TEMPERATUR ES

temperatur es

scripwriter : chioneexo | main cast(s) : Kris and Sehun [EXO] | supporting cast(s) :  some of Originial Characters | duration : 8811w  |  genre : detective story, crime, supernatural | rating  : PG-15

 

Udara dingin tengah malam rupanya membuat Kris enggan keluar dari The Ledbury—sambil menghabiskan Flame-grilled Mackerel dan sepiring Ceviche dingin—untuk melanjutkan pekerjannya mengurusi kasus pembunuhan seorang remaja lelaki yang menjadi model brand Berrybenka. Tapi, ya sudahlah, Kris memang bukan tipe orang pemalas yang akan membiarkan setumpuk kasus bernilai jutaan Poundsterling menggunung di mejanya, namun malam ini Kris malas seratus persen bahkan untuk melirik foto remaja itu tergeletak kusut di atas nakas.

 

Di sudut lain restoran, Kris melihat Oh Se Hun masih bertahan dengan tilikan mata kosong tertuju pada meja di hadapannya. Sejauh ini, Sehun-lah rekan pertama yang mau membantu Kris menyibak misteri si-remaja-model ini. Mereka duduk terpisah karena satu alasan, dan tidak mau saling memandang karena alasan lain. Well, setidaknya Sehun akan tetap bergeming sampai mereka tiba di kediaman Kris di Addington Square.

 

Kris beranjak dari kursinya, melenggang ke arah pintu dengan sapaan terakhir dari seorang pramusaji berperawakan semampai. Sehun mengekor, tapi masih diam dan membiarkan dingin Januari menerobos melewati kulit mereka.

 

“Kita tidak pergi ke rumah Caldwell?” Sehun angkat bicara, tapi nampak tak percaya pada raut wajah Kris yang menunjukkan bahwa ia sedang malas. Intinya, Kris sedang tak ingin melakukan investigasi malam ini.

 

“Sekarang jam dua belas, kau mau aku membeku di depan rumah pak tua itu?”

 

“Sudah jelas dia dalang dari pembunuhan ini, tapi kau malah sibuk mengumpulkan bukti-bukti yang tidak penting!”

 

“Buktinya memang harus banyak, belum cukup sekadar cangkir kopi berisi polonium. Kalau memang Caldwell pembunuhnya—yang kau bilang sering melakukan transaksi dengan pedagang ilegal Rusia—dan berhubungan baik dengan remaja itu, bukankah itu tak membuktikan apapun?”

 

Track record Caldwell bahkan bisa dibilang menjijikkan.”

 

“Akan tidak berarti jika bukti akan dia yang jadi pembunuh dalam kasus ini belum kuat.” Kris menyalakan Pall Mall kesukannya dan mengisap putung rokok itu dalam-dalam, membiarkan asapnya membumbung tinggi beraduk dengan hawa dingin Portobello Road. Mereka berdua mencari taksi yang sudah jarang beroperasi pada jam-jam begini, Kris juga menyesal mengapa membiarkan mobilnya bersarang di bengkel padahal sudah selesai dibetulkan.

 

“Kalau kasus ini sudah selesai, kuharap kau bisa lebih tenang. Punya rekan cerewet sepertimu rupanya merepotkan.” Kris berujar seraya membelamkan tangan ke dalam mantel, ia mencari selembar foto kecil yang barusan ia dapat dari mata-matanya, “itu foto big boss yang sering menjalin transaksi jual beli racun dan narkoba dengan Caldwell, apa menurutmu kita bisa bertemu dengannya?”

 

“Dia di Rusia, please.”

 

“Aku punya spy di pabrik mereka.”

 

Hell, kau tidak bilang dari tadi.” Sehun berdekap, ia enggan dekat-dekat Kris yang bau asap rokok.

 

“Setidaknya kita harus dapat bukti berupa bon traksaksi, termasuk harga polonium dan tanggal serta—jika memungkinkan—tempat mereka bertransaksi,” kini Kris menekan tombol pada speed-dial ponselnya, mengirim kotak suara pada seseorang bernama Luke Anderson nun jauh di Rusia sana. Isinya tak lain mengenai perintah memindai data traksaksi itu dan mengirimnya via e-mail paling lambat besok pagi.

 

“Kau yakin dia bisa bekerja dengan baik?”

 

“Posisinya di pabrik itu bukan sebagai pegawai rendahan.”

 

“Syukurlah.”

 

Lalu, mereka berdua masuk ke dalam taksi yang baru saja dicegat oleh Kris, berusaha tak melakukan konversasi baik dalam bentuk lisan maupun gestur tubuh. Untuk membunuh waktu, Kris menyumpal telinganya dan membiarkan Hello milik Adele mengalun lembut menembus batas kesadarannya.

 

__

Hari sudah siang tatkala Kris mendengar suara klakson menderu-deru dari luar, itu pasti mobil keluarga milik tetangganya—Alastair dan Clementine Hale, sepasang manusia super ribut dan suka pergi ke pesta-pesta dansa—yang diketahui Kris adalah Jaguar keluaran lama. Pria itu bangun tanpa melihat Sehun di sekitarnya, mungkin dia sedang keluar cari angin.

 

“Sudah bangun, pemalas?”

 

“Sehun! Damn it, kau keluar darimana?!”

 

“Aku di sini dari tadi, membaca laporan dan dokumen-dokumenmu.”

 

“Lancang sekali, Tuan Oh.”

 

“Tenang saja, mereka aman di tanganku.”

 

Kris menggerutu pelan sambil menggosok mata kirinya, ia melongokkan kepala sebentar demi melihat keadaan Addington Square yang sudah berjubel oleh manusia-manusia berdasi dan mahasiswa London University yang sibuk membenahi tesis dan disertasi mereka. Sehun masih betah menilik laporan milik Kris, sekalian mengintip pada foto-foto di tempat kejadian perkara—dimana mayat si remaja tergeletak pucat dibalut kemeja hitam.

 

“Apa Luke sudah dapat informasinya?” Sehun merapikan lagi barang-barang yang sudah ia berai-berai, meletakkan dan mengurutkan mereka sesuai tanggal, dan nomor-nomor penanda yang sudah Kris bubuhkan di belakang foto.

 

“Mari kita lihat,” ujar Kris sambil membuka ponselnya. Ia menemukan satu e-mail tertanda dari ‘the_red_cinderella’ alias nama samaran Luke (yang sempat ditertawai oleh Kris). Tapi, paling tidak, nama samaran itu takkan menguak dengan cepat siapa pemiliknya.

 

Luke menulis pesan singkat yang agak mengecewakan untuk Kris dan Sehun. Mereka mendambakan informasi yang lebih genap daripada sekadar tempat transaksi. Namun, mencuri data dari kantor pusat dengan kamera pengintai dimana-mana adalah sebuah masalah lain bagi seorang ajudan sekelas Luke. Lagipula, dia mata-mata ala kadarnya, tak dibekali kemampuan yang cakap. Ia berguna karena posisinya yang menguntungkan buat Kris.

 

“Mereka bertemu di London Eye, tapi tidak tepat di situ, sekitar Istana Westminster bagian barat. Luke kebetulan menyopiri Caldwell waktu itu.” Kris mendeklarasikan informasi itu seraya menyiapkan setelan jas musim dinginnya, ia berjingkat ke kamar mandi karena, entah sejak kapan, lantai kamarnya mendingin.

 

“Lalu, apa rencanamu?” Sehun merebahkan dirinya di tempat tidur kusut masai milik Kris.

 

“Ke kantor polisi terdekat untuk mengecek rekaman CCTV. Oh, bisakah kau mengirim pesan pada Luke kapan tepatnya mereka bertemu?”

 

“Baiklah.”

 

Sementara Kris membasuh tubuhnya dengan air hangat, Sehun mulai mengoceh tentang satu dan banyak hal lainnya. Dia berteriak dari luar kamar mandi demi memberitahu Kris bahwa perjanjian itu dilaksanakan tanggal dua puluh tiga Desember, seminggu sebelum si remaja meninggal. Beberapa kali Kris mendengar Sehun mengumpat tidak sopan dengan suara terlampau keras, ia mengutuk Alec Caldwell karena telah begitu kejam membunuh remaja tak berdosa dengan polonium. Jika benar Caldwell sekaya itu—karena, yeah, polonium tidak semurah arsenik dan jarang diproduksi kecuali kawanmu adalah bandar obat-obatan Rusia—pastilah ia dengan mudah menyingkirkan saksi mata dan bukti-bukti lain. Uang bisa melakukan apa saja, ingat?

 

“Kris! Kapan kau selesai mandi?!”

 

“Cerewet, kau pikir aku The Flash? Siapkan saja tas kerjaku dan duduk yang manis!”

 

“Tapi Luke bilang bosnya sudah pergi ke London subuh tadi! Mungkin saja dia pergi ke rumah Caldwell! Apa kita jadi ke London Eye?”

 

Kris berhenti memainkan shower, ia memang telah selesai mandi namun masih ingin memijat punggung dengan siraman air hangat, akan tetapi informasi dari Sehun tak bisa menunggu nanti. Ia harus memutuskannya sekarang.

 

“Jam berapa dia berangkat?”

 

“Luke bilang sih pukul lima lebih sedikit. Kau pasti tahu kapan kira-kira dia akan sampai di London, bukan?”

 

“Jarak Moskow ke London adalah tiga jam tiga puluh menit. Jam berapa sekarang?” Kris sibuk mengeringkan tubuhnya, lalu keluar dengan tergopoh-gopoh dan hampir terpeleset kalau saja sandaran sofa tidak menahan tubuh jangkungnya. Pertanyaan Kris tidak dijawab oleh Sehun karena Kris sendiri sudah menengok ke arah jam, “oh, pukul tujuh, aku rasa kita masih punya waktu.”

 

“Dan, kemana kita tepatnya setelah ini?”

 

“Ke rumah Caldwell dulu.”

 

“Lalu bagaimana dengan London Eye?”

 

“Hei, Oh Se Hun, kau meragukan keputusanku? Ini kasusku, kau mengerti?”

 

“Tapi ini ada hubungannya juga denganku!”

 

“Kita akan ke London Eye, tapi tidak sekarang. Omong-omong, bawa kameraku sekalian lensanya.” Kris memberi komando sambil mengenakan pakaian, ia menggerutu kesal karena melihat tumpukan baju kotor di sudut ruangan, pekerjan Kris membuatnya jadi lupa untuk bersih-bersih. Sehun melakukan perintah Kris dengan baik, tas kerja dan kamera sudah siap di meja, lengkap dengan ponsel dan charger, serta permen jahe kesukaan Kris ketika musim dingin tiba.

 

Tak butuh waktu lama bagi Sehun untuk menyadari bahwa kondisi ini sepertinya menguntungkan Kris. Membawa kamera berarti Kris akan mengumpulkan bukti. Mereka pergi naik taksi ke bengkel tempat mobil Kris bersemayam selama dua hari, lalu berkendara dengan kecepatan tak normal membelah jalanan bersalju London. Well, bukannya Sehun tidak pernah melihat orang ngebut, tapi baru kali ini dia melihat yang seperti orang kesurupan.

 

“Kita akan tiba sebentar lagi, bisa pelankan laju mobilmu?!”

 

“Tak ada waktu untuk pelan-pelan. Kau pikir aku moluska?”

 

Jarak beberapa meter dari kediaman Caldwell, barulah Kris memelankan laju mobilnya, ia berhenti lumayan jauh dari rumah pria tua itu supaya tidak dicurigai, lagipula lensa kameranya bisa bekerja dengan baik. Dan, setelah perjalanan bak film Fast and Furious itu, Sehun dan Kris tenggelam dalam keheningan; tak melakukan apapun selain menunggu datangnya si bandar obat-obatan.

