[Playlist-FIc] #1: Starlight

starlight

a playlist-fic by Jung Sangneul

// Starlight //

Track #1: Cassandra – Cinta Terbaik

starring [EXO] Jongdae and [Lovelyz] Kei || genre romance, sadness || length Ficlet || rating PG-15

Aku bukan bintang yang tetap kuat meski harus tergerus siang setiap hari, Jongdae.

***

 

Kuanggap kamu sebagai cahaya, dan aku adalah bintang. Kita jarang sekali bertemu. Sekali bertemu, kamu akan memelukku begitu erat selama satu jam, dan satu jam sisanya adalah waktu untuk kita bertanya rutinitas satu sama lain. Lalu, kamu harus pergi. Seakan-akan siang telah menjemputmu, membawaku hilang melepas tautan tanganmu.

Tapi, keesokan harinya kamu akan datang lagi. Tiba di rumahku, atau secara tiba-tiba datang ke tempat kerjaku hanya untuk menjemput. Mobilmu selalu searoma dengan parfummu, menjadi candu bagi hariku. Maka, ketika hari itu kamu datang lagi, aku kembali menyambutmu dengan hangat.

“Bagaimana harimu?” tanyaku, menenggelamkan diri pada jaketmu yang hangat.

“Sangat baik, karena aku masih bisa bertemu dirimu,” jawabmu di ubun-ubun kepalaku.

Aku tertawa, seperti biasa. Dan, aku tahu kamu tersenyum saat mengeratkan lagi pelukanmu padaku. Rasa hangat yang meluap di dadaku tidak pernah bisa didefinisi, ketika kamu membelai rambutku, katakan mencintaiku, dan mencium pipiku.

“Kau tidak lapar, hm?” tanyaku beberapa menit setelahnya, meski tahu kebiasaanmu yang tidak akan melepaskan pelukan sebelum satu jam.

“Satu jam lagi, Kei,” gumammu, mengecup tengkukku sekali.

“Makan dulu, Sayang. Nanti perutmu sakit.”

“Cium dulu.”

Aku terkekeh, merenggangkan pelukan dan menghadiahkan kecupan kecil di pipimu. “Sudah. Makan, ya?”

Kamu mengangguk. “Oh, ya, Kei.”

Aku menoleh kembali sebelum beringsut dari tempat tidur. Jongdae—kamu—tersenyum sambil berbisik, “Malam ini aku mengungsi di sini.”

***

Kamu Kim Jongdae. Bukan pengusaha, bukan pula putra konglomerat. Kamu hanya Jongdae yang pandai dalam segala bidang ilmu. Profesor yang membuatku jatuh hati, dosen yang menggenggam tanganku ketika aku terjatuh, dan memelukku tatkala aku menangis. Aku tidak suka membaca, tapi kamu mencintainya. Aku tidak suka keilmuan, tapi kamu mengejar impian tentang pendidikanmu tanpa henti.

Maka, aku memutuskan berada di sisimu bukan sebagai teman. Tapi sebagai penyemangatmu, cadangan energimu ketika kamu butuh bersandar. Kamu sering datang ke rumahku demi mengeluh kalau mahasiswamu kurang ajar, dan materi pengajaranmu tidak satu pun mereka gubris.

“Kei, dulu kau juga mahasiswa, ‘kan? Seharusnya kau juga menyebalkan, tapi bagiku, kau tidak mengesalkan,” terangmu sambil memelukku dari belakang.

Pagi sudah datang dan aku harus berangkat kerja, begitu pun kamu. Tapi, yang kamu lakukan adalah memelukku sambil melihatku merias wajah.

“Itu karena kau mencintaiku, Sayang,” jawabku santai.

Karena kamu tidak mungkin memperbolehkanku menyematkan panggilan Oppa, jadi aku pilih memanggilmu dengan ungkapan manis yang berlebihan: Sayang.

                “Memangnya dari kapan aku mencintaimu? Kautahu?” tanyamu lagi.

Aku tidak menjawab, sibuk memberikan eyeliner pada mataku agar tidak tampak terlalu sayu. Semalaman aku berusaha membuka mata. Demi melihatmu tertidur di sisiku dengan damai, tanpa harus pergi ke rumah lain dan rebah di ranjang lain. Dan, dadaku terasa melonjak bahagia.

“Keiiii, jangan terlalu banyak dirias. Wajahmu itu sudah cantik lima puluh kuadrat, nanti kalau dirias banyak yang melirikmu.” Kamu cemberut.

“Profesor Jongdae,” aku membalik tubuh, menatapnya penuh, “kalau pun ada yang melirikku, hatiku ini ada di tangan siapa?”

“Tanganku.”

“Jadi, ke mana aku harus berlabuh?”

“Kepadaku.”

Aku tertawa, kemudian menghadiahkan ciuman di bibirmu, yang kaubalas dengan pagutan dalam. Sebelum sempat melingkarkan lenganku di sekeliling lehermu, ponselmu bergetar.

