[Ficlet-Mix] 3 O’ Clock

3 o'clock-poster

Judul: 3 o’clock

Scriptwriter: Candrachan233 / Chan

Cast:

  • Hong Jisoo (SEVENTEEN) x Yoon Bomi (APINK)
  • Yook Sungjae (BTOB) x Kim Sohyun (Actress)
  • Nam Woohyun (INFINITE) x Son Dongwoon (BEAST)

Genre:

  • Comedy, Slice of Life
  • Romance, Hurt, Friendship
  • Friendship, Angst, Family, Supranatural, Sci-fi

Duration: Ficlet-mix

Rating: General

“Pukul tiga, dini hari, dan aku selalu terjaga.”

#1

Tik tik tik

Kulihat jam yang bertengger manis di dinding kamarku. Pukul tiga dini hari. Sudah beberapa hari ini aku selalu terjaga pukul tiga dini hari. Jika kalian tanya mengapa, jawabannya adalah aku tak tahu. Entahlah, kenapa juga aku bisa bangun jam segini, biasanya aku akan selalu terbangun pukul 6 pagi nanti. Ah sudahlah, lebih baik aku kembali merajut mimpi indahku bersama Bomi sunbae.

Hong Jisoo.”pipi Bomi sunbae tampak bersemu merah saat mengucapkan namaku. Ah, manis sekali.

“Ya, sunbae?” kutatap Bomi sunbae penuh perhatian. Hey, kenapa ia makin mirip seperti ibuku? Oh tuhan, yang benar saja.

“HONG JISOO!!” hey, bahkan suaranya pun mirip ibuku.

“HONG JISOO!!” kubuka mataku perlahan. Kubiasakan netraku dengan temaram cahaya lampu kamarku. Kulangkahkan kakiku menuju pintu dengan malas.

“Ada apa sih bu? Pagi-pagi begini,” ucapku dengan mata setengah tertutup.

MWO?! Pagi?! Ya ampun, Hong Jisoo kau pikir pukul berapa ini?”

“Ehm, pukul 3 pagi,” kataku malas.

“Demi Tuhan Hong Jisoo! Ini sudah pukul setengah 7! Sudah berapa kali ibu katakan baterai jam dindingmu itu harus diganti!” teriakan membahana ibuku membuatku sadar sepenuhnya.

“Astaga ibu! Kenapa ibu baru bilang!” aku langsung membanting pintu kamarku untuk langsung bersiap berangkat ke sekolah, persetan dengan teriakan ibuku yang sudah membahana diseluruh rumah. Lupakan juga fakta bahwa aku belum mandi.

——————————————————–

#2

Kulangkahkan tungkaiku menuju danau tak jauh dari rumahku. Kulihat sekeliling, sudah dini hari rupanya. Sesampainya aku di danau, kulihat sebuah siluet yang sangat kukenal.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku begitu berdiri disampingnya.

“Ah, kau Sohyun,” ia menglihkan atensinya padaku, “Tak ada, hanya menikmati indahnya pemandangan danau ini,” atensinya kembali pada danau yang sebenarnya tak begitu terlihat karena bulan sepertinya agak malas menunjukkan sinarnya.

“Hey, bukankah kau akan segera menikah?” tanyaku lagi.

“Mmm, terus kenapa?”

“Hey!” kupukul bahunya keras,”Kau tak khawatir Putri Krystal akan mencarimu?”

“Itu sakit tau!” protesnya sambil mengelus bahunya penuh sayang,”Tenang saja ia tak tahu.”

“Sungjae,” panggilku.

“Apa?”

“Kau mencintainya?” ia mengernyit heran padaku, “Maksudku, apa kau yakin mencintainya? Kalian kan belum lama mengenal.”

“Tentu saja,” Sungjae tersenyum,”Kau tahu? Sebenarnya, kami sudah sering bertemu sewaktu kecil. Ayahnya, Raja Julian sering mengajaknya ikut serta saat berkunjung ke kerajaan kita,” tak kudengarkan lagi kata-kata Sungjae tentang Krystal. Hatiku mencelos begitu mendengar kenyataan bahwa Sungjae ternyata sudah menyukai, ah bukan mencintai Putri Krystal sejak ia kecil. Hey, ia bahkan sebelumnya tak pernah bercerita kalau ia pernah bertemu Putri Krystal. Padahal kami sering bermain bersama dulu. Oh jangan tanya kenapa Sungjae yang seorang pangeran bisa berteman denganku yang seorang gadis kampung. Ibuku dulu adalah salah seorang pembantu di istana, aku sering ikut ibuku bekerja. Disanalah aku bertemu Sungjae. Ia sangat ramah kepadaku yang hanyalah seorang anak seorang pembantu, ia bahkan mengajakku berteman. Sejak ibuku meninggal, aku tak pernah lagi menginjakkan kakiku di istana. Oh, kalian tentu bingung kenapa aku bisa tetap berteman dengan Sungjae, bukan? Baiklah, saat kami beranjak remaja, Sungjae mengunjungi pasar tempat ayahku biasa berjualan buah-buahan, tentu saja aku ada disitu memantu ayah. Ia melihatku sedang sibuk berjualan dan menyapaku. Kurasa, itulah awal pertemanan kami kembali setelah ibuku meninggal. Entah sejak kapan kurasa aku mulai menyukainya, ah bukan mencintainya.

