[Vignette] Of Calming Words & Giving Up

PicsArt_12-31-01.04.18

by jojujinjin (@laissalsa on Twitter)

.

starring BTS’s Yoongi aka Suga & Seventeen’s Jihoon aka Woozi

also BTS’s Jimin  & Seventeen

Vignette // G // Family, Hurt/Comfort, Sad, Angst, Drama, Slice of Life

.

summary

Jangan menyerah, ingat ada aku.

***

.

.

Sudah hampir dua minggu sejak Min Jihoon dinyatakan mengidap Meningitis bakterialis1), tapi baru empat hari lalu badannya yang penuh bintik merah berpindah ke ICU.

Kala itu Yoongi susah payah menyejajarkan langkahnya dengan roda-roda kasur Jihoon yang bergerak cepat. Ia menepuk pundak Dokter Park yang sedang membaca apa pun itu dan bertanya. Untuk yang kesekian kalinya.

“Dia tak apa, ‘kan?”

Untuk yang kesekian kalinya juga, Jihoon yang sadarkan diri menggoyangkan lengan sang kakak. Berujar sembari menghela napas.

“Aku tidak apa-apa, Kak. Lihat.”

Yang kata terakhir itu baru pertama kali dilontarkannya, sehingga Yoongi menoleh dan gagal fokus pada senyum lebar Jihoon; maniknya justru meneliti ruam yang makin hari kian meluas, juga sepasang mata yang tambah sayu dari biasanya.

Dokter Park tersenyum tipis. “Baiklah, Min Yoongi—kau tunggu di luar, oke?”

Tanpa disadari, mereka sudah berada di depan Unit Perawatan Intensif yang pintu kacanya terselimuti kain berwarna putih.

Yoongi meneguk saliva, menahan lengan perawat yang mendorong hospital bed untuk berhenti. Lantas mengamati wajah Jihoon lamat-lamat.

“Ingat perkataanku,” tangan Yoongi terkepal sejemang, lalu kembali rileks di kedua sisi tubuhnya. “Jangan menyerah, ingat—“

“Ingat ada aku; ada Kakak. Got it.”

Kalimat itu sudah rajin dikatakannya sejak malam Jihoon masuk ke rumah sakit, suhu badannya tinggi sekali. Kulit Jihoon dipenuhi titik-titik merah dan napasnya memburu seperti tengah berlari dikejar anjing.

Dan senyum Jihoon adalah salam perpisahan sebelum kasur Jihoon melenggang masuk ke dalam ruangan tersebut, selain sebuah tepukan menangkan dari Dokter Park mendarat di bahunya yang lemas.

Esoknya Yoongi hanya bisa bertemu Jihoon selama sepuluh menit, itu pun terpotong dengan kesulitannya ketika mengenakan segala perlengkapan yang harus dipakainya sebelum memasuki ruang ICU. Itu pun hanya sekadar mengobrol ringan dan berakhir dengan kalimat yang sama seperti kemarin.

“Ingat perkataanku ya….”

Tapi Yoongi tidak langsung melanjutkan frasanya. Netranya masih fokus pada kabel-kabel yang menghubungkan raga adiknya dengan sebuah komputer di sisi kiri kasur, berfungsi untuk memantau fungsi vital tubuh secara seksama.

Melihat Yoongi yang justru memejamkan matanya—mengembuskan napas berat tak lama kemudian, Jihoon mengangkat ibu jari tangan kanannya ke udara.

“Jangan menyerah, ingat ada kakak,” ucapnya, nyengir tatkala Yoongi terkekeh pelan.

Besoknya lagi terlewati tak jauh berbeda.

Tapi hari ini Dokter Park tidak kunjung menampakkan diri dari ujung lorong, tidak kunjung menyapanya dan menyilakan dirinya untuk menjenguk Jihoon.

Yoongi menunggu sampai pukul sebelas malam. Mondar-mandir di depan pintu yang gorden usangnya dikutuk Yoongi setengah mati karena membuatnya buta dengan keadaan di dalam. Sampai sepasang tungkai kurusnya menyerah dan ia memutuskan untuk duduk di atas sebuah kursi panjang, mata kelelahannya memejam perlahan.

Sampai tangan yang sudah familier dengan epidermisnya membangunkannya.

