[Ficlet] I Know A Thing

I Know A Thing

Lyri

Ficlet; Teen

I Know a Thing

Jong-In, Soo-Jung

Today is my birthday.

Hari ini aku ulang tahun.

Tepatnya, saat kamu rela membuat kue sepanjang hari, mencari yang terbaik. Padahal kamu benci berurusan dengan dapur. Ajakan belanja dari kawanmu kamu tolak dengan mantap. Diskon lima puluh persen tak lagi menarik atensimu.

Besoknya kamu mempersembahkan kue brownies untukku dengan rona merah di pipi. Entah sejak kapan kamu jadi pemalu di depanku. Tapi sikap kamu yang arogan tidak juga hilang. Karena ketika aku memakan potongan pertama kuenya, kamu berkata:

“Kue buatanku sangat enak, tapi tidak ada yang mau mengakui karena gengsi. Padahal kakakmu, seorang chef berbakat, bilang kalau kueku sangat enak dipandang.”

Aku tertawa kecil. Tidak ada yang salah dengan perkataanya, pun tidak ada kebohongan. Salahkan air muka kakakku yang keningnya berkerut dan mulut yang tiba-tiba berhenti mengunyah kue. Beruntungnya, kakak masih bisa pura-pura menikmati kue yang rasanya aneh itu dengan berusah payah menelan kuenya.

Maka sejak saat itu, kamu tidak pernah mengganti resep karena dengan percaya diri menyatakan kalau chef berbakat saja menyukai kuenya. Gara-gara salah paham itulah kamu memberi nama kuemu, ‘Brownies Bintang Lima’.

Hari ini aku ulang tahun.

Hari di mana matamu tak hentinya berbinar dan lengkung lebar terus melekat di bibirmu. Kamu melakukannya sepanjang hari tanpa lelah. Tidak terlewat meski hanya satu sekon. Semburat merah di pipimu juga akan muncul begitu tatapan kami bersirobok.

“Ini make-up tahu!” kamu membantah begitu aku meledek semburat merahmu. Membuatku tersenyum simpul. Kekasihku manis juga ternyata.

Selanjutnya, aku dibuat tercengang begitu mendapati kamu bergeming ketika aku menoyor kepalamu, hanya menggerutu. Tapi ketika aku mencubit pipi tembammu atau mengacak rambut yang sudah ditata susa-susah berulang kali, kamu berucap:

“Aku tahu kamu mau punya pipi semanis aku dan rambut seindah aku, Jong.” Tidak marah sih, tapi sikap terlalu percaya dirimu muncul.

Sesabar apapun kamu, saat aku bilang kamu tambah gemuk, kamu bakal ngambek. Sehingga lengkung lebarmu memudar. Aku mengedikkan bahu. Namanya juga perempuan.

Hari ini aku ulang tahun.

Yang tiap sekonnya dihabiskan berdua. Terkadang nonton film secara maraton di rumahku, bermain game balap mobil di komputer, atau bersama-sama berdandan menjadi badut; wajah kami dilapisi bedak tebal dan lipstik merah mencolok di bibir, hitung, dan mata, lantas mengambil fotonya untuk di simpan di kamar.

“Ini bisa dijadikan alat pembasmi kecoa loh, Jong.” Aku memijat pelipis. Kadang-kadang kamu suka bertindak gila, tanpa mengenal malu.

Pernah juga seharian hanya bercakap tentang hal yang tidak perlu dibahas; seperti kenapa cat rumahmu warna biru langit atau kenapa kebanyakan dosen dikampus kami tidak mau menumbuhkan rambutnya. Tapi kami menikmatinya, tidak seorangpun protes atau melontar kata ‘bosan’.

Hari ini aku ulang tahun.

Di mana saat aku menagih hadiah kamu mengedikkan bahu tak peduli. Padahal hari sebelumnya, aku sudah memberi daftar hadiah yang harus dibeli; sepatu, kemeja, snapback, pokoknya banyak. Tapi mulutku enggan berhenti sebelum mendapat hadiah.

Barulah saat kamu meletakan telunjuk di bibirku, aku bergeming dengan alis yang bertaut. Kamu menghela napas seraya melipat tangan di dada.

“Jong-In.”

“Apa?”

“Apa ada yang lebih istimewa selain eksistensiku?”

Aku terlonjak lantas tertawa kecil. Jika biasanya kamu ngambek aku gombali, kali ini kamu berubah jadi cewek romantis. Maka dengan berat hati, aku mengaku kalah. Ugh, memalukan.

Hari ini aku ulang tahun.

Tidak ada kue Brownies Bintang Lima buatanmu, sorot mata kesukaanku, atau hal tidak penting lain yang harus dilakukan. Bahkan eksistenmu tidak kudapati. Membuatku benar-benar yakin kalau eksistensimu adalah hal yang paling istimewa.

“Sepertinya kita tidak dapat bersama lagi, Jong.”

Sejak saat itu, semuanya berubah. Kalimat aku sangat mencintaimu yang sering kau ucap lenyap dimakan waktu, terbang dibawa angin. Sehingga hanya terdengar sebagai dusta semata.

Meski kini namamu dan lelaki lain terpampang di undangan pernikahan, aku tahu suatu hal: kamu hanya melihat padaku dan mencintaiku terlepas dari apapun alasan konyolmu untuk meninggalkanku.

33 thoughts on “[Ficlet] I Know A Thing”

  1. Udah berapa lama kalian bersama, berapa ulang tahun yg dirayakan dengan narsisme begitu, tapi ternyata tidak berjumpa untuk bersamaaaa hufth.
    dan photo posternya badai, aku suka wkwk
    untuk ceritanya bagian ‘hari ini aku ulang tahun’ benerbener ngasih penekanan soal lamanya waktu yg udh dijalani, jadi hurt nya dapet deh huhu
    Keep writing!

    Disukai oleh 1 orang

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s