Lawless (Chapter 17)

lawless 17

Title: Lawless

Scriptwriter: Shiorinsan

Editor: Dika Syafani

Main Cast: Seohyun Snsd, Seungri BigBang

Support Cast: Yoona Snsd, Kim Myungsoo, G-Dragon/Kwon Jiyong, Kim Soo Hyun, Sulli, Park Jiyeon , Park Hyuni (karakter buatan). Dan another cast yg bisa ditemukan sendiri

Genre: Romance

Duration: Chaptered

Warning: contains heavy-drama

Previous part: 1 // 16

Chapter 17

Park Jiyeon

“Dua puluh lima koin.”

Sebatang rokok terselip di bibir Kim Myungsoo saat ia merogoh dompetnya untuk mengeluarkan beberapa lembar uang tunai.

“Sepuluh ribu.” Perempuan di meja kasir arcade tersebut menjawab dengan bosan sambil meletakkan dua puluh lima koin yang diminta si rambut hitam. Mulutnya mengunyah permen karet sementara matanya tertuju pada permainan spider solitaire yang ada di layar komputer di hadapannya.

Shit.” Myungsoo mengumpat saat tak menemukan lembaran sepuluh ribu di dompetnya. Ia belum ke ATM dan di dompetnya hanya ada uang lima ribu. Untungnya tak jauh dari arcade tersebut ada sebuah mesin ATM. “Hei, aku kehabisan tunai. Aku ke ATM dulu.”

Perempuan tersebut—masih tidak melihat ke Myungsoo—hanya mengangkat bahu dan menjawab, “tentu saja, kawan.”

Myungsoo memutar mata, kemudian berbalik dan hendak meninggalkan tempat itu.

Hanya saja langkahnya terhenti ketika melihat orang yang sedang mengantri di belakangnya.

“Hai,” Park Jiyeon mengangkat tangan kanannya. Kemudian menepuk bahu pemuda di hadapannya. “Kubayarkan saja dulu.”

Karena sudah memegang dompetnya sejak tadi, Jiyeon langsung menarik keluar dua lembaran sepuluh ribu, dan menyodorkannya pada si penjaga kasir. “Tambah dua puluh lima koin lagi.”

Myungsoo memperhatikan gadis di depannya. Ia sebetulnya kaget bertemu dengan Jiyeon di tempat itu. Pengunjung arcade tersebut sebagian besar laki-laki. Jika ada perempuan pun pasti mereka adalah janda pemabuk atau lansia yang tak punya kegiatan lain pada akhir pekan tersebut. Bukan perempuan modis dengan jaket dan sepatu boots dari kulit ini.

Setelah transaksinya selesai, Jiyeon berbalik dan memberikan setengah koinnya pada Myungsoo.

“Pertama kali kesini?” tanya Myungsoo padanya saat mereka berjalan menjauhi meja kasir.

“Tidak. Aku sudah kesini sejak SMP.” Kedua orang itu berjalan ke arah mesin yang sama. “Tapi tak pernah jam segini.”

“Pantas kita tak pernah bertemu. Mau duel?” tantang Myungsoo saat menyadari bahwa mereka berniat memainkan permainan yang sama.

“Yang kalah harus membeli soda.” Jiyeon mengedipkan sebelah matanya.

Myungsoo mendengus. Yang benar saja.

Setengah jam dan lima permainan kemudian. Myungsoo merasa seperti baru saja ditelanjangi di depan umum. Dari lima game, kelima-limanya dimenangkan oleh Jiyeon!

Gadis itu tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajah tak percaya Myungsoo. “Sudah kubilang, aku sering kesini sejak SMP.”

Myungsoo menghembuskan napas kesal. Kemudian menarik keluar sebatang rokok baru dan menyalakannya. “Baiklah, baiklah. Kau mau soda apa?”

Jiyeon malah tertawa ringan. “Aku cuman bercanda. Jangan dianggap serius. Aku kesini bukan untuk mengalahkan orang-orang dan membawa pulang soda gratis.”

“Aku juga tidak.”

“Hei, kau mau main racing game?” Ya, Myungsoo mau. Tapi tidak bersama perempuan itu. Dia datang kesana malam itu bukan untuk bersenang-senang dengan salah seorang teman sekolahnya. Ia ingin sendirian. Tapi bahkan sebelum dia bisa menjawab, Jiyeon sudah lebih dulu menarik tangannya. “Oh, kau berpikir lama sekali.”

Myungsoo melepaskan tangannya dari Jiyeon. “Hei. Aku kesini bukan untuk bermain bersamamu.”

“Tapi aku yang membelikan koinmu.” Dia mengangkat bahu. “Jadi wajar saja kalau kau menemaniku sekarang.”

“Nanti kuganti uangmu.”

“Ah tidak usah. Yang penting sekarang kita duel saja di racing game.” Mengabaikan semua makian Myungsoo, Jiyeon tetap menariknya menuju dua slot kosong yang ada di tengah-tengah ruangan.

Gadis itu langsung memasukkan lima koin di mesinnya agar dia bisa main lima kali berturut-turut. Myungsoo pun mengikuti tindakannya.

Di tengah-tengah permainan, Jiyeon tiba-tiba berkata, “Aku belum pernah main di sini dengan seseorang sebelumnya. Ternyata cukup menghibur.”

“Menghibur karena kau akhirnya mengalahkan seseorang yang kau kenal?” tanya Myungsoo sinis setelah lagi-lagi Jiyeon mengalahkannya.

Jiyeon tertawa kemudian menawarkan senyuman permintaan maaf. “Bukan, bukan. Menghibur karena akhirnya ada seseorang yang aku kenal bermain bersamaku disini. Tidak ada teman-temanku yang pernah mau main disini. Kau tahu ‘kan?”

Ya, Myungsoo tahu bahwa Jiyeon dan teman-temannya dikenal sebagai dewi gaya di Shinwa. Habitat mereka adalah pusat perbelanjaan, mal-mal mewah, restoran kelas atas, rumah kecantikan termahal, dan hal-hal feminin lain yang tentunya menguras dompet ayah-ayah mereka.

Taito HEY jelas tidak termasuk dalam tempat-tempat tersebut.

“Kau juga bukan tipe-tipe yang berada di tempat seperti ini.”

Jiyeon tertawa lagi saat mereka mulai memainkan game yang kedua. “Mungkin mereka akan kena stroke ringan kalau melihatku disini.”

Game yang kedua dimenangkan oleh Myungsoo, membuat pemuda tersebut mengepalkan tangannya di udara sambil berseru, “YES!”

Jiyeon menggoyang-goyangkan telunjuknya ke arah Myungsoo, “jangan sombong dulu. Barusan aku mengalah.”

“Dasar jalang. Ayo sekali lagi!”

Keduanya pun memainkan game yang ketiga ketika Jiyeon tiba-tiba bertanya, “jadi mengapa malam ini kau sendirian kesini?”

Myungsoo yang konsenterasinya seratus persen tertuju pada layar di hadapannya hanya bergumam, “tidak ada teman-temanku yang bisa kesini malam ini.”

“Bukannya tadi kau bilang kau memang mau sendirian kesini?”

“Aku bilang begitu?”

“Ya, kau bilang begitu.”

Game ketiga dimenangkan oleh Jiyeon. Myungsoo memukul setir di depannya dengan kesal. “SHIT!”

Jiyeon menoleh padanya dan tersenyum kecil. “Kau tahu, kalau kau menelepon Joon sekarang dan berkata kalau kau sedang main racing game disini bersamaku, aku cukup percaya diri mengatakan kalau dia akan meninggalkan apapun itu yang sedang dilakukannya untuk datang kesini.”

“Dasar perempuan sombong.”

Jiyeon hanya tersenyum, kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan chat BBM terakhirnya dengan Joon.

Jiyeon-ahh kau sibuk malam ini? Mau pergi karaoke bersamaku? :*

Myungsoo menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa tidak kau balas?”

Gadis itu terdiam sesaat, “kau mengalihkan pembicaraan,” katanya sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke layar di hadapannya. Ia menekan beberapa tombol untuk melanjutkan game keempat. “Poinnya, Kim Myungsoo, adalah kau baru saja berbohong padaku. Fakta bahwa Joon menawariku untuk menemaninya karaoke membuktikan bahwa ia sedang senggang malam ini, dan bukannya tidak ada temanmu yang bisa kesini sekarang. Tapi kau memang sengaja tidak menghubungi mereka.”

“Bla-bla-bla. Sok pintar.” Respon Myungsoo yang ketus tersebut sebenarnya karena apa yang dikatakan Jiyeon semua benar.

“Malam masih panjang, kawan. Kau bisa bercerita apa saja.”

Myungsoo tertawa sinis.

“Apa ini ada hubungannya dengan Im Yoona?” Jiyeon mencoba memancing.

Namun Myungsoo tak terpancing. Ia malah menaikkan sebelah alisnya ketika mendengar nama mantan pacarnya. “Kau tahu, aku sampai sekarang sebenarnya masih belum paham mengapa kau memanggil Yoona dengan nama lengkapnya. Apakah masalah kalian sebesar itu?”

“Lihat siapa yang mengalihkan pembicaraan sekarang.”

“Aku tidak mengalihkan pembicaraan kalau topik itu adalah topik yang paling relevan sekarang.”

Game ke-empat mereka dimenangkan oleh Myungsoo. Entah mengapa Myungsoo mendapat firasat bahwa dia telah menyentuh suatu pembicaraan yang sangat sensitif hingga membuat Jiyeon kehilangan konsenterasinya.

“Ya, Myungsoo.” Jiyeon menghela napas dan berbalik menghadap Myungsoo. “Masalahnya memang sebesar itu.”

“Dan kau tak ingin membicarakannya.”

Jiyeon kembali bersandar dan menghadap layar lagi. “Ya, aku tak ingin membicarakannya.”

“Kalau begitu malam ini kita tak akan membicarakan apapun.” Myungsoo mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku jaketnya. Ia menarik keluar sebatang sebelum menawarkan pada Jiyeon. Gadis itu menolak dengan sopan.

Permainan kelima mereka berlangsung dalam diam.

“Im Yoona tak pernah memberitahumu?” tanya Jiyeon tiba-tiba.

“Tidak satu kalimatpun.”

