[Oneshot] Year-End Encounter

year-end encounter

Year-End Encounter

presented by thelittlerin

.

BAP Moon Jongup, OC Choi Rin

SPEED Choi Sungmin, Teen Top Changjo (Choi Jonghyun), BAP Yoo Youngjae

BTS Park Jimin, V (Kim Taehyung)

and others

.

Romance, Fluff, Hurt/Comfort, Friendship, Family

PG-15 | Oneshot

.

happy watching ^^

Oh, Rin-ah!”

Rin menoleh mengikuti sumber suara yang memanggil namanya. Lantas menemukan seorang Park Jimin—dengan penampilannya yang sudah lusuh—melambai dari salah satu pintu ruangan. Gadis itu balas tersenyum, namun tak sedikit pun melangkah demi memperkecil jarak di antara mereka—tempat yang dia tuju tidak searah dengan ruangan tempat Jimin berada.

“Sedang apa di sini?”

“Sungmin!”

Jimin mengangguk-angguk mengerti, setelah sebelumnya keheranan menemukan sosok teman perempuannya itu di Fakultas Seni pada jam-jam seperti ini.

“Dia ada di tempat biasa ‘kan?” Hanya sekedar memastikan, Rin tidak mau masuk ke dalam ruangan yang salah. Gedung ini bukan gedung kampusnya dan Rin jelas tak familiar dengan semua yang ada di sini—ruangannya, orang-orangnya, semua.

Yup! Hati-hati ya!”

Dan dengan itu, Jimin menghilang di balik pintu. Sepertinya sedang memenuhi tuntutan panggilan dari dalam sana. Rin pun kembali melanjutkan langkahnya, hendak melihat kakak kembarnya berlatih menari.

Kendati demikian, benaknya bertanya-tanya, mengapa Jimin menyuruhnya untuk berhati-hati? Rin bukanlah gadis ceroboh dan dia sudah hafal jalan menuju ruang latihan Sungmin yang biasa.

Lalu, mengapa?

Sudahlah, tak ada gunanya berpikir lama-lama, hanya akan memperlambat langkahnya menuju tempat tujuan. Hari sudah semakin sore, latihan Sungmin mungkin akan berakhir sebentar lagi. Kalau sampai Rin tiba di tempat latihan setelah semuanya selesai, bisa dipastikan gadis itu akan mendapatkan omelan panjang dari saudara kembarnya.

“Selamat sore…” Rin hati-hati membuka pintu ruangan, tak ingin mengganggu kegiatan apa pun yang sedang terjadi di dalam sana. Suara musik yang menyambangi telinga membuat Rin bernapas lega, setidaknya dia masih bisa menonton Sungmin berlatih.

“Choi Rin!” Teriakan dari sudut ruangan membuat Rin mengalihkan pandangannya. Mendapati sosok Choi Jonghyun—teman sekelasnya dan Sungmin sewaktu sekolah menengah pertama—melambai ke arahnya. Rin lantas tersenyum dan balas melambai, sebelum berjalan mendekati lelaki itu.”Sudah lama sekali tidak melihatmu!”

“Tentu saja. Aku juga tidak akan main ke sini kalau tidak diminta Sungmin,” jawab Rin. Sebenarnya kata ‘disuruh’ lebih tepat untuk menggambaran keadaan dirinya saat ini.”Latihannya belum selesai?”

Jonghyun menggeleng.”Tidak, tadi kami agak terlambat. Giliran Sungmin sebentar lagi tuh,” jelas lelaki itu kemudian sembari menunjuk ke tengah ruangan.

Kedua manik Rin bergerak mengikuti arah telunjuk Jonghyun. Menemukan sang kakak tengah bersiap di tengah ruangan sembari menunggu alunan musik siap dilantunkan—dan sebagai informasi, tingkah Sungmin sekarang seperti tidak mengetahui bahwa Rin sedang berada di sana, padahal jelas-jelas mereka sempat bersitatap saat Rin masuk ke dalam ruang latihan.

“Dia sendirian?” tanya Rin pada Jonghyun. Sedikit heran melihat sang kakak tengah bersiap seorang diri, sedangkan menurut ingatan Rin, Sungmin pernah bercerita kalau kali ini dirinya dipasangkan dengan seseorang.

“Tidak, penilaian kali ini berpasangan kok,” jawab Jonghyun.”Itu partner Sungmin,” lanjutnya lagi sembari menunjuk sosok seorang lelaki di dekat dinding.

Tenggorokan Rin tercekat saat mengetahui siapa yang dimaksud oleh Jonghyun.

