[Vignette] Solace

solace

Solace

presented by thelittlerin

.

SPEED Choi Sungmin, OC Yook Nana

Friendship, slight!Fluff, Hurt/Comfort

PG-15 | Vignette (1700+ words)

.

(n) Solace

comfort or consolation in a time of distress or sadness

 

“Yook Nana!”

Sungmin mengernyit. Jelas sekali kalau gadis berambut panjang yang baru saja melintas itu adalah Yook Nana, tetapi mengapa dia sama sekali tak merespon panggilannya? Apa gadis itu tak ingin mengakuinya sebagai teman?

Penasaran, lelaki itu lantas melangkah maju, mengikuti jejak langkah seorang Yook Nana. Terlihat sedikit kurang kerjaan mungkin, namun tak ada salahnya mencoba ‘kan? Toh arah yang dituju Nana sama sekali tidak berlawanan dengan tempat yang akan dituju oleh Sungmin.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah dan terus menghitung.

Semakin lama Sungmin semakin merasa ada yang tidak beres dengan keadaan Nana. Seperti ada yang hilang dari aura gadis sebayanya itu. Apakah sesuatu baru saja terjadi?

Sungmin mengecek handphone birunya. Kosong, tak ada pesan baru ataupun panggilan tak terjawab. Obrolan di group chat teman-temannya pun tidak mengindikasikan ada hal besar yang tengah terjadi. Bahkan pesan terakhir di sana dikirim pada pukul satu siang—dan waktu sekarang sudah menunjukkan pukul setengah tiga, satu setengah jam sesudahnya.

Berarti penyebabnya bukan seorang Yook Sungjae.

“Nana-ya?” Masih tak ada jawaban. Sungmin makin curiga ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.

Tangannya baru saja akan terjulur ke depan, hendak menyentuh pundak Nana, ketika orang-orang sibuk mempercepat langkah. Kepala Sungmin lantas menengadah, memandang awan mendung yang tiba-tiba menguasai langit sore itu. Sepertinya hujan akan turun sebentar lagi.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Sungmin menarik lengan Nana dan membuatnya berbalik.

“Nana-ya, kamu ke—“’ Pertanyaannya terhenti begitu melihat kedua mata Nana yang sembab. Gadis itu habis menangis.

Oh, Sungmin-ah.”

Segala pertanyaan di benak Sungmin tadi kini digantikan oleh pertanyaan mengenai siapa yang telah menyebabkan teman perempuannya menjadi seperti ini. Mungkinkah kekasihnya?

“Kamu kenapa?”

Nana menggigit bibir bagian bawahnya pelan, berkontemplasi apakah seharusnya ia memberitahukan Sungmin atau tidak. Toh lelaki itu sudah melihat keadaannya yang seperti ini. Namun, egonya sendiri menahan gadis itu untuk berbicara lebih lanjut.

“Aku—“

“Sial.” Umpatan pelan itu dikeluarkan oleh Sungmin begitu rintik hujan mulai turun, membasahi bumi beserta seluruh isinya. Lelaki itu dengan cepat melepas jaket denim yang dipakainya dan memasangkannya menutupi kepala Nana—supaya gadis itu tidak basah terkena hujan. Kemudian, tanpa menanyakan ataupun menunggu reaksi dari gadis itu, Sungmin dengan cepat menarik Nana masuk ke dalam cafe tak jauh dari tempat mereka semula—sebelum hujan gerimis berubah menjadi hujan deras.

Semua kejadian yang terjadi dalam beberapa detik ini tak ayal membuat Nana memikirkan kembali keputusannya semula.

Haruskah ia membeberkan semuanya pada Choi Sungmin?

.

.

“Tidak usah, kamu lebih membutuhkannya.”

Itu yang dikatakan Sungmin pada Nana, ketika gadis itu mengangsurkan jaket denim miliknya, merujuk pada pakaian yang dikenakan gadis itu di cuaca dingin seperti ini—setelah keduanya memesan kopi hangat untuk diri masing-masing dan memilih tempat di sudut ruangan.

Nana tak menjawab, lebih memilih menggenggam gelas kopi di hadapannya dan merasakan kehangatan menjalar melalui kedua telapak tangannya.

Hey, ada apa dengan Yook Nana yang kukenal?”

Sungmin bersidekap, menatap Nana dengan tatapan bertanya. Bukan, bukan jenis tatapan yang akan dilayangkan oleh teman-teman mereka ketika sedang ingin tahu sesuatu. Hanya sebuah tatapan bertanya yang menunjukkan kalau lelaki itu sedang khawatir dengan keadaan Nana sekarang.

“Tidak apa-apa.”

“Kalau kamu menjawab seperti itu, berarti memang ada sesuatu yang terjadi.”

