[Vignette] 5 Mimpi Luna

5 mimpi luna

5 Mimpi Luna

Scriptwritter: Tyavi

GOT7 Junior and OC Choi Luna

Romance, Fluff, School Life/ Vignette/G

Disclaimer: This is my another FF. I just own the story. The cast are belong to their agency. Don’t like the cast? Just read the story ^^

Summary:

Legend says, when you can’t sleep at night,

it’s because you’re awake in someone else’s dream.

.

.

.

“Luna!”

Aku mendengar suara seorang pemuda memanggilku. Tapi siapa?

Ada seseorang yang berjalan ke arahku. Tapi aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas.

“Luna Choi,” dia memanggilku lagi, bahkan dengan nama lengkapku. Dia berjalan semakin dekat. Baguslah dengan begini aku dapat melihat wajahnya.

Dia sudah berdiri di hadapanku. Dia tersenyum.

Lho, kau?

“Hey, Luna. Aku menyukaimu.”

.

.

.

.

.

Silaunya cahaya matahari masuk dari jendela kamarku yang telah terbuka dan langsung menyapa netraku begitu aku membuka mata. Dinding bercat kuning muda dan perabot berwarna putih, pemandangan ini jelas adalah kamarku. Jadi tadi itu mimpi?

Junior?

Tidak salah lagi pemuda itu adalah Junior Park, teman sekelasku.

Sedang apa Junior ada di dalam mimpiku?

Ah, jam berapa ini?!

.

.

.

Jam pelajaran terakhir, dan Kang ssaem berdiri di depan dengan materi sejarah yang membosankan. Aku beralih memperhatikan sekeliling kelasku, beberapa anak kelas bahkan sudah tertidur. Apa aku tidur juga saja? Kalau diperhatikan lagi, pemuda yang berjarak lima meja dariku itu serius sekali memperhatikan Kang ssaem. Ah, tunggu. Rambut cepak itu…

Junior?

Junior Park, pemuda yang muncul di mimpiku semalam. Mimpi yang aneh. Bagaimana tidak aneh, meskipun aku sekelas dengannya tapi aku tidak pernah bicara pada pemuda itu sebelumnya. Tetapi kenapa bisa-bisanya aku bermimpi dia menyatakan perasaannya padaku. Apa maksud mimpi itu ya?

Ah sudahlah, namanya juga mimpi. Tercipta hanya sebagai bunga tidur.

***

“Luna, aku menyukaimu sejak lama.”

 

“Kenapa kau diam saja?”

.

.

.

Aku terbangun. Sama seperti kemarin, ternyata mimpi.

Lagi?

Aku ini kenapa sih?

Ah, tidak ini pasti hanya kebetulan.

.

.

.

Bel tanda waktunya makan siang baru saja berdering. Hampir seluruh anak kelas keluar menuju kantin. Aku malas ke kantin dan lagipula aku sudah kenyang. Karena dua jam pelajaran tadi kosong, aku menghabiskannya dengan bermain ponsel sambil memakan roti yang kubawa dari rumah. Sepertinya aku akan menghabiskan waktu untuk melihat-lihat pemandangan dari jendela saja.

Dari sini aku dapat melihat keadaan lapangan dan juga kantin. Kantin sangat ramai, melihatnya saja aku enggan ke sana. Pasti sangat sesak. Apa karena ini musim panas ya? Sepertinya hampir seluruh murid ada di luar kelas. Bahkan di lapangan ramai murid laki-laki yang sedang bermain bola atau sekedar menonton.

“Hey, Luna.”

Aku seperti mendengar suara yang familiar. Suara Junior. Aku sampai hapal karena dari kemarin dia muncul di mimpiku terus. Cara memanggilnya pun sama seperti di mimpiku. Apa karena dua hari berturut-turut aku memimpikannya suara itu jadi terngiang terus.

“Namamu Luna ‘kan?” terdengar suara Junior lagi. Dan aku bisa mendengar jelas kalau suara itu berasal dari arah bawahku.

Aku menunduk—melihat ke sumber suara.

Pemuda yang sedang berada di lapangan dan berdiri tepat dibawah jendelaku terlihat seperti Junior.

“Kenapa kau diam saja?”

Aku tersentak. Sepertinya aku sedang bermimpi di siang bolong. Ya, benar ini pasti mimpi karena tidak mungkin Junior sekarang sedang menatapku dari bawah sana.

Apa?

