[Vignette] Of Photograph and Betting

of photograph and betting

Of Photograph and Betting

presented by thelittlerin

.

BTOB Yook Sungjae, APINK Kim Namjoo

Romance, Fluff | PG-15 | Vignette

.

“Yang menang berhak meminta apa saja dari yang kalah.”

Sungjae duduk bertopang dagu di meja di pinggir jendela, uap panas dari cangkir kopinya menerpa wajah. Memandangi lalu lalang orang-orang di jalanan dan butiran-butiran salju yang turun sore ini, dilengkapi dengan riuh rendah suara obrolan di kafe tempatnya berada.

Lelaki itu menutup wajah, menikmati sensasi aneh yang menerpa tubuhnya—perpaduan antara penghangat ruangan dan udara khas musim dingin.

“Kamu serius ingin seperti ini, Sungjae-ya?”

Pertanyaan dari Namjoo tak ayal membuat Sungjae membuka kembali kedua mata. Ekspresi sebalnya jelas terbaca, tak terima sang kekasih mengganggu momen miliknya.

“Lakukan saja, Kim Namjoo.”

“Baiklah, baiklah. Tapi kalau kamu melihat ke kamera lagi, aku berhenti,” jawab Namjoo sembari mengangkat handphone di tangannya. Memosisikan kameranya agar sosok Sungjae dapat terpotret dengan baik dan benar.

Sebelah tangan terangkat, memberitahu Namjoo agar ia tak perlu khawatir. Sesudahnya, Yook Sungjae kembali memasang pose yang sama seperti sebelumnya. Bertopang dagu sembari memandangi jalanan di luar kafe—jangan lupakan ekspresi wajahnya yang terlihat seperti sedang memikirkan hal-hal filosofis.

Lampu kilat menyala dan suara shutter kamera terdengar. Sungjae tersenyum puas dan Namjoo meringis geli—sungguh reaksi yang amat jauh berbeda.

“Sini, biar kulihat dulu,” kata Sungjae dengan tangan terulur, meminta kembali handphone miliknya.

“Aku tak percaya bisa setuju dengan idemu ini,” gumam Namjoo sembari mengembalikan benda kotak di tangannya. Lantas menyesap kopi miliknya sembari bergidik geli, masih mengingat hasil foto Sungjae yang baru saja diambilnya.

“Hasilnya bagus kok,” ujar Sungjae membela diri. Kemudian jemari tangannya sibuk mengutak-atik handphone-nya, entah apa yang sedang ia perbuat dengan benda itu.

Namjoo mengerucutkan bibirnya dengan kedua tangan menopang dagu. Penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Sungjae, namun lelaki itu tak membiarkannya melirik barang sedikit pun. Kopi miliknya sudah tak mengeluarkan uap sejak beberapa saat lalu, tetapi Namjoo tetap saja menyesapnya pelan-pelan, takut kalau-kalau rasa panas menyentuh lidahnya.

Keheningan sempat mengambil alih untuk sementara waktu sampai handphone Namjoo berbunyi. Gadis itu mengenyitkan kening saat melihat nama yang terpampang di layar, kemudian memandang Sungjae heran. Untuk apa lelaki itu mengiriminya pesan padahal mereka sedang duduk berhadapan?

“Yook Sungjae, ini menggelikan,” kata Namjoo setelah melihat isi pesan dari Sungjae. Lelaki itu mengirimkan fotonya tadi yang sudah digabungkan dengan foto Namjoo. Juga tak lupa ditambahi efek-efek tertentu—membuat Namjoo bergidik geli sekali lagi.

“Kenapa? Bukankah itu bagus?” tanya Sungjae, merasa tidak terima karyanya dilecehkan.

Tidak ada jawaban yang terdengar. Kim Namjoo masih meringis geli melihat hasil karya Yook Sungjae—walaupun begitu, ia tetap menyimpannya.

“Namjoo-ya,” panggil Sungjae tiba-tiba. Dan ketika ia bersitatap dengan mata Namjoo, Sungjae menambahkan,”mau bertaruh?”

