[Ficlet-Mix] What He Has Inside The Gift Box

a special movie by tsukiyamarisa

What He Has Inside The Gift Box

starring [SEVENTEEN] Boo Seungkwan and Joshua Hong, [BTS] Kim Seokjin and Min Yoongi, [VIXX] Lee Jaehwan and Jung Taekwoon, [OCs] Choi Han, Jung Mia, Lee Yein, Park Minha, Kim Leya, and Re duration 6 Ficlets genre AU, Fluff, Romance, Friendship rating 15

.

“Enam lelaki ini punya sesuatu yang berbeda di dalam ‘kotak kado’ mereka.”

.

.

.

.


1st: Boo Seungkwan

Things That She Currently Need


Seungkwan mengamati gadis itu dengan mata memicing curiga.

Ini adalah hari terakhir ujian sebelum libur musim dingin, dan semua anak di kelasnya terlihat bersemangat serta tak sabar untuk segera bersenang-senang. Semua; kecuali si gadis bersurai gelombang yang duduk tepat di sampingnya. Si galak yang belakangan suka beradu argumen dengan Seungkwan, tetapi kali ini ia malah—

“Han?”

Tak ada tanggapan.

Tidak ada teriakan ‘diam kau!’, ‘pergi sana’, atau sebagainya; tidak ada pula delikan ganas atau ekspresi datar khas seorang Choi Han. Gadis itu hanya diam, melirik Seungkwan sekilas sebelum kembali membenamkan kepalanya pada kedua lengan yang dijadikan bantal. Sukses membuat si lelaki melongo sejenak, telunjuk terulur dengan takut-takut untuk menyentuh siku Han—yang lagi-lagi tidak memberikan reaksi apa pun.

“Han-a, kamu kenapa?”

Ia masih diam.

“Choi Han, kamu baik—“

Hatchi!!”

Uh-oh.

Sedikit terlonjak kaget, Seungkwan mendadak paham mengapa sikap Choi Han berubah seratus delapan puluh derajat hari ini. Gadis itu tampaknya sedang sakit, tetapi terpaksa masuk untuk mengikuti ujian serta mengumpulkan tugas akhirnya. Bahkan, setelah diamat-amati lagi, Seungkwan baru sadar kalau hidung Han memerah dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.

“Han-a….”

“Aku tidak mood berdebat.” Akhirnya Han menjawab dengan suara serak, tahu-tahu saja mengulurkan makalahnya ke arah Seungkwan. “Aku mau pulang saja. Kalau nanti—uhuk—guru Kim datang, kumpulkan punyaku, ya.”

Lantas, sang gadis pun bangkit berdiri. Mungkin pusing, serta terganggu oleh panggilan Seungkwan yang seperti kaset rusak. Sedikit sempoyongan, Han berusaha untuk memasukkan barangnya ke dalam tas dan—

“Han-a, kalau begitu ini buatmu.”

—gerak tangannya pun seketika berhenti.

Mengerjap, Han hanya bisa memandang syal merah tebal yang tahu-tahu melingkar di lehernya. Detik berikutnya, sebuah beanie menyusul. Dua benda yang jelas bukan miliknya, karena Han ingat benar bahwa ia lupa membawa syal ataupun beanie hari ini.

“Apa yang….”

“Itu baru, kok. Masih bersih, jadi boleh buatmu saja. Anggap kado Natal yang diberikan lebih awal.”

Untuk yang kedua kalinya, Han hanya mengedipkan kelopaknya berulang-ulang. Flu dan demam membuat otaknya jadi lambat dalam berpikir, mengunci lidahnya hingga ia tak mampu menolak atau menyanggah perkatan Seungkwan barusan. Alih-alih, Han malah mengizinkan dirinya tenggelam dalam kehangatan syal serta beanie pemberian Seungkwan, tak berkutik selagi teman sekelasnya itu membantu merapikan barang-barangnya. Satu-satunya yang bisa gadis itu ucapkan adalah sebuah tanya, tepat ketika Seungkwan menyerahkan tasnya yang sudah tertutup rapat.

“Kenapa kamu…?”

Dan Seungkwan membalasnya dengan cengiran lebar.

“Karena aku tahu kalau kamu membutuhkan dua benda itu saat ini. Aku benar, ‘kan?”

.

.

.


2nd: Lee Jaehwan

Your Favorite Activities


Arcade-nya penuh, nih.”