 

“Aku bosan menunggu.” Sehun menoleh pada semak-semak ivy di sebelahnya.

 

“Siapa yang mengizinkanmu mengeluh?” Kris terus mengamati pintu masuk rumah Caldwell yang dijaga oleh seorang satpam yang diketahui Kris bernama Pierre. Satpam itu tambun dan memiliki leher yang tebal, kulit wajahnya merah merekah di tengah hawa dingin. Tak lupa anjing-anjing herder dan dobberman menyalak tak karuan dari sisi dalam gerbang, jaga-jaga bilamana ada maling bodoh yang nekat masuk.

 

“Mengapa Caldwell tidak tinggal di flat saja?” Sehun meringkuk menghadap penghangat mobil, sesekali mendengus sebal karena Kris tak menaruh atensi padanya. Sebagai detektif, Kris sudah biasa duduk berjam-jam demi mendapatkan sebuah bukti, hal itu sudah ia tanamkan pada dirinya sendiri sejak bekerja sebagai agen mata-mata kepolisian. Kunci utama dari pekerjaan ini adalah sabar.

 

“Tinggal di flat atau di rumah mewah seperti ini takkan mengubah persepsiku terhadap sebagian besar manusia berduit. Mereka biasanya sebesar panda, dengan perut buncit layaknya orang cacingan, dan membawa black credit card kemana-mana.”

 

“Jadi, kau benci orang kaya, Kris?”

 

“Tidak semua. Aku hanya benci gaya hidup mereka, sama sekali tidak manusiawi. Nah, aku rasa itu mobil si bandar obat-obatan.” Kris berupaya tidak mengacung-acungkan telunjuknya pada limosin hitam yang kap depannya tertutup salju, berisi setidaknya empat orang dan seorang sopir. Pria yang dikenali Kris lewat foto kecil dari mata-matanya keluar dari salah satu pintu, menyapa Pierre singkat, lalu masuk bersama pengawalnya yang berperawakan seperti pegulat Smack Down. Kamera Kris dengan begitu cepat menangkap gerak-gerik mereka, kualitas gambarnya juga tak perlu diragukan, berkali-kali lipat lebih bagus dari kamera ponsel canggih manapun.

 

“Sehun, catat waktu kedatangannya. Beri kode ‘A’ di sampingnya.”

 

“Sejujurnya, aku benci disuruh-suruh, tap—“

 

“Cepat tulis!”

 

Sehun menurut, lalu mengamati pergerakan Kris yang, dengan tergopoh-gopoh, membuka laptop sambil mengaktifkan sebuah software entah apa. Satu detik pertama, Sehun yakin itu bukan rekaman abal-abal tentang rumah impian semua manusia di muka bumi, sebab gambarnya terlampau jernih tapi terletak pada tempat yang ‘ganjil’. Jadi, Sehun menyimpulkan bahwa itu adalah kamera pengintai.

 

“Sejak kapan kau memasang kamera di dalam?”

 

“Sejak terakhir kali kita kemari. Well, aku rasa Caldwell lebih pintar menangis daripada aktor Hollywood waktu itu.”

 

“Bah! Aku sudah tahu dia berpura-pura sedih atas meninggalnya remaja tersebut. Kemudian membiarkanmu menjelajah ke dalam rumahnya, bersikap santai, menutupi detak jantungnya yang berpacu cepat dan kemudian mendesah lega saat kau pulang. Tipikal orang berdosa, kentara sekali.”

 

Sejurus kemudian, Kris menaikkan volume pengeras suara demi mendengar perbincangan antara Alec Caldwell dan Radford Aslanov, kamera yang dipasang Kris tepat mengambil gambar keduanya dari sisi yang lumayan menguntungkan. Ruang tamu kediaman Caldwell bernuansa lebih modern dari kesan yang didapat ketika melihat gaya rennaisance di bagian luar, dilengkapi pernak-pernik kristal di segala sisi dan lukisan cat minyak zaman Victoria.

 

Setelah Kris menyalakan recorder—sambil meminimalisir suara apapun yang bisa masuk dan menghalangi pendengarannya—mereka berdua menatap layar dengan serius. Awalnya, ada sedikit basa-basi, kemudian pelayan mengantar dua cangkir Americano dan kotak gula, ia melenggang pergi setelah mendapat tatapan seduktif dari Radford. Mereka memilih topik saham sebagai bahan pembicaraan pertama, lalu merembet ke arah nominal yang harus dibayar Alec demi seratus gram polonium.

 

What the hell, dia membayar Radford dengan sekoper besar poundsterling! Semahal itu, ya?”

 

“Baru tahu? Kau harus menjual alun-alun London kalau mau membeli polonium.”

 

“Ha, itu berlebihan. Lagipula aku tak berniat membeli racun.”

 

Sepertinya Radford telah sepenuhnya percaya pada nominal yang telah dijanjikan Caldwell—ditilik dari ekspresinya yang sumringah—dan berpikir untuk segera kembali karena tujuannya kemari hanya untuk mengambil uang itu. Tapi, entah mengapa, Caldwell seolah mengulur-ulur waktu supaya Radford bisa bertahan lebih lama. Tangan pria itu merogoh dari balik saku bajunya dan mengeluarkan serbuk polonium putih, lengkap dengan tulisan ‘X’ merah besar yang dibubuhkan di plastik pembungkusnya.

 

Polisi tidak mencurigaiku, Radford. Tapi alangkah baiknya jika benda berharga ini kutitipkan padamu. Aku akan dengan senang hati menggunakannya untuk yang selanjutnya.”

 

            “Keparat kau, Alec. Cari aman, ya?”

 

            “Kau tahu posisiku. Si detektif gila asal Kanada itu tempo hari kemari untuk menanyaiku perihal kematiannya, aku pura-pura sedih, tentu saja, tapi tidak menyinggung bahwa hal ini ada sangkut pautnya dengan Sarah Kenninston.”

 

            “Mantan kekasih pemuda itu?”

 

            “Ya. Sarah mendendam pada si pemuda, dan aku benci bukan kepalang pada ayahnya. Kurasa kombinasi kami cukup baik. Pemuda itu masih sangat naif, dia percaya saja bahwa Sarah tak menyimpan rasa benci padanya setelah memutuskan hubungan mereka secara sepihak.”

 

            Kris diam, ia menoleh pada Sehun yang raut wajahnya berubah masam. Tanpa mempedulikan wajah itu, Kris tetap menyalakan rekamannya, lalu memfokuskan kamera demi menangkap figur Radford yang keluar dari rumah Caldwell. Si satpam tambun terlihat kikuk menyambut kembali datangnya Radford—sepertinya dia habis tertidur di kantor jaganya—dan tersenyum ganjil tanpa sempat melihat betapa kusut wajahnya. Kemudian, Kris berpura-pura seperti seorang pria yang sedang bersantai, barang seperti kamera dan laptop ia sembunyikan rapat-rapat, tak ingin Radford tahu bahwa ada yang mengintainya dari jauh.

 

“Limosin mereka akan melewati mobil kita.” Sehun memberitahu.

 

“Maka dari itu aku harus bersikap biasa.”

 

“Bagaimana kalau Radford sudah tahu wajahmu? Bahkan plat mobil kita? Mereka tadi membicarakanmu seolah Alec sudah memberitahukan beberapa hal tentangmu padanya.”

 

“Oh, benar juga. Mana maskerku, astaga,” ucap Kris seraya menarik sesuatu dari saku jas Armani-nya yang keren, lalu memakai masker itu cepat-cepat.

 

“Plat mobil?”

 

“Petugas bengkel sudah kusuruh memalsukannya sementara. Kau tahu lah, aku punya banyak rekan kerja yang baik.” Kris menyudahi penyamarannya saat limosin itu lewat.

 

Dari sini Kris mengambil kesimpulan bahwa Alec sengaja memilih racun yang memiliki daya bunuh lambat—lagipula, polonium dapat menyebabkan kematian dalam jangka waktu yang berbeda bagi tiap orang. Dalam kasus ini, pemuda itu meninggal seminggu setelah rumahnya dikunjungi Alec dan Sarah—dan membuat orang-orang yang terakhir diketahui bersama mendiang sebagai pelakunya. Kau tahu, siapa yang berada terakhir bersama si pemuda biasanya jadi orang pertama yang dicurigai.

 

“Kita ke rumah pemuda itu sekarang.”

 

“London Eye-nya?”

 

“Kau kepingin banget naik London Eye, ya?”

 

“Eh, bukan itu maksudku. Ah, terserah kau deh.”

 

“Nah, itu baru benar.”

 

Kali ini Kris mengemudikan mobil lebih santai daripada yang tadi, ada musik-musik dari Celine Dion mengalun lembut dari siaran radio pagi ini. Salju masih lebat, dan karenanya sinar mentari enggan nampak. Sehun melempar pandang ke luar jendela, sama sekali lupa bahwa ia dan Kris sedang dalam perjalanan menyelesaikan sebuah misi. Oh Se Hun teringat akan sesuatu—yang ada di rumah pemuda itu, karena mereka tempo hari sudah ke sana—dan merasakan sesuatu menyeruak ke dalam dadanya saat tahu bahwa Kris lambat laun dapat mengungkap siapa dalang di balik semua ini.

 

“Sehun-ah?”

 

“Ya?”

 

“Kau yakin RaeIm bisa diandalkan?” Kris menyebutkan nama pembantu rumah tangga yang bekerja pada keluarga si pemuda.

 

“Aku rasa bisa. Dia punya nomor telepon bagian forensik, kau sendiri yang memastikan dua gelas kopi itu tidak terkontaminasi apapun. RaeIm tinggal menelepon mereka dan menyerahkan barangnya sementara kita pergi, bukan?”

 

“Ya, aku percaya RaeIm tidak sebodoh itu. Kita ke sana untuk mengambil hasil sidik jari Alec.”

 

“Akan mampus dia kalau sampai hasilnya positif.”

 

“Sebaliknya, aku justru berharap tak ada sidik jari Alec pada salah satu cangkir. Keluarga pemuda itu datang padaku sehari setelah kematiannya. Itu berarti, gelas yang digunakan Alec dan si pemuda sudah terkena sidik jari RaeIm atau siapa saja yang membersihkan gelas itu dari perpustakaan.”

 

“Apa untungnya kalau sidik jari Alec tidak ada?”

 

“Itu artinya dia berusaha menghapus jejak. Kau tenang saja, bukankah bukti lain sudah ada di tanganku? Alec boleh jadi brilian dalam bidang bisnis, tapi dia bukan pembunuh kelas kakap, dia hanya tahu cara mengecoh polisi, bukan detektif.”

 

Sesampainya mereka di rumah besar dengan atap layaknya sekolah sihir Hogwarts, keduanya langsung disambut baik oleh para pelayan, tak lupa juga ibu dari pemuda itu, Nyonya YoonJi. Tanpa basa-basi berlebihan, Kris langsung mencari RaeIm. Gadis itu ternyata juga sudah mempersiapkan apa yang hendak dipinta oleh Kris. Kedua gelas kopi yang dibungkus plastik oleh bagian forensik tergeletak begitu saja di meja marmer ruang tamu.

 

“Apa kau sempat membaca hasilnya, Nona RaeIm?” Tanya Kris.

 

“Aku tidak berani membukanya, Tuan.”

 

“Kalau begitu kita buka sekarang,” ujar Kris sambil melangkah menuju sofa bulu domba yang memberikan efek nyaman pada pinggulnya. Nyonya YoonJi memasang raut penasaran, sementara RaeIm menunduk sopan dengan mimik yang sama. Kris membaca dokumen itu, berisi print-out sidik jari si pemuda dan sidik jari RaeIm. Tidak ada milik Alec.

 

“Hasilnya negatif.”