“Sohyun? Hey Sohyun,” Sungjae melambaikan tangan didepan wajahku yang membuatku sadar seketika.

“Oh, ada apa?”

“Kurasa aku harus kembali, matahari mulai menyingsing,” katanya seraya melihat ufuk timur, “Oh ya, maaf sebelumnya. Kurasa kita akan jarang bertemu kembali seperti ini, kau tahu banyak yang harus kuurus bersama Krystal,” ujarnya sembari mengedipkan mata.

“Oh tentu saja,” aku memutar bola mataku malas, “Lakukan tugasmu dengan benar, jangan sering-sering bolos.”

“Tak akan, karena akan ada Krystal bersamaku,” ucapnya yang membuat hatiku kembali mencelos, “Datanglah ke pesta pernikahanku lusa, oke? Kau harus datang, aku ingin memperlihatkan kepada semuanya bahwa kau adalah sahabat terbaikku,” ucapnya semangat. Sahabat terbaik katanya. Sungjae, seperti itukah aku dimatamu? Hanya sebagai sahabat?

“Baiklah baiklah, sana! Cepat pergi!” kupaksakan diriku tersenyum untuknya.

“Aku pergi,” ia melambaikan tangannya semangat, kemudian pergi menjauh.

Aku hanya terdiam melihat punggungnya yang mulai menjauh. Yah mungkin selamanya aku hanya akan menjadi sahabat di matanya. Berbahagialah bersama Krystal, karena aku akan selalu mencintaimu Sungjae.

—————————————————-

#3

“Hey, Nam Woohyun, istirahatlah,” Dongwoon terus memanggil Woohyun yang sedang asyik berkutat dengan berbagai peralatan canggihnya.

“Tidak sebelum alat ini selesai,” Woohyun menyahut tanpa melihat Dongwoon.

“Ayolah Nam Woohyun. Lihat kantung matamu itu! Kau sudah tidak tidur selama berhari-hari. Paling tidak tidurlah barang sebentar. Lagipula, orang bodoh mana yang terus bekerja, bahkan hingga dini hari sepertimu!”

“Tak bisakah kau diam? Kau tau ini adalah proyek kita berdua,” Woohyun akhirnya mengalihkan atensinya pada Dongwoon.

“Itu sudah lama sekali Woohyun. Lagipula, kau tahu kan kalau proyek mesin waktu kita ini dilarang karena dapat mengubah sejarah?”

“Meskipun begitu, aku tetap ingin menyelesaikannya!” Woohyun bersikeras.

“Untuk apa? Kau masih ingin pergi ke masa lalu untuk mencari ibumu? Sadarlah Nam Woohyun! Ibumu sudah membuangmu!” ucapan Dongwoon sontak membuat Woohyun naik pitam, terlihat dari buku-buku jarinya yang memutih, “Apa? Kau ingin memukulku? Pukul saja! Toh kau tak mungkin bisa memukulku!” Dongwoon melayang-layang di depan Woohyun. Oh, apa kalian bingung dengan sosok Dongwoon sesungguhnya? Ia sebenarnya sudah menjadi, ehm hantu. Ia meninggal 2 tahun yang lalu akibat kecelakaan.

“Diamlah!” Woohyun menutup kedua telinganya, berusaha tidak mendengar kata-kata Dongwoon.

“Apa  yang akan kau lakukan saat bertemu ibu kandungmu nanti Nam Woohyun? Memintanya agar tidak membuangmu? Oh tentu saja ia akan menganggapmu sebagai orang gila yang mengaku-ngaku sebagai anaknya dari masa depan, lagipula tidakkah kau merasa bersyukur dengan keluarga angkatmu saat ini? Mereka sudah membesarkanmu dengan penuh kasih sayang.”

