Amato (Part 3)

amato

Title: Amato chapter 3

scriptwriter: Yosichan

Main Cast:

  • Oh Sena
  • Park Chanyeol
  • Oh Sehun
  • Shin Chanmi

Support Cast: find by your self

Genre: Romance, family life, comedy

Duration: chapter

Rate: pg 15

Previous part: 1. 2

              Karna hidup hanya sekali. Maka aku besarkan rasa egois ini untuk tetap berusaha menjadi perusak hubungan orang agar masa depan keluargaku berubah. Bukahkah aku jahat? Tidak cukup disitu. Aku juga khawatir akan benar-benar merusak masa depan seseorang hanya karna keegoisanku. Aku jahat. Aku benar-benar jahat. – Oh Sena-

              Cinta itu seperti pasir. Semakin kau genggam erat maka pasir itu akan lepas. Jika kau membiarkannya, maka ia akan terinjak atau tersapu ombak. –Park Chanyeol-

 

Normal pov

              Sena menatap Chanyeol yang berkeringat karena menggendongnya tadi. Ia dibaringkan diruangan putih. Chanyeol bangkit dari duduknya ditepian tempat yang ditiduri Sena ketika dokter datang bersama suster membawa hasil CT scan.

“ apa nona ini pernah terjatuh sebelumnya?” tanya dokter itu. Chanyeol seketika menoleh kearah Sena dan Sena menatap tak mengerti.

“ tulang rusuk nona ini ada yang patah dan saya rasa dia harus dirawat lebih insentif lagi untuk operasi mengeluarkan tulang yang patah tersebut. Ditambah lagi tekanan darahnya sangat rendah dan memiliki maag akut. Dia harus benar-benar istirahat.” Tidak hanya Sena. Chanyeol juga terlihat terkejut mendengar penjelasan Dokter.

“ jika tekanan darahnya sudah normal kami akan melaksanakan operasi untuk tulang rusuknya. Kami permisi.” Dokter dan suster itu berpamitan tanpa jawaban dari Sena dan Chanyeol.

“ jangan beritahu ibuku. Jebal..” Sena menatap Chanyeol. Ia masih mengingat kejadian apa yang membuat tulang rusuknya patah karena sebelumnya ia tidak merasakan apapun kecuali sedikit nyeri di perut yang ia pikir karena perlakuan Chanyeol dimalam ia mabuk. Chanyeolpun demikian, seakan mengerti yang dipikirkan oleh Sena, ia mengingat hal ketika ia mabuk. Benar. Chanyeol menyiksa Sena setelah menidurinya. Menampar dan menendangnya menjauh dari tempat tidur. Chanyeol ingat. Ia kemudian keluar dari ruang rawat inap itu.

              Chanyeol duduk dibangku koridor rumah sakit. Ia menghela napas berat memikirkan perbuatannya yang pasti akan dikutuk oleh semua orang yang mengetahuinya. Namun Sena dengan wajah polosnya malah menyuruh menyembunyikan kejadian ini. beberapa saat kemudian dering handphone Chanyeol berbunyi tertera nama “Yoora Noona” di layarnya.

“ kau dimana? Bagaimana keadaanya? Kau benar-benara membawanya ke dokterkan?” Yoora seolah tak percaya adiknya akan berbaik hati mengantar Sena ke Dokter.

“ eoh.”

“ lalu?”

“ dia harus dioperasi.”

“ mwo?!!” tak heran reaksi Yoora berlebihan karena ia menduga Sena hanya sakit demam biasa. Sekitar 15 menit kemudian ia menghampiri tempat Chanyeol duduk.

“ apa yang terjadi?

“ kau meninggalkan anakmu sendirian?”

“ aku memanggil han ahjumma kemari. Dimana dia? Dikamar yang mana?” yoora menengok mencari tempat Sena dirawat. Chanyeol kemudian mendahului Yoora memasuki ruangan Sena.

“ Oh Sena!” pekik Yoora mengagetkan Sena yang mulai menutup matanya.

“ eonni…” jawabnya masih lemah.

“ apa yang terjadi? Mengapa harus dioperasi?” Sena diberondong banyak pertanyaan oleh kakak iparnya itu.

“ gwenchana…”

“ apa yang sebenarnya terjadi?” Yoora menatap tajam Chanyeol tidak percaya akan penjelasan Sena.

“ tulang rusuknya patah dan ia harus di operasi.” Jawab Chanyeol yang mengalihkan pandangannya dari tatapan tajam kakaknya.

“ kenapa bisa tulang rusuknya patah? Apa kau lagi pelakunya?” Chanyeol kali ini membalas tatapan kakaknya.

“ anniyaa eonni. Aku hanya terjatuh ketika sedang bekerja. Kumohon jangan beritahu Sehun apalagi ibuku, aku mohon pada kalian. Aku tidak ingin mereka khawatir. Kumohon..” air dipelupuk mata Sena mulai menggenang. Yoora terlihat frustasi. Kemudian memandang Chanyeol dengan tatapan kau akan mati ditanganku.

