H O M E

home

scripwriter : chioneexo | main cast(s) : Sehun [EXO] , Blue [Whale] | duration : 1341w | genre : life, sad, fantasy | rating  : PG-15

we are not supposed to be here.

Bocah lelaki itu mengapung-apung di antara ruang hampa, membiarkan berat tubuhnya hilang tanpa satu pun gaya gravitasi yang berniat menariknya. Bumi sedang berotasi seperti hari kemarin, menampilkan seribu satu permasalahan yang kadang selesai, kadang tak sampai usai dan terbawa mati. Manusia memang begitu, kadang senang berlebihan, kadang bertengkar sampai merasa bahwa seisi dunia memusuhinya.

 

Merasa bosan, Sehun pun menoleh pada Blue, bermaksud menghentikan tangisannya yang tak terdengar.

 

“Blue, mau kuantar kembali ke Pasifik?” Sehun pada akhirnya menyuarakan tawaran melalui sebuah bahasa isyarat.

 

“Bagaimana caranya? Kita sudah terlanjur di sini.”

 

Well, maaf ya, aku sendiri juga tak tahu bagaimana caranya kembali.”

 

“Tidak, Sehun. Yang ingin ikut kemari ‘kan aku sendiri.”

 

Blue bertubuh besar seolah-olah menguasai seluruh alam semesta, paus itu bagaikan raksasa di samping Sehun. Namun, dibandingkan dengan tubuhnya, mata Blue sungguh kecil, dan kedua mata itu beberapa meter jauhnya sampai Sehun tak bisa melihat kedua manik paus tersebut secara bersamaan. Sudah berhari-hari Blue tidak makan, dia menangis karena lapar dan merindukan plankton laut mati-matian.

 

“Siapa yang kau rindukan, Blue?”

 

“Entahlah, aku tidak punya siapa-siapa di laut. Tapi itu rumahku. Meski, yah, kau tahu, suaraku tak terdengar oleh paus lain, aku tetaplah bagian dari mereka.” Blue berusaha menggulingkan tubuhnya sedikit ke kanan, membuat Sehun dapat melihat cetakan benua Asia secara samar, sebab di beberapa bagiannya terhalang awan comulonimbus. Paus itu berusaha menghentikan air matanya yang turun dan menguap di ruang hampa, tapi itu tak pernah benar-benar berhasil.

 

“Kalau Sehun bagaimana? Siapa yang Sehun rindukan?”

 

“Sebenarnya, aku kemari karena aku sedang ingin sendiri. Aku ingin istirahat.”

 

“Maksudnya?”

 

“Begini, aku punya sebuah keluarga di Korea Selatan. Kau tahu titik itu?” Sehun menunjuk pada negara tempatnya tinggal, kemudian Blue—tanpa memberikan gerakan yang berarti—mengangguk.

 

“Lalu?”

 

“Aku tinggal dengan sebelas kakakku di sana. Pada suatu ketika, kami semua merasa sangat senang, seperti seluruh dunia ini bisa kami taklukan kalau kami bersama. Tapi, belakangan ini kehidupan kami tidak semulus dulu.” Sehun beringsut untuk mendekati mata Blue, berusaha menghapus rintik raksasa pada mata kiri paus tersebut.

 

“Sehun, bukankah roda itu berputar? Aku dulu juga bahagia saat tahu bahwa aku lahir dalam kawanan paus biru, mereka besar dan gagah, seolah-olah menguasai lautan. Tapi pada akhirnya, aku memang ditakdirkan Tuhan untuk sendiri. Awalnya, teman-temanku mengejekku, mereka bilang aku takkan pernah bisa kawin meski sudah beryanyi sekuat tenaga. Meski begitu, kehidupan ini harus tetap berjalan, bukan?” Blue mendekatkan moncongnya sedikit ke arah Bumi, menatap lautan Pasifik dengan hati bergemuruh.

 

“Sama denganku kalau begitu. Banyak orang yang mencemooh keluargaku saat kami mulai berpencar satu per satu. Kebetulan, aku anak terakhir, kau tahu lah, Si Bungsu yang tidak bisa apa-apa sepertiku ini biasanya hanya diam. Suatu ketika, kakak lelakiku yang paling tinggi pergi meninggalkan rumah, dia bilang dia masih mencintai kami semua—kesebelas adiknya—tapi tidak betah dengan perlakuan orang tua kami yang terlampau keras.”

 

“Sehun masih beruntung punya keluarga, coba Sehun jadi aku.”