Begitu kata-kata itu terucap, Lee Jaehwan bisa membayangkan bagaimana raut wajah Leya berubah menjadi kesal dan kecewa. Kesal karena ia tidak jadi mengalahkan Jaehwan dalam permainan balap mobil, kecewa karena rencana mereka untuk bermain sepuas mungkin di hari libur gagal. Padahal, Jaehwan sendiri sudah berjanji untuk membayari Leya hari ini—gadis yang satu itu memang memiliki preferensi unik soal kado Natal.

Dan benar saja, di sampingnya, Leya langsung memajukan bibir. Cemberut, tetapi kedua maniknya bisa melihat kalau perkataan Jaehwan tadi tidak mengada-ada. Arcade yang biasa mereka datangi penuh sesak; antrean mengular di konter dan tidak ada satu pun permainan yang kosong.

“Kalau begini, aku pulang saja, deh, Kennie. Bye—

“Eh, jangan!”

Menyambar lengan Leya agar gadis itu tak pergi meninggalkannya, Jaehwan pun lekas memutar otak. Bermain game selalu menjadi keahlian nomor satu Leya, dan Jaehwan tahu bahwa itulah yang sang gadis inginkan sebagai kado Natal. Bukan baju, aksesoris, atau lain sebagainya. Melainkan bermain game bersama, melakukan aktivitas favorit sang gadis bersurai pirang hingga hari larut nanti.

Yah, kalau begitu….

“Ke rumahku saja, yuk.”

“Memang di rumah Kennie ada apa?”

“Kamu lupa kalau garasiku itu tempat main playstation?” sahut Jaehwan sambil menyenggol Leya dengan penuh persengkongkolan. Mengingatkan sang gadis akan fakta bahwa Jaehwan memang sudah menyulap setengah bagian dari garasinya menjadi tempat bersantai, lengkap dengan sofa, playstation, televisi, serta tumpukan komik. Semua itu harusnya cukup untuk dijadikan pengganti acara hari ini, dan Jaehwan yakin kalau Leya tidak akan—

“Yang terakhir sampai di rumah Kennie harus traktir makan malam, ya!”

Ya! Kim Leya! Tunggu aku!”

Tanpa aba-aba, Leya sudah berlari mendahului Jaehwan. Menguarkan gelak tawa, selagi Jaehwan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala namun ikut memacu tungkainya. Rumah sang lelaki memang tak jauh dari sini, dan seharusnya, Jaehwan bisa dengan mudah menyusul Leya. Namun, ia toh tetap membiarkan Leya sampai lebih dulu.

Karena bagi Jaehwan, tak ada yang bisa menghadirkan gelitik di perutnya itu selain kehadiran Leya. Tawanya, ekspresi girangnya ketika ia mengalahkan Jaehwan dalam setiap game, juga pekikannya tatkala Jaehwan memutuskan untuk memesan pizza sebagai menu makan malam. Leya itu unik, namun Jaehwan tahu persis bagaimana caranya menghadirkan ekspresi ceria itu di wajah sang gadis.

Cukup temani ia melakukan aktivitas favoritnya…

“Kennie, setelah ini kita main game yang baru kamu beli itu, ya!”

…dan senyum manis itu dijamin akan muncul di wajah seorang Kim Leya.

.

.

.


3rd: Kim Seokjin

Things That You Made by Yourself


“Hadiah untuk Yein?”

“Iya. Ada ide tidak?”

Bukan tanpa alasan Kim Seokjin mencari-cari Park Minha hari ini, hanya demi bertanya mengenai kado apa yang kiranya harus ia berikan pada sang kekasih. Hari Natal sudah dekat, dan Seokjin sama sekali tidak punya gambaran barang sedikit pun. Lagi pula, Lee Yein itu memang susah ditebak. Dan satu-satunya orang yang Seokjin pikir dapat membantu adalah Minha—salah satu teman dekat Yein.

“Pacarnya ‘kan, Kak Seokjin,” jawab Minha, memutar bola matanya lantaran tak percaya. “Kok tanya aku?”

Yah, itu benar, sih. Namun, beberapa bulan berpacaran dengan Yein tak lantas membuat Seokjin paham seluk-beluk hati dan pikiran gadis itu. Ia tetap butuh saran, satu yang kiranya bisa memunculkan senyuman di wajah Yein dan membuat acara kencan mereka di malam Natal nanti berjalan lancar. Lagi pula, ini adalah kali pertama mereka melewatkan liburan musim dingin bersama. Tentu saja Seokjin ingin segalanya—

“Kakak bisa buat kue?”

“Memang kenapa?”

Seakan memberi Seokjin pencerahan, Minha menyodorkan ponselnya ke arah sang lelaki. Menunjukkan pesan chat yang baru masuk dari Yein, sorotnya seakan berkata bahwa kekasih Seokjin itu tidak butuh barang yang mahal atau kado yang kelewat romantis.

