[Vignette] The Secrets Of Cloudy Sky

cs3

The Secrets of Cloudy Sky

a movie by tsukiyamarisa

BTS’ Park Jimin and Min Yoongi

Friendship, Life | Vignette | 17 (for slight cursing)

.

“…ada yang baru saja membisikkan rahasia mengenai langit mendung pada mereka.”

.

.

.

Langit itu menyimpan banyak makna, begitu kata adiknya.

Pukul lima sore, dan Park Jimin sibuk meresapi arti di balik kalimat tersebut seraya bertopang dagu. Mengamati langit yang dipenuhi awan mendung, masih setia bertahan pada beranda apartemennya kendati Yoongi sudah mengeluh kedinginan sejak tadi. Lelaki yang lebih tua itu datang berkunjung untuk membantu Jimin mengerjakan tugas kuliahnya—yang entah kenapa, malah berakhir diabaikan selama beberapa menit terakhir.

“Park Jimin, kalau kau tidak lagi butuh bantuanku untuk menulis lirik—“

Hyung, aku sedang mencari inspirasi.”

“Dengan memandangi langit kelam?”

“Adikku bilang, ia sering mendapat ide menulis dengan cara seperti ini.” Jimin mengedikkan bahu, menangkap suara Yoongi yang tengah menggerutu tetapi akhirnya memilih berjalan menuju balkon. Terdiam selama beberapa jenak, ikut mengamati awan kelabu di langit senja itu. Matahari sudah nyaris terbenam, menyisakan sedikit saja bias sinar yang susah-payah menembus mendung.

“Minha pasti kecewa malam ini,” gumam Yoongi sejemang kemudian, jemari mengetuk rangka besi di balkon apartemen sebelum menambahkan, “Karena bulan dan bintang akan lebih susah terlihat.”

Mendengar nama saudarinya disebut-sebut, Jimin pun menoleh. Mendapati Yoongi yang rupanya telah larut mengamati langit, melontarkan kekeh sejenak sebelum membenarkan pernyataan tadi dan berkata, “Tetapi, Hyung….

“Tapi?”

“Mendung juga bisa memberiku ide.”

Hening selama beberapa sekon, selagi Yoongi kembali memandangi langit dan berpikir. Kedua iris terpaku pada awan tebal yang bergulung serta segala yang tersembunyi di baliknya, juga kata-katanya tadi mengenai bulan dan bintang yang akan susah untuk dicari. Semua hal itu sedikit memberinya ide, tetapi Yoongi memilih untuk mengibaskan tangannya dan meminta Jimin berceloteh lebih dulu.

“Oke, lanjutkan.”

“Yah….” Jimin menarik napas, mencuri sepersekian menit untuk merangkai kata-katanya. “Kurasa, kondisi langit hari ini sama seperti diriku, bukan? Menyedihkan dan—“

Whoa—tunggu sebentar!” Yoongi memotong, keningnya berkerut. “Kenapa tahu-tahu menyedihkan? Memang hari ini ada hal buruk terjadi?”

“Tidak juga, sih,” sahut Jimin cepat, tetapi ekspresinya berubah sedikit muram. “Aku hanya… memikirkan tentang pandangan sebagian besar orang terhadapku atau Minha.”

Yoongi menjungkitkan kedua alisnya, menunggu.

“Kau tahu sendiri, ‘kan, Hyung?”

“Soal apa?”

“Soal bagaimana Minha terkadang mengeluh, lantas orang-orang di sekitarnya berkata kalau ia terlalu melebih-lebihkan. Juga tentang bagaimana orang-orang itu berasumsi segala macam, membuat penilaian mereka sendiri padahal mereka hanya tahu sekelumit masalah yang ada. Menurutku, tak ada yang salah dengan sedikit mengeluh atau mengutarakan kekesalan. Hanya saja….” Jimin menarik napas dalam, sebelum menambahkan dengan suara lirih, “…hanya saja, belum tentu keluhan atau curahan hati itu mengandung seratus persen kejujuran, bukan?”

“Maksudmu?”

