[Ficlet-Mix] Mistletoe

Mistletoe - snqlxoals818

Mistletoe

.

BTS’s Kim Seokjin and OC’s Lee Yein | BTS’s Jeon Jungkook and OC’s Kim Mony | UP10TION’s Wei and OC’s Cho

slight!fluff | ficlet-mix (3 ficlets) | Teen and PG-17 (for cursing)

.

Under the mistletoe, we kiss.

“Really?”

.


1st


Yap!”

Seokjin mengangguk antusias. Kacamata berbingkai bundarnya sampai melorot. Tak diacuhkan, lelaki bersweter turtleneck hitam di balik mantelnya itu malah menusuk-nusuk lengan Yein dengan telunjuknya. Cengiran lebar menghiasi wajah, sepasang alisnya naik-turun memberi tanda.

“Yein-a.”

“Apa?”

Menoleh, wanita bersurai panjang itu menatap Seokjin ketus. Jengah melihat ulah si lelaki yang kekanakan. Bayangkan, mereka sedang terjebak hujan. Berteduh di bawah kanopi besar di depan sebuah toko perkakas yang telah tutup. Sialnya, ada mistletoe menggantung dan itulah yang membuat Seokjin senang sejak tadi.

Oh, tapi jangan harap Lee Yein mau mengikuti tradisi aneh itu. Di pinggir jalan, ada orang lain selain mereka, dan harus berciuman? Eew, no thanks!

“Kalau tidak dilakukan, nanti kita akan tertimpa sial.”

Yein memutar bola mata. Ancaman konyol macam apa itu? Pasti Seokjin hanya mengada-ada.

“Sekali saja.”

Memangnya dia mau mencium Yein berapa kali, huh?! Satu kali saja tidak mau.

“Kamu, deh yang cium aku.”

Yein mendelik sebal. Maniknya melotot dan dia tak segan-segan menginjak ujung sepatu Seokjin dengan tumitnya.

Ouch!”

Meski tampak tak acuh, orang ketiga di antara mereka diam-diam melirik ke arah Seokjin dan Yein bergantian. Terkikik geli dan dibalas juluran lidah oleh Seokjin.

“Di pipi saja kalau begitu. Oke?”

“Tidak.”

“Pelit.”

Oh, Yein benci dibilang pelit. Apa lagi Seokjin yang mengucapkan. Yang jauh lebih pelit karena sering melarang Yein membeli novel. Maka itu, Yein menyerah. Dicubitnya pipi Seokjin yang menggembung marah. Yein tidak pernah takut kalau Seokjin marah, omong-omong. Karena lelaki itu terlihat menggemaskan—itu sih menurut Yein.

“Oke. Sekali saja. Di pipi, ‘kan?”

“Ya, ya!”

Binar kesenangan menghiasi manik Seokjin. Senyum terkembang lebar dan dia menutup mata seperti yang diisyaratkan Yein. Merunduk sedikit, menyodorkan pipinya.

Setelah melihat jalanan cukup sepi, Yein mendekat. Semakin dekat… Seokjin menolehkan kepalanya… dan mereka berciuman.

Tepat mengenai bibir si lelaki tapi Seokjin merasakan suatu hal yang ganjil. Yein diam saja, malah tertawa, alih-alih berteriak memaki Seokjin. Dan semuanya jelas ketika Seokjin meraba bibirnya, basah. Si orang ketiga ikut tertawa bersama Yein.

Kim Seokjin ditipu oleh istri dan anak lelakinya yang baru berumur delapan bulan.

.

Ah, Leo. Kenapa kamu yang cium Ayah?”

.

.


2nd


Dilihatnya Kim Mony melambaikan tangan. Tak pedulikan cuaca dingin di luar rumah, gadis itu tetap menunggu Jungkook di sana. Di bawah pohon dengan mistletoe menggantung dari atas. Entah ulah makhluk iseng mana yang seenaknya meletakkan mistletoe di dahan pohon.

Dan, Mony berdiri tepat di bawahnya!

Jeon Jungkook menggeleng-geleng sebentar, sebelum lamat-lamat mendekati si gadis bersurai auburn. Dia tersenyum kaku sementara Mony sumringah. Melompat-lompat menunjuk mistletoe di atas kepalanya.

Oh, jadi Mony tahu soal peraturan itu?

“Lihat, Kookie. Kak Hoshi yang gantung itu tadi sore.”

Ah, makhluk isengnya bernama Kwon Hoshi ternyata.

Tapi, sayangnya, Jungkook tak menemukan si pelaku di dekat situ. Tidak mengintip berdesakan di jendela kamar Bambam. Tidak juga tampak mencuat kepala-kepala di balik pagar Tuan Lee. Itu artinya hanya ada mereka berdua di sini? Wow.

“Boleh aku cium sekarang, Kookie?” Mony mengatupkan kedua tangan. Kaki berbalut bot hitamnya bergerak-gerak tak sabaran. “Please?”

Membelalak, Jungkook batuk-batuk. Jantungnya berdentum cepat sekali. “Eh, cium?” tanyanya grogi.

Tiga anggukan cepat dari Mony dan Jungkook semakin gelisah. Baru tempo hari dia minta dijadikan pacar kedua gadis itu, sampai sekarang Mony belum memberikan jawaban. Tapi, Mony sudah mau menciumnya? Dia bercanda atau apa?

“Bagaimana, Kookie? Dingin, nih.”

Gadis lima belas tahun itu memeluk dirinya sendiri. Mengusap lengan atasnya berulang-ulang, sembari memainkan uap yang keluar dari mulutnya. Menganga lebar dengan kepala menatap langit kelam. Lalu dia terkikik sendiri saat tersedak salju yang turun memasuki mulutnya.