Dan sekarang Rin tahu kenapa Jimin menyuruhnya untuk berhati-hati.

Karena partner Sungmin kali ini adalah Moon Jongup.

Rin lebih suka jika tatapan mereka tidak bertemu kali ini.

.

.

Moon Jongup sedang mengikat tali sepatunya ketika tiba-tiba Choi Jonghyun dan Park Jimin mengapitnya dari kedua sisi. Menilai dari aura yang menguar dari kedua lelaki itu, Jongup tahu kalau mereka sedang merencanakan sesuatu dan berusaha menariknya ikut serta.

Hey, Moon Jongup.”

“Apa?” jawab Jongup malas-malasan. Setelah mendengar nada suara Jimin yang begitu familiar di teliganya, Jongup bertambah yakin akan prasangkanya barusan.

“Mau ikut makan dengan anak-anak musik, tidak?” tanya Jonghyun cepat.

Nah, benar ‘kan?

“Aku sudah sering makan bersama Jimin dan Taehyung, terima kasih,” jawab Jongup setengah bercanda. Tetapi jawaban itu menggambarkan kondisi yang sebenarnya, toh dia memang sering makan siang bersama oknum bernama Park Jimin dan Kim Taehyung di kantin universitas—bersama teman-temannya yang lain tentunya.

Hey, anak-anak yang meminta untuk mengajakmu,” balas Jimin sebal.”Aku juga bosan bertemu denganmu setiap hari, Moon Jongup.”

Jongup tertawa pelan,”nah itu kamu tahu.”

Jonghyun, yang tidak masuk dalam lingkaran pertemanan Jongup, Jimin dan Taehyung, hanya bisa ikut tertawa bersama Jongup.

“Ikut sajalah, Jongup-ah. Hitung-hitung penyegaran sebelum evaluasi akhir tahun,” kata Jimin lagi—masih tetap berusaha membujuk temannya itu walaupun dia masih merasa kesal.”Kamu juga bisa cari pacar lagi ‘kan?”

“Niat macam apa itu?” Jongup secara refleks melemparkan botol minumnya ke arah Jimin. Jika tadi nada suara sebal yang dikeluarkannya hanya bersifat main-main, kali ini nada suaranya benar-benar serius. Rasa sebal yang ada di dalam hatinya juga tidak sekedar bercanda.

“Apa? Jongup sudah putus dengan pacarnya?” sela Jonghyun dengan nada penasaran yang begitu kuat.

“Kamu belum tahu?” Choi Jonghyun menggeleng dan Park Jimin mendecak kesal.”Kalau tidak salah sudah lebih dari dua bulan, iya ‘kan?”

Jongup terdiam. Tidak tahu harus mengeluarkan respons macam apa untuk perkataan Jimin.

Wah, aku saja belum pernah bertemu dengan pacarnya.” Jonghyun mengatakannya dengan ekspresi tidak percaya yang sedikit dilebih-lebihkan. Membuat Jongup makin sebal dengan Jimin—karena telah membeberkan rahasianya—lelaki itu ternyata tidak ada bedanya dari seorang Kim Taehyung.

“Bukannya tadi Rin datang? Kamu tidak bertemu dengannya?”

Pertanyaan balasan dari Jimin membuat kedua manik Jonghyun terbelalak seketika. Tidak memercayai apa yang baru saja ia dengar.”Rin?! Choi Rin?! Adik kembar Sungmin? Dia mantannya Jongup?!” Dan anggukan Jimin sebagai jawaban menambah keterkejutan Jonghyun.

“Sekarang kamu sudah tahu ‘kan,” kata Jongup sembari bangkit dan meraih ranselnya.”Aku duluan ya.”

Hey, kamu berhutang cerita padaku!” kata Jonghyun sebelum Jongup benar-benar pergi.

Jongup menoleh, menatap Jonghyun tepat di mata untuk beberapa saat.

“Kalau aku ingat ya.”

.

.

Rintik hujan mengiringi perjalanan pulang Choi bersaudara malam ini. Ditemani dengan alunan musik dari radio bus dan riuh rendah suara lalu lintas di jalanan ibukota, keduanya larut dalam lamunan masing-masing.

“Ini.” Tiba-tiba saja, Sungmin mengulurkan secarik kertas berwarna putih. Sembari mengernyit Rin menerima dan membaca isinya. Kemudian langsung mengembalikan kertas itu pada Sungmin beberapa detik setelahnya.

“Haruskah aku datang?”

“Jangan membuat alasan. Aku tahu kamu tidak ada acara di hari itu.”

