[Ficlet-Mix] Our Own Fireworks

a8e44ede6ca9e000

a movie by tsukiyamarisa

starring [BTS] Jung Hoseok, Park Jimin, and [GOT7] Choi Youngjae with [OCs] Jung Mia, Park Minha, and Choi Lula genre Family, Hurt/Comfort, Fluff duration Ficlets rating G

.

Karena aku tidak butuh kembang api, tapi aku butuh senyummu.”

.

.

.

Mia bingung.

Bocah berumur lima tahun itu hanya bisa duduk diam di sofa, ingin sekali pergi keluar tapi tak bisa. Padahal ini malam tahun baru. Mia ingin sekali mengajak kakak angkat dan keluarga barunya pergi bermain kembang api. Suatu permohonan yang sudah ada di dalam dirinya sejak dulu, tapi tak pernah bisa terkabul selama ia hidup di panti asuhan. Membeli kembang api itu butuh uang, dan Mia bukan anak egois yang akan memaksakan kehendaknya.

Begitu pula halnya dengan saat ini.

Walau amat ingin merengek, tapi Mia memilih diam. Mematuhi ucapan ayahnya dan Kak Hoseok yang memintanya untuk menunggu, sementara mereka berdua masuk ke dalam kamar tidurnya dan tak mengizinkan Mia mengintip. Sukses membuat gadis itu penasaran, kedua kaki terayun-ayun dengan penuh rasa tak sabar.

Sampai akhirnya derit pintu itu terdengar, diiringi dengan suara Hoseok yang ceria dan penuh semangat. Entah apa yang membuatnya sesenang itu setelah beberapa jam mengurung diri di dalam kamar Mia, selagi sang ayah menepuk kepala anak lelakinya dengan raut bangga.

“Mia!”

Menoleh cepat, Mia mendapati Hoseok yang kini berjalan melonjak-lonjak ke arahnya. Lengkap dengan sudut-sudut bibir berjungkit naik, serta sebelah tangan yang terulur. Mengajak Mia untuk bangkit berdiri, jemari saling bertautan selagi mereka berjalan bersisian menuju kamar gadis itu.

“Kak Hoseok?”

Hm?

“Kamar Mia memang diapakan?”

Hoseok tergelak sejenak, mengayun-ayunkan tangan mereka yang masih saling menggenggam. “Mia mau tebak dulu sebelum kita masuk?”

Mmm… aku tidak pintar menebak, Kak. Memang ada apa—”

“Kakak tahu kalau Mia ingin bermain kembang api,” ujar Hoseok tiba-tiba, memotong ocehan Mia dengan ekspresi malu di wajah. “Tapi…”

“Tapi?”

“Tapi Kakak tidak suka kembang api,” lanjut Hoseok, sementara Mia membulatkan kedua mata dan terlihat sedikit bingung. “Mia tahu kenapa?”

Satu gelengan singkat dari Mia.

“Karena kembang api suaranya mengerikan setelah dinyalakan,” gumam Hoseok lirih, bibirnya dimajukan tanda ia benar-benar tidak suka dengan suara letusan yang ada. “Dulu, aku pernah mencoba bermain sekali dan aku benar-benar terkejut.” Hoseok melanjutkan, telapak tangannya diletakkan di atas dada dengan mimik berlebihan. “Dan kembang api yang tidak bersuara juga sama saja, panas dan aku tidak suka.”

Mendengar semua itu, Mia hanya mengangguk-angguk kecil. Kendati ia masih sedikit penasaran dan ingin mencoba bermain kembang api, tetapi ia tidak berkata apa-apa. Sebaliknya, Mia hanya menatap Hoseok dengan sorot ingin tahu, membiarkan kakaknya itu mendorong pintu kamar hingga terbuka.

“Jadi, sebagai gantinya, Kak Hoseok buatkan kembang api di kamar Mia saja, ya?”