Lucu.

“Kookie?”

“Oh, ya, tentu, silakan.”

Jungkook mulai mengikis jarak. Berdeham sebelum menutup mata. Dia berpikir, sepertinya ada salah peran di sini, ya? Yeah, karena Jeon Jungkook seperti gadis yang sedang menunggu dicium sang Romeo—ralat, Mony!

Maka, dia lekas membuka mata. Tak mendapati wajah Mony di dekatnya, melainkan sang gadis telah mendekati pacar pertamanya. Dipeluk erat-erat dan si pohon mangga itulah yang mendapat ciuman dari Kim Mony.

Jungkook tergelak hebat. Sampai perutnya sakit dan Mony menatapnya bingung. Pikirnya, Jungkook terlalu lama dihujani salju jadi otaknya beku dan dia terus-terusan tertawa seperti orang gila.

“Yuk, Kookie.”

Dirangkulnya lengan Jungkook. Mengajak si lelaki masuk ke rumah Bambam. Di mana teman-teman mereka sudah menunggu untuk merayakan Natal bersama.

Well, Jungkook sering sekali diperingati oleh Kak Hoshi, Kak Wooshin, Bambam, dan semua yang mengenal Mony; kalau gadis penyuka jumpsuit itu kadang suka bertingkah aneh. Tapi, tetap saja, hal itu tidak merubah rasa suka Jungkook kepada gadis itu.

.

Karena baginya, Mony itu lucu.

.

Kim Mony. Merry Christmas.”

.

.


3rd


Kalau bukan demi mencari uang tambahan, Cho tidak akan rela mengorbankan hari liburnya untuk bekerja. Tawaran perform di sebuah kafe di malam Natal dengan bayaran yang tinggi, tentu saja tidak akan dilewatkannya. Tetap saja dia terus mengumpat sepanjang perjalanan, sampai keempat teman satu grup band-nya menatap ngeri, lantaran Cho terpaksa membatalkan janji kencannya dengan Wei.

“Pastikan kau menerima bayaran setelah penampilan kita selesai!” Kali kelima Cho memperingati. Sambil menuding stik drum-nya pada sang vokalis yang harus membagi fokus antara mengamati jalanan padat dan menghindari pukulan stik dari satu-satunya perempuan di grup mereka.

“Iya, aku me—Oh, shit!”

Mobil mendadak berhenti. Kelima pasang mata di dalam mobil Corolla lama itu serempak menatap tiang penanda jalan yang bengkok. Tertabrak moncong Madam Lora, si mobil kesayangan milik sang gitaris yang masih takut mengemudi. Payah!

“Mampus! Bagaima—”

“Tak apa. Ayo kita masuk.” Cho memangkas ucapan panik dari lelaki di sampingnya—yang memeluk erat gitar listrik dengan dua tindikan di telinga. “Berhenti bersikap khawatir atau kupatahkan gitarmu!”

“Oke, Your Highness.”

Kelima remaja delapan belas tahun itu melangkah keluar dari Madam Lora. Tinggalkan si mobil abu-abu pucat itu di pinggir jalan setelah si gitaris mendaratka satu kecupan di atap mobilnya.

Mereka masuk melalui pintu belakang seperti yang diperintahkan si pemilik kafe. Berdesakan di gangnya yang sempit dan bau.

Sesampainya di dalam, Tuan Wu—si pemilik kafe—langsung menyuruh kelima remaja itu menempati posisi di panggung kecil di pojok kafe. Lekas memeriksa alat musiknya masing-masing. Mengecek sound system, microphone, dan mencolokan kabel ke gitar yang mereka bawa sendiri.

Cho memastikan kursi kecil yang didudukinya pas dan mengetes sebentar drum di hadapannya. Stik drum diputar-putar sementara maniknya menjelajahi pengunjung kafe. Dan tepat di ujung terjauh dekat pintu staf itulah dia melihat sosok tinggi Wei. Berdiri menyandar di tembok dengan tangan menyilang di dada. Di sampingnya menempel seorang gadis entah siapa berpakaian mini dan emosi Cho seketika meluap.

Bukan hanya karena pacarnya didekati perempuan lain, tapi beberapa senti di atas kepala Wei menempel sebuah mistletoe dengan bundar-bundar merah menghiasi.

.

Under the mistletoe, we kiss.

.

Really?

Oh, tentu saja itu tidak akan terjadi!

Bangkit berdiri, kursi kecil yang tadi didudukinya terjungkal. Keempat lelaki yang tengah mencoba alat musik mereka, menoleh bersamaan. Melihat gadis bersurai keriting itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi—mengambil ancang-ancang. Siap melayangkan stik drum-nya dan berteriak kencang,

.

Ya! Get away from my boyfriend, you fucking bitch!

.

Suasana kafe hening seketika. Wei gemetar ketakutan, begitu pula dengan gadis tadi. Lemparan stik milik Cho menghantam bingkai lukisan. Dan mereka pulang tanpa dibayar sepeser pun.

.

What a beautiful Christmas, huh?!

.

.

fin.

3 thoughts on “[Ficlet-Mix] Mistletoe”

  1. aduh aku ga kuku ga nana bayangin mukanya seok jin ya Tuhan :”
    dan cho-wei, wah aku turut berduka buat kalian!
    dan, aku ga ngerti lagi harus komentar gimana lagi untuk tingkah-tingkah mony!

    Suka

  2. seokjin gemesiiiinn~~~ kecewa ya ga dapet kissu yein? hahaha xD
    dan mony ya ampun :” ga paham deh sama kamu nak~
    emang aneh sih, tapi kam kasian kuki diphpin xD sama pohon pulak xD
    dan untuk wei, siap-siap aja ya ya diamuk cho😀 wakakaka

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s