Amato (Part 2)

amato

Title: Amato chapter 2

scriptwriter: Yosichan

Main Cast:

  • Oh Sena
  • Park Chanyeol
  • Oh Sehun
  • Shin Chanmi

Support Cast: find by your self

Genre: Romance, family life, comedy

Duration: chapter

Rate: pg 15

Previous part: 1

              Aku masih bimbang dengan definisi cinta. Karena definisi cinta yang aku mengerti hanya perihal menyenangkan dan indah. Tidak rumit dan sakit. Jika aku boleh meminta, aku akan meminta Tuhan untuk tidak menghadirkan perasaaan yang bahkan tidak boleh aku rasakan. Aku menyukainya. Yidak. Akurasa aku mencintainya. Mencintai pria yang membenciku. Yang selalu menyakitiku. Benar. Dia suamiku. –Oh sena –

              Tidak perduli apa yang orang katakan tentangku. Tentangku yang sebenarnya tidak pernah mereka rasakan. Tentang masa depan indahku bersama seorang wanita idamanku. Lalu hancur seketika hanya karena perjodohan konyol itu. Aku membenci diriku ketika menjadi orang jahat. Menyakiti dan selalu menyiksanya. Dia. Istriku. –Park Chanyeol-

 

Kubuka mataku samar. Akh! Rasanya masih perih. Dimana ini? apa aku sudah berada disurga?

“ omo, uri Sena-yya” ibu mertuaku terlihat begitu khawatir memberiku pertanyaaan bertubi-tubi tentang  keadaanku. Aku hanya menatap bingung seraya melihat kesekililing ruangan ini. Tuan Park yang sedang duduk dikursi rodanya menatap khawatir, dan Sehun. Dia menatapku dengan tatapan dingin. Dia tidak seperti biasanya acuh dengan keadaanku.

“ Chanyeol bilang kau terjatuh dan kepalamu tertimpa vas bunga. Bagaimana bisa? Apa kepalamu masih sakit?” Tuan park mengelus punggung tanganku. Aku mengangguk.

“ apa kau masih ingat kejadian mengapa tiba-tiba kau terjatuh kemudian tertimpa vas?” Sehun memang tak akan percaya apa yang Chanyeol katakan. Karena hanya dia yang tahu seperti apa Chanyeol memperlakukanku.

“ aku tidak begitu ingat.”  Aku menatap kedua mertuaku yang terlihat begitu khawatir padaku.

“ lain kali kau harus berhati-hati.” Kali ini eommanim mengelus pipiku lembut.

“ benar. Kau. Harus. Berhati-hati.” Sehun memberi penekanan pada kalimatnya sebelum ia beranjak meninggalkan ruangan ini tanpa permisi pada kedua mertuaku. Kulihat eommanim mengerutkan dahinya menatap kepergian adikku.

“ jangan khawatir, dokter bilang kau hanya cedera biasa dan diperbolehkan pulang setelah ini.” Tuan Park tersenyum padaku.

“ ahh bocah tengik itu kenapa tidak menunggu istrinya disini. Apa pekerjaannya lebih penting dari istrinya?” ia menambahkan

Normal Pov

              Plak!! Tamparan mendarat pada pipi Chanyeol. Park Yoora kemudian melemparkan sebuah USB berwarna putih tepat didahi Chanyeol.

“ ige mwoya!!” tentu saja Chanyeol teriak tidak terima dengan perlakuan kakak perempuannya yang tiba-tiba itu.

“ kau! Jika saja kau bukan adikku, sudah kulaporkan kau pada polisi. Apa kau pikir perbuatanmu ini bukan tindak pidana? Aku jadi curiga ini bukan pertama kalinya kau menyakitinya kan?” Yoora meninggalkan Chanyeol yang masih tidak mengerti. Ia lalu duduk dimeja kerjanya seraya membuka laptop dan memasang USB pemberian kakaknya. Betapa kaget wajahnya ketika melihat video ketika ia melempari Sena dengan vas bunga. Tidak mungkin! Apa Yoora sengaja meminta rekaman cctv ini pada petugas? Tp tidak sembarang orang yang bisa mendapatkan rekaman cctv. Batinnya dalam hati. Detik kemudian ia mengacak rambut kecoklatannya.

              Chanyeol berjalan memasuki rumah megahnya dengan penuh pikiran. Dibenaknya masih menerka-nerka siapa yang sudah berani meminta rekaman cctv itu pada petugas cctv. Terlebih lagi ia takut ancaman kakaknya benar-benar terjadi jika orang lain tahu apa yang sebenernya terjadi pada Sena hingga ia jatuh pingsan.

“ oh kau sudah datang? Mengapa tidak menjemput istrimu? Eoh? Dia sudah tertidur dalam kamarmu.” Nyonya Park menuangkan teh hangat ke cangkir-cangkir untuk suami dan putranya lalu duduk disebelah cucunya.

“ dia bilang tidak ingin makan. Bujuklah untuk makan Appa rasa dia marah karna kau tidak datang sama sekali kerumah sakit.” Tuan Park mengaduk supnya. Tanpa membalas semua perkataan orang tuanya ia langsung bergegas memasuki kamarnya untuk memastikan dimana Sena tidur. Tempat tidurnya kosong. Ia menoleh kearah kamar mandi dan melihat Sena sedang membaca buku sambil mendengarkan musik melalui earphone. Chanyeol membuka earphone ditelinga sena dengan kasar.

“ apa ada yang tau kau tidur disini?” seperti biasa tatapan Chanyeol seakan menerkam Sena. Sena menggeleng.

“ maaf, tadi eommanim mengantarku ditempat tidurmu dan aku berpura-pura tertidur disana lalu pindah kesini setelah tak ada orang dikamar ini.” Chanyeol menghela napas. Kemudian mencengkeram tangan Sena

“ kau, apa kau yang melakukannya?”

“ mwo?”

“ cctv itu. Apa kau yang meminta rekaman cctv pada petugas?” kening Sena berkerut tidak mengerti. Kemudian Chanyeol melepas cengkeraman itu dan berdiri menuju tempat tidurnya. Kakaknya saja tidak mungkin sembarangan mendapatkan rekaman cctv itu apalagi wanita seperti dia yang ia perkenalkan sebagai assisten pribadinya pada seisi kantor ketika Sena sering berkunjung kekantor untuk mengantar sesuatu yang ia inginkan.