Dengan segera kau melepas pelukanmu padaku, meski matamu terlihat begitu kecewa. Kau mengangkat telepon yang menyambangi ponselmu.

“Halo, Sayang.”

Deg! Aku tersenyum tipis, berbalik dan pura-pura merapikan lipstikku yang meluber akibat ciumanmu. Sadar kalau hatiku akan segera hancur setelah ini, menyerpih bagai abu.

“Iya, maaf, semalam aku lembur, Sayang.”

“Aku tidak selingkuh, ya Tuhan. Jangan terlalu protektif.”

“Ya, aku mencintaimu. Tentu.”

“Oke. Sampai jumpa, Cantik.”

 

Kamu meletakkan ponselmu dengan helaan napas panjang. Aku berusaha tersenyum menghadapmu, meski rasanya jantungku seperti dipotong-potong mendengarmu bicara begitu. Kamu harus menghapus keberadaanku, harus memanggil orang lain dengan sebutan yang sama dengan yang kauperuntukkan bagiku. Tapi tunggu, sebetulnya siapa yang orang lain?

‘Kan aku.

                Batinku yang jahat menohok akal sehatku. Melukai harga diriku.

“Pulanglah. Tidak seharusnya malam ini kau menginap di sini,” ujarku.

Kamu menunduk, meraih jemariku, kemudian mengecupnya.

“Hati-hati di perjalananmu ke kantor, Kei,” katamu.

Aku mengangguk. Ingin sekali menahan dirimu, menarik tanganmu dan membenamkan pelukanku pada tubuhmu. Ada hasrat ingin memilikimu seutuhnya, bukan hanya separuhnya. Bukan cuma beberapa jam saja. Bukan hanya semalam saja.

Tapi, aku tidak punya kuasa. Kubiarkan kamu mencium keningku, sebelum mengangkat tasmu dan pergi. Yang paling membuatku tergores sakit, kamu pergi ke pelukan wanita lainnya.

Wanitamu yang sebenarnya.

***

Mungkin, kalian menganggapku hanyalah perebut suami orang. Kalian akan menuduhku mengambil Kim Jongdae dari istri sahnya, membuat profesor itu terpedaya karena kecantikanku. Tapi, bisakah kalian menghargai perasaanku juga?

Aku telanjur jatuh mencintainya. Seperti bunga melati yang tumbuh di belukar berduri, seperti itulah wujudku ketika Jongdae memungutku dan mencium wangiku. Ketika itulah dia berkata mencintaiku, dan siapalah aku hingga tak terperosok dalam lubang cintanya?

Apa dayaku jika aku mencintainya?

Maka, kubiarkan Jongdae datang di hari berikut dan berikutnya. Kubiarkan dia mengambil hatiku, kuabaikan serbuan rasa bersalah di hatiku, atau omongan miring tetangga sebelah.

“Hai …, Kei?” sapamu sore itu, dengan nada agak bertanya.

Aku tersenyum, menarik tangannya masuk dan menutup pintu.

“Hei, kau menangis?” tanyanya, mengusap-usap pipiku yang lembab. Tapi, aku menepis tangannya dan menggeleng.

“Aku baik-baik saja,” bisikku lemah, “Apa harimu baik?”

Dia menggeleng. “Karena cintaku baru saja menutupi kesedihannya dariku.”

Aku menunduk, merasa hatiku seperti diremas-remas. Sedetik setelahnya, aku mendongak, dan pandanganku buram karena Jongdae sudah memelukku, membenamkan wajahnya pada helaian rambutku.

“Maaf,” ia mengemu kata.

“Untuk apa, Sayang?” tanyaku, tidak kuasa lagi menahan air mataku. Dadaku terlalu sempit untuk bisa menjawab ‘tidak apa-apa’ lagi. Sampai kapan aku harus membangun pertahanan dan membatasi perasaanku?

“Maaf, tidak bisa menjadikanmu yang pertama.”

Menit setelah Jongdae mengucapkannya, isakanku keluar. Tercerai-berai, menuntut pelampiasan. Tapi, aku hanya bisa mencengkeram jasnya sambil menggigit bibirku. Meminta pada lidahku untuk berhenti mengeluarkan sedu sedan yang menyakitkan telinga. Aku takut dia bingung, aku terlalu malu untuk memintanya bersedia meninggalkan istrinya. Bagaimana kalau istrinya itu mengandung, bagaimana nasib anaknya nanti?

Semuanya berkelebat dalam pikiranku.

“Kei, maafkan aku,” bisiknya lagi, menyisir rambutku dengan jemari.

Aku mengusap air mataku kasar, melepas pelukannya sambil tersenyum.

“Tak apa, aku baik-baik saja. Aku benar-benar baik-baik saja dengan semuanya. Aku rela jadi yang kedua, aku rela jadi yang keberapa pun untukmu. Untuk cintamu.”

Jongdae maju selangkah, mengusap air mata di sudut-sudut mataku.

“Aku memang brengsek,” gumamnya, “tapi aku mencintaimu.”

