[Vignette] Boy’s Perspective

boys-perspective

a movie by tsukiyamarisa

starring [SEVENTEEN] Vernon (Choi Hansol) and [OC] Choi Lula with [WINNER] Kang Seungyoon duration Vignette (1000+) genre Family, Hurt/Comfort, slight!Romance rating 15

related to Void

.

“Sebagai sesama laki-laki, kurasa aku paham mengapa Seungyoon Hyung bertingkah seperti tadi.”

.

.

.

“Biar kutegaskan sekali lagi. Nuna mengajakku pergi karena tidak ada teman?”

“Memang kenapa?”

“Karena tidak ada teman?” ulang Hansol, sementara Lula—si kakak sepupu—memutar kedua bola matanya. “Tidak ada teman atau kesepian karena baru saja putu—”

.

.

Pletak!!

 .

.

Ouch!

“Siapa yang kesepian, hah?!” bentak Lula tanpa basa-basi, menghentikan langkah mereka tak jauh dari halte bus. Sang gadis kini menyilangkan kedua lengannya di depan dada, menatap Hansol dengan sorotan tajam. “Aku tidak kesepian, Choi Hansol. Aku hanya butuh orang yang mau kuajak mencari makan siang, dan adikku sedang sibuk dengan tugas kuliahnya.”

“Dan Seungyoon Hyung tidak bisa menemanimu lagi.”

“Choi Hansol!”

Nada suara Lula kini cukup keras, mengundang tatap ingin tahu sementara Hansol malah tergelak karenanya. Rupa-rupanya, penyebutan nama si mantan kekasih itu bisa memancing emosi kakak sepupunya naik ke permukaan. Suatu hal yang Hansol anggap menarik, mengingat Lula sendirilah yang memutuskan Seungyoon kala itu.

“Aku hanya menyatakan fakta, lho, Nuna,” sahut Hansol santai, bergerak untuk merangkul Lula dan menyeretnya ke halte bus. “Oh, selain itu, aku juga berusaha melihat sisi positif dari semua ini.”

“Sisi positif?”

“Seperti mendapat makan siang gratis, misalnya?” Hansol mengedikkan bahu, terlihat sama sekali tak berkeberatan dengan perlakuan atau teriakan Lula tadi. Lagi pula, ini juga bukan hal baru. Hansol sudah amat memahami perangai kakak sepupunya itu sehingga—

.

.

“Hansol-a.”

“Ya, Nuna?”

.

.

Lula tak langsung menjawab, memilih untuk berhenti menggerakkan tungkai hingga Hansol terpaksa ikut bergeming. Mereka kini telah tiba di halte, manik mengamati jejeran kursi yang tak terlalu penuh. Ada dua orang gadis remaja yang sedang berceloteh di satu ujung, wanita berumur lima puluhan dengan tas belanja, serta seorang lelaki yang….

“Seung—“

“Ayo kita cari tempat makan di dekat sini saja. Tidak perlu naik bus.”

Memotong ucapan Hansol, Lula langsung menarik tangan adik sepupunya itu. Tanpa perlu diucapkan pun, sang gadis sudah bisa melihat siapa yang duduk di pojokan sana. Oh, bodohnya ia, lupa bahwa halte ini terletak tak jauh dari kampus Seung—baiklah ralat, kampusnya dan mantan kekasihnya. Kang Seungyoon selalu menggunakan halte ini, jadi kenapa Lula harus melangkahkan kakinya ke sini, sih?

Nuna?”

“Lula?”

Namun, layaknya adegan dramatis dalam drama-drama televisi, lelaki di pojok sana ternyata memutuskan untuk mengangkat kepalanya. Mengucapkan nama sang gadis, bersamaan dengan panggilan dari Hansol—si sepupu yang hanya bisa geming karena situasi menjadi terlalu canggung.

“Ayo, Hansol-a.”

“Choi Lula?”

“Choi Hansol, a—“

“Lula, aku mau bicara denganmu sebentar.”

Mungkin, peruntungan Lula sedang tidak baik. Atau mungkin, ia memang tidak ahli dalam menghadapi urusan percintaan yang kandas karena lidahnya sekarang terkunci. Apa pun alasannya, Lula juga tidak tahu mengapa ia membiarkan Seungyoon menggenggam pergelangan tangannya selagi ia menoleh lamat-lamat.

“Tidak ada yang perlu kita bicarakan,” sahut Lula, berusaha menarik tangannya dari genggaman Seungyoon tatkala ia telah sepenuhnya sadar dengan kondisi saat ini. Gadis itu kini cepat-cepat melemparkan tatapnya ke arah Hansol, memberi kode kalau ia ingin segera angkat kaki. Paham, Hansol pun mengangguk dan mengizinkan Lula untuk menggamit tangannya lagi. Hendak melangkah pergi, tetapi—

“Apa kita putus karena kamu menyukai lelaki lain?”

