It’s Okay, We’re Gonna Be Okay (Part 1)

It's Okay, We're Gonna Be Okay

Title: It’s Okay, We’re Gonna Be Okay

Scriptwriter: naypcy

Main Cast: Park Chanyeol. Oh Sehun. Shena Cho. Park Cheonsa

Genre: Romance, Family, Friendship

Duration: Chaptered

Rating: PG-13

Takdir terkadang memang kejam dan tak masuk akal. Tapi percayalah, apa yang sudah Takdir tuliskan akan berakhir dengan indah pada waktunya.

“Eonni-ya, ireonna. Aku sudah siapkan sarapan untukmu,” ujar seorang Shena dengan lembut sambil mengelus lengan yeoja yang masih tertidur nyenyak di tempat tidurnya. Yeoja itu menggeliat pelan sambil mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha menyesuaikan matanya pada sinar matahari yang terasa begitu terik menyapa pengelihatannya.

“Mmm..Na-ya?” panggil yeoja itu. Suaranya sedikit serak. Shena tersenyum dan membantu yeoja itu untuk bersandar pada sandaran tempat tidurnya.

“Ta-da~! Aku membuat cream soup kesukaan Cheonsa Eonni,” Shena membuka tutup dari mangkuk soup yang tadi ia bawa. “Ayo aku suapi!” ujar Shena lalu meniup sendok yang sudah berisi cream soup.

“Aigoo, aku merasa seperti anak kecil kalau seperti ini,” yeoja bernama Cheonsa itu terkekeh pelan sebelum ia menerima suapan yang diberikan oleh Shena.

“Aniya, eonnie,” jawab Shena masih dengan senyum di bibirnya. “Ah, apa eonni sudah merasa lebih baik? Chanyeol oppa mengajak kita jalan-jalan minggu depan. Aku ingin sekali kita bisa jalan-jalan bertiga seperti dulu,” ujar Shena dengan sungguh-sungguh.

“Aku tidak terlalu yakin, Na-ya. Tapi akan aku usahakan,” jawab Cheonsa lembut sambil mengusap lengan Shena. “Bukankah lebih menyenangkan jika kau hanya berdua saja dengan Chanyeol oppamu, hmm? Seperti berkencan, eo?” goda Cheonsa sambil menatap Shena jahil.

“Yak, eonni! Tentu saja tidak! Lebih menyenangkan jika ada Cheonsa eonni,” ucap Shena sedikit merajuk membuat Cheonsa tertawa karenanya. Cheonsa tahu betul ada apa dengan kedua sahabat baiknya itu.

“Hahaha, geurae. Minggu depan kita akan pergi bersama,” kata Cheonsa akhirnya, membuat Shena tersenyum senang.

“Itu baru eonniku! Ah ya, tapi jangan terlalu memaksakan. Aku bisa meminta Chanyeol oppa menunda liburan kita,”

“Atau..aku akan menyuruhnya untuk menyiapkan liburan hanya untuk kau dan dia,” goda Cheonsa yang lagi-lagi membuat pipi Shena merona.

“Eonni-ya, hajima!” seru Shena sambil membuang mukanya. Cheonsa hanya terkekeh geli melihat hal itu.

Shena, Chanyeol, dan Cheonsa merupakan teman akrab sejak mereka kecil. Awalnya mereka dipertemukan di sebuah sekolah menengah tempat mereka bersekolah dulu. Shena yang merupakan hoobae bagi Cheonsa dan Chanyeol, dulu adalah sosok yang pendiam dan tidak memiliki banyak teman. Ia sering dibully oleh teman-teman sebayanya karena Shena sudah tidak memiliki orang tua lagi. Orang tuanya bercerai namun keduanya meninggalkan Shena begitu saja. Shena hidup dengan kakeknya yang saat itu memegang sebuah perusahaan meubel. Di saat Shena diganggu oleh teman-temannya, Chanyeollah yang muncul sebagai sosok hero dimata Shena. Chanyeol selalu memarahi teman-teman Shena—yang berarti juga hoobae dari Chanyeol—yang selalu mengganggu Shena. Sementara Cheonsa adalah sosok berhati lembut bagi Shena. Cheonsa selalu menemani Shena saat jam istirahat bahkan mengantar Shena pulang karena arah rumah mereka yang sejalan. Walaupun Shena berbeda 3 tahun dari Cheonsa dan Chanyeol, Shena tidak pernah merasa canggung pada keduanya. Bagi Shena mereka adalah orang-orang yang paling Shena sayang setelah kakeknya.

Seiring dengan berjalannya waktu, Shena, Chanyeol dan Cheonsa pun semakin dekat. Tak ada kesedihan yang terpancar dari ketiga manusia tersebut selama mereka bersahabat. Sampai pada suatu hari, Shena kembali harus kehilangan satu-satunya penerang hidupnya, satu-satunya keluarga yang ia miliki. Ya, Shena kehilangan kakek yang amat dicintainya.

