Our Wedding Story (Part 4)

our-wedding-story

Scriptwriter: Ghina

Main Cast: Cho Kyuhyun – Song Eunhee

Genre: Romance

Duration: Chaptered

Rating: PG-13

Note: Beberapa part sebelumnya sudah ada, silakan di cari. Sudah pernah di post di beberapa blog maupun blog pribadi saya: macaronstories.wordpress.com

Previous part: 1. 2. 3

(Poster by peaterplum @ posterchannel)

.

(Eunhee’s Side)

.

Eunhee terkejut saat ibunya membangunkannya sepagi ini. Apalagi beliau juga menyebut-nyebut Cho Kyuhyun. Tapi, bukannya segera bangun, Eunhee malah menganggap hal itu sebagai sebuah kebohongan. Ibunya tahu bahwa kejadian semalam begitu membekas di pikiran Eunhee, jadi beliau pasti sengaja menakutinya begitu.

Ketika jam wekernya berbunyi, barulah Eunhee bangkit. Dia mengucek-ucek matanya dan menguap. Perutnya terasa lapar sekali. Maka, alih-alih mencuci muka, Eunhee langsung turun ke bawah. Dia berpapasan dengan Eunji di tangga. Mereka bersama-sama ke meja makan. Saat itulah Eunhee mendengar ucapan mesra ayahnya dan menyelanya.

Lalu, tiba-tiba Eunji memekik sehingga Eunhee menoleh dan terkejut mendapati lelaki yang ia hindari tengah menikmati sarapan. Terlebih lagi, pakaian kasual Kyuhyun yang membuat lelaki itu terlihat tampan. Berbeda sekali dengan penampilannya sekarang.

Astaga, hancur sudah harga dirinya.

Untung saja ibunya cepat tanggap dan menutupinya dari pandangan Kyuhyun. Eunhee langsung diseret ke kamar dan diomeli karena belum bersiap-siap.

“Ya ampun, Song Eunhee. Jangan bilang kau juga belum cuci muka.”

Eunhee hanya menyengir polos.

Terdengar geraman gemas dari sang Ibu. Beliau mendorong Eunhee masuk ke kamar mandi.

Take a shower. Now! Aku akan menyiapkan pakaianmu.”

Eunhee menurut meskipun malas-malasan. Dia sengaja berlama-lama di dalam sana dan baru keluar setengah jam kemudian. Kali ini ibunya tidak mengomel tapi memberikan tatapan tajam padanya. Buru-buru Eunhee memakai gaun yang disodorkan ibunya sebelum beliau memuntahkan amarahnya.

Belum sempat Eunhee memakai sepatunya, sang Ibu membawanya ke depan meja rias dan mendandaninya. Sedikit berlebihan dari yang biasanya Eunhee kenakan sehari-hari, tapi masih bisa dibilang natural.

“Begini lebih baik,” ujar ibunya, puas melihat penampilan Eunhee.

“Aku merasa seperti badut,” protes Eunhee, hendak menghapus blush on tipis yang langsung ditepis oleh tangan sang Ibu.

“Jangan merusak hasil karyaku.”

Eunhee hanya mencibir.

Sang Ibu merapikan anak rambut Eunhee lalu tersenyum senang. “Ayo, ke bawah.”

***

Sejujurnya Eunhee tidak memiliki rencana apapun untuk hari ini, tapi orangtuanya berhasil memaksanya pergi bersama Kyuhyun setelah membuatnya merasa bersalah karena membiarkan Kyuhyun menunggu. Eunhee masih merajuk ketika Kyuhyun mengiming-iminginya dengan seporsi es krim. Well, salah satu kelemahannya. Jadi, mereka sepakat pergi ke salah satu kafe daerah Gangnam yang terkenal menyediakan es krim terbaik. Eunhee menikmati es krimnya sekaligus mengunyah sarapannya.

Sesudah itu, mereka ke toko buku. Eunhee baru ingat kalau ada beberapa buku yang belum dibelinya. Sekaligus, Eunhee ingin menambah koleksi novelnya di rumah. Maka, di sini lah mereka sekarang; berdiri dengan posisi luar biasa dekat setelah Kyuhyun tiba-tiba memeluk pinggangnya. Rasanya-rasanya Eunhee tidak dapat bernapas dengan benar.

“Apakah kau benar-benar tidak mengingatku?”

Eunhee sedikit terkejut mendapati raut menyedihkan Kyuhyun. Lelaki itu nampak kecewa.

Susah payah Eunhee menelan ludah. “Ak—Aku—“

“Berhenti,” potong Kyuhyun cepat, secepat ia melepas dekapannya dan menjaga jarak dengan Eunhee. Kyuhyun menunjukkan senyum tipisnya. “Aku mengerti.”

