[Vignette] Magnetic

magnetic

Casts Jun – Wen Junhui [Seventeen], Lu Anhai [OC], Tuan Wen [OC] Genre Family, slightly school life, slighty romance Length Vignette Rating PG-17

Read also: The Cupid Might be Sleepy

.

© 2015 namtaegenic

Tuan Wen punya satu kelebihan lagi, yang disukai Nyonya Wen sekaligus dibencinya.

.

Kebanyakan orang memanggilnya Wen shushu—Paman Wen. Sahabat main mahjong-nya lebih suka menyapa dengan sebutan Asiung. Apa pun sebutannya, Tuan Wen adalah pria berusia awal lima puluhan yang baik hati dan mudah bergaul.

Ia meneruskan usaha toko alat tulis grosir ini setelah ayahnya pensiun berdagang. Kakek Wen sekarang lebih suka bersantai-santai, dan anak-anaknya pun setuju dengan pilihannya. Kini Tuan Wen-lah yang berdiri di belakang etalase dengan berpak-pak alat-alat kantor (dan lebih banyak lagi di rak raksasa di belakang dan sisi-sisi ruangan), melayani kebutuhan pembeli dengan cermat lalu memberikan barang-barang yang dibutuhkan oleh—biasanya—penjual kedua.

Tuan Wen punya satu kelebihan lagi, yang disukai Nyonya Wen sekaligus dibencinya. Pada usianya yang ke-53, ia masih terlihat sangat muda. Tuan Wen memiliki wajah yang mungil serta raut ramah yang senantiasa menyuguhkan senyuman untuk siapa saja. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi hal itu toh tidak menyurutkan semangat para kaum Hawa yang mampir dengan maksud bervariasi—membeli pensil, pulpen, lem, kertas krep, atau hanya ingin mengobrol—atau seperti yang Nyonya Hsu lakukan, bergenit-genit ria dengan Tuan Wen tiap sore, mengingat wanita itu bahkan tak berteman akrab dengan istrinya.

Sore ini, Nyonya Wen sedang diserang perasaan buruk. Ia marah-marah pada siapa saja yang ada di rumah dan di toko. Meishin, pelayan toko yang masih muda dan rajin itu ikut-ikutan kena semprot. Usut punya usut, ternyata Nyonya Hsu barusan singgah lagi, berlagak membeli kertas krep, dan berakhir dengan menepuk punggung tangan Tuan Wen sambil tertawa.

“Ey, Huasa, aku kan, tidak pegang-pegang tangannya. Sudahlah,” Tuan Wen mencoba menenangkan istrinya. Sementara Nyonya Wen bersedekap dan memalingkan wajah, terbakar hangus oleh api cemburu.

“Perawan tua itu makin lama makin gatal, tahu tidak?! Ni she wo te lau kung, tha ce tau ma1? Hah? Hah?”

“Dia tahulah, aku sudah punya istri. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus disamaratakan dengan pelanggan lain—“

“Tiap sore main ke sini, seperti tidak punya kegiatan saja! AHUIII! MANA AHUI?!” alih-alih bersikap lebih tenang, Nyonya Wen justru menaikkan intonasi suaranya. Junhui melenggang menghampiri ibunya, yakin sekali apabila ia meluangkan waktu untuk memberi kesempatan ibunya memanggilnya barang satu kali lagi, ia akan kena damprat hingga topik melenceng ke panduan hidup masa depan.

“Mulai sekarang, Mama mau Ahui jaga toko dari jam empat sampai malam!”

Junhui melongo, benaknya berputar ke berbagai kesenangan sepulang sekolah yang akan lenyap begitu ia menjalankan mandat ibunya.

“Tapi, Ma. Ahui ‘kan harus kerjakan PR. Belum lagi tugas kelompok.”

“Kerjakan saja sambil jaga toko! Mama tidak mau tahu, kalau si genit itu datang lagi sore-sore, Papa tidak boleh tampakkan batang hidung di toko!”

Semua orang angkat tangan. Kakek Wen berlagak tidak ada yang sedang terjadi dan meneruskan membaca artikel tentang bisnis kerajinan sakura bonsai untuk tahun baru Cina.