Rin terdiam. Apa yang dikatakan Sungmin benar, dia tidak memiliki janji apa pun di hari itu—hari di mana evaluasi terbuka akhir tahun Fakultas Seni diadakan.

“Kenapa tidak mengundang Ayah dan Ibu?”

“Kamu lupa hari itu ada acara di rumah Dowoon?”

“Kalau begitu, aku juga harus datang.”

“Kamu bisa berangkat denganku setelah evaluasinya selesai, Nona Choi.”

Perdebatan mereka berakhir. Rin tak bisa memikirkan alasan lain untuk digunakan dalam menolak undangan Sungmin. Dia tidak bisa semena-mena membuat janji dengan teman-temannya yang lain—lantaran sebagian besar temannya adalah teman Sungmin dan sebagian dari mereka juga akan menghadiri acara yang sama.

“Apa karena Jongup?”

“Kamu tidak memberitahuku dari dulu.”

Sungmin terdiam sejenak. Berusaha mencerna maksud dari jawaban yang diberikan Rin untuknya. Terkadang dia sebal dengan sifat adik kembarnya yang senang untuk menjawab sesuatu lebih dari apa yang ditanyakan. Seperti saat ini, perlu beberapa waktu bagi Sungmin untuk mengerti apa yang dimaksud oleh Rin.

“Memangnya bagaimana aku harus memberitahumu kalau aku dipasangkan dengan dia untuk evaluasi tahun ini?” tanya Sungmin balik.”Apakah aku harus mengatakan ‘hey, Rin, aku dipasangkan dengan mantanmu untuk evaluasi’, begitu?” lanjutnya lagi saat tak ada reaksi apa pun dari Rin.

Kali ini Rin yang terdiam. Tidak dapat memikirkan kata-kata balasan yang tepat untuk menjawab Sungmin.

“Kalau aku datang, itu artinya aku harus bertemu dengannya ‘kan?”

“Kamu bisa menghindarinya, kalau mau,” jawab Sungmin.”Tapi untuk apa? Yang kutahu, kamu sudah tidak lagi berusaha menghindarinya sejak sebulan yang lalu. Jadi, untuk apa menghancurkan usaha yang sudah kamu mulai?”

Rin kembali terdiam. Namun, kali ini perkataan Sungmin menjadikan pertimbangannya untuk datang bertambah satu.

“Pokoknya aku tidak mau tahu. Kamu harus datang.”

Dan kalimat perintah itu menjadi pengetuk palu keputusan.

.

.

Hari Rabu, H-3 sebelum evaluasi akhir tahun.

Sore ini salju turun, memperdingin udara yang sudah cukup dingin sedari pagi. Orang-orang merapatkan mantelnya dan berjalan cepat menuju tempat tujuan, berharap dengan begitu setidaknya rasa dingin dapat berkurang barang sedikit saja. Kafe-kafe di tepi jalan tak henti-hentinya didatangi berbagai macam pengunjung, hendak membeli minuman yang dapat menghangatkan tubuh.

Rin kembali terjebak dalam udara dingin. Namun beruntung, gadis itu tak melupakan syal dan sarung tangannya di rumah. Dan dengan hati tenang, Rin berjalan pelan menuju halte bis di depan gedung fakultasnya—hendak pulang ke rumah sebelum salju yang turun menjadi semakin lebat.

“Rin-ah?”

Gadis itu menoleh, mendapati sesosok lelaki bermantel hitam tengah berjalan ke arahnya.

“Youngjae oppa mau pulang juga?”

Yoo Youngjae mengangguk pelan, lantas mengisyaratkan Rin agar melanjutkan langkahnya. Keduanya lantas berjalan beriringan menuju halte bis dalam cuaca dingin yang semakin menggigit.

“Pulang sendiri?” tanya Youngjae beberapa saat kemudian. Gumaman Rin yang mengiyakan pertanyaannya barusan membuat dahinya berkerut.”Tidak pulang bersama pacarmu?” tanyanya lagi—sebenarnya Youngjae hendak menyebut nama, namun lantaran ia tak yakin mengingat namanya dengan benar dan tak mau salah sebut, lebih baik dia diam saja.

Rin tertawa sejenak sebelum menjawab,”Jongup? Tidak, dia sudah duluan.”

Hey, ada apa dengan nada suaramu? Kamu sedang bertengkar dengannya?”