-Flashback-

Shena merapikan semua bukunya dan memasukannya kedalam tas punggung berwarna coklat miliknya. Wajahnya berseri-seri mengingat hari ini merupakan hari ulangtahun ke 68 kakeknya. Dan rencananya hari ini Shena, Chanyeol, dan Cheonsa akan memberi kejutan kepada kakek tersayangnya itu.

Sekali lagi Shena merapikan rok seragam SMAnya sebelum ia keluar dari ruang kelas untuk menghampiri Chanyeol yang sudah menunggunya di gerbang utama. Setelah yakin dengan penampilannya, Shena pun berjalan keluar dari kelasnya sambil pamit pada teman-teman dekatnya. Ya, selepas sekolah menengahnya, kemampuan berteman Shena semakin bertambah dan ia tidak memiliki masalah yang berarti lagi dalam mencari teman karena pada dasarnya Shena merupakan orang yang sangat menyenangkan.

“Sudah lama menunggu, eo?” tanya Shena langsung setelah menemukan sosok tinggi dan tampan yang sedang bersandar pada dinding disamping gerbang sekolah Shena.

“Nope. Aku bahkan mengira kau yang sudah menungguku,” ujar Chanyeol sambil melepaskan topi yang ada di kepalanya dan memakaikannya pada Shena. “Kkaja!” ujar Chanyeol sambil merangkul Shena. Shena pun mengangguk dan tersenyum. Jarak rumah Shena dan sekolahnya tidak terlalu jauh dan Shena tidak terlalu suka jika naik mobil, jadi Chanyeol lebih sering menjemput Shena dengan berjalan kaki saja.

“Mana Cheonsa eonni?” tanya Shena sambil sedikit mengangkat topinya yang menghalangi pandangannya pada Chanyeol.

“Cheonsa sedang membeli kue. Nanti kita akan bertemu di rumahmu,” jawab Chanyeol sambil tersenyum.

“Aku tidak sabar melihat ekspresi kakek nanti,” ujar Shena sambil menatap awan yang berlarian diatas kepalanya dan tersenyum manis.

“Tentu saja kakek akan sangat senang sekali mendapat kejutan dari cucunya yang paling cantik ini,” kata Chanyeol juga sambil menatap ke atas. Tapi Chanyeol dapat melihat dari ekor matanya pipi Shena yang merona kemerahan karena ucapannya.

“Kita sudah sampai! Ah, sepertinya Cheonsa belum tiba. Kau masuk duluan saja, aku akan menyiapkan hadiah untuk kakek,” ujar Chanyeol yang langsung disambut oleh anggukan dari Shena. Shena pun melangkah ringan ke dalam rumah kakeknya.

“Kakek…Kakek sudah pulang kan?” tanya Shena sedikit berteriak. Hari ini kakeknya memang janji akan pulang lebih awal. Tidak mendapat jawaban, Shena pun berjalan menuju ruang kerja kakeknya yang ada di lantai dua. Dahinya sedikit berkerut mendapati ruangan itu tidak tertutup rapat karena biasanya kakeknya tidak akan membiarkan ruangann itu dalam keadaan terbuka.

“Kakek…apa kakek ada di dalam?” tanya Shena perlahan sambil mendorong pintu ruangan kerja tersebut. Namun, yang memenuhi pandangannya saat ini membuat Shena seketika ambruk ke lantai. Tangannya membekap mulutnya sendiri tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sang kakek yang amat dicintainya terbujur kaku di lantai dengan pisau yang menancap pada dada kirinya. Bau anyir menyapa indra penciumannya dengan jelas. Pandangannya mengabur karena air mata yang tak bisa dibendungnya.

“A..harabeoji..” lirih Shena sambil berusaha menyeret kakinya yang terasa amat kaku mendekati jasad sang kakek. Pusing. Darah segar yang membanjiri lantai di sekelilingnya sekarang membuatnya mual. Tangannya yang sudah terkena darah itu pun membelai pelan wajah sang kakek.

“Na-ya, kau dimana? Kenapa…” Chanyeol yang sejak tadi mencari Shena pun seketika mematung saat mendapati keadaan mengenaskan yang memasuki jarak pandangnya. ”Na-ya…” panggil Chanyeol pelan sambil mendekati Shena, menatap simpati pada bahu gadis yang bergetar hebat itu.

“Kakek…bangun! Kakek tidak boleh meninggalkan Shena sendirian…” ujar Shena pelan. Hati Chanyeol serasa teriris mendengar suara memilukan Shena. Chanyeol langsung menarik Shena ke dalam pelukannya. Namun Shena meronta berusaha melepaskan pelukan Chanyeol.

Harabeoji! Siapa yang melakukan ini? Katakan padaku, Harabeoji! Katakan siapa yang tega mengambil satu-satunya yang kumiliki…” tangis Shena semakin histeris dan membuat Chanyeol semakin sesak mendengarnya. Apa yang bisa ia perbuat sekarang? Hatinya sungguh sakit melihat gadis yang ia cintai terluka seperti ini.