Sampai akhirnya ketika lagi-lagi Myungsoo mengalahkan Jiyeon, gadis itu pun menyerah. “Baiklah, aku akan cerita. Asalkan kau cerita apa yang sebenarnya terjadi padamu malam ini,” katanya dengan nada muram.

Myungsoo mengangkat bahu. “Tak masalah. Kau mau pindah tempat?”

Myungsoo memesan hot chocolate, sementara Jiyeon memesan salah satu signature drink edisi musim semi yang berwarna pink. Mereka berdua memilih meja paling pojok yang diapit oleh dua sofa empuk berwarna merah.

Jiyeon memutuskan ia cukup haus dan ingin minum Starbucks saat Myungsoo menawarkannya untuk pindah tempat. Dan entah mengapa ia yakin kalau ia tetap terus main dengan kondisi pikiran yang sudah bercabang seperti itu, ia tak akan punya kesempatan untuk menang melawan Kim Myungsoo.

“Sebelum aku bercerita, aku ingin kau terlebih dahulu mengerti bahwa semua ini terjadi di masa lalu. Segala hal yang terjadi, sudah terjadi. Mereka adalah bagian masa lalu dan tak akan lagi mempengaruhi masa depan. Mengerti?”

Myungsoo mengangguk. Biasanya kalimat pembuka yang klise tersebut akan mendapat respon yang sarkastik darinya. Namun ia tak ingin membuat Jiyeon kesal dengan komentar tak pentingnya. Ia terlalu ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Yoona dan Jiyeon.

Myungsoo mengenal Jiyeon sama lamanya seperti Myungsoo mengenal Yoona. Kedua gadis itu sepanjang ingatan Myungsoo adalah sahabat karib. Mereka bertiga menghabiskan masa kanak-kanak mereka di Jinhae, sebagian besar dengan bermain di lapangan rumput peternakan Mr. Chow. Sampai mereka SMP dan pindah ke Seoul pun tak ada yang berubah. Yoona dan Jiyeon adalah sahabat sejati. Meskipun Myungsoo berada di antara mereka karena cintanya pada Yoona, namun dia tak pernah menjadi penghalang persahabatan kedua gadis tersebut.

Atau setidaknya begitulah yang ia rasakan..

Semuanya berubah sejak…sejak SMA. Tepatnya sejak Seungri pindah ke Shinwa . Sejak Seungri memasuki kehidupan mereka.

Dan seperti aba-aba, kalimat tersebutlah yang pertama kali meluncur dari mulut Jiyeon.

“Semuanya berubah pertama kali ketika Seungri memasuki kehidupan kita. Ketika dia pertama kali pindah ke Shinwa .” Jiyeon menunduk sambil mengaduk-aduk whipped cream dalam minumannya. “Ah, tidak. Kurasa semuanya mulai lebih awal dari itu. Semuanya berawal sejak kau dan kakakmu pindah ke peternakannya Mr. Chow.”

Ada hubungannya denganku? Kedua alis Myungsoo terangkat tak percaya.

“Kau adalah murid pindahan di SD kami. Dengan rambut hitam yang panjang dan pipi gemuk. Dulu kau lucu sekali.” Jiyeon terkekeh, “lucu, tapi pada saat yang sama kau juga terlihat sangat misterius. Bocah ganteng misterius yang tinggal di peternakan Mr. Chow. Siapa yang tidak penasaran?” Ia mengangkat bahu, “Mendadak kau pun menjadi bintang di sekolah. Semua orang tahu namamu, semua orang ingin menjadi temanmu. Termasuk aku dan Yoona. Terutama aku…”

Mulut Myungsoo sedikit terbuka saat mendengar kalimat terakhir.

“Ya.” Jiyeon menatap Myungsoo sekilas, kemudian cepat-cepat menunduk dengan wajah memerah. “Dulu aku menyukaimu. Sangat menyukaimu. Tapi aku terlalu malu untuk mengajakmu berkenalan. Kau tahu dulu aku sangat pemalu ‘kan?”

“Aku…” Myungsoo mengangkat tangan kanan dan hendak mengatakan sesuatu, namun Jiyeon langsung menghentikannya dengan meletakkan tangan pemuda tersebut kembali di atas meja.

“Ingat, yang tadi kubilang.”

Semuanya terjadi di masa lalu dan hanya milik masa lalu…

Myungsoo melepaskan tangannya dari Jiyeon. “Tentu saja.”

Jiyeon memejamkan mata, bibirnya tersenyum. “Kau pasti tidak akan pernah lupa kali pertama kalian berkenalan.”

Mana mungkin Myungsoo bisa melupakannya. Musim semi sepuluh tahun yang lalu. Ia sedang berjalan pulang sekolah, ketika gadis kecil berwajah malaikat itu menunggunya di bawah pohon Jiyeon yang berdiri tegak di depan gedung SD mereka yang kecil. Ketika mengetahui nama si pirang berambut pendek tersebut, entah mengapa saat itu Myungsoo tahu bahwa suatu hari ia akan menikahi gadis itu.

“Yoona mengajakmu berkenalan, lalu setelah kalian saling mengenal, Yoona pun mengenalkan kita. Itulah rencananya.” Jiyeon terkekeh. “Yang tidak direncanakan adalah bagian dimana kita selalu menghabiskan waktu bertiga. Bagian dimana kau hanya selalu tersenyum ke arah Yoona. Bagian dimana senyumanmu ternyata membuat dua jantung berdebar-debar pada saat yang bersamaan.” Ia mengedipkan sebelah matanya. “Kita masih sangat kecil Myungsoo. Kau, aku, Yoona, kita terlalu kecil untuk memahami apa itu cinta.” Ia menghela napas. “Waktu kelas enam, fakta bahwa aku masih menyukaimu sepertinya terlupakan sepenuhnya oleh Yoona dan setiap saat yang dibicarakan oleh Yoona ketika kau tak ada hanyalah kau dan kau seorang.”

Myungsoo menelan ludah. “Ya Tuhan…” Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Mendadak suara Jiyeon memelan. “Sejak saat itu…Sejak saat itu…tidak ada lagi Jiyeon, Yoona, dan Myungsoo. Yang ada hanyalah Myungsoo dan Yoona.”

Mereka berdua sama-sama terdiam selama beberapa saat, mengesap minuman masing-masing.

Kemudian Myungsoo berdeham untuk memecah keheningan. “Jadi kau memusuhi Yoona karena aku?”

Jiyeon merengut mendengar pertanyaannya. “Tentu saja tidak! Jangan menyanjung dirimu sendiri.”

“Lalu?”

“Saat itu…aku memutuskan untuk mengalah. Menutup perasaanku. Berbahagia untuk kalian berdua. Lagipula aku sangat menyayangi kalian berdua. Dan apalagi yang lebih membahagiakan daripada melihat orang yang kusayangi sama-sama bahagia? Meskipun bukan aku faktor utama kebahagiaan kalian.”

Myungsoo selama ini menganggap bahwa sepasang mata paling terindah di muka bumi ini adalah mata milik Im Yoona yang warnanya lebih jernih daripada batu safir. Namun saat itu, di salah sudut dengan penerangan remang-remang sebuah kedai kopi di pusat kota, untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun terakhir Kim Myungsoo menyadari bahwa warna mata Park Jiyeon adalah hijau. Dengan emosinya yang sedang tercampur aduk, warna mata gadis itu lebih tepat disebut emerald. Sebuah warna hijau yang gelap, misterius, dan sangat indah.

Myungsoo cepat-cepat mengusir pikiran tersebut. Ia mungkin hanya terbawa suasana.

“Aku melakukannya dengan baik selama SMP, karena kalian sama sekali tak menyadarinya. Atau mungkin karena kalian sangat terpaut satu sama lain hingga kalian tak menyadariku…” Dia mencoba tersenyum lebar, meskipun matanya menghianatinya karena mata gadis itu kini terlihat berkilauan karena air mata.

Tak seharusnya Jiyeon menceritakan ini padanya. Tetapi Myungsoo tetap diam mendengarkan. Dia tidak bisa menyangkal bahwa dia sebenarnya penasaran.

“Waktu SMA…semuanya berubah drastis.” Dia berhenti lagi untuk menyesap minumannya. “Lee Seungri adalah penyebab utamanya. Oh, Seungri.” Dia menghembuskan napas panjang. “Seungri yang tampan, misterius, dia sangat mirip denganmu. Versi berambut merah dari Kim Myungsoo.” Ia tersenyum kecil pada candaannya sendiri. “Melihat kau dan Yoona yang semakin hari semakin bersinar. Kau dengan segala ketenaranmu dan Yoona yang melakukan debut-nya sebagai kover majalah remaja. Pasangan idaman Shinwa . Dielu-elukan disana-sini. Dan seperti manusia normal lainnya…aku pun iri. Aku ingin menjadi seorang Yoona, dan aku ingin punya Myungsoo-ku sendiri…”

Rasanya Myungsoo bisa melihat arah dari cerita ini.

“Kupikir Seungri adalah tipe-tipe lelaki yang cukup berandalan, namun tidak terlalu berandalan supaya bisa kuubah dengan sedikit sentuhan cinta.”

Mereka berdua terkekeh, lalu berkata bersamaan.

“Kau salah.”

“Aku salah.”

Jiyeon menatap Myungsoo lurus-lurus. “Tapi bukan itu alasanku ingin mengencani Seungri.”

“Lalu?”

Jiyeon terdiam lagi selama beberapa saat. Ia menarik napas dan membuangnya beberapa kali, seakan-akan mempersiapkan dirinya untuk mengatakan sesuatu yang merupakan inti dari ceritanya yang panjang ini. “Aku…ingin membuatmu melihatku.”

Myungsoo membeku.

“Aku hanya berkencan dengan Seungri supaya kau melihatku. Kupikir jika aku bisa mengencani orang sekelas Seungri, maka kau pun akan bertanya-tanya apa sebenarnya yang membuat Seungri mau berkencan denganku, dan kau pun akan tertarik padaku.”

Sebutir air mata bergulir di pipi kanannya.

“Aku sangat bodoh. Aku tahu bahwa Seungri bukanlah tipe orang yang menganggap pacaran di masa SMA adalah hal yang serius. Namun ia tak pernah meninggalkanku. Dia selalu ada di sana mendengarkan ocehanku yang tak berujung meskipun ia tak pernah memberikan respon apapun. Aku tahu dia jarang meneleponku, namun dia selalu menjengukku setiap aku sakit. Apa yang ada di antara aku dan Seungri sangat jauh dari romantis. Namun setidaknya Seungri menganggap itu nyata. Tidak sepertiku…”

Saat ia memejamkan matanya, dua butir air mata membasahi pipinya lagi.