Rin meringis, namun memilih tak menjawab pertanyaan Youngjae yang satu itu. Tak perlu menyebarkan berita duka pada orang yang tidak terlalu dekat dengannya—Youngjae hanya salah satu dari sekian banyak kakak tingkatnya di Fakultas Ekonomi. Lagipula gadis itu tak perlu dikasihani untuk saat ini.

“Tenang saja, semua akan baik pada waktunya,” kata Youngjae lagi, kali ini sembari mengusap puncak kepala Rin lembut. Berniat untuk memberikan semangat pada gadis yang lebih muda darinya itu.

“Terima kasih, oppa,” balas Rin.

Sebuah bus berwarna biru berhenti tepat di depan mereka. Mengeluarkan beberapa orang yang terburu-buru dari pintu tengah dan membuka pintu depan bagi mereka yang ingin naik. Rin dengan cepat berjalan menuju pintu depan, tak ingin ketinggalan bis ketika malam semakin dekat.

“Aku duluan ya, Youngjae oppa!”

.

.

Mereka bertemu lagi.

Di tempat dan waktu yang sama seperti sebelumnya.

Sayangnya, kali ini ada kursi kosong yang dapat diduduki Rin. Walaupun posisinya berada tepat di depan Moon Jongup, setidaknya ia tidak harus mencium wangi parfum lelaki itu dari jarak dekat—dan Rin dapat mengalihkan fokus perhatiannya dengan lebih tenang.

Jongup sendiri hanya bisa mengamati gadis itu dalam diam sejak beberapa menit yang lalu. Sejak saat seorang Yoo Youngjae mengusap puncak kepala Rin di halte bis. Hingga saat di mana Rin duduk di kursi di depannya tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun.

Rambut hitam Rin bertambah panjang, itu yang ada di pikiran Jongup setelah beberapa saat, setelah bus mulai berjalan menuju tujuannya. Ujung rambut gadis itu kini sudah hampir mencapai punggung—terakhir kali Jongup melihat Rin, lelaki itu tak sempat memperhatikan panjang rambut Rin—dirinya terlalu sibuk mengalihkan pandangannya.

Tak mau membuat Rin merasa risih, Jongup lantas menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Memejamkan mata sembari menikmati musik yang mengalun dari kedua earphone putihnya.

Namun kedua matanya kembali membuka ketika menyadari lagu apa yang sedang ia dengarkan.

Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman pahit. Lagu yang diputar oleh pemutar musik di handphone-nya adalah lagu yang sering Jongup dengarkan dengan Rin dulu.

Perjalanan pulang hari ini akan menjadi perjalanan panjang.

Rin sendiri sedari tadi hanya memandangi jalanan melalui jendela bis. Sebisa mungkin menahan diri supaya tidak mengalihkan pandangannya ke kursi belakang—takut jika pandangannya nanti akan bersirobok dengan milik Jongup.

Gadis itu lantas menghela napas, berusaha memfokuskan diri pada lagu yang ia dengarkan ketimbang memikirkan hal-hal lain. Bersenandung pelan mengikuti irama lagu sembari memainkan jemari di atas permukaan kaca jendela, menikmati sensasi dingin yang merambat melalui ujung-ujung indera perabanya.

Yang tidak disadari Rin adalah, lagu yang sedang ia dengar dan nyanyikan itu adalah lagu yang sama dengan yang sedang Jongup dengarkan.

.

.

“Ceritakan pada kami yang sejujurnya, Park Jimin, Kim Taehyung.”

Kedua pemilik nama itu duduk dengan kening berkerut. Ada apa gerangan hingga teman-teman mereka memutuskan untuk menginterogasi keduanya bahkan ketika mereka berdua belum sempat duduk? Apa mereka melakukan sesuatu yang salah kemarin? Memakan puding cokelat milik Namjoo, misalnya?

Hey, hey, tolong jelaskan apa yang perlu kami ceritakan, Yook Sungjae.”

“Apa benar Jongup menjadi partner Sungmin saat penilaian besok?”

Jimin dan Taehyung akhirnya menemukan titik terang. Ternyata penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah ucapan yang dilontarkan Jongup tempo hari. Ketika ia dengan sengaja memberitahu siapa rekannya untuk penilaian akhir tahun, walaupun seharusnya Jongup merahasiakannya hingga hari penilaian—dan tak ada yang percaya dengannya hari itu.

“Kukira kalian sudah tahu,” gumam Jimin. Sedikit lega Jongup memutuskan untuk tidak ikut makan malam dengan mereka malam ini, begitu juga dengan Choi bersaudara.

“Jadi benar?!” pekik Sungjae.