 

“Hahaha, maaf, Blue. Aku tidak bermaksud pamer padamu.” Sehun menepuk bagian atas mata kiri Blue.

 

“Lantas, apa yang membuatmu sampai kabur ke luar angkasa begini?”

 

“Uhm, kami bersebelas waktu itu merasa sangat kehilangan. Kakakku yang satu itu bagaikan tonggak kehidupan kami, tanpa dia, kami akan lebih sering bertengkar. Dan, apa kau tahu? Hal itu memang terjadi. Kakakku yang lain, yang wajahnya mirip panda, pergi ketika luka akan kakakku yang jangkung itu belum usai. Aku tidak bisa bilang apa-apa, aku hanya bisa menangis di kamar ketika rinduku akan suara mereka tiba-tiba muncul.”

 

“Aku tidak pernah menemukan pertengkaran dalam keluargaku, karena sebenarnya, aku ditinggalkan oleh mereka setelah tahu bahwa frekuensi nyanyianku tak dapat didengar oleh paus lain. Mereka bilang aku aneh.” Blue kemudian memandang  ke arah titik yang dikenal Sehun sebagai Mars, mereka menatap titik itu lama seolah-olah berniat pergi ke sana.

 

“Eh, Sehun, apa ada lagi kakakmu yang pergi?”

 

“Ada! Parah, ya? Yang terakhir ini kakakku yang wajahnya paling cantik meski dia laki-laki, kalau yang sebelumnya mirip panda, yang ini mirip rusa. Kakak Rusa ini sangat perhatian, dia baik dan mentolerir kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan adik-adiknya. Dan, tersisa sembilan manusia tinggal dalam keluargaku. Orangtua kami tidak tinggal bersama kami, tapi mereka berkunjung hampir setiap hari untuk menggembleng kami menjadi anak-anak yang mereka harapkan.”

 

“Apa hal itu melelahkan, Sehun?”

 

“Untuk kami berdua belas, tidak terlalu. Tapi, untuk kami bersembilan, rasanya berat sekali. Pernah dengar bahwa sesuatu yang dilakukan banyak orang akan lebih cepat selesai dari yang dilakukan sedikit orang?”

 

“Iya, pernah. Aku juga merasakannya waktu di laut. Mencari sumber makanan lebih sulit kalau aku sendiri.”

 

“Begitulah keadaan kami, aku sampai tidak tidur gara-gara hal itu. Malahan, terkahir kali, kakakku yang suaranya paling berat dan yang punya banyak uang bertengkar! Mereka baku hantam sampai wajah keduanya lebam-lebam. Kakakku yang pintar menari pun sama saja, dia malah hendak menghancurkan rumah kami dengan membanting-banting barang. Hal itulah yang membuatku tidak betah dan memutuskan keluar dari Bumi.” Sehun merapatkan kepala ke arah Blue, bermaksud memeluknya namun terhalang helm astronotnya yang tebal.

 

“Kau tahu, Blue? Yang paling kurindukan adalah saat kami menangis dan pada akhirnya tertawa bersama. Meskipun, aku rasa hal itu akan jarang terjadi untuk sekarang ini. Orang tuaku bahkan tidak berdaya menahan ketiga kakakku untuk tidak pergi. Dan, kami bersembilan pun tidak menjamin bahwa jumlah itu akan tetap sampai nanti. Bisa jadi aku yang pergi berikutnya, bisa jadi kakak yang lain.”

 

“Sehun, mungkin kesendirian kita berbeda. Namun, aku mengerti perasaanmu. Ketidakmampuan kita melawan garis takdir kadang memang menjengkelkan, kau pasti ingin ketiga kakakmu kembali sama seperti aku ingin diterima lagi dalam kawananku. Tapi, apa Sehun tahu? Hal ini mungkin justru yang terbaik untuk kita. Tuhan sedang menguji seberapa kokoh keluarga Sehun itu, Tuhan pun menguji kesabaranku menjadi paus yang selalu sendiri. Dalam hidup, tidak bisa disebut hidup kalau tidak ada cobaan.”

 

“Tapi, Blue, ini terlalu berat.”

 

“Berat mana denganku? Sudah tubuhku berat, masalahku juga berat. Bukankah manusia lebih berakal dari paus? Kau pasti tahu dimana ketiga kakakmu itu.”

 

“Tentu saja aku tahu! Tapi mereka tidak mau pulang, seberapun aku bilang bahwa aku merindukan mereka, ketiganya tetap bersikeras tidak mau pulang.”

