[Vignette] Sorry

Sorry

Title: Sorry

Scripwriter: Joicchi

Main cast: Red Velvet’s member

Genre: Friendship

Duration: Vignette

Rating: General

***

“kenapa meminta maaf itu sungguh sulit?”

.

.

.

Berkali-kali Joy menghela nafasnya kasar. Ia sungguh sedang bingung saat ini. Seulgi yang melihat temannya seperti itu segera menghampiri Joy, ia menepuk bahu Joy membuat sang empunya menoleh kepada Seulgi. Joy tersenyum lebar mengetahui Seulgi juga berada di tempat ini, yaitu atap sekolah. “Seulgi!” panggilnya sumringah. Seulgi tersenyum sangat manis begitu Joy memanggil namanya.

“sedang apa kau disini?” tanya Seulgi. Joy menggelengkan kepalanya pelan. Ia tersenyum tipis, pandangannya melihat ke bawah, dimana sebagian murid dari sekolah itu tengah asik bermain dengan teman-temannya. “kau… sudah berbaikan dengannya?” perkataan Seulgi membuat Joy mengalihkan pandangannya. Ia mengerutkan keningnya bingung mendengar ucapan Seulgi. Ia membulatkan matanya tak percaya setelah mengetahui apa yang dimaksud oleh Seulgi.

“eh? Kami tidak bertengkar, kok!” sanggah Joy cepat. Seulgi tersenyum misterius mendengar ucapan Joy yang sangat mencirikan jika ia sedang berbohong. “lalu? Kenapa kalian tidak pernah saling menyapa?”

“i-itu…” Joy memainkan kedua jari telunjuknya, itu yang biasa dilakukan olehnya jika sedang berbohong. Seulgi sangat hafal dengan sifat temannya yang satu ini. Seulgi menaikan alisnya, berpura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi. “kami sedang perang dingin!” Seulgi berpura-pura shock mendengar jawaban Joy. Ia menggelengkan kepalanya pelan. “kau tidak boleh seperti itu! Bukankah kalian bersahabat?”

“ya. Dan itu membuatku merasa sedikit bersalah karena membentaknya.” Joy menundukan kepalanya. Ekspresinya menunjukan jika ia sedang merasa sedih, Seulgi menepuk bahu Joy pelan, mencoba memberi kesabaran pada temannya tersebut. “kenapa tidak meminta maaf saja?” Joy merubah raut wajahnya yang semula murung menjadi kaget. “apa kau bercanda?! Kau ‘kan tau aku tidak pernah sekalipun meminta maaf pada orang lain!”

Seulgi menghela nafasnya frustasi. Sulit memang memberitahu gadis keras kepala seperti Joy. “itulah sebabnya! Kau harus mencoba meminta maaf walau hanya sekali!” Joy berdecih tak suka akan penuturan Seulgi. “TERSERAH KAU SAJA!” Joy segera meningalkan Seulgi yang hanya bisa menatap Joy dengan tatapan sedikit sebal mungkin? Ia menggelengkan kepalanya pelan dan memutuskan untuk mengikuti langkah Joy meninggalkan atap sekolah.

.

.

.

“haah…” Irene mengerutkan keningnya melihat teman sebangkunya yang sedari tadi terus menghela nafas frustasi. “hei Joy! Kau kenapa sih? Bukankah kau bilang kau akan selalu gembira? Kenapa wajahmu muram begitu?” Irene menghentika pertanyaannya kala melihat tatapan tajam yang diberikan Joy kepadanya. “s-sepertinya aku harus ke luar.”

Seulgi mengerutkan keningnya bingung melihat Irene yang mendatanginya dengan nafas terengah-engah. “kau kenapa, sih?” tanya Seulgi bingung, sedangkan yang ditanya olehnya sibuk mengatur nafasnya sendiri.

“kau tau Joy kenapa?” tanya Irene setelah berhasil mengatur nafasnya. Seulgi menunjukan senyum khas miliknya dan mulai menceritakan apa yang terjadi sedangkan Irene hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti. “cobalah kau bujuk dia, Joy hanya mendengarkan ucapanmu.” Irene mengerutkan alisnya bingung mendengar penuturan Seulgi. “aku?” Seulgi menganggukan kepalanya, mengiyakan ucapan Irene.