Baik Taehyung maupun Jimin, dan lima orang lainnya, meringis pelan. Semuanya yakin pekikan lelaki itu terdengar hingga meja di ujung kantin.

“Kalian tidak percaya dengan omongan Jongup waktu itu?” tanya Taehyung. Dan ketika teman-temannya serempak menggeleng, ia hanya bisa menghela napas.”Kalian tidak seharusnya meragukan Moon Jongup.”

“Kukira dia bercanda. Kamu tahu sendiri ‘kan, akhir-akhir ini dia sering sekali melawak,” ujar Sanghyuk membela diri.

“Omong-omong, Rin sudah tahu?”

“Tentu saja, dia kemarin bahkan sempat menonton mereka latihan,” kata Jimin menjawab pertanyaan adik kembarnya sendiri.”Aku kaget Rin tidak menceritakannya pada kalian,” tambahnya lagi, jemarinya menunjuk-nunjuk empat orang perempuan yang ada di sekitarnya.

“Mungkin Rin sedang tidak ingin diinterogasi?” sambar Sanghyuk tiba-tiba. Seketika, empat pasang mata memandangnya dengan tatapan heran.”Kalian para wanita ‘kan selalu menginterogasinya kalau ada apa-apa.”

“Benar juga,” gumam Sungjae.

Keheningan lantas mengambil alih. Taehyung memanfaatkan kesempatan ini untuk segera memesan makanan—dia kelaparan, demi Tuhan—sebelum pertanyaan-pertanyaan lain sempat terlontar untuknya. Hanya dia satu-satunya informan yang dapat diandalkan teman-temannya, tak terlalu banyak yang diketahui oleh seorang Park Jimin.

“Bagaimana kalau Rin dan Jongup bertemu besok?” gumam Seolhyun—yang sepertinya ditujukan untuk dirinya sendiri.”Maksudku, bagaimana kalau mereka sempat bertatap muka besok?” Gadis itu buru-buru menambahkan ketika menyadari kalau wajah-wajah dengan kening berkerut tertuju ke arahnya.

“Jangan sampai ada yang berkata aneh-aneh. Itu pesanku,” kata Taehyung.

“Kamu butuh cermin, Taehyung-ah?” timpal Nana.

“Tapi, kalaupun mereka bertemu, itu bukan masalah besar ‘kan?” ujar Taehyung lagi—mengabaikan kalimat sinis Nana barusan.”Memangnya apa yang bisa lebih buruk?”

Jimin mengangguk-angguk setuju.

“Benar. Kecuali jika tiba-tiba Yoo Youngjae datang dan ada seseorang yang mengacau dengan mulutnya.”

.

.

Rin sedikit terkejut ketika menemukan Yoo Youngjae berada di depan pintu masuk aula Fakultas Seni. Untuk apa dia berada di sini?

Oppa mau menonton evaluasi juga?” tanya Rin begitu Youngjae berada di sampingnya.

“Iya, ada teman yang memintaku datang. Kamu tidak masuk?”

Gelengan kepala menjadi jawaban untuk Youngjae diikuti dengan telunjuk yang mengarah ke pintu masuk—di mana banyak orang mengantri agar bisa masuk ke dalam aula.”Aku menunggu supaya agak sepi.”

Youngjae mengangguk-angguk paham.”Tidak bersama teman-temanmu yang lain? Jongup?”

Rin berusaha keras untuk tidak tertawa sarkas.

“Teman-temanku sepertinya sudah masuk duluan, mereka meninggalkanku,” jawabnya. Sebenarnya Rin tidak ingin menjawab pertanyaan mengenai Jongup, namun sorot mata Youngjae yang seperti meminta penjelasan memaksa gadis itu untuk melakukannya.”Jongup sedang bersiap di belakang.”

Tidak, gadis itu tidak berbohong. Sungmin mengiriminya pesan kalau dia sedang bersiap di belakang panggung dan menyuruh Rin untuk tidak menemuinya terlebih dahulu. Dan apabila Sungmin sedang bersiap, itu artinya Jongup juga sedang melakukan hal yang sama ‘kan?

“Kalau begitu, mau masuk bersamaku?”

Tak ada alasan untuk menolak dan Rin juga butuh teman selama di dalam. Maka dari itu, tanpa ragu-ragu dirinya langsung mengiyakan ajakan Youngjae. Juga tak menolak ketika Youngjae memegang pergelangan tangannya erat—lelaki itu takut jika Rin terjatuh atau tertinggal saat mereka berusaha masuk ke dalam.

