[Ficlet] Honestly

Honestly duluan

Honestly

Cast: Jeon Jungkook, Lee Sangjin (OC)

Genre: fluff, romance.

Rating: PG-12

Duration: Ficlet

ScriptWriter: iidonghae (@Mujtahidatul_A)

Disclaimer: jungkook milik Tuhan Yang Maha Esa. Setting punya saya. Maaf kalo salah eyd atau typo.

Summary: Jungkook mengantisipasi. Ia meletakkan sugesti bahwa ia pun harus percaya, bahwa rasa bosan dalam suatu hubungan memang pasti ada. Walaupun tidak untuk saat ini.

===

Pernah di publish di www.iidonghae.wordpress.com

FF ini terinspirasi dari lagunya Monsta X dengan judul yang sama dengan FF ini, yaitu Honestly. Setting waktu di FF ini ada yang flashback, tapi nggak di kasih tandanya. Cekidot!

===

Jika kalbunya tak sering-sering berbisik, mungkin Jungkook sungguh segan memikirkan hal-hal semacam ini. Bahkan tepat setelah ia mengucapkan “Kau pulanglah duluan, aku ada urusan sebentar” lalu dirinya balik meninggalkan gadisnya yang masih heran berada di ambang gerbang sekolah. Bukan tanpa maksud Jungkook mengatakannya. Benar, Jungkook sedang sibuk melakukan beberapa kali perenungan yang tak pernah mengalami titik stasioner. Dirinya selalu berputar-putar datar lalu kembali lagi ke tempat semula. Bukan raganya yang berputar, ia masih statis berada di tengah lapangan basket yang lengang tanpa lalu-lalang satupun siswa.

Tanpa peluh atau pun nafas yang tak teratur bak serial drama telivisi, dirinya hanya memakai seragam musim panas. Bukan kaos basket dengan lengan tiga jari yang basah. Bola basket yang ia geser ke depan dan belakang tepat mewakili pikirannya yang sedang melayang. Sekali lagi Jungkook merenung, jutaan kali memikirkan perasaannya sendiri pada gadisnya. Ia meragukan perasaannya. Ya, ia mulai memberi simpulan bahwa dirinya sedang berada pada tahap sangat bosan.

I don’t want to hurt you
But I have to tell you now
It’s not easy to hide my heart

“aku percaya jika suatu saat nanti, salah satu diantara kita pasti merasa bosan” ucap Sangjin cepat-cepat ketika ia baru saja mengangguk menerima permintaan Jeon Jungkook. Bahkan Jungkook pun belum menamatkan sehembus nafasnya. Ia dibuat lebih bergidik lagi oleh gadis di sampingnya. Lebih dari pada ketika ia baru saja mengatakan ‘aku pikir dia tidak cocok untukmu. Aku lebih cocok’. “dan ketika rasa bosan itu datang, tunggu hingga tiga kali kau merasakannya” lanjut gadis itu meyakinkan. Wajahnya ia buat lembut dan bersinar, memang pembawaannya. Namun spasi pada kalimatnya dibuat untuk memperjelas jika gadis itu sungguh-sungguh serius. “jika yang ketiga itu benar-benar datang, kau boleh membuat keputusan apapun tentang hubungan kita” lanjut Lee Sangjin akhirnya menamatkan kalimatnya. Jungkook mengantisipasi. Ia meletakkan sugesti bahwa ia pun harus percaya, bahwa rasa bosan dalam suatu hubungan memang pasti ada. Walaupun tidak untuk saat ini.