“Ada apa ini?” tanya Cheonsa yang baru tiba dengan panik melihat kakek Shena yang dalam keadaan sangat mengenaskan dan Shena yang masih meronta-ronta dalam pelukan Chanyeol.

“Lepaskan aku, oppa! Aku ingin ikut dengan Kakek! Aku ingin ke surga dengan Kakek!” teriakan Shena begitu memekakak telinga Chanyeol dan Cheonsa.

“Cheonsa-ya! Cepat telepon polisi!” seru Chanyeol pada Cheonsa yang mengembalikan kesadarannya. Dengan tangan yang bergetar dan pandangan yang sudah kabur dengan air mata, Cheonsa pun menelpon aparat kepolisian.

Shena terlihat seperti mayat hidup. Sudah 3 hari setelah kematian tidak wajar kakeknya. Dan sudah tiga hari pula Shena tidak makan, minum, dan bahkan tidak tidur. Cheonsa dan Chanyeol yang menjaganya setiap saat pun menatapnya dengan miris. Sungguh menyakitkan melihat orang yang mereka sayangi ini terluka begitu dalam.

Kasus mengenai kakek Shena sudah terungkap. Yaitu masalah persaingan bisnis. Perusahaan kakek Shena yang semakin lama semakin berkembang pun membuat resah perusahaan meubel lainnya. Mengetahui bahwa tidak ada ahli waris yang pasti dari perusahaan itu, para pesaing dengan mudah melumpuhkan perusahaan kakek Shena hanya dengan membunuhnya. Sungguh harta begitu menyilaukan bagi manusia yang serakah.

“Na-ya, ayo makan. Kalau tidak nanti kau bisa sakit,” ujar Cheonsa dengan lembut sambil menyodorkan sesendok bubur pada Shena yang bersandar pada tempat tidurnya.

“Aku ingin menyusul Harabeoji,” ucap Shena nyaris tanpa suara namun begitu memilukan bagi Cheonsa dan Chanyeol.

Harabeoji akan sedih melihatmu seperti ini, Na-ya,” ujar Cheonsa lagi sambil membelai rambut Shena dengan sayang. Sementara Chanyeol hanya terdiam bersandar pada pintu kamar Shena dan menatap mata indah Shena yang sama sekali tak berkilau seperti biasanya.

“Tapi Harabeoji akan senang jika aku bersamanya,” balas Shena cepat, membuat Cheonsa dan Chanyeol sekali lagi merasakan beban yang teramat besar menghantam dada mereka. Chanyeol berjalan mendekati tempat tidur Shena dan duduk di tempat tidur Shena. Menatap gadis itu lekat-lekat lalu menggenggam tangan pucatnya.

“Hiduplah untukku. Aku mohon. Jangan pernah berpikir untuk berhenti bernapas karena itu berarti kau juga memaksaku untuk berhenti hidup,” Chanyeol mengelus pipi dingin Shena dan memaksa wajah pucat itu menatap matanya. “Shena yang ku kenal adalah Shena yang kuat. Jadikan aku dan Cheonsa sebagai alasan kau untuk tetap hidup dengan baik. Karena aku masih akan terus melindungimu dari apapun dan Cheonsa akan selalu menjadi malaikatmu,” Shena menatap jauh ke dalam bola mata Chanyeol. Perlahan tangannya terangkat menggapai tubuh Chanyeol dan memeluknya. Helaan napas lega terdengar dari Chanyeol maupun Cheonsa saat tubuh rapuh Shena berada dalam pelukan Chanyeol.

“Aku tidak akan pernah membiarkanmu sendirian. Jika kau jatuh, aku akan membantumu bangkit. Jika kau terluka, aku yang akan mengobatimu. Kau tak perlu takut,”

-Flashback End-

Shena menuntun Cheonsa turun dari mobil. Hari ini adalah waktunya Cheonsa untuk check up. Penyakit yang diderita Cheonsa merupakan penyakit imunitas yang membuat Cheonsa rentan terkena penyakit dan tubuhnya menjadi lemah. Penyakit ini bermula ketika Cheonsa mengurus salah satu perusahaan appanya di Jerman. Saat itu di Jerman sedang mewabah virus yang menyebabkan sistem imun seseorang menurun. Penyakit ini hanya mewabah di Eropa jadi butuh penanganan khusus jika orang Asia yang terkena penyakit ini. Ya, Cheonsa harus melakukan terapi selama 6 bulan untuk penyembuhan ini. Untungnya, Shena dan Chanyeol selalu siap mendampingi Cheonsa dalam menjalani setiap proses pengobatannya.

“Selamat siang, cantik,” ujar sang dokter yang sudah kenal betul dengan Cheonsa karena dokter ini merupakan salah satu teman SMA Cheonsa.