Yook Nana terdiam. Sedikit menyesali kepribadiannya yang memungkinkan lelaki di hadapannya sekarang mengetahui sesuatu yang berbeda.

“Mau cerita?” tanya Sungmin lagi—walaupun Sungmin hampir seratus persen yakin jika Nana tidak akan semudah itu bercerita.”Apa perlu kutelepon Sungjae?”

“Jangan!” Nana langsung berteriak begitu nama saudara kembarnya disebut-sebut. Semua akan makin runyam kalau adik kembarnya itu tahu—bagaimanapun Sungjae sudah pernah menyaksikan bagaimana seorang Nana jatuh ke dalam lubang gelap.

“Jadi, kamu mau bercerita apa hanya duduk diam di sini sampai kopimu habis?”

Pilihan pertama jelas berat. Namun, membayangkan duduk berhadapan dengan Sungmin di cafe ini sampai kopi miliknya habis, jelas membawa aura canggung bagi Nana—mereka tidak bisa mengobrol tentang hal lain saat ini, Nana sedang tidak berselera.

“Nana-ya, kurasa sedikit banyak aku bisa tahu.”

Nana mendongak. Kali ini gilirannya menatap Sungmin dengan tatapan bertanya.

“Rin kurang lebih juga sama sepertimu.”

Dan Nana langsung mengerti apa yang dimaksud oleh lelaki di hadapannya.

“Kalau sudah tahu, jangan bertanya lagi,” balas Nana. Nada suaranya terdengar ketus, walaupun sebenarnya dia tak bermaksud demikian. Hanya supaya Sungmin berhenti bertanya sehingga dia tak perlu menjawab—bahkan sekedar berpikir untuk menjawab pun Nana tak ingin.

Nah, itu baru Yook Nana yang kukenal,” kata Sungmin.”Kamu tidak cocok bersikap lemah seperti itu. Senyum dong.”

Nana mendecak kesal. Tahu apa memangnya Sungmin tentang sakit yang dia rasakan?

“Diam kamu,” balas Nana cepat. Kali ini nada suaranya benar-benar terdengar ketus.”Memangnya kamu tahu apa?”

“Aku juga pernah seperti itu, tahu.”

Sungmin kembali memandangi Nana dengan tatapan yang sama dengan sebelumnya. Tidak menuntut penjelasan apa pun dari gadis seumurannya itu. Hanya ingin keadaan Nana membaik setelah mengobrol dengannya—tetapi lelaki itu juga tidak akan menolak mendengarkan jika Nana memutuskan untuk membeberkan semuanya.

“Hujannya berhenti,” gumam Nana tiba-tiba—entah untuk mengalihkan perhatian atau tidak. Sungmin ikut melihat pemandangan di balik jendela. Rintik hujan yang sempat turun beberapa saat lalu kini hilang hampir tak berbekas.

“Mau kuantar pulang?”

Yook Nana menatap Sungmin terkejut. Gampang sekali lelaki itu berkata demikian?

“Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.”

“Yakin? Bagaimana kalau—“

Nana dengan cepat memotong kalimat Sungmin sebelum lelaki itu mulai menunjukkan kekhawatiran yang tidak berlasan,”aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku janji.”

Sungmin menatap Nana lama sebelum menghela napas.

“Hubungi aku kalau kamu sudah sampai di rumah.”

.

.

Park Minha : Kalian sudah tahu?

Namjoo : Apa?

Kim Seolhyun : Ada apa?

Park Minha : Sungmin sudah putus dengan pacarnya

Yook Nana mengernyitkan dahinya, sedikit terkejut dengan topik pembicaraan di group chat miliknya. Terlebih ketika dirinya baru saja bertemu dengan Sungmin beberapa jam yang lalu dan lelaki itu tak menunjukkan tanda-tanda kalau dia juga bernasib sama sepertinya.

Yook Nana : Apa?!

Rin Choi : ……………

Namjoo : Kamu tahu sesuatu, Rin?

Rin Choi : Siapa  yang memberitahumu?

Park Minha : Jimin. Dari Taehyung

Kim Seolhyun : Taehyung?

Kim Seolhyun : Dia membuka aib adiknya sendiri?

Yook Nana : Siapa yang memutuskan?

Rin Choi : Kim Taehyung sialan

Namjoo : Pertanyaan bagus, Yook Nana

Namjoo : Ini ‘kan aib Sungmin juga

Park Minha : Kata Jimin, Sungmin yang diputuskan

Jemari Nana berhenti bergerak. Tak jadi mengetik pesan balasan ketika melihat jawaban yang diberikan oleh Minha.

“Aku juga pernah seperti itu, tahu.”

