[Vignette] B and C

B and C

B and C

                                       Scriptwriter: Nastiti Widoretno

                        @Justnenoo | nastitiwidoretno.wordpress.com

                                   Byun Baekhyun | Park Cherry (OC)

                                                 Park Chanyeol | Kim Myungsoo

                                  Fluff, Family, Friendship | Vignette | G

 

Ketika seharusnya  B dan C yang dalam urutan Alphabet berdampingan dengan akur, tidak dengan di kehidupan nyata. Ya, kehidupan Baekhyun dan Cherry.

 

***

Dasar ByunBaek menyebalkan.

Situasi ini aku dapatkan hampir setiap malam. Situasi dimana rumahku akan penuh teriakan dan keributan karena dua makhluk absurd yang selalu menginterupsi waktu belajar dan istirahatku. Ani, sebenarnya hanya satu makhluk yang benar-benar membuat emosiku selalu meledak-ledak. Makhluk yang selalu menggoda, menjahili ataupun meledekku habis-habisan. Makhluk menyebalkan yang juga menjadi tetangga paling menyebalkan di dunia.

Byun Baekhyun.

Setiap ada waktu, dia pasti akan langsung melesat untuk menjadi tamu paling tak diharapkan di rumahku. Tujuan sebenarnya adalah tentu saja bermain dengan temannya yang  bertingkah autis dan sayangnya juga terlahir sebagai kakakku- Park Chanyeol. Ya, aku adalah Park Cherry. Anak bungsu dari keluarga Park yang rumahnya persis bersebelahan dengan keluarga Byun sejak belasan tahun yang lalu. Well, jika aku disuruh memilih, aku ingin terlahir sebagai adik Baekbeom Oppa, kakak Baekhyun yang tampan dan memiliki sifat yang benar-benar berbanding terbalik dengan Baekhyun. Tuhan memang adil, kalau aku benar-benar terlahir sebagai adik Baekbeom Oppa dan Baekhyun sebagai saudara dari tiang listrik yang untungnya memiliki wajah tampan itu, aku benar-benar tidak bisa membayangkan betapa stressnya Appa dan Eommaku.

Keundae, ada satu fakta yang tidak bisa aku hindari..

Sesering apapun dan bagaimanapun dia membuatku kesal setengah mati, aku tidak bisa menampik bahwa aku.. mencintainya. Sejak dulu.

Aku tahu, mungkin dia hanya menganggapku sebagai adik kecil yang hanya dijadikan bahan ledekan ataupun sekedar menggodaku. Aku tahu, tipe gadis idamannya adalah seorang noona yang cantik, anggun, bertubuh mungil, dan bersuara merdu seperti Taeyeon Eonnie, tetangga kami yang berbeda beberapa blok dan primadona di kampus Baekhyun dan Chanyeol Oppa. Bukan gadis yang lebih muda dua tahun darinya, tidak anggun, dan ketika berteriak akan membuat rumah kami bergetar karena teriakannnya yang sudah mencapai 120 desibel-mungkin, sepertiku. Ah, mengingatnya aku menjadi semakin patah hati.

Aku tahu Baekhyun-aku tidak sudi memanggilnya Oppa- menyukai Taeyeon Eonnie karena terkadang kami memang saling bertukar cerita jika Chanyeol Oppa sibuk berkencan atau dia sedang bosan bermain. Dia bilang dia menginginkan sosok adik perempuan sepertiku yang bisa dia goda ataupun dijadikan tempat curahan hatinya kapanpun dia mau.

Itu juga salah satu alasanku untuk memendam perasaan ini dalam-dalam. Aku tidak mau dia menjauhiku ketika aku mengatakan aku mencintainya. Nyatanya, meskipun dia semakin menyebalkan dari hari ke hari, aku merasa cintaku juga semakin tumbuh seiring berjalannya waktu.

***

Malam ini adalah malam minggu. Ani, sabtu malam untuk orang yang tak punya pasangan sepertiku. Aku mengernyit heran ketika Baekhyun tak menampakkan batang hidungnya di rumahku. Biasanya, setiap sabtu malam dia akan ke rumah kami entah untuk menggangguku memasak-kegiatan favoritku setiap malam libur-, begadang bersama Oppaku untuk bertanding game, ataupun menonton pertandingan bola sampai dini hari jika ada jadwal.

 “Oppa, kemana temanmu yang berisik itu?” Aku yang saat ini sedang di dapur memotong sosis untuk campuran nasi goreng bertanya pada Chanyeol Oppa yang sedang makan salad buah buatanku sembari menonton sebuah acara lawak di TV.

“Ah, waeyo? Apa kau merindukannya?”

“Cih, yang benar saja. Untuk apa aku merindukan bebek menyebalkan seperti dia. Aku hanya heran.”

“Tadi dia berkata akan pergi dengan Taeyeon Noona ke suatu tempat. Tapi dia tak memberitahuku kemana dia akan pergi. Menyebalkan.”

“M-mwo? Apa dia akan menyatakan perasaannya pada Taeyeon Eonnie?”

“Nan molla. Mungkin saja.” Jawabnya cuek sambil terus mengunyah salad yang sudah berkurang setengah porsi itu.