“Setelah enam bulan, aku memutuskan aku tidak bisa melakukannya. Aku sebenarnya ingin memberitahu Yoona tentang hal itu. Tapi aku takut. Kemudian suatu hari, di salah satu pesta yang aku lupa diselenggarakan oleh siapa, seorang bajingan membuatku mabuk. Saat itu Seungri tidak ada karena dia sedang melakukan suatu urusan yang hanya Tuhan dan dia yang tahu.” Nampaknya Jiyeon juga tahu kegiatan ekstrakurikuler Seungri dan teman-temannya. “Untungnya Yoona ada di sana dan membawaku pulang. Kurasa karena semua perasaan bersalah ini bertumpuk-tumpuk, aku terlanjur menceritakan semuanya ke dia. Besoknya Yoona tak lagi bicara denganku. Dan besoknya, dan besoknya lagi, dan seterusnya, sampai hari ini.” Jiyeon menggigit bibir bawahnya, “Aku akhirnya memberitahu Seungri tentang hal itu. Dia sangat marah. Seperti yang sudah kuduga. Kami pun putus. Namun tidak ada seorang pun yang tahu alasannya. Rumor yang beredar tak ada satupun yang benar. Karena itu kupikir Seungri dan Yoona pasti tak memberitahu siapapun.”

Dia mengangkat wajahnya dan menatap Myungsoo lagi, “Bahkan kau.”

Myungsoo mengangguk-angguk. Dia menghembuskan napas panjang, lalu melihat ke langit-langit sebelum membenamkan wajahnya kembali di kedua telapak tangannya. “Bahkan aku…”

Jika Kim Myungsoo percaya pada Tuhan, maka dia mungkin berpikir bahwa hari itu adalah hari dimana Tuhan ingin mengujinya.

Padahal hari itu bermula seperti biasa. Ia bangun, pergi ke sekolah, tidur di kelas, main sepakbola di jam istirahat, mengganggu Yoona, bahkan seharusnya hari itu adalah hari yang harus dirayakan karena hari itu adalah hari terakhir sekolah sebelum dimulainya dua minggu liburan paskah! Dari minggu sebelumnya ia bahkan sudah mengajak Seungri dan yang lainnya untuk menghabiskan Jumat itu di rumah peternakannya di Jinhae. Segalanya mulai berubah menjadi tidak normal ketika sore itu ia menerima telepon dari kakaknya yang mengatakan mereka akan makan malam di rumah. Myungsoo dan Jaejoong jarang sekali makan malam bersama kecuali pada hari-hari libur nasional, tahun baru, natal, dan hari-hari tertentu. Hari-hari tertentu yang dimaksud adalah hari dimana Jaejoong tiba-tiba mendapat ilham dari sesuatu di atas sana dan merasa perlu untuk bertemu adiknya dan memberinya nasihat.

Makan malam hari itu adalah salah satu dari hari-hari tertentu tersebut.

Dan dari sekian banyak hal yang bisa Jaejoong bawa sebagai topik makan malam mereka hari itu, Jaejoong malah memilih untuk membahas masa lalu mereka yang sudah Myungsoo tinggalkan di Jeju dan hanya di Jeju saja. Dia sudah bersumpah untuk menolak membicarakan masa lalu yang itu di tempat manapun di dunia, bahkan di tempat tidurnya jika dia sedang sekarat sekalipun.

Namun seiring makan malam tersebut berlangsung, memori dua belas tahun silam kembali merayapinya seperti seekor binatang melata yang menjijikkan.

Hyung.”

Ya?”

Mengapa Soohyun dan Seohyun membenciku?”

Mereka tidak membencimu, Myungsoo.”

Semalam Soohyun bilang padaku kalau Seohyun membenciku dan ia tidak mau melihatku di peternakan lagi… Tapi aku tidak percaya. Aku harus bertanya pada Seohyun langsung.”

Kita tidak akan bertemu Seohyun lagi, Myungsoo.”

Kenapa?”

Karena Seohyun sudah melupakan kita.”

Untuk dirinya yang masih sangat kecil saat itu, kalimat tersebut cukup untuk membuat Myungsoo percaya bahwa keluarga kim Sora memang membencinya. Terutama Soohyun dan Seohyun. Soohyun dan Seohyun membenciku. Hal tersebut tertanam di dalam memorinya dan seiring waktu berjalan tumbuh sebagai pohon kebencian yang bahkan lebih kokoh dibandingkan pohon general sherman sekalipun.

Ya. Dia membenci Soohyun dan Kim Seohyun. Ia sangat membenci mereka hingga ke sumsum tulangnya.

Selama dua belas tahun Jaejoong sama sekali tak pernah memberitahunya alasan mengapa Seohyun bisa melupakannya. Lelaki itu membiarkan mata Myungsoo tertutup atas fakta kotor akan drama menjijikkan yang telah dimainkan oleh Kim Soohyun.

“Mengapa?” tanya Myungsoo, matanya menatap steak salmon yang tak tersentuh di hadapannya.

Jaejoong mengangkat gelas anggurnya. “Aku…ingin membuktikan padanya bahwa kita bisa menempati posisi puncak yang diagung-agungkannya, dan sekarang setelah kita…”

“Dengan membiarkanku membenci Kim Seohyun?”

Mulut Jaejoong terbuka sedikit. Alisnya terangkat. “Mengapa kau membenci Seohyun?”

Myungsoo mendadak berdiri kemudian membuang serbetnya ke atas steak salmon yang bahkan pisau dan garpunya bahkan tak ia sentuh. Tanpa mengucapkan kalimat apapun ia meninggalkan kakaknya sendirian..

Ia datang ke arcade untuk melupakan apapun yang telah dikatakan kakaknya padanya hari itu. Walaupun sebenarnya bukan fakta itu yang ingin ia lupakan, melainkan perasaan bersalah yang datang bersamaan dengan fakta tersebut.

Semuanya terlalu membingungkan.

Kim Seohyun yang amnesia. Kim Soohyun yang memfitnah kakaknya. Kim Sora yang mengusir mereka dari tanahnya.

Jika Seohyun benar-benar amnesia, artinya dia sama sekali tidak tahu tentang Myungsoo dan Jaejoong serta apa yang ada di antara mereka bertahun-tahun yang lalu. Yang menjelaskan sikap tidak peduli gadis itu padanya selama ini.

Lalu mengapa Myungsoo membenci Seohyun?

Bukan Myungsoo yang waktu itu nyaris tenggelam terbawa arus dan cukup beruntung karena tersangkut pada sebonggol kayu. Bukan Myungsoo yang kepalanya waktu itu terbentur hingga ingatannya terhapus. Semua itu terjadi pada Seohyun.

Mengapa kau membenci Seohyun?

Dan sekarang…

Myungsoo berdiri dan menghampiri meja tempat gula, tisu, dan sedotan, kemudian mengambil beberapa lembar sebelum kembali ke mejanya untuk memberikannya pada Jiyeon yang kini sibuk terisak-isak.

Bukannya melupakan masalahnya, ia malah dihadapkan dengan pengakuan lain dari Jiyeon yang ternyata selama bertahun-tahun memendam perasaan padanya.

Myungsoo memang bukanlah pria yang paling peka, namun dia bukan pria yang tolol juga. Dia menyadari pandangan Jiyeon yang selalu menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Serta semua cokelat valentine itu. Dan semua catatan yang gadis itu bawakan untuknya kalau dia tidak masuk kelas. Myungsoo menyadarinya. Hanya saja ia tidak tahu bahwa Jiyeon seserius itu.

Tetapi bukan itu hal tersebut yang digarisbawahi oleh Myungsoo.

Dia baru sadar bahwa selama ini Seungri memang tak pernah memberitahunya alasan mengapa ia berpisah dengan Jiyeon. Karena mereka selalu bersama-sama, melakukan hal bodoh bersama-sama, ia selalu melihat Seungri sebagai orang yang bahagia-bahagia saja. Ia menganggap bahwa apapun yang terjadi di antara Seungri dan Jiyeon pastilah bukan sesuatu yang besar—paling sesuatu seperti Jiyeon akhirnya menyadari bahwa Seungri terlalu brengsek untuknya dan minta putus.

Myungsoo, Yoona, Seungri, dan Jiyeon adalah sekelompok orang yang berada di dalam lingkaran sosial yang sama. Setelah Jiyeon memberitahunya semua ini, barulah Myungsoo menyadari bahwa baik Yoona ataupun Seungri memang selalu menghindar setiap kali ada pembicaraan yang bersinggungan dengan Jiyeon. Tak pernah sekalipun terlintas di benaknya untuk bertanya mengapa Jiyeon tak pernah lagi berbicara dengan Yoona ataupun Seungri?

Jika yang dikatakan Jiyeon adalah benar, maka kemungkinan besar Yoona tidak tahu apa yang harus dilakukannya hingga ia menghindari Jiyeon sama sekali. Myungsoo merasa kasihan pada Jiyeon, padahal tidak semua dari kekacauan ini adalah salahnya.

Sementara itu jika Seungri memang tahu kenyataan sebenarnya tentang Jiyeon…maka salah satu alasan mengapa Seungri tak pernah lagi menjalani hubungan serius sejak Jiyeon adalah…

…karena dia patah hati?

Hal tersebut memang sangat sulit dipercaya mengingat Seungri dan patah hati tidak seharusnya berada di kalimat yang sama.

Tapi bagaimana jika itu benar?

Pikiran Myungsoo pun melayang pada taruhan yang dibuatnya dengan Kim Seohyun.

Ia memang merancang taruhan itu dengan asumsi bahwa Seungri adalah Seungri yang dikenalnya, dan Kim Seohyun adalah pecundang gagap yang ia tahu selama ini. Seungri tak akan mungkin jatuh cinta pada Seohyun. Hal bodoh itu cuman mungkin terjadi pada Seohyun.

Tapi bagaimana kalau skenario terburuk terjadi?

Dengan semua tingkah laku Seungri yang aneh di sekitar Kim Seohyun akhir-akhir ini, Myungsoo bisa berkata bahwa ada kemungkinan hal itu terjadi.