“apa benar begitu?” tanya Irene ragu. “ya. Sudah cepat! Bujuk Joy agar mereka segera berbaikan.”

“oke. Kang Seulgi! Serahkan semuanya pada Bae Irene!” Seulgi hanya mampu terkekeh ketika Irene berteriak dengan begitu semangat. “berjuanglah!”

.

.

.

“Irene!” Joy berlari menghampiri Irene yang sedang berjalan menuju gerbang sekolahnya. Ia segera berlari untuk menyamakan langkahnya dengan Irene. “pagi!” ucapnya setelah berhasil menyamakan langkahnya dengan Irene. Irene tersenyum dan merangkul Joy. Mereka berjalan menuju kelas 2-3 dengan tawa yang sesekali terdengar dari mereka.

“Irene… aku ingin bilang sesuatu.” Irene menolehkan kepalanya kepada Joy yang saat ini tengah memandang lantai. “apa?”

“a-apa aku harus minta maaf?” Irene tersenyum penuh arti mendengar ucapan Joy. ‘setidaknya aku tidak perlu repot membujuknya’ itulah yang dipikirkan gadis berambut cokelat gelap tersebut. “ya.” Jawab Irene sekenanya. “t-tapi, aku tidak salah.”

Irene menghentikan langkahnya. Ia menatap Joy dengan senyumnya yang manis menghiasi wajah cantiknya. “Kenapa harus menunggu kau berbuat kesalahan baru meminta maaf?” Joy terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Irene, “jika kau tidak merasa bersalah, kenapa kau mempunyai niat untuk meminta maaf? Bukankah itu artinya bahwa hatimu mengatakan bahwa kau itu bersalah?”

“meminta maaf itu bukanlah suatu kesalahan Joy… tetapi meminta maaf itu adalah suatu hal yang sangat mengangumkan. Apa kau bisa bayangkan? Kau tidak bersalah, tetapi kau meminta maaf, bukankah itu artinya kau orang yang baik?” Irene menggenggam tangan Joy yang mengepal sempurna menahan emosinya. “ku tanya. Apa fungsi mulut jika hanya mengatakan satu kata, yaitu ‘maaf’ saja tidak bisa? Apakah fungsi mulut hanya untuk memaki orang? Memarahi orang? Meneriaki orang? Bukan sebagai alat untuk mengatakan sebuah penyesalan?”

Ucapan yang diberikan oleh Irene bagaikan sebuah palu besar yang memukul Joy menjadi berkeping-keping. Ia menggelengkan kepalanya dan menepis tangan Irene yang masih setia menggenggam tangannya. “hentikan lah! Kau membuat kita menjadi pusat perhatian!” ucapnya ketus dan segera meninggalkan Irene yang hanya bisa menghela nafas pasrah.

.

.

.

“Seulgi?” Seulgi yang tengah membaca bukunya menolehkan kepalanya ke sumber suara yang memanggilnya. “kenapa?” tanyanya bingung.

“a-aku ingin meminta maaf padanya. T-tapi… aku t-takut..” Seulgi terkekeh seraya mengacak gemas rambut hitam milik Joy. “untuk apa takut? Dia tidak akan memakanmu jika kau meminta maaf darinya, kok.” Canda Seulgi, setidaknya bisa untuk membuat senyum Joy sedikit berkembang.

“nanti jam istirahat akan ku antarkan kau ke kelas Wendy.” Joy hanya mampu mengangguk mendengar ucapan Seulgi. Mereka kembali ketempat duduknya masing-masing ketika bel masuk sudah kembali berbunyi.

.

.

.

“Joy? Ayo!” Seulhi mencoba menarik Joy yang masih setia duduk di kursinya, Irene yang melihat itu hanya mengerutkan keningnya bingung. “kau bilang ingin meminta maaf ‘kan? Ayo!” Irene tersenyum senang mendengar ucapan dari Seulgi. Ia menghampiri kedua gadis remaja tersebut dan ikut menarik Joy. “ayo Joy! Kami berdua akan menemanimu!”

Joy menatap Irene dengan penuh tanda tanya. “benarkah? T-tapi… aku tidak mau meminta maaf di depan banyak orang.”