 

Nyonya YoonJi menghela napas kecewa, tapi Kris justru menyunggingkan senyum samar.

 

“Dan, Yoo Rae Im, apa rekaman CCTV kedatangan Alec dan Sarah sudah digandakan?”

 

“Sudah, Tuan. Ini hasilnya.”

 

Kris mengangguk puas pada RaeIm, dia tipe orang yang—meski tidak memiliki pangkat atau kelebihan menonjol di bidang ekonomi—cerdas dan mampu bertindak cepat.

 

“Tuan Kris, sebenarnya apa hubungan Alec dengan kematian anakku? Bisa kau jelaskan?”

 

“Begini, Nyonya. Polonium bukan racun yang akan membunuh anak Anda dalam waktu singkat, efeknya bisa jadi tiga minggu pada orang yang berbeda. RaeIm bilang, putra Anda hanya menghabiskan waktu di rumah karena sedang cuti musim dingin. Satu-satunya tamu adalah Alec dan Sarah Kenninston. Dari informasi yang Anda berikan, Alec adalah kolega suami Anda, sementara Sarah adalah mantan kekasih putra Anda. Hal itu merujuk pada satu hal; yaitu kerja sama. Tidakkah Anda berpikir bahwa persaingan antara dua CEO perusahaan besar bisa jadi sangat kotor? Dan dari beberapa sumber, saya dengar Sarah memang tidak bisa memalingkan hatinya dari putra Anda. Lantas, salahkah saya jika mencurigai mereka berdua?”

 

“Bu-bukan begitu. Maksudku, yang terakhir bersama putraku waktu itu adalah JungIn, pelayan pribadinya. Aku sempat murka pada pria itu karena mengira dia adalah pelakunya, tapi ketika Anda mencurigai Alec, aku malah semakin ragu.”

 

“Semua orang pasti berpikiran yang sama, kalau saya seorang tukang kebun di rumah Anda, maka saya akan mengambil sudut pandang itu, menyatakan bahwa JungIn-lah yang bersalah. Tapi ini polonium, jenis yang jarang ditemukan polisi pada beberapa kasus pembunuhan belakangan ini. Alec waktu itu bisa saja berpura-pura baik pada putra Anda dengan menawarinya pekerjaan, tapi kita tidak pernah tahu, dari sekian banyak ruangan di rumah ini mengapa harus perpustakaan yang dipilih? Itu karena perpusatakaan tidak berkamera, bisa jadi Alec sudah memperhitungkannya, dan putra Anda dengan begitu mudah mengiyakan karena mengira tidak terjadi apa-apa.” Kris menenggak lemon-tea hangat dan melanjutkan, “saya juga sempat meneliti CCTV, ternyata Sarah memanggil putra Anda keluar sekadar memberikan berkas mengenai pakaian apa yang harus dikenakan untuk pemotretan yang ditawarkan Alec. Anehnya, Sarah menolak tinggal padahal ada Alec di dalam. Lagipula, buat apa Sarah yang menyerahkan dokumen itu sementara Alec bisa melakukannya? Itu hanya pengecoh supaya Alec bisa memasukkan polonium ketika putra Anda keluar ruangan.”

 

Nyonya YoonJi mengerjapkan mata beberapa kali, takjub pada penjelasan Kris yang lugas dan langsung pada intinya. Wanita itu mungkin telah menyesal memecat JungIn, dan berpikir untuk mempekerjakannya kembali.

 

“Tapi, kupikir itu belum cukup untuk membuktikan bahwa Alec-lah pembunuhnya.”

 

“Memang belum.” Kris berujar seraya memutar kepala, mencari-cari keberadaan Sehun.

 

“Apakah Anda ingin melihat ke perpustakaan lagi? Barangkali untuk memastikan sesuatu?”

 

“Ah, itu tawaran yang menyenangkan, Nyonya.” Kris beranjak, mengikuti jejak RaeIm menuju ruangan terbesar yang ada di kediaman korban. Perpusatakaan bergaya romawi kuno itu didesain dengan begitu detail, termasuk rak bukunya yang penuh dengan ukiran, lukisan yang menghiasi dinding-dindingnya pun adalah dewa-dewi Roma. Di satu sudut, ada jendela tinggi dengan kaca mozaik yang menghadap ke arah taman, di dekat jendela itu ada sebuah meja bundar dengan tiga kursi berpelitur.

 

“Alec waktu itu duduk berseberangan dengan putra Anda?”

 

“Ah, ya, Tuan Muda memang duduk berseberangan dengan Alec, mereka terlihat akrab sekali.” RaeIm tiba-tiba angkat bicara.

 

“Tempat ini tidak dilengkapi kamera CCTV karena termasuk ruang pribadi. Apa benar begitu?” Kris berputar-putar di sekitar rak yang memuat buku-buku tentang Perang Salib.

 

“Benar, tapi beberapa tamu sering masuk kemari karena koleksi buku kami lumayan lengkap dan menarik.” Nyonya YooJin melempar pandangan sedih pada tiga kursi tersebut, mungkin membayangkan bagaimana jadinya jika ia melarang Alec datang waktu itu.

 

“Tapi putra Anda meninggal di kamarnya, bukan?”

 

“Ya, dan sepertinya dia berusaha menjangkau gagang pintu sebelum ambruk tak sadarkan diri.”

 

“Memang benar, posisi kepalanya memang menghadap pintu.”

 

“Ehm, Tuan?” Nyonya paruh baya itu melenggang limbung ke arah Kris, kemudian berkata, “apa Anda sudah punya rencana untuk menangkap Alec?”

 

Well, ada beberapa rencana sebenarnya. Tapi aku masih harus mencari satu bukti lagi.”

 

Tak berapa lama, Kris menerka sidik jari Alec pasti ada di meja atau kursi kayu tersebut. Namun, sekali lagi, polisi di daerah ini tidak mau repot-repot memeriksanya. Kalau boleh Kris mengakui, ada banyak aspek yang luput dari penyelidikan polisi. Mereka pasti sama bodohnya dengan tukang kebun jika menempatkan JungIn pada daftar pertama orang yang harus diselediki (bahkan setelah dikeluarkan pernyataan resmi bahwa ada kandungan polonium di tubuh korban). Kris meminta izin untuk mengunjungi kamar korban sekali lagi, terkejut bukan main saat tahu Sehun ada di dalam sana.

 

“Kau di sini ternyata.”

 

“Oh, Kris.”

 

“Apa yang kau temukan?”

 

“Kamar ini masih sama seperti saat ditinggalkan.”

 

“Setelah ini kita akan ke Istana Wesminster, bersiaplah.”

 

“Sebaiknya kau telepon polisi kenalanmu itu, supaya anak buahnya langsung mengizinkanmu masuk nanti.” Sehun memberi saran seraya mengamati interior kamar tersebut. Ada banyak baju-baju maskulin keluaran Dolce and Gabbana, beberapa jam tangan Emporio Armani tergantung menggiurkan di satu sisi, sementara sepatu kulit Hugo Boss berjejer rapi di bagian depan lemari. Kris sedikit iri pada koleksi baju-bajunya, tapi tak ambil pusing karena brand favorit Kris sejauh ini hanya Givenchy dan Armani.

 

Seperti saran Sehun, Kris menelepon Sersan Jasper untuk memberitahu kehadirannya pada pos polisi yang dekat dengan Istana Westminster, pria itu bilang ada satu pos yang dibangun tak jauh dari istana tersebut, ada di kiri jalan dan menghadap sebuah toko bunga. Kris lantas mengirim pesan pada Luke untuk memberitahu secara rinci dimana mereka bertiga sempat bertemu, Luke lalu memberikan gambaran spesifik mengenai sebuah bangku kayu yang di sebelahnya terdapat tempat sampah, di situlah Alec dan Sarah menemui Radford.

 

“Kita perlu mencari sebuah CCTV yang dekat dengan sebuah bangku yang di sampingnya terdapat tempat sampah. Menurut informasi sebelumnya, bangku ini pasti ada di sebelah barat istana.”

 

“Itu bagus, kita tak perlu membuang waktu lama kalau begitu.”

 

“Tidak juga, kau pasti takkan suka jika harus duduk di depan komputer sambil mengamati rekaman satu hari penuh berisi manusia berlalu-lalang.” Kris menerka, kemudian memberi aba-aba pada Sehun untuk segera keluar. Bukti berupa dokumen sidik jari dan rekaman CCTV dari perpustakaan itu membuatnya sedikit berpuas diri, setidaknya kinerjanya masih bisa dianggap bagus sejak kasus tak penting bermotif kacangan beberapa bulan silam.

 

“Rumah ini tak menyisakan bukti apapun, karena poin utamanya ada pada gelas kopi dan polonium.” Sehun menyuarakan komentarnya saat Nyonya YooJin bersikeras mereka harus tinggal untuk makan siang dan segelas teh herbal. Kris menolak dengan cara halus, bilang bahwa bukti berikutnya adalah hal terpenting agar Alec bisa tertangkap.

 

Hari sudah siang ketika Kris memarkir mobilnya di depan Istana Westminster, mencari sebuah bangku dengan tempat sampah hijau di sampingnya. Kris menemukan tempat itu tak jauh dari tempat dia memarkir mobil.

 

“Sehun, coba cek apa ada CCTV di sekitar sini.”

 

“Maksudmu, di sekitar bangku itu?”

 

“Yang terdekat dengan bangku itu,” koreksi Kris.

 

Sehun berputar-putar mencari letak kabel CCTV, mengikuti arah setiap kabel untuk memastikan dimana letak kameranya. Meski pria bermarga Oh tersebut mendongakkan kepala seperti penghuni rumah sakit jiwa, Kris yakin takkan ada yang memperhatikan. Jadi, detektif itu hanya menunggu sambil menepis hawa dingin yang semakin kesini semakin membuatnya enggan menapakkan kaki di salju.

 

“Kris! Ada satu di sini!” Sehun melayangkan telunjuknya pada sebuah tiang lampu jalanan, Kris mengikuti arah jari Sehun dan menemukan sebuah kamera pengintai berukuran mini yang hanya bisa dilihat dengan teropong dari jarak setinggi itu. Meski, ada kemungkinan, tempatnya tidak begitu meyakinkan akan merekam secara jelas pertemuan Sarah, Alec, dan Radford, namun Kris yakin akan ada sesuatu pada siang hari tanggal dua puluh tiga Desember di tempat ini.

 

“Biasanya setiap kamera CCTV diberi kode. Atau kita tanya saja pada petugas?” Sehun tiba-tiba saja sudah berada di samping Kris lagi.

 

“Tanya saja, lagipula aku tidak melihat ada kode.” Kris bangkit dari kursi depan mobilnya, berusaha tak menampilkan gigi yang saling bergeletuk satu sama lain akibat serangan suhu yang perkiraan Kris pastilah dibawah nol. Kris dan Sehun berjalan bersisian, mengikuti alur trotoar sambil sesekali menengok ke arah megahnya Istana Wesminster. Big Ben menjulang tinggi dengan begitu kokoh tanpa menampilkan fakta bahwa usianya sudah tua, jam itu tetap ada di sana, kadang diperhatikan, kadang hanya jadi objek penunjuk waktu bagi sebagian besar warga London. Dan, yeah, ada London Eye berputar pelan di kejauhan.

 

“Di depan to-toko bunga,” gagap Kris, ia masih berusaha mengatasi giginya.

 

“Yang itu?”

 

“Be-benar.”

 

“Oh, ayolah Kris, kau tidak keren kalau kedinginan.”

 

“Ce-cerewet! Cepat jalan!”

