Kang Seungyoon ini fotonya.”

Mino merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto selfie dengan seorang yang wajahnya familiar.

Val terkekeh kecil melihat Mino tampaknya bersemangat sekali bercerita soal kawan-kawannya. Ia memperhatikan bagaimana mata Mino menyipit saat ia tertawa, gestur-gestur tangannya yang masih sama berlebihannya dengan yang dulu, suaranya yang berat, cara ia meniru kawan-kawannya dan bosnya.

“Kau bahagia.”

Mino berhenti bercerita. Ia menoleh pada peremuan di sebelahnya yang kini berbaring di pasir sambil menutup mata.

“Itu pertanyaan atau pernyataan?” tanya Mino.

“Pernyataan. Untuk membuatku yakin bahwa adalah keputusan benar untuk menjauh darimu dulu.”

“Kau menyesal.”

“Yeah, kadang aku merindukanmu tapi melihatmu sekarang, bahagia, sukses, punya banyak koneksi, melakukan apa yang kau sukai. Kau bahagia, dan aku rasa aku turut bahagia.”

Pria itu tidak menjawab apa-apa, tapi ikut menirukan Val, berbaring di pasir sambil menghadap ke wajah Val. “Selalu seperti ini.” Desahnya pada diri sendiri.

“Seperti apa?”

“Kau adalah tipe yang jika mabuk mulai menangis dan mengevaluasi seluruh pilihan hidupmu, dan mulai menjadi seorang filsuf. Aku rasa kau akan mulai menceramahiku dengan materi kuliah untuk gelar doktor, Val. Kau ingat waktu kita SMP dan kita iseng meminum wine ayahku dan kau mulai menangis sambil mengaku kalau kau yang merusak mobil-mobilanku waktu itu?”

“Apa?”

Mino menghela napas panjang,“ Kurasa kau tidak ingat itu. Kau cuma patah hati, dan kau kayaknya naksir padaku waktu SMA dan sampai sekarang masih naksir.”

Mata Val terbuka dan membulat secara komikal. “APA?”

“Yah… aku baru tahu tadi sih, tapi kau lucu. Harusnya aku memberimu bir lebih banyak.” Mino menggesturkan pada kaleng-kaleng bir yang bertebaran di sekeliling Val. Satu kaleng milik Mino bahkan belum habis sejak tadi.

“Bukannya aku komplain sih, tapi serius. Aku rindu kamu. Hidupku jadi kurang seru, kurang kamu. ” Lanjut Mino lagi.

“SONG MINHOOOOO!” Val menubruk Mino untuk memeluknya dan Mino sama sekali tidak keberatan akan segala air mata dan ingus yang mengotori bajunya.

“Sudah, sudah jangan nangis lagi.” Mino membuat wajah Val menengadah menatapnya. Mino menatap Val lembut lalu mencium keningnya. “Apa yang sudah terjadi, dilupakan saja. Oke?”

Mino membantu Val berdiri dan membereskan sampah kaleng, membuang sisa miliknya yang nyaris tak tersentuh. Setelah itu mereka berjalan menuju mobil, dengan Val yang setengah terhuyung-huyung. Mino tertawa kecil melihatnya.

Ia membukakan pintu mobil bagi perempuan itu. Val masih menatapnya dengan tatapan setengah kosong yang mabuk, matanya memerah, rambutnya berantakan dan berpasir. Valkyrie yang seperti ini jarang sekali terlihat. Tapi Val terlihat lucu dan butuh perhatian dan-

Mulanya Val tidak merespon. Tapi bibirnya mulai bergerak ketika Mino akan mundur dan kembali ke tempat duduknya dan ajaibnya tangannya sudah tersangkut di rambut Val dan Mino baru sadar ketika ia mendesah diantara kecupan itu. Terasa seperti baru saja diluncurkan lewat meriam manusia. Panas, dan meletup-letup, dan ringan melayang.

Val yang menarik diri, wajahnya memerah dan bibirnya memerah dan ia mengatakan satu-satunya kalimat yang masuk akal untuk menghentikan mereka. “Dispatch akan menangkap kita.”

“Well, aku akan bilang kalau kau adalah Danah.”

“Kau dan Danah tidak berciuman seperti itu kecuali kalian berencana inses.”

Untuk kesekian kalinya Mino tertawa. Ia melirik jam di tangannya. Sudah lewat tengah malam. Ia memutuskan untuk mengemudi, mengembalikan perempuan ini ke rumahnya. Baru saja keluar dari area pantai, Val sudah tertidur sambil menyelimuti diri dengan jaketnya yang tadi ia selimutkan pada Val.

Mino tidak mematikan mesin mobilnya, membiarkannya menderum halus sambil ia mengguncang bahu perempuan itu yang tertidur sambil memproduksi air liur. Ia juga sama sekali tidak keberatan akan hal itu. Val terlihat menggemaskan dan damai dalam tidurnya.

“Huuh, sudah sampai ya? Trims sudah mengantarku pulang.”

Tepat sebelum Val membuka pintu mobilnya, Mino kaget sendiri akan suaranya. “Val?”

“Ya?”

