[VIGNETTE] Five Days

cover five days copy

Five Days

phiwonby’s present

Starring

BTS’s Kim Taehyung & OC’s Jinny

Genre: Romance, Friendship, Fluff, Birthday

Rating: PG-13

Duration: Vignette (2000+ words)

Lima hari terbaik untuk hari terbaiknya tahun ini.

26 Desember 2015

“Bukan apa-apa, Jinny. Aku baik-baik saja, kok. Sedang perjalanan ke hotel di Kobe, nih” suara berat Taehyung mengisi ruang kosong di apartemenku. Aku mengangguk-angguk mendengar jawabannya.

“Jangan lupa jaga kesehatan ya, Tae Oppa. Sebentar lagi kamu ulang tahun, loh!”

Terdengar suara tawa Taehyung, kemudian aku hanya mendengar suara bising dan rusuh, “Jinny, aku tutup dulu, ya” aku mendengar suara lirih Taehyung, nyaris tak terdengar. Aku hanya diam mendengarkan suara-suara bising lainnya, lalu Taehyung memutus telepon kami.

Aku menghembuskan nafas berat, lalu menatap layar ponselku yang bergambar fotoku dan Taehyung setahun lalu di hari ulang tahunnya. Berharap ulang tahunnya tahun ini berjalan baik-baik saja seperti tahun kemarin—meski aku tak bisa pergi bersamanya. Akhir-akhir ini aku mendapati BTS memiliki jadwal yang sangat padat dan sering mendengar Taehyung memberiku pesan seperti, ‘Jinny, maafkan aku karena aku lemah. Aku akan berusaha menjadi lebih keren di depan kamera’—um, pesan itu sengaja kuhapus karena aku tak suka.

Kling kling! Suara pemberitahuan pesan baru berbunyi di ponselku.

Dari: Teman berharganya Taetae

Taehyung sakit, Nuna. Kita membawanya ke rumah sakit karena Suga Hyung juga sakit. Dia bilang dia minta maaf karena tadi menutup teleponmu, dia berjanji akan menelponmu lagi besok.

“Apa ini? Aku baru saja berkata padanya untuk menjaga kesehatannya!” pekikku. Itu pesan dari Jimin yang meluncur beberapa menit setelah aku menelpon Taehyung tadi. Lima detik berikutnya ponselku berbunyi lagi, ada pesan baru lagi dari orang yang sama, Jimin.

Dari: Teman berharganya Taetae

Katanya jangan menghawatirkan dia, dia baik-baik saja. Biar kuberitahu rahasia ya, besok tanggal 30 Desember, BTS ada konser di sore hari, datanglah ke gedung agensi karena kami akan mengadakan pesta ulang tahunnya V. Aku akan menunggumu di depan gedung jam 6 pagi ya, Nuna. Nuna harus datang!

 

Aku menghembuskan nafas berat untuk kedua kalinya, kutuliskan balasan pesanku pada Jimin. “Aku tak akan datang, Jimin-ah. Tahun ini harus menjadi pesta BTS seperti ulang tahun member lain, aku tak mau disebut spoiler, tahu. Dan apa agensi tak memberi kalian waktu istirahat? Maksudku, kenapa kalian ada di gedung agensi di ulang tahunnya Tae Oppa? Bukankah Tae Oppa dan Suga Oppa di rumah sakit?” aku mengucapkan balasan pesanku pada Jimin.

27 Desember 2015

Hampir seharian penuh ini aku terus menghubungi Jimin dan member BTS yang lain untuk mengatur pesta ulang tahun Taehyung nanti. “Um, bukankah biasanya kalian merayakannya dengan membeli kue ulang tahun dan meniupnya bersama-sama? Apalagi sekarang kan ada aplikasi V yang—“

“Dia tidak mau pestanya diunggah dimanapun. Lucu, ya” potong Namjoon di telepon. Aku mendengus mendengarnya. “Lagipula, merayakan ulang tahun Taehyung bersama kekasihnya seperti tahun kemarin itu lebih menyenangkan bagi dia” suara Yoongi muncul dari seberang sana.