              Sena dioperasi setelah 2hari dirawat dan tekanan darahnya sudah normal. Tentu saja Sehun menghadiri operasi pertama kalinya dalam hidup Sena itu. Akibat mulut yoora yang kelewat kesal pada Chanyeol dan terlebih lagi Sehun terus menanyakan keadaan kakaknya. Kecuali ibunya. Sena memberi Sehun syarat jika ingin menemuinya bahwa tak akan mengabari ibunya tentang dirinya yang akan dioperasi. Chanyeol? Dia tentu saja datang. Selain membayari semua administrasinya, ia juga membawa gayeon. Bukan untuk dipamerkan. Namun karena gayeon yang meminta menjenguk Sena. Tak pelak Gayeon juga merasa bersalah karena melihat Sena tersiksa seperti ini. Setelah seminggu dirawat dirumah sakit ini, Sena diperbolehkan pulang. Tentu saja karena paksaan Sena sendiri karena tidak ingin melewatkan ujian tengah semesternya. Ini ujian pertama yang ia tempuh selama kuliah. Apa Chanyeol merasa bersa;ah setelah kejadian ini? tentu saja tidak. Ia hanya sedikit bersikap baik diawal Sena sakit kemudian kembali berulah setelah Sena sampai dikamarnya. Tetap disuruh tidur ditempat Sena biasa tidur. Tetap menyuruh Sena membersihkan kamarnya dan melayaninya 24jam sebagai asissten pribadinya.

Sena pov.

              Ya Tuhan. Dosen macam apa dia itu yang memberi soal tidak bisa dinalar logika. Ah yah, memangnya pelajaran statistika bisa dinalar? Oh please Sena jangan membuat masalah dengan Chanyeol. Jika nilaimu jelek, kau akan babak belur ditangan suami kejammu itu. Percayalah. Kubuka kotak makananku yang diberi Sehun tadi. Ia melarangku makan sembarangan setelah aku selesai dioperasi. Ia berdalih agar aku makin hemat. Benar. Chanyeol hanya membiayailu kuliah saja. Selain itu aku harus mencari uang sendiri dengan bekerja partime di toko laundry. Berbeda dengan Sehun yang diberi uang saku bulanan oleh Tuan Park. Mungkin Tuan Park mengira anaknya sudah memberiku uang bulanan hingga aku sering dilarang pergi bekerja. Kulangkahkan kakiku menyusuri jalan menuju halte bus. Besok nilai hasil ujian tengah semesterku akan keluar. Haruskah aku kabur? Aku yakin ada mata kuliah yang akan membuat Chanyeol menamparku.

              Plak!! Benar saja. Bahkan sebelum aku mengetahui nilaiku, Chanyeol lebih dulu mengecek web tempat nilaiku diumumkan. Dan sekarang dia berdiri didepanku dengan wajah menyeramkannya itu.

“ aku benar-benar menyesal membiayai gadis bodoh sepertimu!” ucapnya. Seperti biasa aku hanya bisa menunduk tak beranimenatapnya. Bahkan air mataku mulai kering untuk hal semacam ini. terlalu sering dia menyakitiku secara fisik.

“ joseoamnidda..”

“ sudahlah. Aku paham karena kau dan keluargamu sama saja. Sama-sama bodoh. Tak heran jika kau menikah denganku hanya karena ingin berkuliah.” Sena memberanikan diri menatap Chanyeol amarahnya mulai memuncak.

“ kau! Kau boleh menghinaku seenakmu. Tapi jangan pernah bawa-bawa keluargaku. Setidaknya keluargaku lebih memiliki etika daripada kau Tuan Park!!” Sena menggertakkan giginya. Menatap Chanyeol yang terkejut akan jawaban Sena.

“ wah daebak! Kau sekarang berani membantahku? Akhirnya kau memiliki harga diri nona Oh.” Chanyeol kembali akan menampar Sena kemudian terhalang tanagn mungil Sena.

“ mulai sekarang berhenti melukaiku. Aku mulai muak dengan tingkahmu chanyeol-ssi” ia menghempaskan tangan Chanyeol kemudian menghampiri lemari buku dan bajunya ia membereskan dan mengeluarkan surat-surat yang menyangkut data dirinya diperguruan tinggi. Membuangnya tepat diwajah Chanyeol. Chanyeol membelalakkan matanya.

“ aku tidak akan mati hanya karena tidak kau kuliahkan! Terimakasih untuk semua perlakuanmu.” Ia keluar dan membanting pintu kamar Chanyeol. Sedangkan sang empunya kamar masih tertegun dengan sikap Sena yang benar-benar diluar dugaannya.

“ immo…” Queeni berlari menuruni tangga menghambur kearah Sena. Segera mungkin Sena menghapus air matanya. Dibelakang queeni berdiri park yoora yang menatap aneh kearah Sena.

“ kau mau kemana sena-yya?” Yoora menurui anak tangga terakhir melihat tas besar satu-satunya yang Sena bawa setelah upacara pernikahannya dengan Chanyeol.

“ mianhae eonni. Jeongmal mianhae. Aku tidak bisa melanjutkan kuliahku.” Belum sempat Yoora bertanya Sena langsung melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah ini.

              Sehun segera memarkirkan skuternya tepat duhadapan rumah Chanmi dengan terburu-buru. Chanmi yang sudah menunggu diruang tamu langsung membukakan pintu ketika bel rumahnya berbunyi. Sehun mengatur napasnya setelah Chanmi membukakannya pintu. Seakan mengerti situasi Chanmi langsung memberi Sehun air minum meski Sehun tolak. Karena yang ia pikirkan kali ini adalah keadaan kakaknya. Chanmi mengirimnya pesan singkat bahwa kakaknya sedang berada dirumahnya dalam keadaan memprihatinkan. Namun sayang karena cafe dalam keadaan ramai ia baru membaca pesan itu dua jam kemudian.