I was so happy looking at you all day, every day
I was so happy listening to your stories
I guess time is up now
I guess we’re the same as others
Now even when you’re telling me interesting stories, I’m only nodding

Jungkook terus menggeser bola basketnya ke depan dan belakang. Sedang dirinya masih menunduk bingung. Keterlaluan jika ada seorang yang berlalu lalang dan mengabaikannya. Karena rupanya, Jungkook membuat ekspresi wajah termenyedihkan seumur hidupnya. Tangan kiri Jungkook sibuk menguliti bibirnya, membuat beberapa lapisan keringnya terkelupas tanpa iringan perih. Jungkook mengingat-ingat, bahwa ini adalah kali ketiga ia merasa benar-benar bosan. Kali ketiga ia benar-benar tak ingin gadisnya menawarkan makan siang. Kali ketiga ia benar-benar muak dengan ucapan selamat malam oleh gadisnya. Kali ketiga ia benar-benar kasihan mendapati gadisnya terlalu baik memperlakukannya. Dan kali ketiga ia tak ingin melihat gadisnya. Walau sebentar.

Today, you’re the same as yesterday, only I’m different
(I think I’m crazy, I was deceived by familiarity and let you go)
I really didn’t know I’d have these feelings
(Actually, it’s just momentary, I just wanted you to melt me)

 “Jeon Jungkook, apa yang sedang kau sibukkan? Aku tidak ingat hari ini kau ada jadwal” seseorang dengan pelan menepuk pundak Jungkook, mengatakan kalimat tersebut sangat lembut tepat di telinga Jungkook. Tak heran lagi, Jungkook menoleh dan ia mendapati gadisnya memasang muka bingung sekaligus heran, jangan lupakan ekspresi khawatir yang memenuhi tiga per empat wajah cantiknya. Lee Sangjin menekuk lutunya sejak sebelum ia berucap. Jungkook melihat gadisnya lamat-lamat. Ada perasaan bersalah atas apa yang perasaannya telah perbuat pada dirinya. Ia tak pernah memberi komando bahwa dirinya harus bosan. Bahkan jika ia bisa memilih, sangat nyaman berada di dekat gadisnya, menikmati senyumnya setiap saat. Tidak ada yang merugi ataupun hilang jika Jungkook melakukan hal-hal semacam itu. Tapi tidak untuk perasaannya. Tidak untuk rasa bosannya yang hanya bisa ia timbun beberapa kali.

“YA!” Lee Sangjin mengejutkan Jungkook sekali lagi. Jungkook hanya membuat respon dengan deheman ringan. Pikiran Jungkook berputar dengan cepat. Ada beberapa langkah yang akan ia ambil selanjutnya. Ia, dengan bulat akan melakukannya. Mengakhiri semuanya.

“kau tak apa? Kau bisa menceritakannya padaku!” sekali lagi jurai kata Sangjin membuat Jungkook meleleh. Jungkook membulatkan tekadnya kuat.

“ah, itu… emmm…”

“Ya?” tangan Sangjin masih tak mau lepas dari pundak Jungkook. Jungkook tersenyum mengetahuinya. Lebih lebar dari seminggu yang lalu. Terakhir kali sebelum perasaan bosannya lebih mendominasi.

“ah, kau sudah makan?”

“hoh? Apa yang kau katakan?”

Jungkook tersenyum lagi. Kali ini lebih-lebih lebar dari biasanya. Ia tahu betul, bahwa sebanyak apapun rasa bosannya muncul, rasa muaknya muncul, maka ia selalu kembali pada level awal. Ia akan mengakhirinya, mengakhiri rasa bosannya.

“Kalau begitu, untuk yang ketiga ini bisakah aku geser menjadi yang pertama lagi? Karena aku pasti kembali merasakan hal yang sama. Seperti kita pada awalnya. Dan akan menjadi seterusnya”

“Apa yang kau katakan? Kau lapar?” Lee Sangjin menyadarinya. Menyadari jeon Jungkook mungkin tak semudah itu melepaskannya.

Oh ah, I loved you more than anyone else
You were the most beautiful girl in the universe
What exactly happened to me?
I wanna turn back time

#END#

Terimakasih sudah membaca, beri komentarnya ya biar semakin semangat nulis! Terimakasih🙂

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s