Tatapan heran kembali tertuju untuk Sungjae.”Bertaruh apa?”

Tanpa membuang waktu, Sungjae mengubah posisinya. Mendekatkan kursi yang didudukinya ke meja agar ia bisa lebih dekat dengan Namjoo. Wajahnya berubah menjadi serius, tetapi Namjoo tahu hanya ide aneh yang berada di benak Sungjae sekarang.

“Jadi, kita kirim foto itu ke group chat, aku urus para lelaki berisik itu dan kamu urus para ladies. Lalu kita menebak siapa yang akan merespon paling cepat,” jelas Sungjae dengan mata berbinar. Jelas sekali kalau ia sangat bersemangat dengan idenya ini.

“Boleh juga,” kata Namjoo setelah beberapa saat berpikir.”Kita mengirimkannya bersamaan atau bagaimana?”

Sungjae mengulum bibirnya sejenak, menandakan ia sedang memikirkan perkataan Namjoo.”Kamu duluan.”

Namjoo mengangguk-angguk setuju. Tangannya dengan cepat meraih handphone miliknya di atas meja, bersiap mengirimkan foto—yang menurutnya menggelikan tadi—pada teman-temannya. Namun, sebelum ibu jari tangan kanannya sempat menyentuh tanda ‘pesan’, gadis itu mendongak,”siapa tebakanmu?”

“Choi Rin.”

Gadis di hadapannya  menatapnya sangsi.”Yakin? Rin jarang muncul lho, dia lebih memilih membaca semuanya dan menertawakan kebodohan kami, kecuali jika suasana hatinya sedang baik atau percakapan kami terlalu aneh atau dia sendiri yang memulai percakapan.”

“Siapa tahu dia sedang baik hari ini,” balas Sungjae tak mau kalah.”Kamu?”

“Yook Nana.” Dengan senyum jumawa, nama kakak kembar Sungjae keluar dari bibir Namjoo.

“Suasana hatinya sedang buruk akhir-akhir ini,” gumam Sungjae.

Kim Namjoo tak ambil pusing dengan ucapan Sungjae. Toh ibu jarinya sudah menekan tanda ‘pesan’ bahkan sebelum Sungjae sempat menyelesaikan kalimatnya. Dan ia tahu, dirinya tak akan diberi kesempatan untuk mengubah pilihan.

“Lalu apa?”

“Apa lagi? Tunggu saja.”

Sebenarnya Namjoo sangat ingin memarahi lelaki di hadapannya itu. Namun, tak ada yang salah dengan perkataannya. Sungjae benar, yang bisa mereka lakukan saat ini adalah menunggu seseorang untuk segera mengomentari foto yang dikirimkan Namjoo.

Keduanya terdiam. Menunggu dan menunggu sembari menyesap kopi masing-masing.

“Omong-omong, apa taruhannya?”

Ddakbam?”

“Kamu mau melakukannya padaku?” tanya Namjoo tak percaya. Walaupun sebenarnya ia tak perlu heran, Sungjae ‘kan memang seperti itu.

“Memangnya kamu ada usul lain?” tanya Sungjae balik. Ketika Namjoo menggeleng pelan, ia hanya bisa mencibir pelan.”Kalau begitu, deal. Bagaimana perkembangannya?” tanyanya lagi sembari menunjuk handphone Namjoo.

Ya, lihat ini. Sudah ada dua orang yang membaca tapi belum ada yang membalas,” kata Namjoo sambil menunjuk layar handphone-nya.

“Apa—“

Ting!

Dering pemberitahuan itu memenuhi indera pendengaran keduanya. Namjoo buru-buru membukanya dan kemudian tertawa keras saat melihat nama yang terpampang di layar.

Yook Nana : Apa-apaan kalian

Namjoo bertepuk tangan kegirangan. Tebakannya benar dan dia sekarang memiliki hak untuk memberi Sungjae sebuah pukulan di dahi. Sesuatu yang sering ia idamkan, mengingat kelakuan Sungjae yang terkadang sedikit ajaib.

