[Ficlet] Peringkat Satu

Peringkat Satu

A Ficlet by Joonisa

Cast [BTS] Jeon Jungkook, [BTS] Park Jimin, [OC] Jeon Sejin

Duration Ficlet [+800k]

Genre Family, Friendship, Childhood

Rating G

.

Peringkat satu tidak selamanya menyenangkan, terutama bagi Jungkook.

.

Sejin tengah mengelap meja yang baru saja ditinggalkan oleh pelanggan saat Jungkook menatapnya dengan raut wajah hampir menangis dari luar kafe. Suasana kafe sedang tidak begitu ramai karena jam makan siang sudah lewat, jadi Sejin memutuskan ke luar untuk menemui adiknya itu.

“Jungkook, ada apa kemari? Kenapa tidak langsung pulang?”

“Nilai ujian kenaikan kelas beserta peringkat di kelas sudah diumumkan, kak.” Jawab Jungkook dengan kepala tertunduk. Jelas sekali perangai Jungkook itu menunjukkan kalau ada sesuatu yang tidak beres. Berusaha menyiapkan diri untuk mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan, Sejin menarik nafas panjang, mengembuskan perlahan, lalu mengusap lembut puncak kepala Jungkook.

“Lalu? Bagaimana dengan nilaimu?”

“Aku…” Jungkook menyerahkan selembar kertas pada Sejin, lalu kembali menunduk, “peringkat satu, kak.”

Sejin menerima kertas pemberian Jungkook dengan perasaan heran yang bertambah-tambah. Dilihatnya sederet nilai milik adiknya dan semuanya luar biasa. Nilai tertinggi sepuluh dan yang terendah sembilan koma tujuh. Namun ekspresi sang adik yang muram melebihi mendung di musim penghujan tidak lantas membuat Sejin senang jika dibandingkan dengan prestasi Jungkook.

“Kenapa malah tidak senang mendapat peringkat satu? Apa nilaimu hasil mencuri jawaban teman? Atau kau dapat bocoran soal?”

“Bukan, kak.” Jungkook mengigit bibir, berusaha menahan air mata yang terasa berdesakan menusuk bola matanya. Sejin menggaruk tengkuknya, ia mulai tak sabar dengan jawaban sang adik yang sepotong-sepotong.

“Lalu kenapa kau seperti ini, Jeon Jungkook? Apa yang sebenarnya terjadi?”

Tidak tahan, tangis Jungkook pun akhirnya pecah. Beberapa orang yang melewati kafe itu melontarkan tatapan aneh pada Sejin yang membuat Sejin terlihat seperti penganiaya anak kecil.

“Jungkook, aduh, kenapa tiba-tiba menangis sih! Kau tidak malu dilihat orang-orang? Huh?”

“Kak, gara-gara aku dapat peringkat satu, Jimin jadi dapat peringkat dua! Lalu aku melihat Jimin dipukuli oleh ayahnya sampai berdarah di parkiran sekolah, kak!”

Lutut Sejin langsung lemas. Tanpa pikir panjang, Sejin menarik Jungkook lalu berlari mengejar bus yang kebetulan melewati mereka.

“Ayo, kita ke rumah Jimin sekarang!”

.

.

“Maaf Sejin, Jungkook, tapi Jimin sedang sakit. Dia butuh istirahat di kamarnya, begitu pesan Tuan dan Nyonya.”

“Lima menit saja, lima menit, ya?”

“Iya bibi, sebentar saja. Jungkook mohon.”

Wanita paruh baya yang merupakan kepala pelayan di rumah Jimin menatap kakak beradik itu bergantian. Ia sebenarnya merasa iba, namun ketika ia ingat pesan majikannya agar Jimin tidak boleh keluar kamar, mau tidak mau ia harus tega untuk memberi sebuah gelengan sebagai jawaban.

Jungkook pun mulai menangis, berawal dari sesergukan, sampai akhirnya tangisannya bertambah nyaring. Sejin hanya bisa menepuk-nepuk punggung adiknya sambil merangkulnya pergi. Percuma menyuruh Jungkook diam, yang ada dia malah semakin menjadi.

“Tunggu!”

Suara bibi kepala pelayan itu menginterupsi langkah keduanya. Ia menghampiri Sejin, lantas menyerahkan sebuah kunci.

“Lima menit ya. Janji?”

Mata Sejin langsung berbinar saat menerima kunci itu.

“Janji!”

.

.