 

“Aneh sekali, aku saja ingin pulang.” Blue berputar ke arah benua Afrika, menatap gersangnya benua itu.

 

“Itu dia yang kupertanyakan. Tidakkah mereka ingin kami seperti dulu?”

 

“Hmm, mungkin tidak. Setiap orang punya pendapat yang berbeda dalam setiap masalah.”

 

Tapi—“

 

            “Jangan berkata ‘tapi’ lagi, coba terima kenyataan. Hal itu akan lebih mudah, Sehun. Percayalah padaku. Kadang-kadang, aku juga rindu pada cara ibu dan ayahku menyanyikan lagu nina bobo, tapi mereka sudah tak kuketahui eksistensinya. Bisa jadi mereka di Hindia, atau Atlantik, bahkan Antartika. Siapa yang tahu?”

 

“Mungkin…mungkin kita harus berusaha untuk kembali. Kita tidak seharusnya ada di sini sementara masalah sedang berlansung di bawah sana.” Sehun berusaha menitikberatkan tubuhnya ke depan, ia ingin maju dan kembali menembus atmosfer Bumi.

 

“Kita memang harus kembali. Kalau kau sudah sampai di rumah, aku yakin dua kakakmu sudah tidak bertengkar lagi, dan yang satunya sudah tidak menghancurkan rumah. Buat apa punya saudara lain kalau mereka membiarkan mereka bertengkar? Masih ada anggota keluarga lain yang tugasnya adalah melerai mereka. Itulah gunanya keluarga.”

 

“Kau benar, Blue.”

 

“Sehun, karena kau sudah baik membawaku kemari, lain kali kalau aku bertemu tiga kakakmu itu, aku akan berenang ke laut Korea Selatan dan memberitahukan keberadaan mereka.”

 

“Serius?!”

 

“Serius.”

 

“Lalu, apa yang bisa kulakukan untukmu, Blue?”

 

Well, karena aku sudah menerima kenyataan bahwa aku begini, maka cukuplah membawaku ke laut lagi. Aku ingin berenang, Sehun, bukannya terbang mengawang seperti ini. Dan, eh, omong-omong, coba cari di internet tentang ‘52-hertz Whale’, maka kau akan melihatku. Aku tidak tahu internet itu apa, tapi aku sering dengar dari para nelayan bahwa internet bisa mencari apapun yang kita inginkan.” Blue berusaha maju dengan menggerakan siripnya, Sehun duduk di kepala paus itu sambil mengarahkannya.

 

Sambil menembus pelindung Bumi, Sehun berusaha mengenyahkan fakta bahwa angka sembilan itu tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan keutuhan mereka. Yang penting sekarang bukan mencari ketiga kakaknya, mereka sudah cukup dewasa untuk menjaga diri, tapi bagaimana menjaga angka sembilan ini agar tidak menjadi delapan, tujuh, enam, atau angka lain yang lebih kecil.

 

Aku adalah EXO, entah berapa jumlahnya, aku adalah bagian darinya. Sama seperti Blue adalah bagian dari lautan. Tidak ada alasan untuk meninggalkan mereka.

 

END

 


 

a/n: ‘Sing For You’ bener-bener bikin baper. Apalah liriknya nyritain tentang cowok yang memendam perasaan, tapi menurutku ini tentang ot12, sama seperti lagu Promise. Ketika yang lain beranggapan lagu ini untuk fans aka EXO-L, aku justru beranggapan ini untuk Kris, Tao, Luhan dan masalah-masalah yang mereka hadapi demi menjaga anggota tetap pada angka ‘itu’

 

MV-NYA BIKIN BAPER SELURUH JAGAT RAYA ALAM SEMESTA POKOKNYAAAAAA!!! Dan…dan, Sehun nyanyi :’D lebih banyak dari yang biasa dia dapet. Oke fix. Bagi yang ga ngerti si Paus Blue ini, pernah denger gak 52-Hertz Whale? Sebagaimana kita tahu, paus, lumba2 dan mamalia laut lainnya berkomunikasi dengan cara yang unik, lumba2 bernyanyi untuk menarik lawan jenis, begitupun paus. Tapi frekuensi nyanyian paus yang satu ini beda sama temen2nya, jadilah paus lain ga denger dia nyanyi apa. Hal itu merujuk pada kesendiriannya, ditinggal kawanan, hidup sendiri, dan gak pernah dapet pasangan. Kalau nggak salah ceritanya si astronot itu masuk ke mulutnya si paus apa gimana gitu, terus mereka temenan, dan si paus kepo ‘gimana sih luar angkasa itu? Apa lebih baik dari laut? Kalau aku kesana, apa aku ga sendiri lagi?’