Dokter Park berdiri di hadapan Yoongi, memaksakan sebuah senyum di wajahnya yang bulat.

“Min Yoongi, bisa bicara denganku sebentar?”

.

.

.

.

.

Meningokokus2).

Awalnya Yoongi mengernyit tatkala Dokter Park menyebut kata itu. Tapi dengan beberapa penjelasan, ia mengerti. Dan berat di hatinya sontak bertambah berkali-kali lipat.

Meningitis Jihoon bertambah parah sehingga ia ikut mengidap Septikemia3), dan Meningokokus adalah nama gabungan dari keduanya.

Memang benar, sebentar percakapan itu. Lebih kurang lima belas menit. Pada akhirnya Dokter Park meminta maaf karena Yoongi tidak diperbolehkan menjenguk Jihoon sebab kondisinya yang tak memungkinkan.

“Kuharap saat kau sudah boleh menjenguknya nanti, kau masih bisa menyemangatinya.”

Yoongi mengangguk pelan. Dokter Park melepas kacamatanya, mengembuskan napas gamang.

“Min Jihoon itu luar biasa sekali, Yoongi.”

Yoongi termangu, menyuapi detik-detik yang terlewati di antara mereka dengan keheningan. Suara ringkih Jihoon serta senyum idiotnya menginvasi otaknya seperti ombak, pun cercah semangat yang tanpa ragu selalu dipamerkan Jihoon dalam kedua iris gelapnya.

Kedua sudut bibirnya terangkat sedikit. Sedikit sekali, sampai-sampai gestur tersebut nyaris tidak bisa dikategorikan sebagai sebuah senyuman.

“Aku tahu.”

Dengan itu, ia melangkah keluar. Melangkahi malam demi malam semudah melangkahi ubin dingin lorong rumah sakit.

.

.

.

.

.

Jihoon melepas earphone yang sejak dua menit terakhir dikenakannya, lekas mengembalikan benda tersebut bersamaan dengan mp3 player di pangkuannya kepada sosok yang duduk di sisi ranjangnya. Memasang wajah harap-harap cemas.

Jihoon membenarkan posisi duduknya sebelum kepalanya menggeleng-geleng, bingung. “Aku tak habis pikir,” ujarnya mendesah. “Kau sudah hebat, Josh. Kau tidak—“

“Tapi jika dibandingkan dengan buatanmu, ini bukan apa-apa, Jihoon.” Joshua memajukan bibir bawahnya. Jemari memainkan kabel earphone di genggaman. “Aku rindu musik buatanmu, tahu. Bukan hanya aku … the kids are missing you too. Mereka kangen rekaman denganmu.”

Jihoon tergelak. “Aku bisa membayangkan mereka sedang berebut pizza sekarang.”

“Berebut pizza? Ya ampun, mereka semua di luar bersama Kak Yoongi! Kemungkinan besar sedang meneror kakakmu dengan pertanyaan-pertanyaan tentangmu.”

Bola mata Jihoon memutar tak percaya. “Bukankah aku sudah bilang hanya boleh satu orang yang menjenguk?”

“Mereka memaksa ikut.”

Joshua seratus persen benar. Di luar, Soonyoung dan kawan-kawannya tengah mengerubungi Yoongi bagai semut mengelilingi makanan manis. Pertanyaan mereka sungguh beragam. Di antaranya:

“Kak! Kok  Jihoon dipindah ke sini, sih?”

“Iya, kok yang boleh jenguk hanya satu orang?”

“Sakitnya Jihoon tambah parah memang, Kak?”

“Kak Yoongi, di mobil kami ada buah-buahan lho. Tadi lupa dibawa ke sini.”

“Kak Yoongi sudah makan belum?”

Pertanyaan terakhir sukses memutar kepala-kepala yang tadinya terarah ke Yoongi yang Kebingungan ke Lee Chan di paling belakang.

“Apa?” tanyanya heran, melihat berpasang-pasang mata menyerangnya.

Yoongi lantas tertawa, maju untuk mengacak rambut Chan sebelum menjawab pertanyaan mereka. Yang lain ikut terkekeh sejemang.

