Son of The Mortem – Chapter 1

SOTM-NEWSEQUEL OF BEAUTY & BEAST

bygalaxysyf

IGTwitter

Genre
Fantasy, AU, OOC

Cast
SOTM CAST LIST

Disclaimer
It’s all not mine but storyline and OC.

____

London, 1974

Matahari senja bersinar kemerahan indah mengiringi berakhirnya hari. Hutan di musim gugur yang juga ikut memancarkan warna merah-oranye dari setiap pohon yang berdiri tegak di sana. Burung-burung berkicau indah mengakhiri hari yang menyenangkan. Tawa dua anak kecil—satu laki-laki dan satu perempuan—yang bermain menikmati masa kecil mereka terdengar mengisi sisi hutan yang sunyi. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada mendengar betapa cerianya anak-anak yang tumbuh penuh kebahagiaan, seperti penyejuk hati.

“Kejar aku, Amy!” seru si anak laki-laki.

Amy terus mengejar si anak laki-laki meski dia tahu kalau dia sudah kelelahan. Kaki kecilnya terus berlari di atas tanah hutan yang tertutup oleh daun yang gugur. Anak perempuan berambut pirang ikal yang sekarang duduk di bangku 3 sekolah dasar. Kulitnya putih pucat dengan bibir seperti warna buah peach, sangat cantik dan begitu manis untuk anak umur 8 tahun.

“Will! Berhenti! Aku lelah,” teriak Amy di tengah nafasnya yang tak beraturan.

Will kecil malah tertawa girang melihat sahabatnya itu sudah kelelahan karena main kejar-kejaran. Will tak ingin berhenti. Dia masih ingin melihat seberapa besar usaha Amy untuk mengejarnya sampai gadis itu benar-benar sudah lelah. Dan sebagai anak laki-laki, tenaganya sudah jelas lebih besar dari Amy, hal itu membuatnya merasa menang.

William dan Amelia sudah bersahabat sejak setahun lalu. Mereka menjadi teman dekat di hari pertama mereka bertemu, ketika Will baru pindah ke sekolahnya yang sekarang. Will selalu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain dengan Amy, di sekolah dan bahkan saat liburan. Will berasal dari ibukota, dan di sini dia tinggal di asrama sekolah. Akan baik jika dia tidak pergi kembali ke ibukota setiap kali ada hari liburan. Sesekali dia bisa tetap tinggal di Franswood dan tinggal di rumah Amy yang letaknya masih berada di kota yang sama.

“Aaaah!” Amy menjerit. Kakinya tersandung sesuatu sampai dia terjatuh di atas kerasnya tanah hutan. Amy menangis karena lututnya terluka seperti sewajarnya seorang anak kecil. Dia juga sudah lelah berlari, dia menyerah untuk mengejar Will.

“Amy? Kamu tidak apa-apa?” tanya Will panik melihat Amy sudah menangis.

Amy tidak menjawab. Dia tetap menangis sambil memegangi lututnya yang terluka supaya Will tahu apa yang barusan terjadi tanpa perlu Amy menjawab. Will jadi merasa bersalah dan berpikir mungkin tindakannya tadi sudah keterlaluan sampai Amy seperti ini.

“Lho? Amelia kenapa?” Seorang pria dewasa—berumur sekitar 30 tahun—datang menghampir kedua Will dan Amy. Pria dengan kumis dan janggut tipis serta kacamata besar yang menghiasi wajahnya. Mantel coklat dikenakannya sebagai pelindung tubuhnya dari udara dingin.

Dia mengeluarkan sebuah sapu tangan biru dari dalam sakunya untuk membersihkan luka di lutut putrinya. “Luka ini akan cepat sembuh. Jangan menangis lagi,” katanya lembut, tersenyum penuh kasih sayang dan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja..

“Maaf, paman. Karena aku, Amy jatuh,” kata Will murung, menundukan kepalanya tanda bahwa dia menyesal.

“Tidak apa-apa,” kata Paman George—ayah Amy. “Kemarilah! Sebagai ganti main kalian, akan kuceritakan sebuah cerita. Kalian pasti akan suka.”

Will berjalan dan duduk di atas tumpukan daun gugur—tepat di sebelah Amy yang sudah duduk manis menghadap ayahnya. Untuk anak kecil seperti mereka, wajar kalau antusias dan rasa ingin tahub mereka cukup besar. Itu sifat anak-anak, kan?

“Kalian siap?” pancing Paman George sebelum memulai ceritanya.

“SIAP!” sorak Amy dan Will serentak, membuat Paman George tersenyum.