Satu tanya, dan detak jantung Lula rasanya berhenti sesaat. Tuduhan tadi bagai memakunya di tempat, lambat laun menarik emosinya ke permukaan. Sang gadis memang sudah biasa dikatai galak, keras kepala, atau dicap macam-macam oleh teman di kampusnya. Namun, ini berbeda. Ini adalah Kang Seungyoon; orang yang pernah menjadi kekasihnya, yang waktu itu berkata kalau Lula berbeda dan ia mengerti, yang selalu menegaskan kalau Lula tidak segalak kelihatannya. Seungyoon tidak pernah berprasangka buruk padanya; dan entah mengapa, mendengar kata-kata itu keluar dari bibir sang lelaki sanggup membuat hati Lula terluka.

“Kenapa kamu berpikir demikian?” Lula membalas perlahan, berdecak kesal sebelum mengimbuhkan, “Apa kamu cemburu, melihatku berjalan dengan Hansol? Ketika kita bahkan sudah tidak berpacaran?”

“Itu… aku hanya….”

“Hansol ini sepupuku,” tandas Lula, tak memberi Seungyoon kesempatan untuk menjelaskan. Alih-alih, ia malah menghadiahi Seungyoon sebuah sorotan sinis, menutupi rasa sesak yang tiba-tiba muncul dengan kata-kata, “Dan kurasa, kamu belum berubah. Sudah paham, ‘kan, apa alasan kita putus?”

Kalimat itu meluncur dengan nada dingin, nada yang sering Lula gunakan pada orang-orang yang tidak ia sukai. Sukses membuat Seungyoon bungkam, mungkin sedang membenarkan serta merutuki kebodohannya sendiri sementara Lula melangkah pergi. Mengajak Hansol yang masih tutup mulut sejak tadi, tak yakin harus berkata apa karena….

Nuna?”

uh, Hansol bersumpah ia baru saja melihat sebulir air turun dari sudut mata kakak sepupunya.

.

-o-

.

Sejak dulu, Hansol mengira kalau Choi Lula itu gadis yang kuat.

Ketika keluarganya kembali ke Seoul enam tahun lalu, kedua kakak sepupunya—Lula dan Youngjae—tidak bisa dibilang hidup dalam keadaan mudah. Hansol ingat bagaimana Lula selalu berusaha melakukan kerja paruh waktu, mencari uang lantaran pekerjaan ayah mereka makin lama semakin tidak jelas. Ia mengetahui semua itu lantaran dirinya sering bertandang ke rumah mereka, membawa makanan buatan sang ibu untuk sepasang kakak-beradik itu.

Tetapi, tidak pernah barang sekali pun Hansol melihat Lula menangis.

Seberat apa pun itu, Lula hanya akan memasang tampang muram yang lekas ditutupi dengan kegalakannya. Menampakkan keteguhan hatinya dalam menghadapi hidup yang berat, tak peduli apa komentar orang di luar sana. Hansol tahu kalau Lula melakukan itu untuk Youngjae, berpura-pura kuat demi adiknya. Jadi…

Nuna, minum dulu, nih.”

…wajar, ‘kan, kalau sekarang ia merasa sedikit khawatir?

Masalahnya, Lula baru saja membuang topeng tegar itu karena seorang lelaki. Oke, Hansol perjelas, seorang lelaki yang merupakan mantan kekasihnya. Masalah cinta itu memang rumit—Hansol toh pernah berpacaran dan diputuskan juga—tetapi ia tidak menyangka kalau kisah Lula bisa serumit ini.

Atau mungkin, romansa ala anak SMA yang baru lulus seperti dirinya dengan mahasiswa itu berbeda?

Aduh.

Nuna—

“Berhenti memandangiku seolah aku makhluk paling malang di dunia, Choi Hansol.”

Seketika, Hansol pun bungkam. Memilih untuk memainkan nasi goreng dan potongan ayam di piringnya, dengan berat hati merelakan cheese burger yang tadinya dijanjikan sang kakak. Pertemuan singkat di halte bus tadi telah mengacaukan segalanya, membuat Hansol hanya bisa setengah melongo dan memandangi Lula yang tengah menyantap porsi makannya dengan rakus.

Khas orang yang sedang patah hati.

Tapi ‘kan…

Bukankah kakak sepupunya itu yang memilih untuk mengakhiri hubungan dengan Seungyoon?

“Iya, memang.”

“Hah?”