“Jihoon dipindah ke sini supaya dia bisa dipantau fungsi alat vital tubuhnya. Dia hanya boleh dijenguk satu orang karena memang begitulah peraturan di ruang ICU.” Yoongi menarik napas. “Semalam aku diberi tahu oleh dokter kalau penyakitnya berubah menjadi Meningokokus, semacam komplikasi dari penyakitnya yang kemarin dengan satu penyakit baru. Dan, sudah Chan. Aku sudah makan, terima kasih.”

Mereka mengangguk, beberapa wajah antusias berubah mendung, dan tak butuh waktu lama untuk Yoongi menyadarinya.

“Tenang saja, Jihoon pasti sembuh. Dia punya semangat yang luar biasa, dan dia punya aku. Dia punya kalian juga.” Kata Yoongi, menarik Seokmin yang nampak ingin menangis ke sisinya, merangkul pria itu erat. “Berdoa saja untuknya, oke?”

Sebuah chorus ‘oke’ singkat menggema di lorong tersebut, menyambut Joshua yang keluar dari Unit Perawatan Intensif. Air muka secerah mentari.

“Bisakah kalian ke mobil dulu? Ambil parcel-nya dan kembali ke sini.”

Lalu rombongan itu berlarian ke tempat parkir. Meninggalkan Joshua serta Yoongi yang berdiri berdampingan di samping pintu kaca ruang ICU.

“Kuharap mereka tak merepotkanmu barusan, Kak,” ujar Joshua kala bayangan mereka ditelan sebuah persimpangan.

Yoongi terkekeh, menggelengkan kepalanya lamat. “Aku tadi sempat ke toilet, jadi tidak begitu lama berbincang dengan mereka. Lagipula mereka menyenangkan, Josh.”

“Aku takjub melihat semangat Jihoon, Kak. Syukurlah dia mempunyai kakak sepertimu.”

Yoongi mengulas senyum tipis. “Dia tak akan bertahan jika dia sendiri tidak mempunyai semangat, Hong.”

Yeah, tapi dia sendiri tidak akan mempunyai semangat jika tak punya seseorang sepertimu di sisinya,” Joshua terdiam sebentar. “Jihoon itu luar biasa, Kak. He made some jokes and smiled in that state. Aku tidak pernah merasa sangat bersyukur dengan kondisi sehatku sekarang.”

Respon Yoongi tak sampai sedetik setelahnya. “I know.”

“Aku—kami berdoa yang terbaik untuknya. Please just let us know if you guys need something.”

Lengan Yoongi mengalungi bahu Joshua dalam sebuah rengkuhan yang hangat. “Terima kasih banyak, Josh. I will.”

Lalu Joshua pergi, berdalih ingin pergi ke toilet. Tak lama kemudian rombongan ramai yang Seungcheol pimpin—dengan sebuah parcel besar di tangannya—menghampiri Yoongi. Yoongi berterima kasih, mereka berpelukan seperti Teletubbies.

.

.

.

.

.

Membuat musik adalah pekerjaan, sekaligus anugerah untuk  Jihoon. Membuat musik membuatnya mengenal Seventeen. Membuat musik membuatnya bahagia. Membuat musik menghidupinya. Membuat musik adalah hidupnya, hidup seorang Min Jihoon. Tapi mendengar lagu buatan Joshua kemarin membuatnya sedikit was-was; Joshua jelas mampu memproduksi musik dengan baik, dan Jihoon tidak bisa menepis fakta kalau ia sudah … katakanlah sekarat.

“Jihoon.”

Lamunannya buyar. “Ya?”

“Kau butuh sesuatu?” tanya Yoongi, sebisa mungkin tidak terlalu lama meniti tubuh Jihoon terlalu lama.

Jihoon tidak membaik; justru terlihat agak memburuk, ruam di kulitnya kian menjadi. Kadang Yoongi ingin menangis melihatnya.

Sungguh.

“Tidak, terima kasih Kak.”

Senyum Jihoon juga tak seperti biasanya. Cenderung dipaksakan.

Yoongi mengembuskan napas, menggenggam tangan kanan kurus Jihoon di tengah kedua telapak tangannya. “Jangan menyerah ya, ingat ada aku.”

Jihoon masih punya Yoongi.

Ia harus mengingatnya, tentu saja.

“Terima kasih, Kak,” Jihoon tersenyum lagi. Lebih natural dari sebelumnya.

