[Ficlet] Vernon from the Next Door

vernon from the next door

Casts Vernon Chwe [Seventeen] | Genre Teen, romance | Length Ficlet | Rating PG-15 |

namtaegenic presents a fanfiction

VERNON FROM THE NEXT DOOR

.

© 2015 namtaegenic

.

Membicarakan Vernon dari rumah sebelah bukanlah hal favoritku.

.

Aku tidak pernah terlalu memahami Vernon. Maksudku, tentu saja fakta bahwa ia tetangga tepat bersebelahan tembok rumah denganku merupakan pengecualian. Atau bahwa darah Amerika dan Korea Selatan sama-sama mengiringi setiap aliran di pembuluhnya—secara konotasi, maksudku, ia blasteran.

Jika teman-temanku berkunjung lalu berbisik asyik membicarakan Vernon yang sedang bermain basket sendirian di halaman depan rumahnya, aku biasanya segera mengganti topik. Membicarakan Vernon dari rumah sebelah bukanlah hal favoritku.

“Lagi pula dia sok inggris. Kalian belum pernah berbicara langsung dengannya, kan?” ujarku waktu Aram dan Heemi mampir ke rumah. Aku tak perlu repot-repot berharap bahwa kedua sahabatku itu mengerti. Yang ada mereka malah mengeluarkan suara seperti tupai tanah, mencicit nyaring, lantas menyambarku dengan “Jadi kami punya kesempatan mengobrol dengannya? Asyik!”

Tepat ketika mereka mengikik bagai bajing, Vernon melewati pintu rumahku. Ia melenggang begitu saja tanpa mengangguk. Yang ia lakukan justru menepuk bahuku dengan keras, dan mengangkat dagunya seperti sedang menyapa kawanan koboi di kandang kuda.

’Sup, girl! Yo brother…?”

Aram dan Heemi ber-“uuuwww” genit tanpa peduli perubahan air mukaku. Aku berdecak kesal, lalu menggerakkan kepalaku ke arah dapur, memberi isyarat agar Vernon langsung masuk saja ke dalam karena kakakku sedang mencoba resep barunya di dapur. Ia lulusan sekolah kejuruan dan mengambil pendidikan kuliner sebagai lanjutan studinya. Ia ingin jadi chef dan entah dengan alasan apa Vernon mengaguminya. Kurasa ia hanya suka icip-icip makanan gratis.

“Eh, Haneul, si Vernon-Vernon itu…”

“Belum bosan juga membicarakan dia?” aku menimpali sebelum Aram dan Heemi terjerumus lebih dalam ke dunia Vernon. Keduanya saling pandang, dan aku punya firasat buruk. Lantas Aram mengerling jenaka padaku. Ah, sial. Aku ketahuan.

“Kamu naksir Vernon, ya?”

Bilang tidak tak akan memperbaiki apa pun. Aram dan Heemi sudah telanjur menarik kesimpulan mengenai reaksiku, yang sayangnya benar-benar tepat. Faktanya memang aku semacam punya perasaan pada tetanggaku yang sok inggris itu, makanya aku benci padanya.

Soalnya ia bertukar pandang denganku nyaris tiap pagi tapi tidak pernah sekali pun membuka konversasi. Ia seenaknya keluar masuk rumahku, tapi justru kakakkulah yang ditemuinya. Dan yang paling utama adalah, bahwa ia bicara denganku dengan Bahasa Inggris informal seperti bicara pada teman-temannya. Aku tidak punya masalah sedikit pun dengan Bahasa Inggris. Aku hanya tidak suka caranya meloloskan sebentuk kalimat pendek-pendek padaku seperti ‘A-yo, girl! ‘Sup? Ya think? Uh-huh, awwwright!’ dan sebagainya. Mimpi saja aku kalau mau diperlakukan berbeda olehnya.

Belum sempat aku mengubah topik dan melarikan diri dari tatapan Aram dan Heemi, Vernon melenggang lagi di ruang tamu. Kali ini ia berhenti tepat di bagian lantai yang aku duduki, lalu ia berlutut. Aku tidak tahu ia mau apa, tapi kini wajahnya tepat beberapa inci di sampingku.

Get dressed, girl. Cinema tonight, seven sharp. I’ll get the car.”

Aram dan Heemi bengong, seakan sedang menyaksikan film asing tanpa teks berbahasa Korea, sementara aku melongo dengan alasan lain. Tunggu dulu, Vernon barusan mengajakku ke bioskop? Tidak salah?