.

.

Minha-ya… Dingin-dingin begini, makan kukis dan susu hangat pasti enak, ya?

.

.

Maka, Seokjin pun menurutinya.

.

.

Dan ia tidak menyesal menghabiskan seharian penuh berkutat di dapur, membuat kukis rasa vanilla dan menatanya pada sebuah toples cantik dengan hiasan pita merah besar. Tak lupa berpakaian rapi, kemeja putih dilapisi sweter cokelat pemberian sang kekasih dulu. Maka, tidak heran jika Lee Yein datang ke apartemen Seokjin pada malam Natal dengan senyum di wajah, girang bukan main kala Seokjin memberinya kukis buatan sendiri beserta segelas susu hangat. Sang gadis bahkan tak menolak saat Seokjin bertanya apakah ia boleh menggenggam tangannya sepanjang acara jalan-jalan, berbagi gelak tawa di tengah dinginnya malam penghujung akhir tahun.

Karena terkadang, makanan manis yang dibuat dengan hati tulus itu cukup untuk membuat seseorang merasa bahagia, bukan?

.

.

.


4th: Joshua Hong

Simple But Memorable Date


“Kalian terlihat cocok sekali.”

Mia hanya mengulum senyum, sementara Joshua sedikit tergelak dan menerima sebungkus hotteok dari si bibi penjual. Mengucapkan terima kasih, lantas mencari tempat untuk duduk dan menikmati makanan mereka. Bukan hal yang mudah, menilik dari ramainya jalanan malam itu; penuh dengan keluarga atau pasangan yang sedang menikmati malam Natal.

“Bagaimana dengan di sana?”

Menarik Mia menuju taman kota, Joshua menunjuk bangku-bangku batu yang berjejer. Masih ada sedikit tempat kosong, mengizinkan mereka untuk duduk berdempetan selagi membuka bungkusan hotteok. Seketika, uap panas sekaligus aroma gula dan kacang pun menguar, kontras dengan hawa dingin yang berembus.

“Sebaiknya cepat dimakan sebelum dingin.” Mia berkomentar, mengambil satu dan mulai meniup-niupnya dengan semangat. Begitu pula halnya dengan Joshua, yang langsung meraih jatah hotteok-nya. Selama beberapa jenak membiarkan suara mengunyah mengisi percakapan, sampai akhirnya sang lelaki teringat akan satu topik yang membuatnya penasaran.

“Mia?”

Yeah?

“Ingat kata-kata bibi penjual makanan tadi?”

Mia mengangguk.

“Kalau dipikir-pikir, kita tidak lagi bereaksi seperti dulu, ya?”

Tanggapan Mia adalah pipi yang merona dan suara terbatuk, nyaris saja tersedak sepotong hotteok yang belum sempat ia telan. Gadis itu mendadak merasa jantungnya berdebar terlampau kencang, terlebih kala Joshua beringsut mendekat untuk merangkul serta menepuk-nepuk punggungnya. Membuatnya seratus persen sadar bahwa mereka bukan lagi sahabat yang akan menampik ucapan seperti tadi, melainkan membalasnya dengan senyuman lantaran….

 “Ini kali pertama kita merayakan Natal sebagai kekasih, bukan?”

…ah, benar.

“Sejujurnya, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana,” lanjut Joshua lagi, sementara Mia mengerjap pelan. “What lovers should do during a date, I really don’t know.”

“Why?”

Joshua mengedikkan bahunya sekilas. “Karena kita sudah terlalu lama bersama? Berjalan-jalan seperti ini, makan berdua, menonton film… semuanya juga sudah pernah kita lakukan, ‘kan? Jadi, aku bingung kalau-kalau kamu—“

It’s enough, though,” Mia memotong, tersenyum kecil sembari membiarkan jemarinya bertautan dengan jari-jari Joshua. Merasakan hangat menyebar, serta gelitik aneh yang dulu tak pernah ada. “Walau kita tidak pernah melakukan hal-hal lainnya, tapi ini tetap berkesan buatku. Kamu tahu kenapa?”

Selama beberapa sekon, Joshua tak menjawab. Memilih untuk menatap Mia lekat, mengunci tatap sambil mencari jawabnya di sana. Namun, layaknya Mia yang kini sedang berdebar tak keruan, Joshua pun sama. Maka, sembari menjungkitkan sudut-sudut bibirnya, Joshua pun lekas mendekatkan wajah. Berpura-pura hendak mendaratkan kecupan di pipi, padahal sesungguhnya ia tengah membiarkan untaian katanya tertangkap oleh Mia semata.