“Maaf ya,” kata Youngjae begitu keduanya berhasil mendapatkan tempat duduk. Dahi Rin mengernyit, dan sebelum gadis itu sempat bertanya, Youngjae buru-buru menambahkan,”aku tidak bisa dapat tempat di depan.”

Ah…..tidak apa-apa. Dari sini juga kelihatan dengan jelas kok,” balas Rin menenangkan. Benar adanya, walaupun tempat mereka duduk sekarang berada di pinggir, tetapi Rin masih bisa melihat isi panggung dengan jelas.

“Benar, tidak apa-apa? Aku masih bisa mencarikan tempat di depan kalau kamu mau,” kata Youngjae lagi. Dari nada suaranya, Rin menebak jika lelaki itu masih merasa bersalah terhadapnya.”Sepertinya di depan masih ada tempat kosong untuk kita berdua.”

“Aku benar-benar tidak apa-apa, Youngjae oppa.”

“Nanti kamu tidak bisa melihat Jongup dengan baik.”

Rin tersenyum pahit.

“Tidak apa-apa, oppa.”

.

.

Sudah bisa ditebak, bagian belakang panggung akan dipenuhi oleh banyak orang begitu evaluasi benar-benar berakhir. Para orang tua dan teman mahasiswa Fakultas Seni akan datang ke tempat ini untuk memberikan ucapan selamat, membuat berbagai macam suara akan memenuhi indera pendengaran siapa saja.

Seorang gadis bertubuh sedang menyelipkan diri di antara orang-orang, berusaha mencari keberadaan kakak kembar dan teman-temannya. Lelaki di belakangnya mengikutinya dengan cermat, menjaga gadis itu agar tidak terjatuh terdorong tubuh manusia lainnya—sekaligus mencari sosok temannya juga.

“Rin-ah!”

Yook Sungjae melambai dari kejauhan. Beruntung, posturnya yang tinggi memudahkan lelaki itu untuk menemukan sosok Rin di tengah kerumunan. Juga memudahkan Rin untuk berjalan menuju tempat temannya itu berada.

“Mana Sungmin?” tanya Rin begitu ia berhasil menempatkan diri di antara teman-temannya.

“Masih di dalam. Sepertinya sedang berganti pakaian,” jawab Sungjae. Maniknya lantas tanpa sengaja tertuju pada sosok Yoo Youngjae di belakang Rin. Youngjae hanya tersenyum kecil, membuat rasa terkejut Sungjae semakin menjadi-jadi.

“Youngjae oppa datang untuk melihat temannya,” kata Rin—seolah bisa mengerti arti dari raut wajah teman-temannya.”Aku bertemu dengannya tadi,” tambahnya yang langsung menjawab rasa terkejut Sungjae dan kawan-kawan.

Ah, begitu..,” gumam Namjoo.

“Youngjae hyung?”

Semuanya serempak menoleh. Mendapati Sungmin yang baru saja keluar dari ruang ganti—penampilannya berbeda dengan apa yang baru saja mereka lihat di atas panggung. Kaus hitam lusuh melekat di badannya, jauh berbeda dengan kemeja hitam rapi yang ia kenakan beberapa saat lalu.

Wah, Youngjae hyung pacar baru Rin?”

Kini semua orang tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Bersamaan mereka menatap Choi Jonghyun yang berada di belakang Sungmin—tersenyum tanpa rasa bersalah.

“Pacar baru?” gumam Youngjae bingung.

“Dia datang karena temannya, Choi Jonghyun,” jawab Rin cepat. Terutama setelah melihat sosok Jongup di dalam ruang ganti—entah mengapa gadis itu takut kalau-kalau Jongup mendengar semuanya.”Siapa yang bilang aku punya pacar baru? Taehyung?”

“Kenapa aku yang disalahkan?!” pekik Taehyung yang baru saja bergabung dengan mereka.

“Kukira dirimu sudah dapat pacar baru setelah putus dengan Jongup,” jawab Jonghyun sembari mengendikkan bahunya—tak mengindahkan jeritan protes yang dikeluarkan oleh Kim Taehyung. Sama sekali tak awas dengan tatapan tajam yang dilayangkan oleh orang-orang di sekitarnya.

“Pikiranmu berjalan terlalu jauh,” kata Sungmin sembari mendorong Jonghyun menjauh.

Yang lain hanya bisa melirik satu sama lain. Tak tahu harus bereaksi macam apa dalam situasi seperti ini.

Hyung, kalau mau jadi pacar Rin, hati-hati ya. Kamu harus melangkahi Sungmin dulu.”