“Uhm soal ciuman tadi…”

“Uh, ciuman apa?”

“Eh?”

Val mengedipkan matanya penasaran dan Mino terdiam di tempat. “Hmm pokoknya tadi menyenangkan.”

“Apa begini caramu mengajakku berkencan?”

“Ehhhh?”

Val tersenyum, matanya menyipit dan geliginya menampakkan diri.

“Aku akan mengirim pesan kapan aku ada waktu bebas. Selamat malam.”

Val membanting pintu di wajah Mino dan terburu-buru lari masuk ke bangunan itu. Sebelumnya ia sempat meninggalkan tanda di bibir Mino, membiarkan pria itu memerah di dalam mobil.

Dan sekali lagi, Mino merasa bahwa ia terbang.

I wanna fly with you (from the airplane)

“AKU NGGAK PERCAYA KITA BERLIBUR BERSAMA TERLEBIH LAGI MELAKUKAN HAL GILA INI.”

Angin meniup kalimat itu kepada telinga yang tuli, sementara pencetus ide bodoh ini tertawa. Val nampaknya bahagia jika Mino sekarat ketakutan.

“Oh, ayolah, ini akan terlihat keren.” Val memastikan perlengkapannya bisa digunakan. Ia kembali bertanya soal tali mana yang harus ia tarik saat mengudara nanti.

Sementara Mino menatap ke daratan dengan ngeri. Ia bukan penggemar olahraga ekstrim macam ini, tapi demi seorang yang sedang tersenyum lebar di sana, bolehlah. Ingatannya melayang kepada masa lampau, ketika sumber dari segala perkara bodoh yang mereka lakukan berdua memang merupakan ide gadis itu. Yang selalu beruntung dan menyisakan perkara bagi Mino.

“Mino! Dengarkan pengarahannya!”

Ia mengeratkan pegangan pada pinggir pintu. Matanya mencari sumber suara itu. Val merangkulnya dari samping sambil menunjuk pada instruktur yang sekali lagi mengingatkan mereka untuk tidak lupa menarik tali parasut pada aba-aba. Val mendengarkan dengan intens dan Mino merasa gemas melihatnya.

Instruktur itu kini mengisyaratkan mereka untuk meloncat sambil berpegangan tangan.

Mereka meloncat dan jantung Mino terasa berhenti ketika ia sadar bahwa hidupnya bergantung pada keberuntungan dan serat plastik di punggungnya. Angin begitu keras meniupnya, ia hampir melawan gaya besar yang meniupnya itu. Dan tiba-tiba ia sadar bahwa ia sekian ratus meter di atas daratan, dan ia melayang! Tanpa pijakan, ia merasa bebas, lepas, dan sedikit takut.

Tapi yang menghabiskan napasnya adalah saat Val muncul di ruang penglihatannya dan menempelkan bibirnya pada bibir Mino. Rasanya seperti sihir. Campuran endorpin dan adrenalin membuatnya tertawa lepas, merengkuh gadis itu dan bertukar pandangan bahagia.

Ketika mereka sudah sampai di darat, Mino berbisik pelan pada Val. “Ini menyenangkan, tapi bersamamu sudah lebih dari cukup untuk membuatku terbang.”

“Dasar gombal.”

But she liked it anyway.

Kay’s corner: HAAAAI HAHAHAHAHAHAHA AKU KEMBALI

Ini agak sedikit beda dari minoval biasa soalnya ini versi yang dulu udah temenan terus menjauh terus ternyata jadian hahahaahahaahahaha. Kbye.

 

 

 

 

4 thoughts on “Ride and Fly”

  1. Likeeeeeeeee it like I like it!!! kalo udah jodoh mau jauh juga endingnya digombalin juga Val :” biar jalannya beda juga kalo tujuannya sama ketemu kan. Aduh apa sih, intinya aku suka banget dr semua narasinya. Kece.

    Suka

  2. HUBBY!! AAAAAKKKK INI PAIR FAVORITNYA MBA SERA!!! CIUM DULU SINI!! ❤
    Jadi ceritanya waktu di line hubby bilang mau post minoval, aku udah cek2 wp lewat app haha tapi karena belom publish jadi belom berani buka hehe.
    Aku suka banget chemistry nya MinoVal yang ini lebih deket kayak udah tau busuk2nya gitu kan hahaha jadi masing2 udah kayak paham apa yang ada dipikiran masing2 gituu ahh!! Ini lucu banget!!
    Kalo soal tulis menulis sih hubby udah flawless haha jadi nggak ada komentar buat itu 😂
    Terus banyakin lagi yaaa hubby!!

    Thankies hubby!!! ❤❤❤
    All.want.candy

    Suka

    1. AAAAAAKKKK HONEY!

      wakakakka hayo mau ngitipin yaaaa?
      tahu busuk-busuknya hahahahahhahahah iya sih jadi bisa nyambung, terus nanti kalo ada yang macem-macem bangkit aja cerita goblok dulu waktu kecil wkwkwkwkwkwkw

      ih apa sih aku mah gak flawless aku mah butuh mino /gak/

      makasih ya hon udah baca dan komen!

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s