Eunhee tidak tahu harus berkomentar seperti apa saat Kyuhyun membelakanginya. Dia hanya menatap punggung Kyuhyun, berharap dengan begitu ia bisa mengerti perasaan Kyuhyun. Dorongan untuk memeluk Kyuhyun begitu kuat sampai-sampai tanpa sadar Eunhee sudah melangkahkan kakinya mendekati Kyuhyun. Namun, belum sempat Eunhee mengulurkan tangannya, Kyuhyun sudah berbalik dan menatap Eunhee dengan raut lelah.

“Haruskah kita pulang sekarang?”

Ne?

Kyuhyun melirik jam tangannya. “Sudah hampir jam dua belas. Aku harus ke kantor.”

Eunhee hanya menggumam.

Lalu dia tersadar kalau dia belum menjawab pertanyaan Kyuhyun.

“O—oke. Tapi, tunggu sebentar. Aku akan mencari beberapa buku kuliahku dulu.”

Kyuhyun mengangguk singkat. “Aku tunggu di kasir,” kata Kyuhyun sembari menarik keranjang belanjaan Eunhee yang sudah terisi penuh dengan novel.

Lalu mereka berpisah. Kyuhyun berjalan duluan dan berbelok di sisi kiri, sementara Eunhee berbelok ke arah sebaliknya. Eunhee berhenti melangkah lalu berbalik, menatap punggung Kyuhyun yang entah kenapa terlihat rapuh kali ini. Eunhee menunduk sebentar sebelum cepat-cepat berjalan menuju area buku kedokteran dan mengambil beberapa yang ia butuhkan. Eunhee tidak mau membuat Kyuhyun menunggu lama.

Ketika Eunhee sampai di dekat kasir, dia melihat Kyuhyun bersandar di salah satu dinding dengan tangan bersedekap di depan dada dan mata terpejam rapat. Wajahnya nampak sedih, membuat Eunhee merasakan sesuatu yang aneh merasuki hatinya.

Eunhee menghampiri Kyuhyun. “Hei,” panggil Eunhee pelan.

Kyuhyun membuka matanya dan tersenyum kecil. “Sudah selesai?”

“Ya, aku sudah mendapatkan semua yang kucari.”

“Kalau begitu, kau tunggu di luar.”

Kyuhyun meraih buku-buku yang dibawa Eunhee dan membawanya dengan tangan kirinya, sementara tangan yang satunya menjinjing keranjang. Eunhee menghela napas lalu berjalan ke luar, sesuai permintaan Kyuhyun tadi. Di sini, Eunhee bisa melihat Kyuhyun, meskipun sedikit tertutupi oleh ramainya orang yang berlalu-lalang, yang tengah melamun sementara wanita kasir menghitung belanjaannya. Lagi-lagi, Eunhee merasa tidak enak.

Kalau ini ada hubungannya dengan pertanyaan Kyuhyun tadi, maka Eunhee jelas-jelas bersalah. Dia tidak seharusnya membuat Kyuhyun menjadi seperti ini. Sesuatu di masa lalu tidak pantas Eunhee jadikan alasan untuk memperlakukan Kyuhyun seburuk ini. Apalagi Kyuhyun sudah berbaik hati mau menemaninya. Kyuhyun juga bersikap sopan sekali dan mengutamakan kenyamanannya, tapi kenapa dia dengan teganya menyakiti perasaan Kyuhyun?

Saat Eunhee sedang sibuk dengan pikirannya, Kyuhyun datang.

“Maaf membuatmu lama menunggu. Antriannya panjang sekali.”

Eunhee mendongak dan menggeleng keras. “Tidak apa-apa.”

“Ayo.”

Kyuhyun sudah berjalan duluan ketika Eunhee menginterupsinya.

“Tunggu,” kata Eunhee lalu mendekati Kyuhyun. “Biar kuganti uangmu.”

Eunhee sudah mengeluarkan dompetnya, tapi Kyuhyun melarangnya.

“Tidak usah, aku tidak keberatan.”

“Tapi—“

“Ini tidak seberapa. Lagi pula, aku yang memaksamu pergi, jadi anggap saja sebagai hadiah.”

Eunhee tidak dapat mengelak lagi ketika Kyuhyun sudah menunjukkan senyumannya. Gadis itu memasukkan kembali dompetnya.

“Biar aku yang membawanya,” ujar Eunhee lagi, merujuk pada kantong belanjaannya yang memenuhi kedua tangan Kyuhyun.

Kyuhyun menunduk melihat kantong-kantong karton di tangannya lalu menatap Eunhee lembut. Kyuhyun ingin menolak. Tapi, sebelum semua itu terjadi, Eunhee sudah menyela.