“kalau begitu… Seulgi! Kau bawa Wendy ke atap! Dan aku akan membawa Joy ke atap, bagaimana?” Joy membulatkan matanya tak percaya mendengar penuturan Irene yang disetujui oleh Seulgi. Tanpa basa basi, Seulgi segera keluar kelas dan menghampiri kelas Wendy, sedangkan Irene segera menarik Joy menuju Atap.

.

.

.

“yaampun, Ren. Jantungku berdebar-debar! Aku sangat takut, bahkan rasa takutku melebihi saat aku menaiki Histeria.” Irene memutar bola matanya malas mendengar ocehan dari gadis disebelahnya ini. Kemana Seulgi? Kenapa mereka lama sekali? “HOII!” Irene dan Joy menolehkan kepala mereka kebelakang, lebih tepatnya kearah Seulgi dan… Wendy.

Jantung Joy berdebar lebih kencang kali ini. Ia meremas tangannya yang mungkin sudah dingin saat ini. Irene dan Seulgi segera pergi meninggalkan atap, dan jangan lupakan wajah jail mereka saat berpamitan pada Joy untuk ke kelas terlebih dahulu.

“apa yang ingin kau katakan?” tanya Wendy dengan rautnya yang sangat datar, membuat Joy semakin gugup dibuatnya. “a-aku… m-minta… a-” Wendy mengerutkan keningnya bingung. “apa?”

“a-aku.. m-minta… m-maaf…” dapat Joy lihat senyuman sinis yang diberikan oleh Wendy kepadanya. “apa kau baru sadar sekarang? Tapi baiklah, aku memaafkanmu. Sudahkan? Setelah ini kita tidak usah saling mengenal lagi!” bentak Wendy kepada Joy, yang membuat gadis berambut sedikit keriting itu memejamkan matanya, berusaha utnuk tidak menangis. Ia segera memeluk Wendy. Wendy yang mendapat pelukan secara tiba-tiba tersebut tersenyum simpul dan mengelus punggung Joy lembut, membuat tangis Joy tak dapat di tahan lagi.

“huaa… maaf… maafkan aku… hiks… maaf!” isak Joy di pelukan Wendy. Masih dengan mengelus punggung Joy, Wendy mencoba menenangkan sahabat kecilnya tersebut “sst… tenanglah~ aku hanya bercanda.”

“eh?” Joy melepaskan pelukannya dan menatap Wendy bingung. “b-bercanda? Jadi aku menangis hanya karena sebuah candaan?” pekik Joy histeris, sedangkan Wendy sudah tertawa sangat puas sekarang. “aku baru tau kau bisa menangis… haha!” ejek Wendy kepada Joy. “YA! SON WENDY! KUBUNUH KAU!” dan aksi kejar mengejar tersebutpun sudah tidak bisa di tahan lagi. Keduanya saling tertawa bahagia walau masih saling mengejar, persahabatan itu… bukankah sangat indah?

.

.

.

“haah… sepertinya kita harus melewati masa-masa berisik lagi.” Ucap Irene suram yang diamini oleh Seulgi dan dua gadis lainnya. “tapi… aku penasaran, kenapa Seulgi bisa tau jika kedua idiot itu sedang bertengkar?” tanya Yeri, teman sebangku Wendy di kelas 2-1. Seulgi mengangkat bahunya acuh. “mudah saja. Kau fikir, kenapa sekolah kita bisa tenang selama dua minggu belakangan ini?”

Lami menjentikan jarinya cepat. “karena kak Wendy dan kak Joy sedang bertengkar?” tanya adik dari Yeri tersebut. Seulgi menganggukan kepalanya. “berarti misi kita berhasil?” tanya Yeri. Irene dan Seulgi mengangguk, sedangkan Yeri dan Lami bersorak gembira dan melakukan high five bersama.

~ The End ~

Iklan

Satu pemikiran pada “[Vignette] Sorry

  1. Aih~ suki da suki da! ya ampun, baca FF ini jadi keinget aku pas bertengkar sama sahabatku di SMA :’ duh! aku suka banget sama genrenya!
    terus, pas aku liat poster, kenapa ada 6 cewek? eh ternyata ada Lami ikut nyempil di cerita wkwkwk
    oke, keep writing thor!! 😄

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s