              Sena sedang menjemput Queeni yang sedang bersekolah ditaman kanak-kanak. Mereka tidak segera pulang melainkan bermain ditaman tidak jauh dari sana ia beralasan pada Yoora bahwa ingin menghibur Queeni yang sering ditinggal pergi bekerja oleh eommanya. Sejujurnya ia menghindari Chanyeol yang hari ini entah mengapa tidak pergi bekerja.

“ oppa!! Kau datang?” Queeni langsung berlari dan menghambur kepelukan Sehun ketika melihatnya bahkan dari jauh. Entah mengapa Queeni memanggilnya oppa padahal Sehun hanya selisih 1 tahunan dengannya.

“ omo omo siapa gadis cantik ini. apa sekolahmu berjalan baik?” ia menggendong putri park Yoora yang baru menginjak umur 4tahun itu.

“ eoh. Oppa, kau dari mana? Apa kau punya kekuatan yang bisa mengetahui keberadaanku?”  Sehun meletakkan Queeni pada ayunan lalu mendorongnya pelan.

“ tentu saja. Aku bisa merasakan radar ketika ada gadis cantik sepertimu.” Queeni kemudian tertawa lepas. Apa jadinya jika ia mengatakan bahwa immo-nya selalu mengirim Sehun pesan untuk mengajak bertemu. Mungkin Sena ingin Sehun menghiburnya.

“ kalau begitu bagilah kekuatan itu agar aku bisa merasakan radarmu dari jauh, oppa” Sehun tertawa mendengar Queeni yang belum terlalu fasih berbicara.

              Beberapa menit kemudian Sehun membiarkan Queeni bermain pasir dan ia duduk disebelah kakaknya yang tersenyum menatap keponakan barunya itu.

“ yak nenek sihir, kau benar-benar seperti kacang lupa pada pedagangnya. Apa kau tidak rindu eomma? Atau kau lupa jalan untuk kerumah sempitmu karna sekarang kau tinggal dirumah mewah?” pletak! Sena memberi pukulan pada kepala adiknya itu.

“ apa setiap kita bertemu kau harus membuatku naik darah?” Sena mengipas-ngipas tangannya didepan wajahnya seolah membutuhkan banyak oksigen ketika mulai berdebat dengan adiknya.

“ kau pikir aku tidak sibuk karena tinggal dirumah mewah? Aku juga tetap bekerja part time dan mengurus gadis kecil yang mengidolakanmu itu.” Sena menunjuk Queeni yang menoleh ketika namanya disebut kemudian melakukan pose imut untuk menarik perhatian Sehun.

“ kau masih berkerja? Dimana? Sejak kapan?”

“ di toko laundry seminggu yang lalu.”

“ apa keluarga barumu mengijinkan?”

“ menurutmu?”

“ aissh Noona aku serius.”

“ aku lebih serius pria bodoh.” Sehun menarik ikat rambut Sena dan mengacak rambutnya kemudian berdiri dan berlari.

“ yak OH SEHUUNN!!” Sena mengejar kemudian menjitak dan menendang tulang kering Sehun hingga ia menjerit kesakitan. Hingga ada seorang gadis cantik yang datang dan menarik tangan Sena dan menatap Sena tajam.

“ apa yang sedang kau lakukan pada Sehun-ku?” gadis cantik itu terlihat amat sangat marah dan bersiap menjambak rambut Sena namun dihalang oleh tangan Sehun.

“ apa yang sedang kau lakukan pada kakakku nona Shin?” gadis itu menganga. Queeni yang melihat adegan itu langsung berlari menghampiri Sena dan kemudian menggigit tangan gadis yang dipanggil nona Shin oleh Sehun itu.

“ akhh! Ige mwoya!!”

“ siapa kau berani menyakiti immo-ku? Dasar wanita buruk rupa.” Queeni berteriak pada gadis itu.

“ Sehun-ah apa yang kau katakan benar? Dia..”

“ benar, dia kakak perempuanku. Apa kau puas?” Sehun melotot kearah gadis itu.

“ omo, eonni jeongmal joseoamnidda. Jeongmal..” gadis itu membungkuk beberapa kali dihadapan Sena,

“ gwenchana, kau siapa?” Gadis itu menatap Sehun yang juga sedang menatapnya tajam seperti memberi isyarat.

“ dia saudara jinyoung.” Sehun berjalan menuju tempat duduk yang tadi sempat mereka tinggalkan. Terlihat gadis itu cemberut karena jawaban Sehun tidak sesuai harapannya.

              Sena berjalan disamping Sehun yang sedang menggendong Queeni dipunggungnya. Queeni tertidur pulas hingga membuat Sehun harus mengantar mereka sampai rumah.

“ katakan, apa dia gadis yang dekat denganmu?” Sena menggoda adikknya

“ apa kau tidak sadar berapa gadis yang dari dulu dekat denganku? Adikmu ini, sudah tercipta menjadi pria tampan yang selalu dikejar oleh gadis-gadis cantik.” Ia membenarkan gendongan queeni.

“ jadi menurutmu gadis tadi termasuk gadis cantik yang selalu mengelilingmu? Aku baru tahu gadis itu.”

“ sebenarnya sudah 3bulan yang lalu kami dekat dan saling mengenal. Dia murid pindahan dari mokpo. “

“ apa kau menyukainya?”

“ apa menurutmu seleraku gadis kecil dengan bentuk badan seperti anak SD? Dadanya datar sepertimu. Haissh dia benar-benar tidak menarik untukkku.” Pletak! Sena menjital kepala Sehun.

“ yak Noona kau ingin gadis cerewet ini bangun? Aku tidak akan mengantarmu pulang jika kau tak bersikap baik denganku. Ahh apa aku harus menurunkan ponakanmu ini dibahu jalan saja?” Sehunmemberi ancang-ancang menurunkan gendongannya lalu Sena manjambak rambut Sehun.

“ kau ingin mati, eoh?”

“ berhenti bersikap anarkis denganku Noona, seharusnya kau seperti ini pada suamimu. Apa eomma melahirkanmu tanpa otak yang lengkap?”

“berhenti berceloteh dan tunggulah bus disana.” Sena menunjukkan halte bus

              Sehun meletakkan Queeni ditempat tidurnya, Nyonya Park menatap diambang pintu sambil menyunggingkan senyum hangatnya seperti biasa

“ syukurlah kalian menjaganya. Yoora pulang dua jam yang lalu dan pergi lagi dia mengatakan akan bertugas di jeju karna akan dibangun cabang baru disana. Gomawo telah menjaga Queeni.” Sehun dan Sena beranjak dari kamar Queeni.

“ gwenchana eommanim dia bukan anak nakal.” Sena menutup pintu kamar Queeni

“ kalau begitu kau harus tidur menemaninya Noona.” Kali ini Sehun menambahkan.

