[Vignette] A Bit Of Difference

a34a239bd005c000a

a birthday movie by tsukiyamarisa

starring [SEVENTEEN] Joshua Hong, [BTS] Kim Taehyung with [OC] Jung Mia, and [BTS] Park Jimin genre Romance, Fluff, Friendship duration Vignette rating 15

.

Hanya ada sedikit perbedaan saja, kok, dalam cara mereka merayakan ulang tahun.

.

.

.

“Kamu yakin?”

Bukan tanpa alasan nada khawatir itu tersemat pada suara sang lelaki, selagi ia menggerakkan manik dengan cemas memandang jalanan di luar kafe. Salju sedang turun, tidak deras tetapi cukup untuk menandakan bahwa suhu telah turun beberapa derajat. Tambahkan fakta bahwa Mia tengah bersin di ujung sana, membuat Joshua merasa kalau ia harus membatalkan kencan hari ini.

Namun, sang gadis rupanya tak berpikiran sama.

“Yeah, I’m fine, Josh.” Jeda sejenak, dan seakan bisa membaca isi pikiran Joshua, Mia mengimbuhkan, “Dan jangan coba-coba membatalkan. Aku sudah di depan pintu kafe.”

Telepon terputus, Joshua mendongakkan kepala tepat kala pintu kaca kafe terbuka. Sosok gadisnya berdiri di sana; rambut panjang sepunggung terurai, syal putih dan coat marun tebal melengkapi. Hidungnya sedikit memerah, membuat tatap khawatir kembali hadir di manik Joshua selagi ia mengikuti pergerakan Mia yang tengah mendudukkan diri di hadapannya.

“Seharusnya—”

“Ini hanya karena udara dingin, Josh.” Mia memotong seraya tergelak kecil. “Lagi pula, aku diantar kakakku kemari. Sungguh, aku tidak apa-apa. Di dalam sini ‘kan, hangat. Tidak akan membuatku bertambah parah, kok.”

Menatap Mia yang sedang menjungkitkan sudut-sudut bibirnya, Joshua pun memilih untuk mengalah. Tidak ada gunanya memperpanjang perdebatan, dan ia sendiri juga tidak ingin merusak suasana di hari spesial ini. Maka, alih-alih berkomentar, ia pun memilih beranjak ke konter untuk memesan chocolate cake dan minuman hangat.

“You’re not angry, aren’t you?” Mia langsung bertanya kala Joshua sudah kembali duduk di hadapannya, berpandangan sejenak selagi kekasihnya itu mengulum senyum dan lekas menggeleng.

Just a little bit worry,” balasnya, jemari terulur untuk menyelipkan surai Mia ke balik telinga. “Seperti biasa, kapan aku tidak cemas kalau itu menyangkut dirimu? Tapi….”

“Tapi?”

“Aku percaya padamu,” jawab Joshua, kali ini bergerak untuk mengacak rambut Mia. “Kamu ‘kan, tidak suka membuat orang lain merasa khawatir. Jadi, aku tidak akan mendebat. Terlebih, hari ini harusnya dilewati dengan senyuman, bukan?”

Ucapan itu benar, dan Mia tak bisa menahan dirinya untuk tidak memberikan cengiran kecil. Terkadang, ia pikir, inilah salah satu keuntungan menerima Joshua sebagai kekasihnya. Lelaki itu memahaminya, tanpa perlu repot-repot berdebat atau berargumen lebih dulu. Yah, tidak selamanya sahabat berubah menjadi kekasih itu hal yang buruk, ‘kan?

Terlebih, karena fakta tadi juga sedikit memudahkan Mia dalam hal memilih kado untuk Joshua.

“Josh?”

Hm?”

Happy birthday,” ujar Mia langsung, membuka tasnya untuk mengeluarkan sebuah kotak berbentuk segi empat. Mengulurkannya ke arah sang lelaki, sementara Joshua malah mengerucutkan bibirnya tanda kecewa.

“Tidak ada basa-basinya dulu, nih?” gumamnya kecil, membuat Mia tergelak. “Sudah susah-susah kemari, seharusnya kamu memberikan ini setelah kita mengobrol dan—ah, benar! Pesanan kita bahkan baru mau diantar!”

