[Vignette] Boys Talk

boys talk

Casts Kim Mingyu-Yoon Junghan-Vernon Chwe-Lee Chan [Seventeen] | Genre School life, teen, romance | Length Vignette | Rating PG-17 (for mentioning some adult words) |

namtaegenic presents a fanfiction

BOYS TALK

.

© 2015 namtaegenic

Warning: dirty words, curse, so please read it wisely. Ada ucapan kotor dan umpatan, baca dan pahami dengan bijak.

Dan bahwa meskipun mereka tak sedang memiliki perempuan saat ini, mereka masih memiliki mereka

.

 

Basement itu lebih tampak seperti ruang tamu. Jika kalian pernah nonton serial berlatar belakang era tujuh puluhan, The 70’s Show (tentunya itu hanya permainan latar waktu, karena Ashton Kutcher tidak menjalani masa SMU pada tahun itu, ya ‘kan?), basement-nya kurang lebih mirip. Di sana ada dua sofa buluk warna merah marun yang tidak terpakai lagi, meja yang dibuat dari dua ban truk yang disusun menjadi satu dan dilapisi kayu bundar, dan berkat kemurahan hati seorang donatur, mereka bisa punya televisi empat belas inci dan dua titik lampu. Basement ini berada di bagian bekas gedung bioskop miliknya, omong-omong.

Tempat itu biasanya terisi pada hari Minggu sore, lebih karena penghuninya masih harus menjalankan apa yang orang-orang dewasa sebut sebagai kewajiban mutlak semua pelajar di alam semesta (dan mungkin di planet lain jika di sana terdapat makhluk hidup, orangtua, dan pemerintah). Dan kebetulan, cerita ini dimulai pada hari Minggu sore yang cerah.

Omong-omong, Vernon datang lebih dulu. Ia menghempaskan bokongnya hingga melesak ke sofa, dan baru sadar kalau ada salah satu pegasnya yang tak beres, sehingga ia meringis dan mengumpat sembari menggosok pantatnya. Disusul kemudian, Junghan melangkah masuk dengan gontai, lelah sekali sepertinya. Ia baru saja hendak melakukan gerakan yang sama, ketika Vernon memperingatkannya sebelum bokongnya bernasib serupa.

Chan masuk ke basement lima menit kemudian, ketika keduanya memilih-milih channel TV, disusul Mingyu, yang tak kenal ampun pada para pemuda kesepian di ujung sana, berdiri memagut bibir seorang gadis yang bukan merupakan gadis kemarin, atau gadis lusa kemarin, atau gadis musim panas lalu—karena orang-orang seperti Mingyu memang pemuda sejuta gadis, dunia memang tak pernah menjanjikan keadilan.

“Kim Mingyu, kau boleh masuk kalau yakin sudah bisa ambil oksigen dari matte nomor 36!” Vernon memanggil dari dalam. Merespons dari seberang, Mingyu memutar kedua maniknya. Masih dengan tangan yang membingkai wajah gadisnya, ia memerintahkan si dara untuk enyah—dengan bahasa yang halus, tentunya, seperti ‘bagikan waktu kita untuk temanku juga, boleh, ‘kan? Terima kasih, aku bakalan merindukan kita,’ dan sebagainya. ‘Kita’ adalah kata kunci setiap hubungan, dan Mingyu menggunakannya dengan sangat baik.

“Kalau mulut bisa dibeli,” ujar Vernon sembari menggeleng-gelengkan kepala, “akan kubeli mulut Kim Mingyu dengan bayaran kontan.”

“Siapa yang mulutnya mau kau beli,” Mingyu duduk dengan perlahan di sofa satunya. Ia meraih kantong keripik kentang dan mengambil segenggam untuk dikunyah. “Han Mijin, gadis tadi. Ia serius denganku. Menyusahkan sekali.”