“ ah benar. Tidurlah dengannya Sena-ssi” Sena mengangguk setuju. Ia melirik adiknya yang mengedipkan matanya sebelah memberi arti bahwa kakaknya kali ini aman dari suami kejamnya.

              Sehun ikut makan malam dirumah ini bersama Tuan dan Nyonya Park. Tanpa Chanyeol yang biasanya duduk disebelah Tuan Park.

“ dimana Chanyeol Hyung?” Sehun mengedarkan pandangan ke penjuru rumah ini.

“ pagi tadi dia cuti kerja dan ingin pergi berlibur bersama temannya.”

“ teman? Kenapa istrinya tidak diajak? Aku dengar malah mereka berdua belum berbulan madu.” Sehun kembali memberi pertanyaan yang sengaja membuat Tuan dan Nyonya Park semakin curiga dengan putranya itu.

“ oppa bilang teman kantornya tidak ada yang mengajak pasangan, mungkin dia tidak enak jika mengajakku. Lagi pula aku harus menjaga Queeni.” Sena berucap seraya menatap Sehun dengan tatapan tajam memberi kode untuk menghentikan sikap adiknya tersebut.

              Sena mengantar Sehun hingga ke gerbang sambil menggandeng lengan adiknya itu. Meski ia lebih tua namun tak jarang Sena bermanja dengan adiknya.

“ Sehun-ah, berhenti bersikap seperti itu. Kau hanya akan mempersulitku. Apa kau tidak bisa bersikap baik kepada mertuaku?” Sena menggandeng adiknya dengan sedikit bergelayut manja dilengannya.

“ apa sikapku tidak sopan? Aku hanya ingin membuat mereka sadar dengan tingkah laku putranya “ belum selesai Sehun berbicara sebuah mobil mewah berhenti didepan gerbang tepat saat penjaga membukakan gerbang untuk Sehun dan Sena. Mereka melihat Chanyeol diantar oleh seorang gadis cantik yang kemudian mencium pipi Chanyeol. Sehun langsung menatap kakaknya penasaran akan reaksi kakak perempuannya tersebut. Benar saja air mata Sena menggenang dipelupuk matanya. Sehun semakin yakin kakaknya telah jatuh cinta pada pria kejam yang selalu menyakitinya itu. Tanpa sadar Chanyeol sudah berada dihadapan mereka.

“ apa yang sedang kalian lakukan?” Chanyeol membuyarkan pikiran kedua kakak beradik itu.

“ aku, hanya akan mengantar sehun. Sehun-ah hati-hati dijalan. Telfon aku ketika sampai rumah. Paham?” ia menepuk pundak Sehun seraya menghapus sisa-sisa air matanya yang menetes dan berbalik memasuki gerbang.

“ Noona, kau harus tetap sehat. Jika kau sakit siapa lagi wanita yang akan disakiti olehnya.” Sehun berkata dengan tetap menatap tajam Chanyeol. Demikian dengan Chanyeol yang juga menatap Sehun tajam dan terlihat rahangnya mengeras seakan menahan sesuatu. Sena menoleh menatap dua orang yang saling bertatapan tajam itu.

“ Sehun-ah, kau akan ketinggalan busmu. Cepat pulang sebelum kutendang kau.” Ucap sena mengancam. Kemudia Sehun menyudahi tatapannya pada kakak iparnya tersebut.

              Chanyeol melihat tempat tidur Sena kosong. Ia pun mengacak tempat tidur itu. Karena tak ada yang bisa ia suruh. Ia pun keluar kamar untuk mencari Sena namun nihil.

“ Sena tidur dengan Queeni, Noona-mu sedang tugas dijeju. Eomma rasa queeni juga sedang tak enak badan karena sejak tadi dia merengek dalam tidurnya.” Nyonya park seakan tahu apa yang sedang dicari putranya.

“ apa Queeni demam?” Chanyeol mendekati ibunya yang sedang menata obat untuk Tuan Park.

“ molla. Sena yang sedang bersamanya.”

“ Chanyeol-ah, besok appa-mu akan berangkat ke jepang untuk melakukan perawatan. Jika berhasil kami pulang 2minggu kemudian.” Nyonya Park menambahkan.

“ apa Appa akan sembuh total setelah dari sana?”

“ entah. Dokter bilang ini hanya mengundur vonis kematian yang dokter katakan. Maka dari itu, buat dia bahagia sekali ini saja. Kau paham?” tangannya merapikan anak rambut Chanyeol yang masih berantakan.

“ kau sudah berkemas?” tanya Chanyeol.

“ eoh. Kau bersihkan dulu badanmu lalu makanlah. Eomma memasak makanan kesukaanmu. Dan tadi adik Sena ikut makan malam disini. Eomma senang ternyata Queeni begitu menyukai kakak beradik itu.” Nyonya Park menjelaskan panjang lebar. Chanyeol berbalik menuju kamarnya.

“ Chanyeol-ahh..” Chanyeol menoleh menghadap ibunya.

“ jaga istrimu selama kami tidak ada. Yoora akan segera pulang setelah urusannya selesai.” Tambah Nyonya Park.

“ eoh.” Chanyeol berjalan menuju menuju kamarnya.

              Paginya Sena dan Chanyeol membantu Tuan dan Nyonya Park berkemas. Memasukkan barang-barang kedalam bagasi mobil. Queeni berada dalam gendongan Chanyeol menuju mobil. Mereka akan mengantar Tuan dan Nonya Park sampai bandara Incheon. Didalam mobil Queeni berpindah tempat dipangkuan Sena yang duduk disebelah Chanyeol yang sedang mengemudikan mobilnya.

“ halmeoni kau akan kemana?” tanya Queeni yang masih menyandarkan kepalanya pada dada Sena.

“ kami akan segera kembali. Kau tidak boleh menyusahkan immo-mu. Mengerti?” Queeni mengangguk pelan.

“ eomma, kapan dia pulang? Apa dia tidak merindukanku?” kali ini gadis kecil ini mendongakkan kepalanya pada Sena.

“ tentu saja dia rindu. Ah cham, aku akan menelfonnya.” Sena mengeluarkan handphonenya dan menghubungi Park Yoora. Tidak lama kemudian dia mendengar suara wanita operator tanda bahwa sang empunya handphone sedang tidak mengaktifkan handphonenya. Queeni mengerutkan kening ingin bertanya.

“ ahh, eomma-mu sedang banyak pekerjaan, dia bahkan tidak sempat mengangkat telfonnya.” Sena menjelaskan.