“Hey, kalau memang benar namamu Luna. Tetaplah di sana, dan jangan ke mana-mana. Aku akan ke sana,” teriak pemuda yang terlihat seperti Junior dari lapangan.

Tunggu, itu memang Junior. Junior ada perlu apa denganku? Apa aku sudah membuat kesalahan? Tidak, ini bahkan pertama kalinya aku bicara dengannya. Aku mencubit pipiku, tapi ternyata sakit. Aku tidak sedang bermimpi saat ini.

Aku menoleh saat kudengar suara pintu dibuka, pemuda bernama Junior itu berjalan ke arahku sekarang.

“Namamu Luna ‘kan?” tanya Junior sambil mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal. Sepertinya dia berlari ke sini.

“Ada apa, Junior?” tanyaku dengan nada yang kuusahakan biasa saja. Karena—oh, yang benar saja. Aku degdegan saat ini. Junior ada perlu apa denganku?

“Kau tahu namaku?” jawabnya dengan netra yang menatapku heran.

Haruskah aku menjawab karena kau baru saja muncul di mimpiku semalam? Tapi sepertinya aku tidak sebodoh itu.

“Tentu saja, bukankah kita sekelas?”

“Oh iya, kau benar.”

***

“Kau, maukah kau menjadi pacarku?”

Aku menggangguk pelan. Junior tersenyum manis sekali.

“Jangan katakan pada yang lainnya, oke?” ujarnya sambil menyodorkan jari kelingkingnya. Aku membalas melingkarkan kelingkingku pada milik Junior sambil tersenyum tipis.

.

.

.

.

.

3 kali.

Ini sudah ketiga kalinya aku bermimpi tentang Junior. Bahkan mimpi itu berkesinambungan.

Apa maksudnya?

Mimpi-mimpi ini nonsense! Memang sih kemarin Junior untuk pertama kalinya bicara denganku. Berlari dari lapangan sampai ke kelasku—yang juga kelasnya—yang berada di lantai dua hanya untuk menanyakan buku sejarah dunia yang kupinjam dari perpustakaan tempo hari.

Oh, apakah aku semenyedihkan itu? Karena aku belum pernah sekalipun merasakan seseorang menyatakan perasaannya padaku sehingga aku bermimpi orang yang tidak kukenal—tidak sepenuhnya sih—menyatakan perasaannya padaku. Itu konyol.

.

.

.

Perasaanku tidak enak hari ini. Dan aku juga malas mengikuti pelajaran. Apa lebih baik aku ke ruang kesehatan saja? Iya, sepertinya itu lebih baik. Maka aku melangkahkan kakiku menuju ruang kesehatan.

Aku baru saja membuka pintu ruang kesehatan saat aku melihat seorang pemuda yang tak asing tengah duduk dia atas salah satu ranjang. Pemuda yang sebenarnya tidak ingin kutemui hari ini. Tapi ada yang berbeda dengannya. Wajahnya agak pucat dan terlihat lelah. Apa dia sakit?

“Junior, kau kenapa?” Bibirku tidak bisa menahannya sehingga akhirnya aku langsung bertanya.Dia menoleh. Entah bagaimana aku dapat melihat sedikit ekspresi terkejut di wajahnya.

“Oh, Luna,” ujarnya sambil tersenyum tipis. Dalam keadaan sakit saja dia masih bisa tersenyum. Dia itu terlalu ramah.

“Kau sakit?” pertanyaan klasik, jelas-jelas ini ruang kesehatan. Untuk apa dia di sini kalau bukan karena sakit—kecuali aku yang kabur dari kelas. Tapi aku kan ingin tahu.

“Sudah 3 hari aku tidak bisa tidur.”

“Benarkah?” tanyaku lagi yang dijawab anggukan lemah darinya.

Benar-benar bertolak belakang denganku. Semalam aku tidur sangat nyenyak, karena kaulah tokoh utamanya.

“Kau kenapa ke sini?” Junior balik bertanya padaku.

Kenapa ya?

Aku jadi memikirkannya lagi.

Aku bohong, sebenarnya aku bukannya ingin kabur dari kelas. Aku juga tidak tahu. Entah mengapa tiba-tiba aku ingin ke sini.

***

Aku membuka mataku. Interior berwarna putih dengan tirai-tirai berwarna senada di sekeliling menyapa netraku.

Aku di mana?

Tempat ini tidak asing. Ini di…

Ruang kesehatan?