Menolehkan kepala, Joshua melempar tatap ke arah salah satu waiter yang kini berjalan mendekati mereka. Meletakkan dua piring chocolate cake dengan hiasan buah stroberi di atasnya, serta dua cangkir teh hangat di hadapan Mia dan Joshua. Keduanya menunggu sampai pelayan itu pergi, sebelum kembali membuka mulut untuk melanjutkan konversasi.

“Biasanya juga langsung diberikan,” sahut Mia, berlagak ia akan mengambil kado itu lagi. “Atau perlu kuminta lagi dan kuulangi prosesnya?”

Joshua menggeleng cepat, tak berkata-kata kendati niatnya untuk sedikit mengerjai Mia itu masih ada di sana. Maka, bukannya mendebat, ia memilih untuk menaruh kado dari Mia di atas meja lebih dulu. Aksinya itu lantas dilanjutkan dengan mencondongkan tubuh ke arah sang gadis, menatapnya lekat sembari berkata, “Kupikir, setelah kita pacaran, akan ada yang istimewa. I guess I’m wrong, hm?

“Eh—“ Mia lekas menelan saliva, berdeham-deham kecil sambil mendorong bahu Joshua agar lelaki itu menjauh. “Happy birthday… my boyfriend?”

Dan Joshua pun seketika terbahak. Sukses membuat Mia langsung memasang tampang cemberut, kesal dan malu pada saat bersamaan. Sedekat-dekatnya ia dengan Joshua, terkadang ia masih bingung bagaimana harus bersikap di dekat lelaki itu. Perubahan status di antara mereka adalah penyebab utama; pemicu hadirnya detak jantung tak keruan, rona di wajah, dan kata-kata yang terbata.

Seperti saat ini misalnya.

Joshua jelas tahu kalau Mia merasakan semua hal itu, salah satu alasan mengapa ia senantiasa menggoda gadisnya. Seakan tak peduli, seolah menganggap bahwa reaksi Mia itu lucu. Bagaimana tidak, kalau lelaki itu kini berganti mengeluarkan sesuatu dari saku mantel biru tuanya sambil berujar, “Happy birthday, too, dear.”

Oh, ya ampun.

Bohong jikalau Mia berkata ia tidak nyaris tersedak mendengar kata-kata barusan, mata disipitkan tetapi fokusnya jelas teralihkan. Di hadapannya, terdapat sebuah wadah plastik datar yang berisi CD. Ada namanya dan Joshua tertulis di sana, memaksa kedua alis Mia untuk berjungkit naik sebagai respon.

“Ini apa?”

“Isinya lagu-lagu favorit kita sejak SMP,” jawab Joshua, menjelaskan. “Aku melakukan aransemen ulang, menyanyikannya dengan iringan gitar. Kupikir….”

“Kamu pikir?”

“Ada bagusnya juga, membuat kumpulan lagu seperti itu. Mengingatkanku akan waktu yang telah kita lalui bersama, akan saat-saat seperti ini. Ingat tidak, saat dulu kita pertama kali merayakan ulang tahun bersama?”

Mia mengiakan. Ia ingat persis bagaimana senyumnya dulu terkembang kala mengetahui bahwa ulang tahunnya dan Joshua hanya terpaut satu hari—tiga puluh dan tiga puluh satu Desember. Ia juga masih ingat bagaimana mereka berbagi kue hari itu, serta janji bahwa mereka akan selalu merayakannya bersama-sama. Tahun berlalu, dan tidak pernah barang sekali pun janji itu diingkari oleh salah satu dari mereka.

Thanks, Josh,” ucap Mia setelah beberapa sekon berlalu, tak bisa memungkiri kalau ia tersentuh dengan semua ini. “Dan maaf, aku hanya bisa memberimu kado itu. Sedikit tidak sebanding dengan pemberianmu, kurasa.”

Mendengar pernyataan itu, Joshua pun lekas menarik pita yang mengikat kotak kadonya. Mengangkat tutupnya, lalu mengeluarkan sebuah buku notes bersampul cokelat muda. Cukup tebal, dengan lembaran-lembaran kosong berwarna krem muda di dalamnya. Buku itu sederhana, tetapi dalam sekali lihat saja, Joshua bisa tahu apa maksud Mia memberinya kado itu.