“ eomma jahat. Dia bahkan tidak peduli denganku lagi.” Queeni mulai menangis.

“ uljimaa.. kau ingat? Sehun oppa melarangmu menangis karena kau tak akan cantik lagi. Kemari. Kau harus terlihat cantik Queeni-ssi.” Sena menghapus air mata Queeni dan membenarkan rambutnya yang berantakan.

“jangan berhenti menghubungi Yoora. Dia benar-benar sudah gila meninggalkan anaknya seperti ini. jangan lupa jaga dia Sena-yya.” Sena mengangguk penuh semangat.

“ ne appa!” ia sedikit melirik Chanyeol yang serius mengemudi.

              Malam harinya Chanyeol pulang larut malam karena pekerjaan yang ia tinggalkan selama mengantar orang tuanya ke bandara. Ia langsung menuju dapur untuk mengairi tenggorokannya yang kering. Diambilnya gelas yang tertata di pantry lalu menuju kulkas. Diteguknya air itu seraya membalikkan tubuhnya. Glek!!

“ omo!!” Chanyeol tersedak air karena ketika berbalik ia melihat sosok wanita dengan pakaian putih dengan tatapan menyedihkannya.

“ ige mwoya!! Kau ingin membuatku terkena serangan jantung?” terang saja Chanyeol marah karena Sena tiba-tiba datang dengan tatapan sedih.

“ Chanyeol-ahh..” Sena mencoba mengeluarkan suaranya.

“ wae? Kau ingin merepotkanku tengah malam seperti ini?”

“ Queeni…” Chanyeol mengerutkan keningnya menerka apa yang akan dikatakan Sena.

              Queeni sudah terbaring dikamar sebuah rumah sakit ternama di Seoul. Dikanan kirinya duduk pasangan suami istri yang masih belum pantas disebut suami-istri. Sekitar satu jam yang lalu mereka tergopoh mengantar gadis kecil ini kerumah sakit karena demamnya tinggi ditambah mengeluarkan darah dari hidungnya. Usaha Chanyeol menghubungi kakaknya sia-sia. Ia selalu mengumpat tidak jelas ketika wanita operator yang mengangkat panggilan untuk kakaknya. Sementara Sena hanya bisa menonton kejadian itu seraya menggenggam tangan Queeni.

“ immo… samchun..” Queeni mencoba membangunkan Sena dan Chanyeol yang tertidur menelungkupkan kepala  dikanan-kiri tangannya.

“ ohh, kau sudah bangun? Apa ada yang sakit?” Sena terbangun lebih dulu dan langsung memanggil suster. Diikuti Chanyeol yang terbangun karena kegaduhan suara Sena.

“ immo, Sehun oppa akan datang menjengukku? “ Queeni menelan makanan suapan dari Sena. Disofa, Chanyeol memperhatikan.

“ tentu saja dia akan datang sepulangnya sekolah nanti.” Sena menjawab dengan penuh semangat.

“ yeayy!! Apa dia akan membawakanku coklat?” kali ini Sena tercengang dan menatap ke arah Chanyeol yang juga sedang menatapnya penuh. Seketika Chanyeol seperti tertangkap basah karena diam-diam memperhatikan istri palsunya itu. Sena tetap menatap Chanyeol dengan tatapan apa-boleh-dia-memakan-coklat? Chanyeol mengangguk setuju lalu berdiri.

“ kau akan ke kantor sekarang? Apa tidak sarapan dahulu?” Sena meatap punggung Chanyeol yang akan keluar dari kamar.

“ lalu bagaimana denganmu? Kau kan tau biaya kuliahmu tidak murah dan kau akan membolos?” jawab Chanyeol dingin.

“ lalu Queeni akan kita tinggal?”

“ andwee, immo kau harus tetap disampingku. Kecuali jika Sehun oppa sudah datang kau boleh pergi.” Queeni berkata sedikit berteriak hingga makanan dimulutnya sedikit menyembur.

“ tentu saja aku akan selalu disampingmu sayang.” Sena mengecup puncak kepala Queeni. Sedangkan Chanyeol keluar ruangan itu. Ia menatap layar ponselnya. Tidak ada pesan atau panggilan dari kakak perempuannya.

              Sehun bergegas menuju rumah sakit setelah menerima pesan dari kakaknya bahwa Queeni sakit dan menginginkan coklat darinya. ia memasuki ruangan rawat inap yang dicat pink dan banyak gambar tokoh-tokoh kartun didindingnya,

“ tadaaa!!” Chanyeol dan Sena terkejut. Bukan karena suara Sehun namun suara Queeni yang nyaring menyambut kedatangan Sehun.

“ oppa!!! Aku tau kau pasti datang.” Serunya sambil langsung merebut coklat yang dibawa Sehun.

“ aigoo! Lihat gadis ini. kau tidak terlihat seperti orang sakit. Cepatlah sembuh lalu kita bersepeda mengelilingi taman.” Sehun mengacak rambut Queeni.

“ jinjjayo?” mata Queeni berbinar mendengar janji yang diucapkan Sehun.

“ eoh. Maka cepatlah sembuh gadis cantik.” Queeni mengangguk dengan penuh semangat.

              Brak!! Pintu dibuka dengan kasar oleh seseorang. Park Yoora tergesa-gesa memasuki kamar dengan napas yang tersengal-sengal.

“ Queeni-yya, gwenchana? Mianhae eomma…”

“ keluar!” tawa ceria Queeni berubah menjadi cemberut khas anak kecil.

“ aku tidak ingin melihatmu, Park Yoora!!” Queeni berteriak sambil menangis. Yoora terpaku. Anak semata wayangnya tidak menginginkan kehadirannya.

“ Queeni-yya, kau tidak boleh seperti itu. Gadis cantik akan terlihat jelek jika seperti itu.” Sehun menyela.

“ aku tidak perduli terlihat jelek dihadapannya! Tidak perduli! Keluar!! Kau eomma paling jahat didunia!!” Queeni melempar bantal dan boneka yang ada disekitarnya ke arah Park Yoora.

“ Queeni-yya…” Yoora meneteskan air mata. Chanyeol menggiring kakak perempuannya itu keluar. Sementara Sehun menenangkan Queeni. Sena menatap kepergian kakak beradik itukeluar kamar.

“ apa kau pantas disebut seorang ibu?” Yoora mendongak menatap adiknya tertegun.

“ kau. Jangan pernah salahkan siapapun yang nanti akan dianggap ibu oleh anakmu. Kau bukan ibu yang baik untuknya.” Chanyeol berbalik dilihatnya sekilas bahu seseorang yang sedang menguping dibalik pintu.

