[Dumb & Dumber series] Apology (feat. Hanbin)

hanbin

Dumb & Dumber series

Kim Hanbin (iKON) / OC | Ficlet | Sad – Romance | G

Pusat perbelanjaan Lotus tampak ramai dari biasanya, Jenny yang berniat untuk membeli keperluan kecantikannya itu hampir tidak habis pikir. Dia beranggapan bahwa di hari dan jam kerja seperti ini pusat perbelanjaan sedikit lengang jika dibandingkan dengan akhir pekan. Jenny sendiri tidak suka dengan kerumunan manusia – manusia yang beraneka ragam rupa berkerumun seperti ini, bukan tanpa alasan dia bersikap seperti itu, dia pernah mengalami trauma mendalam dengan keramaian dan trauma itu masih belum hilang dari dirinya.

Usaha untuk menyembuhkan trauma yang ia alami sebenarnya sudah ia lakukan, mulai dari datang ke psikiater hingga mencoba sendiri menantang diri berkerumun dengan manusia di sekitarnya tetapi semuanya semu, tidak ada hasil yang berarti hanya kelelahan dan frustrasi yang ia terima.

Jenny menghela nafas berat melihat ramainya manusia ini berseliweran ke seluruh penjuru arah. Dengan berat hati ia mengurungkan niatnya itu, ini berarti sudah ke empat kalinya dia membatalkan niat belanjanya tersebut. Alih – alih menghibur diri, Jenny berkeliling melihat toko – toko di sekitar pusat perbelanjaan tersebut, ‘Mungkin ada toko kosmetik’, dia masih tetap berharap menemukan toko kosmetik yang sedikit lengang.

Sudah hampir satu setengah jam dia berkeliling sampai kaki terasa mati rasa, tetapi dia tidak menemukan toko kosmetik yang sedikit lengang. Duduk di bangku depan toko baju menjadi destinasi tempat istirahatnya, dalam hati dia terus merutuki dirinya yang masih tidak bisa menghilangkan masalah kejiwaannya –trauma– itu. Kesal, ingin marah, melempar semua barang bawaannya, itulah yang ada di benak Jenny yang mengasihani dirinya sendiri, dirinya yang sulit bergaul dengan orang – orang seperti yang lainnya.

“Kau tidak apa – apa nona?”

Seorang pria menanyainya yang kala itu hampir mengeluarkan air mata, buru – buru dia menyapu air matanya itu dan menoleh ke sumber suara.

“Kau tidak apa – apa nona?”

Dia kembali menanyai Jenny yang masih tidak menanggapi perkataan si pria tersebut. Kebingungan, itulah yang tergambar dari raut muka sang pria, berinisatif untuk menyapu air mata yang mengalir di kedua bola mata Jenny dia meraih sapu tangannya dan membasuhkannya, tetapi tangannya di tangkis oleh Jenny.

Dari raut muka Jenny yang marah, si pria merasa bersalah dan meminta maaf. Tetapi lagi – lagi dia tidak menanggapi setiap perkataannya, karena marasa terus diacuhkan dan tidak dihargai, si pria meninggalkan Jenny sendirian. Belum jauh ia melangkah, tangannya digapai oleh tangan mungil Jenny yang membuat si pria tersentak kaget.

“Kau tidak mengenaliku?”

Untuk pertama kalinya sejak pertemuannya dengan Jenny, akhirnya dia angkat bicara. Si pria membalikkan badannya sambil menampakkan wajah tidak paham dengan maksud Jenny.

“Kau melupakanku?”

“Apakah kita pernah berkenalan?”

Mendengar balasan dari si pria, Jenny sungguh tersakiti. Dia masih ingat betul bentuk mukanya suaranya bahkan gaya bicaranya, walau sedikit berubah karena pubertasnya, tetapi itu tidak membuat Jenny tidak mengenal terhadap si pria.

“Kim Hanbin, itu namamu, ‘kan?”

Si pria merasa terkejut bahwa dia tahu namanya, tetapi dia kini tidak merasa asing dengan suara si wanita.

“Kau masih tetap sama Hanbin, mengacuhkanku, bersikap baik padahal itu dusta,” Jenny kini tidak bisa menahan tangisnya, terlalu pahit jika mengingat masa lalunya itu.

“Je, kau Jenny?”

Hanbin mencoba mengingat si wanita yang kini tengah menangis sendu. Jenny hanya mengangguk menanggapi perkataan Hanbin, terlalu pedih untuknya kalau berucap menanggapinya. Mengetahui bahwa terkaannya benar, buru – buru dia bersimpuh di depan Jenny dan berusaha meredakan tangisan Jenny.