Aku tertawa puas, kemudian berkata, “Tidak, sungguh aku tak tertarik mengikuti pesta ulang tahunnya, Oppa. Kalian saja yang merayakannya!” jujur saja aku benar-benar menolak mengikuti pesta ulang tahun Taehyung tahun ini. Mendengarnya sakit bersama Yoongi sedangkan kelima member lain tetap tampil membuatku sakit hati dan ingin mereka bertujuh bersama selamanya—jadi aku tak mau menjadi orang ke-delapan di pesta ulang tahun Taehyung.

“Tidak mau. Pokoknya Park Jinny juga harus ikut!” paksa Yoongi. Kemudian aku mendengar suara dua orang berdebat dan kuyakini dua orang tersebut adalah Yoongi dan Namjoon. Aku hanya diam mendengarkan, hingga suara Yoongi kembali muncul, “Baiklah. Aku harus mengalah kali ini. Ya, kamu mau ikut atau tidak, itu keputusanmu. Yang jelas, Jimin akan menunggumu di depan gedung jam 6 pagi”

“Hei, itu namanya pemaksaan!” protesku. “Sama saja dengan aku harus mengikuti pesta itu, Oppa” tambahku, demi memperkuat pihakku sendiri.

“Jangan dengarkan Suga Hyung, Jinny-ah. Sudah, tutup saja teleponnya. Kamu pasti sedang sibuk. Dah!” suara Namjoon-lah yang kudengar terakhir kali sebelum lelaki itu menutup telepon kami duluan.

28 Desember 2015

Tidak biasanya jam 3 pagi aku bangun. Tentu saja aku tak akan bangun kalau ponselku tidak berdering keras menandakan ada telepon masuk. “Jadi bagaimana keadaanmu, Oppa? Kamu tahu kan, semua penggemarmu sangat-sangat-sangat menghawatirkanmu” kataku, sedang duduk di teras apartemen yang memerlihatkan pemandangan kota Seoul yang tak terlalu ramai di pagi buta ini sembari menyesapi teh hangat di tangan kanan dan ponsel di tangan kiri.

“Aku sudah sehat, Jinny. Apa kamu termasuk salah satu dari para penggemarku yang sangat menghawatirkanku? Seberapa besar?”

“Haha, tentu saja aku sangat menghawatirkanmu! Kamu dan member BTS yang lain pasti juga sudah melihat banyak sekali petisi-petisi tak jelas yang… ah lupakan.”

Terdengar helaan nafas Taehyung yang disambung dengan ucapan, “Aku jadi sakit hati…”

 

Kami sama-sama diam selama beberapa detik, hingga aku kembali berkata, “Syukurlah kalau Tae Oppa sudah sehat, yang penting Tae Oppa jangan menyerah dan harus selalu bekerja keras, kan? Aku, dan penggemar-penggemarmu menghawatirkanmu karena kami sayang padamu, tahu…” dan kurapatkan bibirku, rasanya tak tahu apa yang harus kukatakan lagi.

“Iya, Jinny. Aku juga sayang kamu, sayang A.R.M.Y semuanya, kok. Sudah dulu ya, aku mau latihan lagi” aku mengiyakan dan mengucapkan sederet kalimat yang selalu kuucapkan tiap kali kami berdua berbincang, yaitu,

“Jaga kesehatan selalu, aku menyayangimu, Oppa” dan kuputuskan sambungan telepon kami. Ini, pertama kalinya aku mengakhiri telepon kami—karena entah kenapa, biasanya Taehyung yang memutuskan telepon duluan.