 

Mereka pun keluar angkasa, tapi karena gapake pesawat, makanya gabisa kembali /atau emang gak niat kembali karena banyak masalah/ , awalnya memang astronot sama paus ini merasa ‘legowo’ alias leluasa bisa bebas dari tetek bengek kehidupan mereka, tapi lama-lama kok kangen juga yaaa /mulai baper lagi/ , dan akhirnya mereka menyadari bahwa meskipun sehun itu astronot, dia gak seharusnya disitu, apalagi si paus ini ya, jelas2 habitatnya di laut.

 

Maaf aku ambil cuman ambil ‘sepotong’ cerita dari MV ini, karena menurutku memang itulah yang paling menarik. Dan, lagunya, euh…langsung jatuh cinta aku T_T /as always, aku lebih suka chinese.ver, tapi kor.ver juga mantap kok/

 

Btw, liat2 komen di yutub, katanya BTS juga punya lagu semacem ini judulnya Whalien 52, tapi aku gatau karena bukan fan BTS, tapi kayaknya keluarnya baru2 ini aja.

 

Oke, udah, ini kepanjangan. Yang jelas, feel yang didapet dari lagu ini BEDA JAAAUHH sama Miracle in December. Meski sama2 sedih, mellow, tapi feelingnya beda.

 

Sekian dariku, maaf kalau ficnya nyeleneh, ini hasil baper soalnya.

chioneexo.

14 thoughts on “H O M E”

  1. ini masuk ga sih komennya. sumpah aku udah ngetik panjang tapi ga masuk kan sakit
    intinya baper.
    tapi fantasinya dapet. feel familynya dapet meski cuman dari dialog cerita antar tokohnya. mv-based scenenya ngena banget! tapi sejujurnya, aku rasa kita exo-l perlu berkreasi soal cerita tentang tiga member itu. sekali2 kisah keluarnya mereka dibikin komedi yg bikin ngakak atau horror gitu :p jangan melulu friendship mengharu biru. tapi aku suka kalimat2nya si blue sih hehehe patut diquote.
    keep writing!

    Suka

    1. Wadaw, aku juga pernah ngalamin ngetik puaaanjang tapi ga ke posting :’) #kaklianarapopo
      Wkwkw, iyadeh kak lain kali ot12 aku bikin genre lain :3 habisnya setelah denger SFY ini langsung kebawa memori exo showtime dan baper pun muncul. Oh iyaaa, cerita tentang ikan paus itu kek film tahun 2014 kmrin yg judulnya the heart of sea, aku blum liat sih kak, tapi critanya emg ttg paus yang sendirian itu😥

      Suka

  2. YHAAAAAA AKU BAPER MAGRIB MAGRIB GIMANA NIH GIMANA DONG :” pokonya gaada yang ngalahin kebaperan exo dan jumlah membernya dah yang kaya sampe sekarang aku masih suka ngitungin jumlah membernya kalo mereka foto sama-sama :’) ini baguuus dalem banget ceritanya :’) aku suka banget sama poster album mereka sampe kujadiin wallpaper sama screen lock hape :’) dan aku suka banget sama konversasi sehun sama blue disini🙂 and thanks aku baru tau soal 52-Hertz Whale dan itu fic able banget yah yang kaya tingkat kebaperannya nambah begitu aku baca A/N nyah🙂 dan yaampun BTS pantesan kemaren rame banget fans exo ama bts fanwarnya ternyata gara-garanya ini hahaha :’) nice one! keep writing!

    Suka

  3. Setuju bangeet
    SFY menurutku feelnya lebih ke friendship dan aku suka banget sama friendship.
    di FF ini jadi lebih tahu secara detail cerita MV nya
    ini songfict bgt
    btw, aku langsung searching 52 herzt whale nya, kkk

    Suka

  4. astiiii, ini kerennn T_T aku jatuh cinta sama konversasi masseh dan blue :3 konversasi keduanya itu kok ya mengalir banget sih🙂
    ahh pokoknya sukaaaaa🙂
    good job astiiii❤ keep writinggg *sori, komenku kali ini tidak berbobot, huhu T_T

    Suka

  5. Aaaaaaa aku suka aku suka(?):”3

    ngomong-ngomong, ini aku telat bgt ya bacanya wkwk baru liat soalnya T-T *maap curcol*

    feel nya dapet banget bikin baper:(

    luv kak chio deh hehe xD

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s