Aku merasakan mataku memanas dan nafasku terasa dicekik, dan….

“AWWW!” Tak sengaja melukai dua jariku dengan pisau yang kugunakan untuk memotong sosis.

“Ya! Ada apa? Omooo. Mengapa bisa beginI? Apa yang kau pikirkan, humm?” Chanyeol Oppa menyerangku dengan berbagai pertanyaan dan hal itu membuat air mata yang susah payah aku tahan merembes mengalir di pipiku.

“Cherry-ya, uljima. Mana yang sakit, humm?”

Terkadang, Chanyeol Oppa menjadi Oppa terbaik yang pernah aku kenal. Dia akan selalu menghibur dan memelukku ketika aku sedih. Setelah dia membasuh darah di tangan dan memasangkan plester luka di kedua jariku, yang dilakukannya adalah menuntunku ke kamar, membaringkanku tidur, memelukku dan menenangkanku seolah aku adalah anak kecil dari tingkat sekolah dasar.

“Jangan menangis lagi, sekarang tidurlah.” Ujarnya sembari mengelus rambutku pelan dan tak lama kemudian aku merasakan mataku memberat dan kantuk menyerang, kuputuskan untuk tidur dalam pelukan Chanyeol Oppa.

Ah.. aku jadi ingin merasakan bagaimana rasanya tidur di pelukan Baekhyun.

***

“YA! Babi bangunlah, aish ini sudah siang.”

“YA!”

Aku merasakan tidurku yang nyenyak mendadak runyam karena teriakan seseorang. Ini minggu pagi, seharusnya aku masih bisa bermalas-malasan hingga siang nanti.

“Babi bangunlah.”

Aku membuka mataku perlahan untuk menyesuaikan penglihatanku dengan sinar matahri yang masuk melalui jendela kamarku. Aish, siapa yang berani-beraninya membuka jendela tanpa seijinku. Kualihkan pandanganku pada sosok di samping tempat tidurku.

Byun Baekhyun. Sumber bencana di tanganku tadi malam.

“Untuk apa kau di sini pagi-pagi?!” Tanyaku ketus sembari menyibakkan selimut dan memposisikan diri untuk duduk di atas ranjang.

“Tentu saja untuk bercerita tentang semalam. Kau tahu Cherry-ya, tempat yang aku kunjungi semalam dengan Taeyeon Noo.. Ya! Ada apa dengan tanganmu? Siapa yang melukaimu huh?”

“Itu bukan urusanmu ByunBaek. Keluarlah dari kamarku!” Moodku langsung turun drastis mendengar nama gadis pujaannya itu.

Aku turun dari ranjang dan mendorongnya keluar dari kamarku.

“Jangan pernah temui aku lagi dan bercerita apapun tentang gadis pujaanmu itu.” Aku membanting pintu keras-keras setelah berkata seperti itu. Hufh, untung saja. Untung sajaaku berhasil menahan air mataku untuk keluar tepat setelah pintu terkunci.

“Ya, Cherry-ya! Ada apa? Apa kau ada masalah? Mengapa aku tak boleh menemuimu? Cepat buka pintunya!” Teriaknya di luar pintuku.

Aku bergegas pergi ke kamar mandi untuk menghindari teriakannnya yang membuat tangisanku bertambah deras saja.

Park Cherry, mulai saat ini hapuskan Byun Baekhyun dari pikiranmu. Kau harus bisa.

***

Rasanya hampa.

Rasanya sepi.

Rasanya kosong.

Ini minggu ketiga aku menjauhi Baekhyun. Aku benar-benar bertekad untuk melupakannya. Oleh karena itu, aku selalu berangkat sekolah jauh lebih pagi dari biasanya dan memilih naik bus daripada harus semobil dengan Baekhyun dan Chanyeol Oppa seperti sebelum-sebelumnya. Sepulang sekolah aku juga langsung masuk kamar dan menguncinya. Hanya akan keluar jika aku lapar dan dipastikan tidak ada Baekhyun yang berkeliaran di rumahku. Kalaupun Baekhyun mengetuk-ngetuk kamarku setiap malam, aku akan berpura-pura tuli dan menyetel musik keras-keras. Keundae, rasanya aku seperti seonggok manusia tak bernyawa karenanya. Aku benar-benar  menahan keinginanku untuk melihat wajahnya sebagai penghilang kerinduanku pada sosoknya.

Aku juga mulai membuka diriku untuk namja lain yang mungkin bersedia menggantikan posisinya di hatiku. Ya, aku sedang mencoba membuka hati, atas saran Minrae-sahabatku- ketika aku mengeluh padanya bahwa aku ingin melupakan ByunBaek. Dan entah kebetulan atau tidak, tiga hari yang lalu, seorang namja bernama Kim Myungsoo menyatakan perasaannya padaku. Tapi aku belum bisa menjawabnya, entahlah, aku merasa belum siap untuk menerimanya yang kemungkinan besar hanya akan menjadi pelampiasanku atas Baekhyun. Minrae bilang aku sangat tidak peka untuk menyadari bahwa Myungsoo sudah mengincarku sejak lama. Mungkin karena selama ini hatiku hanya terfokus pada Baekhyun seorang. Meskipun begitu, aku tetap berusaha untuk mulai menerima Myungsoo sedikit demi sedikit. Seperti mengiyakan ajakannya untuk pergi sekolah bersama besok pagi. Aku tidak tahu kapan dia mengatahui alamt rumahku. Ah, Baekhyun benar-benar membuatku buta untuk melihat bahwa aku punya secret admirer setampan Myungsoo.