Bagaimana kalau Myungsoo baru saja menjerumuskan sahabatnya kembali ke dalam lubang yang sama?

Myungsoo bahkan tidak ingin memikirkannya.

“M-Myungsoo? Kau baik-baik saja?” Jiyeon membuyarkan lamunannya.

“Ya. Ya. Aku…hanya sedikit terkejut.” Myungsoo berdeham. “Terima kasih sudah jujur padaku, Jiyeon.” Myungsoo berdiri, Jiyeon juga berdiri.

Dengan canggung Myungsoo memeluk Jiyeon, lalu mendaratkan sebuah ciuman ringan di dahi gadis itu.

“Kau tahu Yoona. Kau yang paling kenal dia. Kau harus bicara lagi dengannya. Yoona pasti bingung dia harus melakukan apa. Dan karena kau juga tak bicara padanya, dia juga tak bicara padamu.” Myungsoo menawarkannya senyum kecil.

Perempuan itu membalas senyumannya dan mengangguk.

“Kau bawa mobil?”

Dia mengangguk lagi.

“Bagus. Tidak apa-apa kalau kutinggal ‘kan? Aku ada urusan sedikit.”

Jiyeon mengerjapkan matanya beberapa kali. “Aku tidak bermaksud terlalu ingin tahu, tapi kuharap ini tak ada hubungannya dengan apa yang baru saja kuceritakan.”

“Tidak. Tidak. Tenang saja.” Ia menepuk-nepuk bahu gadis itu. “Aku hanya ingin menghajar seseorang.”

Seungri tidak datang.

Kalimat yang sama bergaung di dalam pikiran Kim Seohyun sepanjang malam tersebut. Bahkan saat ia sedang mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur, dan sekarang saat ia sudah berbaring di ranjangnya yang terlalu luas, berputar ke kanan dan kiri dengan gelisah.

Kenapa dia tidak datang?

Kim Seohyun melirik jam di meja samping tempat tidurnya dan menyadari saat itu sudah hampir pukul setengah tiga. Ia bergeser ke tepi tempat tidur untuk mengambil ponsel di meja kemudian menyalakannya. Sama seperti lima belas menit sebelumnya, masih tidak ada tanda-tanda SMS ataupun BBM di layar. Ia pun menghela napas kemudian berbalik sekali lagi. Dahinya mengkerut karena merasa bantalnya yang cepat terasa panas. Ia akhirnya bangkit duduk dan melempar bantal tersebut ke sisi lain tempat tidur dan mengambil bantal lain untuk mengalas kepalanya.

Sore itu setelah pulang dari pasar, Seohyun sangat senang menemukan pelayannya telah menata meja makan mereka dengan sangat indah dan dessert sudah tersedia di dalam lemari pendingin. Hanya tinggal memasak makanan pembuka dan makanan utama yang menunya memang menunggu perintah darinya.

Seohyun pun sudah memberitahu Soohyun bahwa hari itu ia akan mengundang beberapa orang dari keluarga Lee untuk makan malam sebagai ucapan terima kasih atas pertolongan mereka padanya tempo hari. Soohyun yang sudah mengetahui keseluruhan cerita yang terjadi pada malam Senin yang naas itu tidak mendebat keinginan Seohyun dan bersedia untuk menjadi tuan rumah yang baik untuk hari itu.

Untuk makan malam yang spesial hari itu Seohyun memutuskan membuat sphagetti salmon dengan saus marinara. Sebagai makanan pembuka, Seohyun membuat gratin marshamallow serta labu yang resepnya ia pelajari dari TV baru-baru ini. Setelah selesai memasak dan memerintahkan pelayannya untuk menghidangkan masakannya di meja makan, gadis itu naik ke atas untuk mandi dan berdandan.

Tepat pukul tujuh malam, tamu yang sudah ditunggu-tunggu memencet bel rumahnya. Seohyun sendiri yang membuka pintu dan menyambut Lee Sooyoung, si wanita pirang yang sangat baik hati, Lee Yunho yang beberapa hari lalu pernah memergoki Seohyun membuka pakaian Seungri di game room rumah mereka, serta tunangannya Go Ah Ra Mitsubishi.

Si bungsu Lee Seungri tidak berada di antara mereka.

Seohyun menanyakan ketidakhadiran si rambut merah pada Sooyoung. Wanita itu mengaku bahwa sore itu Seungri memberitahunya supaya jangan menunggunya karena ia akan datang sendiri ke Rumah Keluarga Kim setelah urusannya selesai. Namun sampai sebelum mereka berangkat tadi, Sooyoung sudah mencoba menelepon adik bungsunya ribuan kali, dan ponsel pemuda itu sama sekali tak bisa dihubungi.

Akibatnya, sepanjang makan malam Seohyun terus menoleh ke arah pintu setiap lima menit sekali atau mengecek ponsel yang ia letakkan di pangkuannya dengan harap-harap cemas menanti kabar dari Seungri.

Meskipun demikian, Seohyun yakin ia berhasil menyembunyikan semua gerak-gerik mencurigakannya karena Soohyun tampak sangat menikmati makan malam mereka hari itu tanpa melemparkan satu atau dua pandangan khawatir ke arahnya. Sepupunya itu memiliki semacam sensor yang bisa mendeteksi suasana hatinya. Dan karena sensor tersebut tak memberitahunya apa-apa, Seohyun bisa merasa sedikit lega. Kalau tidak laki-laki itu pasti sudah akan mencecarnya dengan bermacam-macam pertanyaan sesudah makan malam tadi.

Makan malamnya berlangsung sempurna. Mereka memuji masakannya dan mengatakan betapa beruntungnya keluarga Kim karena bisa menikmati masakan yang lezat seperti itu setiap hari. Baik Sooyoung maupun Yunho sama sekali tak bisa memasak, sementara Go Ah Ra hanya bisa memasak sedikit-sedikit. Obrolan para wanita itu pun berlanjut dengan membuat Seohyun berjanji agar mengajari mereka memasak.

Topik pembicaraan mereka malam itu beragam, mulai dari apa yang Seohyun dan Soohyun pelajari di sekolah, bagaimana pekerjaan Sooyoung, sampai rencana pernikahan Yunho dan Go Ah Ra yang akan berlangsung di musim panas nanti. Makan malam tersebut pun membuat keluarga Kim Sora masuk dalam daftar tamu pernikahan mereka yang panjang.

Nama Seungri sesekali disebutkan dalam pembicaraan mereka. Seohyun sangat bersyukur Sooyoung atau Yunho sama sekali tidak menyebut-nyebut tentang apa yang mereka ketahui telah terjadi antara adik mereka dengan Seohyun. Kalau sampai terjadi, makan malam itu mungkin akan berakhir lebih cepat dari seharusnya.

Sampai makan malam tersebut berakhir, Lee Seungri sama sekali tak menampakkan diri. Bahkan setelah Soohyun mengajak mereka menikmati secangkir kopi di ruang santai dan ketika Soohyun dan Seohyun mengantar mereka ke mobil mereka.

Sebelum pulang, Sooyoung mengajaknya bertukar nomor ponsel. Alasannya adalah sebagai salah satu bentuk kontrolnya atas Seungri. Dengan memiliki kontak semua orang-orang yang berhubungan dengan adiknya, akan lebih mudah baginya untuk mengetahui apa saja yang dilakukan anak tersebut. Seohyun tidak menolak, dan malah senang karena buku telepon ponselnya kini makin banyak diisi nama-nama yang nama belakangnya tidak Kim.

Setelah mengucapkan selamat jalan pada tamu mereka, Seohyun langsung minta izin pada Soohyun agar boleh langsung naik ke atas untuk istirahat tanpa harus mendengar kesan-kesan Soohyun tentang keluarga Lee. Sepupunya itu pasti punya segudang opini tentang Keluarga Lee  dan ingin membandingkannya dengan rumor-rumor yang ada. Seohyun sama sekali tidak punya energi untuk meladeni Soohyun untuk hal tersebut.

Sebelum tidur Seohyun mengecek ponselnya siapa tahu Seungri mencoba menghubunginya atau mengiriminya pesan yang berkata dia akan datang terlambat atau tidak datang sama sekali. Namun layar ponselnya tetap sekosong biasanya.

Bahkan hingga hampir pukul tiga saat itu sama sekali tidak ada tanda-tanda Seungri mencoba menghubunginya.

Akhirnya malam itu Seohyun pun menyelimuti dirinya sambil merajuk.

Seungri lagi-lagi melanggar janjinya.

Keesokan harinya Seohyun sangat terkejut ketika menemukan Kim Jaejoong di pintu depannya. Ia butuh waktu beberapa detik untuk meyakinkan dirinya bahwa ia sedang tidak berhalusinasi.

Tidak salah lagi, lelaki itu memang kakaknya Myungsoo yang kemarin sore berbagi taksi dengannya.

Orang tersebut jelas berada di urutan terakhir dalam daftar orang yang mungkin akan membunyikan bel rumahnya pada Sabtu pagi. Bahkan separuh diri Seohyun sebelum membuka pintu tadi diam-diam berharap bahwa yang memencet bel adalah Seungri.

“Aku tahu kedatanganku sangat mendadak.”

Sebagai ganti kemeja sederhana kemarin sore, lelaki tersebut muncul dalam balutan tuksedo hitam berpotongan mahal, dan membuat wajah si gadis memerah saat menyadari saat itu ia hanya mengenakan kaus dan celana pendek. Bahkan tak mengenakan alas kaki.

“Y-ya. Anda bisa melihat pakaian saya.” Seohyun merentangkan kedua tangannya.

“Tidak masalah.” Jaejoong melambaikan tangannya.

“Jadi…” Jaejoong lalu berdeham, membuat Seohyun ingat bahwa ia tidak mempersilahkan tamunya masuk.

“Oh, m-maaf…” Seohyun melangkah ke samping, “silahkan masuk…”

“Terima kasih.”

Seohyun lalu memandu Jaejoong ke ruang tamu dan mempersilahkannya duduk di salah satu sofa yang besar dan empuk. “Umm, s-saya akan memberitahu pelayan untuk menyiapkan minum,” ia mengangkat telunjuknya, “dan berpakaian.”

“Oh, tidak, tidak perlu.” Ia mengangkat tangannya untuk mencegah Seohyun pergi. “Aku tidak bermaksud lama.”