“ kau tidak akan pernah mengerti keadaanku.” Chanyeol berbalik lagi menatap kakaknya yang menghapus air matanya.

“ mengerti apa? Mengerti jika kau seorang ibu yang tidak bertanggung jawab?”

“ tutup mulutmu!!”

“ kau yang harusnya menutup mulutmu. Apa kau tidak sadar bahwa takdirmu menjadi seorang ibu? Ibu mana yang tega tidak mengaktifkan handphone bahkan kettika putri tunggalnya mengidap demam berdarah?” Yoora menganga tal percaya. Di balik pintu Sena menutup mulutnya kaget dengan perkataan Chanyeol.

“ apa yang kau katakan? Queeni?…”

“ benar. Dia terkena demam berdarah. Kau hanya perlu berada disisinya dan terus memberinya jus jambu merah. Cutilah dari pekerjaanmu.”

“ aku tidak akan bisa cuti begitu lama.”

“ lalu kau akan meningglkan dia seperti itu? Apa diotakmu hanya kerja kerja dan kerja? Apa kau tetap akan menjadi wanita mtrealistis hingga akhir?” Plak!! Yoora menampar keras pipi adiknya.

“ kau. Apa kau tau rasanya menjadi single parent? Menjanda dan menduda akan berbeda. Kau tidak akan pernah tau bagaimana rasanya dicampakkan begitu saja lalu berusaha menghidupi anak tunggalnya sendiri..”

“ apa yang kau sebut menghidupi anak tunggalmu dengan merepotkan orang lain?”

“ maka dari itu aku tidak ingin meminta uang pada orang tuaku lagi. Kau mengerti?”

“ aku yang akan membiayai Queeni hingga besar nanti dan berhentilah dari pekerjaanmu yang sering menyita waktu dengan putrimu.”

“ apa sekarang kau sedang memamerkan kekayaanmu pada kakakmu sendiri? Cih! Seperti inikah kau dibesarkan?”

“ lalu apa kau dibesarkan hanya untuk melihat uang saja”

“ geumanhae. Aku tidak ingin menamparmu lagi.” Yoora duduk dikursi koridor rumah sakit itu. Chanyeol berbalik dan menghampiri pintu ketika melihat bahu seseorang mencoba memasuki pintu ruangan tempat Queeni dirawat. Ia langsung menarik paks tangan Sena menjauh dari tempat itu.

“ apa ini hobimu?” Chanyeol menghempaskan tangan Sena kasar.

“ joseoamnidda… aku hanya..”

“ malam ini pulanglah kerumahmu. Aku benar-benar muak melihat wajahmu. Jika kau pandai menguping tentunya kau pandai mendapatkan alasan untuk tidak tidur dirumahku kan?” Sena terdiam. Chanyeol melangkah pergi.

“ malam ini, biarkan aku menjaga Queeni bersama eonni.” Langkah Chanyeol terhenti.

“ jaga saja dia dan tidak perlu meneruskan kuliahmu.” Chanyeol meneruskan langkahnya. Setitik air itu kembali membasahi pipi Sena. Ia menunduk mencoba menenggelamkan kesedihannya sebelum masuk ke ruangan tempat Queeni dirawat.

              Benar saja Queeni menangis kencang ketika Sena mencoba membereskan barang-barangnya sebelum berpamitan pulang.

“ immo kau sama jahatnya dengan eomma. Kau jahat.” Sena berhenti melakukan aktivitasnya dan menatap Queeni. Sehun berusaha menenangkan Queeni meski hasilnya nihil. Sena menatap Chanyeol yang menyaksikan kebisingan ini.

“ baiklah, immo tidak akan kemana-mana tapi besok immo harus tetap pergi sekolah. Kau tidak ingin immo-mu ini menjadi immo bodoh karena tidak sekolah kan?” Queeni meredam tangisnya pada pelukan Sehun sambil mengangguk setuju. Sena lega.

“ aku akan tetap belajar disini. Ku mohon..” Chanyeol beranjak dari duduknya dan pergi tanpa menjawab ucapan Sena.

              Malam ini Sena kembali kerumah tuan Park untuk mengambil beberapa baju dirinya, Queeni dan Yoora. Yoora pada akhirnya memutuskan untuk cuti hingga Queeni pulih total. Sena menatap jam. Tepat pukul 01.25 dini hari. Ia melihat tempat tidur Chanyeol. Kosong. Sudah dua hari ia ttidak bertemu dengan Chanyeol. Karena Chanyeol menjenguk Queeni sete;ah ia berangkat ke kampusnya. Sena menghela napas. Ia sadar Chanyeol sengaja menghindarinya. Bukan. Sejak dahulu ia memang tak diharapkan Chanyeol. Tiba-tiba pintu megah rumah ini dibuka kasar. Chanyeol masuk di bopong oleh Gayeon memasuki rumah ini. Sena segera keluar dari kamar Chanyeol dan terkejut melihat kondisi Chanyeol yang sedang mabuk berat sedang dibopong oleh gayeon.

“ Sena-ssi, tolonglah.” Gayeon mencoba menaiki tangga menuju kamar Chanyeol. Tanpa menjawab Sena langsung meletakkan tanagn kiri Chanyeol pada bahunya dan ikut membantu Chanyeol memasuki kamarnya.

“ pergi kau wanita jalang!” Chanyeol menghempaskan tangannya mendorong Sena menjauh.

“ aku benar-benar muak melihatmu. Pergi kau!! Kau. Perusak impianku!!” Chanyeol berteriak. Aroma alkohol menyengat dari mulutnya. Gayeon menenangkan sambil terus membawa Chanyeol memasuki kamarnya.Chanyeol masih mengumpat tidak jelas dan terus menghina Sena.

“ tolong rawat dia. Aku tidak bisa lebih lama ditempat ini.” gayeon menatap cctv rumah ini yang berada di ruang tengah. Sena mengangguk.

“ gayeon-ahh..” gayeon menatap Sena yang dari tadi menundukkan kepalanya tak berani masuk kamar Chanyeol.

“ gomawo. Aku harap kau dan Chanyeol tidak putus hanya karena aku. Bersabarlah. Setelah wisuda kita akan bercerai.” Air mata Sena mendesak keluar mengaliri pipinya.

“ aku tidak terlalu mengharapkan itu. Jaga dia selama aku tidak disisinya. Aku rasa dia masih belum terbiasa denganmu. Suatu saat, kami pasti akan berpisah. Aku percaya itu.” Gayeon menepuk bahu Sena pelan.