“Kemarikan dahimu, Yook Sungjae,” kata Namjoo senang. Tangan kanannya bergerak menyuruh Sungjae mendekat—agar dirinya semakin mudah untuk memenuhi haknya.

Sungjae menghela napas. Memberanikan diri mendekati Namjoo karena ia tahu kekuatan gadis itu—walaupun Sungjae masih lebih kuat dari Namjoo, tetap saja ddakbam gadis itu akan menyisakan sakit di dahinya.

Aakk!!”

Teriakan kesakitan itu keluar dari bibir Sungjae begitu jari tengah Namjoo sukses mengenai dahinya dengan kekuatan penuh. Kontras dengan Sungjae, tawa puas terdengar dari gadis di hadapannya. Namjoo tertawa puas melihat Sungjae yang tengah memegangi dahinya yang kini sudah memerah.

“Kubilang juga apa. Rin paling-paling hanya membacanya,” kata Namjoo, merasa di atas angin.”Giliranmu sekarang.”

Masih sambil bersungut kesakitan, Sungjae bersiap mengirimkan foto yang sama dengan yang dikirimkan Namjoo ke group chat miliknya.“Namjooo-ya, siapa tebakanmu?” tanya Sungjae tanpa melirik sedikitpun ke arah gadis itu—kedua netranya fokus pada layar handphone.

“Kim Taehyung.”

Tsk, aku baru saja mau memilihnya,” gumam Sungjae sebal.”Kalau begitu, aku pilih Sanghyuk.”

“Oke. Apa taruhannya?”

Sungjae berpikir sejenak—menurut standarnya. Setelah beberapa saat—dan Namjoo sudah mulai mengetukkan jarinya di atas meja—lelaki itu menggeleng pelan.”Ada ide?”

Coupon wish?” sahut Namjoo cepat. Sepertinya hal itu sudah ada di benaknya sedari tadi.”Yang menang bisa meminta apa saja dari yang kalah.”

“Apa saja?” ulang Sungjae memastikan dan Namjoo mengangguk yakin.”Deal.”

Keduanya kemudian memusatkan perhatian pada handphone Sungjae yang kini tergeletak pasrah di atas meja. Tak sabar untuk melihat nama siapakah yang akan muncul terlebih dahulu di chatroom milik Sungjae dan kawan-kawan.

Han Sanghyuk : Yook Sungjae

Han Sanghyuk : Kalian menggelikan

Kim Taehyung : Pose seperti itu tidak cocok untukmu, Yook Sungjae

Kali ini giliran Sungjae yang bersorak kegirangan. Juga kontras sekali dengan Namjoo yang menelungkupkan kepalanya di atas meja, tidak percaya dia kalah dalam taruhan mereka yang kedua. Padahal tadi Namjoo hampir yakin kalau dirinya akan menang lagi kali ini.

Kalau saja Taehyung menjawab lebih cepat dibandingkan Sanghyuk.

“Kamu mau apa?” tanya Namjoo pasrah. Pasrah jika Sungjae memintanya untuk melakukan hal-hal aneh.

Hmm….” Seolah sedang berpikir, Sungjae bergumam pelan. Padahal Namjoo yakin kalau lelaki itu sudah menentukan apa yang akan ia minta sejak mereka berdua menyepakati taruhan yang kedua ini.

“Cepat katakan supaya aku bisa melakukannya dengan cepat Yook Sungjae,” desak Namjoo.

“Dekatkan kursimu dan tutup mata.”

Eh?”

“Kamu tadi bilang aku boleh meminta apa saja ‘kan?” Namjoo mengangguk, memang itu inti dari coupon wish yang ia usulkan tadi.”Lakukan saja.”

Sembari menggerutu dalam hati, Namjoo melakukan semua yang diminta Sungjae. Mendekatkan kursinya ke arah meja dan memejamkan kedua mata. Dan hingga titik ini, Namjoo masih tak bisa menebak apa yang tengah direncanakan oleh seorang Yook Sungjae.