 

Pos polisi itu tidak sebesar dugaan Kris, tapi cukup hangat daripada di luar. Mereka menyediakan Café au lait bagi pengunjung, hal tersebut sedikit menguntungkan. Beberapa polisi mengenakan jaket tebal dan tersenyum ramah pada Kris, mereka menyebut nama Jasper sesekali sambil mempersilahkan Kris untuk berjalan ke ruang monitor. Ruangan itu hambar, tidak ada hiasan apa-apa pada dinding kecuali sebuah papan berisi tugas jaga, dan sebuah rak untuk menyimpan kaset rekaman CCTV.

 

“Tanggal berapa yang Anda butuhkan?” Ucap salah seorang polisi dengan name-tag Thomas.

 

“Tanggal dua puluh tiga Desember. Masih ada ‘kan?”

 

“Tentu saja masih,” ujar Thomas. Pria itu menyusuri rak dengan jarinya, berusaha menemukan arsip kaset yang diminta Kris. Thomas mengeluarkan satu paket kaset yang merekam kejadian tanggal dua puluh tiga—ada lima kaset, masing-masing menampilkan rentang waktu yang berbeda. Kris duduk pada komputer kosong di sudut ruangan, Thomas minta izin untuk pergi karena ia masih bertugas. Kris tak masalah kalau harus menonton kaset ini sendirian, lagipula akan terasa ganjil jika Thomas berada di sampingnya.

 

“Ini akan menghabiskan waktu seharian! Coba tanya Luke kapan mereka bertiga bertemu.” Sehun tiba-tiba mengeluarkan protes.

 

“Siang.”

 

“Jam berapa tepatnya?”

 

“Kita lihat saja rekamannya, oke? Kau ini makin lama makin banyak bicara.”

 

Kris hendak memasukkan kaset dengan label ‘1’ tertera di atasnya, namun Sehun menahannya dan memilih kaset nomor 3. Well, meski Kris bersikeras memutar kaset dari awal sampai akhir, tapi nomor 3 terasa lebih masuk akal. Nomor 2 bisa saja merekam waktu subuh sampai sekitar jam 9. Sehun tertawa penuh kemenangan saat tahu bahwa rekaman nomor 3 menunjukkan pukul sepuluh lebih lima.

 

See? Kau tidak perlu melihat hantu pada jam dua belas malam dan pemabuk ulung baru pulang dari bar pada jam tiga pagi.” Sehun melipat tangan tanda menang. Sementara melihat dan memperhatikan,  Kris mencatat bagian-bagian yang tidak begitu penting namun dia rasa bisa menjadi faktor pendukung—seperti latar suasana, siapa saja yang sebagian besar lewat situ, dan barang-barang tetap apa yang ada di sana.

 

Sudah jalan satu jam tanpa sedikit saja tanda-tanda Alec maupun Sarah. Akan tetapi, pada lima menit berikutnya Kris yakin melihat rambut Sarah Kenninston berkibar-kibar disusul sosok Alec yang menjulang tinggi. Mereka menunggu kedatangan Radford sambil makan sosis goreng, kelihatannya Alec yang membelikan itu untuk Sarah. Mereka menunggu setidaknya sepuluh menit, ada jeda membosankan di antara Alec dan Sarah—dimana mereka berdua hanya duduk diam sambil mengamati jalan raya—jadi Kris menyimpulkan, hubungan keduanya benar-benar murni sekongkol untuk balas dendam, bukan hubungan baik antara rekan kerja. Sama sekali bukan.

 

“Radford datang!” Sehun memekik persis di samping telinga Kris, membuat telinganya ngilu.

 

“Aku tahu.”

 

“Heh? Dia membawa tas jinjing? Kukira seratus gram polonium takkan butuh wadah sebesar itu.”

 

“Menghindari kecurigaan, bodoh.”

 

“Tapi itu polonium, ‘kan?” Sehun mendekatkan kepalanya ke monitor, membuat Kris harus menempeleng bocah itu supaya tidak melihat terlalu dekat dengan layar. Alih-alih membuat kegaduhan lebih lanjut, Kris lebih memilih bungkam sembari menatap layar lekat-lekat.

 

“Ada yang aneh.” Kris menekan tombol pause.

 

“Apanya?”

 

“Aku rasa pernah melihat brand pada tas cokelat yang dibawa Radford, itu brand baju. Coba kau cari di internet.” Kris menunjuk pada tas bertuliskan nama desainer ‘Kent Wang’ tersebut. Ia menunggu Sehun berselancar di internet sebentar, memastikan tak ada polisi yang mengintip atau tiba-tiba masuk kemari. Karena, well, Kris berani bertaruh mereka takkan suka melihat ponsel mengawang sendiri.

 

“Hmm, mereka menjual dasi, sepatu, tas, dan…astaga, kaos polo.”

 

“Tebakanku, isinya pasti kaos polo. Aku tidak tahu ini benar atau tidak, tapi aku sempat melihat bungkusan Kent Wang di rumah Alec. Awalnya, aku tidak tahu apa itu, tapi sekarang semuanya terasa masuk akal. Kalau dpikir-pikir lagi, buat apa Radford menghadiahi Alec sebuah kaos polo yang biasanya dipakai untuk musim panas atau semi? Tidak mungkin ‘kan dia akan memakainya di tengah hawa dingin begini”

 

“Eh, Kris, mereka jalan bersama tuh. Sepertinya Alec mengajak Radford ke suatu tempat.” Sehun lanjut mengamati layar komputer.

 

“Aku tidak kaget. Nah, kita ambil saja disc 3 ini lalu pulang. Aku capek dan kedinginan, benar-benar butuh selimut dan segelas seduhan jahe.”

 

Kris sesegera mungkin keluar dari ruangan itu dan menemui Thomas, ia sedang mengurusi dua remaja yang dugaan Kris pastilah dibawah pengaruh kokain. Polisi itu menghentikan interogasinya, lalu bertanya, “apa sudah selesai, Sir?”

 

“Bolehkah aku membawa disc 3? Ini penting untuk kasus yang kutangani.”

 

“Maaf sebelumnya, tapi apa aku boleh tahu kasus apa yang kau tangani hingga Bos Jasper sampai menelepon kemari?” Thomas bertanya dengan hati-hati.

 

“Yang kemarin diberitakan meninggal karena polonium.” Kris membalas cepat, kemudian menemukan ekspresi Thomas berubah keras, Kris balik bertanya, “ada apa? Apa kau salah satu polisi yang memindahkan jasadnya?”

 

“Ya, aku ada di sana waktu itu. Bocah malang, dia tampan sekali padahal.”

 

“Omong-omong, apa tim kepolisian masih mempertahankan JungIn sebagai tersangka?”

 

“Lantas siapa lagi, Sir?”

 

Kris tertawa lumayan keras, ia ingin bilang bahwa Thomas dan tim kepolisian London cukup dungu, tapi tak sampai hati. Satu-satunya yang berpikir bahwa JungIn bukan tersangka adalah Jasper, tapi Kris tahu bahwa polisi tidak hanya mengurusi satu kasus terus menerus, masih ada urusan lalu lintas, pencurian, pemerkosaan, cyber crime, dan lain-lain. Karena itulah detektif ada; untuk mempertahankan sebuah kasus agar tetap terpantau mata polisi meski sudah terkubur di balik berita-berita baru. Setelah berpamitan pada Thomas dan mengucapkan terima kasih atas Café au lait, Kris langsung melangkah lebar-lebar menuju mobilnya.

 

“Suhu keparat, berapa derajat sih?” Kris hampir tidak bisa berjalan karena gemetaran dan salju yang semakin memberatkan langkahnya, namun ia bersyukur bisa sampai di mobil tanpa kejang berlebihan.

 

“Tadi kulihat di ponselmu sekitar lima derajat.”

 

“Ha, sepuluh derajat saja sudah membuatku malas keluar rumah.”

 

“Tapi kau tetap keluar rumah karena kau adalah seorang profesional.”

 

“Itu sekadar pernyataan atau pujian khusus, Oh Se Hun?”

 

“Dua-duanya, hehehe.”

 

__

 

Rumah memang tempat terbaik untuk beristirahat, kendati ini masih pukul tiga sore, cuacanya benar-benar buruk. Kris agak menyesal tidak menonton ramalan cuaca di televisi pagi ini, kalau tahu suhunya sangat dingin ia akan mengenakan pakaian tambahan dan skarf dobel. Setelah berendam air hangat, Kris merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan menyalakan laptop, ia seperti ketagihan akan pemecahan masalah ini.

 

“Tidurlah dulu, aku capek melihatmu bekerja.”

 

“Kemarin siapa yang menyuruhku segera mengurusi semua ini?”

 

Yeah, tapi tidak sesering ini, kau juga butuh istirahat. Seingatku, dari tadi kau tidak makan kecuali Café au lait dari kantor polisi.”

 

“Kalau sudah bekerja biasanya aku melupakan diriku sendiri. Tapi kau tak perlu khawatir, aku masih hidup kok.” Candaan Kris terdengar begitu garing hingga Sehun tidak tahu harus merespon bagaimana.

 

“Pesan makanan dari The Ledbury ‘kan bisa?”

 

“Aku hanya makan disitu kalau mood, lagipula harganya mahal. Sudah, diam.”

 

Sehun beringsut mendekati Kris, bermaksud menutupi tubuhnya sendiri dengan selimut yang sama, tapi Kris menolak mentah-mentah.

 

“Kau tidur di sofa!”

 

“Apa sih, aku hanya ingin lihat laptopmu dan mengamati rekaman CCTV itu berdua. Sejeli-jelinya mata seorang detektif, takkan jadi jeli kalau dia belum makan, atau mengantuk.”

 

“Pokoknya kau tidak boleh di tempat tidurku kalau ada aku.”

 

Tak ada perbincangan setelah itu, Sehun sibuk membaca ensiklopedia hewan laut hadiah dari seorang gadis remaja yang anjingnya berhasil diselamatkan oleh Kris, dan detektif itu sendiri masih berkutat dengan ribuan spekulasi dalam otaknya yang lelah. Brand Kent Wang tidak terlalu tersohor seperti Gucci dan teman-teman sekelasnya, tapi Alec bekerja di bidang perusahaan tekstil dan pakaian, tentu saja dia tahu siapa itu Kent Wang. Kris menemukan desainer yang satu ini membuka rumah wardrobe di New York dan London, koleksinya banyak diminati pria dengan fashion-style santai.

 

“Eh, Nyonya YoonJi tadi bertanya padamu apakah kau sudah punya rencana akan penangkapan Alec dan kau bilang sudah. Apa rencanamu memangnya?”

 

Well, just wait and see. Ini mungkin cara kacangan, tapi pekerjaan sebagai detektif menuntutku jadi aktor juga. Kalau Alec bisa pura-pura sedih, maka aku juga bisa pura-pura baik.”

 

Kris membuka aplikasi untuk mengedit video, ia bermaksud memotong video itu agar lebih ringkas dan cepat. Semua bukti yang ada di tangannya takkan berarti jika ia tak memilik ‘jurus pemungkas’ yang jitu. Sejauh ini, Kris tidak terlalu sering menginterogasi Alec, pria itu pasti berpikir bahwa Kris sudah menyerah dan mengembalikan kasus ini ke tangan polisi. Tak lama setelah menyelesaikan videonya, Kris menelepon Alec. Pria itu tidak terdengar panik atau takut, nada bicaranya kalem dan penuh wibawa.

 

“Mr.Caldwell? Ini aku, Kris Wu.”

 

“Ah, detektif asal Kanada itu ya?”

 

“Benar. Aku ingin mengajakmu makan malam besok lusa, sekitar jam lima sore. Kau tahu lah, aku kesusahan menyelesaikan kasus ini sendirian. Sama sekali belum ada tanda-tanda pembunuhnya siapa. Bolehkah aku bertanya sedikit banyak mengenai pemuda itu?” Kris beruntung sudah menyusun kalimat itu dalam otaknya, sehingga Alec takkan menaruh curiga apapun.