***

 Hari ini aku pulang telat karena ada pelajaran tambahan untuk siswa-siswi tingkat akhir yang akan mengikuti ujian beberapa bulan lagi. Ya, aku akan lulus dan rencananya aku tidak ingin sekampus dengan Oppaku dan temannya itu.

Aku diantar Myungsoo dengan motornya sampai depan rumah. Dia namja yang sangat baik, aku jadi semakin bingung harus bagaimana bersikap dengannya sedangkan hatiku masih sepenuhnya milik Baekhyun.

Gomawo, Myungsoo-ya. Maaf jika aku selalu merepotkanmu.”

Aniya, aku senang melakukannya.” Myungsoo berkata sambil mengacak rambutku pelan. Tuhan, aku benar-benar merasa bersalah padanya.

“Cherry-ya, aku pulang dulu. Sampai bertemu besok pagi, ne?” Setelah melambaikan tangan padanya aku segera berbalik untuk masuk rumah dan segera berbaring di ranjangku.

“OMO! ByunBaek. Apa yang kau lakukan di sini huh? Me-membuatku kaget saja.”

Fakta bahwa aku sudah tidak bertemu dengannya selama hampir sebulan membuatku gugup ketika melihat wajahnya. Dan kenapa dia tidak seperti biasanya? Dia hanya menatapku datar tanpa berkata apa-apa.

“Aish, apa yang kau lakukan huh? Minggir, aku ingin istirahat.”

“Siapa dia Park Cherry?”

“Huh? Nugu?”

“Namja yang beberapa hari ini menjemput dan mengantarmu pulag.”

“A-ah. Dia? Namanya Kim Myungsoo.”

“Aku tidak peduli siapa namanya, tapi apa hubungannya denganmu?” Aku merinding mendengar suara Baekhyun yang sedingin itu. Apalagi dia menatapku tajam seolah-olah ingin memakanku habis-habisan.

“Di-diia menyukaiku dan memintaku jadi yeojachingunya. Aish, apa urusannya pedulimu huh? Itu urusan pribadiku. Minggirlah, Byun Baekhyun!!” Aku segera melangkahkan kaki untuk membuka pagar dan tepat setelah itu Baekhyun menarik pergelangan tanganku dan melakukan sesuatu yang nyaris membuatku mati di tempat.

Baekhyun menciumku. Di bibir.

Astaga, perutku tiba-tiba terasa mulas dan jantungku benar-benar berdetak hebat kala ia mulai melumat bibirku secara perlahan. Aku hanya membiarkan ia melakukan dengan sesuka hatinya karena tubuhku benar-benar tidak bisa digerakkan untuk beberapa saat. Mati rasa.

Bahkan setelah Baekhyun melapaskan ciumannya dan ganti menatapku dengan jarak yang super minim dari wajahku, aku belum bisa bereaksi apa-apa. Baru beberapa detik kemudian aku tersadar.

“YAAAA! KAU MAU MATI HUH? MENGAPA KAU MENGAMBIL FIRST KI-“

Cup. Cup.

First, Second and Third Kiss mu adalah milikku Nona Park. Dan ciuman-ciuman selanjutnya juga milikku. Jadi katakan pada namja tadi, bahwa kau sudah punya namjachingu dan dia tidak perlu repot-repot untuk mengantar atau menjemputmu, karena mulai besok aku yang akan melakukannya.”

“Namanya Kim Myungsoo.”

“Sudah aku katakan bahwa aku tidak peduli siapa namanya. Yang penting, dia harus tahu bahwa kau milikku.”

Heol. Sejak kapan aku jadi milikmu?”

“Sejak dulu hatimu adalah milikku.”

SKAK MAT.

“H-huh? Percaya diri sekali dirimu. Lagipula kau menggilai Kim Taeyeon, bukan Park Cherry.”

“Cemburu eoh? Apa kau benar-benar bodoh? Aku tidak pernah mengatakan aku menyukai Taeyeon Noona. Aku hanya bercerita tentang betapa menariknya dirinya. Apa kau tidak bisa membedakannya?”

“Aku tidak peduli dan aku sama sekali tidak cemburu.”

“Tidak cemburu tapi kau melukai tanganmu karena sedih memikirkanku yang tengah pergi dengan Taeyeon Noona?”

“Itu bukan karenamu!”

“Berbohonglah sesukamu Park Cherry. Toh, aku sudah memastikannya pada Minrae.”

“Mwo? Yak! Kau benar-benar menyebalkan.”

“Aku anggap itu pujian, sayang.”

“Cih, menjijikkan.”

Saranghae.”

.

.

.

Nado..”

                                                                                      FIN

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s