Yo brother already said yes. See ya!”

“Tunggu sebentar, Vernon!” aku bangkit dari lantai, cukup membuat Vernon terkejut hingga ia tak langsung bangkit dari posisi berlututnya. Manik sewarna kopi susu itu memandangku nyaris tanpa kedip yang kentara.

“Kamu selalu bicara seperti itu? Pada semua gadis yang kamu ajak pergi ke bioskop? Tidak ada kata-kata yang lebih sopan, atau memang hanya itulah kosakata yang kamu punya?” dari alam bawah sadar, mulutku terus saja meloloskan gerutuan hasil akumulasi dari harapan sekaligus kekesalanku padanya selama ini, karena ia selalu bersikap seenaknya tanpa menyadari bahwa aku ingin mengobrol dengannya sesekali secara normal, bukan dengan ‘A-yo, ‘sup? You look freakin’ tired. Drink water.’

Mengabaikan eksistensi kedua sahabatku di muka bumi, Vernon lantas bangkit. Aduh, warna matanya keren sekali jika dilihat dari jarak sedekat ini. Ia juga beraroma sabun mandi varian lemon dan apel. Tidak ada bau keringat sama sekali. Mungkin usai main basket tadi, ia mengeringkan diri lalu mandi. Idih, kenapa aku jadi memikirkan apa yang ia lakukan?

“Choi Haneul,” Vernon, tanpa diduga-duga, menggenggam tanganku—dianggapnya sudah minggat saja Aram dan Heemi. Lalu apa pun yang lolos dari sela bibir dan deretan gigi Colgate-nya benar-benar membuatku membeku di dalam kubus tak kasatmata berwarna merah muda.

“Aku minta maaf atas semua yang mungkin membuatmu kesal. Aku terlalu bingung harus mulai dari mana tiap kali bertemu muka denganmu.” Vernon menggosok tengkuknya, terlihat sangat gugup. “I am not a charmer, Choi Haneul. Not a sweet talker. I am afraid too much about something that might happen. Like refusal. But I would loved to ask you out. Aku akan melakukan apa saja untuk menikmati popcorn denganmu. Aku hanya takut kamu menolakku.”

“Haneul, bagian bahasa Inggrisnya bisa diterjemahkan?” Heemi membelah suasana, tapi aku tidak peduli. Manikku bersitatap dengan Vernon, di mana manik kopi susu itu membuatku terpaku, tidak tahu harus berbuat apa, atau mengatakan apa.

Will you date me tonight?

Kupikir, kalaupun sekarang aku mati, aku pasti mati bahagia. Tapi karena aku belum mati, dan tentunya lebih bahagia lagi setelah mendengar Vernon berbicara panjang lebar dan sopan (dan romantis, demi Tuhan), jadi aku tersenyum. Senyum pertamaku padanya yang kuberikan secara tulus, bukan karena basa-basi setelah bertemu muka layaknya tetangga.

“Aram, yang barusan artinya apa?”

“Tidak tahu, tapi kayaknya mereka bakal kencan. Det-teu artinya kencan, ‘kan?”

Det-teu kan, artinya ‘tanggal’.”

“’Kencan’ juga, kok. Mereka akan kencan, Heemi.”

Benar sekali. Aku dan Vernon akan kencan. Dan ada hal-hal baru yang akan segera kuketahui, soal apakah Vernon suka film komedi, atau apakah ia lebih memilih air mineral daripada cappucino, atau apakah ia lebih suka popcorn mentega ketimbang rasa karamel.

Aku akan mengetahui semuanya sebentar lagi. Setidaknya setelah ia melepaskan genggamannya dari tanganku dan membiarkanku bersiap-siap.

.

| FIN.