Dulu, saat belum ada kehidupan di bumi, di sebuah planet gersang dan penuh kegelapan, ada makhluk yang hidup dengan melahap kehidupan lainnya, yaitu Nikephors. Nikephors adalah makhluk tak berbentuk—hanya berupa gumpalan asap hitam kemerahan—tanpa bisa dipegang atau disentuh. Saat itu, planet gersang itu adalah tempat paling mengerikan dan penuh dengan kegelapan. Nikephors membuat pasukannya sendiri dengan seorang jendral yang memimpinya, Mandela. Nikephors ingin memperkuat dirinya dan ingin menguasai seluruh alam semesta, termasuk bumi. Bumi adalah planet paling indah dengan laut yang membentang luas dan hutan rimbun, damai dan begitu nyaman. Tapi Nikephors begitu ingin menguasai bumi. Nikephors dan pasukannya menyiapkan sebuah upacara, semacam ritual untuk membuatnya semakin kuat. Namun, pasukan dari sebuah planet kehidupan—yang dipimpin oleh seorang raja bersama dengan 12 ksatria—datang ke bumi dan menggagalkan upacara Nikephors sebelum dia mencapai kekuatan terbesarnya. Kedua belas ksatria dapat mengalahkan pasukan Nikephors dengan kekuatan mereka yang murni dan penuh dengan cahaya untuk mengalahkan kegelapan. Nikephors berhasil disegel dan disembunyikan di tempat yang sangat aman yang tidak ada satupun makhluk yang tahu. Sang Raja dari Planet Kehidupan itu adalah satu-satunya orang yang menyegel Nikephors sehingga benar-benar hanya dia yang tahu keberadaan Nikephors. Sedangkan Mandela sendiri hilang dalam pertempuran setelah kekalahan Nikephors. Selama berjuta-juta tahun Nikephors telah disegel hingga tidak ada lagi kegelapan yang dapat menyentuh bumi yang sekarang penuh dengan kehidupan dan cahaya.

Amy dan Will tercengang mendengar cerita (atau lebih tepatnya legenda) yang baru saja mereka dengar. Mungkin rasa kagum mereka rasakan. Bisa dibayangkan bagaimana ekspresi anak-anak yang mendengar cerita yang belum tentu bisa mereka mengerti. Mereka adalah anak-anak yang manis terlebih dengan ekspresi mereka sekarang.

“Apa cerita itu benar, ayah?” tanya Amy ingin tahu.

“Lalu, kemana Mandela? Jangan-jangan dia masih hidup,” ucap Will menambahkan.

Paman George tertawa melihat tingkat dua anak kecil di hadapannya. “Tenang, anak-anak. Cerita itu hanya legenda. Lagi pula tidak mungkin Mandela masih hidup sampai sekarang, kan?” Tak ada hal yang lebih menyenangkan daripada melihat anak-anak yang begitu antusias terhadap hal-hal baru bagi mereka.

Hari semakin gelap. Lagi sudah mulai berubah keunguan. Sebentar lagi matahari akan benar-benar terbenam pada waktunya, tanda bagi anak-anak untuk segera pulang. Paman George bangkit dari tempatnya duduk. Dia mengulurkan kedua tangannya pada Will dan Amy, membantu kedua anak itu untuk bangun.

“Ayo kita pulang! Sebentar lagi gelap,” kata Paman George ramah.

“Yaaah… Ceritakan lagi cerita yang lain,” pinta Amy dengan nada suaranya yang terdengar sangat imut itu.

“Iya, paman. Ceritakan lagi cerita yang lain,” tambah Will ikut meminta.

“Nanti di rumah akan ayah ceritakan lagi yang lain. Sekarang kita pulang dulu.”

Mereka bertiga berjalan keluar hutan dengan diiringi terbenamnya Sang Mentari. Tawa dan senyuman mengakhiri hari yang melelahkan. Perasaan bahagia membuat hari terasa menyenangkan untuk menyambut hari esok yang tidak bisa diprediksi. George dan Amelia Katterhart, serta William Boltzmen adalah bagian dari sejarah yang pernah kau baca sebelumnya yang masih punya peran untuk membuat sejarah yang akan datang. Kau tidak mungkin melupakan mereka bertiga, bukan?

_____

Seoul, South Korea, 2014

Pagi yang cerah menyambut berawalnya hari. Suara burung yang berkicau indah sudah seperti lagu merdu di telinga. Seorang gadis sedang sibuk dengan keperluan sekolahnya pagi ini. Dia masih saja memasukkan berberapa buku ke dalam tas pink miliknya. Seharusnya dia sudah melakukan hal itu tadi malam sebelum tidur, tapi kenyataanya tidak.

Gadis itu memiliki wajah yang cantik dengan dagu tirus dan hidung yang mancung. Tubuhnya yang ramping sudah berbalut dengan seragam sekolahnya lengkap dengan sepatu dan kaos kaki yang hanya setinggi mata kakinya. Everything is perfect for her. Banyak hal yang bisa ia banggakan dengan keempurnaannya itu.Tapi kesempurnaan yang dimilikinya harus dipertimbangkan lagi saat gadis itu berdiri di depan sebuah cermin di kamarnya.