“Tadi kamu bertanya, aku ‘kan, yang memilih untuk mengakhiri hubungan?” timpal Lula, sementara Hansol tersadar bahwa ia baru saja menyuarakan isi pikirannya. “Jawabannya iya.”

“Eh, maaf Nuna, aku—“

Lula mengibaskan sebelah tangannya, beranjak untuk meraih sepotong ayam dari piring Hansol. Menelannya, lantas beralih menyambar gelas milik Hansol untuk menandaskan isinya. Dalam situasi normal, tentunya lelaki itu akan protes. Tapi, untuk kali ini, ia hanya bisa diam tak berkutik. Maksud hati ingin memperpanjang konversasi, namun gagal karena Lula baru saja memandanginya lekat dan bertanya, “Apa semua lelaki seperti itu?”

“Seperti apa?”

“Posesif,” jawab Lula singkat, pandang beralih pada keramaian di kedai makan sebelum melanjutkan, “Suka menuduh yang tidak-tidak. Mudah cemburu. Berpura-pura mengerti masalahku tapi—“

“Dalam kasus Nuna, kurasa Seungyoon Hyung tidak ‘pura-pura mengerti’.”

 Sebuah delikan serta-merta diberikan pada Hansol.

“Aku serius.”

Ck, tapi dia selalu berkata kalau dia paham. Dan tadi, ia menuduhku sudah punya pacar baru!”

Nuna bisa merajuk juga, ya?” komentar Hansol, lekas-lekas menghindar sebelum Lula sempat menjitaknya. Well, toh ia juga sudah terlanjut berkata-kata. Tidak ada gunanya menarik lagi apa yang telah diucapkan, terlebih karena semua tuduhan Hansol barusan agaknya tepat sasaran.

“Choi Hansol.”

“Kalau masih suka, kenapa minta putus?” Hansol mengangkat bahu, berpolah seakan kuriositasnya sudah jelas. “Mungkin, Seungyoon Hyung berkata seperti itu karena ia masih sakit hati setelah diputuskan. Ia mencoba memahami Nuna, hanya saja—“

“Ia tidak memahamiku!”

“Kalau tidak paham, lantas mana mungkin ia suka pada Nuna?” Hansol menggeleng-gelengkan kepalanya, menambahkan dalam bisikan, “Aku jadi merasa lebih tua dan berpengalaman di sini.”

“Aku dengar itu.”

Namun, Hansol tak lagi peduli atau takut dengan kemungkinan dimarahi Lula. Kakak sepupunya ini jelas butuh bantuan, bahkan meskipun bantuan itu datang dari seorang amatir seperti Hansol. Lagi pula, satu atau dua saran tak akan membuat keadaan makin runyam, bukan?

“Dengar ya, Nuna.” Hansol memulai, menyilangkan kedua lengan di depan dada untuk menunjukkan bahwa ia serius. “Aku tidak tahu apa masalah kalian sebenarnya, tapi aku tahu kalau Nuna masih suka padanya.”

“Aku tidak—“

“Kalau tidak suka, untuk apa Nuna marah-marah? Sebagai sesama laki-laki, kurasa aku paham mengapa Seungyoon Hyung bertingkah seperti tadi,” lanjut Hansol, diiringi helaan napas panjang. “Ia pasti bisa melihat kalau Nuna masih suka padanya, makanya ia tidak paham dengan alasan putus yang Nuna berikan. Selain itu…”

“Ada lagi?”

Hansol mengangguk mantap. “Baginya, ia masih merasa kalau ia itu lelaki yang baik bagi Nuna. Tadi, Nuna bilang kalau Seungyoon itu satu-satunya orang yang paham, bukan? Apa masuk akal, memutuskan orang yang selama ini mengerti dan memahamimu?”

Skak-mat.

Oh, bukannya Hansol bangga karena ia berhasil membuat Lula diam tak berkutik. Mereka kini sama-sama diam, saling melempar pandang datar tanpa ada niat memecah keheningan. Agaknya, Lula sedang mempertimbangkan kata-kata Hansol barusan. Mungkin mencari cara untuk berargumen atau membela diri, karena ucapan yang keluar dari mulut gadis itu berikutnya adalah, “Aku masih tidak menyukainya, sikap posesif itu.”

“Sikap Seungyoon Hyung?”

“Apa lagi?” balas Lula gemas, menusuk potongan ayam di piring Hansol—lagi—dengan garpunya sebelum melanjutkan, “Dia mudah sekali cemburu, tak mau mengerti bahkan ketika aku pergi dengan teman-temanku. Ayolah, Youngjae saja bahkan tidak seperti itu padaku. Aku tidak bisa berpacaran dengan orang seperti itu, Hansol-a!”