“Ne,” jawab Cheonsa singkat. Kesan Cheonsa pada pria yang menanganinya sekarang ini memang tidak terlalu baik sejak dulu. Bagi Cheonsa pria ini hanya bermain-main saja dalam hidupnya. Cheonsa bahkan sanksi kalau namja benar-benar menjadi salah satu dokter ternama di Korea. Dan pada faktanya, hidup Cheonsa memang bergantung pada namja konyol ini karena hanya namja inilah yang mampu menangani penyakit langka Cheonsa.

“Bagaimana keadaanmu, hm?” tanya dokter itu sambil tersenyum kekanakan.

“Baik, Oh Sehun. Cepat lakukan saja pemeriksaannya,” ujar Cheonsa ketus. Sementara Shena yang melihat ini hanya mampu menggelengkan kepalanya. Ia tahu betul apa yang terjadi diantara Cheonsa dan Sehun hingga Cheonsa terlihat begitu membenci Oh Sehun sekarang.

Kkaja,” namja yang dipanggil Oh Sehun itu pun bangkit dari kursinya dan menuju ke tempat pemeriksaan diikuti oleh Cheonsa yang masih dituntun oleh Shena. Shena segera menjauh dari tempat pemeriksaan dan memilih menunggu di luar ruangan.

“Kau masih membenciku karena hari itu?” tanya Sehun di sela-sela pemeriksaannya.

“Tidak akan pernah ku maafkan,” jawab Cheonsa cepat. Nafasnya memburu ketika ia harus membahas masalah ini.

“Oh ayolah, kau belum mendengarkan penjelasanku,”

“Tidak perlu,” Cheonsa terus memalingkan wajahnya menghindari tatapan Sehun yang mengejar matanya. Sehun menghela napasnya panjang.

“Kalau kau tidak pernah niat melakukan pengobatan ini karena kau membenciku, semua ini tidak akan ada hasilnya, Cheonsa-ya,” ujar Sehun pelan.

“Kalau begitu aku akan mencari dokter lain,” sahut Cheonsa datar.

“Kau tidak akan bisa sampai kau mendengarkan aku,”

“Aku sudah cukup puas dapat mengubur kenangan pahit itu dalam-dalam sampai saat kau kembali muncul dan ingin membuka luka itu kembali. Tidak bisakah kau membiarkanku?” kata Cheonsa penuh penekanan. Kini tatapannya terhunus tajam ke kedua bola mata Sehun. Tak mendapat jawaban, Cheonsa pun bergegas pergi keluar dari ruangan Sehun. Shena yang menunggu di depan ruangan Sehun pun terkejut ketika melihat Cheonsa keluar dengan wajah yang merah padam karena emosi.

“Eonni…” panggil Shena pelan sambil berjalan menyusul Cheonsa.

“Aku bisa ke mobil sendiri. Tolong kau urus resep-resep obatku,” ujar Cheonsa pelan.

“Kau yakin?” tanya Shena sambil menatap wajah Cheonsa lekat-lekat. Cheonsa mengangguk mantap menjawab pertanyaan Shena barusan.

“Baiklah. Eonni tunggu di mobil dengan Chanyeol oppa, ne,” kata Shena sambil mengelus pelan lengan Cheonsa lalu iapun berjalan kembali menuju ruangan Sehun.

Shena membuka pintu ruangan Sehun perlahan. Sehun terlihat sedang sibuk menulis sesuatu. “Sehun-ssi, maaf mengganggu. Aku ingin mengambil resep milik Cheonsa Eonni,” kata Shena pelan dan sopan.

“Hmm, ini..” jawab Sehun sambil menyodorkan selembar kertas. “Keadaannya tidak terlalu baik. Mungkin intensitas terapinya harus ditambah mulai minggu depan,” jelas Sehun yang membuat Shena tertunduk lemas.

“Apa ini karena..”

“Iya. Cheonsa tidak pernah menjalani pengobatan ini dengan sungguh-sungguh. Kau pasti sudah tau alasannya,” potong Sehun yang sudah dapat membaca arah pikiran Shena.

“Kau…bisakah kau menceritakan padaku apa alasanmu melakukan itu pada Cheonsa eonni dulu? Siapa tau aku bisa menyampaikan..” tanya Shena sambil menatap Sehun.

“Tidak. Aku ingin dia mengetahui kebenarannya dari mulutku sendiri,” jawab Sehun sambil tersenyum dan menghela napasnya. “Tapi yang jelas, aku amat sangat menyesal telah melakukan hal bodoh itu padanya,”

-Flashback-

“Yo, Kris hyung! Aku izin tidak ikut latihan basket hari ini,” ujar Sehun dengan senyum kekanakannya.

“Ada apa, Sehun-a? Kau terlihat senang sekali hari ini,” tanya Kris—Kapten tim basket sekolah ini.

“Hari ini dia anniv dengan Ice Princessnya itu,” goda seorang namja menjawab pertanyaan Kris.

“Yak, hyung! Cheonsa bukan ice princess, seperti namanya—dia malaikat,” protes Sehun.

“Eyy..kurasa kau benar-benar jatuh cinta pada Ice Princessmu itu ya?” ujar Kris ikut menggoda maknaenya itu.