Mungkin saat ini dia melihat pantulan dirinya yang cantik dan sempurna. Namun saat dia melihat kembali ke dalam dirinya, gadis itu sadar kalau dia adalah hanyalah monster mengerikan. Dalam waktu singkat, paras cantiknya berubah. Rambutnya yang kecoklatan berubah warna menjadi pirang. Kedua matanya yang coklat indah sekarang terlihat mengerikan dengan warna merah tajam. Ditambah dengan kuku-kuku jarinya yang hitam, panjang dan tajam seperti cakar hewan mengerikan. Setiap saat dia harus menyembunyikan jati dirinya, identitasnya yang sebenarnya. Sebenarnya dia tidak suka menjadi orang yang fake, tak bisa menjadi dirinya sendiri.

This is the truth.

“Krystal!”

Seseorang berteriak memanggil namanya. Mungkin saja Ibunya. Dia sangat mengenali suara wanita yang melahirkannya itu. Panggilan tadi juga menjadi alarm baginya. Dengan cepat, Krystal kembali menjadi seperti semula dengan wujud yang juga normal. Rambut kecoklatan, mata coklat dan kuku-kuku terawat. Dia bisa menyembunyikannya.

Setelah semua perlengkapannya dipastikan sudah masuk ke dalam tas, Krystal berlari keluar dari kamarnya, menuruni tangga rumahnya sambil mengucir tinggi rambutnya yang panjang. Langkahnya yang terburu-buru membuat suara gemuruh dari tangga kayu yang dilapisi oleh karpet yang membuat gaduh seperti serangan seribu tentara.

Arah larinya ia lanjutkan ke arah meja makan, dimana seorang laki-laki dewasa dan 2 orang wanita sudah duduk disana, menikmati sarapan mereka. Krystal—masih dengan nafas yang tak beraturan—duduk di kursi kosong yang tersisa, bertingkah seolah tak terjadi apa-apa ataupun kesalahan apapun. Dia bersikap tenang menghadap ke arah makanan yang sudah disediakan sambil meletakkan tasnya sembarang di sebelah kursi.

“Aku tidak terlambat untuk sarapan, kan?” kata Krystal sambil membalikan piring di depannya tak berdosa. Dia mengambil dua lembar roti tawar dan meraih selai buah blueberry dan selai kacang kesukaannya. Paduan yang sangat lezat untuknya.

“Kau sedang buru-buru atau nyaris terlambat?” kata si pria yang bukan lain adalah ayah Krystal.

Ayah Krystal adalah pria tinggi berumur 48 tahun dengan wajah yang sangat tampan diusianya. Rambutnya pirang tanpa uban meski umurnya hampir mencapai 50 tahun. Matanya masih sangat sehat sehingga tidak perlu pakai kacamata untuk membaca koran pagi seperti saat ini. Wajahnya bahkan terlihat jauh lebih muda dari seharusnya. Kevin Wu.

Maybe both, dad,” balas Krystal.

Lucky you,” ucap Kevin.

Krystal mulai menyantap sarapannya dan mempercepat setiap kunyahannya, mengingat dia akan terlambat jika dia tidak bisa cepat. Sesekali dia mengecek ponselnya. Mungkin ada telpon atau pesan yang masuk. Sepertinya tidak ada jika ia lihat-lihat lagi. Padahal seharusnya akan ada banyak pesan yang masuk atau notification dari berberapa media sosial miliknya tentang kabar burung yang beredar di sekolah kemarin tentang murid baru.

“Makannya pelan-pelan dan jangan gunakan ponselmu saat makan,” kata salah satu wanita di meja makan, yaitu ibunya Krystal. Seorang wanita yang memiliki kemiripan 90 % dengan Krystal. Mungkin hanya umur saja yang membedakan mereka. Dia punya tatapan yang lembut pada keluarganya. Ia juga punya rambu yang sama kecoklatan mungkin tanpa uban. Mata yang dimilikinya sangat identik dengan milik Krystal. Dialah Jessica Wu.

“Krystal,” kata Kevin. “Ayah ingin bicara denganmu.”

Krystal menakikan dagunya. Menatap ayahnya serius dengan sedikit malas. Dia tahu ayahnya akan mengatakan hal yang serius, tapi dia sama sekali tidak menghentikan kegiatan sarapan paginya. Mulutnya masih penuh dengan roti isi favoritnya.

“Umurmu sudah 17 tahun sekarang. Tapi ayah khawatir dengan keamananmu,” kata Kevin menyampaikan alasan dari keinginannya.