Bersamaan dengan terlontarnya kata-kata itu, Mia mengerjapkan kelopaknya berulang kali. Tak percaya, karena kedua pupilnya baru saja melihat perubahan besar pada salah satu sisi dinding kamarnya. Sisi yang tepat berseberangan dengan kasurnya, tak lagi putih bersih melainkan dipenuhi cipratan cat warna-warni yang terlihat indah dipandang mata.

Waaaah!”

“Kamu suka?”

“Kamar Mia jadi warna-warni!” seru Mia girang, meloncat-loncat hingga genggaman tangan mereka terlepas. Namun, sebagai gantinya, gadis kecil itu bergerak untuk memeluk sang kakak erat-erat. Jelas sudah lupa akan keinginannya bermain kembang api di luar rumah, memilih untuk mengagumi tembok kamarnya tanpa henti.

“Kembang api yang ini juga lebih tahan lama, lho,” imbuh Hoseok setelah beberapa jenak berlalu, diikuti anggukan mantap adiknya. “Mia suka dengan kadonya?”

“Kado?”

“Hari ini ‘kan, Mia ulang tahun.” Hoseok mengingatkan, mencubit pucuk hidung sang adik dengan gemas. “Selamat ulang tahun. Dan selamat tahun baru, adikku sayang.”

Mendengar semua kata-kata itu, Mia tak bisa menahan diri untuk tidak melonjak kegirangan lagi dan merengkuh Hoseok. Kedua lengan kurusnya melingkari pinggang sang kakak lelaki, senyum terpajang di wajahnya seraya ia balas berujar:

Mia juga sayang Kak Hoseok! Terima kasih ya, sudah mau menjadi kakakku!”

.

.

.

“Pasti tidak boleh, ya?”

Menatap kakak lelakinya yang memasuki kamar dengan muka muram, Minha langsung bisa menebak bahwa bukan kabar baiklah yang Jimin bawa. Kembarannya itu baru saja berbicara dengan orangtua mereka, hendak meminta izin untuk membeli kembang api dan mengajak Minha bermain. Suatu kegiatan yang telah mereka idam-idamkan sejak lama, mengingat bagaimana kawan-kawan mereka telah berkoar soal merayakan tahun baru sejak jauh-jauh hari.

“Kata Ibu—“

Yeah, pasti kita tidak boleh bermain karena nilai kita di ujian kemarin jelek, ‘kan?” Minha memotong, menyedekapkan kedua lengan sementara Jimin hanya bisa diam. “Memang Matematika itu segalanya, ya?”

Untuk kali kedua, Jimin memilih bungkam. Bocah berumur sebelas tahun itu tak punya niat beradu argumen, tidak ketika kata-kata saudarinya mengandung seratus persen kebenaran. Alih-alih membuka mulut, ia pun memutuskan untuk duduk di samping Minha. Berdampingan di atas kasur, lengan terangkat untuk merangkul sang adik mendekat.

“Minha-ya….”

“Aku… aku kesal sekali, Kak.” Minha kembali berbicara, sedikit terbata dan diselingi isak tangis. Sukses membuat Jimin terkejut, tangan cepat-cepat terulur untuk menyentuh dagu Minha dan mendongakkan kepalanya. Menatap lelehan air mata di kedua pipi tembam itu, selagi hatinya terasa seperti ditusuk-tusuk.

“Minha….”

“Padahal ini akhir tahun, ini liburan, dan…”

“Hei, hei, setidaknya kita tidak perlu kedinginan di luar, bukan?” Jimin cepat-cepat memutar otak, dengan sigap menarik saudari kembarnya ke dalam pelukan. Mengelus-elus puncak kepalanya, membiarkan tangis itu sedikit mereda sebelum ia menambahkan, “Kita juga bisa menikmati tahun baru dengan cara kita sendiri.”

“Tapi aku mau main kembang api,” sahut Minha, suaranya sedikit teredam karena gadis kecil itu kini balas merengkuh Jimin erat. “Aku sudah janji pada Yoongi kalau kita akan melihat kembang api bersama, bagaimana kalau dia marah?”