 

“Tentu saja! Aku masih bersedih atas meninggalnya dia, padahal dia tampan dan masa depannya sungguh cerah. Dimana kita bisa bertemu lusa?”

 

“Di Boqueria Tapas, aku yang traktir.”

 

“That’s very kind of you. Ehm, kalau boleh tahu, apa aku saja yang terlibat disini?”

 

“Oh, kau mengharapkan aku mengundang orang lain? Bagaimana jika Sarah Kenninston? Aku dengar dari Nyonya YoonJi kalau Sarah sempat kerumahnya juga, dia mantan kekasih pemuda itu. Ya Tuhan, aku baru tahu informasi ini beberapa jam yang lalu! Jadi, kau mau datang ‘kan?” Dusta Kris, ia kaget waktu tahu lidahnya selihai itu ketika berbohong.

 

“Oh, ya, tentu aku akan datang.”

 

“Baiklah. Sampai jumpa di Boqueria Tapas, Mr.Caldwell.”

 

“Sampai jumpa.”

 

Kena kau.

 

Sementara Sehun sudah tertidur di atas ensiklopedia berwarna serupa biru langit, Kris memasang alarm agar ia bangun pukul delapan malam. Informasi ini tidak bisa menunggu lama, bahwa rencana penangkapan Caldwell sudah dimulai, maka dari itu malam nanti Kris harus menulis pesan untuk Jasper. Sersan itu harus diberi tahu terlebih dahulu mengenai penyelidikan Kris selama ini; tentang Radford, polonium, dan alasan mengapa Caldwell membunuh pemuda tersebut.

 

__

 

Sebangunnya Kris dari tidur singkatnya, pria itu menghidupkan komputer dan menulis di Microsoft Word dengan cepat, ia menyampaikan beberapa aspek penting yang harus Jasper perhatikan (dengan memberi warna merah dan bold). Kris juga menyuruh Jasper mengundang beberapa wartawan dari The Times, Daily Mail, dan The Sun, mereka akan menyukai penangkapan secara ‘live’ seorang pembunuh bodoh sekaliber Alec Caldwell. Rencananya, Kris akan menangkap Alec sekalian Sarah di Boqueria Tapas, dan yang mengurus segala tetek-bengek keamanan dan izin penangkapan di tempat itu adalah Jasper, dia polisi yang cukup berpengaruh di London. Setelah yakin penjelasannya cukup clear, Kris menekan tombol ‘kirim’. Sekitar dua puluh menit setelahnya, ada balasan dari Jasper.

 

‘Idemu bagus juga, Kris. Aku akan mengurus ini secepatnya, dan tentang wartawan itu, sebaiknya The Times dan Daily Mail saja, The Sun takkan membuahkan hasil yang signifikan. Apa menurutmu selusin polisi sudah cukup? Atau dua? Balas segera.’

 

Alih-alih membalas pesan itu, Kris membuka Yahoo Mesengger dan menulis pada Jasper. Dia sedang online, jadi Kris rasa takkan masalah mengajaknya ngobrol sebentar.

 

‘Jasper, dua lusin! Jangan satu lusin, itu belum cukup mengatasi Alec dan anak buahnya, belum lagi masalah lalu lintas dan kehebohan pejalan kaki.’

 

            ‘Duh, kau bikin kaget saja! Oke, aku akan bawa sejumlah itu dan menuruti skenariomu’

 

            ‘Jangan lupa surat penangkapannya.’

 

            ‘Serahkan padaku, Tuan Detektif.’

 

            ‘Omong-omong, bisa carikan aku nomor telepon Sarah Kenninston? Aku berencana mengundangnya juga.’

 

            ‘Model itu? Model yang rambutnya selalu mengembang dan berpayudara besar?’

 

            ‘Sersan Jasper, bahasamu terlalu vulgar. Pastikan kau menghapus riwayat obrolan kita, jangan ada yang mengintip!’

 

            ‘Ahahaha, kau ini. Akan kucarikan, tunggulah barang beberapa menit.’

 

            ‘Lewat SMS saja, ya?’

 

            ‘Okay.’

 

            Malam hari, rupanya kamar Kris telah menghangat sepenuhnya karena mesin pengatur suhu sudah dinyalakan sejak kepulangannya tadi. Sehun masih tidur, Kris bersumpah baru kali ini melihat wajahnya yang sejelek itu, tapi tak begitu berminat karena dalam otaknya hanya ada dua nama; Alec dan Sarah. Tebakan Kris, Alec pasti sudah menghubungi Sarah dan menyuruhnya entah menerima atau menolak tawaran Kris makan di Boqueria Tapas. Kalau menolak, itu artinya Sarah akan melakukan aksi penyelamatan atau rencana B atau taktik cerdik lainnya. Sementara jika Sarah ikut, semata-mata demi menghilangkan kecurigaan Kris bahwa mereka adalah pembunuhnya. Seharusnya ini sudah biasa, tapi Kris merasakan dentuman tak nyaman dalam dada setiap kali ia memikirkan rencana penangkapan tersebut. Ia sudah lama dicap sebagai detektif gila, hanya orang-orang miskin di daerah terpencil London yang mampu menyewanya. Kris memang gila dalam satu atau dua hal, tapi perkara ia mau disewa oleh orang miskin adalah masalah kemanusiaan. Man, siapa sih yang mau jika ada kasus pembunuhan dalam keluargamu dan tak seorangpun polisi berniat menyelidikinya? Bayaran berapa saja takkan jadi masalah, menolong orang adalah sebuah kepuasan tersendiri untuk Kris.

 

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk membuat ponsel Kris bergetar. Itu dari Jasper.

 

‘071-233-451’ ; nomor telepon flat-nya. Aku tidak tahu nomor ponselnya.

 

            ‘Thx, Jasper. Pastikan ponselmu hidup terus.’

 

Pesan itu berlalu secepat ia datang, Kris mencatat nomor telepon flat Sarah pada notes kecil tempatnya biasa mencatat alamat seseorang. Sambungan telepon rupanya agak terganggu karena cuaca dingin, mungkin kabelnya membeku dan para teknisi harus mempertaruhkan nyawa dengan naik ke tiang listrik pada suhu begini dingin. Ada bunyi ‘tuuut’ panjang ketika Kris menelepon, Sarah pasti sudah mengira sambungan telepon ini berasal dari Kris.

 

“Ha-halo? Sarah Kenninston di sini.”

 

            “Hi, Miss Kenninston! Aku Detektif Kris, apa Mr.Caldwell sudah memberitahumu?”

 

            “Ah, ya, dia sudah memberitahuku bahwa kau akan mengundang kami makan di Boqueria Tapas besok lusa. Well, aku bisa-bisa saja sih datang, tapi tidak yakin bisa memberimu banyak informasi. Aku sudah putus dengannya setahun yang lalu, kami bertemu hanya untuk pekerjaan yang ditawarkan Mr.Caldwell.”

 

“Tidak masalah, sedikit informasi bisa jadi sangat berharga untukku.”

 

“Ehm, Tuan Detektif? Apakah selama ini kau belum menemukan tanda-tanda mengenai siapa pembunuhnya?”

 

“Sejauh ini aku masih memikirkan JungIn. Nyonya YoonJi sampa memecatnya! Aku juga sempat keluar-masuk kantor polisi untuk menanyakan sidik jari dan beberapa hal lain, tapi nihil petunjuk.”

 

Kris bersumpah mendengar Sarah menarik napas lega. Dia mungkin berpikir ‘untung saja Nyonya YoonJi menyewa detektif bodoh seperti Kris’ lalu tersenyum selagi mengeluarkan nada-nada simpatik yang dibuat-buat.

 

“Baiklah, kita bertemu lusa. Aku akan pakai mantel Louis Vuiton warna pink pastel dan tas Gucci senada. Kau pasti mengenaliku dengan mudah, Tuan Detektif.”

 

            “Nona, aku tidak tanya kau mau pakai baju apa, itu tidak penting buatku. Nah, kalau begitu, sampai jumpa lusa! Jangan telat, ya, Nona Louis Vuiton!” Sindir Kris, lalu mematikan sambungan telepon.

 

“Bleh, sombong sekali dia. Mau pakai kain butut juga aku tidak peduli.”

 

Setelah memastikan ‘tamu utama’-nya akan datang, Kris merasa lega. Paling tidak, rencana awalnya berjalan dengan mulus. Besok, Kris tidak akan keluar kemana-mana, Alec bisa saja menempatkan mata-mata yang mengintai dari dalam mobil dan mengikuti Kris kalau-kalau Kris pergi ke kantor polisi menemui Jasper. Ia akan mengurung diri, memastikan semua pesan-pesannya tidak disadap, dan menjaga Oh Se Hun sampai waktunya tiba.

 

__

 

Kris baru benar-benar bangun tepat setelah pukul dua siang, ia mendapat informasi dari Jasper mengenai perlatan tambahan—seperti layar proyektor dan LCD yang disembunyikan—kemudian tidur lagi. Sehun tidak banyak bicara hari ini, ia terlihat tidak baik-baik saja mengacu pada wajahnya yang tidak sumringah. Lebih dari semua hal, Kris lebih mementingkan perkara dokumen mana saja yang harus ia bawa, tidak lucu jika ada satu bukti tertinggal di rumahnya sementara situasi sudah sangat mendukung.

 

Sampai mendekati pukul empat, Kris tidak keluar—hanya pergi ke supermarket sebentar untuk beli bir dan kopi robusta—dan memastikan bahwa Addington Square bebas dari mata-mata Alec atau siapapun itu yang mencurigakan. Segalanya terasa normal sampai waktu menunjukkan pukul setengah lima, Kris merasa dunianya sedang jungkir balik sendiri, perutnya mual hingga ia harus mengunyah dua permen jahe sekaligus.

 

It’s gonna be okay, kau sudah bekerja sejauh ini untuk menangkap Alec.” Sehun berusaha menenangkan detektif itu.

 

“Aku hanya takut mengecewakan Nyonya YoonJi, juga RaeIm, Jasper, dan terlebih lagi…kau. Aku pun ingin membuat JungIn bekerja lagi pada Nyonya YoonJi. Semua yang kulakukan bukan semata-mata untuk menangkap Alec dan Sarah.” Kris mengenyahkan batuknya sementara Sehun mengantar langkah Kris menuju mobil. Salju hari ini tidak begitu lebat, tapi licinnya trotoar tetap saja perlu diwaspadai.

 

“Apa semua bukti sudah kau bawa?”

 

“Sebelum kita berangkat, aku sudah mengeceknya sebanyak sepuluh kali. Kurasa tak ada yang ketinggalan.” Kris menyalakan mesin mobil, melajukannya agak cepat tapi tetap stabil. Ia melatih senyumnya selagi lampu merah menyala, tak ingin terlihat gelisah di hadapan Sarah maupun Alec. Boqueria Tapas sudah terlihat dari jarak lima meter, Kris menghentikan mobilnya tak jauh dari situ, tak langsung keluar demi membenarkan rambutnya.

 

“Apa Sersan Jasper sudah masuk?”

 

“Dia sudah di sini sejak satu jam yang lalu.”

 

“Wartawannya?”

 

“Mereka bersama Jasper, tapi duduk di dua meja yang berbeda. Membaur,  kau tahulah.”

 

Denting bel berbunyi saat Kris masuk, disusul senyum ramah beberapa pramusaji yang Kris yakin telah mengerti skenario penangkapan Alec. Karena Kris minta ditempatkan di lantai dua, seorang pramusaji wanita ikut mengantar Kris sampai ke lantai atas.

 

“Kau sudah tahu tentang ini, miss?”

 

“Soal yang dibicarakan Sersan Jasper? Tentu saja sudah.”

