[Ficlet] How Nice It Would Be

How Nice It Would Be

2015-12-28 12.03.47

iKON’s Kim Jinhwan, Jung Chanwoo and  OC’s Claire Jung

genres childhood, slight!fluff | duration ficlet (900+ words) | rating General

a special movie presented by Rizuki

.

Jung Jinhwan? Namanya juga tidak akan terlalu buruk, kok.

.

.

Kim Jinhwan sedikit berlari menghampiri taman kecil di tepian sungai itu. Mengatur napas, lantas menyembunyikan tubuh kecilnya di balik pohon. Detik berikutnya, bibir bocah lelaki berusia delapan tahun itu mengulas senyum. Pandangannya kemudian terarah pada sesosok gadis kecil yang tengah bermain bersama adik lelakinya di dalam bak pasir.

“Dia sudah datang rupanya,” bisik Jinhwan kepada dirinya sendiri. Sepasang manik bocahnya terus memperhatikan seluruh pergerakan gadis yang seumuran dengan dirinya itu. “Kenapa penampilannya enggak pernah rapi, sih? Kalau main pasir terus, ‘kan, nanti kotor.”

Iya, Jinhwan bicara tanpa kawan. Sibuk mengomentari kelakukan gadis bersurai sebahu tak jauh di hadapannya yang masih asyik menggoda adik lelakinya.

“Chanwoo-ya, jangan main jauh-jauh. Ayo kita buat istana pasir saja. Kalau kamu nakal, nanti Kak Claire aduin Mama, lho.” Si gadis manis berteriak kepada adik lelakinya yang melangkah menjauhi bak pasir. Ia diabaikan, karena kini sang adik sudah berlari mendekati sebuah kursi kayu di bawah pohon Ek di pinggiran sungai. Sementara gadis bernama Claire itu masih terus menyaruk gumpalan pasir dengan sekop merah di tangan kanannya. Duduk manis di tengah bak pasir, sembari menyiulkan beberapa lagu-lagu dengan lirik tak sempurna.

Jinhwan—masih dari balik pohon itu—terkekeh kecil saat mendengar lirik yang dilafalkan sang gadis salah. Alih-alih menyapa serta ikut bergabung ke dalam bak pasir, Jinhwan bahkan tak mengenal si gadis manis. Ah, gadis itu yang tidak kenal Jinhwan, sebenarnya.

“Kak Claire!”

Jinhwan mengubah fokusnya pada adik si gadis manis yang saat ini sudah berdiri di atas kursi kayu. Melemparkan tawa ceria serta melambaikan tangan ke arah kakak perempuannya yang masih sibuk menumpuk pasir. Belum sempat Claire mengarahkan penglihatan pada sang adik, bunyi debuman lekas membuat gadis itu membelalakkan mata.

“Jung Chanwoo!!!” pekik Claire tiba-tiba. Lemparkan sekop merahnya lantas berlari kencang menghampiri sang adik.

Kedua kaki Jinhwan ingin sekali ikut berlari menghampiri anak kecil bernama Chanwoo itu, seperti yang tengah dilakukan Claire, kini. Sesaat setelah telinganya mendengar debuman keras, wajah Claire seketika berubah cemas lantaran sang adik baru saja terjatuh mencium rerumputan basah. Sepertinya bocah lelaki itu terpeleset saat ingin turun dari kursi kayu. Kim Jinhwan masih memaku di tempat. Ia hanya bisa menyaksikan bagaimana gadis itu memeluk sang adik. Memeriksa seluruh bagian tubuhnya, lantas memekik histeris tatkala menemukan sebuah luka di lutut Chanwoo.

“Lutut kamu berdarah, Chan. Ayo pulang! Nanti kita obati di rumah sebelum lukanya semakin parah. Cepat naik ke punggung kakak, Jung Chanwoo.”

Sebuah gelengan diberikan Chanwoo sebagai bentuk penolakan. Ia terlihat menahan isakan sembari terus menggelengkan kepala. “Enggak mau. Nanti Kak Claire dimarahi Mama lagi. Chanwoo enggak suka kalau Kak Claire dimarahi Mama. Lagipula lukanya enggak parah. Chanwoo, ‘kan, laki-laki.”

Kali ini Jinhwan merutuki dirinya sendiri. Oh, kenapa ia tidak menghampiri Claire saja? Lantas membantunya menggendong Chanwoo, mengantarnya pulang, dan—tentu saja mengajak Claire berkenalan. Tapi, lagi-lagi Jinhwan enggan menunjukkan dirinya di hadapan Claire. Ia bertahan untuk terus menjadi pengintip kecil ulung.

“Mama marah sama Kak Claire karena kakak yang salah, Chan. Enggak apa-apa, kok. Mama marahnya juga sebentar, ‘kan? Ayo pulang, Chanwoo. Segera naik ke punggung kakak.” Claire mengusak surai Chanwoo lantas mencubit gemas pipi tembam sang adik. Sesudahnya, ia berdiri membelakangi Chanwoo dengan tubuh yang diturunkan beberapa derajat agar sang adik bisa menggapai punggungnya. Kendati terlihat sedikit ragu, Chanwoo akhirnya tetap berusaha menaiki punggung Claire perlahan. Bocah itu kemudian mengalungkan lengan kecilnya di leher Claire sembari berucap jika ia sudah siap.