Dan, aku tak kuasa untuk menolak pelukannya sekali lagi. Aku tidak berdaya apa-apa, meski aku tahu ancaman sudah berada sejengkal di dekatku.

Karena beberapa menit yang lalu, sebuah pesan mendarat di ponselku.

 

Apakah pantas seorang gadis muda melacurkan diri pada lelaki yang jauh ada di atasnya? Tidak adakah lelaki lain untuk kaucumbu, tidak adakah pasangan setia yang mau jatuh ke ranjangmu?

 

Aku tidak peduli. Aku memang bukan bintang, Jongdae, tapi aku berusaha menjadi bintang agar bisa bertemu cahayamu. Meski hanya lewat senja dan fajar yang remang-remang, dan langit siang akan segera merenggutmu dan membuangku ke alam nyata.

Tapi, aku tetaplah milikmu. Meski hanya sehari, sejam, atau hanya semenit sekalipun.

 

“Kei, coba tebak, siapa bintang yang paling terang?”

“Kejora.”

“Salah!”

“Lalu apa?”

“Bintangnya berganti nama. Ingat ya, sekarang namanya Kei. Kim Kei.”

—meski kubukan yang pertama di hatimu, tapi cintaku terbaik untukmu. Meski kubukan bintang di langit, tapi cintaku yang terbaik.

 

fin.

6 thoughts on “[Playlist-FIc] #1: Starlight”

  1. tsaaaaaaaaaaaah
    niswa sekalinya kamu pasang jongdae kenapa harus mengangkat tema infidelity? dan KENAPA PAKE LOVELYZ?! GA KEMUDAAN?! aku sampe searching mbak kei ini kelahiran berapa, dan ternyata kelahiran 95?! seaku dong?!
    aish ampuni tanda ?! ini ya huks aku ga bisa sante kalo mas jongdae diginiin. bukannya marah atau apa sih, cuman ya… kmu nulisnya gereget aja, dan ya Tuhan gombal dae gombal banget poll tapi aku suka momen chenkeinya TT lagian di sini byk sesuatu yg mengagetkan gitu sih, mulai dari pairingannya yg super crack, jongdae yg ternyata dosen *hah sumpah aku ga bisa membayangkan tipe jongdae yg rajin serius gitu* dan kei yg ternyata selingkuhannya huhu. luar biasa niswa ini memang.
    dan kalimat terakhirnya… i’m so done with you dae.
    *terus somehow aku mikir jgn2 itu yg sms kei mbak luna lagi :p
    *duh maap shipper nih kumat
    aish pokoknya keep writing aja, aku sampe lupa mau ngasih masukan apa tadi. ga penting juga mungkin :p

    Suka

    1. Kak lianaaa yaampun jangan ditawur akunyaaa u,u
      Iya aku ga ngerti juga kenapa pairinganku ancur parah crack bener-_- tapi yaudah sih yaa mungkin jongdaenya bosen ama luna kan udah tua *trusditampar* jadi pindah ke mbak kei :3

      Oke kak makasih uda komen panjang lebar aku ngakak sendiri bacanya /hiburantengahmalam/ xD

      Suka

  2. Meski kubukan yang pertama di hatimu, tapi cintaku terbaik untukmu. Meski kubukan bintang di langit tapi cintaku yang terbaik~
    Aku suka lagu ini!! Entah ya bawaannya rada baper sama lagu ini (kenapa malah curhat) dan semakin baper abis baca ini. Suka ceritanya pake sudut pandang ‘wanita lain’ dan profesor Jongdae ya mungkin bisa ngajar di kelasku, prof.
    /maafkan atas segala komentar tidak bermutu ini/

    Suka

  3. Akhirnya bisa komen juga.
    Ah gilak begitu jongdae disebut profesor mukanya dibayangan aku langsung jadi tuaaaa banget apalagi pairnya muda bgt gitu tapi statusnya ternyata wanita lain. Wah, imajinasinya langsung buyar dari yg dikira bakal romance gombal gimana gitu menadadak ada telpon dan sms dari yang dipanggil ‘sayang’ juga ama jongdae. Daebak.
    Sarkasm nya juga nusuk banget gitu, fiuh.
    Dan dr kesannya, kadang kita ngeliat hal itu cuma dr satu sisi, kayak ini kita liat dr sisi cewek lainnya kesannya jadi ‘iya sih mau gimana namanya jg terlanjur cinta’ tapi kalo dr sisi istrinya jongdae pasti hubungan mereka bubrah ㅠㅠ dan dr sisi pembaca yg baik ‘dosa tauk kalian, khianat’😄
    Udah gitu aja. Keep ploting ya!

    Suka

    1. Aihh iya emang, anggep aja dia promud yaa ((profesor muda)) ((maksa)) xD

      Iya ini emang sengaja jadi ironi, sih. Kalo perselingkuhan itu kadang ada ya karena emang udah telanjur cinta mau gimana. Apalagi jongdaenya membuka hati pulaak -_-
      Okeeh trimakasih udah mampir dan komen ya~

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s