Tentu saja dia tidak bermaksud lama. Seohyun akan sangat syok jika ada suatu pesta formal yang akan berlangsung di rumahnya tanpa sepengetahuannya. “Uh, baiklah.” Kim Seohyun tertawa canggung lalu duduk di sofa di seberang tamunya.

“Apakah keluargamu ada?”

“Ayah sedang di luar kota. Y-Yang ada hanya Soohyun, kakak sepupu saya. Tapi tadi pagi dia pergi untuk nonton latihan di salah satu dojo yang katanya punya aliran bela diri Cina atau sesuatu.”

Jaejoong mengangguk-angguk.

“Umm, a-apa sebenarnya yang anda lakukan disini, Jaejoong-ssi?” Akhirnya Seohyun menyuarakan pertanyaan yang dari tadi jelas-jelas tergambar di wajahnya. Lagipula siapa yang tidak bertanya-tanya jika ada seorang pria yang hampir tak kau kenal tiba-tiba mucul di teras depan rumahmu dengan tuksedo?

“Oh ya,” dia berdeham, “aku ingin mengajakmu menghadiri acara pernikahan temanku.”

Jaejoong harus mengulang kalimatnya dua kali sebelum Seohyun mengangguk-angguk mengerti apa yang dimaksud lelaki itu. Pada kalimatnya yang pertama Seohyun pikir lelaki itu bicara bahasa asing.

“P-Pernikahan?”

“Ya, pernikahan. Salah seorang teman baikku menikah dan resepsinya akan berlangsung pukul enam nanti. Aku seharusnya hadir bersama adikku. Tapi sesuatu terjadi semalam dan sekarang ia menghindariku.” Jaejoong mengangkat bahu seakan-akan hal tersebut cukup sering terjadi dan bukan suatu masalah besar.

Dan apa hubungannya denganku? Adalah kalimat yang seharusnya dikatakan Seohyun. Namun sebagai gadis baik-baik, tentu saja dia tidak berkata seperti itu. “Wah, kedengarannya menyenangkan,” katanya diikuti dengan senyum lebar.

Jaejoong hampir terlihat lega ketika mendengar komentar Seohyun, “Aku yakin kau akan berpikir begitu. Makanya aku datang kemari.”

Seohyun menelan ludah.

Mereka baru saling mengenal kemarin. Itu pun secara tidak sengaja. Dan satu-satunya aktivitas sosial yang mereka lakukan bersama-sama setelah itu hanya berbagi taksi. Itu saja. Resepsi pernikahanadalah sesuatu yang seharusnya kau lakukan bersama pasangan, keluarga, sahabat atau minimal teman yang kau kenal. Bukan gadis asing yang kau kenal di pasar.

“T-t-tapi…kenapa saya? Kenapa tidak ajak Yoona saja? A-anda kenal Yoona ‘kan?”

Well, aku sudah menelepon Yoona tapi dia sedang ada acara bakti sosial bersama keluarga besarnya hari ini.” Jaejoong lalu tampak ragu selama sesaat sebelum melanjutkan, “dan karena suatu hal kupikir kau akan lebih bisa berbaur dengan orang-orang di pesta nanti…”

Dahi Seohyun mengernyit. “Mengapa?”

“Kau akan lihat nanti.” Dia tersenyum misterius, “jadi apakah kau bersedia menolongku?”

Seohyun bukanlah orang yang impulsif. Sepanjang hidupnya, ia tahu bahwa dia adalah orang yang melakukan segala sesuatu dengan penuh pertimbangan. Apapun tindakan yang ia lakukan ia minimal memikirkannya dua kali sebelum melakukannya.

Kemudian datang kakak-nya Myungsoo dengan tawarannya untuk mengadiri resepsi pernikahan. Tentu saja menghadiri resepsi pernikahan bersama seorang Kim Jaejoong adalah suatu ide yang gila. Tapi Seohyun tiba-tiba teringat lagi kejadian semalam.

Dia telah mengundang Keluarga Lee ke rumahnya untuk makan malam, merencanakan makan malam tersebut selama seminggu, memikirkan setiap menu yang akan disajikan dengan seksama, melakukan riset dengan setiap buku panduan memasak yang dimilikinya, memikirkan pakaian yang akan dikenakannya untuk acara malam itu, membeli dua gaun cadangan untuk berjaga-jaga kalau sesuatu terjadi pada gaun yang seharusnya ia kenakan, dan tidak lupa ia juga membeli sandal bertumit baru yang sesuai dengan gaunnya serta menata rambutnya di salon.

Semua itu ia lakukan demi seorang lelaki berambut merah yang bahkan tak meneleponnya sekali pun untuk memberitahunya bahwa ia tak akan datang.

Mungkin ia akan terlihat gila karena memutuskan melakukan ini tanpa memikirkannya lebih dulu. Namun Seohyun merasa saat ini ia sangat membutuhkannya. Ia sangat membutuhkan hal-hal yang gila. Hal apapun yang bisa membuatnya melupakan Lee Seungri sebelum ia jadi gila.

Oleh karena itu, saat melihat Kim Jaejoong dengan senyumannya yang lembut, Seohyun menemukan dirinya mengatakan salah satu hal yang akan membuat hari tersebut tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

“S-saya akan bersiap-siap.”

Karena sangat kesal dengan Seungri di malam sebelumnya, Seohyun memutuskan bahwa hari itu ia harus melakukan hal-hal yang positif untuk menghilangkan segala pikiran-pikiran negatifnya tentang si pria tampan berambut merah. Oleh karena itulah ia sudah berencana bahwa hari itu ia akan bermain biola sampai siang, kemudian memanjakan perutnya dengan makan siang yang banyak, lalu bermain biola lagi sampai malam, dan terakhir memanjakan perutnya dengan makan malam yang banyak sebelum ia pergi tidur.

Rencana yang sangat bagus.

Hanya saja ia tak menyangka sore itu Kim Jaejoong akan mengetuk pintunya dan sekarang ia kembali berada di taksi bersama pria tersebut.

Tanpa Seohyun tanya, Jaejoong sendiri langsung menjelaskan mengapa ia sering naik taksi. Alasannya sederhana. Tak seperti multijutawan lainnya, Kim Jaejoong ternyata adalah orang yang sangat rendah hati. Ia hanya punya dua mobil. Satu miliknya yang sebagian besar ia gunakan di peternakan, dan pada saat itu memang sedang berada di peternakan. Dan yang satu lagi lamborghini Myungsoo yang mentereng. Ya, Seohyun tahu lamborghini yang mana.

“Aku tidak suka pandangan orang-orang ke arahku. Pandangan tersebut beragam, ada yang kagum, ada yang iri, ada yang tertarik. Aku benci harus mengartikan semua pandangan orang-orang ke arahku. Aku tahu bahwa lebih mudah jika aku mengabaikannya saja. Tapi sejujurnya aku merasa lebih nyaman seperti ini.” begitulah katanya.

Filosofi Keluarga Kim Sora tentang mobil sangat berbeda jauh dengan pria tersebut. Mobil? Ya, tentu saja mereka punya banyak. Sangat banyak.

Ketika Jaejoong sedang bercerita tentang peternakannya, untuk yang kesekian kalinya hari itu, pandangan Seohyun jatuh pada layar ponsel yang sejak tadi berada dalam genggamannya. Ia tahu bahwa ia sudah bersikap sangat bodoh dan terlihat seperti remaja yang terobsesi pada ponsel. Namun ia tidak bisa mencegah dirinya untuk berharap bahwa Seungri setidaknya menghubunginya. Mungkin dengan BBM atau SMS. Seohyun tidak mengharapkan satu paragraf permintaan maaf. Hanya sebaris kalimat aku minta maaf juga tidak apa-apa. Heck, bahkan satu kalimat maaf pun akan membuat gadis itu gembira. Seohyun membutuhkan apa saja, tanda sekecil apapun, yang membuktikan bahwa lelaki itu masih ingat padanya, masih ingat pada janji makan malam yang diucapkannya di koridor sekolah hari Selasa lalu.

Seohyun membutuhkannya supaya dia tahu bahwa apa yang ada di antara dia dan Seungri saat itu bukanlah suatu figmen imajinasinya saja. Bahwa pandangan dan senyuman hangat yang tertuju ke arahnya itu adalah nyata.

Jaejoong tiba-tiba berdeham dan membuyarkan lamunan Seohyun. “Apa kau sedang menunggu telepon dari seseorang?” tanyanya lembut.

Seohyun secepat kilat memasukkan ponselnya ke dalam tas tangan.”T-t-tidak.”

“Kau sudah menatap ponselmu lima belas kali sejak kita meninggalkan rumahmu tadi.”

Benarkah? Seohyun bahkan tak sadar ia sudah melakukannya sebanyak itu.

“Teman laki-laki?” Jaejoong mulai bertanya lagi, nampaknya tak puas dengan sikap penuh rahasia Kim Seohyun.

Lama Seohyun hanya diam mematung sampai akhirnya ia mengangguk-angguk lalu menunduk.

“Dari sekolah?”

Seohyun mengangguk lagi.

“Myungsoo?”

Seohyun memberi pria di sebelahnya pandangan horor yang seakan-akan berkata, kau bercanda ‘kan? Dan membuat Jaejoong terkekeh.

“Aku hanya bercanda. Jadi, apa yang terjadi antara kau dengan teman laki-lakimu ini?”

Kim Jaejoong adalah orang terakhir yang ia pikir akan menghabiskan akhir minggu bersamanya, dan tentu saja pria itu juga adalah orang terakhir yang akan menjadi tempat curahan hati Seohyun soal Seungri. Namun ada sesuatu yang menenangkan dari pria ini yang seaneh kedengarannya membuat Kim Seohyun merasa ia bisa mempercayainya. Dia tahu bahwa ada suatu aturan bahwa seorang gadis SMA tidak bisa begitu saja naik ke taksi bersama orang yang hampir tak dikenalnya untuk menghadiri suatu resepsi pernikahan yang sampai detik ini bisa saja adalah suatu rumah bordil tempat lelaki ini akan menjualnya.

Tapi lihat apa yang dilakukan Seohyun sekarang. Ia telah melanggar semua aturan yang ada. Dan anehnya ia sama sekali tak merasa salah telah melakukan itu. Saat itulah ia pun sadar.