 

Well, aku mengandalkan kalian.”

 

“Semoga beruntung, ganteng.” Pramusaji itu melempar pandangan seduktif ke arah Kris—yang dibalas pria itu dengan kedipan jahil—lalu turun sebelum orang-orang di lantai atas sempat menyadarinya.

 

Sarah dan Alec sudah ada di sana, lengkap dengan piring-piring kosong dan gelas kristal dengan bir terbaik London berdiri di sampingnya. Kris tidak tahu pasti alasan mereka datang begitu cepat, ini masih sepuluh menit sebelum jam lima. Sarah benar-benar mengenakan apa yang ia katakan semalam, sementara Alec memakai setelan jas ketat warna krem cerah yang membuatnya jadi seperti manekin gendut.

 

“Maaf membuat kalian menunggu.”

 

“Ah, tidak. Kami memang sengaja datang lebih awal.” Alec dengan cepat langsung menimpali.

 

“Nah, apa yang ingin kau tanyakan, Tuan Detektif?” Sarah mencondongkan tubuhnya yang semampai, bermaksud menunjukkan kemolekannya pada Kris.

 

“Bagaimana kalau menunggu hidangan pembuka? Tidak baik jika to the point begini.” Kris menepukkan tangan memanggil pelayan, beberapa hidangan appetizer langsung mendarat di meja mereka. Kris yakin Jasper yang memilih menu-menu ini.

 

Sialan, Jasper! Mengapa ia memilih paket yang paling mahal?

 

Sementara mereka menyendok salad dan beberapa buah-buahan kering, Kris menatap Sarah degan wajah tak berminat. Dia cantik,namun peringainya buruk, pantas saja dia diputuskan. Sebelum Kris sempat melontarkan pertanyaan, Alec sudah membuka pembicaraan dengan mengangkat topik JungIn.

 

“Kalau aku jadi kau, Kris, aku sudah menginterogasi JungIn sampai ia mau mengaku. Kalau perlu akan kugunakan cara kasar untuk membuatnya bicara.”

 

“Aku bukan tipe orang yang akan menggunakan cara itu, Mr.Caldwell. Meski harus kuakui cara tersebut lumayan efektif.”

 

Alec menyeringai, seolah mengejek kebaikan hati Kris barusan.

 

“Tidak kusangka JungIn yang melakukan semua ini. Pria itu sudah berada di sana sejak aku belum jadi pacarnya. Jadi, mengapa dia bisa setega itu?”

 

Sekarang, ganti Kris yang menyeringai. Perempuan jalang! Beraninya dia menampilkan wajah sok polos tanpa dosa begitu?!

 

Well, mungkin masalah gaji. Tapi tidak ada bukti yang menguatkan soal itu, aku rasa Nyonya YoonJi cukup kaya untuk menghidupi populasi sebuah kampung kecil sekaligus.” Kris menyendok tomat dan selada secara bersamaan. Sejurus kemudian ia memandang seisi ruangan, Jasper pasti memilih sudut yang tidak bisa dilihat oleh Alec dan Sarah. Dalam skenario, Jasper harus memastikan pintu menuju lantai satu dikunci rapat-rapat tepat ketika main course datang, tujuannya adalah untuk mengalihkan perhatian kedua penjahat itu sementara Jasper menyuruh beberapa anak buahnya menjaga pintu dan menutup jendela.

 

“Apa dia tipe orang introvert?” Kris berpura-pura tidak tahu, sejauh ini akting ‘pura-pura bodoh’-nya sukses.

 

Sarah berusaha menelan lobak bit sambil berkata, “lumayan sih, tapi dia pria yang baik.”

 

“Lantas, jika dia memutuskanmu, berarti kau yang tidak baik, miss.” Kris sengaja mencatat di notes seolah-olah itu penting, bisa Kris lihat wajah Sarah jadi sekusut kismis. Kris tertawa garing, lalu berucap, “hanya bergurau, tidak serius.”

 

Topik perbincangan mereka kian kemari semakin tidak jelas, Alec benar-benar ngotot pelakunya adalah JungIn. Sarah kebanyakan bicara mengenai ‘mengapa-Kris-menyukai-Armani’ sambil menonjolkan lekuk tubuhnya, wanita itu juga kerap kali berkaca pada layar ponsel yang ia bubuhi namanya sendiri di bagian belakang. Main course hendak datang ketika empat pria bertubuh kekar di sudut ruangan berdiri. Setelah tudung saji diletakkan di meja Kris, suasana tiba-tiba menjadi gulita.

 

“H-hey! Ada apa ini?!” Alec berteriak heboh dari kursinya.

 

“Siapa yang mematikan lampu?!” Sarah memekik seperti kucing melahirkan.

 

Kris sesegra mungkin pergi dari kursinya dan bergabung dengan Jasper di sisi lain ruangan, bagian itu bersih dari meja maupun kursi, jadi mereka bisa leluasa melakukan presentasi. Lampu masih belum dinyalakan bahkan ketika sekelompok polisi memborgol tangan Sarah dan Alec—yang membuat keduanya berteriak-teriak layaknya orang kesurupan. Baru setelah Jasper buka suara, lampu menyala, wartawan sudah duduk di dekat Alec dan Sarah, serta LCD dan proyektor telah terpasang. Sehun yang dari tadi duduk diam di dekat Jasper terlihat begitu tegang.

 

“KRIS! APA-APAAN KAU?!”

 

“Apanya yang apa, Mr.Caldwell? Aku hanya berusaha menyelesaikan kasus pembunuhan Oh Se Hun. Itu saja!” Kris bertepuk tangan sendiri. Beberapa pramusaji duduk diam di sisi lain ruangan, wartawan sudah sibuk dengan kamera mereka, sementara Jasper memastikan kerja anak buahnya.

 

“Kau menuduhku dan Sarah? Atas dasar apa kau—“

 

“Atas dasar banyak hal!”

 

“Buktikan!” Lagi-lagi suara Sarah keluar dengan begitu melengking.

 

“Baiklah. Seperti kita tahu, kasus pembunuhan Oh Se Hun terjadi pada bulan Desember tahun lalu, kita ingat betul betapa gempar masyarakat London mengetahuinya sebab Sehun memiliki basis fans yang besar. Omong-omong, mengapa Nyonya Oh Yoon Ji memilihku sebagai pengusut kasus pembunuhan putranya? Tentunya karena aku gila, seperti yang kalian ketahui, banyak orang yang menyebutku gila karena aku suka bicara sendiri. Well, percaya atau tidak, aku memang berbicara dengan Oh Se Hun beberapa minggu belakangan, dia orang yang cerewet,” ada jeda menggelisahkan sementara Jasper memasukkan kaset rekaman CCTV dan flashdisk milik Kris ke laptop, kemudian mulai mengoperasikannya.

 

“Sehun meninggal tanggal dua puluh sembilan Desember di kamarnya sendiri pada usia yang sangat belia, baru sembilan belas. Tak lama setelah kejadian, tim forensik dan beberapa polisi langsung datang untuk menyelidiki, banyak pers dan tetangga yang berjubel di daerah itu. Setelah jenazah diteliti, ada kandungan polonium dalam darahnya, hal itu tentunya mengacu pada satu hal: pembunuhan.” Kris melayangkan pandagannya ke arah Alec.

 

“Nyonya YoonJi datang padaku sambil membawa hasil cek darah Sehun, aku percaya bahwa itu benar polonium. Jika ada yang belum tahu, polonium adalah pembunuh lambat, bisa berbeda efeknya pada setiap orang. Dalam kasus Sehun, jangka waktunya satu minggu sejak Alec meracuni kopi yang diminum oleh Sehun. Tepatnya tanggal dua puluh tiga Desember. Alec melakukan transaksi di dekat Istana Wesminster sebelah barat,” kini layar proyektor menampilkan Alec, Sarah, dan Radford sedang bersua riang, dengan Sarah yang belum menghabiskan sosis goreng.

 

“Dan, mereka  juga pergi ke rumah Sehun pada hari yang sama. Kalian bisa lihat tas cokelat dengan brand Kent Wang, desainer tersebut kutahu menjual dasi, sepatu, tas, dan kaos polo. Hal itu seperti menunjukkan pada Alec bahwa tas itu berisi polonium. Oh, aku belum bilang nama pengedar polonium itu, ya? Dia asal Rusia, namanya Radford Aslanov,” salah satu wartawan terlihat mencatat, lainnya mengandalkan tape recorder.

 

“Apa yang membuatmu menganggap akulah pembunuhnya?” Alec menatap beringas pada Kris.

 

“Mudah sekali, tanya pada Nyonya YoonJi siapa-siapa saja yang bertemu dengan Sehun beberapa hari terakhir. Beliau bilang Sehun sedang cuti musim dingin dan kebanyakan tinggal di rumah. Hanya kau dan Sarah-lah yang mau repot-repot mengunjungi kediaman Oh waktu itu. Mengingat ini polonium, tidak mungkin aku mencurigai JungIn yang katanya paling akhir bersama Sehun. Bisa jadi memang JungIn, tapi kemungkinannya kecil.”

 

“Lalu aku bertemu Yoo Rae Im, asistem rumah tangga keluarga Oh. Dia memberiku rekaman CCTV yang diletakkan di luar perpustakaan dan di luar gerbang. Rupanya, si cerdik Alec telah mengeruk informasi bagian mana dari kediaman Oh yang tidak berkamera, itu adalah perpustakaan bagian dalam. RaeIm waktu itu mengantar kopi untuk mereka berdua. Setelah pembunuhan ini terjadi, aku meminta gadis itu untuk mengirimkan dua gelas kopi tersebut ke tim forensik, tidak ada sidik Alec disitu.” Kris menunjukkan dokumen yang menyatakan sidik jari Alec negatif.

 

“Jika negatif, maka apa hubungannya?!” Sarah menyalak agresif, lalu melirik sebal pada Alec.

 

“Itu artinya Alec berusaha menghapus jejak. Dia pasti menggunakan sapu tangan untuk memegang gagang cangkirnya. Nah, mari kita beralih ke kamera CCTV di luar gerbang, kalian lihat perempuan itu? Yang berjalan mengenakan mantel bulu? Dialah Sarah Kenninston, Si Pengalih Perhatian. Waktu itu Alec ada di perpustakaan, sebab Sarah adalah mantan kekasih Sehun—yang berpura-pura baik—maka Sehun sendiri yang menemuinya di luar, atau mungkin Sarah yang minta bertemu di luar. Wanita itu memberi Sehun berkas yang dibutuhkan untuk pemotretan. Well, jika Alec sudah di dalam, mengapa tidak dia saja yang memberi berkas itu? Toh mereka bertiga ada kaitannya satu sama lain. Itu mengacu pada waktu Alec menuangkan bubuk polonium ke dalam kopi Sehun.”

 

Sejauh ini, Jasper terlihat puas. Sehun hanya menundukkan kepala sambil sesekali menatap Kris dengan penuh rasa terima kasih.

 

“Menurut yang kudengar dari Nyonya YoonJi, Alec adalah rekan kerja Tuan Oh Se Jeong, sementara Sarah adalah mantan kekasih Sehun. Mereka bersekongkol, ya, bekerjasama untuk satu hal: menghancurkan keluarga Oh. Terutama anak lelaki yang akan mewarisi bisnis Oh Se Jeong nantinya.”

 

“Apa ada bukti mereka melakukan transaksi jual beli?” Salah satu wartawan The Times angkat bicara.

 

“Ada. Beberapa hari selang kematian Sehun, aku pergi ke rumah Alec untuk meminta penjelasan. Dia pura-pura sedih, tentu saja, dan menyayangkan kematiannya. Kugunakan kesempatan itu untuk memasang kamera pengintai. Saat aku mendapat kabar bahwa Radford akan datang ke rumah Alec, aku langsung pergi ke sana. Dan, coba lihat ini,” layar proyektor kini menampilkan gambar jernih Alec yang memberikan sekoper uang pada Radford dan menitipkan serbuk polonium.