“Semua gadis selalu serius denganmu. Kau yang tidak tahu diri,” Junghan mengemukakan pendapat berdasarkan dengan kejengkelan sekaligus rasa iri. Mingyu mengangkat alis dan mengangkat tangannya setinggi bahu, seakan semua orang harus memaklumi pesonanya yang tidak bisa ia penjarakan.

Seakan yang salah adalah gadis-gadis itu.

Suasana hening sejenak. Mungkin dua menit. Mungkin lebih. Mungkin akan hening selamanya jika Chan tidak buka suara.

“Aku putus dari Yooa,”

Tiga yang lain langsung bangkit dari sandaran mereka.

“Kau bercanda!”

“Dia cantik banget, tahu!”

“Yooa adalah sejatinya putri negeri dongeng!”

“Tepat sekali,” Chan bangkit dan menegakkan punggungnya di sofa. “Ia sejatinya putri negeri dongeng. Karena itulah aku harus jadi pangeran berkuda putih. Dan itu sulit.”

“Sesulit apa jadi pangeran berkuda putih?”

“Tidak ada yang tanya pendapatmu, Romeo,” sergah Junghan. Apa yang Mingyu tahu soal hubungan serius? Yang ia lakukan hanya berpindah-pindah tempat singgah sementara pemilik rumah sudah jungkir balik memintanya menginap.

Tapi Mingyu mengerti. Ia memahami Vernon, Junghan, dan Chan lebih dari ia memahami semua gadis yang pernah ia sentuh. “Sorry, Bung. Oke, teruskan ceritamu,” ucapnya.

“Aku tidak bisa melakukan apa yang biasanya kulakukan. Yang biasanya kita lakukan. Bung, ia seperti, entahlah. Bagaimana perasaanmu jika tiba-tiba ia bilang ‘jangan membersihkan hidung di tempat umum, Chan’?”

“ Membersihkan…apa?”

“Maksudnya mengupil,” Vernon menjawab pertanyaan Junghan. “Ya sudah, kalau begitu jangan mengupil di depannya.

“Masalahku bukan hanya mengupil, Bung. Aku jadi harus menjaga semua tingkah lakuku tiap kali berada di sampingnya. Itu melelahkan sekali. Jadi, aku memutuskannya. Tentu saja kuyakinkan ia bahwa aku tidak akan bilang pada siapa pun bahwa akulah yang memutuskannya. Ia akan merasa malu.”

Jeda tercipta lagi untuk beberapa menit berikutnya. Terpecah oleh suara Junghan.

“Aku bernasib kurang lebih sama.”

“Jiae juga melarangmu mengupil?” tanya Chan, nyaris bahagia karena punya teman.

“Jiae baik-baik saja. Tapi orangtuanya punya standar khusus untuk laki-laki yang bisa mengantar anaknya pulang sekolah, dan kebetulan aku jauh sekali dari imaji kelompok Pemuda-Berambut-Pendek-yang-Tampak-Keren-Ketika-Mengenakan-Helm. Lagipula mereka selalu memandangku dengan sorot yang aneh.”

Ketiga temannya berusaha untuk tidak memberikan komentar tanpa dukungan seperti ‘yah, kamu memang mirip perempuan, sih’ pada Junghan, karena basement akan selalu jadi saksi bisu solidaritas mereka.

“Kakak perempuan Aram juga tidak suka padaku. Ia sedikit kolot, kau tahu. Ia tidak suka orang blasteran. Dan berhubung aku hanya blasteran Amerika alih-alih dewa Yunani, ia memboikot hubungan kami. Semoga ia jadi perawan tua.” Vernon mengumpat. Ia selalu kesal jika terbawa dalam memori kelam di mana kakak perempuan Aram jelas-jelas mengucilkan darah blasterannya.

“Perempuan memang menyebalkan,” gerutu Chan.

Pacaran menyebalkan,” sambung Junghan.

Omong-omong, semoga kalian tidak bosan pada jeda, karena kali ini, jedanya kelewat lama. Sepuluh menit, dan hanya ada suara pembawa acara reality show di televisi hasil donasi dari ayah Vernon.