“Kau sudah bangun?” kutolehkan pandanganku ke samping kiriku. Netraku disambut dengan senyum manis darinya. Senyum yang amat kuhapal.“Junior?”

Pemuda yang namanya kupanggil itu malah mengusap kepalaku. “Kau membuatku khawatir.”

Junior memajukan wajahnya. Mengikis jarak diantara kami. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku pun tidak tahu kenapa mataku terpejam begitu aku merasakan hembusan nafasnya menerpa wajahku. Aku sungguh tidak dapat berpikir sampai kurasakan bibir lembutnya menyentuh bibirku. Junior menciumku.

.

.

.

.

.

“Huaahhh!” Aku terbangun. Lagi-lagi aku bermimpi tentang Junior tapi…

Apa ini?

Apa yang baru saja kumimpikan?

K-kami berciuman?!

Oh, jantungku bahkan masih berdetak kencang saat ini!

.

.

.

Sekarang adalah jam makan siang dan aku menghabiskannya dengan…Junior. Sungguh momen yang sangat amat ingin aku hindari. Tapi aku tidak bisa, tempo hari pemuda itu memintaku menunjukkan buku sejarah dunia yang pernah aku pinjam. Pemuda ini sangat menyukai pelajaran sejarah rupanya.

“Luna, aku minta orange juice-mu ya.” Suara Junior membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk pelan dan dia langsung mengambil cup orange juiceku. Meminum cairan oranye itu menggunakan sedotan. Sedotan yang sama dengan—tunggu…

Ini artinya ciuman tidak langsung ‘kan?

“Hey, Luna.” Junior menoleh. Mungkin dia menyadari kalau aku menatapnya sedari tadi. Jarak wajah kami jadi sangat dekat.

Ah, sial wajahku memanas. Aku teringat lagi mimpiku semalam. Tidak, Luna lupakan mimpi itu. Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Dadaku bergemuruh lagi.

“Kau kenapa? Apa kau marah karena aku menghabiskan minumanmu?”

***

Setelah lima hari berturut-turut mengalami mimpi yang indah, sekarang Tuhan seperti menghukumku. Sudah lima hari pula aku tidak bisa tidur, kepalaku pusing sekali. Sepertinya lebih baik aku ke ruang kesehatan saja. Tidur selama beberapa jam kurasa cukup.

Aku baru saja membuka pintu ruang kesehatan saat aku melihat seorang pemuda yang tak asing tengah duduk dia atas salah satu ranjang. Pemuda yang akhir-akhir ini jadi akrab denganku.

“Luna, kau kenapa?” tanyanya begitu dia menyadari kehadiranku. Ah, ini seperti de javu. Hanya saja kali ini dia yang bertanya.

“Oh, junior. Kau juga di sini?” Aku berjalan ke arahnya dan duduk di ranjang satunya, tepat di hadapannya.

Junior menatapku lekat-lekat, “wajahmu pucat,” ujarnya. Yah, sepertinya tampangku sangat parah saat ini. Aku sudah melihat penampilanku tadi pagi, lingkaran hitam tergambar manis di bawah kedua mataku.

“Sudah 5 hari aku tidak bisa tidur,” jawabku sambil memegangi kepalaku yang semakin berdenyut.

“Kenapa kau tidak bisa tidur?”

Kenapa ya?

“Entahlah.” Tidak mungkin kan kalau aku bilang karena aku memikirkanmu.

“Kalau kau sendiri, kenapa ada di sini?” tanyaku balik. Sama seperti apa yang dilakukannya waktu itu. Aku menatapnya. Menatap paras yang sudah lebih dari seminggu ini kujumpai dan lima hari berturut tak pernah absen dari mimpiku. Dia menengadah, menatapku balik.

“Entahlah, tiba-tiba aku ingin ke sini.”

 .

.

Legend says, when you can’t sleep at night, it’s because you’re awake in someone else’s dream.

Fin.

3 thoughts on “[Vignette] 5 Mimpi Luna”

  1. romantis gaib /? gimana gitu sih tapi kasiyan juga kalian ga bisa bobo’😄
    Harusnya kalian segera sadar dan nemu kalimat “legend says –” itu supaya kalian tahu kalian ada di mimpi masing-masing hahay! nice story!

    Suka

  2. Kyaaaaaaa!!!! Junior!! Apalah ini sweet banget. Bikin greget sore sore. Keep fighting author! Bikin lagi yang banyak 😁😁 Reader baru imnida

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s