“Jika kau tidak mengizinkanku untuk membayar, setidaknya biarkan aku membawanya.”

Eunhee sedikit bersyukur menuruni sifat keras kepala sang Ibu. Rupanya, sifat tersebut berguna dalam keadaan seperti ini. Lihat saja bagaimana Kyuhyun menghela napas pasrah dan mengangguk. Kyuhyun memberikan sebuah kantong yang ukurannya lebih kecil kepada Eunhee.

“Yang ini biar aku saja,” ucap Kyuhyun, mengangkat sekantong belanjaan yang lumayan besar.

Kyuhyun langsung berbalik dan meninggalkan Eunhee di belakangnya. Eunhee mengerucutkan bibirnya, tapi tersenyum sedetik kemudian. Dia berlari-lari kecil, berusaha mengimbangi langkah kaki panjang Kyuhyun. Begitu mereka sampai di parkiran, Kyuhyun langsung menarik kantong belanjaan di tangan Eunhee dan meletakkannya di kursi belakang.

Kyuhyun membukakan pintu untuk Eunhee.

“Terima kasih,” ucap Eunhee yang dibalas Kyuhyun dengan senyuman.

Tak berapa lama, Kyuhyun sudah masuk ke dalam mobil dan melajukannya. Jalanan sedikit macet di jam makan siang begini. Apalagi keadaan di antara mereka yang mendadak menjadi tidak nyaman.

Jika tadi Kyuhyun masih mau berinisiatif mengajak Eunhee mengobrol, kali ini lelaki itu hanya fokus mengendarai mobilnya. Eunhee juga tidak berani memulai pembicaraan. Dia takut saat dia bersuara, suasana hati Kyuhyun malah menjadi semakin suram. Jadi, Eunhee memilih diam sambil sesekali melirik Kyuhyun. Keadaan ini berlangsung hingga mobil Kyuhyun berhenti di halaman depan rumah Eunhee.

Kyuhyun membuka seatbelt-nya lalu kembali membukakan pintu untuk Eunhee. Lelaki itu juga mengambil barang belanjaan Eunhee dan menyerahkannya pada Eunhee.

“Terima kasih banyak,” ujar Eunhee tulus sembari meletakkan kantong-kantongnya di bawah.

Kyuhyun tersenyum. “Sama-sama. Aku pergi dulu.”

Saat Kyuhyun hendak masuk ke mobil, suara Eunhee terdengar.

“Besok siang… maukah kau menjemputku?”

“Menjemput?”

Well, besok hari pertamaku kuliah. Kurasa—“

Eunhee menghentikan ucapannya saat menyadari bahwa caranya tadi salah. Bagaimana mungkin dia meminta Kyuhyun menjemputnya? Seolah-olah Eunhee hanya menganggap Kyuhyun sebagai sopirnya dan itu sangat amat tidak sopan. Buru-buru Eunhee memerbaikinya kalimatnya.

“Tidak. Maksudku begini—“

“Oke.”

Hah? Apa?”

Kyuhyun tersenyum cerah. “Kau memintaku menjemputmu di kampus, kan? Aku menyetujuinya.”

Untuk beberapa saat, Eunhee hanya mengedipkan matanya berulangkali.

Dia setuju? Semudah itu?

“Jadi,” ujar Kyuhyun pelan, nampak menimbang-nimbang, membuat Eunhee manatapnya. “sampai jumpa besok?”

Wajah Kyuhyun sudah jauh lebih berbinar dibandingkan saat di toko buku. Seakan-akan, sesuatu yang Eunhee tawarkan merupakan hal yang diidam-idamkannya selama ini. Namun tak urung, melihat hal itu, Eunhee tersenyum.

“Ya, sampai jumpa besok,” kata Eunhee mantap.

***

Eunhee turun dari tangga dan langsung mendapat sambutan hangat dari sang Ayah yang tengah menunggu di ruang makan. Sehabis berjalan-jalan dengan Kyuhyun, Eunhee langsung mengurung diri di kamar; melamun, menulis, membaca novel, dan tidur. Gadis itu baru keluar saat sang Ibu memanggilnya untuk makan malam.

Hello, my sweetest little girl,” ujar ayahnya sembari mencium pipi Eunhee lembut yang dibalas Eunhee dengan satu kecupan sayang di kening beliau.

Hi, Dad.”

Eunhee menjatuhkan tubuhnya di kursi sebelah kanan ayahnya dan meraih gelas susunya.

“Bagaimana kencanmu?” tanya sang Ibu tiba-tiba muncul dari dapur dan membawa dua piring sajian makan malam untuk ayahnya dan Eunhee. Saat ibunya meletakkan piringnya, Eunhee menarik tangan ibunya lembut, dan memberikan dua kecupan di masing-masing pipi ibunya.