Bagaimana kalau Kim Jaejoong bukan termasuk dalam aturan yang selalu dikatakan Soohyun padanya? Bagaimana kalau Kim Jaejoong memang seorang pria baik hati yang tak punya teman untuk menghadiri pesta pernikahan temannya?

Sebab entah mengapa, jauh di dalam lubuk hatinya Seohyun merasa ia sudah mengenal pria ini.

Jauh jauh sebelum mereka bertemu di pasar sore kemarin.

Selain itu, Seohyun mendapat firasat bahwa Jaejoong ingin memberi kesempatan padanya untuk berbicara. Karena sejak mereka meninggalkan rumahnya tadi, Jaejoong lebih banyak bicara sendiri sementara Seohyun hanya diam mendengarkan.

Akhirnya Seohyun pun menceritakan peristiwa malam sebelumnya pada Jaejoong. Sepanjang bercerita ia sama sekali tak menyebut nama Seungri, melainkan hanya menggunakan sebutan dia atau ia atau orang itu.

“Jadi dia sudah berjanji padamu untuk datang, namun dia tiba-tiba tak datang tanpa pemberitahuan sama sekali?”

Well, secara teknis Selasa kemarin dia bilang bahwa dia tak bisa datang. Lalu aku membujuknya, dan dia bilang dia akan mengusahakannya. Tapi meskipun dia memang tak jadi datang, setidaknya dia harus memberitahuku ‘kan?”

Jaejoong tampak berpikir sebentar. “Kenapa kau tidak meneleponnya?”

“Terakhir kali hal ini terjadi aku meneleponnya dan yang angkat teleponnya seorang perempuan.”

Jaejoong nampak tertarik sekarang. “Benarkah?”

Wajah Seohyun memerah, dan ia melihat ke luar jendela, menghindari pandangan menyelidik pria di sampingnya. “D-dia punya banyak teman.”

“Bukankah lebih baik mengetahui bahwa ia aman dan sedang bersama teman-temannya dibandingkan duduk dan menanti teleponnya sambil tak berhenti memikirkan semua kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi padanya?”

Seohyun harus mengakui bahwa Jaejoong benar di situ. Tapi…

Seakan-akan bisa membaca pikirannya, Jaejoong lalu melanjutkan, “tapi kau terkendala dengan suatu aturan bahwa lelaki seharusnya menelepon duluan. Apalagi disini kau merasa berada di pihak yang dirugikan dan kau berhak atas permintaan maaf.”

“BENAR!” Segera setelah gadis itu sadar kalau suaranya terlalu kencang, ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “M-maaf. M-maksudku benar.”

Jaejoong menghela napas, namun kemudian terkekeh. “Seohyun,” panggilnya, membuat gadis itu menoleh, “terkadang kita harus bisa melepaskan ego kita masing-masing.” Ia tersenyum lembut. “Aku pernah menjalani hubungan dengan beberapa wanita, dan semuanya tidak berakhir dengan baik. Kau tahu kenapa?”

Seohyun menggeleng.

“Karena di antara kami tidak ada yang mau mengalah. Aku selalu menganggap diriku benar. Mereka juga. Dan terkadang masalah yang sebenarnya kecil terasa begitu besar karena kau terus-terusan memikirkannya. Cobalah berhenti sejenak dan memikirkan hal-hal yang positif dari orang lain. Aku bertaruh kalau pemuda ini pasti memiliki lebih banyak sisi baik kalau kau tak bisa berhenti memikirkannya.” Jaejoong mengedipkan sebelah mata pada kalimat terakhir.

Dan Seohyun melakukan seperti yang disarankan. Ia berhenti sejenak dan memikirkan kebaikan Seungri.

Itu tidak sulit. Pada dasarnya Seungri sangat baik dan tak pernah benar-benar menyakiti atau menjahatinya. Ia teringat pada pagi dimana lelaki itu mengirimkannya sebuah buket bunga yang sangat indah setelah ia meneriaki lelaki itu di kolam renangnya, lalu menolongnya di pesta Park Hyuni, hingga ke malam dimana Seungri menceritakan masa kecilnya sambil menunjukkan album ibunya.

Seohyun memejamkan mata.

Selama dua minggu ini lelaki itu sudah membuktikan padanya bahwa di balik tampilan luarnya yang berandalan, Seungri sebenarnya adalah pemuda yang sangat lembut. Tidak ada alasan bagi Seohyun untuk tidak mempercayai lelaki itu.

Ketika ia membuka matanya lagi, Seohyun merasa dadanya lebih lega karena perasaan mengganggu yang sejak semalam menggerogoti dadanya kini telah hilang.

“Terima kasih, Jaejoong-ssi.” Seohyun tersenyum lembut pada pria itu. “Tapi aku tetap tak akan meneleponnya duluan.” Seohyun menghentikan lelaki itu yang mencoba menyelanya. “Aku yakin dia pasti punya alasan, dan ketika dia siap nanti dia pasti akan memberitahuku. Dia selalu begitu.”

Ya, Seungri memang selalu seperti itu.

“Senang melihat kau bisa tersenyum lagi,” kata Jaejoong, membuat pipi Seohyun memerah.

Lelaki itu benar. Sejak semalam hingga sekarang, baru tadi ia benar-benar tersenyum dengan tulus. Kemudian seakan-akan baru teringat bahwa saat itu mereka berada di taksi, Seohyun pun tiba-tiba bertanya. “Umh…jadi kita akan kemana?”

Jaejoong tadi hanya menyebutkan nama jalan dan blok pada si supir taksi. Namun dia tak pernah menyebutkan mereka akan kemana.

“Oh, kita akan ke The Ritz.”

“T-the Ritz?”

Secara otomatis pikiran Seohyun pun melayang kembali pada makan malam seminggu lalu bersama keluarga Lee Joon yang berakhir dengan Seungri nyaris mencekiknya di depan elevator dan dirinya yang menangis sambil bercerita tentang apa yang pernah dilakukan si iblis Myungsoo terhadap mobilnya.

Bagaimana kalau ada Seungri disana? Adalah pertanyaan pertama yang muncul di kepalanya.

Tapi kemungkinan ia bertemu lagi dengan lelaki itu disana adalah satu mendekati nol persen. Ini adalah pesta pernikahan temannya Kim Jaejoong. Lagipula Seungri bukan tipe orang yang akan menghadiri pesta pernikahan di akhir minggu seperti ini, ‘kan?

Dengan lalu lintas kota Seoul yang padat di akhir pekan, taksi mereka akhirnya berhasil mencapai The Ritz. Jaejoong menawarkan lengannya saat keduanya berjalan memasuki lobi. Demi sopan santun Seohyun pun memegang lengan tersebut dan membiarkan si pria yang lebih tua membimbingnya menuju ballroom tempat resepsi diselenggarakan.

Ketika mereka menuju lantai atas dengan menggunakan lift, saat itulah Seohyun baru sadar. Siapapun yang mengadakan pesta pernikahan di The Ritz, pastilah orang yang sangat kaya, terkenal, atau anak dari salah satu orang-orang tersebut. Orang-orang yang datang ke pesta tersebut pun pastinya orang-orang yang juga sama kaya atau terkenalnya. Dan Keluarga Kim Sora sebagai salah satu keluarga bangsawan yang merupakan keduanya pastinya akan dikenali oleh salah satu orang-orang tersebut.

Lalu apa yang terjadi jika salah satu keluarga Kim Sora tersebut berjalan masuk ke dalam pesta tersebut dalam gandengan seorang Kim Jaejoong?

Demi Tuhan, apa yang sedang kulakukan disini?

Reaksi panik Seohyun benar-benar datang sangat terlambat. Baru saja ia hendak menyuarakan kekhawatirannya pada pria di sampingnya, tepat saat itu lift berdenting tanda mereka sudah sampai di lantai tujuan. Ketika pintu lift perlahan-lahan bergeser terbuka, Seohyun sungguh tidak siap untuk menghadapi orang yang menunggu di balik pintu tersebut.

Saat-saat itu terasa seperti slow motion.

Lee Seungri berdiri di sana. Ia belum melihat orang yang berada di lift karena ia sedang menunduk melihat ponselnya.

Ketika pintu lift sepenuhnya terbuka, Seohyun terkesiap, dan Seungri pun mendongak.

Pandangan mereka bertemu.

“Seungri?”

“Seohyun?”

Mereka berkata bersamaan.

Secara otomatis Seohyun langsung menjauhkan diri dari Jaejoong seolah-olah pria itu mengidap suatu virus ganas dan bergegas keluar dari lift. Jaejoong yang masih belum memahami situasi di hadapannya nampak bingung dengan sikap aneh Seohyun yang mendadak. Kemudian seperti Seohyun, ia juga terkejut saat melihat pemuda yang berdiri di depan pintu lift.

“Seungri! Kau datang juga?”

Oh, tentu saja mereka saling kenal! Seru Seohyun dalam hati.

Seungri yang masih terpana melihat peristiwa di hadapannya bahkan tidak sadar bahwa pintu lift telah tertutup dan lift yang ditunggunya sejak tadi kini sedang dalam perjalanannya menuju ke bawah lagi.

“Apa yang kau lakukan?” Karena pandangannya berpindah-pindah dari Jaejoong ke Seohyun, pertanyaannya tersebut dapat diartikan banyak hal.

“Aku juga salah satu undangan pesta ini,” jawab Jaejoong.

Seungri memaksa keluar tawa, kemudian mengangguk-angguk, “Tentu saja,” kemudian sebelum terjadi lebih banyak kecanggungan, Seungri seketika mencengkeram lengan Seohyun, “permisi sebentar  Hyung,” katanya lalu menarik gadis itu menjauh ke tempat yang lebih sepi dekat pintu menuju tangga darurat..

“Apa yang kau lakukan?” Si rambut merah mendesiskan setiap kata dalam pertanyaannya.

“A-apa yang kau sendiri lakukan disini?” Seohyun mendesis balik.

“Aku bertanya duluan. Kau? Bersama Jaejoong? Kalau kau belum tahu, itu kakaknya Myungsoo!” Dia menekankan suaranya pada kata kakak. “Apa yang kau lakukan sama kakaknya Myungsoo? Kau mencoba memanipulasi Myungsoo melalui kakaknya?” Ia mendengus, “Tak kusangka kau ternyata licik juga.”

“Aku tidak licik!” Seohyun mencoba melepaskan dirinya dari cengkeraman Seungri. “Dan aku tidak mencoba memanipulasi Myungsoo melalui kakaknya. Ceritanya panjang.”