“Bung,” Mingyu membelah jeda, akhirnya. Mukanya tampak serius. Ia menumpukan siku pada kedua lutut, lalu mengambil tiga detik kosong sebelum kembali buka mulut.

“Memalukan kalau kubilang ini berdasarkan pengalaman, tapi—“ Mingyu menggosok hidungnya. “Perempuan itu tidak bisa ditebak. Mereka bisa saja bersikap bahwa mereka anti pada yang jorok-jorok. Bersikap seakan mereka tuan putri atau guru les kepribadian. Mereka bisa memboikot kita dengan anggapan bahwa kita tak pantas. Tapi kita pantas, Bung. Dengarkan aku. Kita pantas. Dan mereka akan membutuhkan kita secepat detak jantung.”

Kali ini mereka bertiga memandang Mingyu. Perlahan semuanya tersenyum. Mingyu memang menyebalkan karena dianggap sudah merampas semua kaum hawa di dunia ini. Tapi ia juga yang paling banyak makan asam garam. Ia mungkin tak pernah serius pada semua perempuan. Tapi semua hubungan tidak serius itu pasti memberinya pelajaran.

Bahwa perempuan senantiasa menganggap laki-laki sebagai Indiana Jones, James Bond, Pramuka Siaga, atau siapa pun yang kerjanya memecahkan kode yang mereka berikan.

Bahwa perempuan berkata ‘tidak’ ketika mereka memikirkan ‘ya’.

Bahwa perempuan memang sulit ditebak.

Dan bahwa meskipun mereka tak sedang memiliki perempuan saat ini, mereka masih memiliki mereka. Mereka dan segala obrolan kosong soal perempuan, video game, otomotif, model katalog Victoria Secret, dan masih banyak lagi.

“Trims, deh. Tapi sepertinya aku lebih baik sekolah dulu. Nilai-nilaiku buruk sekali belakangan ini.” Chan membuka kaleng soda dan menyeruput isinya. Vernon dan Junghan mengangguk setuju. Mingyu mengangkat bahu, tapi sorot matanya penuh dukungan.

“Yah, memang punya pacar bukan satu-satunya cara menikmati bangku sekolah, begitu kata kakakku. Lagipula, aku perlu pacar yang tidak jengah ketika aku mengupil, menguap, bersin, atau bahkan menggaruk selangkangan,”

Tawa hebat pecah saat itu juga usai Mingyu menyelesaikan ucapannya.

“Benar sekali, benar sekali! Aku pernah harus pura-pura ke toilet dulu demi agar Aram tidak melihat aku, um…”

“Menggaruk selangkangan?”

“Mingyu, itu jorok sekali, berengsek!” Vernon melempari Mingyu dengan keripik kentang.

“Kau suka sekali mengucapkan kata itu, ya?” gelak Junghan pada Mingyu. Pemuda itu hanya tersenyum sembari meraih segenggam lagi keripik kentang. “Ya kalau gatal, mau kautahan sampai kapan? Memangnya kau mau jalan seperti penguin di sepanjang koridor kelas? Memangnya kau sudah gila?”

Tawa kedua pecah kembali, membahana, mengisi basement bioskop tak terpakai milik Tuan Chwe. Mau tak mau Mingyu ikut tertawa. Mereka baru berhenti ketika ponsel Vernon berbunyi, dan suara Imogen terdengar dari seberang, memanggil mereka pulang untuk mencicipi brownies kukus buatannya. Imogen Chwe suka sekali memasak, dan—ini rahasia, jangan beritahu Vernon karena ia tak akan merestuinya—Imogen adalah perempuan favorit Mingyu sepanjang masa. Ia dua tahun lebih tua, sudah kuliah, pandai masak, dan baik hati, meskipun—

“OIII! CEPATLAH KE SINI, SEBELUM KUENYA DINGIN, DASAR PEMILIK JAKUN TIDAK BERGUNA, KALIAN SEMUA!”

—sedikit galak.

 

| fin.