Tidak ada makian apapun yang keluar dari mulut Woohyun. Hanya suara denting jam yang terdengar. Pukul 3 dini hari, sudah 10 menit sejak Dongwoon mengeluarkan kata-katanya tadi. Woohyun hanya diam menatap lantai, sepertinya ia sedang memikirkan kata-kata Dongwoon.

“Kau tahu alasanku melanjutkan proyek ini?” tanya Woohyun setelah terdiam cukup lama.

“Bertemu ibumu?”

“Awalnya iya, namun setelah kehilangan dirimu 2 tahun lalu, aku sadar bahwa aku telah menyia-nyiakan sesuatu yang sangat berharga,” Woohyun kembali terdiam, “Dirimu, sahabatku.”

Kini ganti Dongwoon yang terdiam. Ia tak menyangka Woohyun menganggapnya begitu berharga. Selama ini, bahkan keluarganya pun tak mengganggap Dongwoon ada. Di keluarga angkat Woohyunlah Dongwoon justru mendapatkan kasih sayang.

“Aku ingin kembali ke masa lalu, kau tahu karena kenangan selalu lebih indah dari apa kujalani sekarang. Aku terlalu takut menghadapi dunia yang berbeda. Aku takut pada perubahan,” Woohyun menatap Dongwoon rindu. Oh bukan karena apa, ia terlalu merindukan sosok “asli” sahabatnya.

“Kau tahu? Akhirnya sekarang aku mengerti kenapa aku terjebak disini,” Woohyun hanya menatap lurus Dongwoon seolah meminta jawaban atas pernyataannya tadi, “Karena sikapmu ini, kau tak merelakanku pergi, biarkanlah aku pergi dengan tenang Nam Woohyun.”

Woohyun kembali terdiam. Ia menutup matanya, cukup lama hingga membuat Dongwoon nyaris bosan. Akhirnya, Woohyun membuka matanya sembari tersenyum.

“Baiklah, aku merelakanmu pergi Son Dongwoon. Maafkan atas sikap pengecutku ini, kuharap kau tak menyesal pernah berteman denganku,” ucapan Woohyun membuat Dongwoon tersenyum.

Dongwoon menggelengkan kepalanya, “Tidak menyesal sama sekali, nah sekarang selamat tinggal Nam Woohyun,” perlahan sosok Dongwoon mulai menghilang dari hadapan Woohyun.

Setelah itu, hanya tinggal Woohyun sendiri didalam lab canggih itu. Dilangkahkannya tungkainya menuju pintu keluar.

“Woah, akhirnya neotrain mulai dioperasikan,” Woohyun memandang kagum pada kereta listrik yang sedang berlalu lalang menghiasi langit malam Metroseoul, “Hm Dongwoon benar, sudah lama sekali aku tak menikmati keadaan luar seperti ini,” Woohyun tersenyum sembari melihat-lihat keadaan Metroseoul yang tak pernah tidur, “Terima kasih Son Dongwoon, dan selamat jalan.”

Pukul 3 lewat 30 menit dini hari. Nam Woohyun kembali kehilangan sosok Son Dongwoon. Namun kali ini ia tak lagi menangis, ia tersenyum, berharap Dongwoon dapat tenang disana.

—————————————————

Halo, readers ifk! Sebenarnya ini fic yang aku bikin untuk IFK’s 4th Fanfiction Contest! Yah berhubung fic ku ini gak masuk nominasi dan atas desakan temanku yang itu……iya yang itu, jadi aku memutuskan untuk mengirimkan kembali fic gagalku ini jadi freelance movie muehehehe…

So, mind to review?

2 thoughts on “[Ficlet-Mix] 3 O’ Clock”

  1. Wah~ ku juga sempat mau ikutan 4th event ifk kemarin. Sempet pengen ngambil prompt yang ini juga. Tapi karena waktu itu lagi sibuk, nggak sempet-sempet buat nulis, jadi nggak jadi(?). /jadi curhat/
    Well, pertama, ngakak ternyata jamnya rusak 😂 nggak nyangka banget bakal plot twist macem itu. Kirain bakal ada sesuatu yang bikin setiap jam 3 Jisoo jadi bangun, taunya jamnya rusak 😂
    Kedua, itu apa-apaan kok sohyunnya miris(?). Dari awal udah kebawa suasana who are you 2015, jadi sempet kena plot twist juga karena ternyata sohyun cuma anak selir 😂
    Ketiga, tolong itu baper banget :”)) dah aku mah kalo jadi woohyun tetep nggak mau relain dongwoon pergi(?)😢

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s