“ dia baru saja tertidur. Jangan ganggu. Aku rasa dia juga tak akan menceritakannya sekarang. Beri dia waktu untuk menenangkan diri.” Ucap Chanmi yang melihat Sehun membuka kamar tempat Sena terlelap tidur. Sehun kemudian menutup kembali kamar itu.

“ dimana kau bertemu dengannya?” tanya Sehun.

“ dihalte bus. Dia meringkuk kedinginan sambil menangis dan menolak aku antar kerumahmu. Jadi aku membawanya kesini. Tak apa kan?” Sehun mengangguk.

“ jaga dia untuk semalam ini. besok pagi aku akan kembali untuk menengoknya.” Balas Sehun dengan raut muka yang susah sekali terbaca.

“ aku akan menjaganya dengan baik. Kau tenang saja. Dia tidak akan berteriak seperti saat bersamamu.” Chanmi berusaha mencairkan keadaan dan menghibur Sehun namun gagal karena Sehun sama sekali tidak tertawa melainkan langsung berpamitan pulang.

              Esoknya Sehun kembali kerumah Chanmi sebelum ia berangkat sekolah. Ia melihat kakaknya sudah kembali seperti yang ia kenal dahulu. Ceria dan tertawa lepas menggoda Chanmi. Sehun membuka pintu pagar rumah Chanmi ingin rasanya ia memeluk kakaknya. Melindungi bidadari kedua yang ia punya didunia ini. Bidadari yang karena dirinya hingga rela disiksa oleh suaminya. Sena dan Chanmi berhenti saling melempari busa dari air sabun yang digunakan Sena untuk memandikan anjing milik Chanmi. Beginilah Sena, mungkin karena sedari kecil sudah terbiasa dengan hidup susah menjadikannya pribadi yang kuat dan tegar.

“ omo. Chanmi-yya kau sudah dikemput oleh pangeran kodokmu. Cepat pergi aku selesaikan ini. ppalii!” Sena memercingkan matanya sebelah memberi kode pada Chanmi.

“ Noona, bisa kita bicara?” Sehun menatap Sena dengan tatapan serius. Demi apapun tatapan mata Sehun seperti ini hanya disaat tertentu. Dia tidak ada bedanya dengan Sena yang susah sekali diajak serius. Seperti perkiaraan Chanmi ketika mengetahui sifat Sena.

“ aku tidak ada waktu sekarang. Kembalilah setelah pulang kerja saja. “ sena melanjutkan kegiatannya. Sementara Chanmi sudah masuk rumahnya untuk mengambil tas rangselnya. Betapa beruntungnya ia hari ini. karena ini pertama kalinya Sehun menjemputnya kesekolah. Karena jarak rumah Sehun lebih dekat daripada rumah Chanmi ke sekolah, jadi setiap hari Chanmi dan Jinyoung-lah yang menjemput Sehun. Chanmi dan Jinyoung tinggal berdekatan. Karena Sehun sering bermain kerumah jinyoung, membuat Chanmi ikut akrab dengan teman sepupunya itu.

“ baiklah. Kau memiliki hutang penjelasan,nenek sihir.” Cup! Sehun mencium pipi kanan Sena tepat ketika Chanmi baru saja keluar dari pintu rumahnya akan berteriak memanggil nama Sehun. Mukanya merah padam. Sambil salah tingkah ia menghampiri kakak beradik itu.

“ kajja. Eonni jaga dirimu. Anggap rumah sendiri. Tak apa kan kau ku tinggal bersama eomma?” Sena mengangguk sambil tersenyum. Chanmi tinggal bersama kedua orang tuanya dan adik lelakinya yang masih kecil seumuran dengan Queeni. Keduanya pun melambaikan tangan keluar dari pintu pagar rumah Chanmi. Sena terlihat menghela napas berat. Kesendiriannya akan membuatnya berpikir tentang hal bodoh itu lagi. Kembali kerumah Tuan Park, meminta maaf lalu kembali berkuliah. Oh Sena. Kau sungguh gadis bodoh. Terbodoh didunia. Gerutunya seraya memukul kepalanya sendiri. Sedang dari jauh ada seseorang yang memperhatikannya dari sebuah mobil.

“ dimana nenek sihir itu? Dia benar-benar gurita. Kakinya tidak bisa diam.” Sehun frustasi ketika pulang sekolah bersama Chanmi tidak menemukan kakaknya dirumah Chanmi. Ia sengaja tidak pergi bekerja dicafe hanya karena dibuat penasaran akan janji penjelasan Sena. Sementara ibu Chanmi yang dimintai keterangan mengatakan bahwa Sena hanya berpamitan ingin mencari udara segar.

“ bahkan gurita ada waktu dimana kakinya bisa diam.” Chanmi menggumam naum nyaris terdengar oleh Sehun. Selang dua jam kemudian Sena datang. Tentu saja langsung diberondong dengan berbagai pertanyaan oleh Chanmi dan Sehun. Bukan hanya itu saja. Wajah Sena juga terlihat pucat. Tentu saja karena beberapa waktu yang lalu ia baru saja dioperasi. Terlebih lagi luka dan lebam ditubuhnya hasil perbuatan Chnanyeol yang belum pulih.