29 Desember 2015

Tadi malam Taehyung mengunggah sebuah video di Twitter BTS bersama dengan caption yang menghangatkan hati. Aku tersenyum puas melihatnya, akhirnya dia meredakan kekhawatiran penggemar-penggemarnya. Semenjak ada berita Taehyung dan Yoongi sakit, beberapa teman dekatku yang sekaligus penggemar BTS selalu menghubungiku dan menganggu liburan akhir tahunku. Dan dengan video ini, aku memberi mereka semua pesan singkat yang berisi, “Nih, lihat. Dia benar-benar sudah sehat, tahu. Jangan ganggu aku lagi!”

Dan siangnya, Yoongi menyusul. Aku tak tahu apa maksud tulisan yang Yoongi sampaikan di Twitter, tapi intinya dia sudah sehat seperti biasanya. Dan sore ini BTS menghadiri acara di SBS. “Mereka benar-benar sudah sehat, Je Ah Unni~” suaraku terdengar seperti rengekan anak kecil yang ditinggalkan ibunya di bandara.

“Terus kenapa dengan wajah pucatmu itu? Aku benar-benar masih tak yakin dengan apa yang kamu sampaikan” sahut Je Ah, teman dekatku.

Aku mengerang panjang, lalu membalas dengan, “Kamu sendiri kenapa tidak menghubungi Yoongi Oppa sendiri?” tanpa menjawab pertanyaannya. Aku merasa sedikit tak enak badan, tapi aku tak mungkin sepucat yang Je Ah lihat.

“Dia mengeluh padaku, Jinny. Dia sama sekali tak mau berakting bahwa dia baik-baik saja seperti V atau seperti tulisannya di Twitter yang mengatakan bahwa dia baik-baik saja, sungguh. Jadi aku masih tak mau percaya kalau mereka benar-benar baik-baik saja” jelasnya panjang.

Kuletakkan secangkir teh hangat di meja depan kami berdua, lalu duduk di sebelah Je Ah. Aku merangkulnya erat dan berkata, “Itu sih salahmu, karena mau menjaga rahasia dan enak diajak curhat” dengan nada mengejek. Je Ah mencubit pinggangku, dan membuatku tertawa puas.

“Oh, ya. Katanya besok kamu ikut pesta ulang tahunnya V, ya!” seru Je Ah.

“Yoongi Oppa hanya berbohong, jangan percaya padanya lagi.” Timpalku dengan nada sebal. “Aku tidak ikut pesta kok, tahun kemarin itu aku cuman menghancurkan pestanya, jadi aku tak mau mengulanginya lagi” tambahku.

Je Ah terkekeh mendengar perkataanku, “Ikut sajalah~ kapan sih terakhir kamu dan Taehyung bertemu? Sudah hampir setahun yang lalu, tahu! Kapan lagi kamu bisa bertemu dengannya kalau bukan besok, hm?” apa Je Ah sedang menggodaku? Aku rasa begitu.

“Aku serius, Je. Aku hanya mengalah pada BTS, tahu?”

“Sampai kapan kamu mengalah?”

“Hentikan, Je.”

“Bagaimana bisa aku berhenti memintamu bertemu dengan Taehyung? Aku hanya berfikir bahwa kamu juga harus bertemu dengannya dan berbincang sedikit, itu akan meng…”

Aku melepas rangkulanku padanya, dan melangkah pergi ke dapur—enggan mendengarkannya lagi. Je Ah memandangi punggungku yang dibaliknya tampak sibuk membuat sesuatu. “Aku juga tak tahu kenapa aku selalu mengalah, Je. Tapi aku selalu merasa ini yang terbaik. Kamu sendiri tahu kan rasanya berpacaran dengan artis? Sebanyak mungkin menghindari pertemuan” aku mengatakan itu sambil menuangkan gula sesendok teh ke dalam air putih di dalam gelas kaca.