 

24 thoughts on “[Vignette] Boys Talk”

  1. kak eciii T_T tanggung jawab lho sudah membuat aku ngikik gajelas (jelas sih sebenernya) di depan lappy sendirian. ahhh ceritanya renyah banget😉 sukaaaaa

    baca ini aku berasa kaya sofa yang didudukkin Vernon (aww) maksudku, aku tuh kaya berada di dalam obrolan mereka. merasa di dalam latar yang sama gitu. bahasa yang mengadaptasi tuturan sederhana ala-ala drama sekolahan koriya ini juga polll banget lah🙂 sukaaaa banget kak😀 love em all😀😀
    *skip soal garuk2 selangk*ngan, ngupil, dan junghan yang weehhh cantik aja di posternya😀 :D*
    tetapi kalo boleh aku sedikit meriviuw; aku menemukan satu kalimat yang terdengar agak rancu kak. bunyinya ini;
    Ketiga temannya berusaha untuk tidak memberikan komentar tanpa dukungan seperti ‘yah, kamu memang mirip perempuan, sih’ pada Junghan, [karena basement akan selalu saksi bisu solidaritas mereka.]
    dan untuk menyikapinya, kalau memungkinkan; ditambah verba/adverbia -menjadi di antara -selalu dan -saksi kedengaran ngga rancu lagi ya kak. itu aja sih🙂
    selebihnya sudah pas perfekct😀
    sekian komentar dari aku *kurang dan lebihnya mohon dimaafkan* sampai ketemu di fict-nya kak eci lagi🙂
    keep writinggg

    Suka

  2. Astagaaa demi apa aku langsung syok begitu masuk ke scene Mingyu.__. Kenapa dia jadi badboy gini, tapi btw dia cocok sih ya kak jadi badboy gini. Player. Hahaha😀
    Aku pernah mikir sih._. Jangan2 cowok2 tuh kalo kumpul ngobrolnya begini ya😀

    Suka

  3. KAECIIIIIIIIIIIII AKU LAGI DI STUDIO TERUS NGAKAK KERAS BANGET DILIATIN ANAK ANGKATAN BAWAH BHAQ UNTUNG UDAH PADA APAL KELAKUAN /yha numpang curhat/

    Wai dek mingyu selalu unyu meskipun imej nya amburadul begitu huhuhuhu
    Pokoknya unyulah gatau ah aku makin hari komen makin ga jelas :-:
    Makasih buat hiburan ditengah kantuk ini kak hehe

    Suka

  4. Hhaaiii…
    Aku baru muncul komen di ff ini…
    demi apa ff buatan kak ecii jd salah satu favorit disini…
    Diksiinya itu bener2 bervariasi dan indah banget….
    Aku kagum sama kak eciii…

    Dan untuk ff ini… aku bisa komen apa ?? Setiap ff kak ecii baguusss…
    Idenya sederhana, well… tapi pengemasannya itu bener2 baguusss….

    Mingyu ganteng sih…. pantes jd playboy… kesian cewknya tapi…

    Dan wait… itu yooa oh mygirl ?? Jiae lovelyz ??? Kalo aram sma satu lg aku g ngeh….

    Sukkaa pkoknya sama karyanya kakak….
    Jempol jempol jempol…….. (y)(y)(y)

    Suka

    1. sebenernya sih ini nama cewenya aku main comot aja sih tapi ya memang yooa kuambil dari omg trus jiae dari lovelyz hehe maklum aku lemah banget nyari nama korea hehehe, makasih boochan sudah mampir ke sini ^^

      Suka

  5. Aduh aku musti komen apa. Ff buatan kak echy itu emang selalu sugoii.makasih bgt kak ffnya menghibur sekali meski tadi smpet ngakak dkit diangkot untung pake masker jadi ya aman..aku selalu nungguin ff kak echy selanjutnya. Keep writing kak (•ө•)♡