Yoongi tidak pernah mengharapkan apa pun selain titik terang yang ada di fokus Jihoon dan lengkungan bibirnya. Yoongi tidak pernah mengharapkan apa pun selain garis-garis di monitor tidak berubah lurus dan bunyinya tak hanya akan mengetuk telinganya, melainkan berubah menjadi sebilah pisau tajam yang membelah mentalnya menjadi dua.

That can be considered as his worst nightmare ever.

“Kita bertemu esok pagi, oke?”

.

.

.

.

.

Jihoon terbangun keesokan harinya, untuk menerima fakta kalau ia tak dapat mendengar suara stagnan mesin yang sudah berteman akrab dengan indra pendengarannya. Jihoon tak dapat mendengar deru napasnya. Jihoon tak dapat mendengar suara kabel-kabel yang terlepas dari dirinya ketika ia memaksakan tubuhnya untuk bangkit. Jihoon tak dapat mendengar suara-suara barang yang ia hancurkan di dalam ruang ICU. Jihoon tak dapat mendengar teriakannya sendiri yang memakan seluruh stok udara di paru-parunya.

Jihoon kehilangan pendengarannya.

Sampai beberapa perawat menghampirinya dan memberinya obat bius. Ia memekik untuk yang terakhir kali, menangis. Lalu semuanya berubah gelap.

Jihoon bahkan belum menemui kakaknya.

.

.

.

.

.

“A-apa?”

“Selama ini dia terlihat baik-baik saja dengan pendengarannya, aku jadi lupa dengan pengaruh Meningitis terhadap organ tubuh yang lain,” Dokter Park membalik lembaran kertas di papan yang digenggamnya. “Meningitis tidak bisa dibilang sebagai salah satu penyebab tuli, tapi peradangan pada selaput otak bisa menyebabkan peradangan pada telinga karena letaknya yang berdekatan.”

“Aku benci untuk mengatakan ini, tapi keadaan Jihoon sekarang tidak bisa dibilang baik, Yoongi. Juga….”

Yoongi mengangkat kepalanya, menatap Dokter Park kosong. “Juga?”

“A-aku tidak yakin—“

Brakk!

Kepalan tangan Yoongi mencium permukaan meja kasar. “Juga?”

Dokter Park menahan napas. “Pasien Meningitis yang sudah terjangkit Septikemia, lalu kehilangan pendengarannya, di rumah sakit ini semuanya berakhir tidak menyenangkan.”

Lalu Yoongi berjalan setengah berlari ke luar. Mengabaikan panggilan Dokter Park.

“Aku minta maaf, Yoongi!”

Yoongi tidak membutuhkan apa pun selain Jihoon sejauh jarak pandangnya. Meski faktanya menyedihkan; ia tak diperbolehkan menyentuh Jihoon. Padahal Meningitis tidak menular lewat sentuhan, tapi Dokter Park memperingatkannya.

Jadi ia berakhir duduk di sisi ranjang Jihoon. Harapan hampa. Netra hambar. Segalanya terasa menyakitkan; membayangkan Jihoon terbangun dan tak mampu mendengar semua yang keluar dari lambenya mampu mengantarnya ke sebuah tangisan penuh sesunggukan dan tidur yang lebih dari nyenyak.

.

.

.

.

.

Kak?

Jihoon memanggil, tapi Yoongi masih termenung, memandang perawat demi perawat yang berjalan bolak-balik di lorong luas ruang ICU.

Mungkin suaranya serak—atau terlalu kecil. Toh Jihoon tak tahu, jadi ia memutuskan untuk diam, menatap profil belakang Yoongi. Lantas menyadari selimut di bawah lengan terlipat Yoongi yang basah. Matanya membelalak. Jihoon bergerak perlahan dari tempatnya, menarik siku kemeja putih Yoongi.

Yoongi menoleh. Mata sembabnya balas membelalak. Bibirnya bergerak mengatakan sesuatu, kemungkinan mengucap ‘hai’ atau sejenisnya. Tapi entahlah.

Kau habis menangis, Kak?

Mulut Yoongi membuka sedikit, sebelum tertutup lagi. Teringat sesuatu, lekas ia mengangguk. Ekspresinya datar.

Jihoon tersenyum kecil.

Maaf. Lalu Jihoon tertawa lemas. Aneh rasanya berbicara ketika aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri, Kak.