“Kami hanya ke toko buku, Mom” jawab Eunhee seadanya sembari mengambil sendok.

Ibunya mengambil tempat di sebelah kiri ayahnya. “Itu bisa dikategorikan kencan, Sayang.”

Eunhee hanya diam, terlalu malas untuk menyahut.

“Jadi, kelelahan akibat kencan yang membuatmu bangun jam segini, Honey?” tanya ayahnya sembari menaik-turunkan kedua alisnya.

“Mengurung diri di kamar sudah menjadi kegiatan harianku kalau-kalau Dad lupa,” jawab Eunhee kalem; tidak mau terpancing akan godaan ayahnya, yang membuatnya sedikit kesal, dan mulai menikmati makanannya dengan tenang.

Eunhee sedang menelan ketika perkataan sang Ibu mengejutkannya.

“Ada sesuatu yang kami lewatkan selain kejadian di halaman depan sewaktu kau pulang?”

Eunhee tersedak. Dia terbatuk-batuk. Cepat-cepat Eunhee meraih segelas air mineral dan meminumnya hingga tandas. Setelah itu, Eunhee menatap ibunya kaget.

“Bagaimana bisa… Mom…?”

Saking syoknya, Eunhee bahkan tak mampu berucap dengan benar.

Ibunya menyeringai kecil lalu menggenggam salah satu tangan ayahnya. Mereka bertatapan sejenak, sebelum dua pasang itu menatap Eunhee sumringah.

“Apa kau sudah lupa kalau hari ini kami tidak pergi bekerja?”

Hari ini hari Jum’at, yang mana berarti waktu libur kedua orangtuanya. Dan di saat libur, sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk menghabiskan waktu di taman samping rumah, entah itu sekadar menikmati secangkir teh sembari mengobrol atau mengurusi tanaman. Pantas saja ayah dan ibunya melihatnya, mereka berada di jarak pandang yang pas untuk mengintai.

Eunhee menunduk, mendadak merasa luar biasa malu.

“Maukah kau menjemputku besok?” ujar ibunya, menirukan perkataan Eunhee pada Kyuhyun.

Ekspresinya ibunya sungguh membuat Eunhee mual.

“Menjemputmu? Oh, dengan senang hati, Sayang,” balas ayahnya genit lalu mengedip pada sang Ibu. Mereka lantas terkekeh geli.

Mom, Dad, hentikan,” sela Eunhee dengan wajah memerah. “Dia hanya bilang oke, Dad. Jangan melebih-lebihkan,” protes Eunhee sembari memberanikan diri menatap ayah dan ibunya. Wajahnya sudah semerah kepiting rebus dan menjalar hingga ke telinganya.

Ayahnya yang melihat hal itu berdehem pelan, merasa kasihan dengan Eunhee yang menjadi bahan godaannya kali ini. Beliau mengangguk khidmat. “Baiklah, kita sudahi saja.”

“Ya, wajah anakku sudah sangat matang.”

Lalu, kedua orangtuanya kembali menertawainya.

Eunhee menunduk dan mengunyah makanannya dengan pelan. Telinganya sedikit panas mendengarkan tawa ayah dan ibunya yang tertuju kepadanya. Kalau saja Eunhee lebih berhati-hati dan mengutamakan akal sehatnya, kejadian di halaman depan itu tidak akan terjadi dan dia selamat dari olok-olokkan kedua orangtuanya. Lain kali, Eunhee akan mengamankan sekitarnya dari mata-mata ibu dan ayahnya.

“Berarti, besok kau berangkat dengan Goo Ahjussi.”

Eunhee mendongak, menatap ibunya dengan kening berkerut. “Kenapa begitu?”

“Karena kau akan pergi kencan sepulang kuliah,” jawab ibunya antusias.

“Hanya menjemput, Mom.”

“Oh, tidak ada yang menjamin kalian langsung pulang, Sayang.”

“Aku bisa membawa mobilku sendiri,” kata Eunhee keras kepala.

“Lalu, di mana kau akan menaruhnya saat Kyuhyun menjemputmu?”

Pertanyaan sang Ibu membuat Eunhee bungkam. Dia tidak terpikir sampai ke sana.

“Kampus?” balas Eunhee tak yakin.

“Dan membiarkan mobilmu dicuri?” Kali ini ayahnya yang berkomentar.

Dad!” teriak Eunhee tak suka. Itu mobil kesayangannya dan Eunhee tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya.

“Kalau begitu, biarkan Goo Ahjussi mengantarmu.”