“Jangan bergerak sampai hitungan ketiga puluh,” ujar Sungjae lagi. Berdasarkan bunyi yang didengarnya, Namjoo menebak kalau Sungjae sedang mendekatkan kursinya ke arah meja juga.”Oh ya, hitung sendiri di dalam hati ya.”

Namjoo hanya bisa menggumam pelan. Menunggu dengan sabar apa yang akan dilakukan Sungjae terhadapnya.

“Mulai.”

Satu.

Dua.

Tiga.

Seketika, Namjoo bisa merasakan deru napas Sungjae di kulitnya dan ada sesuatu yang menyentuh bibirnya. Dan seketika itu pula kedua matanya terbuka lebar—dan semakin lebar ketika ia akhirnya mengetahui dengan pasti apa yang dilakukan Sungjae padanya.

Sungjae menciumnya.

Lupakan segala hitung-hitungan itu. Yang ada di pikiran Namjoo sekarang adalah bagaimana caranya melepaskan diri dari Sungjae—dan bagaimana caranya agar kedua pipinya tidak memerah seperti kepiting rebus.

Dua puluh satu.

Itu hitungan yang ada di pikiran Namjoo sekarang. Itu pun kalau hitungannya benar. Mungkin yang mengetahui hitungan yang sebenarnya sekarang hanya Sungjae seorang—kalau ia juga ikut menghitung sedari tadi.

Tiga puluh.

“Tiga puluh,” ujar Sungjae sembari melepaskan dirinya dari Namjoo. Senyum lebar tercetak di wajahnya, membuat Namjoo ingin merobek senyum lebar itu.

Namjoo masih tak bisa berkata apa-apa. Separuh dirinya ingin sekali memarahi Sungjae. Tapi, dengan kedua pipi yang memerah, bagaimana bisa ia melakukannya? Sungjae hanya akan menggodanya habis-habisan nanti.

“Jangan pasang wajah seperti itu. Kamu juga suka ‘kan?”

Benar ‘kan. Tidak usah diprovokasi terlebih dahulu pun Namjoo yakin Sungjae akan menggodanya begitu melihat kondisi wajahnya sekarang.

“Diam kamu,” hardik Namjoo sebal—masih dengan rona merah yang menghiasi kedua pipi. Tangannya kemudian sibuk membereskan barang-barang miliknya yang berada di atas meja.”Ayo, kita pulang.”

Sungjae tertawa pelan.

“Dan ingatkan aku untuk tidak bertaruh lagi denganmu.”

fin.

A/N:

Alasannya masih sama kayak SeolHyuk kemarin sih. Karena saya kangen keberadaan NamJae di IFK :” emang ya, sering banget nongolin Sungjae-Namjoo dkk di fic lain (terutama MoonRin LOL) tapi karena kangen nulis NamJae yang cuma mereka berdua, lahirlah fic ini :”

(tapi tetep aja ada anak 95line nongol XP)

okay, mind to review then?

6 thoughts on “[Vignette] Of Photograph and Betting”

  1. Sungjae, aku mau juga dong diajakin taruhan, nnti aku kalah mulu juga gapapa. Haha >< kangen jaejoo kkk
    Disini sungjae hits abis, cuma yg aku bngung mereka kirim foto nya ke grup chat yg brbeda atau gimana?
    Cerita nya romance comedy /? aihhh besok besok lagi dong jaejoo nya hehe. Big thanks author-nim😀

    Suka

    1. iyaa mereka ngirimnya ke grup yang beda, sungjae ke grup para lelaki, terus namjoo ke grup cewek2 ganas(?)

      yah semoga saya dapet ide lagi buat mereka berdua ya :”) makasiiihhh ^^

      Suka

  2. harus banget itu kata “kamu juga suka, ‘kan?” muncul yampul jae kamu minnta ditabok :’
    tadinya nebaknebak eh dicium kali ya, ah tapi masa ih pasti twist deh tapi ternyata beneran dicium, yook sungjae anak nakal :’

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s