“Maafkan aku, aku mungkin mengacaukan hatimu” ucap Je Ah lirih, masih duduk di sofa empuk lengkap dengan meja dan teh hangat yang masih utuh dan televisi yang menyala, menampilkan acara khusus wanita yang sama sekali tak terlirik—atau jangan-jangan televisi itu sedang menonton kami berdua. “Tengah malam, ucapkan selamat pada V seperti biasanya. Datanglah ke pesta itu meskipun sebentar, itu saranku, Jinny”

30 Desember 2015

Tepat pukul 1 malam, aku bangun karena mendengar suara jam alarm yang sudah kuatur untuk membangunkanku pukul 1 malam. Aku menyalakan lampu kamar dan mengambil ponsel yang tergeletak di meja riasku. “Lima panggilan?” gumamku, melihat ada 5 misscall di ponselku satu jam yang lalu, dari Taehyung. Aku tersenyum tipis, lalu membuka kelima pesan suara yang menggantikan masing-masing misscall.

“Jinny, umurku sudah 21 sekarang! Kamu pasti sedang tidur, jadi aku tak akan menganggu tidurmu yang nyenyak itu lagi” – pesan suara 1.

“Jinny, semua member sedang mengunggah foto wajah derp-ku, sedangkan aku hanya mengunggah foto masa kecilku. Apakah aku tampak berbeda dari tahun kemarin? Tentu saja, aku lebih tua hari ini, dan aku akan menjadi lebih dewasa sekarang” – pesan suara 2.

“Jinny, hari ini ada konser, dan mulai pagi aku akan berlatih bersama member seperti biasanya. Kemarin aku mengatakan pada semua orang kalau aku baik-baik saja, saat konser di SBS. Aku berjanji akan menjaga kesehatanku seperti setiap pesan yang kamu berikan padaku” – pesan suara 3.

“Jinny, aku minta maaf, tapi aku harus mengatakan ini padamu. Aku… merindukanmu. Aku merasa sangat tidak romantis dan tidak pantas untukmu, tapi aku tahu kamu tak akan merasa seperti itu. Tapi jangan khawatir, kamu akan selalu ada dihatiku meski kita jarang bertemu. Selama ini, kamu baik-baik saja, kan?” – pesan suara 4.

“Jinny, pukul 1 lebih 15 menit nanti, aku akan menelponmu. Oh iya, kamu tak perlu datang ke pestaku nanti. Aku sudah bilang ke Jimin untuk tidak menunggumu di depan gedung agensi, karena aku tadi sudah bilang kan, aku akan latihan seperti biasa mulai hari ini. Dah, Sayang!” – pesan suara 5.

Aku tak berhenti tersenyum dan lupa cara menurunkan senyuman. Kulirik jam digital di ponsel, “Jam 1 lebih 15, mana?” gumamku. Dan tepat setelah aku menutup mulutku, ponselku berdering, tanda ada undangan video call. Aku menekan tombol angkat, sudah siap dengan senyuman termanisku—tidak juga, sebelum aku melihat wajahku sendiri di layar, “Ah, tunggu sebentar, Oppa!” teriakku sambil melemparkan ponselku ke kasur dan lari ke kamar mandi untuk membersihkan muka.

Semua gadis korea tak suka diperlihatkan wajahnya saat bangun tidur, bukan? Aku termasuk salah satunya, tentu saja. Aku hanya membilas wajahku dengan air hangat dan kembali ke kamar dan mengangkat ponselku, tampak wajah Taehyung dengan pancaran cahaya kecil dari sebelah kanannya, sepertinya lampu tidur. “Sudah selesai?” tanyanya.

Aku menertawai diriku sendiri, lalu mengangguk. “Taehyung Oppa, selamat ulang tahun!!!” teriakku dengan keras dan penuh kehebohan. Taehyung hanya tertawa-tawa melihatku yang melompat-lompat diatas ranjang dan berteriak-teriak. “Ah, aku lelah…” aku berhenti setelah sekitar 30 detik melakukan hal konyol itu.

“Sudah selesai?” tanyanya lagi.

“Memangnya kenapa? Apa yang mau Oppa katakan?” aku menanyai balik sembari duduk di tepi ranjang.