Yoongi tidak bisa membalas tawa Jihoon, jadi ia menggigiti bibir bawahnya. Menaruh kedua tangannya ke atas kelopak mata, susah payah menahan tangis.

“Maafkan aku, maafkan aku.” Tapi kata-kata Yoongi tertelan serat selimut biru rumah sakit, dan Jihoon juga tidak bisa mendengarnya. Ia meraih tangan Jihoon. “Jangan menyerah, ingat ada aku.”

Kala pengelihatannya yang memburam menemukan Jihoon menatap kosong langit-langit, bibir pucat dan napas tak teratur, didengarnya pria itu berujar pelan.

Aku tidak menyerah Kak, asal kau tahu.

Yoongi merasakan genggaman tangannya terbalas meski lemah.

.

.

.

.

.

“Min Jihoon adalah sosok yang luar biasa. Kami tidak akan melupakan bagaimana pertama kali Jihoon melangkah ke studio kami, membuat musik untuk kami dan memberikan arahan kepada kami dengan sepenuh hati sampai akhir hidupnya. Kami berhutang banyak padanya,” Joshua berhenti sebentar, menarik napas dalam dan mencoba bicara lagi, tapi gagal.

Hingga Seungcheol mengambil alih mikrofonnya.

“Kami berhutang banyak padanya. Ia adalah sosok kakak yang sempurna, dan kami tidak akan pernah bisa membalas seluruh kasih sayangnya. Semoga Jihoon beristirahat dengan tenang, kami hanya bisa mendoakannya yang terbaik.”

Lalu Lee Chan yang mengambil alih mikrofon.

“Aku yakin Kak Jihoon beristirahat dengan tenang di sana, ia mempunyai sosok kakak luar biasa yang menemaninya sampai akhir hayatnya,” Chan memainkan ujung lengan kemeja hitamnya dua sekon. “Untuk Kak Yoongi, tolong jangan menyalahkan dirimu sendiri, Kak. Kami yakin kau sudah melakukan segalanya yang kau bisa.”

Rombongan itu memberikan bungkukan terakhir, sembilan puluh derajat. Lama dan diselingi sesunggukan.

Tak lama Min Yoongi naik ke atas panggung kecil. Tangan gemetar serta mata berkantung. Merah, sembab.

.

.

.

.

.

“A-aku hanya ingin semua yang hadir di sini tahu kalau,” lidahnya kelu sejemang. Yoongi meremas standing michrophone di depannya.  “It’s not him that gave up. It’s not Min Jihoon that gave up, his body did.”

.

.

.

Fin.

1): Meningitis adalah radang selaput otak

2): Meningitis bakterialis adalah Meningitis yang disebabkan oleh bakteri

3): Septikemia adalah ketika bakteri jenis tertentu masuk ke dalam aliran darah

.

a/n: uneditedd. and im not sure with the funeral speech part.. so….. yeah……… aNYWAY HAPPY NEW YEAR GAES!!

xx

38 thoughts on “[Vignette] Of Calming Words & Giving Up”

  1. Yampun aku nangis :’) dr awal udah haru banget suasananya, eh ending jleb banget di hati, dan airmatanya gabisa ga dikeluarin :’)
    ada beberapa kata yg aku suka yg dipake disini, nice banget pembawaannya.
    Dan tetep ada ngakaknya, spoiler yg bagus, pas anakanak ngambil parcel aja serombongan-_____-
    dan ending speechnya yoongi keren banget kookkkkkk,” it’s not Jihoon but his body did” itu keren banget dan bener banget. Suka bgt sama story ini! Good job!

    Suka

  2. Astaga astaga aku nangis astaga._. Bantalku basah astaga demi apa aku selalu nangis kalo baca fic beginian ㅠㅠ gakuaaat pas yoongi kasih speech. Aaaaa ㅠㅠ jihoon astaga kenapa kamu kuat sekali tetep bisa begitu tegar meski sakit parah aaa ㅠㅠ mas yoon, sek sabar yha^^9
    Btw meskipun ini sedih aku sempet ngakak di tengah2 pas ada kalimat ttg berpelukan kaya teletubies hahaha
    Udah deh, salam kenal dari Nokav ya /ppyong!