Krystal mendengarkan dengan serius seraya tangannya meraih gelas susu di hadapannya. Dia mulai menegak susunya saat bibirnya yang tipis menyentuh mulut gelas kaca—siap mendengarkan apa yang akan diucapkan ayahnya berberapa saat lagi.

“Ayah sudah menelefon Victoria untuk menyuruh Lay berhenti menjemputmu dan mengantarkanmu pulang. Mulai hari ini ayah akan mengantarmu sekolah—”

“Ohoook… Ohook…” Krystal tersedak hingga terbatuk-batuk. Perkataan ayahnya barusan bagaikan berita buruk dari negri antah berantah atau mungkin seperti sambaran petir di siang bolong. “What? Are you serious, dad?

“Ini demi keamananmu. Selama 17 tahun terakhir ayah tidak pernah bisa tenang, dan mulai sekarang ayah akan selalu memastikannya sendiri. Pulang sekolah supir yang akan menjemputmu. Kemanapun kau pergi, ayah yang akan mengantar. Itupun jika ayah mengizinkan,” ucap Kevin tegas.

“Tapi, bukannya selama ini aku aman-aman saja? Aku tak pernah mengamuk di depan teman-teman atau orang lain. Kenapa harus sampai dikawal begini? Ayah terlalu berlebihan.” Krystal membela diri.

“Krystal Wu, jangan membantah ayah! It’s not about change in front of people. It’s about your save,” gertak Kevin keras.

“Ibu…” ucap Krystal melempar tatapan memohon pada ibunya. Namun Jessica hanya bisa menggeleng, pertanda kalau keputusan Kevin sudah bulat dan sudah disetujui olehnya.

“Kevin melakukannya demi kau juga,” kata wanita yang lain menambahkan.

Wanita yang tampilannya tak pernah berubah sejak 31 tahun yang lalu atau mungkin lebih lama. Rambut pirang, kulit seputih salju, bibir merah seperti mawar dengan mata hijau seperti batu emerald.

“Tapi, Fleur… Ini berlebihan. Yang lainnya saja tidak sampai begitu,”kata Krystal terus membela haknya untuk bebas.

Fleur tak bisa berbuat banyak, sama seperti Jessica. Dia keluarga ini kepala keluarganya adalah Kevin dan setiap keputusannya adalah yang terbaik, tak ada yang bisa membantah, bahkan untuk Fleur yang umurnya sangat jauh lebih tua dari Kevin.

“Francis dan Mike juga akan berbuat yang sama pada putri mereka setelah menyadarinya,” ucap Kevin dengan nada yang lebih tinggi.

Krystal hanya bisa diam dengan kening mengkerut dan mulut yang maju ke depan. Dia kesal dan tidak ingin melihat ke ayahnya lagi pagi ini. Bahkan sebelum makanannya habis, dia pergi begitu saja meninggalkan meja makan. Langkahnya dengan perasaan yang jengkel membawanya ke arah mobil BMW X3 hitam milik ayahnya. Tepat sebelum tangannya meraih pintu, mobil itu berbunyi tanda kalau Kevin sudah membukanya.

Kevin tahu anaknya akan marah denganya karena keputusannya ini. Tapi ini adalah salah satu tindakkan yang tepat untuk menghidarkan Krystal dari bahaya yang masih menghantui keluarganya. Dia melihat dari jauh Krystal sudah masuk ke dalam mobil dengan membanting pintu cukup keras.

“Jangan terlalu overprotective padanya…” kata suara lembut yang terdengar datang ke arahnya. “…dan jangan sampai menyakiti hatinya saat bicara. Dia akan terluka karena itu.”

Jessica meraih dasi suaminya, merapihkan kembali simpulnya yang sudah rapih. Dia tersenyum sambil membenarkan dasi marun itu. Jas abu gelap dikenakan Kevin ia betulkan lagi supaya lebih rapih. Jarang baginya menghabiskan waktu berdua saja dengan Kevin. Pagi hari sebelum Kevin berangkat kerja adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkan kesempatan meskipun hanya sebentar.

“Dia masih remaja. Butuh waktu untuk bebas dan menikmati hidupnya. Kau harus lebih lunak padanya,” ucapnya lembut.

“Kau tidak ingat padanya? Apa yang terjadi pada keluarganya? Aku tidak ingin hal itu terjadi pada keluarga kita. Apalagi iblis itu masih berkeliaran. Perasaanku semakin tidak enak saja. Aku makin khawatir..”

Ekspresi Kevin menggambarkan kekhawatirannya yang besar. Takut kalau akan terjadi apa-apa dengan keluarganya. Baginya, keselamtan keluarga yang terpenting. Begitu besar ancaman yang Kevin hadapi sampai-sampai dia bersikap overprotective seperti itu.