    Suka

  6. Nah, ku bingung mau nulis apa.
    .
    .
    .
    Kayaknya tuh nggak ada kata yg bisa mendeskripsikan fanfic karya ka Eci deh. Duh, sedih :’) *knapa pula sedih
    Perbincangan para cowok mungkin yg semacem gini ya? Serasa kak Eci tuh pernah jadi cowok jadi fanfic nya daebak banget😀
    Udah ah, pokoknya aku suka banget nget nget ><
    *no comment buat Mingyu, duh!*

    Suka

    1. hahaha namtaegenic adalah cewe, yeorobun! (kenapa pula harus bikin pengumuman) waduwadu makasih loh, Sisil, sudah bersedia berkunjung ke sini ^^

      Suka

  7. Kak…ini aku ga berhenti ngakak…plis itu mingyu menggaruk selangkanga di depan umum? Yakin lu gyu?😄
    Udahlah kak… Ini aku masih kebayang pas mingyu ngupil sama nggaruk selangkangan di tempat umum (yang nguap sama bersin keknya uda dimaklumi)😄
    Good job kak! Nice fic! Ditunggu ficnya yg lain😀

    Suka

  8. Kakeci hai hai aku mampir di sini.. terdampar lebih tepatnya😄
    Kakeci, aku sudah memutuskan untuk berhenti bersikap kewanita-wanitaan yang akan berkata ‘tidak’ untuk ‘ya’ dan sebaliknya sejak 3 tahun yang lalu. Laki2 memang bukan pramuka siaga kakeci, bukan, sama sekali bukan. Benar kakeci, ff ini benar sekali😄
    Kak maaf nih ya, aku td sempat salah baca.. kirain Imogen itu bibinya vernon soalnya Imo kan artinya bibi (bahasa korea sih) BHAHAHA MAAPKAN AKU KAKECI😄

    udah deh itu doang kakeci. Komenku mah isinya begini semua yak ngerusuh aja kerjaannya😄

    Suka

  9. haloo, ini ff sudah berbulan-bulan lalu dipublis saya baru baca sekarang~
    hai kakeci((sksd)) readers baru saya..
    Wah ceritanya renyah banget kek chitato, dekat dengan kehidupan sehari-hari jadi sangat mudah untuk dipahami. Tidak tahu kenapa perempuan selalu terlihat rumit di mata laki-laki. padahal sejujurnya mereka mau garuk selangkangan aja saya gak protes.
    Itu manusiawi, kalo saya bilang mah. :v
    mau seganteng apapun kalo emang gatel, cowo butuh garuk selangkangan / ini kenapa jadi suka ngomong selangkangan -_ /

    yah, orang-orang punya pandangan berbeda.
    Vernon, Mingming, Dino sama junghan belom pernah keteme cewe macam saya muahaha😄

    Suka

    1. hahaha halo amandzaty, komenmu hilarious banget! dan aku setuju soal hak-hak cowo buat ngupil dll selama ngga merugikan orang lain. kalo ditahan bukannya malah ngga nyaman kan ya. hehe. makasih sudah mampir ^^

      Suka

  10. Disuruh baca ini atas rekomendasi kakDella part 2.

    KAKECI PLIS INI APAAN YA ALLAH KU MASI POLOS /ditampar. MINGYU DIBUAT INTERNATIONAL PLAYBOY!! /seketika inget Jungkook.
    Tapi gapapa, mukanya meyakinkan(?) untuk jadi seornag player:(
    sip ini terbaikkkk><

    Suka

    1. wahaha si della ngerekomen yang ini adoadooohhh, aku menikmati sih nulis dengan pov cowo, enak bisa ngomong yang engga-engga (HUSH) (jangan ditiru) seorang player mesti ekstra ganteng ya makanya mingyu cocok hahaha makasih arrylea ^^

      Disukai oleh 1 orang

      1. Hehe. Biarin atuh kak :v wkwk. Kece pisan doh:’v
        Bener-bener! POV cowo emang bisa seenak jidat ;’v wkwk.
        Anytime kak, kali-kali ajarin aku nulis yhaa wkwks :v

        Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s