Perkataan Sungmin beberapa saat lalu terngiang di pikiran Nana. Dan sekarang Nana tahu kenapa lelaki itu berkata demikian, ternyata lelaki itu baru saja mengalami yang namanya putus cinta—awalnya Nana mengira Sungmin merujuk pada pengalamannya bertahun-tahun lalu.

Tapi sayangnya, dalam kasus Nana, dialah yang memutuskan hubungan.

Yook Nana : Dia diputuskan oleh anak SMA?

Namjoo : Aku boleh tertawa?

Rin Choi : Silahkan tertawa

Rin Choi : Tapi tolong beritahu Sungmin kalau Taehyung yang membocorkannya

Rin Choi : Bukan aku

Park Minha : Kamu sudah tahu, Rin-ah?

Kim Seolhyun : Kamu sudah tahu ‘kan

Namjoo : Tentu saja

Namjoo : Mana mungkin dia tidak tahu

Yook Nana : Eh, tunggu sebentar

Kim Seolhyun : Kenapa, Nana-ya?

Yook Nana : Berarti, Choi bersaudara sama-sama diputuskan ya

Namjoo : ……………

Namjoo : Benar juga

Park Minha : Aku tertawa……..

Rin Choi : YOOK NANA ㅡ,ㅡ

Dan selanjutnya ruang obrolan grup itu menjadi penuh oleh huruf-huruf kapital yang tidak beraturan. Nana buru-buru keluar sebelum membaca kalimat-kalimat penuh kekesalan yang ditujukan untuk dirinya.

Namun, tindakannya itu membuat Nana kembali memikirkan pertemuannya dengan Sungmin tadi. Kenapa dia bisa tidak menampilkan emosi apapun? Padahal, jika menelisik obrolan teman-temannya tadi, Nana merasa kejadian yang menimpa Sungmin belum lama berlalu.

Bagaimana bisa?

Gadis itu lantas mencari nama Sungmin di daftar kontaknya—sembari berharap dia masih memiliki nomor lelaki itu di handphone-nya. Sempat berkontemplasi sejenak sebelum akhirnya menekan tulisan panggil yang tertera di layar.

Nada sambung terdengar lima kali dan Nana memutuskan panggilan.

Mungkin saja lelaki itu sudah tertidur.

Baru saja Nana hendak beranjak dari tempat tidur, layar handphone-nya menyala. Nomor telepon Sungmin terpampang di sana, menunggu Nana untuk menjawab panggilannya—yang dilakukan Nana setelah handphone-nya berdering selama tiga kali.

Hey, ada apa?”

Haruskan Nana berbasa-basi atau langsung masuk ke dalam inti pembicaraan yang diinginkannya?

“Aku sudah tahu.”

Sungmin terdiam. Mungkin sedang memikirkan apa yang diketahui oleh seorang Yook Nana.

“Kamu sama sepertiku, ‘kan?”

Ah….yang itu? Dari mana kamu tahu?”

“Anggap saja ada temanmu yang berkhianat.”

Berarti bukan Rin.”

“Kenapa tidak cerita padaku tadi?”

“Untuk apa? Jelas-jelas kamu yang lebih membutuhkan simpati. Aku baik-baik saja, sungguh.”

Kalau saja Choi Sungmin ada di hadapannya, sudah pasti Nana akan menghadiahkan sebuah pukulan untuknya—entah di mana saja, Nana tak peduli.

Keduanya lantas terdiam, menunggu satu sama lain untuk berbicara terlebih dahulu. Masih banyak yang ingin diutarakan, tapi mereka sama-sama tak tahu bagaimana memulainya.

“Sungmin-ah.”

“Ya?”

“Apa semua laki-laki memang seperti itu?”

“Hah? Pertanyaan macam apa itu?”

“Kamu ‘kan habis diputuskan, tapi masih bisa tersenyum dan bahkan menghiburku. Apa semua laki-laki seperti itu apa hanya dirimu saja?”

“Aku tak tahu apa yang sedang kamu pikirkan, Yook Nana. Tapi dengar, aku juga sakit hati, sama sepertimu. Tapi aku menghargai keputusannya dan memutuskan untuk melanjutkan hidup, toh kalau memang berjodoh, aku akan bertemu dengannya lagi.”

Jawaban panjang kali lebar dari Sungmin tak urung membuat pikiran Nana melayang. Apakah Hakyeon memiliki jalan pikiran yang sama dengan Sungmin? Ataukah lelaki itu memilih jalan yang berbeda dan melanjutkan hidup dalam kesedihan—sama seperti yang sedang dilakukan Nana?

“Ya, Yook Nana.”

Nana tersadar dari lamunannya dan lekas menjawab,”Ya?”

“Kamu yang diputuskan atau malah kamu yang memutuskan?”