“ andwe! Jangan pernah tinggalkan dia. Kau yang sangat dicintainya. Hanya kau. Percayalah.” Air mata Sena makin deras mengaliri pipinya.

“ arra..”

“ dia akan terus membenciku jika kau meninggalkannya. Kumohon. Jangan tinggalkan dia.” Sena akhirnya menangis terisak. Gayeon memeluknya mencoba mengerti apa yang sedang Sena rasakan.

“ uljima, jika aku dan dia berjodoh kami pasti akan bersatu. Sekuat apapun aku menggenggamnya, jika dia bukan takdirku pasti akan berpisah juga. Begitupun denganmu.” Sena menangis dipelukan Gayeon.

“ mianhae Gayeon-ahh. Jeongmal mianhae..” Sena memeluk Gayeon erat.

“ jika dia bukan takdirku, aku harap kau yang menjadi takdirnya, Sena-ssi.” Gayeon melepas pelukan Sena. Ada bulir air mata dipipi Gayeon. Tidak dipungkiri gayeon juga begitu mencintai Chanyeol. Namun ia mencoba dewasa. ketika keluarga Chanyeol mengenalkan Sena sebagai calon istri Chanyeol, sejak itu ia memang membenci Sena. Kemudian mencari tahu siapa Sena sebenarnya . ditambah lagi penjelasan panjang lebar dari Yoora tentang Sena. Akhirnya ia menyerah dan membiarkan Sena berada di sisi Chanyeol meski hanya sementara. Namun ia juga tidak berharap banyak akan masa depannya dengan Chanyeol. Ia juga merasa iba dengan kehidupan Sena yang rela menikah palsu hanya demi mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Gayeon tidak pernah bisa membenci Sena setelah bertemu dengan ibu Sena. Ia tidak mengatakan bahwa dia wanita yang Chanyeol cintai. Seperti yang ia lakukan pada Sena, mendekati hanya untuk sekedar bertanya ini itu tentang Sena. Disitu ia mulai merasa iba dan membiarkan Sena tetap menjadi istri Chanyeol.

“ kau menyukainya?” Sena mendongak menatap Gayeon tertegun.

“ anni! Itu tidak mungkin gayeon-ahh. Jika memang ada perasaan seperti itu aku akan menekannya hingga tidak tersisa dihatiku. Percayalah padaku. Dia tidak akan pernah menyukaiku, tidak akan, hanya kau yang ada dihatinya.” Gayeon menghapus bulir air mata dipipi Sena.

“ aku tidak akan pernah menghalangimu menyukainya. Jika kau menyukainya maka kau akan tetap menjaganya seperti aku menjaganya kan?” Gayeon tersenyum meyakinkan.

“ anni, jangan berkata seakan kau akan meninggalkannya. Aku akan membenci hal itu gayeon-ahh.” Gayeon melangkah meninggalkan Sena.

              Pagi harinya Sena meringkuk dibawah selimut dekat tempat tidur Chanyeol. Ia menangis terisak semalaman tidak tidur. Bagaimana bisa Chanyeol merebut mahkotanya ketika mabuk namun memanggil nama Gayeon. Sena tidak bisa menolak. Selain karena Chanyeol dalam keadaan mabuk. Ia juga menginginkannya. Menginginkan Chanyeol melakukan ini padanya. Namun ia menyesal setelahnya karena Chanyeol bukan mengingkan melakukan ini padanya namun pada Gayeon. Sena menatap Chanyeol yang masih tertidur tanpa mengenakan apapun dibadannya. Akhirnya Sena bangkita dan membawa selimut itu kekamar mandi. Kembali menangis dibawah guyuran shower deras agar tak membangunkan Chanyeol. Sementara itu Chanyeol terbangun sambil mencari handphonenya ia terkejut ketika jam di handphonenya menunjukkan jam 8.35 pagi. Ia bangkit dan terkejut karena tidak mengenakan selembar kainpun. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Lalu ia melihat bercak darah diseprei tempat ia tiduri. Ia makin terkejut. Segera ia kenakan pakaian yang berserakan di lantai. Kemudian menelfon gayeon.

“ yeobseo..” suara Gayeon terdengar lembut disebrang sana.

“ apa semalam kau tidur dikamarku?” Chanyeol sebenernya mengingat kejadian semalam namun ia ingin memastikan karena ia tidak ingin kejadian semalam itu adalah kenyataan.

“ anni. Wae? Kau merindukanku?” mata Chanyeol menangkap sosok yang keluar dari kamar mandinya hanya menggunakan handuk dengan rambut panjang yang basah terurai. Chanyeol tercengang. Bukan karena melihat keadaan Sena sekarang namun kenyataan bahwa semalam ia benar-benar merebut mahkota gadis yang tidak ia cintai.

              Masih dengan kondisi yang sama. Pucat dan lesu, Sena menuju rumah sakit mengantar pakaian Queeni dan Yoora. Ia tak mengatakan sepatah katapun setelah pertemuan tadi pagi dengan Chanyeol. Ia bahkan berpura-pura tidak terjadi apapun dan langsung pergi setelah mengenakan pakaian dan membereskan barangnya tanpa sarapan terlebih dahulu. Sedangkan Chanyeol benar-benar tidak mengerti apa yang harus ia perbuat.

“ yak nenek sihir. Apa kau sakit? Wajahmu pucat.” Sehun mengecek dahi Sena.

“ kau tidak demam tapi mengapa wajahmu pucat sekali? Apa semalam kau kurang tidur? Ahh istirahatlah dahulu. Setelah gadis ini bangun kau tidak akan bisa tidur.” Sehun mengeluarkan kota makanan dari dalam tasnya. Ia ikut menemani kakaknya menjaga keponakannya dan tak lupa membawa bekal masakan ibunya sesuai pesanan Sena.

“ aku lapar.” Jawab Sena. Ia kemudian bangkit dan menyelimuti Yoora yang tertidur disofa tempat Chanyeol biasa duduk jika menjaga Queeni. Entah hari ini mereka akan bertemu atau tidak, namun Sena berharap itu tidak terjadi.

“ cahhh!! Kita makan. Ahh aku benar-benar lapar karena harus bersembunyi dari wanita itu.” Sehun berdecak lalu memasukkan makanan kemulutnya.

“ wanita yang kau maksud itu Nona Shin yang ditaman waktu itu?”

“ eoh” Sehun tetap mengunyah makanannya.

“ dia gadis unik.” Sena ikut menyambar makanan di kotak makan Sehun.

“ yak! Itu. Kotak makanmu yang itu. Kau hobi sekali merebut makananku nenek sihir. “ Sena mengambil kotak makanan ditas Sehun lalu membukanya.