“ tentu saja aku mencari uang. Memangnya kau, mencari wanita” sena meluruskan kakinya setelah sampai dikamar Chanmi.

“ Noona, aku sedang serius. Aiss jinjja..”

“ tutup mulutmu kepalaku pusing mendengarnya.” Jawab Sena. Sedang Chanmi langsung beranjak mengajak kakak beradik itu untuk makan siang. Makan siang yang terlambat tentunya. Karena Sehun menolak diajak makan siang sebelum kakaknya pulang, jadi Chanmi yang sebenarnya laparpun ikut menunggu hingga Sena pulang. Akhirnya mereka pun makan bersama.

              Sena dan Sehun duduk dibangku taman rumah Chanmi. Hanya berdua. Karena penjelasan Sena hanya perlu diketahui oleh adiknya. Maka dari itu chanmi mempersilahkan kakak beradik itu mengobrol santai diluar rumah.

“ aku memutuskan mengikuti apa yang kau katakan.” Sena mencoba tersenyum seraya menatap wajah adiknya. Penasaran akan raut wajah seseorang yang berada disampingnya itu.

“ jinjjayo? Jeongmal? Noona, wae? Apa kau ..”

“ gaumanhae. Aku terlalu pusing untuk menjelaskan lebih panjang. Aku sudah menuruti saranmu. Sekarang giliranmu yang harus membantuku menjelaskan pada eomma. Kau tahu mengapa aku ragu pulang kerumah? Karna aku yakin eomma akan berpikiran yang tidak-tidak akan diriku.” Sena menghela napas.

“ tentu saja aku akan membantumu nenek sihir. Aahhhh entah rasanya senang atau tidak mendengar kau akan kembali kerumah. Berteriak setiap waktu menggangguku dan merebut remot televisi…” Sehun tidak meneruskan kata-katanya ketika melirik Sena kemudian tertawa bersama.

“ aku serius, bodoh!” Sena akhirnya mengeluarkan jurus jitunya ketika bertemu Sehun. Pukulan pada kepalanya.

“ yak Noona, kapan kau berhenti menyiksa adikmu ini? ahh begini, kita jujur saja pada eomma. Dia pasti akan mengerti.” Pletak! Kali ini Sena memukulkan ranting yang ia ambil disebelah kakinya pada kepala Sehun.

“ otakmu dimana, bodoh? Apa kau pikir eomma tidak akan khawatir, sedih dan belum lagi jika dia memperpanjang masalah ini?” Sehun menggangguk dengan tampang seperti berpikir keras.

“ baiklah, serahkan padaku. Aku tidak akan mengatakan soal penyiksaan yang suamimu berikan. Sepulangnya nanti aku akan menjelaskan pada eomma. Tapi kau harus janji besok kau pulang kerumahmu nona Oh.” Sehun terlihat mencibirkan mulutnya. Sena terlihat gemas dengan tingkah adiknya lalu memeluknya dari samping.

“ jinjjayo? Awas saja jika kau memberikan alasan terbodohmu pada eomma. Tapi, bukannya kau tak suka aku kembali kerumah? Baiklah aku tak akan kembali.” Sehun seketika menatap kakaknya.

“ baiklah, aku akan mengirimmu ke panti jompo. Aku yakin hidupmu damai dan tentram.”

              Sesuai kesepakatan. Esok harinya Sena pulang kerumahnya dengan alasan sehun yang cukup masuk akal. Ia mencoba meyakinkan ibunya bahwa kakaknya masih labil akan pernikahan yang bukan atas kehendaknya. Jika dipaksa Sena akan bertindak diluar perkiraan ibunya. Jadi Sehun memohon ibunya untuk tidak mengungkit masalah ini sementara. Alasan yang belum diketahui Sena ini dipercaya oleh ibunya dan membiarkan putrinya tetap tinggal bersamanya. Ingat. Ini adalah alasan sementara. Ibunya juga belum bertanya masalah kuliah Sena yang akan dilanjutkan atau tidak dan mengapa baru sekarang ia menolak perjodohan ini. semua pertanyaan itu masih ia simoan demi putrinya yang menginginkan ketenangan.

              Sudah 3minggu lebih Sena tinggal dirumahnya. Sena pun menambah pekerjaan paruh waktunya karena dipagi hari ia sudah tidak lagi berkuliah. Bayangkan saja gadis yaang sering disiksa oleh suaminya hingga lebam ditubuhnya ini bekerja 3x dalam sehari. Bahkan setelah tulang rusuknya patah. Pagi harinya ia mengantar bubur buatannya ibunya keliling ditiap rumah bersama Sehun. Setelah agak siang ia menjadi kasir di sebuah mini market dekat rumahnya. Kemudian sepulang dari menjadi kasir ia kembali kerumah sebentar untuk makan siang lalu kembali bekerja ditoko Laundry dekat daerah rumah Chanyeol. Sehun dan ibunya tentu saja melarang Sena bekerja seperti itu karena hanya akan membuat tubuhnya mati kelelahan. Namun peringatan ibu dan adiknya hanya dianggap angin lalu saja oleh Sena.

“ yak! Nenek sihir!” Sehun menjemput kakaknya yang masih bekerja di toko Laundry. Hari ini sehun lebih dulu pulang karena kakaknya memaksa lembur hingga larut malam.

“ pergilah. Aku belum selesai.” Sena mengusir Sehun namun adiknya itu malah balik menggoda kakaknya yang sibuk membersihkan kaca toko Laundry.