“Kurasa aku harus berterimakasih pada kalian yang sudah mengadakan taruhan ini. Aku bisa memamerkan yeoja cantik dan motor—hasil taruhan itu pada orang-orang,” kata Sehun diiringi oleh tawa renyahnya.

“Aku pun tak menyangka Ice princess yang selalu cuek pada namja itu bisa takhluk pada bocah sepertimu. Kau memang pantas memenangkan taruhan ini, Oh Sehun,” puji namja lainnya membuat Sehun semakin memamerkan senyum bangganya.

“Tentu saja. Tidak ada yang bisa menolak pesona Oh Sehun,” ujar Sehun sambil mengangkat dagunya. “Sudah ya, aku pergi dulu,” pamit Sehun dan memutar badannya keluar dari lapangan indoor sekolahnya. Namun langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sosok cantik yang ia bangga-banggakan tadi berdiri diambang pintu ruangan itu dan menatapnya dengan tatapan penuh kekecewaannya.

“Se..sejak kapan kau di sana?” tanya Sehun pelan sambil berjalan mendekati Cheonsa.

“Brengsek!” sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Sehun. Cheonsa tak dapat menahan emosinya lagi. Untuk pertama kalinya ia mencintai seseorang begitu dalam namun ia justru dibohongi seperti ini. Sekuat tenaga Cheonsa menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan namja yang sudah melukainya ini.

“Cheonsa-ya..dengarkan aku sebentar,” ujar Sehun lembut sambil berusaha menggapai tangan gadisnya. Sehun sangat yakin kalau Cheonsa tidak mendengar percakapan itu dari awal dan Cheonsa pasti mengira Sehun hanya bermain-main—memang iya pada awalnya, tapi niat kotornya itu berubah ketika ia benar-benar merasakan sifat malaikat Cheonsa.

“Happy failed anniversary, Oh Sehun,” ujar Cheonsa dengan tajam dan kemudian langsung berlari meninggalkan Sehun yang masih bingung harus berbuat apa.

-Flashback End-

Shena memakan ice cream di hadapannya dengan semangat hingga membuat namja tampan di hadapannya itu menggelengkan kepalanya takjub.

“Aigo, apa kau benar-benar gadis berusia 22 tahun, eo?” tanya namja dihadapan Shena yang tak lain adalah Park Chanyeol. Sementara Shena hanya membalasnya dengan senyum bocahnya yang membuat Chanyeol tersenyum.

“Apa yang dikatakan Oh Sehun hari ini?” tanya Chanyeol tiba-tiba serius. Shenapun menghentikan kegiatannya dan menatap Chanyeol.

“Hmm, kondisinya tidak terlalu baik. Cheonsa eonni tidak menjalani pengobatannya dengan baik. Ya kau pasti sudah tau alasannya, kan,” jawab Shena. “Tapi, oppa, kurasa Sehun-ssi bukan orang yang jahat. Seperti ada kesalahpahaman tentang kejadian itu,” lanjut Shena yang membuat Chanyeol mengerutkan dahinya.

“Apa maksudmu?” tanya Chanyeol.

“Sehun-ssi bilang padaku kalau ia sangat menyesal mengenai kejadian 6 tahun lalu itu dan ia ingin Cheonsa eonni tau kebenarannya. Dari matanya..aku tidak melihat ada kebohongan disana,” jawab Shena dengan serius sambil mengingat-ingat pembicaraan singkatnya dengan Sehun.

“Tapi Cheonsa sudah terlanjur membencinya bahkan hingga saat ini. Aku ragu Cheonsa dapat mempercayai Sehun lagi,” ujar Chanyeol lalu menghela napasnya.

“Mungkinkah sebenarnya Cheonsa eonni masih sangat mencintai Oh Sehun?” ucap Shena pelan. “Aku yakin, Cheonsa eonni bukan tipe orang yang akan lama menyimpan dendam dan tidak suka memikirkan masa lalu. Tapi untuk masalah ini dia sama sekali tidak mencoba menghapus Sehun dari memorinya. Bukankah itu berarti Sehun masih punya tempat yang penting di pikiran dan hati Cheonsa eonni?” jelas Shena panjang lebar membuat Chanyeol terdiam.

“Menurutku itu hanya karena yang melukai Cheonsa adalah Oh Sehun, cinta pertama Cheonsa,”

“Seberapapun luka itu pasti akan pulih jika ada orang yang lebih baik yang Cheonsa eonni percaya. Tapi sejauh ini, sudah sangat banyak namja yang nyaris sempurna yang mencoba menarik perhatiannya namun ia sama sekali tidak tergerak,” jelas Shena lagi membuat Chanyeol terkekeh pelan. Shena tidak pernah seserius ini dalam pembicaraan.

“Cheonsa eonnimu tidak butuh seseorang yang sempurna, Na-ya. Dia butuh seseorang yang benar-benar mengerti dirinya dan menerimanya apa adanya,” ujar Chanyeol sambil tersenyum.