Okay, then.”

Okay?

I’ll write many good songs and let you listen to them,” balas Joshua, mengedipkan sebelah mata sebagai tanda bahwa ia mengerti. “Thanks, Mia. Ini—“

“Maaf kalau—“

“Kenapa minta maaf lagi?” potong Joshua, senyum lebar terpampang. “Walau ini terlihat biasa saja, tapi aku tahu maksudmu. Terima kasih, karena dengan begini, aku selalu bisa mengingatmu di saat sedang membuat lagu, bukan?”

You’re being cheesy lately, you know?”

Tanggapan itu adalah tanda bahwa Mia tak lagi merasa cemas akan pemberiannya yang sederhana, sementara keduanya sama-sama tertawa. Tak lupa membiarkan tangan yang berada di atas meja saling bertautan, memberi sedikit kehangatan di tengah dinginnya penghujung tahun.

“Mia?”

“Ya?”

“Kurasa kita melupakan kuenya.” Joshua menunjuk dua piring di hadapan mereka, selagi Mia mengeluarkan suara ‘oh’ pelan disusul bersin kecil. “Atau kamu mau pulang seka—“

“Tidak, tidak.” Mia menampik, mendorong salah satu piring kue itu mendekat ke arah Joshua sebelum menambahkan, “Make a wish, Josh. Tradisi kita tetap harus berjalan.”

Satu tatap singkat, dan Joshua pun mengangguk mengerti. Kelopak keduanya lantas terpejam pada saat yang nyaris sama, diikuti dengan sebaris harapan dalam benak. Singkat saja, karena sepersekian menit kemudian mereka sudah kembali membuka mata dan menyerukan ucapan selamat makan. Tanpa banyak kata melahap hidangan manis yang tersaji, tak merasa perlu untuk menyuarakan harapan mereka. Karena, setelah sekian lama mengenal, keduanya hanya punya satu keinginan yang sama untuk setiap tahunnya.

Karena harapan mereka hanyalah…

.

.

…sebuah kesempatan untuk terus merayakan hari bahagia ini bersama-sama.

.

.

-o-

.

.

Hari bahagia.

Oh well, seharusnya, ini menjadi hari bahagia bagi seorang Kim Taehyung.

Mengedarkan pandang ke sekeliling kafe, Taehyung hanya bisa mengeluarkan gerutuan seraya memasang ekspresi sebal. Mengomel panjang-pendek, abaikan tatap ingin tahu dari beberapa orang di sekitarnya. Bagaimana tidak, ini adalah hari ulang tahunnya, tetapi ia terdampar di tempat ini seorang diri. Yah, salahnya juga sih, yang tadi berniat kemari demi makanan manis agar mood-nya membaik. Tapi, ‘kan—

“Aduh, kenapa juga harus ada tugas akhir yang belum selesai.”

Menggumam pada dirinya sendiri, Taehyung menatap laptop yang ia bawa dengan tatap menusuk. Oke, ia memang suka musik, dan belajar mengaransemen lagu selalu membuatnya bersemangat. Tetapi, ketika kata ‘aransemen’ itu dipadukan dengan embel-embel ‘tugas akhir’ yang mengharuskannya menyelipkan instrumen klasik, rasa-rasanya Taehyung ingin mengumpat saja. Menangisi nasib, lantaran realita tadi membuatnya tidak bisa ikut pergi liburan keluarga.

.

“…dengan begini, aku selalu bisa mengingatmu di saat sedang membuat lagu, bukan?”

 .

Yeah, benar.

Seakan belum cukup, silakan tambahkan sekelumit percakapan barusan ke dalam daftar kesialannya hari ini. Menggulirkan bola mata, Taehyung bisa melihat dua orang yang duduk di meja sebelahnya itu bertukar kata dan senyuman. Seorang gadis dengan syal putih dan coat marun, serta seorang lelaki dengan mantel biru tua. Agaknya mereka adalah sepasang kekasih yang sedang merayakan ulang tahun berdua, dan Taehyung sedikit iri akan itu. Bukan iri karena ia tidak punya pacar atau apa, melainkan—

Drrrt!!

 .

Ya! Kau di mana?

 .