“Anggap saja aku tiba-tiba berujar ‘aku lelah, hidup ini menyebalkan’.” Jimin mengutarakan, menyisipkan contoh dengan sedikit nada sarkasme. “Kemungkinan besar, hanya Minha atau kau yang akan memahami alasan aku berkata demikian. Sementara yang lain belum tentu paham tetapi malah menanggapi dengan ‘orang itu pasti mudah menyerah, harusnya dia bisa lebih optimis’.”

“Jadi, kau ingin berkata kalau seseorang itu tidak akan pernah bisa seratus persen jujur dalam menceritakan masalahnya? Iya, ‘kan?”

Satu anggukan dari Jimin, dan Yoongi pun seketika paham apa inti dari konversasi mereka. Menghubungkannya dengan langit kelam di luar sana juga tidak susah, melihat bagaimana awan-awan tebal menutupi segalanya dan membuat kebanyakan orang menggerutu. Persis seperti keadaan yang dideskripsikan Jimin tadi—bagaimana manusia cenderung tidak mungkin menceritakan segala rahasia mereka, tetapi orang lain tetap berniat menghakimi tanpa bukti lebih lanjut. Namun….

“Aku tahu kalau itu wajar, dan itu manusiawi,” imbuh Jimin setelah beberapa saat, senyumnya miris. “Menilai orang lain, maksudku. Kita semua melakukan itu, namun beberapa orang kadang tak tahu batas. Mereka yang bukan hanya menilai, tetapi juga sok memberi saran dan ingin ikut campur. Itu—“

Fucking annoying, right?” Yoongi menanggapi, meninju pundak Jimin ringan hingga keduanya tergelak bersamaan. “Pantas saja hujan turun setelah itu, karena siapa pula yang tahan mendengar ocehan sok tahu dari orang lain?”

“Tepat sekali.”

Mereka lantas kembali mengamati langit yang kini sudah menggelap, tanda bahwa malam sudah tiba hingga awan mendung tak lagi sejelas tadi. Kendati demikian, bukti bahwa gumpalan-gumpalan kelabu itu masih ada di sana sangatlah jelas. Tak ada bulan ataupun bintang yang tampak, semuanya bersembunyi di balik mega dan enggan memamerkan sinarnya. Spontan mengingatkan Yoongi akan analogi yang telah ia buat sendiri, sedikit berbeda dengan milik Jimin kendati masih sama-sama berkisah tentang sesuatu yang disembunyikan.

“Jimin-a.”

“Ya?”

“Kalau menurutku, langit mendung itu seperti orang yang sedang menyembunyikan kemampuannya.”

Kali ini, ganti Jimin yang menaikkan alisnya penuh rasa ingin tahu.

“Lihat saja, tidak ada bulan dan bintang yang tampak, ‘kan?” Yoongi mengedikkan kepala, menarik napas dalam sebelum melanjutkan, “Seperti kata Minha, langit yang dihiasi bulan dan bintang itu indah. Lalu, kenapa mendung harus datang menutupi?”

Pertanyaan itu terdengar sedikit konyol, namun Jimin tahu bahwa ada arti lebih di balik kata-kata Yoongi. Oh, well, bukan tanpa alasan ‘kan, ia meminta lelaki itu mengajarinya membuat lirik lagu? Jimin tahu betapa pandainya Yoongi dalam membuat perumpamaan, menyisipkan makna-makna mendalam di balik kesederhanaan. Kali ini pun pasti sama, ada alasan yang terajut di balik tanya barusan.

Maka, Jimin pun memikirkannya sejenak. Membayangkan bagaimana sinar rembulan dan cahaya bintang memilih untuk bersembunyi, dengan sukarela menyimpan pesona mereka yang sebenarnya. Seakan malu, seakan tidak siap, seakan terlalu banyak menggelisahi kekurangan diri. Mirip sepertinya yang kadang….

“Karena bulan dan bintang itu tidak percaya diri?”

Jawaban Jimin meluncur begitu saja, dan butuh sedetik penuh sampai lelaki itu menyadari kekonyolannya. Sontak membuat Yoongi terbahak, selagi Jimin mengerutkan kening dan berusaha untuk merangkai kata-kata yang kurang-lebih tak jauh berbeda dengan pemikirannya tadi. Ugh, ia memang bukan ahli dalam menyusun frasa dan—

“Aku paham maksudmu, Jimin-a.” Yoongi tahu-tahu berucap setelah tawanya reda. “Tapi menurutku, ada yang lebih dari sekadar tidak percaya diri.”