“Je, Jenny maafkan aku, Jenny kau jangan menangis Jenny,”

Hanbin yang kini tahu identitas diri si wanita tersebut merasa bersalah dan mencoba menenangkan Jenny.

“Jenny tolong jangan menangis aku akui kesalahanku, aku mohon Jenny janganlah menangis,” Hanbin kini merasa khawatir melihat perempuannya menangis. Ya, Jenny dulu adalah wanita kesayangan Hanbin yang terpaksa ia tinggal untuk menempuh pendidikannya di luar negeri.

Karena tidak mau menimbulkan banyak kesalah pahaman dengan orang – orang yang melihat mereka, dia membawa Jenny ke rumahnya. Duduk berdampingan seperti ini membuat Hanbin canggung dan merasa bersalah. Ingin memeluknya tetapi takut menambah luka di hatinya, dia tahu Jenny telah ia sakiti sampai pada titik yang terdalam.

“Apa kabarmu Jenny?”

Hanbin bertanya tetapi tidak menatap Jenny, terlalu bersalah jika menatapnya. Hanya isak tangis yang ia dengar dari mulut Jenny, kini dia memang benar – benar pria brengsek yang tidak tahu diri.

“Maafkan aku atas kesalahanku dulu, aku mengerti kau pasti tersakiti oleh sikap bajinganku dulu, tetapi aku mohon, maafkanlah aku.”

Berat, tetapi itulah yang harus ia katakan sebagai seorang pria yang mengakui sikap salahnya itu. Sebrengsek dan bajingannya Hanbin, dia tetap mengaku salah walau melukai harga dirinya. Tidak ada tanggapan dari Jenny kembali, ‘Begitu beratkah luka yang ku gores di hatimu sampai kau bersikap seperti ini?’.

“Bisakah aku mendengar sepatah kata dari bibirmu? Ku mohon.”

Hening, dan hanya terdengar suara isak tangis Jenny saja yang terdengar.

“Kau,” Jenny tidak bisa melanjutkan perkataannya. Berat dan pedih jika dia harus melanjutkannya, dan tidak kuat berlama – lama duduk di samping Hanbin terlebih ini di rumahnya, Jenny bangkit dan pergi dengan isak tangis yang mengiringnya.

Larinya terhenti begitu Hanbin mendekapnya dari belakang, erat dan hangat Jenny rasakan. Tetapi menjadi pedih karena teringat masa lalunya di tinggal begitu saja oleh Hanbin, banjir air mata tidak bisa terelakkan lagi. Kesepian dan penantian panjangnya kini berakhir, tetapi bukan seperti ini yang Jenny inginkan.

“Ku mohon Jenny,” Hanbin mengencangkan pelukannya setiap ia berucap.

“Dari dulu sampai sekarang, kau masih tetap ratu di hatiku, beri aku kesempatan, ku mohon,” dari setiap ucapan yang Hanbin katakan terasa begitu berat.

“Tolong, ikatlah kembali si brengsek ini dengan hati dan welas asihmu, agar si brengsek ini bisa tinggal di hatimu untuk selamanya, ku mohon.”

.

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, kesalahan yang membuat orang lain tersakiti maupun kesalahan yang membuat diri sendiri begitu hina di hadapanNya. Tetapi hati yang bersalah mengakui kesalahannya ke hati yang lain itu tidaklah lebih baik dari terus menghindari diri dari hati yang tersakiti. Indah itu tidak hanya yang enak di pandang, tetapi juga yang dirasakan.

 

 

Also available in here

2 thoughts on “[Dumb & Dumber series] Apology (feat. Hanbin)”

  1. begitu tau jenny kenal hanbin tapi hanbin enggak padahal udah sok perhatian ngebantu seorang cewek yang duduk sedih depan toko kesannya langsung “ini hanbin playboy gitu ya?”
    dan kisah masalalu sama apologynya oke sih walau galau Jenny nya banyak dan quotes endingnya itu SUPER SEKALI. DAN BENER BANGET.

    Suka

    1. ya gitu playboy cap botol kecap hehe, jdi dia itu sedikit tidak ingat dengan muka si cewek, biasalah, cewek kalo udah tancep bedak apa segala macem disana-sini kan bisa beda dari aslinya.

      huhu tau nih dapet wangsit dari mana bisa nulis paragraf kaya gitu. terima kasih yah responnya🙂

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s