“ Noona, kau baik-baik saja kan? Wajahmu terlihat sedikit pucat. Kau. Jangan sampai pingsan hingga aku harus menggendongmu ya.” Sehun berbalik mencari tempat duduk untuk menunggu kakaknya hingga pulang. Namun ia berbalik karena mendengar sesuatu terjatuh. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Sena pingsang dibelakangnya.

“ Noonaaaa….”

              Sena mengerjapkan matanya. Dikanan dan kirinya sudah ada ibu dan adiknya. Ia masih belum terbiasa dengan keadaan sekitar. Ruangan serba putih ini lagi. Dengan infus ditangannya. Ia sudah dapat memastikan dimana ia berada sekarang.

“ omo, uri Sena-yya…” ibu Sena terlihat menangis.

“ eomma… uljima…” Sena mengeluarkan suara beratnya.

“ Noona, apa kau sudah tau sebelumnya jika kau sedang hamil?” nada Sehun terdengar ketus ditelinga Sena. Sena membelalakkan matanya

“ jangan bilang kau tidak tau hal ini.” lanjut Sehun.

“ geumanhae.” Ibu Sena memukul sehun

“ dia sedang hamil. Kita harus membuatnya nyaman. Ya Tuhan secepat ini kau beri aku cucu. Omo… Chanyeol harus tau. Benar kan?” serempak Sena dan Sehun menjawab tidak. Lalu ibu Sena hanya mengerutkan kening bingung.

“ tapi, apa ini benar?” Sena masih tidak percaya.

“ tentu saja sayang. Dokter mengatakan dengan jelas kau harus berhenti melakukan aktivitas yang membuat janinmu keguguran. Kau tidak boleh terlalu lelah. Itu karna kau hamil diusia muda sayang.” Ibu Sena mengelus lembut rambut Sena. Sena menatap Sehun. Berbeda dengan ibunya, Sehun nampak tidak senang dengan berita kehamilan kakaknya. Sena kemudian menggenggam tangan Sehun mencoba membaca raut wajah Sehun.

              Chanyeol babak belur di dalam kantornya. Beberapa saat yang lalu Sehun datang dengan wajah yang tak kalah menakutkan dari pada Chanyeol saat menghadapi Sena. Awalnya Chanyeol melawan perbuatan adik iparnya itu. Ya, Chanyeol dan Sena belum bercerai dengan pasti karena Sena hanya pergi dari rumah Chanyeol. Ketika Sehun menjelaskan bahwa kakaknya hamilpun, Chanyeol masih belum percaya. akhirnya ia terus saja menjadi sasaran kemarahan Sehun hingga Chanyeol kalah dan membiarkan Sehun manghajarnya. Tak hanya wajahnya yang babak belur, perut dan kakinya turut Sehun tendang hingga Chanyeol lemah tak berdaya apalagi Sehun sudah sabuk hitam dicabang olahraga Taekwondo.

“ kau! Aku tak mengerti apa yang ada diotakmu. Kau tak menginginkan kakakku tapi kau benar-benar merusak masa depannya.” Sehun menindih dada Chanyeol dengan satu kakinya sementara ia mengambil napas setelah mati-matian menghajar kakak iparnya itu.

“ apa kau yakin dia hamil denganku?” bug! Sehun kembali menendang lengan kanan Chanyeol hingga ia merintih kesakitan. Ia yakin setelah ini ia harus kerumah sakit.

“ apa kau pikir kakakku wanita murahan yang tidur dengan banyak pria? Kau ingin mati tuan Park?!!” Sehun kembali memukul rahang Chanyeol. Tak peduli kondisi Chanyeol sudah sekarat. Peluh dan darah dimana-mana.

“ aku tak meminta kau merawat anakmu. Aku hanya kau mau bertanggung jawab. Mengakui bahwa itu adalah anakmu jika tidak, terpaksa aku akan melaporkan semua kelakuanmu pada ayah tercintamu.” Sehun pergi membiarkan Chanyeol yang nyaris pingsan. Tubuhnya benar-benar tak kuat untuk beranjak dari posisinya sekarang. Ia keluar ruangan kerjanya ketika kantor benar-benar sepi. Karena semua orang pasti heran melihat dirinya sekarang yang babak belur dan mengeluarkan darah dimana-mana. Berjalan tertatih-tatih menuju parkiran mobilnya. Lama ia tak segera menyalakan mesin mobil itu. Memikirkan apa yang telah ia perbuat. Gadis yang rela disiksanya hanya karena ingin berkuliah dan mempunyai pekerjaan yang lebih baik setelah wisuda kini harus menanggung malu karena dirinya. Hamil tanpa ada ayang tahu siapa suaminya karena pernikahan rahasianya. Belum lagi ia memikirkan perasaan gayeon yang pasti akan terluka karena masalah ini. ia menyalakan mesin mobilnya dan keluar dari parkiran.