 

Polisi tidak mencurigaiku, Radford. Tapi alangkah baiknya jika benda berharga ini kutitipkan padamu. Aku akan dengan senang hati menggunakannya untuk yang selanjutnya.”

 

            “Keparat kau, Alec. Cari aman, ya?”

 

            “Kau tahu posisiku. Si detektif gila asal Kanada itu tempo hari kemari untuk menanyaiku perihal kematiannya, aku pura-pura sedih, tentu saja, tapi tidak menyinggung bahwa hal ini ada sangkut pautnya dengan Sarah Kenninston.”

 

            “Mantan kekasih pemuda itu?”

 

            “Ya. Sarah mendendam pada si pemuda, dan aku benci bukan kepalang pada ayahnya. Kurasa kombinasi kami cukup baik. Pemuda itu masih sangat naif, dia percaya saja bahwa Sarah tak menyimpan rasa benci padanya setelah memutuskan hubungan mereka secara sepihak.”

 

            “Jadi, dengan semua bukti-bukti itu, kuharap semuanya bisa menjadi jelas sekarang.” Kris tersenyum lalu memberi hormat dalam-dalam.

 

Presentasi itu berakhir mulus, terjadi diam beberapa saat sebelum para polisi bergegas membuka pintu dan menyeret kedua tersangka. Wartawan berlari mengikuti mereka dengan rakus, Kris masih mematung di tempat sambil menatap Sehun. Jasper pergi, para pramusaji juga pergi. Hanya ada Kris dan Sehun di sana. Dari jauh, dapat Kris dengar Alec memaki-maki sementara teriakan Sarah pastilah menulikan polisi yang menyeretnya. Kris menghampiri Sehun, menatapnya selagi dia menghapus jejak air mata.

 

“Sudah lega sekarang?”

 

“Kau tahu Kris? Aneh rasanya menyebutku sebagai ‘pemuda itu’ atau ‘bocah itu’ padahal yang kita bicarakan adalah aku. Aku merasa terharu karena kau berkata seolah-olah aku ini rekanmu, bukan korban pembunuhan.” Sehun berkata tanpa benar-benar menjawab pertanyaan Kris.

 

“Menjaga perasaan klien itu penting, Sehun.”

 

“Mungkin besok kita tidak akan bertemu lagi, aku sudah menyelipkan surat di kamarku saat kita berkunjung ke rumah kemarin. Kau boleh mengambil semua baju-bajuku, kau juga boleh mempekerjakan JungIn lagi. Dan, terlebih, tolong jaga ibuku.” Kris beranjak meraih bahu Sehun lalu memeluknya. Bagi Kris, Sehun seperti anak kecil yang kehilangan arah dan putus asa.

 

“Ada hal yang ingin kau lakukan malam ini? Sebelum kau…hilang?”

 

“Ehm…naik London Eye?”

 

“Oh, Ya Tuhan. Baiklah, kita ke London Eye sekarang.”

 

“Bagaimana dengan Sarah dan Alec? Polisi mungkin butuh keterangan lebih lanjut.”

 

“Aku sudah menyuruh Jasper untuk tidak menggangguku setelah presentasi ini selesai. Aku bisa ke kantor polisi besok, tapi sekarang kau lebih penting.” Kris lalu turun dari lantai dua. Pramusaji wanita yang tadi mengantarnya berkedip sambil tersenyum menawan, seolah memberikan selamat pada Kris.

 

__

 

Bukannya Kris tidak pernah naik bianglala, tapi ia ngeri juga waktu menengok ke bawah dan melihat daratan bermil-mil jauhnya dari tempat ia duduk sekarang. Sehun tertawa, ia kelihatan senang. Kemeja hitam yang ia kenakan sama persis dengan yang ia kenakan saat meregang nyawa. Tidak ada bintang, hanya ada pancaran bulan yang samar-samar tertutup mendung. Suhu dinginnya bukan main, tapi itu sepadan dengan kerlap-kerlip London yang elok.

 

“Kau tidak takut?” Kris bertanya sambil menoleh ke kiri, Istana Wesminster terlihat kecil sekali.

 

“Aku sering naik bianglala dulu, tapi belum sempat naik London Eye,” jawab Sehun dengan kegirangan luar biasa.

 

Well, setidaknya kau senang.”

 

Sehun menerawang langit, mereka sedang ada di titik paling tinggi dan itu membuat segalanya lebih menakutkan bagi Kris. Tapi setelah melihat wajah bahagia Sehun, Kris jadi berpikir untuk menahan momen ini sementara waktu. Hari-hari yang sibuk tanpa Sehun takkan seribut biasanya. Kris memang sering menerima ‘klien hantu’, namun tidak ada yang seperti Sehun, mereka terlalu meratapi kesedihan. Akan tetapi, bukankah Sehun selalu menampilkan kesan bahwa dia juga hidup? Dia membantu Kris, menyumbang beberapa ide, dan selalu ikut kemana saja Kris pergi.

 

Seperti klien-klien hantunya yang lain, Kris yakin bahwa sebentar lagi Sehun akan menghilang. Sekarang saja—ketika London Eye berputar turun—Sehun hampir terlihat transparan dengan background lampu-lampu London yang beraneka warna.

 

“Apa kita akan bertemu lagi, Kris?”

 

“Mungkin. Kalau waktuku sudah tiba, kita pasti bertemu.”

 

“Ya. Kalau waktumu sudah tiba.”

 

Lalu Sehun menghilang tepat ketika London Eye berhenti berputar dan Kris melangkah keluar dari ruangan sempit tersebut. Menembus salju, kembali ke rumahnya tanpa Sehun mengekor di belakang pria itu.

 

Bulan yang berpendar di balik awan.

Gemintang yang bersembunyi dari dinginnya Januari.

Ada hal yang ingin kusampaikan padamu, wahai jiwa yang mati.

Kita sama-sama manusia: kau, aku dan mereka.

Tapi di antara empat musim, mengapa kau mati ketika temperatur es membekukan hati?

Mengapa jejak berdarahmu menghiasi salju di depan rumahku?

Kala yang singkat ketika kutemukan kau tersedu.

Lalu memandangku, sambil berkata, “tolong aku!”

 

END

 

a/n : fic kriminal pertamaku, dan aku nggak tau ini udah ‘nyambung’ apa belom. Biasanya aku suka survey tempat dulu kalo mau nulis fic, ini kebetulan latarnya pakai London pas musim dingin, jadinya nama2 semacem The Ledbury, Boqueria Tapas, Portobello Road, Addington Square, dan Istana Wesminster adalah tempat asli di London. Mohon pencerahannya dari author-author yang sering bikin fic kriminal/detective story😀 btw, karena sekarang udah liburan semester kayaknya Summer Time bakal lanjut terus gapake macet/?

 

Maaf kalau ficnya kepanjangan xD

 

Mind to review?

41 thoughts on “TEMPERATUR ES”

  1. Ini panjang bangeet tapi asik! Aku bayangin Sherlock Holmes masa hahaha
    Btw aku sempet kaget waktu ternyata Sehun itu udah mati. Hahaha aku sadar sih korban pembunuhannya itu ga pernah di sebut-sebut sebelumnya tapi ya nggak nyangka juga kalo itu bakalan Oh Se Hun.😀
    Aku suka banget sama tulisanmu, Summer Time juga aku suka banget! Cepet update yaa😀
    Oh ya, salam kenal! Aku Nokav dari 96line. :3

    Disukai oleh 1 orang

    1. Salam kenal kak Nokav duhh maap
      kepanjangan :3 lagi asik asiknya nulis
      biasanya lupa lengthnya brp.
      Aku udah kasih clue dikit sih, waktu kris
      nyuruh sehun cari ttg Kent Wang, ada
      kata2 ‘ponsel melayang sendiri’ .
      Makasih kak udah kau baca fic sepanjang
      kaki wu yi fan ini xD summer time nyusul
      kak, bingung mau posting syapah :0
      Salam kenal jugaa, aku Astina 97line ^_^

      Disukai oleh 2 orang

  2. berasa master sun + sherlock holmes digabungin, jdnya wow! kece jg, kris ini detektif indigo gt ya? kliennya ‘nerawang’ gt xD
    sehun bs hilang dg damai akhirnya.. dg naik london eye~😁
    salam kenal dr nurul,90 line 😊

    Disukai oleh 1 orang

    1. Hola kak Nurul😀 , waaa…bener juga ya, baru nyadar kalo ini mirip Master Sun :3 Iya, Kris ini sering dapet ‘klien hantu’ , nah hantunya ini berupa arwah yang ga puas/? sama kematiannya.
      Sip kak, makasih udah baca ^^

      Disukai oleh 1 orang

  3. Ini kayak lagi baca cerita detektif di novel-novel terjemahan gitu yaa. Panjang tapi pas banget. Ngena di hati /berasa apa/ 😆
    Aniway, aku suka banget baca detective story yg seperti ini😄
    salken, Han 96l –

    Disukai oleh 1 orang

    1. Salken juga kak Han (panggil kakak atau Han aja? aku 97line soalnya :D). Hehehe, ketauan deh. Emang akhir2 ini aku sering baca novel detektif luar negeri, gaya bahasanya jadi ngikut deh :3
      Makasih sudah mampir kemari yaa😀

      Disukai oleh 1 orang

  4. haaaaa sepoooot ujian dulu baru kebaca setengah lagi *baca tuh slide jgn baca fic *tapi fic ini kan butuh mikir juga
    aku duga ni sehunnya mati sebenernya. tapi aku suka cara kamu menggambarkan semuanya termasuk adegan pemecahan masalah dan friendship-ish scenenya ^^ ntar aku komen lebih panjang!

    Disukai oleh 1 orang

    1. aku baliiiiiiiiiik crime novel/? pertama yg sukses besar dg research luar biasa dan crime yg manis asem pahit campur supranatural!!!! suka krishun, suka karakterisasinya, suka gimana kamu nggambarin adegan, ngrancang kejahatannya *itu susah bgt tau sampe sekarang aja aku ga bisa2* dan masukin ide ‘klien hantu’ kyk begini deuh astina keren!! kamu kyknya bisa fit ke berbagai genre ya, dan untuk yg satu ini kuacungi jempol banyak! sayangnya aku cuman punya empat :p
      ga nemu kekurangan, so ga bisa banyak ngasih masukan juga hehe. keep writing aja ya, sorry komennya kurang panjang! ^^

      Disukai oleh 1 orang

      1. Duuh, terhura kak liana menyempatkan komen di hari2 ujian. Mangatsss kak. Bagi kalangan expert/? macem author2 ifk yg udah senior (kak liana termasuk nih) plot ini gampang ditebak. Aku ga nemu ide lain, stuck T__T. Dan ngomongin plot, jadi inget fatal plot-nya kakak xD pengen bisa bikin macem tu :3 eh kakak rikuest ke niswa yang xiumin-hani , pair nya bener2 rare😮
        Gausah panjanh gapapa kak, dikomen dobel aja udah seneng❤

        Disukai oleh 1 orang

  5. Huaaaahh keren aku suka ma fic kriminalnya, jdi kris itu bisa liat hantu, heummm kerenn bgtt, dan lgi suka bgt cra bhong kris kkkkk~ kukira sehun itu bner” rekan twnya hantu yg jdi klien, rada sedih gtu pas sehun mw ilang, gk ada yg cerewet lgi dehh aaahhh, suka bgt cra nangkep alec ma sarahh, apalgi penyelidikannya dduhhh bner” daebakkk

    Disukai oleh 1 orang

  6. Kaak ini bagus sangat fic nya.. feel detektifnya dapet.. fic ini rada mirip juga yaa sama drama korea who are you kalo gasalah sih judulnya.. jd d drama itu si pemeran cewek itu biasa bantu hantu korban kriminal gitu…
    Oia, paragraf di akhir cerita yg ditulis italic, apa itu isi suratnya sehun buat kris?