Jungkook langsung menghambur ke arah Jimin yang sedang duduk di tepi tempat tidur. Jimin sempat terkejut saat melihat kedatangan Jungkook dan Sejin yang dinilainya sangat mendadak. Lebam yang ada di sisi kanan perutnya tiba-tiba berdenyut karena pengaruh salah posisi menengok, membuat Jimin harus meringis tertahan. Jungkook mendudukkan dirinya di sebelah Jimin, diikuti Sejin yang duduk lesehan di depannya.

“Jimin-ah, kau tidak apa-apa?” Jungkook menatap Jimin dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Aku tidak apa-apa, kok.” Jawab Jimin sambil tersenyum, terlalu kentara kalau ia berusaha untuk ceria.

“Bohong! Itu bibirmu berdarah, ujung matamu juga memar. Pasti sakit, ya ‘kan?”

Jimin menunduk tak menjawab. Sejenak hanya ada keheningan di antara mereka bertiga. Sejin yang sedari tadi hanya mengamati, perlahan menggenggam kedua tangan Jimin.

“Jimin.”

“Ya, kak?”

“Apa Jimin sengaja mengalah untuk Jungkook?”

Jimin mengangkat wajahnya sambil menyunggingkan senyum lebar sampai seluruh gigi-giginya terlihat.

“Iya, kak. Soalnya Jungkook bilang kak Sejin tidak punya cukup uang untuk membelikannya seragam tim sepakbola. Kalau Jungkook dapat peringkat satu, kak Sejin tidak perlu bayar uang SPP selama satu semester. Nah, uangnya bisa dipakai buat beli seragam ‘kan?”

Sejin memijit pelipisnya setelah mendengar jawaban polos Jimin, sementara Jungkook melompat turun dari ranjang lalu bertolak pinggang.

“Tapi kalau kau tidak dapat peringkat satu, kau dipukuli oleh ayahmu ‘kan?”

“Tidak apa-apa, yang penting Jungkook bisa satu tim denganku. Kita bisa pakai seragam yang sama dan latihan di klub resmi lalu – “

“Tapi wajah dan badanmu jadi luka-luka, tahu! Dasar Jimin bodoh!”

“Bukannya kau yang mengajariku kalau anak laki-laki tidak boleh takut jatuh dan terluka? Kalau aku bodoh berarti kau juga bodoh! Dasar Jungkook bodoh!”

“TAPI AKU TIDAK MAU MELIHATMU DIPUKULI! JIMIN BODOH! BODOH!”

“KAU YANG BODOH! HARUSNYA KAU BERTERIMA KASIH PADAKU!”

Sejin menarik lengan Jungkook untuk melerai pertengkaran dua bocah lelaki ini. Ia lantas berdiri, lalu sebelah tangannya yang bebas menggamit tangan Jimin.

“Jimin, Jungkook, ini semua salah kakak. Bukan salah kalian.”

“Hah?” Jimin dan Jungkook bertanya bersamaan.

“Karena ini salah kakak, ayo kalian baikan! Berpelukan, seperti laki-laki sejati!”

Jimin dan Jungkook pun berpelukan. Diawali dengan wajah masam, namun satu gelitikan dari Jimin ke perut Jungkook mampu membuat temannya itu terbahak-bahak. Mereka pun kini berlarian saling mengejar di dalam kamar Jimin yang luasnya sama dengan rumah yang ditempati Jungkook.

Meninggalkan Sejin yang termenung memikirkan semuanya. Bahwa sebab semua masalah ini adalah dirinya. Ia yang telah mengajarkan pada Jungkook bagaimana seharusnya laki-laki sejati.

.

Tidak boleh takut untuk jatuh dan terluka.

.

Tapi Sejin berpikir ulang, bukankah ia sudah mengajarkan suatu hal yang benar?

Jadi, sebenarnya tidak ada yang salah ‘kan?

.

.

FIN

a/n:

Original posted in BTSFF and personal blog😀

Sampai ketemu nanti lagi ya bersama Sejin dan dua cecunguk adik kecil unyu ini😄

 

3 thoughts on “[Ficlet] Peringkat Satu”

  1. KAKNISSJOO KENAPA JIMINQOE DIBEGINIKAN? Huhu😦

    Nilai tertinggi sepuluh, terendah sembilan koma tujuh? Kalau manusia udah migrasi ke mars kali ya nabil bisa dapet nilai nyaris sempurna kaya gitu hihi

    Gud fict kanis

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s