Eunhee bukannya tidak mau sopirnya itu yang mengantarnya. Hanya saja, Goo Ahjussi sudah sangat tua dan Eunhee tahu bahwa pekerjaan beliau dengan sang Ayah sudah sangat banyak. Eunhee tidak tega jika harus membiarkan lelaki berumur 62 tahun itu mengerjakan tugas yang jelas-jelas masih mampu Eunhee lakukan sendiri.

“Tapi, Dad—“

“Sayang, hanya sekali ini saja. Aku yakin Goo Ahjussi tidak keberatan,” bujuk ayahnya lembut.

Akhirnya, Eunhee mengalah. “Oke.”

Ibunya tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi, lalu menggumam senang.

“Kencan, kencan, anakku akan kencan.”

Begitu terus, sampai membuat Eunhee muak. Salad ibunya yang sudah habis membuat beliau mudah melakukannya. Apalagi ayahnya hanya tersenyum geli melihat kelakuan ibunya. Saat suara mobil terdengar di luar, barulah tingkah menyebalkan sang Ibu terhenti. Beliau mengelap mulutnya dengan serbet dan mendorong kursi ke belakang.

“Itu pasti Eunji,” ucap ibunya lalu beranjak ke pintu utama.

Tak berapa lama, suara Eunji terdengar. “Aku pulang.”

“Oh, Eunji-ku, Sayang. Bagaimana pertemuan keluarganya?”

Samar-samar, obrolan antara ibu dan kakaknya terdengar. Mereka masih membicarakan tentang Eunji yang menemui calon mertuanya sampai tiba-tiba ibunya berucap keras.

“Kau tahu, Sayang? Adikmu akan kencan dengan Kyuhyun besok.”

Dan Eunhee hanya bisa memutar bola matanya geram.

***

Setelah dosen wanita yang mengajar mata kuliah terakhir berjalan keluar kelas, Eunhee segera merapikan barang-barangnya yang berserakan di atas meja. Gadis itu sibuk memasukkan notebook serta peralatan tulisnya ke dalam tas, hingga seseorang berbicara padanya.

“Kau langsung pulang?” tanya wanita bule yang duduk tepat di sebelah Eunhee.

Eunhee menoleh sembari memberikan senyumnya, lalu kembali merapikan.

“Ya, Grace, seseorang sudah menungguku.”

Grace, si Wanita Bule, tersenyum menggoda. “Kekasihmu?”

“Bukan,” sangkal Eunhee cepat dan keras, membuat Grace curiga.

Grace menaikkan kedua bahunya tak acuh. “Kalau iya juga tidak apa-apa.”

Eunhee mendesah pasrah lalu meraih tasnya dan membawa bukunya. Dia berpamitan pada Grace dan cepat-cepat menuju parkiran, takut jika Kyuhyun terlalu lama menunggunya.

Saat sudah sampai di parkiran, Eunhee mengedarkan pandangan, mencari-cari mobil Kyuhyun. Namun, Lamborghini berwarna metallic itu tidak Eunhee dapatkan. Belum menyerah, Eunhee melewati beberapa mobil yang terparkir rapi dan menyipitkan mata untuk melihat-lihat ke dalam mobil, berusaha menemukan sosok jangkung Kyuhyun. Usaha Eunhee terasa sia-sia karena yang ia cari-cari tak juga ia temukan.

Eunhee memilih berdiri di depan mobil Audi hitam dengan kening berkerut, berusaha mengingat-ingat. Kemarin siang, Eunhee meminta Kyuhyun menjemputnya di kampus, tapi… tapi Eunhee tidak memberitahukan tempat dan jam pulangnya!

Buru-buru Eunhee meletakkan tasnya di atas kap mobil Audi hitam tadi dan mengambil iPhone-nya. Eunhee sudah bersiap-siap untuk menghubungi Kyuhyun ketika sebuah kesadaran menghantamnya. Mereka belum saling bertukar nomor. Mendadak, Eunhee merasa pusing.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Membayangkan Kyuhyun yang nekad dan mencarinya di seluruh universitas di Seoul membuat Eunhee gelisah. Eunhee sama sekali tidak berniat menyusahkan Kyuhyun begini, tapi siapa sangka otak lemotnya justru mengambil alih dan membuatnya melupakan hal-hal penting yang seharusnya ia beritahukan pada Kyuhyun?

Eunhee menghela napas lelah lalu berjalan meninggalkan parkiran sambil bersungut-sungut menyesali kecerobohannya. Terpaksa, hari ini Eunhee pulang naik bus. Dia tidak bawa mobil dan tidak mau merepotkan Goo Ahjussi, jadi angkutan umum adalah pilihan terbaik.

Tepat ketika Eunhee sampai di depan kampus, seseorang berteriak memanggilnya.