Taehyung mengangguk, “Dengar, ya. Aku sudah memaksa manajerku untuk membiarkanku pergi sendiri di malam tahun baru! Dan aku akan mengajakmu ke suatu tempat! Bagaimana?” giliran Taehyung yang bertingkah heboh kepada layar.

“Tempat dimana? Apa ada kamera tersembunyi di sana?”

“Tidak ada, Jinny. Aku berjanji kamu tak akan menjadi berita trending lagi di Korea, oke? Kita akan melihat kembang api dari sana, pasti terlihat. Mau, kan?” ia terus meyakinkan diriku untuk ikut pergi bersamanya.

“Hm, baiklah. Tapi, apa kalian tidak latihan, atau mengikuti acara? Jangan-jangan Tae Oppa membuat manajermu menghapus salah satu acara yang akan dihadiri BTS, ya?” tuduhku.

“Tidak ada, sungguh!”

 

“Atau BTS akan jalan-jalan sendiri juga?”

“Kalau itu sih benar” jawab Taehyung. “Tapi aku juga sudah minta izin ke member kok, mereka semua menyetujui kalau aku dan kamu pergi nanti! Terdengar menyenangkan, bukan?”

Aku memandangi ekspresi wajahnya yang sangat gembira, tapi aku tak bisa mengikuti betapa cerianya wajahnya. Aku memaksakan senyumanku, berfikir sejenak. Kemudian berkata dengan pelan, “Tapi Oppa, apakah kamu tidak mau jalan-jalan bersama membermu? Aku rasa itu lebih menyenangkan bagimu”

Taehyung menurunkan senyumannya. “Sebelum kita jalan-jalan, aku ikut member jalan-jalan, kok. Jadi jangan khawatir, aku masih meluangkan waktu dengan mereka, karena jujur aku juga harus punya waktu jalan-jalan bersama BTS! Tapi yang paling penting adalah bersamamu!” ia tersenyum lebar lagi.

“Baiklah, aku akan pergi bersamamu malam tahun baru nanti!” aku akhirnya memutuskan. Taehyung bersorak gembira, akupun mengikutinya. “Oh iya, maaf aku tidak membeli kue dan kado untukmu, Oppa” ucapku, membuat sorakannya berhenti.

“Yang penting aku bisa melihatmu, Jinny. Dan ingat ya, jangan pergi ke gedung agensiku nanti! Jangan ikut pesta!” Taehyung menekankan bagian terakhir kalimatnya. Aku mengangguk mengerti.

“Iya, pesta nanti adalah milik BTS, aku tak akan menghancurkannya, kok” kataku.

“Hei, apa katamu milik BTS? Tak akan ada pesta hari ini! Aku tak mau merayakan ulang tahunku dengan pesta bersama member, kami harus latihan dengan keras apalagi setelah aku sakit ini aku jadi sedikit melemah, hhh…” terdengar helaan nafas Taehyung di akhir.

“Apa? Jadi nanti tak ada pesta?” ulangku, Taehyung mengangguk-angguk. “Tunggu, bagaimana Oppa bisa tahu kalau nanti ada pesta? Jimin bilang pesta ini adalah pesta kejutan” tukasku.

“Bagaimana bisa di hari ulang tahun member tidak ada pesta? Aku tahu pasti ada pesta, tapi aku sudah katakan pada mereka untuk tidak mengadakan pesta nanti, kami harus kembali bekerja keras” jelas Taehyung.

Oppa, berjanjilah padaku untuk menghubungiku ketika kamu lelah, oke? Aku akan siap dengan berbagai hal yang akan membuatmu semangat lagi, tentu saja selain apa yang telah dikirimkan penggemar padamu” entah dirasuki roh macam apa, aku mengatakan hal itu begitu saja. “Um, bagaimana?” tanyaku kemudian, meminta persetujuan Taehyung.