Mengerjapkan mata, Taehyung menatap pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Nama Park Jimin tertulis di sana, si sahabat yang Taehyung tahu tengah merasakan beban penderitaan serupa. Melupakan segala keluh-kesahnya tadi, ia pun bergegas masuk ke dalam aplikasi chat dan mengetikkan pesan balasan untuk Jimin.

 .

.

Kafe dekat kampus. Tahu, ‘kan?

Sendiri?

Tidak. Aku baru saja dapat pacar sedetik lalu.

-_-

Aku akan ke sana.

.

.

Terkekeh, Taehyung memutuskan untuk tidak membalas pesan dari Jimin. Toh sebentar lagi mereka akan bertemu, dan mungkin Taehyung bisa mengajak Jimin untuk menyelesaikan tugas akhir sialan ini bersama-sama. Apa pun itu, Taehyung akan menerimanya dengan senang hati. Ia hanya butuh teman bicara saat ini, seseorang yang bisa mengalihkan perhatiannya sebelum suasana hati itu makin buruk.

Bisa dibilang, itu adalah harapan Taehyung untuk ulang tahunnya kali ini.

Mengetuk-ngetukkan jari di atas meja, sang lelaki memilih untuk kembali mengalihkan fokus pada tugasnya yang masih seperempat jadi. Tangan dengan sigap memungut earphone, lantas menyumpal kedua telinga untuk memblokir percakapan yang ada. Pasangan kekasih di sampingnya itu kini sudah beralih memakan kue mereka, dan Taehyung hanya bisa sepenuh hati berharap agar mereka tidak saling suap-suapan.

Sampai seseorang tahu-tahu meletakkan sebuah kotak berukuran cukup besar di meja yang ia tempati, diikuti dengan sebuah rangkulan bersahabat di pundak.

“Terlalu asyik mengerjakan tugas, huh?”

“Terlalu asyik sampai-sampai aku merelakan liburan,” balas Taehyung dengan penuh sarkasme, melirik Jimin yang kini sudah duduk di sampingnya tanpa permisi. “Kau sendiri?”

Um, setengah jadi. Yoongi Hyung membantuku—“

“Tidak adil!”

“—tetapi dia juga tidak ahli-ahli amat dalam musik klasik, jadi ia menendangku keluar dari studionya setelah satu jam berlalu.”

Penjelasan itu sukses menghilangkan kerutan di kening Taehyung, selagi lengannya terulur untuk menepuk-nepuk punggung Jimin dengan simpati yang dilebih-lebihkan. Spontan membuatnya mendapat hadiah toyoran singkat di kening, yang lantas dilanjutkan dengan gelak tawa membahana dari bibir keduanya.

“Omong-omong, itu apa yang kaubawa?”

“Oh.” Jimin memberinya cengiran lebar, meraih kotak itu mendekat sebelum menyorongkannya ke tangan Taehyung. “Untukmu.”

“Untukku?”

“Atau mau kuambil lagi, nih?”

Taehyung tak langsung menjawab, memilih untuk memandangi kotak di tangannya lekat-lekat lebih dulu. Dari label yang tertulis di sana, agaknya kotak ini berisi sebuah headphone—satu yang sering digunakan dalam membuat musik. Bukan benda yang murah, sehingga Taehyung hanya bisa mengerjap dan lamat-lamat memproses perkataan Jimin tadi.

“Untukku?”

“Aku tadi ‘kan, sudah bilang—“

Like, really? Kau memberiku kado ulang tahun?! Kau—”

Pada titik ini, Taehyung sudah nyaris menjerit dan—mungkin—akan melonjak-lonjak berkeliling kafe jika bukan karena tangan Jimin yang sudah berpindah ke atas pundaknya. Menahannya agar tak bergerak, selagi ia menambahkan, “Dan Minha, dan Yoongi Hyung juga. Itu kado dari kami bertiga, jadi jangan berharap kau akan mendapat yang lain lagi.”

Man!” Taehyung mengembuskan napasnya panjang-panjang dengan lagak dramatis, membuka kotak itu dengan tak sabaran dan mengeluarkan siulan nyaring. Tangannya meraih headphone berwana hitam dengan aksen merah gelap tersebut, jelas sekali bahwa  semua mood buruknya tadi telah lenyap tanpa bekas. “Ini keren, kau tahu? Sampaikan terima kasihku pada Yoongi Hyung dan Minha—“

“Dan aku?”

