LAZIER : Holiday

PicsArt_12-26-10.28.15

by slmnabil

Starring Park Jimin [BTS] and Park Kira [OC] Genre Family Duration Ficlet Rating General

+

Temukan kaus kakinya, atau leluhur kita bakal kena hipotermia.


Kira pikir Jimin tidak serius dengan argumennya tempo hari. Saat ia tanya rencana cowok itu untuk mengisi liburan musim dingin, Jimin cuma bilang dia akan hibernasi. Tapi ternyata ia benar-benar jadi Sandy versi manusia.

Lain bagi Kira, lain pula bagi Jimin. Mungkin menurut Kira definisi liburan adalah melakukan kegiatan menyenangkan seperti mendaki, berenang atau apa saja yang termasuk hobinya -meski tidak bisa karena butiran salju sedang buat pesta di kota.

Namun coba berpikir seperti Jimin, liburan buatnya adalah segala bentuk antonim dari kegiatan rutinnya yang melelahkan. Lihat saja, terlalu banyak kegiatan sekolah membuat cowok itu membayar satu minggu penuh dengan malas-malasan di tempat tidur. Ia tidak bisa bayangkan adiknya bakal jadi hiasan ranjang apabila tetap begitu untuk lima belas minggu ke depan.

Pagi ini, Emmy -sang ibu- menyajikan panekuk dengan siraman madu dan susu hangat. Di tengah sarapan Kira yang kepalang damai karena tak ada adik yang selalu ribut makanannya berantakan, Emmy memintanya melakukan sesuatu yang agak menyimpang dari prinsip. Kira sih tidak begitu ingin terlibat begitu banyak dengan keseharian Jimin, tapi nyatanya Emmy tidak begitu.

“Ibu dan ayah akan menjenguk bibimu yang baru melahirkan. Mungkin bisa sampai dua minggu, jadi tolong jaga Jimin ya,” katanya seraya menjejalkan potongan terakhir.

Kira bukan tipikal anak yang mengatakan ya padahal tidak. Jadi ia lebih memilih mengatakan, “Apa yang perlu dijaga dari pemalas sepertinya? Lagipula dia tidak akan keluar kamar kok, Mom. Tenang saja.”

Gadis itu cukup yakin karena selama tujuh hari Emmy mengantarkan makanan ke kamar Jimin. Namun hipotesisnya terpatahkan kala derap sandal bergesekan dengan derit kayu dan menimbulkan sejenis bunyi yang mustahil masuk garis paranada. Jimin, dengan piyama kusut dan rambut yang lebih mirip sarang burung bergabung untuk mengambil jatah makan paginya. Gerakan kakinya mengarah ke lemari pendingin di sisi kanan ruang makan, lalu membuka pintunya dan mendinginkan kepalanya sejenak di dalam.

“Sinting,” gumam Kira.

Delapan detik berselang, Jimin memutar tubuh dan berjalan mendekati meja makan. Ia mendudukkan diri di hadapan kakaknya, memperhatikan wajah yang sudah seminggu tak dilihatnya. Kendati begitu, Kira tahu kalau Jimin masih mengumpulkan kesadaran.

“Aku tidak ingat pernah mengajarimu untuk melanggar prinsip,” kata Kira yang membuat Jimin konsentrasi lebih cepat.

“Bicara apa sih kau?” timpalnya sebal sebelum menarik paksa piring sang kakak.

Kira baru akan buka mulut dan protes, tapi nyatanya ia kalah cepat.

“Aku mau minta Mom membuatkan sajian yang sama persis sepertimu, tapi kurasa tak akan bisa jadi kuambil punyamu saja.” Itulah kalimat deklarasinya.

Percayalah, kalau Kira mengoleksi kata sinting yang sudah ia ucapkan pada Kira selama ini para pencatat rekor juga bakal terkejut. Adiknya terlalu aneh dan menjengkelkan di waktu yang sama.

“Hibernasimu singkat amat, eh?”

Jimin mengangkat pandangannya ke arah Kira. “Ah, itu. Aku ada rencana penjelajahan, jadi intensitas malas-malasan harus dikorbankan sedikit.”

Emmy menghampiri Jimin, tampak tertarik dengan pembicaraan si bungsu mengingat tidak biasanya dia membuat semacam perencanaan.

“Kurasa di rumah kita ada hantu. Tidurku tidak nyenyak karena seperti ada yang membisikiku tiap memejam,” katanya.

“Oh benarkah? Dia bilang apa?” tanya Kira pura-pura penasaran.

“Pergi ke loteng, cari peta penjelajahan dan temukan sesuatu untukku.”

Jimin ingat betul penggalan-penggalan kata yang mengusik pendengarannya tadi malam. Awalnya ia berpikir kalau Kira yang kebetulan sedang dirasuki masuk ke kamarnya dan menjahilinya. Ia berniat memastikan kebenaran pagi ini, namun nyatanya sang kakak tampak tidak tahu. Jadi Kira sepakat dengan isi kepalanya kalau hantu -atau barangkali leluhurnya- yang mendatanginya semalam.

“Temukan apa?” tanya Emmy antusias.

“Kaus kaki. Ia kedinginan katanya.”

Anugerahi Kira dengan penghargaan gadis paling sabar enam belas tahun berturut-turut karena belum edan setelah menghadapi adiknya selama ini.

“Nah, kamu bisa minta bantuan Kak Kira karena Mom dan Dad akan ke rumah bibi.”

Jimin sih tersenyum senang saja karena setidaknya ia punya teman untuk diajak berburu kaus kaki leluhur. Tapi Kira lebih senang pura-pura mati daripada harus melakukannya.

“Ayo Kak, kita tidak boleh terlalu membuang waktu atau leluhur kita bakal kena hipotermia.”

Sungguh, Kira tidak yakin kalau Jimin sudah enam belas tahun.

+

fin.

A/N Yhaa adik laki-laki memang bikin asdfghjkl

3 thoughts on “LAZIER : Holiday”

  1. Setuju aish adik lelaki emang lebih sering bikin asgdk dan edan drpd bisa diandelin apalagi kalo pautan umurnya ga jauh. Jadi fic ini bagus gitu, kayak keluhan yg dipermanis ke cerita. Hehe

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s