“Song Eunhee.”

Eunhee mencari asal suara dan terkejut mendapati Kyuhyun yang tengah bersandar di mobilnya. Lelaki itu melambaikan salah satu tangannya pada Eunhee dan tersenyum lebar, nampak luar biasa tampan. Untuk beberapa detik yang terasa begitu lama, Eunhee terpesona. Begitu terpesonanya sampai-sampai Eunhee tidak mampu menggerakkan kakinya.

Saat itulah tiba-tiba Kyuhyun menghampiri Eunhee dan berdiri di depannya. Wajah Kyuhyun berseri-seri, terlihat bahagia, sedangkan kedua mata Kyuhyun berbinar menatap Eunhee.

“Sudah lama menunggu?” tanya Kyuhyun pada Eunhee.

Eunhee mengerjapkan matanya lalu berdehem pelan. “Tidak, aku baru selesai.”

“Kupikir kau sudah pulang duluan.”

“Kenapa begitu?”

“Aku tidak menemukanmu dari tadi.”

Kening Eunhee berkerut. “Dari tadi?”

Kyuhyun menyengir sembari menggaruk belakang kepalanya gugup. “Sejujurnya, aku sudah menunggumu sejak,” Kyuhyun mengecek jam tangannya, “Satu setengah jam yang lalu.”

Eunhee meringis lalu menatap Kyuhyun penuh rasa bersalah. “Maaf, seharusnya aku memberitahumu waktu pulangku. Aku—”

“Tidak, tidak,” potong Kyuhyun cepat sembari menggelengkan kepalanya. Kyuhyun menatap Eunhee lembut. “Aku yang memutuskan untuk datang lebih awal.”

“Kenapa?” tanya Eunhee, masih merasa tak enak sudah membuat Kyuhyun menunggunya.

“Karena aku takut kau berubah pikiran dan memutuskan untuk pulang dengan yang lain.”

Ada makna ganda di kalimat Kyuhyun yang membuat Eunhee bingung. Tapi, Eunhee memilih menyimpan kebingungannya di dalam hati dan menujukkan raut wajah biasa di depan Kyuhyun.

“Jadi, bisakah kita pergi sekarang?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.

Eunhee mengangguk sekali, hendak beranjak ketika Kyuhyun malah mengulurkan salah satu tangannya ke depan Eunhee. Eunhee menatap Kyuhyun dengan pandangan bertanya.

“Ada ap—“

“Bergandengan tangan, bolehkah?”

Permintaan Kyuhyun begitu mendadak sehingga Eunhee tidak sempat sekadar memerbaiki ekspresi wajahnya. Eunhee begitu salah tingkah. Apalagi ketika Eunhee tanpa sadar mengangguk, memberi izin pada Kyuhyun, dan membiarkan lelaki itu menggenggam tangannya.

Eunhee mendongak dan bertatapan langsung dengan wajah bahagia Kyuhyun. Ada perasaan hangat yang menyusup setelahnya, membuat Eunhee membuang jauh-jauh rasa malunya, dan balas menggenggam tangan Kyuhyun.

“Kau…” ucap Kyuhyun, membuat jantung Eunhee berdentum-dentum menyakitkan.

Eunhee bisa merasakan wajahnya memanas. Maka dari itu Eunhee menunduk, menutupi wajahnya dari tatapan Kyuhyun yang luar biasa intens, sembari menunggu Kyuhyun melanjutkan ucapannya. Tapi, bukan suara Kyuhyun yang Eunhee dengar, melainkan genggaman erat di tangannya yang menariknya semakin mendekat.

Samar-samar, aroma tubuh Kyuhyun tercium.

“Ayo,” ajak Kyuhyun sambil menunjukkan deretan giginya yang rapi.

Dan yang Eunhee lakukan hanya menuruti Kyuhyun sembari sibuk menenangkan perasaannya.

***

Autumn Restaurant, Seoul

01:54 PM

Ini pertama kalinya Eunhee menginjakkan kaki di Autumn Restaurant. Kegilaannya akan musim gugur seolah terpuaskan ketika melihat interior restoran yang benar-benar disesuaikan dengan namanya. Eunhee bahkan terkagum-kagum dan terus-terusan mendesah senang. Kalau tempatnya seperti ini, Eunhee yakin ia kan betah berlama-lama. Menghabiskan waktu di sini, dengan secangkir coklat panas dan novel di tangan, terdengar luar biasa menyenangkan baginya.

“Kau menyukainya?”

Eunhee tersentak. Lamunannya seketika buyar. Dia menoleh pada Kyuhyun.

Yeah, it’s… amazing.