“Dia akan baik-baik saja. Kita akan baik-baik saja,” kata Jessica menghangatkan suasana. “Kita punya ayah serigala yang kuat…”

Jessica tersenyum dengan perkataannya yang membangun semangat untuk suaminya. Mengenal Kevin selama lebih dari 30 tahun membuat Jessica paham betul dengan laki-laki yang sebenarnya lebih muda berberapa bulan darinya itu.

“Kita juga punya Mortem legendaris berumur ratusan tahun bersama kita dan Krystal mewarisi kehebatanmu. Our family is the strongest family on the earth.”

“Kalau gitu yang harus kukhawatirkan sekarang kau, my Queen.” Kevin mengecup kening Jessica lembut, menahannya hingga berberapa detik berlalu membuat istrinya tersenyum berseri.

“Ngomong-ngomong..” kata Jessica. “Apa ada kabar dari anak laki-laki Leo?”

“Belum. Sekarang aku sudah ragu apa anak itu masih hidup atau tidak. Dia benar-benar menghilang tanpa kabar seperti hilang ditelan bumi,” ujar Kevin lesu sambil menghela nafas berat.

Ya. Anak laki-laki Leo, yang seharusnya sekarang berumur 17 tahun, tidak pernah terdengar ada kabar sejak ayahnya meninggal. Dia hilang bersama ibunya dan kakek-neneknya. Kabar terakhir yang Kevin dengar adalah anak laki-laki Leo dibawa ke kampung halaman ibunya di Beijing. Setelah itu, tidak pernah terdengar kabarnya lagi sampai sekarang.

“Dia pasti akan muncul. Aku yakin itu. Dia yang akan melindungi Krystal,” kata Jessica begitu yakin.

“Aku baru ingat,” kata Kevin. “Kita punya cenayang disini.”

Jessica tersenyum.

_____

High East, School of London-Seoul Cooperating Relationship. Seoul, South Korea

Masih ada 45 menit sebelum bel sekolah berdering, tapi seorang anak sudah duduk manis di atas sebuah bangku coklat di dalam ruang kelas 3-A. Untuk seorang remaja, sangat jarang ada yang mau dari pagi-pagi ke sekolah hanya untuk duduk diam. Mungkin tidak diam, tapi lebih tepat sendirian.

Anak itu mulai merasa bosan dengan semua playlist di i-Pod hitam andalannya. Mendengarkannya tanpa berbuat apa-apa membuatnya jenuh setengah mati. Hal itu ditandai dengan tangan kanannya yang meraih sebuah buku dari dalam tasnya. Sebuah buku catatan berwarna merah bersama dengan sebuah pena hitam yang sudah terselip disana.

Tertera nama Lay Boltzmen di atas sampul merah itu dengan coretan khas anak laki-laki. Buku itu merupakan barang pribadi milik Lay, benar-benar pribadi sampai taka da yang boleh membacanya selain dia. Saat buku itu dibuka, halaman pertama yang terbuka adalah tempat pena terselip. Halaman itu berisi catatan berantakan mengenai sesuatu.

Lay membuka tutup pena yang masih terpasang dan mulai melanjutkan catatannya. Dia membuka halaman sebelumnya yang tertempel berberapa gambar dari koran dan internet. Dia sedang melakukan semacam penelitian, sepertinya. Berberapa artikel koran berbunyi “Akademi Swasta di Frankswood, London resmi ditutup”, “Pencurian mayat di Frankswood” dan “Kematian misterius seorang pengacara.”

Dia mulai mengetuk-ngetuk pena miliknya tanda berpikir. Sampai sesuatu terlintas dalam pikirannya yang membuatnya menarik keluar ponselnya dari dalam saku celana. Pada layar touchscreen, dia mengetuk pelan icon bergambar bumi dengan ibu jarinya. Di bagian atas layar ada sebuah kolom pencarian yang kemudian dia isi dengan “Frankswood”.

Frankswood adalah sebuah kawasan kecil di pinggir kota London dengan penduduk paling sedikit di Inggris. Sebuah desa dengan nama yang sama menjadi satu-satunya desa yang berdiri di kawasan ini. Banyak penduduk yang meninggalkan Frankswood di tahun 1996 sampai 1998. Sebuah sekolah akademi terbaik resmi ditutup di tahun 1998 hingga tak ada lagi sekolah yang beroperasi di Frankswood. Alasan kenapa Frankswood ditinggalkan masih menjadi berdebatan berberapa pihak. Kemungkinan besar penyebab Frankswood ditinggalkan adalah karena kejadian misterius yang terjadi di tahun 1982 sampai 1996.

“Kenapa hanya segini….” gumam Lay pelan saat layar ponselnya tidak bisa di scrolldown.