              Chanyeol mendatangi tempat sena bekerja ditoko laundry. Disana. Tepat disana Sena sedang menyetrika baju. Meski baru keluar dari rumah sakit dan tidak diperbolehkan bekerja, tetap saja. Sena adalah Sena. Gadis keras kepala yang susah diatur, kecuali pada Chanyeol. Entah takut atau apa. Sena seperti takut dan menghindar ketika Chanyeol mencoba mendekatinya. Meski sebenarnya ia penasaran akan luka lebam diwajah suaminya itu. Ia masih kagetdan tak menyangka suami yang sudah lama tak ditemuinya kini berada tepat didepannya. Ada perasaan rindu hingga air matanya menggenang dipelupuk matanya. Ingin sekali berlari dan memeluk pria jangkung itu. Namun itu benar-benar hal mustahil. Kecuali jika ia ingin ditendang oleh Chanyeol. Sena dibawa Chanyeol keluar dari toko Laundry dan duduk dibangku sekitar toko.

“ gugurkan dia.” Chanyeol membuka pembicaraan ini bersamaan dengan ekspresi terkejut Sena yang luar biasa. Hingga Sena tak mampu membalas perkataan suaminya itu.

“ kita tak mungkin bersama. Aku tidak ingin menyakiti Gayeon.” Chanyeol! didepanmu. Didepanmu sekarang. Istrimu yang sedang mengandung anakmu ada didepanmu dan kau dengan teganya malah memikirkan perasaan orang lain? Apa kau benar-benar tidak punya hati?

“ tidak. Sampai kapanpun aku tak akan pernah menggugurkan anak ini. aku tidak akan mengatakan pada siapapun bahwa ini anakmu. Tidak akan memintamu bertanggung jawa. Aku akan membesarkannya tanpa bantuanmu. Dan jangan pernah kau menyuruh seorang ibu membunuh anaknya sendiri.” Sena bangkit dari duduknya meninggalkan Chanyeol hendak memasuki toko Laundrynya namun langkahnya terhenti melihat sosok yang ia kenal berdiri dihadapannya sekarang menatapnya dengan wajah benar-benar tidak percaya. Chanyeol yang sadarpun langsung beranjak mendekatinya. Mendekati Gayeon yang mendengarkan percakapan suami istri itu. Awalnya ia hendak mengajak Sena mengobrol perihal Sena yang pergi dari rumah Chanyeol. Namun naas ia mengetahui fakta lain. Tanpa sepatah katapun ia berbalik arah dan berlari meninggalkan mereka.

“ gayeon-ahh… “ Chanyeol mengejar Gayeon. Semakin membuat hati Sena teriris sembilu.

“ gayeon-ahh mianhae..” gumam Sena.

              Sena tiduran dipaha Sehun sambil memakan jeruk yang Sehun kupaskan untuknya. Semenjak hamil, kadar kemanjaannya benar-benar meningkat. Ia bahkan sering meminta Sehun menemaninya hingga tertidur. Tak hanya itu, porsi makannya pun dua kali bahkan sering tiga kali lipat dari biasanya. Sehun dan ibunya memaklumi karena Sena hamil disaat yang tidak tepat. Seorang wanita hamil anak pertama yang harusnya dimanja dan ditemani oleh suaminya, ia malah ditelantarkan bahkan dipaksa menggugurkan kandungannya. Wanita mana yang tak sedih dengan itu semua. Beruntunglah ia memilliki adik lelaki yang senantisaa menemaninya kemanapun ia inginkan. Meski tak jarang Sehun melihat Sena mengigau nama Chanyeol ditengah tidurnya.

              Sementara dilain tempat gayeon membereskan barang-barangnya. Setelah berbicara dengan Chanyeol tadi siang, ia memutuskan untuk pergi ke Jeju. Menempati rumah yang ia dan chanyeol buat untuk mereka kelak ketika sudah menikah. Ia memaksa Chanyeol memberikan kunci rumah itu karena butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Apa Chanyeol setuju? Tentu saja tidak. Ia bahkan memaksa ingin ikut Gayeon namun tak akan pernah gayeon ijinkan hingga kapanpun. Sebaliknya, gayeon menyuruh Chanyeol  tetap berada disisi Sena hingga akhir. Hal ini membuat Chanyeol frustasi. Melampiaskannya pada minuman alkohol hingga mabuk berat. Ia bahkan tak mengantar Gayeon ke bandara. Sebaliknya dengan langkah gontai ia menuju rumah Sena. Tentu saja dengan keadaan antara sadar dan tidak karena pengaruh alkohol.

              Sehun dan Sena kaget melihat Chanyeol dengan keadaan memprihatinkan berada disekitar rumah mereka. mereka menemukan pria itu setelah pulang dari membeli sesuatu  yang Sena inginkan. Melihat dari keadaannya, mereka sudah menduga Chanyeol mabuk berat.

“ kajja.” Sehun langsung menarik tangan Sena menjauh dari Chanyeol yang berada tepat ditengah-tengah jalan menuju rumah mereka.

“ yak wanita jalang! Apa sekarang kau puas? Hah? Tentu saja kau puas membuatku dan gayeon berakhir. Kau benar-benar wanita murahan yang pernah kukenal Oh Sena.” Chanyeol mengucapkan kata-katanya dengan sedikti berteriak dan mencoba mendekati Sena hendak melakukan kekerasan lagi ada istrinya yang sedang hamil muda itu. Namun terhalang oleh Sehun.

“ pergi dari sini atau kau mati babak belur Park Chanyeol.” Sehun menggeram. Tangannya mengepal hendak memukul kembali wajah Chanyeol yang masih belum sembuh dari luka yang ia perbuat sebelumnya.