Satu helaan napas, dan Jimin berganti mendaratkan tepukan pada punggung Minha. “Yoongi Hyung akan mengerti. Dan untuk kembang apinya….”

Diam mengambil alih, lantaran lidah Jimin kelu sesaat. Ia bingung, ia kesal, ia benci mengapa dirinya dan Minha tidak bisa seperti anak-anak lain. Namun, sebagai seorang kakak, Jimin tahu kalau ikut marah itu tak ada gunanya. Ia harus mencari cara untuk menghibur Minha lebih dulu dan—

“Oh!”

“Kakak?”

Melepaskan pelukannya, Jimin lekas bangkit dan melangkah menuju jendela kamar. Kedua tangan sibuk membuka daun jendela, mendorongnya terbuka hingga ia bisa melongokkan kepala. Ada untungnya juga kamar mereka terletak di lantai dua, karena dari sini, keduanya jadi bisa melihat bintang-bintang di langit.

Hm, kurasa ini cukup.” Jimin mengedikkan bahu, menoleh ke arah Minha yang masih duduk terpaku. “Minha-ya, ambil jaket kita dari lemari. Kakak sudah menemukan pengganti kembang apinya.”

“P-pengganti kembang api?”

“Malam ini, bintangnya terlihat jelas walau tidak terlalu banyak,” ujar Jimin, menunggu Minha melangkah mendekat dengan dua jaket di tangan. “Mungkin memang tidak berwarna-warni atau secerah kembang api, tapi…”

Ucapan Jimin terpotong gumam kekaguman yang tahu-tahu meluncur keluar dari bibir Minha, selagi gadis itu mengulurkan jaket Jimin tanpa banyak bicara. Kedua manik gadis itu rupanya telah terarah pada langit malam, mengamati beberapa bintang yang tampak dan bekerlip indah. Seperti kata Jimin tadi, ini memang tidak secerah dan seindah kembang api. Namun, tatkala gadis itu merasakan lengan Jimin merangkulnya kembali ke dalam kehangatan, Minha pikir ini sudah cukup.

“Ini juga indah, ‘kan?”

Minha mengangguk. Memandang kakak lelakinya sekilas, bertukar senyuman manis, kemudian bergerak memeluk pinggang Jimin serta berbisik lirih:

“Selamat tahun baru, Kak. Minha sayang Kakak.”

.

.

.

Nuna?”

Hm?”

“Masih sibuk, ya?”

Lula menoleh, mengeringkan kedua tangannya dengan kain lap terdekat sembari memandangi adiknya yang masih berumur sebelas tahun. Ada mimik rupa yang sedikit memelas di sana, yang memaksa Lula untuk menaikkan alis karena heran. Apa Youngjae sedang ada masalah?

“Kenapa?”

Eum—

“Youngjae-ya, kenapa?”

Sang adik terlihat ragu, menggigiti bibir bawahnya seraya berusaha menghindari pandangan Lula. Kata-kata yang telah ia siapkan mendadak hilang, tak lagi mau keluar dengan mudah di hadapan kakaknya. Terlebih, maniknya telah melihat betapa lelahnya keadaan Lula saat ini. Kakak perempuannya itu baru saja pulang dari kesibukannya bekerja di salah satu kedai makan milik tetangga mereka, yang kemudian dilanjutkan dengan mencuci piring bekas makan malam Youngjae.

Agaknya, terdengar egois kalau Youngjae—

“Choi Youngjae, kamu tahu kalau aku tidak ingin ada rahasia.”

Mengabaikan kekhawatiran adiknya, Lula memilih untuk melangkah mendekat dan meletakkan kedua tangan di atas pundak Youngjae. Memaksa agar pandang mereka bertemu, sementara Youngjae akhirnya susah-payah berkemam, “Ini… malam tahun baru, ‘kan?”

Oh.

Itu benar.

Lula bahkan baru ingat akan fakta tersebut, terlambat menyadari bahwa akhir tahun sudah tiba. Semua kejadian yang telah terjadi sepanjang tahun ini agaknya memang membuat ia lelah setengah mati—baik itu secara fisik maupun mental. Tak bisa dipungkiri, kematian sang ibu beberapa bulan lalu cukup membuat keluarga mereka sedikit berantakan.