Perkataan tiba-tiba dari Jonghyun membuat semua orang terbelalak. Tidak menyangka lelaki itu bisa berkata demikian dengan entengnya. Beruntung, ia langsung berlari menjauh sebelum Choi bersaudara—dan mungkin juga Jongup yang berada di dalam ruang ganti—dapat melakukan sesuatu terhadapnya.

Ya! Choi Jonghyun!”

.

.

Youngjae mengulurkan segelas kopi hangat pada Rin, yang diterima dengan dua tangan terbuka oleh gadis dengan mantel abu-abu itu. Uap panas yang menguar dari gelas kertas berwarna putih itu menerpa wajah Rin, membuat wajahnya berubah menjadi merah untuk sementara.

“Kenapa tidak cerita padaku dari awal?”

Rin mendongak, berhenti menghirup wangi kopi yang khas. Menatap Youngjae heran dan meminta penjelasan atas kalimatnya barusan.

“Jongup.”

Satu nama dari Jongup langsung membuat Rin mengangguk paham. Namun, bukannya segera menjawab pertanyaan Youngjae sebelumnya, gadis itu lebih memilih untuk memainkan gelas kopinya terlebih dahulu. Sepertinya sedang memilah-milah kata yang tepat untuk disampaikan pada kakak tingkatnya itu.

“Kejadiannya sudah lama dan aku rasa tak perlu menceritakannya pada semua orang,” kata Rin. Masih belum bisa menatap Youngjae tepat di mata—kebiasaan yang sering dilakukan ketika ia merasa bersalah pada seseorang.”Kalau oppa merasa tidak enak, aku minta maaf.”

“Memang benar sih, kamu tak perlu memberitahu semua orang,” kata Youngjae sebelum menyesap kopi miliknya.”Tapi, aku berharap aku termasuk salah satu orang yang bisa mendengarkan semua ceritamu.”

Rin terdiam. Memikirkan maksud kalimat Youngjae sembari meminum kopinya. Saat rasa pahit khas kopi menyentuh lidahnya, gadis itu mengeluarkan desahan pelan.”Kenapa?”

“Karena aku ingin lebih dekat denganmu.”

Jika jawaban ini Rin dengar berbulan-bulan yang lalu, bisa dipastikan ia akan panik memikirkan jawaban apa yang harus dibuatnya. Namun, kali ini Rin hanya menghela napas, tak ingin firasatnya mengenai arah pembicaraan ini menjadi kenyataan.

“Maaf, tapi sekarang aku sedang ingin sendiri, oppa.”

Keduanya diam. Membiarkan angin musim dingin menerpa tubuh, kontras dengan kehangatan yang menjalar dari gelas kopi masing-masing.

“Choi Rin!”

Sosok Sungmin terlihat dari kejauhan dan Rin menghela napas lega. Entah sudah berapa lama ia menanti kehadiran kakak kembarnya itu. Sungmin tak bisa langsung pulang karena harus meladeni berbagai macam pertanyaan dari teman-teman satu jurusannya—lelaki itu tak bisa ikut acara makan malam bersama lantaran harus menghadiri acara keluarga di luar kota.

Rin bangkit berdiri, kemudian mengulurkan tangan kanannya pada Yoo Youngjae.”Terima kasih sudah menemaniku hari ini, oppa.”

Youngjae tersenyum. Tangan kanannya terulur dan menjabat tangan Rin erat.”Aku selalu siap mendengarkan, Rin-ah.”

 “Terima kasih atas kopinya.”

Gadis itu tersenyum untuk terakhir kalinya sebelum berjalan meninggalkan Youngjae—dan Sungmin yang masih berusaha menyortir informasi yang baru saja masuk ke dalam kepalanya.

Sungmin akhirnya menyerah. Memilih untuk segera menyusul langkah kedua kaki adiknya ketimbang memikirkan asal muasal percakapan antara Rin dan Youngjae. Toh dia sudah berjanji pada ibunya untuk datang bersama Rin—akan ada masalah besar jika Rin dan Sungmin tidak muncul bersama di rumah sepupu mereka.

“Aku duluan, hyung,” kata Sungmin undur diri. Yang hanya dibalas dengan senyuman kecil dari Youngjae. Mempersilahkan lelaki itu untuk pergi meninggalkan dirinya.

Oh ya, Rin tidak suka kopi, hyung.”

.

.

“Jongup-ah, tadi kamu mendengar semuanya?”