“ Sehun-ahh geumanhae. Dia mabuk. Kajja.” Sena menarik tangan Sehun menjauh dari Chanyeol namun dengan mudahnya Chanyeol menarik tangan Sena dan menghempaskannya ketembok. Tentu saja Sena memekik kaget. Sementara itu tanpa banyak kata Sehun memukul Chanyeol hingga ia jatuh tersungkur lalu menendangnya hingga mengeluarkan darah dari dalam mulutnya. Sena menjerit meminta Sehun menghentikan perbuatannya. Namun Chanyeol tetap saja menggumamkan kata-kata aneh. Mengumpat sena bahkan yang membuat Sehun menghentikan langkahnya dan berbalik kembali menyerangnya adalah kata-kata bahwa Sena harus menggugurkan kandungannya.

              Sehun membelai rambut kakaknya yang tertidur disofa depan televisi. Setiap hari ia seperti ini. Sesuai moodnya meminta ibu atau adiknya agar menemaninya tertidur. Tak jarang pula ia mengigau memanggil nama Chanyeol hingga peluh membanjiri dahi dan pelipisnya entah apa yang sedang ia impikan membuat Sehun dan ibunya sering khawatir. Ibunya paham betul putrinya ini sedang membutuhkan suaminya. Meski Sehun sudah berupaya menggantikan Chanyeol namun itu tak cukup, karna Sehun hanya adiknya. Adik kandungannya. Ingin rasanya Sehun mengatakan ini semua pada kakak iparnya, bahwa Sena benar-benar membutuhkannya. Namun ia lebih memilih memendam keinginan itu agar Sena tak lebih sakit hati lagi.

Selang beberapa hari kemudian Nyonya Park, Park yoora dan Queeni datang kerumah Sena. Hanya ada Sena disana yang sedang libur bekerja. Sena yang awalnya ceria karena mengira bahwa adiknya pulang sekolah lebih awal itu merubah raut wajahnya ketika perkiraannya salah. Ia hanya diam setelah mempersilahkan ibu dan anak itu memasuki rumahnya. Ia bahkan tak berpikir menanyakan keadaan Tuan Park yang pulang dari pengobatannya.

“ Sena-yya…. pulanglah kerumah. Bukankah kalian baik-baik saja? Eoh?” Nyonya Park memeluk pundak Sena. Tak tahan lagi air mata Sena perlahan menuruni pipinya.

“ wae? Ceritakan jika kau ada masalah.. katakan Sena-yya. Apa kau hamil?” Sena terkejut dengan pertanyaan Nyonya Park. Dari mana wanita tua ini tahu?

“ Sena-yya, gayeon, dia menemuiku sebelum pergi ke jeju. Dia ingin aku meyakinkan Chanyeol agar bertanggung jawab atas janin yang sedang kau kandung. Dia masih belum bisa menemuimu.” Jelas Yoora.

“ Gayeon ke jeju? Gayeon-ahh… mianhae…” sena makin menangis terisak.

“ Chanyeol. Mungkin setelah dia tau kau mengandung, dia akan menerimamu sayang. Pulanglah.” Menerima? Astaga, andai saja kau tau menantumu ini bahkan trauma mendekati suaminya sendiri Nyonya!

“ aku masih belum bisa eommani m. joseoamnidda. Jeongmal. Chanyeol tak menginginkan anak ini. biarlah aku mengurusnya sendiri.”

“ mwo?!!” serempak Nyonya dan Yoora terkejut.

“ anak sialan itu. Kupastikan dia babak belur ditanganku.” Seru Yoora.

“ geumanhae. Kau tak lihat semalam keadaannya kacau dan babak belur? Aku akan meyakinkannya. Tapi kau tak boleh menyerah Sena-yya. Kalian jangan bercerai. Kau sedang hamil. Anak ini jangan sampai terlantarkan. Kau mengerti?”

“ aku bisa membesarkannya sendiri eomma. Aku tak ingin merepotkan keluargamu lagi.” Sena mulai memberanikan diri menolak semua yang dulu ia inginkan. Sena benar-benar tak mau dibujuk untuk kembali kerumah keluarga Park. Oh ayolah, ia membutuhkan suaminya. Bukan ibu mertua atau kakak ipar yang harus membujuknya pulang. Kau tau siapa? Park Chanyeol. Suaminya.

              Chanyeol melihat Sena yang sedang membersihkan kaca jendela toko laundry tempatnya bekerja. Nampaknya dia masih keras kepala untuk bekerja. Setelah membersihkan jendela Sena terlihat membuang sampah dan menyetrika. Chanyeol kembali teringat kata-kata ibunya semalam.

Flasback on

“ kau tau, ketika eomma mengandung noona-mu, betapa bahagianya eomma karna itu anak pertamaku tak peduli lagi meski halmeoni-mu tak menyukai hal itu. Yang ada dibenak eomma hanya bayi itu. Bahkan ketika susahnya melahirkanmu, ibu meminta dokter menyelamatkan kau saja daripada eomma. Tak peduli seberapa lelah dan sakitnya, namun seorang ibu tak akan pernah berhenti berkorban demi anaknya. Jika kau belum bisa menerima Sena, cobalah menerima anakmu. Dia darah dagingmu sayang. Apa kau tak percaya itu bukan darah dagingmu? Kau bisa menyuruhnya tas DNA setelah lahir. tapi, jika kau memang tak mau menerimanya, jangan pernah mengganggunya atau menyuruhnya menggugurkan anaknya. Istri mana yang tak sakit hati mendengar perkataan itu dari suaminya? Eomma akan tetap bertanggung jawab pada janin itu. Karena eomma yakin dia adalah cucu eomma.” Nyonya Park beranjak dari tempat tidur Chanyeol. Tanpa ada jawaban dari Chanyeol. Ia hanya merenung dan menerawang. Memikirkan perkataan lembut ibunya, gayeon, dan omelan kakaknya.