Mata Seungri menyipit. “Kau mengencani Jaejoong?”

“Tidak. Tentu saja tidak!”

“Kau bukan wanita simpanannya ‘kan?”

“Dia bahkan belum menikah, mana mungkin dia punya wanita simpanan!”

“Bagaimana kau tahu? Lagipula gadis di bawah umur memang harus dirahasiakan dari publik.”

“Oh, jadi sekarang aku gadis di bawah umur?” balas Seohyun dengan penuh sarkastis. “Setelah hal…hal…hal-hal i-i-itu,” wajah Seohyun memerah saat berusaha merujuk pada apa yang beberapa malam lalu Seungri lakukan padanya, “baru sekarang kau sadar kalau aku gadis di bawah umur?”

Seungri melepas lengan Seohyun. Ia tak bisa menahan senyumannya ketika teringat pada malam yang dimaksud, “Ya, secara teknis kau memang gadis di bawah umur…” Tapi sejurus kemudian, senyumannya menghilang dan tangannya kembali mencengkeram lengan gadis itu. “Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan. Apa yang kau lakukan bersama Jaejoong? Dan jangan coba-coba bilang kalau kau diundang ke pesta ini. Walaupun kau diundang, bukan berarti kau harus pergi bersamanya, ‘kan?”

Sebelum Seohyun bisa menjawab, mendadak Jaejoong muncul dan mengagetkan mereka berdua. “Semuanya baik-baik saja disini?” tanyanya.

Tentu saja jawaban langsung meluncur dari mulut Seohyun, “y-y-ya. Semuanya baik-baik saja,”

“Kurasa kalian sudah saling mengenal?”

“Kami satu sekolah,” Seungri menjawab seakan-akan itu adalah hal paling jelas di muka bumi ini.

“Ah, benar juga.” Jaejoong mengangguk-angguk. Pandangannya lalu berpindah-pindah antara Seohyun dan Seungri. Yang satu baru saja menjawab pertanyaannya dengan nada dongkol, sementara yang lain wajahnya menunduk dan memerah.

Seketika ia pun langsung mengerti apa yang sedang terjadi.

Ia tak bisa menahan cengiran di wajahnya, namun memutuskan untuk tetap berpura-pura tidak tahu. “Ngomong-ngomong, Seungri. Karena kau tadi sedang menunggu lift aku berasumsi bahwa kau ingin turun ke bawah?”

Seungri, karena dia Seungri, langsung mendapat kesan bahwa Jaejoong ingin mengusirnya dari tempat itu. Oh, ia tak akan membiarkannya.

“Sebenarnya, tadi aku ingin merokok. Tapi sudah tidak lagi.”

“Kau kesini bersama keluargamu?”

Seungri mendadak merasa jengkel dengan semua basa-basi lelaki itu meskipun ia tahu bahwa Jaejoong hanya mencoba beramah-tamah. “Sama Sooyoung, Yunho, dan Go Ah Ra. Ya, Go Ah Ra sudah terhitung sebagai keluarga.”

Jawaban Seungri justru malah memancing pertanyaan lain. “Tidak ada Choi Siwon-ssi?”

“Sudah putus. Kau tidak lihat di TV?”

Seohyun terkesiap, sementara Jaejoong hanya menaikkan sebelah alisnya.

Sebagai seorang selebritis, tidak heran apabila kehidupan pribadi Lee Sooyoung selalu diekspos oleh acara-acara infotainment. Kenyataan tentang hubungan antara Lee Sooyoung dengan Choi Siwon, salah seorang aktor Hallyu, sudah menjadi sajian sehari-hari oleh para serigala media tersebut. Oleh karena itu ketika hubungan keduanya berakhir, hal tersebut mendadak menjadi salah satu berita terhangat yang tak henti-hentinya disiarkan oleh tiap acara infotainment di stasiun-stasiun TV nasional.

Karena Kim Seohyun akhir-akhir ini perhatiannya tersita oleh kehidupan sekolahnya yang terasa seperti roller coaster, akibatnya dia jadi jarang nonton TV. Padahal biasanya ia tak pernah ketinggalan gosip-gosip artis yang paling baru.

“Berita yang sangat menarik.” Jaejoong mengangguk-angguk. “Baiklah, mungkin sudah saatnya kita menyapa pasangan yang sedang berbahagia?” Ia kembali menawarkan lengannya kepada Seohyun.

Gadis itu meraih lengan Jaejoong dengan ragu-ragu.

Sebelum pergi, Jaejoong mengangguk pada Seungri dan berkata. “Sampai jumpa di dalam.”

Si pemuda berambut merah hanya mengangguk kembali tanpa berkata apapun.

Ketika mereka melewati pintu ballroom, Seohyun menoleh ke belakang untuk melihat Seungri dan menemukan bahwa lelaki itu ternyata sedang memandanginya juga. Dengan wajah merengut ia merokok sambil bersandar pada dinding di belakangnya.

Saat itulah Seohyun teringat, bukankah tadi Seungri bilang ia ingin turun ke bawah untuk merokok? Lalu jika ia bisa merokok disini, untuk apa dia mau turun ke bawah?

Seohyun sangat terkejut ketika mengetahui bahwa pasangan yang sedang berbahagia malam itu adalah Rain dan Kim Tae hee. Memang dia sama sekali tak mengenal si mempelai pria. Namun mempelai wanitanya adalah orang yang setiap Senin bertemu dengannya di sekolah, yaitu guru musiknya—Miss Tae Hee. Keduanya mengucapkan terima kasih dengan senyum lebar saat Seohyun menyampaikan ucapan selamatnya. Miss Tae Hee mengaku bahwa ia memang mengundang beberapa muridnya dari Shinwa , dan tidak ingat apakah ia mengundang Seohyun atau tidak. Tetapi dia senang sekali melihat Seohyun, karena belum satupun murid Shinwa  yang dia undang ada yang menampakkan diri.

Seohyun duduk di meja dengan papan nama Kim Myungsoo. Ia tidak bisa berhenti menyeringai setiap kali melihat papan nama tersebut. Disini dia menduduki bangku Kim Myungsoo, memakan makanan yang seharusnya dimakannya, mencicipi kue red velvet terenak yang seharusnya dimakannya, meminum champange yang seharusnya diminumnya. Jamuan malam itu terasa dua kali lipat lebih enak di lidah Seohyun karena di dalam pikirannya gadis itu merasa ia telah mengambil sesuatu dari Kim Myungsoo. Apa yang seharusnya dimiliki lelaki itu sekarang menjadi miliknya.

Secara mengejutkan sesekali berpikiran jahat seperti itu rasanya menyenangkan.

Sambil menikmati makan malam yang luar biasa lezat, Jaejoong pun menjelaskan siapa Rain dan Tae Hee serta hubungan mereka dengannya. Rain adalah seorang peternak, sama seperti Jaejoong dulu sebelum memulai bisnis pacuan kudanya. Para peternak di Korea umumnya saling mengenal karena mereka biasanya menciptakan lingkaran sosial sendiri serta menyelenggarakan banyak acara-acara tahunan bagi peternak yang membuat mereka mengatahui nama satu sama lain.

Salah satu bisnis Keluarga Kim Sora juga adalah peternakan yang dilakukan oleh salah seorang pamannya Seohyun jauh di Jeju sana. Yang menjelaskan mengapa setiap orang yang dikenalkan oleh Jaejoong pada Seohyun langsung mengenali si gadis dengan kalimat, “Putrinya Kim Sora?”

Lama kelamaan Seohyun pun bingung.

Jika keluarganya sangat terkenal di antara orang-orang ini, pastinya Keluarga Kim berada di dalam daftar undangan pesta tersebut, ‘kan? Lalu mengapa satu-satunya yang berada di pesta itu hanya dia? Ya, dia tahu ayahnya setiap hari sibuk kesana kemari untuk memperkaya keluarga mereka yang sudah kaya dan memang tidak sedang berada di Korea. Tapi bagaimana dengan saudara-saudaranya yang lain? Pamannya, bibinya, bahkan sepupunya saja sekarang entah berada dimana.

Ketika mereka berdansa, Seohyun pun bertanya, “Anda sebenarnya sudah tahu kalau saya tidak akan merasa tersisihkan di pesta ini, ‘kan?”

Jaejoong hanya tersenyum, sebelum menjawab, “seperti yang kubilang tadi, para peternak saling mengenal. Tidak ada peternak di Korea yang tak mengenal Keluarga Kim Sora.”

“Tapi aku tidak tahu tentang pesta ini.”

“Karena tak ada yang memberitahumu.”

Seohyun tersenyum, “Ya, mungkin saja.”

“Hei, boleh aku tanya sesuatu yang mungkin agak personal?”

Seohyun mengedip beberapa kali, lalu menjawab, “T-tidak masalah.”

“Ada apa sebenarnya antara kau dengan Seungri?”

Wajah Seohyun serta merta memerah, dan membuat Jaejoong tertawa.

“Kau tahu, lupakan saja aku pernah bertanya seperti itu.”

Tepat setelah Jaejoong menyelesaikan kalimatnya, Seungri mendadak berdiri di samping mereka. “Boleh aku berdansa dengannya?” Pandangannya dingin, dan bibirnya hampir tak bergerak sama sekali saat ia berbicara.

“Tentu saja,” Jaejoong mengedipkan sebelah matanya pada si rambut merah kemudian pergi untuk mengambil minuman. Segera setelah Seohyun lepas darinya, multijutawan lajang tersebut langsung dikerumuni oleh beberapa wanita cantik yang saling berlomba untuk berdansa dengannya.

“Hei,” Seohyun menyapa Seungri, yang hanya dijawab lelaki itu dengan anggukan.

Mereka saling berpandangan selama beberapa saat sebelum meletakkan tangan mereka di posisi masing-masing. Seohyun tersenyum saat Seungri mulai memandunya melewati lantai dansa. Ia tak pernah tahu bahwa Seungri bisa berdansa. Ia juga tak tahu bahwa dirinya bisa berdansa. Anehnya, dia merasa tidak terlalu buruk. Mungkin sekali atau dua kali menginjak sepatu Seungri. Namun sisanya, dansa mereka seperti mengalir mengikuti alunan lambat musik jazz yang melingkupi seisi ballroom.