“Tebak saja sendiri,” jawab Nana setelah sedikit berpikir.”Aku mau tidur.”

“Seorang Yook Nana tidur di waktu seperti ini?”

Tidur pada pukul sepuluh malam tampaknya memang tidak cocok bagi seorang Yook Nana.

“Apa salahnya? Aku butuh tidur nyenyak yang panjang malam ini, Choi Sungmin,” elak Nana cepat. Tak ingin niatnya untuk menghindar dari prasangka Sungmin terbaca oleh lelaki itu.

“Baiklah, Nona Yook. Baiklaah.”

“Cepat tutup teleponnya kalau begitu.”

“Baiklah, Yang Mulia. Selamat malam.”

“Malam juga.”

Sambungan telepon dimatikan dan Nana melihat waktu yang tertera di layar teleponnya.

Sepuluh menit lebih beberapa detik. Gadis itu tak percaya dirinya bisa mengobrol selama itu dengan seorang lelaki bernama Choi Sungmin.

Yook Nana menghela napas dan beranjak dari tempatnya. Hendak mencuci wajah dan memilih untuk bersiap tidur Sepertinya dia memang membutuhkan tidur nyenyak setelah apa yang terjadi seharian ini.

Namun, belum sempat ia meraih kenop pintu kamarnya, suara teriakan nyaring milik Sungjae terdengar.

“Yook Nana! Jaket siapa ini?!!”

Sial.

Nana lupa mengembalikan jaket milik Sungmin.

 

fin.

A/N:

YAP! I’m back again ^^ semoga pada nggak bosen sama saya yang muncul di beranda IFK dalam tiga hari belakangan ini :”

Btw, fic ini didasari cerita Yook Nana yang kemarin habis putus sama Hakyeon dan Sungmin yang (ceritanya) juga habis putus sama pacarnya. Kemudian, setelah berhasil merecoki Dea dengan Sungmin (yeah, let the world knows about this boy handsomeness and talent) akhirnya berhasil mendapatkan persetujuan(?) buat mendekatkan Nana dengan Sungmin ^^

special thank to  juga buat partner-in-crime saya, Amer aka tsukiyamarisa aka Park Minha. Ini nih hasil akhirnya~~

so, mind to review then?

5 thoughts on “[Vignette] Solace”

  1. Wiwi!! HAAAAIIII SAYA DATANG BAWA PARCEL MAS JONGUP!!
    Ini akhirnya setelah tak lagi gelindingan(lebih tepatnya berhasil mengendalikan gelindingannya) bisa nulis komen juga wihiii

    Awalnya baper gitu kan kok Sungmin tumben2an mau ngikutin Nana, wakakak terus lebih baper lagi pas Sungmin ngasih jaketnya ke Nana…. ASTAGA MAS KAMU GENTELMEN BANGET SIAPA YANG NGAJARIN?! IH KASIH KACANG NIH /apa hubungannya/ /gelinding part1/
    Terus pas consoling Nana pake pengalaman pribadinya…… entah kenapa….. /gelindingan part2/
    CHOI SUNGMIN SIAPA YANG NGAJARIN BIKIN ANAK ORANG GELINDINGAN /uyek2 rin/
    Wi itu di grup chat mengapa…… sungguh sangat dinistakan dirimu….
    “Berarti choi bersaudara sama2 diputuskan ya?”
    HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA ON POINT BANGET!!!
    terus pas Nana ama sungmin teleponan entah kenapa yang ada dalam pikiranku…pulsanya sungmin banyak juga….. bisa minta kirim lah kalo nana butuh pulsa /salah/
    lalu ITU NGAPAIN MANGGIL YANG MULIA?! /gelindingan part3/

    Yah intinya selama baca ini bikin aku gelindingan beneran… sampe mama ngeliatin…. /serius/
    Makasiiih wiwi atas FF nyaaa maksih juga buat minha yang menjerumuskan nana hahahaha
    I LOVE 95Himes yogya Line!!!

    thankies
    All.want.candy

    Suka

    1. apakah nana sekarang udah sehat? ‘-‘

      kalo mau ngasih kacang, ke taetae aja ya…..kan yg monyet dia, bukan sungmin /dikeplak/ wah kamu gak tau aja, sungmin kan ……….. (isi sendiri)
      betewe itu aku sendiri lho yg kepikiran isi chat-nya ‘-‘ ……..jadi aku menistakan diriku sendiri :”)
      OH TIDAK BISA yang bisa malakin pulsanya sungmin hanyalah choi rin karena rin fakir pulsa /serius

      ya udah, sungmin dikenalin ke mama aja de /eh sekalian minta restu /apa

      makasih ya deaaa ^^

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s