Lay kembali mencari informasi yang ia perlukan dari sumber lain di internet. Namun minimnya sumber menghambat niatnya dan dia sudah tahu itu. Frankswood yang menjadi tempat kedua orang tuanya menuntut ilmu, tempat yang tepat itu mencari tahu kemana ayahnya pergi sejak ia masih kecil. Terlebih saat ibunya tidak pernah memberitahu sesuatu yang spesifik tentang kepergian ayahnya, membuat Lay merasa ada rahasia dibalik kepergian ayahnya.

Ditengah lamunannya, Lay mendengar suara langkah kaki yang berjalan di koridor. Dia melihat ke arah jendela—yang menghadap ke koridor—yang letaknya berseberangan dengan tempat duduknya saat ini. Seorang anak perempuan yang dikenalnya, yang rabut panjang diikat tinggi dengan tinggi 168 cm. Wajahnya yang mengkerut kesal membuat Lay jadi yakin siapa yang baru datang.

Anak perempuan itu memasuki ruang kelas yang masih sepi melewati pintu putih kelasnya. Wajahnya yang sudah kesal langsung ia perlihatkan kepada orang yang sudah ada di dalam kelas. Kakinya melangkah ke arah meja di sebelah Lay yang menjadi mejanya. Dia duduk di bangkunya dengan melempar tasnya ke atas meja, tanda kalau dia benar-benar sedang kesal.

“Pagi begini wajahmu udah ketekuk gitu,” kata Lay meledek. “Seperti nenek-nenek.”

Don’t play with me, Lay. It’s not a good time for joke,” ketus Krystal.

Sorry,” ucap Lay pelan.

Tanganya meraih buku merah kemudian menutupnya cepat sebelum Krystal sempat melihat. Dan sebelum Krystal bertanya, Lay buru-buru memasukkan bukunya itu ke dalam tas. Karena sebenarnya tidak ada yang tahu tentang penelitiannya tentang Frankswood untuk mencari berita tentang ayahnya.

You know what? Ayahku jadi semakin berlebihan,” keluh Krystal dengan suara mengekuh khasnya.

“Aku tahu. Ayahmu sudah tidak memperbolehkanku menjemputmu lagi. Jadi, apa lagi yang ayahmu lakukan kali ini?” tanya Lay seolah mengerti dan tahu tentang sifat ayah Krystal yang super overprotective.

“Sekarang ayahku yang akan mengantarku kemanapun aku pergi. Minimal harus dengan supir. Dan yang lebih parah adalah aku tidak boleh pergi keluar rumah tanpa seizin ayahku. Memangnya aku ini putri Inggris gitu? Sampai harus dikawal segala,” oceh Krystal, mencurahkan semua kekesalannya.

“Yang sabar ya,” ledek Lay sambil menepuk pundak Krystal seperti tanda prihatin. Krystal hanya bisa melempar tatapan kesal dengan bibir yang manyun ke depan.

“Lay,” kata Krystal.

“Ya.”

“Hari ini benar-benar ada anak baru?” tanya Krystal penasaran dengan apa yang ia dengar kemarin.

Lay diam seperti berpikir dengan tangan yang menopang dagunya di atas meja.

I’m not sure…” ujar Lay. “Tapi sepertinya memang ada.”

“Oooh….” kata Krystal membulatkan bibirnya. “Perempuan atau laki-laki?”

“Entahlah. Mungkin….” kata Lay menggantungkan kalimatnya.

_____

Seorang laki-laki berjalan melewati gerbang hitam tinggi High East School menuju lapangan luas tepat di depan gedung sekolah. Rambutnya pirang dengan poni. Matanya yang indah dengan sparkling effect dari pantulan sinar matahari, menyorot pemandangan sekolah barunya itu. Hari ini adalah hari pertamanya di sekolah ini.

Dia kurang bersemangat hari ini. Mengingat kalau dia bukan cuma pindah sekolah, tapi juga pindah negara. Dia menghabiskan 8 tahun terakhirnya di kampung ayahnya, London. Dia dipindahkan ke High East yang mejadi education partner sekolahnya yang lalu. Bisa dibilang dia adalah murid pertukaran dari London.

Beruntung dia bisa bahasa Korea. Mengingat sekolahnya yang lalu sudah mempersiapkannya untuk pindah ke Korea dengan mengajarkan kultur Korea, seperti bahasa. Tak perlu khawatir berlebihan.

Anak laki-laki itu terus berjalan lurus sambil terus memandangi bagian luar sekolah barunya. Sampai dia merasa menabrak sesuatu atau seseorang akibat tak bisa fokus dengan jalannya.

“Aww… Hati-hati, kawan!” kata seorang anak laki-laki yang ditabraknya.

Sorry,” ucap Luhan pelan, namun laki-laki yang ditabraknya tadi berlalu begitu cepat.

Tak lama setelah itu, seorang wanita menghampirinya. Wanita hyang berpenampilan seperti guru meski masih muda. Rambutnya merah dengan mata hijau. Sepertinya dia berasal dari Inggris, bukan Korea.