Flashback off

              Chanyeol kembali mencari Sena yang sepertinya menghilang dari pandangannya. Ia mencari sekeliling toko tersebut. Ternyata sena sedang berlari kecil membawa bungkusan yang berisi laundry untuk diantar kepemiliknya yang berada tak jauh dari toko laundry tersebut. Chanyeol masih bingung tentang langkah apa yang harus ia perbuat. Dalam benaknya masih benar-benar memikirkan Gayeon. Namun disisi lain ia memikirkan tentang janin itu. Yang secara tak sadar merenggut mahkota istrinya itu. Pandangannya pun beralih ke kerumunan orang yang tadi dilewati oleh Sena. Merasa tidak enak. Iapun turun dari dari mobilnya dan mencari Sena. Betapa terkejutnya ia setelah mengetahui Sena akan dibopong oleh seorang pria dikerumunan itu. Ternyata kerumunan itu terjadi karena Sena tiba-tiba pingsan. Tanpa berpikir lagi Chanyeol-pun berlari mendekat dan menawarkan tumpangan mobil untuk pria yang sedang menggendong Sena dengan susah payah.

“ biar aku yang membawanya. Aku mengenal gadis ini. dia pekerja paruh waktu di toko laundry ini.” Chanyeol menjelaskan pada pria itu. Tanpa curiga pria itu membiarkan Chanyeol membawa Sena.

              Dokter menceramahi Chanyeol panjang lebar akan kesehatan Sena yang semakin memburuk setelah Chanyeol mengaku bahwa ia adalah suaminya. Sedang Chanyeol hanya diam dan meminta maaf pada dokter tersebut. Ia lalu mamasuki ruangan tempat Sena berbaring. ia masih belum sadarkan diri karena memang membutuhkan istirahat yang lebih. Setelah puas melihat Sena ia beranjak dari duduknya mengeluarkan ponselnya mengirim sebuah pesan singkat untuk  Sehun perilhal Sena sebelum ia pulang karena takut Sehun kembali menghajarnya meski bukan ia penyebab sena pingsan. Namun langkahnya terhenti karena Sena menggumamkan namanya pelan namun terdengar. Ia menoleh menatap Sena dan kembali duduk mengamati Sena yang mulai sadar dan masih menggumamkan namanya. Ia memberanikan diri megenggam tangan Sena perlahan. Hingga akhirnya sena membuka matanya.

“ Sena-yya…” Chanyeol menggenggam tangan Sena. Sena membuka matanya perlahan.

“ wae? Apa ada yang sakit?” sena pasti berpikir ia masih tidur dan sedang bermimpi karena melihat suaminya dengan wajah yang sedang mengkhawatirkannya. Sena menggenggam tangan Chanyeol. Nyata. Ia merasa ini nyata. Chanyeol hendak melepas genggamannya karena ingin meanggil suster atau dokter, namun Sena tak melepas genggaman itu.

“ aku akan memanggil dokter untukmu tunggulah sebentar.” Ia pun pergi. Akhhirnya sena sadar bahwa ia tak sedang bermimpi. Beberapa saat kemudian seorang dokter dan dua suster datang. Memeriksa kondisi Sena dan sebagainya. Chanyeol berada disamping Sena mengamati yang sedang dokter lakukan. Sedang Sena mengamati Chanyeol. Suami yang sedang ia rindukan.

              Setelah dokter itu pergi Chanyeol sadar bahwa Sena menatapnya sedari tadi. Dengan sedikit canggung ia mendekat. Ini memang aneh. Pria keji yang biasanya menyiksa istrinya ini duduk disamping istrinya dengan wajah khawatir, menggenggam tangan istrinya menanyakan keadaannya. Tentu saja sang istri menganggap ini lelucon semata.

“ mianhae…” Chanyeol tak bisa menatap manik mata Sena.

“ jeongmal mianhae.” Masih dengan mulut terkatup. Entah karena kaget atau masih tidak percaya. Sena mempererat genggamannya. Inginmengucapkan sepatah kata namun sulit untuk berkata. Hingga tiba Sehun dan ibunya datang dengan tergopoh-gopoh. Terlebih raut wajah Sehun berubah drastis melihat Chanyeol ada disana. Disebelah kakaknya dan sedang menggenggam tangan kakaknya.

“ Sena-yya… ige mwoya? Apa bayimu baik-baik saja? Eoh?” sena mengangguk. Sehun mendekat masih dengan tatapan tajamnya pada Chanyeol. Sedangkan yang ia tatap seperti salah tingkah dan ketakutan.

“ keluar!” hanya satu kalimat itu yang keluar dari bibir Sehun namun berhasil membuat tiga orang yang berada diruangan itu serempak menatap kearah Sehun. Chanyeol bangkit dari duduknya namun genggaman tangan Sena makin kuat. Chanyeol menatap Sena yang sedang berusaha menahan air matanya. Sena balik menatap Chanyeol dengan tatapan memohon.

To be continued…

3 thoughts on “Amato (Part 3)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s