Kyuhyun tersenyum senang. “Sudah kuduga. Kau begitu mencintai musim gugur dan restoran ini adalah tempat yang tepat. Bukan begitu, Miss Song?”

Eunhee tahu kalau Kyuhyun menyukainya, tapi Eunhee tidak cukup tahu kalau Kyuhyun mengetahui segala hal tentangnya. Kecintaannya pada musim gugur hanya diketahui oleh keluarga dekatnya saja, tapi Kyuhyun berbicara seolah-olah dia mengetahui hal ini sejak lama. Sesuatu yang tidak Eunhee duga dan membuatnya gugup.

“Y—ya, kau be—benar,” jawab Eunhee putus-putus lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Dia tidak mau bertatapan dengan Kyuhyun dan membiarkan lelaki itu menyadari kegugupannya. Sungguh memalukan jika hal itu terjadi. Untunglah pelayan segera datang sehingga Kyuhyun tidak sempat berkomentar lebih lanjut.

“Song Eunhee, coba kemarikan ponselmu,” pinta Kyuhyun tiba-tiba, setelah pelayan pergi dengan catatan akan pesanan mereka, sembari mengulurkan salah satu tangannya.

Meskipun bingung, Eunhee tetap mengambil ponselnya dan menyerahkannya pada Kyuhyun. Untuk beberapa saat, Kyuhyun nampak sibuk dengan ponselnya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Eunhee penasaran.

Kyuhyun hanya meliriknya lalu tersenyum kecil, kembali menekan-nekan layar ponsel Eunhee. Tak berapa lama, terdengar dering telepon yang ternyata milik Kyuhyun. Lelaki itu lantas menekan layar ponsel Eunhee hingga dering itu tak terdengar lagi.

“Ini,” ujar Kyuhyun sembari mengembalikan ponsel Eunhee.

Eunhee menerimanya dengan cepat, berniat bertanya, namun sudah didahului oleh Kyuhyun.

“Hanya bertukar nomor. Aku memasukkan nomorku dan menghubunginya dengan ponselmu sehingga aku juga bisa menyimpan nomormu. Itu saja,” jelas Kyuhyun lembut, membuat Eunhee merasa bersalah karena sudah berpikir yang tidak-tidak.

“Terima kasih,” kata Eunhee pelan yang dibalas Kyuhyun dengan kikikan geli. Selama beberapa saat, tidak ada yang saling berbicara di antara mereka. Sampai kemudian, Eunhee teringat akan sesuatu.

“Ngomong-ngomong,” mulai Eunhee, menarik perhatian Kyuhyun. “Bagaimana kau bisa tahu kampusku? Seingatku, aku tidak memberitahumu kemarin.”

Kyuhyun tersenyum kecil. “Bertanya pada ibumu.”

“Apa?”

“Aku mendatangi rumahmu dan menanyakannya pada ibumu.”

“Ke rumahku?” Eunhee masih belum bisa menutupi kekagetannya.

Kyuhyun mengangguk. “Iya. Begitu menyadari kalau aku tidak tahu di mana universitas tempatmu berkuliah, aku berinisiatif ke rumahmu dan bertanya pada ibumu. Untung saja beliau ada di sana. Kalau tidak, aku mungkin terpaksa merepotkan asistenku.”

Eunhee mengedip, tidak tahu harus membalas apa. Pengakuan jujur Kyuhyun, membuat Eunhee sedikit tersanjung. Dan canggung, tentu saja. Eunhee berdehem pelan lalu meraih tasnya.

“Aku—ke toilet du—dulu.”

Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Eunhee cepat-cepat berjalan ke toilet. Sesampainya di sana, Eunhee menghembuskan napas berulangkali, berusaha menetralkan perasaannya. Dia mencuci tangannya dan merapikan rambutnya. Setelah merasa cukup baik, Eunhee keluar dari toilet dan kembali ke mejanya. Sudah ada makanan yang tersaji dan Kyuhyun yang menunggunya dengan senyum kecil.

“Kupikir terjadi sesuatu di toilet,” kata Kyuhyun, menyuarakan kekhawatirannya.

Sembari tersenyum kikuk, Eunhee duduk di kursinya.

“Ayo, makan. Nanti dingin.”

Eunhee mengangguk lalu tanpa malu-malu langsung memakan makanannya, sama sekali tidak sungkan meski ada Kyuhyun di depannya. Dia mengunyah dengan lahap sambil sesekali mendesah nikmat, nampak benar-benar sibuk dengan makanannya. Melihat hal itu, Kyuhyun hanya tersenyum geli lalu mengajak Eunhee mengobrol sehingga suasana di antara mereka menjadi lebih akrab.

Ketika seluruh makanan di atas meja telah habis, Kyuhyun memanggil pelayan untuk menyerahkan bill.