Maka, jadwal jaga toko kini dirombak total. Tuan Wen berjaga dari pukul enam pagi, ketika toko dibuka, hingga pukul empat sore—dengan catatan, bahwa ketika Nyonya Hsu mampir sambil berlenggak-lenggok macam kotoran kucing (itu istilah dari Nyonya Wen, meskipun tidak ada yang tahu bagian mana dari kotoran kucing yang bisa dianalogikan untuk mendeskripsikan lenggokan Nyonya Hsu), semua orang di rumah—kecuali Kakek—harus dengan sigap menggantikannya. Dan ketika Nyonya Wen bilang sigap, itu artinya antara Meishin atau Junhui, harus melesat membawa seluruh PR, komik, dan barang-barangnya ke toko, kalau bisa sebelum Nyonya Hsu menyapa ‘Halooo~ aku mampir, nih! Mau konsultasi soal dekorasi kerajinan tangan dengan Asiung!’.

Sejauh ini, Junhui bisa melaksanakan tugasnya dengan lancar. Ia memang mendapatkan wajah masam Nyonya Hsu karena tampaknya wanita itu sudah mencium ketidakberesan yang berkaitan dengan absennya lelaki yang digodanya kemarin-kemarin. Jika ditanya perihal ayahnya, Junhui akan menjawab ‘Papa sekarang membagi tugas untukku juga, Bi. Jadi, Bibi mau cari apa? Kertas krep lagi?’ dan akan disambut dengan cibiran sengit oleh wanita itu.

Sepulangnya Nyonya Hsu dengan tangan hampa—ketahuan sekali ‘cari kertas krep’ itu hanya akal bulus—seorang gadis muda yang familiar menapakkan kaki di dalam toko. Teralih fokusnya oleh tamu, Junhui segera meletakkan pulpennya sebagai pembatas buku tulis, kemudian siap menerima tamu.

“Selamat da—lho?” Junhui membelalak, lalu refleks merapikan sisiran rambutnya. “Lu Anhai? Ada apa kemari?”

Si gadis tersenyum pada teman sekelasnya itu.

“Ayahku perlu persediaan pulpen baru dan isi ulang stapler ukuran besar. Lalu aku ingat kamu punya toko alat tulis kantor di pasar.”

“Sebentar ya, kucarikan!” manik Junhui memindai isi etalase. Kemudian ketika dipikirnya tak ada, ia berputar dan menelusuri rak-rak di belakangnya. Aduh, isi ulang stapler letaknya di mana, ya? Junhui mengambil daftar letak barang-barang toko yang di-laminating dan diletakkan di kolom kedua etalase kaca. Sementara itu, Anhai melirik buku-buku Junhui.

“Kamu sedang bikin PR?”

“Iya, hehehe. Kucoba bikin sendiri dulu. Nanti kalau tidak tahu, aku akan tanya Minghao. Papaaa…!” Junhui angkat tangan. Ia sudah sering membantu di toko, tapi masih tidak hapal letak isi ulang stapler—atau benda apa saja yang dijual di sini.

Tuan Wen melipat meja berengsel yang dijadikan akses privat keluar masuk pemilik toko, dan mendampingi Junhui. Tangan ajaibnya langsung saja menemukan sekotak besar isi ulang stapler itu dan menyodorkannya pada anaknya. “Khusus stapler dan isi ulang, ada di baris nomor tiga rak nomor satu.

Junhui mengangguk-angguk. Tuan Wen mengemas satu pak pulpen dan isi ulang stapler itu, kemudian menyerahkan pesanan pada Anhai.

Guniang2 mau cari yang lain?” Tuan Wen menyapa Anhai dengan ramah, dan, oh la la…Junhui tahu pandangan itu. Kedua manik Anhai menyorotkan percikan-percikan kembang api yang sering ia temukan pada teman-teman sekelasnya yang perempuan ketika pemuda yang mereka sukai melintas.

Ya, bukannya Junhui memang benar-benar naksir Anhai. Mereka cuma teman sekelas dan Junhui pernah mengantarnya pulang dari pasar ke rumah. Dan sejak itu mereka lumayan akrab. Dan…oh tidak, jangan bilang Junhui cemburu pada ayahnya sendiri.

“Saya Lu Anhai, Paman. Teman sekelas Junhui. Terima kasih sudah mencarikan barang-barang ini untuk saya—maksud saya, untuk Ayah saya. Kapan-kapan saya akan ke sini lagi, sungguh!”