“Apa?”

“Rasa takut dan malas,” balas Yoongi langsung, siku tertopang pada pagar besi di beranda agar ia bisa meletakkan dagunya di sana. “Takut karena reaksi orang mungkin tak sesuai ekspektasi, takut untuk menghadapi realita. Atau, bisa juga itu adalah rasa malas. Seperti ‘untuk apa aku bersinar tiap hari jika hanya untuk diabaikan? Sesekali, aku juga ingin beristirahat’.”

Penjelasan Yoongi itu cukup untuk menghadirkan hening, sebuah bentuk lain dari pembenaran dan pertanda tidak adanya sanggahan. Mengangguk-angguk paham, Jimin membiarkan segala macam perumpamaan itu tersusun di dalam otaknya. Seolah ada yang baru saja membisikkan rahasia mengenai langit mendung pada mereka, pelajaran-pelajaran yang harus ia simpan dan senantiasa diingat.

Sampai Yoongi bergerak menyenggol lengannya, dan Jimin lekas melempar tatap ingin tahu.

“Lantas, apa pemecahannya, Park Jimin?”

“Hah?”

“Pemecahannya,” ulang Yoongi, sudut bibir sedikit berjingkat naik membentuk senyuman penuh arti. “Masalahmu dan masalahku. Semua obrolan tadi tak ada gunanya jika kau tak bisa menemukan jalan keluar, tahu.”

Pernyataan itu benar adanya, memaksa Jimin untuk kembali memutar otak dan menelisik langit malam lekat-lekat. Barangkali berharap jawabannya ada di sana, di balik kelam yang tampak menyebar rata. Namun, lima menit berlalu dan yang Jimin dapatkan malah embusan angin kencang. Disertai dengan rintik hujan, selagi Yoongi berdecak ringan dan tahu-tahu saja bergumam:

“Itu pemecahannya.”

“Hujan?”

Yoongi tidak lekas mengiakan. Lelaki itu memilih untuk menarik tubuhnya menjauh dan menghindar dari cipratan air, melangkah masuk lagi ke dalam apartemen sebelum berucap, “Hujan. Atau angin. Atau apa pun yang mungkin terjadi pada langit, karena mendung tidak akan bertahan selamanya.”

“Mendung… tidak akan bertahan selamanya?”

“Masih belum mengerti?” tanya Yoongi, tangan terangkat untuk mendorong bahu Jimin dengan sikap mengejek. “Maksudku adalah—“

“Karena kita tidak bisa terus-menerus menutupi segalanya, iya ‘kan? Apa pun kata orang lain, paling tidak akan ada satu atau dua orang tempat kita mencurahkan segalanya. Minha pernah berkata begitu padaku, jadi….”

“Bisa dibilang demikian,” sahut Yoongi, menyetujui seraya tangan meraih jaket tebal miliknya dari atas kursi. “Sedangkan untukku, pemecahannya lebih sederhana. I don’t give a shit, kau tahu?”

Tanpa perlu dijelaskan lagi, Jimin langsung memasang cengiran lebarnya. Ia amat tahu dan paham dengan maksud di balik kalimat favorit Yoongi barusan. Kurang lebih, Yoongi pasti berniat mengatakan bahwa seseorang itu bebas menunjukkan segala macam sisi dari diri mereka. Apa adanya; baik ketika mereka sedang ingin bersinar, maupun di saat lelah dan muram mengambil alih suasana hati. Bebas, tanpa perlu mendengar apa pendapat orang yang mungkin menyakiti hati. Berpura-pura tak acuh, lantaran mungkin hal itulah yang kita butuhkan untuk bahagia.

Jimin mengerti sekarang.

Ia mengerti, dan kabar baiknya, ia telah mendapat gambaran keseluruhan mengenai lirik yang akan ia tulis. Sekarang, yang perlu Jimin lakukan hanyalah duduk dan merangkai beberapa frasa. Menyelesaikan tugas kuliahnya dengan bantuan—

Hyung, mau kemana?”

Menyadari bahwa Yoongi sudah beranjak dan tengah memakai sepatunya, Jimin lekas mengutarakan kuriositasnya. Pupil memandangi payung yang dibawa Yoongi, serta sebuah jaket lain yang tersampir di lengannya—itu jaket adiknya.