Mulai dari ayahnya yang terlalu tenggelam dalam kesedihan, sering mabuk, dan tak lagi rajin bekerja; juga Youngjae yang sempat tak mau mengerti dan hampir saja melakukan hal-hal di luar batas. Untung saja Lula berhasil mencegahnya kala itu, sekuat tenaga berusaha melindungi dan membahagiakan adiknya di tengah kesuraman.

“Iya.” Lula akhirnya menjawab setelah melontarkan satu desahan, tangan terangkat untuk mengacak rambut pendek Youngjae. “Ini malam tahun baru. Kamu mau jalan-jalan?”

Tebakan itu tampaknya tepat pada sasaran, memaksa Youngjae untuk lekas-lekas menggeleng dan kembali menundukkan kepala. Bukan karena kakaknya itu terkenal galak—lantaran sesungguhnya Lula amat jarang menaikkan suara di hadapan Youngjae—melainkan karena ia merasa bersalah. Lula pasti sangat ingin beristirahat saat ini, tetapi kenapa ia malah—

“Youngjae-ya….”

“Tidak usah, Nuna,” balas Youngjae dengan suara kecil, ujung-ujung bibir dipaksakan naik kendati hatinya terasa sedikit sesak. “Nuna istirahat saja. Tidak usah lihat kembang api di taman juga tidak apa-apa, kok.”

Namun, alih-alih setuju, Lula malah mengerutkan kening. Lengan seketika tersilang di depan dada, pikirannya berpacu selama beberapa jenak. Saat ini, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Mereka masih punya waktu untuk berjalan ke taman dekat rumah, menikmati pertunjukkan kembang api untuk menyambut pergantian tahun. Dan bagi Lula, itu….

“Kalau aku mengajakmu pergi, kamu akan tersenyum?”

“Tapi, ‘kan—“

“Aku bertanya padamu, Choi Youngjae,” balas Lula, kekeraskepalaannya muncul ke permukaan. “Kamu akan senang atau tidak?”

“Tentu saja aku akan senang. Aku akan senang kalau bisa melihat kembang api dengan Nuna, namun aku akan lebih senang kalau Nuna beristirahat saja,” oceh Youngjae, ikut-ikutan menyedekapkan kedua lengan dan berusaha terlihat setegas kakaknya. “Jadi, kita tidak usah pergi juga—“

“Ambil jaket dan syalmu. Kalau dalam sepuluh menit kamu belum siap, aku akan pergi sendiri.”

Keputusan itu bulat, dan Youngjae hanya bisa melongo mendengarnya. Maksud hati hendak memprotes dan beradu pendapat lagi, tetapi yang ia dapatkan malah pelototan ganas. Lengkap dengan telapak tangan Lula yang membungkam bibirnya, membuat Youngjae hanya mampu diam sementara Lula melanjutkan:

Buatku, yang penting itu adalah melihatmu senang. Karena aku tidak butuh kembang api, tapi aku butuh senyummu. Kamulah kembang api yang membuat hidupku lebih indah. Paham?”

.

.

.

fin.

HAPPY NEW YEAR ALL!!😀

oke, postingan setengah jam menuju tahun baru, sekaligus menandai postingan terakhir di tahun 2015. Terima kasih untuk semua movie-freaks yang sudah mau membaca fics saya di tahun ini, yang nggak keberatan lihat nama saya muncul terus di beranda IFK. Thanks for being my support in this whole year, and I wish all of us will have a good year ahead!

See ya in 2016!!

love,

tsukiyamarisa (@tsuki016)

2 thoughts on “[Ficlet-Mix] Our Own Fireworks”

  1. yap.. happy new year ..
    aq comment diawal thun.. hee.
    smngt nulis.a eon.. dtunggu karya trbaru… hee jaheeoppa n lula eonni dlanjut yaa..

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s