“ aku rasa dia menyukaimu.” Sena mengunyah makanannya.

“ setiap wanita memang akan menyukai wajah tampanku nenek sihir. Memangnya dirimu, wanita galak dan anarkis. Aku rasa kau dan Chanmi mirip. Apa jangan-jangan kalian berjodoh?” Sehun terlihat memasang wajah sedang berpikir. Sena memukulkan sumpitnya pada dahi Sehun.

“ ahh Noona. Kau ini benaar-benar jorok sekali. Dugaanku benar.  Aku rasa Chanmi sama denganmu. Wanita galak dan anarkis. Selalu menggunakan kekerasan.” Sehun mengambil tissue dan mengelap bekas makanan didahinya.

“ jadi namanya chanmi? Shin Chanmi?” tanya Sena. Karena tidak biasanya adiknya ini bersemangat menceritakan sosok gaadis yang sedang mengejarnya.

“ benar. Gadis aneh yang anarkis dan selalu menempel padaku seperti permen karet. Kau tau, dia mengejarku hanya karena aku tidak membayar kembalian membeli sekotak susu. Yang benar saja. Jika dia menyukaiku harusnya dia tidak perhitungan.” Sehun melanjutkan makannya.

“ dan itu akan membuatmu menjadi pria matrealistis. Ahh aku rasa dia benar-benar  gadis unik.”

“ makanlah dan kemudian tidur, jangan mengucapkan kata-kata yang aneh. Aku akan pergi bekerja setelah ini. aahhh sungguh melelahkan.”

              Sehun sedang melayani pembeli dicafe tempatnya bekerja. Beberapa gadis SMA sedang mengantri dan saling membisikkan tentang Sehun. Sedang Sehun hanya memasang wajah datar . sudah berulang kali sang empunya cafe berkata pada Sehun bahwa ia harus bersikap ramah pada pembeli namun tidak digubrisnya karena Sehun merasa risih melihat tingkah gadis-gadis ini.

“ yak Tuan Oh!!” sesosok wanita muncul dari baris belakang antrian dan meminta dilayani terlebih dahulu. Tentu saja gadis lain langsung cemberut. Sementara Sehun yang merasa nama marganya dipanggil menatap gadis gila dihadapannya. Gadis ini benar-benar seperti permen karet saja. Batinnya dalam hati.

“ setelah tidak ramai, layani aku dengan sangat baik atau aku tagih hutangmu disini.” Ia kemudian membalikkan badannya duduk dibangku cafe. Sadar akan tatapan sinis gadis-gadis yang sedang mengantri menjadikannya mengurung mengerjai Sehun.

              Sehun menghampiri Chanmi yang sedang memainkan handphonenya seraya memberi beberapa lembar uang didepan meja tempat Chanmi memainkan handphonenya.

“ pergilah, aku sedang bekerja. Jika kau membuat keributanm jangan pernah menemuiku lagi. Kau paham?” Sehun berjalan menjauh.

“ aku hanya ingin kau menemaniku membeli buku…”

“ jinyoung kemana?”

“ pergi dengan gadis yang baru saja dikencaninya.” Sehun mengacak rambutnya. Gadis ini benar-benar selalu pinta membuat alasan agar tetap berada disisinya.

“ 2 jam lagi pekerjaanku selesai. Pulanglah jika tidak bisa menunggu.”

“ aku bisa.” Seru Chanmi penuh semangat. Sehun meneruskan langkahnya.

              15 menit lagi Sehun diperbolehkan pulang dari cafe tempatnya bekerja. Sementara Chanmi sudah tak sabar menunggu sambil memainkan handphonenya. Tak jarang ia menjerit karena menang dalam game online yang ia mainkan membuat pelanggan lain menjadi terkejut. Sehun hany bisa membuang muka melihat tingkah teman barunya itu.

“ kajja sebelum toko itu tutup.” Sehun menghampiri Chanmi yang masih asyik bermain games tanpa mau duduk terlebih dahulu.

“ eoh gaeure.” Chanmi langsung memasukkan handphonenya kedalam saku lalu beranjak pergi. Mereka menaiki motor skuter milik Sehun pemberian tuan Park beberapa hari yang lalu sebelum mertua dari kakaknya itu berangkat ke jepang dengan alasan bisa kapan saja menjenguk kakaknya dan menemani Queeni bermain. Namun Sehun masih jarang menggunakannya. Selain masih enggan menggunakan fasilitas itu, dia juga ingin berhemat uang bensin. Hahaha benar-benar pria pelit.

“ dimana kau akan membeli buku itu?” Sehun menyerahkan helm pada Chanmi.

“ di apotek!” Chanmi mendengus kesal karena pertanyaan bodoh Sehun. Kemudian Sehun menjalankan motornya hingga menepi di didepan sebuah apotek yang besar dekat rumah sakit tempat Queeni dirawat.

“ kau benar-benar..” Chanmi masih tercengang dengan kelakuan Sehun.

“ apa lagi? Bukannya kau bilang akan membelinya disini? Kajja masuk. Setelah ini kau harus mentraktirku makanan.” Buk!! Chanmi memukul bokong Sehun dengan tasnya.

“ yak!! Kau ini benar-benar… apa lagi salahku?”

“ cih! Kau masih bertanya? Apa kau pikir diapotek ada buku? Dimana otakmu Tuan Oh? Apa kau dicipatakan Tuhan tanpa otak?” Chanmi terus memukuli Sehun dengan tasnya.

“ yak! Yak! Appo!!” Sehun menggenggam tangan Chanmi dan menariknya hingga jarak diantara mereka semakin sempit. Chanmi terkejut dengan perlakuan Sehun. Pipinya mulai merona.

“ aigoo… wajahhmu seperti kepiting rebus Nona Shin.” Chanmi tersadar dari tatapan mata Sehun kemudian mengalihkan pandangannya. Buk! Kakinya menendang tulang kering Sehun.

“ yak! Dasar wanita gila. Seharusnya aku tidak mengantarmu. Kenapa hanya pria yang selalu salah dimata wanita. Aku kan sudah mengantarmu ke apotek sesuai perintahmu. Tapi malah kau siksa aku seperti ini.” Sehun mulai mengomel  sambil mengedarkan pandangannya kesekitar hingga matanya menangkap sosok gadis yang familiar dimatanya.

“ yak! Nenek sihir!” Sena mencari sumber suara. Melihat dua orang yang dikenalnya berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia kemudian berjalan menghampiri mereka.