You must be Luhan,” kata wanita itu menebak. “Welcome to High East.”

Wanita itu menjabat tangan Luhan ramah seperti seharusnya. Dia tersenyum meski sebenarnya senyumnya sedikit aneh karena dia menggunakan lipstik merah gelap yang sangat kontras dengan warna kulitnya.

I’m Gabriella Swan. I’m an english teacher. Nice to meet you,” ujarnya ramah. “Bisa bahasa Korea?”

Ne. Saya bisa. Pleasure to meet you, Mrs. Swan,” kata Luhan menujukan kemampuannya dalam bahasa Korea yang terbukti sudah fasih.

“Jangan panggil begitu. Saya belum menikah. Panggil saja Miss Swan.”

Miss Swan terbukti sangat ramah. Beruntung sekali dia menjadi orang pertama yang menyambut Luhan di High East. Coba saja kalau guru yang galak… Hiiih.

“Mari saya antar ke ruang kepala sekolah.”

Luhan, seperti yang sudah dikatakan tadi, berjalan mengikuti Miss Swan melewati lorong panjang menuju ruang kepala sekolah. Selayaknya sekolah, Luhan melewati berberapa kelas di sepanjang lorong. Perhatiannya benar-benar teralih pada seuatu pemandangan di dalam kelas.

Seorang gadis berambut panjang kecoklatan yang terlihat sedang mengobrol dengan berberapa temannya yang kebanyakan laki-laki. Luhan tak sedetikpun melepas pandangannya pada gadis itu. She’s adorable.

“Luhan?”

Lamunannya kini pecah saat Miss Swan kedapatan Luhan yang terlihat terpaku melihat sesuatu. Tatapannya hanya tertuju pada satu objek meski disaat kakinya tetap melangkah dengan sangat lambat. Luhan mengembalikan perhatiannya pada Miss Swan sebelum wanita itu tahu apa yang sedang ia perhatikan.

Is everything alright?” tanya Miss Swan.

Luhan mengangguk. Kini berusaha mencuri pandangan untuk melihat ke arah papan kelas yang ada di atas pintu. Kelas 3-A. Dia akan mengingat itu. Supaya dia bisa bertemu dengan gadis itu nanti.

Yes, Miss. Everything’s alright.

 

_____

Wistleton National Museum, London

Selayaknya sebuah museum nasional, hari ini Wistleton ramai dikunjungi banyak orang. Terlihat segerombol pelajar dari sebuah sekolah negri mengelilingi museum. Ada juga sekelompok turis—yang dipandu oleh tour guide mereka—melihat-lihat seluruh bagian museum yang sudah masuk dalam paket tur mereka.

Banyak hal yang menarik dari museum ini. Patung-patung bagus, benda bersejarah, fosil hewan—yang entah itu apa—, dan lukisan-lukisan dengan nilai seni yang tinggi. Seorang tour guide—pria berjas lengkap—terlihat sedang memandu rombongan wisatawan asing di sudut museum. Dia terus menjelaskan dengan kata-kata yang sama seperti yang selalu ia ucapkan setiap hari saat sedang bertugas.

“Patung ini dibuat di tahun 1874 dari bebatu vulkanik dan dipahat oleh pemahat terkenal asal Jepang,” ucapnya menunjuk sebuah patung kelabu berbentuk singa.

For the next,” mulainya lagi. Dia melangkah lebih ke arah kiri, menuju sebuah lukisan besar yang menempel di dinding dengan dikelilingi pita merah sebagai pembatas.

“Sebuah lukisan yang merupakan bagian dari harta karun nasional—National Treasure,” sambungnya. “Lukisan tanpa ada kejelasan siapa pelukisnya ataupun apa judulnya. Sejak ditemukan pada tahun 1855, lukisan ini diberi nama The Dark Arts.”

Sebuah lukisan setengah abstrak dengan objek yang tidak bisa dikenali dengan mudah. Berlatarkan langit yang gelap dengan tanah yang tandus, lukisan ini memang menggambarkan suasana saat adanya kegelapan. Ditambah dengan gumpalan asap hitam dengan sentuhan kemerahan yang mengitari seluruh bagian lukisan.

Ladies and Gentlemen, please… Follow me to next object.” Si Pemandu mulai meninggalkan lukisan itu bersama rombongannya. Namun seseorang memutuskan untuk tinggal.

Wanita berambut pirang ikal—dengan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya—berdiri menghadap lukisan The Dark Arts itu. Dia mendekatkan dirinya ke lukisan itu supaya dia bisa melihatnya lebih jelas. Bibirnya—yang merah merekah karena lipstick yang digunakannya—tertarik disalah satu sudutnya menciptakan sebuah senyuman sinis yang penuh dengan berjuta arti.