“Because now, we are lovers. And that’s the reason why our simple date become something special, right?”

.

.

.


5th: Min Yoongi

Times To Be Spent Together


“Kau belum menyiapkan hadiah untuk adikku?”

Pekikan Park Jimin pagi itu dibalas dengan anggukan singkat dan tampang datar dari Yoongi, kendati di dalam hati, ia mulai ikut merasa panik. Oh, salahkan kesibukannya. Yoongi baru sadar kalau ini sudah hari Natal, dan ia sama sekali belum memikirkan hadiah untuk diberikan pada gadisnya. Ya ampun, ia bahkan lupa kapan kali terakhir mereka bertemu—mengingat ia sendiri sudah hampir seminggu mengunci diri di dalam studionya.

“Aku… akan menyiapkan sesuatu.”

Jimin hanya menyipitkan mata mendengarnya, kedua lengan tersilang di depan dada. Menunggu, sementara Yoongi sibuk memutar otak. Minha itu bukan jenis gadis yang akan meributkan soal hadiah, bahkan mungkin akan tergelak atau memberinya senyum maklum jika Yoongi mengaku lupa. Gadis itu akan menerima apa pun kado yang diberikan, semua dengan binar di mata atau pekikan senang. Namun, tetap saja Yoongi bingung.

Kira-kira, apa ya, yang harus Yoongi berikan—

Hyung, pacar yang baik itu seharusnya meluangkan waktu untuk—”

“Aku tahu!”

Memotong ucapan Jimin, Yoongi lekas menyambar selembar kertas dan menulisinya dengan sebaris kalimat. Masa bodoh jika tulisannya berantakan, ia hanya tahu kalau ia harus menemui Minha saat ini juga. Abaikan Jimin yang hanya bisa melongo, selagi ia menyambar jaket tebalnya dan berderap keluar dari studio.

“Minha ada di apartemen, ‘kan? Sampai nanti, Jimin-a!”

.

.

.

“Satu hari bersama Min Yoongi? Idemu boleh juga.”

Yoongi hanya mengulum senyum, bergerak untuk merengkuh Minha dari belakang. Membiarkan kehangatan melingkupi, lantaran keduanya sedang berada di atap studio milik sang lelaki untuk mengamati langit. Ada rembulan yang bulat sempurna dan bersinar cerah di atas sana, sinarnya yang keemasan mampu membuat Minha berdecak kagum berkali-kali.

“Kamu suka, ‘kan?”

Minha tergelak, kemudian mengangguk cepat. “Meskipun hadiahmu hanya selembar kertas….”

“Park Minha.”

“Tentu saja aku suka. Kapan lagi aku bisa mengajak Min Yoongi yang benci dingin ini untuk bermain ice skating, menonton film, dan memandangi bulan purnama di hari Natal?” jawab Minha, selagi ekspresi bangga terlintas di wajah Yoongi. “Terima—“

“Terima kasih juga karena mau menerima hadiahku,” sahut Yoongi, tangan terangkat untuk mengacak rambut gadisnya. Sukses membungkam kelanjutan kata-kata Minha, karena detik berikutnya mereka memilih untuk diam dan kembali mengamati langit malam. Membiarkan rasa nyaman dan santai menelusup masuk, abaikan semua kesibukan atau kegelisahan yang ada di dalam pikiran.

Well, siapa bilang hadiah itu harus disiapkan sejak jauh-jauh hari?

Asalkan mereka bisa bersama, waktu pun bisa menjadi sebuah hadiah yang bermakna, bukan?

.

.

.


6th: Jung Taekwoon

Be There To Give You Support


“Kamu masih di sana?”

“Kurasa aku akan pulang larut hari ini, Taekwoon-a.” Satu embusan napas panjang, dan Taekwoon bisa mendengar nada lelah dalam suara Re. “Aku tahu ini malam Natal, tetapi pertunjukan musikal ini juga sesuatu yang penting bagiku. Maaf—“

“Tak apa,” sahut Taekwoon cepat, tak ingin membuat gadisnya merasa bersalah. “Tapi, jangan paksakan dirimu, oke?”

Mmm, oke. Sampai nanti, Taekwoon-a.”

Pip.

Telepon dimatikan, dan tanpa sadar Taekwoon pun ikut mengembuskan napasnya. Ia sudah menduga kalau Re pasti akan sibuk, sehingga diam-diam, ia pun menyiapkan sebuah kejutan untuk sang gadis. Berpolah seakan ia menunggu Re di apartemennya, padahal sesungguhnya ia sudah berada di depan gedung pertunjukan.