Taehyung tertawa, lalu mendekatkan jarinya ke kameranya, “Kamu sangat lucu, Jinny. Aku bukan Suga Hyung yang selalu mengeluarkan seluruh keluhannya kepada kekasihnya, mengerti?”

 

“Um, sebenarnya aku juga tidak bermaksud menyuruhmu menirukan gaya Yoongi Oppa pada Je Ah, sih…” tuturku, lirih. Kemudian terdengar suara gaduh dari tempat Taehyung, dan tiba-tiba ruangan Taehyung menyala terang, Taehyung tampak memperhatikan sesuatu. “Oppa pasti sedang ingin beristirahat, sudah dulu, ya!”

“Sebentar!” teriak Taehyung, lalu meletakkan ponselnya dan menghilang entah kemana. Tak lama kemudian ia kembali, menyandarkan ponselnya pada sesuatu, ia sedang berada di hadapan meja kecil bersama dengan sebuah kue kecil lengkap dengan lilin kecil. “Ayo rayakan ulang tahunku sekarang!” serunya.

“Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, untuk Oppa-ku tercinta, selamat ulang tahun!” aku menyanyikan lagu ulang tahun dan Taehyung memejamkan matanya, seolah sangat serius mendengarkan suaraku. “Mulai sekarang Oppa harus semakin keren, oke?”

“Dengan senang hati, Jinny!” balas Taehyung yang sudah membuka matanya dan menatap lilin yang sudah ia nyalakan. “Sekarang, ayo kita membuat harapan!”

“Ini ulang tahunmu jadi hanya Oppa yang—“

“Ini tradisi kita mulai sekarang, oke? Satu, dua, tiga!” tiba-tiba saja Taehyung memberi aba-aba dan memejamkan matanya, dengan kedua tangan yang saling mengenggam, ia mengikrarkan harapannya dalam batin. Aku tersenyum, lalu ikut memejamkan mata dan membuat harapan.

Aku berharap Taehyung berhenti mengatakan bahwa dia lemah. Karena dia tak sadar bahwa sebenarnya dia adalah lelaki yang sangat kuat, dengan seluruh tingkah lucunya dan semua senyumannya yang menyapa sekaligus menyatakan bahwa, ‘Aku harus menikmati setiap momen dalam hidupku’. Dia, sekuat itu.

End

A/N:

WOHOOOOO udah lama gak ngepos di IFK T_T dan kalian pasti gak kenal siapa aku :’D aku manusia termuda di IFK (apa aku masih memegang gelar termuda disini? ._.) dan jarang ngepos karena udah fokus UAN :’) tapi karena lagi kesambet sretete(?), aku bikin fanfict ini spesial buat biasku di BTS, V🙂

Sebenernya… sebenarnya… bukan ini fanfict yang mau aku pos T_T aku udah buat fanfict lain dan aku mere-write-nya 3 kali dan akhirnya aku memutuskan untuk membuat fanfict baru dan inilah fanfict baru tersebut :’D

Selamat ulang tahun, ultimate bias-ku :* Meskipun dia bilang dia udah sehat pasti masih ada capeknya :’3 semangat ya buat BTS Oppadeul yang lagi dilanda masalah! Akhir tahun kalian harus menyenangkan!

Dan jangan lupa mampir ke blogku ya kak di sini

Untuk tahu keadaan BTS sekarang silahkan klik disini!

2 thoughts on “[VIGNETTE] Five Days”

  1. Baper baper baper baper baper.
    Iyaaaa ku juga sedih pacarku (re: tehyong) tiba-tiba sakit begitu kemarin. Mana video di twitter yang bilang dia baik-baik aja tapi masih keliatan pucet gitu :”( nggak percaya dia udah sepenuhnya sehat :”( tapi seenggaknya perform dia yang masih powerfull(?) di gayo daechukjae kemarin sempet bikin lega sih. Tapi kembali sedih karena nggak ada namjun di sana ㅠㅠ

    Apalah ini jadi curhat.

    Sekian, terima kasih/?

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s