“Akan kutraktir secangkir cokelat, oke?”

“Kue juga, dong!” protes Jimin, sementara sahabatnya langsung menyetujui dan beranjak untuk memesan. Meninggalkan Jimin sejenak, sebelum akhirnya ia kembali dengan nomor meja di tangan.

“Akan diantar sebentar lagi,” ujar Taehyung, kembali mendudukkan diri dan mengamati hadiahnya dengan binar di mata. Seakan masih tak percaya, seolah mengira kalau benda itu akan hilang jika ia berpaling walau hanya sejemang. Tingkahnya itu berhasil membuat Jimin menggeleng-gelengkan kepalanya, sebelum akhirnya ikut mengeluarkan jeritan kaget kala Taehyung memeluknya erat-erat.

Ya! Kim Tae—“

“Kau itu sahabat terbaikku, kau tahu?”

“Tentu saja.”

“Aku menyayangimu, Park Jimin.”

Ugh, cheesy,” gerutu Jimin, sontak mendorong Taehyung menjauh sambil mengernyit. “Walaupun kita sama-sama sendiri di akhir tahun yang indah ini sementara adikku berkencan…” Jimin menggeleng-gelengkan kepalanya, memasang tampang horor, “…tapi kurasa sendiri lebih baik, Kim Taehyung.”

“Hei, aku hanya mengutarakan rasa terima kasihku, tahu!” Taehyung balik memprotes, merangkul Jimin lagi sambil menunjuk ke arah pelayan kafe yang berjalan mendekat. “Lagi pula, aku sudah membelikanmu kue dan cokelat hangat. Sama seperti para lelaki di kafe ini yang sedang berkencan dengan gadisnya.”

“Jadi, aku yang dapat posisi perempuan, nih?”

Hanya kekehan Taehyung yang terdengar kemudian, selagi Jimin memasang wajah cemberut tetapi memilih untuk memakan pesanannya yang baru diantar alih-alih melanjutkan perdebatan. Membiarkan Taehyung berceloteh panjang lebar soal bagaimana ia akan langsung menggunakan headphone itu untuk mengerjakan tugas, diikuti beberapa ocehan mengenai betapa buruknya nasib seorang Kim Taehyung sebelum Jimin datang tadi.

“Kau sendiri, kenapa memilih kafe yang sedang dipenuhi pasangan?” tanya Jimin setelah separuh jalan menghabiskan kuenya, menyadari bahwa meja Taehyung terletak persis di samping pasangan yang sedang tertawa dan bertukar kata-kata manis. “Menyiksa diri saat ulang tahun?”

“Yah, mana aku tahu kalau kafe ini banyak dikunjungi sepasang kekasih saat akhir tahun?” Taehyung mengedikkan bahu, kembali melempar pandang ke sekeliling kafe. Memang benar sih, kalau tadi ia terlihat menyedihkan. Duduk sendiri, tanpa teman kencan ataupun keluarga. Tetapi, setelah dipikir-pikir lagi, Taehyung sadar kalau bukan seorang kekasihlah yang ia butuhkan untuk menghadirkan senyum di hari bahagia ini.

Sahabatnya saja sudah cukup.

Dan kendati Taehyung tentu tidak mengatakan ini secara langsung—

“Jimin-a, habis ini, main ke PC bang, yuk!”

—satu anggukan dari sahabatnya itu cukup untuk membuat Taehyung menjungkitkan sudut-sudut bibirnya selebar mungkin seraya mensyukuri ulang tahunnya kali ini.

Lagi pula, apa bedanya merayakan ulang tahun dengan pacar atau dengan sahabat?

Asalkan ia merasa senang, hal seperti itu bukan masalah besar, bukan?

.

.

.

fin.

Happy Birthday my dear 95-liner friends, Kim Taehyung and Hong Jisoo!❤❤

2 thoughts on “[Vignette] A Bit Of Difference”

  1. MOOD di josh-mia tuh serius romantis gimana gitu begitu taehyung muncul bubrah semua ngakak banget yampun kamu dek :’
    iya, sendiri juga gapapa kok. ato mau kk temenin? /nah/
    HBD 95-liners di akhir tahunnn

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s