Tuan Wen memandang Anhai dengan alis nyaris menyatu, kemudian ia menutupi keheranannya tersebut dengan tawa yang dipaksakan agar terdengar ramah. Ia mengangguk-angguk dan permisi masuk ke dalam, meninggalkan Junhui dan Anhai berdua saja.

Usai menyelesaikan pembayaran, Anhai memandang Junhui sejenak.

“Ayahmu tidak punya niat menikah lagi dengan gadis yang lebih muda? Aku bisa lho, berteman dengan ibumu.”

“Demi Tuhan, selesaikan saja urusanmu di sini, Lu Anhai!” tukas Junhui sebal.

Anhai mengangkat bahu. Ia mengucapkan terima kasih pada Junhui, kemudian pergi ke luar, menghampiri sopirnya yang menunggu—ia memang anak orang kaya, saking kayanya hingga ke pasar saja harus pakai mobil mewah.

Tuan Wen lantas masuk lagi ke toko setelah mobil Anhai berlalu. Tapi Junhui sudah terlanjur mengibarkan bendera perang dengan ayahnya.

“Papa, pokoknya, kalau teman Ahui yang itu datang ke toko lagi, Papa tidak boleh tampakkan batang hidung!”

Diserang demikian, Tuan Wen tercengang-cengang. Junhui melewatinya masuk ke dalam rumah dengan tampang cemberut.

“Kan, kamu sendiri yang panggil Papa! Hey, Ahui!”

Junhui berbalik.

“Pantas saja Mama marah-marah. Papa itu seperti magnet, tahu tidak? Makanya Papa jangan sok ganteng!”

Tuan Wen makin terperangah. Oleh karena itu, untuk pertama kalinya, Tuan Wen menggantikan Nyonya Wen berteriak-teriak sambil menunjuk-nunjuk putranya.

“Dasar anak durhaka! Lidahmu dipotong dewa, baru tahu rasa!”

Ahui melenggang pergi, membuat Tuan Wen makin naik pitam.

“Kalau dewa masih kurang cepat, biar Papa sendiri yang potong lidahmu! Hey! Ahui! Tidak ada uang saku selama sebulan! Nama kamu akan Papa coret dari daftar warisan! Ahui!”

.

| fin.

namtaenote:

  1. “Ni she wo te lau kung, tha ce tau ma?” = kamu itu suamiku, dia tahu tidak?”
  2. Guniang = nona
  3. Saya bukan ahlinya mengenai kultur masyarakat tionghoa. Jadi mohon dikoreksi apabila ada kesalahan. Terima kasih ^^

 

14 thoughts on “[Vignette] Magnetic”

  1. ebuseeet…sebenernya yang mulai duluan itu ayahnya junhui apa gimana sih, kakek2 emang ada yg ganteng bingit ya kak? :3
    bayangin keluarga mereka kek kluarga tradisional cina yang nyonya besarnya pake cheongsam sambil bawa kipas xD
    oia kak, untuk bhs mandarin yang: “Ni she wo te lau kung, tha ce tau ma?” itu cara bacanya, untuk bentuk tulisnya gini ‘ni shi wo de lao gong, da zhi dao ma?’
    guniang itu bisa diganti dengan xiaojie, tp kata guruku xiaojie skrng konotasinya ‘negatif’, macem nona penghibur gitu deh kak.
    overall, aku suka critanya xD family feelnya dapet banget😀

    Suka

    1. astinaaa aduh ini makasih banget lho koreksi tulisan bahasa cinanya! sangat berguna! aku akan repost cerita ini di forum lain dan akan aku pakai koreksiannya astina ya. thanks a lot!
      iya, xiaojie konotasinya suka negatif makanya ngga aku pake. makasih sekali lagi, astina ^^

      Disukai oleh 1 orang

  2. Waks ini lawak banget aduh hahahaha xD
    Emang bapaknya junhui seganteng apa sih aduh sampe anhai juga terpesona hahahaha xD
    Awet muda banget ya?
    Dan juga nikah sama yang lebih muda macem anhai? Omaygat plis sakit perut xD hahahaha
    Apalagi pas bapaknya junhui ngancem mau potong lidah itu hahahaha xD ngakak parah aduh xD hahahaha xD

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s