“Kalau begitu..kandidatnya hanya oppa,” kata Shena sambil mengerjapkan matanya. Chanyeol terdiam sejenak lalu kembali tertawa pelan menanggapi kepolosan gadis kesayangannya itu.

“Aku memang akan selalu melindungi Cheonsa. Tapi aku hanya akan membantunya mencari kebahagiannya, bukan sebagai sumber kebahagiannya,” Chanyeol menatap mata kecoklatan Shena lekat. “Aku hanya akan menjadi sumber kebahagiaan bagi Shena Cho,” ucap Chanyeol pelan dan dalam seakan menghipnotis Shena dan merangsang pipinya merona merah memanas, terlebih saat tangan Chanyeol menangkup pipi kanannya dan mengusapnya pelan. Senyumnya merekah dan matanya tak lepas dari tatapan tajam mematikan Park Chanyeol. Shena tau ia kembali jatuh dalam pesona namja di hadapannya ini. Semakin dalam, semakin terikat, dan tak mungkin lepas lagi. Shena tak tau apa namanya, tapi ia selalu ingin hidup lebih baik setiap harinya untuk namja tampan ini, untuk Park Chanyeol.

Cheonsa menarik napas panjang. Namun rasanya oksigen yang masuk ke paru-parunya hanya sebagian. Membuat napasnya tidak teratur dan membuat Cheonsa lelah. Cheonsa tau kondisi tubuhnya semakin menurun sekarang. Tapi hari ini adalah hari dimana Cheonsa, Shena, dan Chanyeol akan menjalankan rencana  mereka untuk berjalan-jalan. Cheonsa merasa tubuhnya benar-benar menolak, tapi hatinya sungguh ingin ikut. Cheonsa menatap dirinya di kaca. Pucat dan terlihat benar-benar sakit.

“Eonni.. gwenchana? Apa eonni kuat?” terdengar suara Shena dari luar kamarnya. Dengan cepat Cheonsa memoleskan lipstick berwarna peach yang membuat bibir pucatnya terlihat lebih normal. Cheonsa menarik napas panjangnya sekali lagi dan membuka kenop pintunya.

“Ne, aku sudah siap. Ayo berangkat!” ujar Cheonsa semangat sambil menautkan lengannya pada lengan Shena. Mereka berdua pun berjalan menuju mobil Chanyeol yang sudah terparkir di halaman rumah Cheonsa.

“Silahkan masuk, Tuan Putri,” ujar Chanyeol sambil tersenyum pada kedua yeoja cantik dihadapannya sambil membukakan pintu depan dan pintu belakang mobilnya.

“Terimakasih, Pelayanku,” goda Cheonsa diakhiri dengan tawa khasnya sambil masuk ke mobil Chanyeol di kursi belakang.

“Yak! Mana ada pelayan setampan aku?” protes Chanyeol sambil menutupkan pintu belakang mobilnya. Sementara Shena hanya menatap eonni dan oppanya itu sambil tertawa. Ia sangat merindukan saat-saat seperti ini.

Kkaja! Ayo kita berangkat!” seru Shena sambil memasuki mobil diikuti oleh Chanyeol. Merekapun berangkat menuju tempat liburan mereka.

Sesampainya di tempat liburan mereka yaitu sebuah taman bunga yang luas yang ada di pinggir kota Seoul, merekapun langsung menghambur ke padang bunga yang luas sambil menggelar perlengkapan piknik mereka di dataran dengan rumput tebal bak karpet itu. Shena lebih memilih sibuk membuat sandwich untuk oppa dan eonninya, sedangkan Chanyeol dan Cheonsa melihat-lihat bunga di sekelilingnya.

“Wah, ini keren sekali,” ujar Cheonsa yang sudah sangat lama tidak melihat taman bunga seperti ini. Cheonsa mengambil setangkai Bunga Lily dan menghirup aromanya. Sejenak ia melupakan tubuhnya yang mulai merasa sakit.

“Kau suka Bunga Lily?” Tanya Chanyeol yang tiba-tiba sudah ada di sebelah Cheonsa.

“Ne. Menurutku Lily sangat elegan dan dapat digunakan sebagai simbol penghormatan atau penghargaan. Ia melambangkan kelembutan dan kesucian. Walaupun tak banyak orang yang menyukainya. Orang-orang biasanya lebih suka bunga-bunga seperti mawar, tulip, dan daisy,” jelas Cheonsa tanpa menatap Chanyeol.

“Sama seperti dirimu,” ujar Chanyeol yang mampu menarik perhatian Cheonsa hingga ia menatap wajah tampan itu. “Selama aku mengenalmu, aku tidak tau harus menganalogikan kau seperti apa. Kau tegar sekaligus luar biasa lembut. Kau apa adanya, tak pernah ada kebohongan di matamu. Kau hanya perlu menunjukan dirimu pada orang-orang dan mereka akan menyukaimu karena sifatmu,” jelas Chanyeol sambil tersenyum dan berhasil membuat Cheonsa terpana dengan kata-kata Chanyeol.