“ mengapa kau berkeliaran disekitar sini? Apa yang sedang kalian lakukan? Ahhh apa kalian sedang berkencan?” Sena tersenyum jahil. Seketika kedua siswa SMA tingkat akhir itu salah tingkah.

“ apa yang sebut eonni kencan itu di sebuat apotek?” Chanmi menatap Sehun yang sedang mencoba mengalihkan pandangannya.

“ aah kau benar. Mengapa kalian berkencan disekitar sini? Chanmi-yya. Adikku ini memang tidak romantis jadi dia pasti akan mengajakmu berkencan ditempat aneh.” Chanmi tertegun. Bagaimana bisa kakak beradik ini mempunyai sifat yang sama. Entah mereka ini polos atau bodoh. Batinnya dalam hati.

“ Noona, siapa yang sedang berkencan? Aku akan mati jika berkencan dengan wanita menyeramkan ini.” buk! Chanmi kembali memukul Sehun dengan tasnya. Kali ini tepat mengenai perutnya.

“ akhh! Nooa, kau tidak akan diam saja kan melihat adik tampanmu ini disiksa olehnya? Ahh bahkan aku belum makan malam.” Sehun seolah memberi kode bahwa ia ingin makan.

              Sena, Sehun, Chanmi dan Yoora makan bersama dirungan rawat inap. Queeni memasang wajah cemberutnya sejak melihat Sehun datang bersama wanita yang pernah ia gigit tangannya itu. Selang beberapa waktu setelah mereka menyelesaikan makannya, Chanyeol datang membawakan beberapa makanan ringan. Ia berniat bermalam juga. Sementara Chanmi berusaha mendekatkan diri pada Queeni yang sedari tadi menatapnya sinis.

“ Queeni-yya, omo cantik sekali gadis ini.” Chanmi mencoba mengambil hati Queeni yang sedari tadi memeluk lengan Sehun seolah berkata Sehun milikku.

“ mengapa kau datang bersamanya oppa?” tanyanya pada Sehun

“ itu karena dia terus menempel seperti permen karet dibadanku.” Sehun menjelaskan

“ maka dari itu kau jangan bermain-main dengan permen karet sepertinya. Dia jelek dan galak.” Queeni menjulurkan lidahnya sontak Chanmi terkejut dan marah namun ia redam.

“ sudahlah, selama dia tidak mengganggu gadis cantikku ini tak apalah dia menempel seperti itu.” Chanmi membalas menjulurkan lidahnya pada Queeni. Lalu Queeni membalasnya dengan melemparinya boneka Angrybird yang terletak disampingnya.

“ kalian pulanglah. Bukankah ini sudah larut. Kalian harus sekolah besok.” Park Yoora bangkit dari duduknya disofa.

“ ah geurae kami akan pulang. Sampai jumpa besok gadis cantik.” Sehun mengecup puncak kepala Queeni. Dengan bangganya Queeni mendongakkan kepalanya lalu menatap Chanmi yang menyaksikan adegan itu.

“ eonni, sampai jumpa besok” Chanmi membungkukkan badannya pada Yoora dan Sena lalu pada Chanyeol. Ia masih merasa asing dengan Chanyeol karena belum pernah saling menyapa.

“ gadis itu kenapa benci sekali denganku? Memangnya aku ini wanita jahat?” Chanmi dan Sehun menyusuri koridor rumah sakit tempat anak-anak bisa dirawat inap.

“ itu karena dia cemburu.” Jawab Sehun sambil memasukkan tangannya pada saku jas yang ia kenakan.

“ cemburu? Apa dia pikir kita berpacaran?”

“ tentu saja dia tidak percaya kita berpacaran. Dia mengatakan pada teman-temannya bahwa dialah pacarku.”

“ mwo? Hahahaha jadi ini sebabnya kau belum pernah berpacaran? Jadi kau pedofilia? Omo, aku harus berhati-hati.”

“ apa yang kau katakan nona Shin?” Sehun mendekap leher Chanmi dengan tangan kirinya kuat-kuat hingga Chanmi menjerit kesakitan.

              Diruang rawat inap, Yoora sedang memaksa Sena untuk pulang dan beristirahat meluhat keadaan Sena yang kurang sehat sejak tadi pagi. Namun Sena enggan dengan alasan tidak ingin sendirian dirumah sebesar itu. Apalagi han ahjumma selalu ada dikamarnya dibelakang sendiri. Akhirnya yoora menyerah membujuk adik iparnya itu dan membiarkan Sena bermalam disini. Kemudian mereka menotnon televisi bersama. Hingga kemudian Sena tertidur disebelah Chanyeol. Tidak lama kemudian kepalan menyentuh pundak Chanyeol. Chanyeol merasakan itu namun diam saja tak bergerak.

“ sepertinya dia kelelahan. Sepulang kuliah tetap bekerja paruh waktu dan kemudian menjaga Queeni. Chanyeol-ahh bangunkan dia suruh pindah tidur disofa sebelah sana. Biar aku tidur dibawah saja.” Perintah Yoora seraya mengeluarkan selimut dari dalam tas yang tadi pagi dibawakan oleh Sena.

“ ireona!” Chanyeol menggoncangkan kepala Sena kasar.

“ bangun. Kenapa kau selalu sulit dibangunkan ketika tidur Oh Sena!” Chanyeol menggoncangkan kepala Sena menggunakan tangannya. Dirasakanya wajah Sena demam. Cahnyeol mengerutkan keningnya.

“ yak Oh Sena!” Chanyeol semakin mengguncangkan pundak Sena dan mengecek dahinya. Panas. Sena demam dan tetap tidak terbangun.

“ wae? Kenapa dia begitu sulit dibangunkan? Apa dia tidak sadarkan diri?” tanya Yoora menghampiri. Lalu mengecek dahi Sena.

“ omo! Dia demam.Chanyeol-ahh, aku akan panggilkan suster.” Yoora berlari keluar kamar.

“ Noona, diamlah disini biar aku yang membawanya. Ini bangsal anak-anak. Aku akan membawanya ke bangsal umum.

“ geurae, hati-hati.” Yoora membernarkan letak Sena yang sedang digentong dipundak Chanyeol. Mudah saja Chanyeol menggendongnya seperti ini karena tubuh Sena kecil.

“ Chanyeol-ahh…” Sena tersadar ditengah Chanyeol membawanya ke bangsal umum.

“  kau sudah sadar?” tanya Chanyeol

“ kita mau kemana?” suaranya masih terdengar lemah.

“ diamlah.” Jawab Chanyeol singkat.

To be continued…

4 thoughts on “Amato (Part 2)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s