Wanita itu melangkahkan kakinya lebih dekat, mendekati pita merah yang menjadi batasnya. Kini dia bisa melihat lukisan itu kini benar-benar jelas. Dia melepaskan kacamatanya, memperlihatkan kedua bola matanya yang berwarna keemasan tajam dan langkahnya membuatnya semakin dekat dengan lukisan hingga melewati batas pita merah.

Sorry, lady. Anda tidak bisa melewati batas pita itu!” tegur seorang laki-laki penjaga museum.

Si wanita tidak menghiraukannya. Dia semakin mendekatkan dirinya dengan lukisan. Dan kini tangannya terangkat mengarah ke lukisan. Mulutnya bergerak seperti mengatakan sesuatu. Terdengar bisikkan dengan bahasa yang aneh.

Lady! Menjauh dari lukisan itu!” tegur tegas laki-laki penjaga tadi. Dia menarik senjatanya— sebuah pistol semi otomatis—dan menodongkannya pada wanita misterius itu. Berberapa berjaga lain datang mengepung wanita itu.

STAY AWAY FROM THAT PAINTING!!” gertak si Penjaga.

Saat itu juga, gumpalan asap hitam keluar dari lukisan. Gumpalan asap yang sama persis dengan yang ada di lukisan, seolah-olah keluar dari dalamnya. Gumpalan asap itu mulai merambat ke permukaan yang ada di sekitarnya. Si wanita mencoba itu mengendalikan asap itu dengan kemampuannya yang membuat gumpalan asap itu menyelimutinya. Wanita membuat asap itu menyatu dengannya.

DOR

Seorang penjaga yang panik melepaskan tembakan ke wanita itu. Namun peluru yang melesat secepat kilat itu berhenti berberapa senti dari kepala si Wanita dan kemudian hancur menjadi abu.

Gumpalan asap tadi kini telah hilang, merasuki tubuh wanita itu seperti roh yang masuk ke suatu tubuh. Wanita itu kini berubah menjadi jauh mengerikan. Kulitnya yang sudah pucat, kini semakin pucat keunguan. Matanya bukan lagi keemasan mengerikan, but it’s totally black.

Melihat si Wanita, seluruh pengunjung museum berlari keluar penuh rasa takut. Mereka semua berteriak histeris saat ada makhluk gelap ada di dekat mereka. Suasana mencekam bertambah saat si Wanita mengarahkan tangannya pada berberapa petugas keamanan. Asap hitam menjalar dari kelima jarinya menuju 3 orang petugas keamanan. Asap hitam itu seperti menggerogoti tubuh ketiga petugas keamanan, menyerap sumber kehidupan sampai tubuh mereka menjadi kering bagaikan mumi.

So…,” kata si Wanita dengan senyuman sinis. “Ini yang rasanya ditakuti. Punya kekuatan ini jauh lebih baik daripada punya 12 kekuatan murni.”

Wanita berjalan dengan setiap langkahnya yang membawa petaka, kegelapan dan kematian bagi makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Dengan santainya dia keluar museum disaat orang-orang berlari ketakutan karenanya. Dia menatap pemandangan dari ketakutan terhadapnya. Inilah rasanya ditakuti yang—menurutnya—lebih baik daripada dicintai.

Now, it’s time to hunt wolves.

To be continue

7 thoughts on “Son of The Mortem – Chapter 1”

  1. Wuuuuu.. bersambungnya pas banget. Jadi bikin penasaran.. wanita yg di museum td jangan2 si Mandela yaa.. trusss anak Leo itu Luhan kah? .. okey cant wait for the next chapter..
    Nice writing🙂

    Suka

  2. Uughhh siapa cwe itu?! Kok dia bisa buka segel dri lukisan itu…dduhh penasaran bgt, cieeee luhan, trpakuu bgt ma krystal nyieee, lay rajin bgt cri ttg keberadaan ayahnya, next chap-nya ditunggu HWAITING!!!

    Suka

  3. WUAAAA. ANAK LEO SIAPA? LUHAN? KENAPA DIA BISA ILANG? TERUS KOK BISA BALIK LAGI? KENAPA BALIKNYA MUSTI KE KOREA?!?!?! ((ini apa-apaan))
    TERUS KENAPA JADI BANYAK ORANG BARAT DI KOREA?(?)
    Means, Lay sama Krystal bukan sepenuhnya(?) warga Korea kan?!
    TERUS KENAPA LAY NGGAK BOLEH JEMPUT KRYSTAL LAGI? KENAPA JESSICA BILANG KALO LUHAN YANG JAGAIN KRYSTAL? KAN ADA LAY?!?! ((ampun, author-nim))
    TERUS WANITA DI MUSEUM ITU SIAPA?!?!?! ((/ditendang author/))

    Okefine. Sekian komentar dari saya. Ditunggu chapter selanjutnya. 😂🔫

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s