“Dan pada waktu yang tepat, kau akan menemukan orang yang benar-benar mencintaimu. Menjagamu dan merawatmu dengan benar. Melindungi mahkota Bunga Lily itu dengan sungguh sungguh tanpa membiarkannya tersentuh oleh orang lain. Kau hanya perlu menunjukan kelebihanmu, dan kau akan temukan kebahagianmu,” lanjut Chanyeol lagi. Chanyeol tidak pernah seserius ini dalam berbicara dengan Cheonsa. Dan kali ini Cheonsa benar-benar dibuat bungkam oleh kata-kata Park Chanyeol.

“Aku..tak tau harus mulai darimana. Entahlah. Setiap aku ingin memulainya, aku selalu teringat pada memori tak menyenangkan itu. Ditambah lagi keadaanku yang seperti sekarang. Dimana akan ku temukan orang yang akan merawatku dengan tulus?” ujar Cheonsa sambil menghela napasnya berat.

“Lupakan kenangan buruk itu, Cheonsa-ya,” kata Chanyeol pelan.

“Bagaimana bisa—sedangkan ia masih selalu muncul dihadapanku?”ucap Cheonsa frustasi. Napasya mulai memburu. Ia selalu sesak saat obrolan ini mengarah pada luka lamanya. Sementara Chanyeol sudah menemukan jawabannya yang sekarang terlihat begitu jelas. Di dalam hati Cheonsa masih tersimpan dengan baik nama Oh Sehun. Ia tak berusaha membuangnya. Ia hanya menguburnya dalam-dalam, namun tanpa sadar Oh Sehun sedang membantu Cheonsa menggalinya kembali.

“Kalau begitu, kau hanya harus membiarkannya. Terima saja apa yang ia lakukan padamu selama itu masih baik. Dan kau akan tau bagaimana akhirnya,” ujar Chanyeol dengan serius. Sementara Cheonsa hanya terdiam sambil menggedikkan bahunya.

“Aku tidak tau kau bisa serius seperti ini,” ujar Cheonsa lalu tertawa pelan. “Geundae, bagaimana dengan kau dan Shena? Kapan kau akan mulai serius dengannya?”

“Dari awal aku sudah serius dengannya. Tapi aku masih punya kewajiban lain sebelum aku benar-benar membahagiakannya,” jawab Chanyeol sambil memandangi Shena dari kejauhan sambil tersenyum. Bahkan gadisnya itu terlihat jauh lebih cantik dibanding dengan padang bunga ini.

“Apa itu?” Tanya Cheonsa penasaran. Sementara Chanyeol hanya terdiam tak berniat menjawabnya.

“Eonni, oppa! Makanannya sudah siap!” seru Shena sambil melambai-lambaikan tangannya. Chanyeol dan Cheonsa pun segera beranjak menghampiri Shena.

“Ini untuk Chanyeol oppa,” ujar Shena sambil memberikan sepotong sandwich yang cukup besar pada Chanyeol. “Dan ini untuk Cheonsa eonnie,” lanjut Shena sambil memberikan sepiring sandwich yang sudah dipotong kecil-kecil pada Cheonsa agar mudah dimakan.

“Gomawo, sayang,” ujar Cheonsa sambil tersenyum lalu duduk bersandar pada sebuah pohon besar yang ada di sana. Tubuhnya benar-benar terasa sakit sekarang. Dan Cheonsa baru menyadari kalau ia lupa membawa obatnya.

“Eonni, gwenchana?” tanya Shena yang melihat eonnienya mulai pucat.

“Ne, gwenchana,” jawab Cheonsa sambil memaksakan senyumnya.

“Eonni makan yang banyak, ne? Setelah itu minum obat,” kata Shena sambil tersenyum dan mengusap lengan Cheonsa.

“Aku lupa membawa obatku, Na-ya. Tapi tidak usah khawatir, aku baik-baik saja,” ujar Cheonsa lalu memakan sandwich buatan Shena.

“Arraseo, eonni,” kata Shena lalu mengalihkan tatapannya pada Chanyeol yang sedang serius memakan sandwich-nya. “Oppa, setelah selesai makan kita foto, hm?” Tanya Shena dengan senyum kekanakannya. Sementara Chanyeol hanya menanggapinya dengan anggukan dan acungan jempolnya.

Setelah menghabiskan makanannya, Chanyeol pun langsung mengambil kamera Polaroid milik Shena dan mengambil posisi untuk selfie. “Kkaja, kkaja!” ajak Chanyeol. Shena dan Cheonsa pun segera berdiri di samping Chanyeol dan tersenyum menghadap ke kamera. Hasilnya begitu memukau dengan hamparan bunga menjadi background-nya. Namun tiba-tiba…

BRUK!

Cheonsa ambruk begitu saja tepat di tengah-tengah Shena dan Chanyeol.