    Disukai oleh 1 orang

    1. Yuhuu, makasih sudah mampir dan menyempatkan komen disini😀
      Who Are You yang main Kim Jae Wook sama Nickhun itu kah? Aku baru mau download drama itu tapi masih keburu donwloand Hyde, Jeklly, and Me yang ada hyun bin nya itu loh /nah curhat/
      Paragraf terakhir itu cuma pemanis aja kok. Isi suranya nanti aku buat terpisah [ceritanya mau ada side story gitu, wkwk xD, semoga sempet nulisnya :o]
      Okeh, once again, thank you so much❤

      Disukai oleh 1 orang

      1. Ohiyaa,, aku lupa bilang. Aku suka sama posternyaaa, kalo ada london eye nya pasti tambah apik tuh…
        Eh, usul juga boleh kaaan? Gimana kalo dibikin juga side story awal mula si detektif Kris bisa liat hantu.. pasti bakal seru…

        Disukai oleh 1 orang

      2. Makasih😀 aku cari london eye yg pas gada ada , jadinya cm big ben sama istana westminster aja yg kliatan😮
        Tadinya sih side storynya mau aku bikim crita kris setelah kasus sehun selesai, isi suratnya gimana, trus tindakan apa yg dilakukan ny.yoonji trhadap alec+sarah, macem gitu deh. Tapi ini aku keburu nulis fic detektif yh baru (masih kris, tp partner dan kasusnya beda, di new york skrng). Makasih sarannya lho, krna ini liburan aku usahakan bikin side storynya😀

        Disukai oleh 2 orang

  7. Nggak tau mau komen apa. Intinya keren, kaktin :(( aku ga nyadar kalo sehun itu hantu, baru nyadar pas ada tulisan ponsel melayang-_- yaampun aku izin kopi ini sebagai literatur pribadi boleh nggak? Untuk rujukan soalnya mau nulis detective story juga😦 boleh yaaa?

    Okay last, keep writing! Ditunggu summertime-nya<3

    Disukai oleh 1 orang

    1. makasih dek Niswaa😀
      hehehe, emng dari situ aku ngasih clue nya, tapi berusaha untuk ga terlalu jelas. boleh doong, creditnya jangan lupa🙂
      semangat buat fic detective story-nya, ntar kalo udah jadi aku boleh dong komen :3 /btw castnya siapa?/

      Disukai oleh 2 orang

      1. Yeay! Trima kasihh^^
        Ohh itu buat request-nya kak liana, castnya xiumin sama hani exid. Hehe kak bisa cek blog aku. Aku lg buka open req fanfic hehe /malahpromosi/

        Oke sekali lg makasih kak udah ngasih inspirasi :3

        Disukai oleh 1 orang

  8. pertama aku kira sehun itu beneran rekan kerja tp pas ada hp melayang mendadak bingung tp sumpah ga kepikiran kalo sehun itu hantu. bener2 fokus sama penyelidikannya. pas kris bilang “pembunuhan oh sehun” baru ngeh jadi sehun udah mati. jadi sehun itu hantu. ya ampuuun….
    tp keren detail kasusnya dan seneng liat hubungan antara kris-sehun.
    keep writing yaaa

    Disukai oleh 1 orang

  9. Uuu ini badaiiii~ udah curiga sih sama sehunnya sejak dia ngilang pas di rumah Nyonya Yoonji trs tiba2 dia udah di kamar aja (kok bisa tiba2 nyelonong), pas di taman dan berakhir dengan ponsel melayang, baru yakin kalo sehun ini nggak terlihat alias hantu. Dan setelah bnyak yg bilang kalo korbannya ganteng, fix pasti Sehun (oke ini biased hahaha)
    Pokoknya ini kereeenn! Keep writing^^

    Disukai oleh 1 orang

  10. WOWWWW two thumbs up !!!! /tepuk tangan heboh/ (?)
    Aku merasa tertipu~ kirain sehun rekan kerja atau sekretaris atau apalah yang bantu-bantu detektif gitu eh taunya….
    Ini fic-nya ringaaaan banget bahasanya, bacanya enak soalnya lumayan panjang tp gak ngebosenin (?)
    Dan ya HUHUHUHU AKU LEMAAAAHH KALO KRIS JADI DETEKTIF GINI GAKUAAAT MZ PASTI GANTENG TENAN Y KAMUU T.T
    Keep writing ya !!! Ditunggu fic lainnya~😀

    Disukai oleh 1 orang

  11. huwaaaaaaa!!!! Asti ini keren banget sihhh :* :* i joah this so much!!!! krishun </3 </3 ah i miss them so muchosss!
    aku bingung mau komentar ttg apa, semuanya udah komplit kaya jamu sidomunc*l sih😀 wkwk
    untuk story-line beuh, serasa baca novela Amerika – Inggeris ini mah. dan aku sangat mengapresiasi keseriusan kamu dalam riset cerita ini!❤ riset itu penting😀
    dan untuk struktural cerita, no komen no komeennnnn! seems like no celah; aku tahu dan sangat tahu mmebuat crime-fict (apalagi ada supernatural-nya juga) itu tidak gampang dan butuh yang namany kejelian dan kecerdasan, dan aku tahu ini kamu bangettt🙂
    salut juga untuk karakterisasimu yang sungguh sangat banyakkkk berhasil, hehe! dan lagi-lagi, kamu berhasil membuatku makin klepek2 sama mas wu di sinii.
    sejujurnya, kesan supernatural dari oh sehun ini bisa dicerna dari sentilan-sentilun yang kamu sisipkan melalui dialog ironisnya si kris lho dan ternyata, baaaaaammmm! tebakanku benerr kan. (baru kali ini bener, soalnya hahaaha)
    well, aku gabisa berkomentar lebih panjang daripada ini, Asti makasih banyak ya sudah membuat fict sekeren ini, huhuuu❤❤❤❤❤
    semangat terus untuk menulisnya dan happy holiday🙂
    stay health, love xx!!!

    Disukai oleh 1 orang

    1. XIAAAAN❤ duuhh, cinta deh sama komen kamu yang sepanjang kaki mas yifan ini /slapped/❤ KrisHun shipper nih? Wkwkw, tos dulu dong /tos/
      Well, kadang-kadang nih xian, readers tuh ada yang ga perhatiin sejauh mana kita research, syukur baca aja dikira nama fiksional or something like that. Aku kadang juga gitu sih, beuh kalo baca novelnya tante JK.Rowling yang terbaru itu [settingnya London juga] aku jadi pusing sendiri, bayanginnya separo2 [soalnya ga pernah ke London sih]. Tapi kalo ga riset dulu, pastinya malu kalau dibaca yang udah senior, padahal nulis itu harus sepenuh jiwa /ciee/
      Wkwkw, iya, lewat beberapa dialog memang aku slempitkan/? biar ada 'lampu kuning' buat pembaca, kalo gak aku kasih gitu ntar ngerem dadakan bisa nabrak /ini ngomong apa/ ehehe, maksudku biar ga kaget kalo ternyata Sehun-nya hantu :3
      Baru kali ini bener? Tos lagi /tos/ , aku suka salah nebak kalo baca Ridlenya kak nyun, berasa orang paling lemot di dunia X_X
      Iya sama-sama Xian, makasih juga udah komen dan mau baca😀
      Happy Holiday and Happy New Year, too!❤

      Disukai oleh 1 orang

  12. THIS.IS.AWESOME

    Di antara banyak fanfic detektif yg aku baca, ini masuk daftar TERKEREN, kak. Wkwk
    Aku langsung mlongo pas tau yg meninggal tu OhSe ternyata :0
    Plot twist nya badayyyyy
    Oiyaa, poin plusnya lagi: nggak banyak typo (atau malah nggak ada ya) sama udah mengikuti EyD *maapkan grammarnazi wkkw*
    Syemangat, kak. Kutunggu karyamu selanjutnya.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Yuhuu, makasih sudah mampir dan baca ya🙂
      Sebenernya aku gak jago bikin plot twist, logikaku kadang gak mau diajak kompromi :v
      Masalah typo, aku bocorin dikit ya, sbenernya setelag posting ini, aku baca lagi dari awal smpe akhir, and the result is : so many typos! Hiks. Nulis m ketuker n seringnya :3 aku sempet ngebatin : ini reader nyadar apa gak ya –”
      Pokoknya makasih udah mampir kemarii, lafyaaa❤

      Disukai oleh 1 orang

  13. Hehehe,
    I read it again ~
    But still awesome !!
    It doesnt make me boring at all??!!
    SO AWESOME!! (sorry im from Malaysia and that’s why im writing in English,i understand Indo but..,don’t know how to speak)…hehe sorry : D
    Anyway this is the best of all the detective FF ive ever read ~

    Disukai oleh 1 orang

    1. And this is your 2nd comment, thank you ^^
      Really? I thought the plot is too predictable, but glad to see you enjoying this fic😀 . I’m on my way writing this kind of fanfic again, still with Kris as detective, but he has a new partner (not in London, but New York :3)
      Thank you soooo much for your compliment xD by the way, do you have IG account or wordpress? Facebook is okay, i’d like to know you more ^^

      Oh, my name is Astina, you can call me Tina. 97line. Nice to meet you😀

      Disukai oleh 1 orang

  14. Pas udah baca bagian akhir, “eh kok Oh Se Hun? ini typo ya? eh, tapi kok banyak banget? ” pas baca bagian “Aku memang detektif gila yang suka bicara sendiri”
    serasa ada lampu yg nyala dikepala(?)
    Kamvreeett, Oh sehun ini udah matiii… dia yang diselidikin sama Krisss. Gaak nyangka, maan(?)

    Suka

  15. Ini KEREN Uhuyy!!!
    Panjang bgt pula, yaa..😄
    Settingnya kece badai (maksudnya deskripsinya, berasa diajak jalan2 ke luar negeri hohoho)
    Stlh kaget sm kenyataan bahwa Oh Sehun yg hobi nempel2 Kris everywhere everytime (?) ternyata metafisik, otakku langsung Ting! ke dram-kor Cheo Yong Paranormal Detektif. Cheo Yong selalu ditemenin hantu pas bertugas, bedanya hantunya itu cewek😀
    Apapun, ff ini BAGUS (y)

    Suka

  16. Keren bgt ceritanya. Awalnya konyol liat kris dan sehun yg berantem dan gag prnah nyangka klo korbn pembunuhan itu oh sehun . Awalny kuoikir sehun asistennya kris eh tryata.. malah klien hantunya kris. Salut deh walaupun ini ff detectiv prtama tapi dah keren dan alurnya da bkin kta ikut nebak dan mikir slnjtnya yg bkal trjadi..

    Salut deh

    Suka

  17. Aku tauuuu! Sehunnya memang hantu dari pertama aku baca ficnyaaa. Dan itu keren bangett! Aku nyadarnya dari dia duduk gak sama kris pas diawal itu dan sehun cuma ngikutin kris /? Penjelanan rincinya juga kereen, aku berasa baca novel terjemahan setingkat sherlock holmes?? Wkwk sukaaaa

    Suka

  18. br nemu ff ini. ya ampun Thor, aq ga nyangka klu sehun itu trnyata korbannya dan udh mati. pantesan aneh aja wktu kris lg sibuk menyelidiki kasus, trs sehun malah ribut mau ke london eyes…..
    lnjt Thor, crtanya bagus…..

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s