“Menjemput Minha,” balas Yoongi singkat, seolah sudah jelas. “Kerjakan saja tugasmu, Park Jimin. Aku akan memastikan Minha tidak kehujanan.”

“Oh—“ Jimin mengangguk setuju. “Oke.”

Membiarkan Yoongi berkutat dengan kunci pintu, Jimin berusaha memusatkan perhatiannya pada kertas kosong di atas meja. Berkonsentrasi, tangan memutar-mutar pensil sembari telinganya sibuk mendengar rangkaian nada-nada yang telah lebih dulu disusun. Tidak mudah memang, dan itulah alasan mengapa Jimin meminta Yoongi…

.

.

oh, shit!

.

.

Hyung, kalau kau pergi, siapa yang akan membantuku—“

.

.

Bam!!

.

.

Dan Jimin pun hanya bisa melongo, memandangi pintu apartemennya yang baru saja terayun menutup. Kesadaran datang menghantamnya sesaat lebih lambat, memunculkan erangan kesal seraya langkah kakinya cepat berderap menyusul Yoongi.

.

.

Ya! Yoongi Hyung!! Lebih baik, aku saja yang menjemput Minha kalau begitu! Hyung!”

.

.

.

fin.

sebenarnya target menulis 2015 sudah tercapai, tapi ya sudah ff ini sudah terlanjur jadi sayang kalau di-post-nya harus nunggu tahun depan /?

anyway, maafkan saya yang menyampahi beranda terus😄

9 thoughts on “[Vignette] The Secrets Of Cloudy Sky”

  1. Halo, kak ‘-‘)

    Suatu kehormatan bisa jadi komen pertama buat FF ini *w* Ceritanya betul2 sederhana dan … selaras sama realitas yg ada *w* Jujur, aku punya problem yg sama kaya dua anak keceh di atas sana, dan baca FF ini kaya semacam nemu ilham buat masalahku sendiri *w* #okesayacurhat

    Suka bgt sama ceritanyaaa ;-; Pesannya betul” sampai dan sepaham sama akuuu ;-; Pertahankan gaya nulis kaya gini ya kakk ;-; Ini papolit bgt tau ga sih ;-;

    Suka

  2. Oke amer, aku mau merusuh dulu. Jadi, ini sebenernya di luar ekspektasi aku mer /dikeplak/ eh maksud aku mah ini bener bener di luar ekspektasi………..karena bayanganku ngga bakal sampe se-life ini. Lalu aku beneran baper…………iya gimana ceritanya yoonmin malah ngobrolin hal sederhana dari mendung bisa sampe ke masalah masalah segala? Lalu aku mikir selama ini aku ke mana aja? Selama ini aku mikirin apa aja? Padahal udah jelas kalo jawaban dr semua masalah sebenernya ada di depan kita /.\

    Aku udah mau nangis mer. Meskipun kata kamu ini nggak angst banget tapi……….tapi pesan moral/?nya ngenak banget ugh. Anjir riris ngomongnya sampe pesan moral segala……..wkwk.
    KUDU KOMEN APA LAGI MER SELAIN AKU SUKA FIC KAMU! MAKJLEB BANGET GINI…………..kayanya banyak orang kudu baca fic kamu biar pada sadar gitu ya. Wks.
    Aduh mer maap aku nyepam! Ini ficnya sukses banget bikin baper…….keep writing amer-nim(?) ♡♡♡

    Suka

    1. yuhuu KAK RIS HALOOO xD

      ahaha ngobrolin sama masalah kan emang bisa berawal dari yang simpel toh kak? *lirik obrolan di line wkwk* ya gitu, jawabannya emang ada di depan mata, tapi emang dilakuinnya ga semudah dikatakan ya :”)

      wkwkwk iyaa, makasih banyak kak riris sayaaang❤

      Suka

  3. Ini realitas banget… realitas bukan cuma dari apa yang mereka omongin, tapi juga yang mereka lakuin… maksudnya, kadang gitu kan kalo lagi ngobrol sama sahabat, dari omongan yang ‘receh’ sekalipun tiba2 ujung2nya udah aja ngomongin hidup dengan segala problematikanya😀
    Ini inspiring sekali ^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s