 

27 thoughts on “[Ficlet] Vernon from the Next Door”

  1. Halo kak jadi aku mau melakukan semacam pengakuan dosa. Aku selalu menjadi siders dan vernon berhasil membuatku keluar dari zona siders. Manis banget kak😀 aku mungkin tidak bisa komen begitu panjang tapi aku suka bangett! Makasih kak😀

    Suka

  2. KAECIIIIIIIIII AKU LAGI MABOK VERNON DAN DIA ASTAGA BISA GA SIH SEKALI AE DI FIC GAUSAH NGEGOMBAL /lat mabok/kemudian seorang gadis ditemukan terkapar di kamar/teu

    Terus mau gelinding ae ini rasanya keypadnya si bernon juga /gagitulat/
    Gatau ah lat mah kalo komen ga pernah bener iya yaudah gangerti ini mau lanjut gelindingan aja tolonq, bhay dd emeshkoooh ❤❤❤❤❤❤❤❤

    Suka

  3. cie dasar cewek, kalo suka sama orang pasti sok sok nutupin pake rasa benci, padahal kalo ditatap dikit udah kelepek kelepek kayak orang ayan /gak/

    duh sudah kuduga vernon pdktnya sama kakak ipar dulu, baru ke adeknya. biar langsung dapet restu gitu ya… untung akhirnya diajak ke bioskop dengan manis… semanis popcorn… rasa karamel…
    .
    .
    .
    lupakan temen-temen haneul yang bengong karna lg nonton teater bahasa inggris di depannya….

    Suka

  4. Aih aih suka banget sama suasananya :3 spoiler-an temen2nya juga pas gituh jadi bikin mau ngakak gimanah :3
    nggrisnyah juga keren :3 palagi bagian awwwwright! ㅋㅋㅋ dan endingnya juga menyenangkan! jadi kek kita masih ada di scene itu, duh love deh 😍
    Kesimpulannya, aku sangat menikmati cerita inih!

    Disukai oleh 1 orang

  5. Da ada aja mas vernon mah aduh mai harteu jadi sakit wakakak! Hulaaa kakeciii veli akhirnya muncul stelah krisis inet. Ini mah seger banget tulisannya huhu pas sudah semua.

    Semangatz kaecii nulisnyaaa /tebar cinta/

    Suka

  6. astagfirullah ini.. i-iini sweet banget argh
    gabisa berenti senyum dri awal baca bagian vernon yg ngomong panjang lebar sambil pegang tangan haneul arrrggghhh walaupun ga ngerti beberapa kata-kata yg bhsa inggris tpiii inii sumfaahhh sukaaaaaaaaa!

    keep writing ka , lain kali ff mingyu donggg atau hoshi wkwkwk
    lovelove dri akuuu…

    Suka

  7. aku reader baru disini. dan ini yg pertama aku baca karena vernon bias~ astagaaa vernon.. so sweet banget. senyum-senyum sendiri bacanya>< jadi penasaran kencan mereka gimana huhuhuhu

    Suka

  8. WOADUH

    udah bisa gombal sekarang dia. Ini sih tipikal boy next door favoriiiit. Palingtop kaeci. Sayang aku lagi bete bete tapi suka baca yang manis beginiHAHAHAHA. Fluffy thing emang ma guilty pleasure tetapi AAAA KAK! KAMU MAH NGAJAK NGEDATE ENAK BANGET SEMENTARA AKU GABOLEH NGEDATE!

    Keep it up!
    (muka ngantuk emang seharusnya gak muncul di boks komen oraang)😄 manis uhuy so cheesy aku sampe merinding membayangkan kakak seperti ituh jika bertemu gadis pujaan.

    MAU DONG PUNYA TETANGGA YG KEK GITUUUUU

    Suka

  9. “will you date me tonight?”
    .
    .
    Ada yang main gendang di dadaku kak beneran dag-dig-dug astagaaaaaaa vernoooonn bisa banget lu bikin cewek kelimpungan kayak gini duh.
    .
    .
    suka banget sama fic nya >< kapan tetanggaku cakep kayak vernon kapaaaann huhuhu :')
    .
    Nice fic^^

    Suka

  10. Aku baca ffnya ini sambil tahan napas masa. Ga kuat aja ngebayangin si Vernon kayak gitu (ditambah akunya yang jadi Haneul XD)
    Tipikal tetangga ideal banget duh :’) Haneul sekarang punya ‘pacar 5 langkah’ dong ya *putarmusikdangdut*

    Suka

  11. HALO KAKECI
    aku mampir di sini yak😀 ehe ehe
    Asik banget ya punya tetangga kaya Vernon gitu. sup yo, yo sis, brother mana brother /ceileh/😄
    Vernon langsung minta izin ke brother itu so swit sekali astaga Hansol kamu jangan coba2 menjadi bias wreckerku argh /pura-pura frustasi/ PLAK

    SEKIAN DULU KAKECI
    /menghilang ke tempat lain/

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s