“E-eh? Pegangan yang kuat ya, Chan. Kak Claire enggak mau kamu jatuh lagi.”

Jinhwan menahan napas tatkala melihat Claire melangkah sedikit tertatih lantaran menggendong sang adik. Terlihat jelas betapa gadis itu memberikan seluruh usaha demi menenangkan adik kesayangannya. Lutut Claire tampak bergetar, Jinhwan bisa memastikan jika ia sebenarnya tidak kuat menggendong Chanwoo—terlihat kesusahan menahan berat badan Chanwoo. Namun, Claire tetap melangkah kendati sedikit terseok alih-alih limbung.

“Aku berat ya, Kak?” tanya Chanwoo tiba-tiba. Claire menggeleng sembari terus menguntai langkah serta menumpu keseimbangan. “Aku bisa jalan sendiri, Kak. Kalau berat, turunkan aku di sini saja.”

“Enggak, Chan. Kak Claire kuat, kok. Sudah ya, Chanwoo diam saja.” Berikan sebuah cengiran, Claire mencoba tunjukkan ekspresi wajah ‘baik-baik saja’. Claire lupa jika Chanwoo bahkan sanggup melihat keringat yang mengalir deras dari dahinya. Jinhwan hanya bisa diam selagi terus menyaksikan kakak beradik yang perlahan menjauhi taman.

Ck, keras kepala sekali, sih. Jinhwan membatin sembari terus mengumpati dirinya sendiri.

Menaruh sebuah sesal, Jinhwan harusnya menggantikan Claire sejak tadi. Bukan malah diam; mengamati dan hanya memupuk rasa kasihan saja, seperti ini. Akhirnya, si pengintip berlabelkan Kim Jinhwan itu memutuskan untuk terus mengikuti Claire. Setidaknya, ia perlu mengawasi gadis manis dan adiknya itu agar sampai di rumah dengan selamat.

“Kak Claire….”

Hm?”

Tangan kanan Chanwoo bergerak mengusap-usap keringat yang membasahi wajah Claire, sementara tangannya yang kiri masih melingkar di leher sang kakak. Bocah lelaki itu diam sejenak, lantas mengecup pipi Claire cepat. Membuat gadis manis itu terkejut alih-alih tersenyum.

“Chanwoo sayang Kak Claire.” Detik berikutnya, Chanwoo kembali menempelkan bibirnya pada pipi sang kakak lantas semakin mengeratkan pelukannya. Claire membalasnya dengan mengucap ‘Kak Claire juga sayaaaang banget sama Chanwoo.’ yang cukup membuat Jinhwan hanya bisa bergeming selagi menyaksikannya.

Jinhwan terkesiap. Sedikit menelan ludah, kala menyadari bahwa Jung Chanwoo baru saja mencium pipi gadis manisnya. Bocah lelaki itu mendengus. Tsk. Betapa enaknya menjadi Jung Chanwoo yang bisa berikan ciuman atau bahkan pelukan pada Claire.

.

Oh, seharusnya Jinhwan terlahir sebagai adik Claire saja. Ah, menjadi kakak Claire juga tidak apa-apa. Setidaknya nanti Jinhwan bisa menggendong Claire, ‘kan?

Jung Jinhwan? Namanya juga tidak akan terlalu buruk, kok.

Atau, menjadi kakak Claire di masa depan juga boleh, sih. Bayangkan saja, gadis manis itu akan memanggilnya ‘Oppa’. Oh, pasti akan terdengar menggemaskan kalau Claire—suatu saat nanti—benar-benar memanggilnya ‘Jinhwan Oppa’.

.

-fin.


YOKSIIII!!! HAPPY BIRTHDAY, CLAIRE JUNG!!!❤

((iya anggap saja ini bday fic buat Claire—OC kesayangan—meskipun nggak ada bau-baunya bday fic lols)) terima kasih buat kakyen, ini idenya dari kakyen huhuhu❤

anw, Happy New Year 2016, too, guys! ((ngucapin duluan takutnya ngga bakal muncul lagi pas taun baru. wkwk))

do drop some review, guys!!! thankchuu~

Riris❤

3 thoughts on “[Ficlet] How Nice It Would Be”

  1. astaga! Jinan-Claire sudah memupuk perasaan sedari kecil… unyu sekali!! bisa banget pikiran-nya Jinan untuk dijadikan oppa oleh Claire. wkwkwkwk…😀

    ku membayangkan bocah-bocah bontot ini bermain di taman lalu ada anak lelaki yg di pojokan cuma mengamati saja -dan itu Jinan.. weh!
    untung saja s Chanu enggak nyantumin nama Chanhee ya.. Chanhee jauh lebih galak daripada mama..

    ditunggu kisah manis-nya Claire-Jinan ya..
    keep writing!! 🙂

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s