Maka, tanpa membiarkan jeda waktu terbentuk, ia pun bergegas keluar dari mobilnya. Tak lupa membawa dua kantung plastik besar berisi roti-roti manis dan kopi hangat, langkah kaki terarah pada pintu belakang gedung megah tersebut. Deritan pelan terdengar kala ia mendorong pintu kayu tersebut dengan bahunya, susah-payah berusaha untuk masuk dan—

“Oh, maaf, orang luar dilarang ma—“

“Ada masalah a—oh, Taekwoon-a?”

Memotong ucapan salah seorang kru yang tadi memergoki kemunculan Taekwoon, Re tahu-tahu muncul dengan setumpuk kertas di tangan. Ada ekspresi terkejut di wajahnya, yang segera dibalas dengan senyum simpul oleh sang lelaki.

“Kamu—“

“Kupikir kalian butuh ini?” ujar Taekwoon seraya menunjukkan dua kantung di tangannya, sementara Re tergelak dan langsung menyetujui. Tak ada yang akan menolak makanan hangat di tengah kesibukan dan udara dingin, sehingga dalam waktu singkat, gadis itu pun berhasil mengumpulkan para kru teater dan mengizinkan semuanya untuk melepas penat sejenak. Ucapan ‘terima kasih’ dan seruan senang terdengar dari segala penjuru, membuat Taekwoon hanya bisa menggaruk tengkuk dan membiarkan Re menariknya menuju barisan kursi penonton di hall tersebut.

“Aku tidak menyangka kamu akan datang.”

Taekwoon tak langsung menjawab, memilih untuk menarik Re mendekat dan mendaratkan satu kecupan di dahi gadisnya terlebih dahulu. “Kamu tahu….”

Hm?”

“Aku sudah memilihmu, Re,” gumam Taekwoon lirih, dan Re pun langsung mengerti arah konversasi mereka. Belum lama berselang sejak lelaki itu melamarnya, dan bohong kalau Re berkata bahwa cincin perak di jari manisnya itu tak menghadirkan debaran serta kehangatan. Sebuah pertanda jika ia tak pernah menyesal telah menerima Taekwoon kala itu, terlebih….

“Jadi, kado apa lagi yang bisa kuberikan selain memberimu dukungan di saat-saat seperti ini?”

Re tersenyum.

Membiarkan bibir Taekwoon menempel di pipinya, sebelum akhirnya ia pun bersandar pada bahu sang lelaki dan memeluk lengannya erat-erat.

Thanks, Dear.

.

.

.

fin.

a/n:

  1. Seungkwan-Han itu masih temenan kok, satu-satunya di ficlet-mix ini yang statusnya bukan couple. Untuk cerita lengkapnya bisa dibaca di Jinxed dan Another Incident
  2. Ken-Leya dan Yein-Seokjin spesial untuk Kak Yeni! Semoga memuaskan dan yes, ini sesekali bikin mereka nggak berantem ihihihi xD
  3. Joshua-Mia, bagi yang belum tahu asal-usulnya(?) mereka bersama bisa cek di series Things Between Us
  4. Setelah shamelessly promoting my fic, untuk bagian Yoongi-Minha hanya ada satu fun fact. Malam ini adalah fullmoon terakhir di tahun 2015, so go see the moon if you’re lucky!
  5. Taekwoon-Re ini latarnya adalah sebelum marriage-life/setelah Re dilamar, kelanjutan dari playlistfic Can’t Say
  6. Last but not least, have a happy merry Christmas and Happy New Year!

with love,

tsukiyamarisa

7 thoughts on “[Ficlet-Mix] What He Has Inside The Gift Box”

  1. yha Mer yha…..
    da aku bisa apa kalo digituin sama Jisoo kan ya, paling koprol ngelilingin Monas *GA*

    TRUS ITU SI SEUNGKWAN ASTAGA CARE BANGET AHELAH KAN JADI PENGEN….. pengen punya temen kayak dia maksudnya :’v

    Suka

  2. favorit banget yang bagian Ken :’)
    ikut deg-degan gimana gituuu di Joshua-Mia moment, dan cuma bisa berharap mereka bahagia dia bagian Leo-Re!
    Haft, sisanya tetep manis juga kok, mer.

    Suka

  3. Walaupun jimin cuma muncul sedikit buat nanyain kado buat adeknya, tapi jadi inget kelakukan minha sama jimin. Suka banget sama karakter dua kakak-beradik itu. Tolong buat ff tentang mereka berdua dong kak. Kkk~ selamat berkarya🙂

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s