Gerakan sumpit Jongup terhenti. Mulutnya yang masih mengunyah daging ayam pun ikut berhenti. Kemudian memandangi Kim Taehyung dan Park Jimin dengan tatapan bingung secara bergantian. Berusaha meminta penjelasan lebih lanjut atas pertanyaan yang diajukan Jimin.

“Itu, yang dikatakan Jonghyun saat Rin datang ke backstage,” jawab Taehyung cepat menggantikan Jimin.

“Aku mendengar namaku disebut-sebut,” kata Jonghyun dari meja sebelah. Namun tak cukup kuat untuk mendapatkan perhatian penuh dari ketiga orang tersebut. Mereka hanya sempat menatap Jonghyun selama beberapa detik sebelum kembali memusatkan perhatian pada Jongup.

Ah, yang itu?” gumam Jongup setelah menelan makanannya.”Tentu saja. Jonghyun mengatakannya sambil teriak, sih.”

“Memangnya kenapa sih?” tanya Jonghyun, yang tahu-tahu sudah berada di antara Jongup, Jimin, dan Taehyung. Entah karena ingin ikut serta dalam pembicaraan atau karena porsi daging ayam di mejanya sudah habis tak bersisa.

“Kuberitahu ya, kalau menurut pembelaan Jongup berminggu-minggu lalu, mereka belum putus,” kata Jimin. Tangannya sibuk memindahkan potongan daging ayam ke mangkuk nasi miliknya, takut jika kedatangan Jonghyun akan menghabiskan jatahnya.”Kedua, Rin pernah menyukai Youngjae hyung.”

“Diam kamu, Park Jimin.”

Jonghyun mengerjap, berhenti mengambil daging ayam entah jatah milik siapa.”Wah, aku minta maaf, Jongup-ah.”

“Tapi, Jongup-ah,” kata Taehyung tiba-tiba, sambil membenarkan posisi duduknya.”Bagaimana kalau misalnya, misalnya ya, jangan bunuh aku sesudah ini, Youngjae hyung benar-benar jadi pacar Rin?”

Jimin dan Jonghyun menatap Taehyung dengan tatapan horror, sedangkan Jongup hanya terdiam memandangi mangkuk nasinya.”Kamu benar-benar teman yang buruk, Kim Taehyung,” ujar Jimin beberapa saat kemudian.

“Entahlah,” gumam Jongup pelan. Membuat perhatian ketiga lelaki lainnya kembali terpusat pada dirinya.”Mungkin aku hanya bisa merelakannya.”

“Kenapa?” Nada suara Jonghyun sudah seperti ibu-ibu yang sedang menonton drama televisi.

“Kenapa, Moon Jongup? Katamu ‘kan kalian belum benar-benar putus,” sambung Taehyung.

Moon Jongup menghela napas.”Tapi, sekarang aku tak punya hubungan apa-apa lagi dengannya. Kami hanya sebatas teman sekarang. Jadi, hak apa yang kupunya untuk melarangnya?” jelasnya. Kedua maniknya lantas memandangi teman-temannya satu persatu, menunggu respon apa pun dari mereka bertiga.”Kalau Sungmin saja tidak melarangnya, kenapa aku harus?”

Ketiga orang itu terdiam. Membenarkan kata-kata Jongup di dalam hati masing-masing.

“Satu pertanyaan lagi, Jongup-ah.”

Jongup mendongak. Memberi isyarat pada Taehyung untuk meneruskan niatnya.

“Kamu tidak ada niat untuk kembali seperti dulu?”

Pertanyaan Taehyung kembali menarik perhatian Jimin dan Jonghyun. Bahkan Jimin sampai terheran-heran, dari mana temannya itu mendapat inspirasi untuk bertanya demikian

“Entahlah, aku masih memikirkannya.”

fin.

A/N:

fic terakhir di tahun 2015 :”

sempet ke-publish hari Senin, tapi karena formatnya berantakan gara-gara dipublish lewat komputer kampus dan aku nggak bawa softfile asli fic-nya, jadi terpaksa ditarik lagi dan baru dipublish sekarang :”

anyway, maafkan foto Changjo aka Choi Jonghyun terpaksa dimasukkan ke dalam poster because I have no idea about what to do with the poster 😄 tapi karena Changjo di sini perannya (lumayan) penting, terutama karena mulutnya tiba-tiba jadi nyablak bilangin Youngjae jadi pacarnya Rin, maka dimaafkan😀 lagian itu fotonya juga cocok dan imut nggak kayak Changjo yang biasanya

So, Happy Holiday even though it’s late and Happy New Year, 여러분!! ^^

mind to review then?

2 thoughts on “[Oneshot] Year-End Encounter”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s