“Kau terlihat cantik malam ini,” Seungri berkata tiba-tiba. Seohyun menahan napas. Meskipun tidak sering, namun ia pernah mendengarnya sebelumnya dari orangtua serta beberapa kerabatnya. Namun ini berbeda. Dari cara Seungri mengucapkannya semuanya terasa berbeda, rasanya lebih intim. Mengetahui lelaki itu, pujian tersebut bukanlah pujian yang dengan gampangnya ia katakan pada orang lain. Seohyun menghela napas perlahan-lahan. Rasanya seperti bernapas di dalam dongeng. Jika waktu bisa dihentikan, maka Seohyun akan menghentikannya tepat saat itu. Dia tak ingin dansa tersebut berakhir. Dia ingin selamanya berada dalam dekapan Seungri seperti ini.

“Terima kasih,” jawabnya pelan.

Perlahan-lahan, Seungri menurunkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke Seohyun. Kim Seohyun pun perlahan-lahan menutup matanya, dan sudah bersiap menyambut bibir hangat lelaki tersebut.

Namun momen tersebut tak kunjung datang.

Tidak, malahan Seungri berbisik, “Aku tidak suka melihatmu bersama Jaejoong.”

Seohyun membuka mata, dan menyadari saat itu mungkin wajahnya dan Seungri hanya berjarak beberapa sentimeter. “Aku juga tidak suka saat kau tidak datang ke rumahku semalam,” bisiknya juga.

Dalam sekejap Seungri langsung menegang dan menjauhkan wajahnya. Ia membuang muka. Tidak ada lagi pandangan yang membuat Seohyun terhipnotis. Gadis itu pun mendesah kecewa.

Setelah beberapa momen hening kemudian, Seohyun akhirnya menyerah. “Jaejoong-ssi kemarin sore menolongku saat aku hampir menjatuhkan semua belanjaanku di pasar. Setelah itu kami berkenalan dan berbagi taksi. Kau tahu aku tak pernah berkendara ke sekolah ‘kan?” lelaki itu masih membuang muka, “kemudian tadi pagi dia tiba-tiba muncul di pintu depan rumahku dan mengajakku kesini. Awalnya aku tak mau ikut, tapi karena…karena suatu hal…” selama sesaat Seohyun bingung dengan jawabannya sebelum cepat-cepat menambahkan, “Aku tak punya acara lain hari ini.”

Pandangan Seungri kini kembali padanya.

“Lagipula kenapa kamu yang marah sih? Seharusnya aku yang marah-marah disini.” Sekarang giliran Seohyun yang cemberut. “Kenapa kamu tak datang kemarin?”

Ekspresi Seungri pun akhirnya melunak ketika melihat wajah si gadis yang cemberut. “Kau marah, ya?”

Seohyun menggeleng-geleng. “Tidak.”

“Oh, ayolah.” Seungri tersenyum, berharap Seohyun akan tersenyum jika melihatnya tersenyum. Tapi Seohyun bersikukuh dengan ekspresi wajahnya. “Kan sudah kubilang waktu itu kalau aku tidak bisa hari Jumat.”

“T-Tapi kau bilang kau akan datang meskipun terlambat,” sahut Seohyun cepat.

“Aku memang bilang begitu. Tapi aku takut kalau aku datang jam dua pagi aku akan mengganggu tidurmu. Lagipula apa yang akan kita lakukan jam dua?”

“A-aku masih bangun jam dua…” bisik Seohyun.

“Bagaimana aku tahu kau masih bangun?” Seungri kini juga berbisik.

“K-kau bisa meneleponku.”

Seungri menyeringai mendengar jawaban gadis itu. “Kau segitunya ingin bertemu denganku ya?”

Seohyun mendongak sangat cepat. “T-tidak!” Wajahnya memerah. “A-Aku hanya…aku hanya bingung kenapa kau tidak datang. Aku takut terjadi sesuatu padamu di jalan…”

Kalimat Seohyun dipotong oleh Seungri, “Kau khawatir padaku?” Ia menaikkan sebelah alisnya.

“Tidak!” jawab Seohyun cepat.

Seungri terkekeh melihat ekspresi gadis itu yang kini bercampur antara malu dan kesal. “Pesta ini membosankan, ya?” katanya tiba-tiba.

“Hah?” Seohyun cepat-cepat menggeleng. “Menurutku ini cukup menyenangkan.”

Seakan-akan tidak mendengar jawaban Seohyun, Seungri melanjutkan, “Bagaimana kalau kita keluar?”

Dahi Seohyun mengernyit. “Kemana?”

“Kemana saja. Ke pusat kota. Hei, kau pernah main di arcade?”

Seohyun menggeleng pelan. Arcade adalah salah satu tempat dari ratusan tempat lain yang dilarang orang tuanya untuk dia kunjungi. Meskipun ia ingin mengunjunginya diam-diam, Soohyun selalu berada disana untuk mengawasinya, sehingga kehidupan Seohyun bisa dikatakan monoton dan sederhana karena setiap hari ia biasanya melakukan kegiatan yang itu-itu saja.

Tapi sekarang, di hadapannya muncul suatu tawaran yang mungkin saja tawaran sekali seumur hidup.

Seungri mengajaknya ke arcade. Tidak ada ayahnya, tidak ada ibunya, dan Soohyun pun entah berada dimana. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Seohyun bisa merasakan keglamoran malam hari dari kota Seoul.

Dan bagian terbaiknya adalah Seungri akan menemaninya.

Tentu saja ia tak akan menyia-nyiakannya.

“Bolehkan kita naik kereta setelah itu?”

Karena keduanya sama-sama tidak membawa mobil, mereka pun memutuskan berjalan kaki menuju pusat kota. Sebenarnya mereka bisa saja naik taksi, namun karena lalu lintas pada Sabtu malam tersebut sangat padat, apalagi menuju pusat kota, keduanya pun merasa tidak akan rugi jika berjalan kaki.

Seungri sudah melepas jasnya. Jas hitam tersebut kini tersampir di bahu Seohyun, menghangatkan tubuh gadis tersebut yang hanya terbalut oleh dress putih selutut.

Dress putih selutut yang menurut selera Seungri terlalu ketat dibagian dada.

“Mungkin aku harus menelepon Jaejoong-ssi…” Seohyun bergumam pada dirinya sendiri, kemudian mengeluarkan ponsel dari tas tangannya. “Tapi…”

“Kau tidak punya nomornya,” Seungri melanjutkan kalimatnya, membuat Seohyun menoleh.

“Kau punya?”

Seungri menggeleng. “Sudahlah biarkan saja. Dia pasti sedang menikmati kepopulerannya di antara para wanita.”

“Tapi aku pergi bersama dia, bagaimana kalau dia mencariku nanti?”

Seungri menghembuskan napas dengan kesal. Sepuluh menit yang lalu gadis ini sangat bersemangat ketika mereka melangkah keluar dari lobi The Ritz. Tapi begitu ia teringat soal Jaejoong, paranoid-nya pun langsung kambuh.

“Begini saja. Aku akan menelepon Myungsoo dan menanyakan nomor kakaknya.”

Mendengar nama Myungsoo, Seohyun secepat kilat langsung mencengkeram lengan Seungri, mencegah apapun yang hendak dilakukan lelaki itu. “Tidak, tidak, tidak. Tidak boleh tanya Myungsoo.”

“Bagaimana kalau aku titip pesan pada Sooyoung supaya memberitahu Jaejoong bahwa kau pergi bersamaku?”

Ide tersebut tidak terlalu buruk, dan Seohyun merasa bodoh karena tak terpikirkan hal itu sebelumnya. Akhirnya setelah Seungri menelepon Sooyoung agar memberitahu Jaejoong bahwa Seungri telah menculik teman kencannya, Kim Seohyun pun kembali bersemangat dengan petualangan malam mereka.

Satu jam kemudian, Seohyun bahkan tidak menyadari bahwa mereka masih belum juga sampai ke arcade yang menurut Seungri bisa dicapai dengan berjalan kaki. Waktu terasa berjalan cepat karena mereka berbicara tentang banyak hal—teman sekelas mereka, pelajaran, olahraga, dan rencana liburan mereka.

Seungri mengaku bahwa ia biasa menghabiskan liburan paskahnya di rumah, karena semua saudara-saudaranya akan mengunjungi rumahnya. Sementara Seohyun biasanya menghabiskan liburan paskah di Jeju tempat keluarga besarnya selalu berkumpul.

“Hei, kau pernah ke kuil Tsukimine?” Seohyun bertanya tiba-tiba.

Seungri mengangguk.

Kuil Tsukimine adalah kuil agama Shinto yang terletak di atas bukit di daerah pinggiran kota. Meskipun Seohyun beragama Katholik, namun karena keluarganya menganut kepercayaan Shinto, setiap tahun baru ia pasti akan mengunjungi kuil tersebut bersama keluarganya untuk berdoa. Keluarganya juga merupakan salah satu donatur tetap untuk kuil tersebut, sehingga setiap mereka menyelenggarakan acara apapun, mereka pasti mengirim surat ke Keluarga Kim.

“Mereka akan mengadakan festival musim semi minggu depan. Kau mau datang?”

“Aku belum pernah ke festival sejak aku pindah kesini.”

“Karena itu selalu ada kali pertama untuk setiap hal.” Seohyun berhenti dan mendongak menatap Seungri, menunggu jawaban lelaki itu.

Seungri tampak berpikir sebentar. Namun saat ia menatap ke dalam sepasang mata pucat yang dipenuhi harapan tersebut, ia tahu bahwa ia tidak bisa menolak. “Bukan ide yang buruk kurasa.” Seungri mengangkat bahu.

Seohyun mengacungkan jari kelingkingnya. “Janji?”

Seungri pun mengaitkan jari kelingkingnya. “Janji.”

Mereka berdua pun sama-sama tersenyum.

11 thoughts on “Lawless (Chapter 17)”

  1. akhirnyaaaaa di post juga nih ff-.- pas bgt buat yg mlm thn baru di rmh bca ni ff :v #jomblosampaihalal
    duhhh mendingan myungsoo cpt2 deh batalin taruhannya sm seo. Kan kasian klo seungri smpe tau. ntar bisa2 seungri ngejauhin seo. kan akhir2 ini mereka lgi sweet2nya/? sepertinya seungri jga ada rasa sm seo.
    Lanjutan nya jgn lama2 yaa kak, fighting!!

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s