“Tapi, Nuna masih suka padanya, ‘kan?” Hansol tetap mempertahankan pendapatnya, enggan mengalah. “Dua minggu lebih berlalu, dan Nuna masih saja bersikap aneh macam ini. Nuna tahu apa yang diinginkan Seungyoon Hyung? Kurasa, ia ingin Nuna bisa memahami rasa cemburunya itu!”

Untuk kali kedua, Lula bergeming. Mengatupkan bibirnya rapat-rapat, mengempaskan diri pada sandaran kursi yang ia duduki dengan kesal. Amarahnya memuncak, bukan untuk Hansol, melainkan ditujukan pada dirinya sendiri. Yeah, mungkin memang benar jika hati wanita dan lelaki itu tidak beroperasi pada frekuensi yang sama. Dan perkataan Hansol tadi—seberapa pun kurang ajarnya dia—telah cukup untuk membuat Lula kurang lebih memahami sudut pandang Seungyoon.

Membuatnya hanya bisa diam tertunduk, menunggu menit-menit berlalu sampai akhirnya ia mengambil keputusan. Keputusan yang mendorongnya untuk mengambil dompet dan meletakkan sejumlah uang di atas meja, lantas berjalan keluar dan meninggalkan Hansol seorang diri di sana.

Nuna?”

“Jangan ikuti aku. Aku butuh berpikir, oke?”

Maka, Hansol pun menurut. Mengangkat bahu dan memilih untuk menghabiskan jatah makannya yang tersisa, tak ingin menyia-nyiakan apa yang sudah dibeli. Lagi pula, semarah-marahnya sang kakak, Hansol tahu kalau ia tidak melakukan hal yang salah. Tidak karena ponselnya baru saja bergetar, menampakkan satu pesan singkat dari Lula yang membuatnya mengulum senyum geli.

.

.

.

Trims, adik sepupuku yang kurang ajar.

.

.

.

fin.

8 thoughts on “[Vignette] Boy’s Perspective”

  1. Ini kenapa dah Hansol jadi bijak begini? Kesamber petir? Kepentok lemari? Apa kepleset salju? Hahaha😀
    Btw kadang emang ngeselin ya cowok posesif tuh. Tapi cewek yang lagi bete karena bingung sama perasaannya sendiri -kata anak cowok- lebih ngeselin masa. Hahaha😀
    Eh, salam kenal ya! Aku Nokav dr 96line. Aku suka banget sama tulisan-tulisan authornim ini :B

    Suka

  2. Yhaaa tanda tanda balikan nih kayaknya.. jadi penasaran sebenernya atas dasar apa lagi yang bikin mereka putus. Yasudahlah mungkin nanti ada takdirnya mereka akhirnya bersatu kayak mermaidman dan barnacle boy ((apasih))

    Cie hansol mentang-mentang baru rilis Q&A kemaren langsung jago soal cinta sampe kakak sepupunya diceramahin. Jadi pengen ((gak))

    Kutunggu lanjutan dari kedua sejoli yang baru putus itu hmm..

    Suka

  3. Wokeehh fix. Belum abis kepingan cerita seungyoon lula putus, di sini dah mau balikan aja.

    Perspektif hansol lumayan jugak buat referensi pemahaman atas 1002 tingkah laki-laki yang tak kupahami. Mbak amer cewe. Tapi it seems that kakak ngerti banget jalan pikiran cowo. //yaiyalah kalo dibanding ana yang masih dibawah umur//

    Tapi satu hal yang ingin kukatakan pada Hansol, kadang suka atau rasa cinta tidak menjamin keamanan suatu hubungan. Okidi gamau cuap segar disini bikos im still amateur too.

    But mbak amer thanks banget itu kaliamt-kalimat hansol. 😄😄

    Good job kak. 😊

    Suka

  4. BALIKAN BALIKAN
    vernon bhay banget, kamu sadar gak kamu ngomong apa disini? duh, ga nyangka pake banget, haha.
    dan suka pas di part yang intinya “jadi galak biar ga keliatan lemah buat jadi contoh buat adeknya” ah love banget kakak strong!

    Suka

  5. aku baru baca ini ;;;;;;; hhuhu telat banget.
    herannn, gagal ngerti kenapa isu-isu mutakhir(?) khas anak remaja yang kak amer bawa itu always ngena di hati ih. toppp!!
    ya, dan terkadang advais-advais yang mujarab itu memang datang dari kaum-kaum yang kurang berpengalaman di lapangan tapi cukup memiliki wawasan yang luas macem vernon. well, aku juga mauu dong punya sepupu cheeky kaya hansol eh ralat, tapi pacar, (hahahaha)!
    two thumbs buat ceritanya, kak! fict yang lain ditunggu, keep writing😀

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s