“Cheonsa eonni!” jerit Shena sambil menahan tubuh Cheonsa agar tidak ambruk ke tanah. Tangannya gemetar dan air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Kejadian seperti ini masih traumatik bagi Shena. Sementara Chanyeol yang sempat terkejut selama sepersekian detik langsung mengangkat tubuh Cheonsa dan membawanya ke mobil.

Chanyeol memosisikan Cheonsa dipangkuan Shena di kursi belakang. Lalu dengan cepat ia mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit. Sementara Shena hanya terdiam sambil menggenggam tangan Cheonsa yang terasa sedingin es tanpa dapat membendung air matanya lagi. “Shena-ya, hubungi Oh Sehun,” ujar Chanyeol pelan, menahan suaranya yang gemetar karena panik.

“Ne?” sahut Shena yang tidak focus.

“Hubungi Oh Sehun, Na-ya,” ulang Chanyeol sambil menatap Shena dari kaca spion diatas kepalanya. Ia ingin sekali memeluk Shena sekarang. Ia tau, Shena paling benci dengan situasi seperti ini, situasi yang mengingatkannya pada kejadian yang menimpa kakeknya dulu.

Dengan kikuk, Shena menekan layar ponselnya dan segera menelpon Oh Sehun.

Yeoboseyo,”

“Sehun-ssi..”

“Ada apa, Shena-ssi?” nada suara Sehun terdengar khawatir.

“Aku..aku mengajak Cheonsa eonni jalan-jalan.. geundae, sekarang Cheonsa eonni pingsan,” jelas Shena dengan amat pelan.

“Wae? Kenapa kau— aish! Dimana kau sekarang?” Sehun benar-benar panik sekarang.

“Aku..dijalan ke rumah sakit. Sehun-ssi, mianhae..” Shena merasa paling bersalah  atas kejadian ini. Sehun menghela napasnya.

“Tenang, Shena-ssi. Sekarang bagaimana keadaan Cheonsa? Apa tubuhnya panas?”

Not really. Tubuhnya justru dingin,”

“Hmm. Bagaimana dengan denyut nadinya?”

“Bagaimana cara  memeriksanya?”

“Coba letakkan tanganmu di leher tepat di bawah rahangmu. Apa kau merasakan denyut nadimu?” tanya Oh Sehun. Shena mengikuti apa yang dikatakan Sehun dengan baik.

“Ne,”

“Sekarang lakukan hal yang sama pada Cheonsa,” Shena melakukan hal yang sama pada Cheonsa.

I barely feel it. Ini sangat..pelan.. Sehun-ssi, apa yang harus aku lakukan?” tanya Shena kembali panik.

“Shena-ssi, kumohon tenang. Aku tunggu di rumah sakit. Secepatnya,”

KLIK!

Chanyeol dengan cepat menggendong Cheonsa masuk ke ruang UGD dimana Oh Sehun dan timnya sudah menunggu mereka. Dengan cekatan, Sehun melakukan pertolongan pertama pada Cheonsa seperti memasang selang infus dan oksigen.

“Maaf, anda bisa menunggu di luar selagi kami melakukan tindakan,” ujar seseorang berpakaian seperti dokter pada Chanyeol dan Shena. Keduanya mengangguk pelan dan memasrahkan semua pada Oh Sehun dan timnya.

Shena dengan langkah gontainya berjalan menuju kursi yang ada di ruang tunggu tersebut. Shena menenggelamkan kepalanya dalam kedua kakinya. Ia merasa semua ini adalah kesalahannya karena terlalu memaksa Cheonsa untuk ikut berlibur dengan ia dan Chanyeol.

“Na-ya,” panggil Chanyeol sambil duduk di sebelah Shena. Tangannya mengusap puncak kepala Shena dengan sayang. “Gwenchana. Ada Sehun di sana. Cheonsa akan baik-baik saja,” ujar Chanyeol lalu menggenggam tangan Shena. Mencoba membagi kekuatan pada gadisnya itu.

3 jam berlalu. Akhirnya Sehun keluar dari ruang UGD sambil melepas masker dan sarung tangannya. Dan dengan cepat Chanyeol dan Shena menghampirinya.

Eottokhae?” tanya Shena.

“Sudah lebih baik. Cheonsa sudah dipindahkan ke ruang perawatan,” jawab Oh Sehun.

“Ah, syukurlah. Tapi hari ini orangtua Cheonsa belum bisa datang karena masih di luar negri. Aku rasa, aku dan Shena yang akan menjaganya malam ini,” kata Chanyeol.

“Hmm.. itu.. aku saja yang menunggui Cheonsa malam ini,” ujar Sehun sedikit gugup.

“Ne?”

“Aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh. Aku hanya ingin menjaganya,”

Arraseo. Take care of her,” kata Chanyeol sambil menepuk pundak Sehun tersenyum. “Kkaja,” Chanyeol menggandeng tangan Shena dan pergi meninggalkan Sehun.

TBC^^

4 thoughts on “It’s Okay, We’re Gonna Be Okay (Part 1)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s