“Biar aku yang bayar,” cegah Eunhee ketika Kyuhyun hendak mengeluarkan dompetnya.

Kyuhyun menggeleng. “Tidak, biar aku saja.”

“Aku saja.”

Miss Song, dengar. Aku yang mengajakmu makan siang, jadi aku yang akan membayarnya.”

“Tidak, kau yang dengar, Mister Cho,” Eunhee menarik napas panjang. “Bukannya aku tidak suka kalau kau membayariku, hanya saja itu terasa tidak benar. Aku merasa seperti wanita penggila uang. Jadi tolong, untuk kali ini, jangan tolak niat baikku.”

“Aku tidak pernah menganggapmu sebagai wanita yang kau sebutkan tadi,” ujar Kyuhyun dingin, jelas-jelas nampak tidak suka. “Dan jangan pernah menganggap dirimu serendah itu. Aku sendiri yang menginginkannya, Song Eunhee, jadi aku yang akan membayarnya.”

Eunhee tercekat dan tidak bisa bersuara. Dia hanya diam saat Kyuhyun mengeluarkan beberapa lembar won dari dompetnya dan menyerahkannya pada sang pelayan. Diiringi senyum sopan Kyuhyun, pelayan tersebut pergi dari meja mereka. Saat Kyuhyun beralih menatapnya, barulah Eunhee tersadar. Cepat-cepat dia mengikuti Kyuhyun, membuka pintu mobilnya sendiri, dan masuk ke sana.

Kyuhyun mengendarai dengan santai

“Maafkan aku.”

“Aku mengerti,” gumam Eunhee pelan.

Terdengar decakan Kyuhyun. Lelaki itu menghentikan mobilnya di pinggir jalan, membuat Eunhee bingung. Dia menoleh ke arah Kyuhyun. “Kenapa kita berhenti di sini?”

Bukannya menjawab, Kyuhyun balas bertanya, “Kau marah?”

“Tidak,” jawab Eunhee polos.

“Kesal?”

Eunhee menggeleng.

“Serius?” tanya Kyuhyun tak yakin.

Kali ini, Eunhee mengangguk. “Ya, aku tidak marah ataupun kesal.”

“Lalu, kenapa kau menjaga jarak denganku?”

Eunhee tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Kyuhyun mengedikkan kedua bahunya. “Insting? Entahlah. Sekarang jawab pertanyaanku tadi.”

“Kurasa aku hanya terkejut.”

“Kurasa?”

Eunhee mendesah pasrah. “Oh, baiklah. Kau menakutiku. Itu pertama kalinya kau berbicara dengan nada menyeramkan kepadaku dan membuatku tak bisa berkutik,” aku Eunhee akhirnya.

“Maaf sudah membuatmu takut.”

No problem.

“Aku benar-benar minta maaf,” ucap Kyuhyun sungguh-sungguh.

“Astaga, it’s ok, Mister Cho. Itu hanya reaksi berlebihanku saja. Nanti juga pasti akan terbiasa,” jelas Eunhee, berusaha meyakinkan Kyuhyun bahwa tadi bukanlah apa-apa. Beruntung Kyuhyun mau menerimanya ucapannya dan tidak mendebatnya.

“Rasanya lega,” kata Kyuhyun tiba-tiba, sembari menyandarkan keningnya pada kemudi.

“Apa?”

Kyuhyun menatapnya. “Mengetahui kalau kau memaafkanku, rasanya menyenangkan.”

Eunhee tertawa geli mendengar alasan Kyuhyun meskipun sebagian perasaannya menghangat. Gadis itu begitu larut dengan tawanya hingga Kyuhyun bersuara.

“Bisakah kita tetap seperti ini?”

Tawa Eunhee terhenti. Eunhee mengerutkan kening.

Melihat hal itu, Kyuhyun mendengus geli. “Menghabiskan waktu berdua, mengobrol, dan beradu mulut―seperti di kafe tadi―bisakah kita tetap melakukannya?”

Eunhee terdiam. Dia menatap Kyuhyun, mencari kemungkinan Kyuhyun hanya bercanda dan ingin mempermainkannya. Tapi, semua itu tidak Eunhee temukan. Mata teduh Kyuhyun itu malah menyiratkan harapan yang begitu besar, seolah-olah jika Eunhee menolaknya maka Kyuhyun akan lenyap detik itu juga.

Tiba-tiba, Kyuhyun mendekati Eunhee dan menggenggam kedua tangannya.

Kyuhyun menatap Eunhee lekat-lekat.

“Song Eunhee, aku menyukaimu. Jadi, bolehkah aku mengenalmu lebih dekat?”

TBC

One thought on “Our Wedding Story (Part 4)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s