    Suka

  3. Yaampun ini sedih banget kak demi apa aku nangis 😭😭😭
    Gakuat kak baca fic begini. Tiap momen yoongi-jihoon dirumah sakit itu. Ugh-
    Apalagi pas jihoonya divonis tuli. Dan yang terakhir yoongi nungguin dia di sebelah kasur. Demi apa kak baper banget kak tanggung jawab kak(?) 😭😭😭

    Suka

  4. Nangis aku kak😥
    Jihoon tuli, Yoongi sebagai kakak yang baik bertanggung jawab. Aku nangis waktu Yoongi bilang ‘“It’s not him that gave up. It’s not Min Jihoon that gave up, his body did’
    Kerenn banget, feelnya kerasa kalau Jihoon itu sosok yang inspiratif :’)

    Suka

  5. LAIS AKU DATANG MENGGUGURKAN DOSA YA T.T
    btw aku udah baca ini total empat kali, terus baru malem ini (karena ga lewat hape) bisa sama muter soundcloud terus aku…. mewek……… kalo kemaren2 tuh sedihnya masih sesak doang, sekarang sampe nangis huhuhu itu bagian anak2 svt dateng sama bagian akhir aku….. *terjun*

    btw, aku baru sadar ada kak jim di cast… jadi dokternya itu park jimin???! *sebentar ketawa* mana aku jadi salah fokus dikit kan lais, itu ada momen yoonmin sama yoonjosh huhuhu kamu kenapa tega sama aku dek T_T

    oke ini ficnya favorit banget, yakinlah besok2 aku pasti bakal pengen baca lagi habis ini indah sekali huhuhu T^T

    udah dulu ya lais komen penuh air mata(?)nya, see ya!❤

    Suka

    1. CIEEEEE CIEEEEEEEEEEE ((lah)) ((lais kobam)) syukurlah kak minha suka, jangan karena pen ngegugurin dosa doang ya kak bacanya:” wkwkwkwkwk makasih udah mampir ciyus kamer! luvluv<3

      xx

      Suka

  6. LAYSSSSSSSSS GAUSAH BANYAK KATA DI PEMBUKA YA AKU HANYA MAU MENYAPA LANJUTNYA KITA JOS AJA MEMBAHAS FIC YANG INDAH INI. khusus komen di sini, aku membagi-bagi segmen komentar menjadi tiga: koreksi, apresiasi, sampisi ((maksa)) ((biar berima))

    KOREKSI
    … selain sebuah tepukan menangkan dari Dokter Park -> menenangkan?
    … berfungsi untuk memantau fungsi vital tubuh secara seksama. -> saksama
    Lagipula mereka menyenangkan, Josh.” -> lagi pula
    Respon Yoongi tak sampai sedetik setelahnya. “I know.” -> respons
    Tapi mendengar lagu buatan Joshua kemarin membuatnya sedikit was-was -> digabung sajaa, jadi “waswas”
    Mata sembabnya balas membelalak. -> sembap
    Kami berhutang banyak padanya -> berutang, kata dasarnya utang

    APRESIASI
    “Ingat ada aku; ada Kakak. Got it.” -> FEEEEEEEELS

    daaaan you’ve made some beautiful sentences that gave me no option but mesmerized by your ability to ngeracik kata ((sori aim Indonesian jadi teh ga paham lah englis englis)): Mondar-mandir di depan pintu yang gorden usangnya dikutuk Yoongi setengah mati karena membuatnya buta dengan keadaan di dalam. // Melangkahi malam demi malam semudah melangkahi ubin dingin lorong rumah sakit. // Yoongi tidak pernah mengharapkan apa pun selain garis-garis di monitor tidak berubah lurus dan bunyinya tak hanya akan mengetuk telinganya, melainkan berubah menjadi sebilah pisau tajam yang membelah mentalnya menjadi dua.

    DAN AKU SANGAAAAAAAT SUKA BAGIAN KAMU MENGGAMBARKAN KETIKA JIHOON TERBANGUN DAN SADAR KALAU DIA UDAH TULI DAN AKHIRNYA DIA NGEHANCURIN BARANG DAN JERIT-JERIT.
    ITU. NGEBANGUN. SUASANA. BANGET.
    PEMILIHAN CARA DESKRIPSINYA TEPAT BANGET.
    tadinya mau kucopas di bagian atas tapi ini kek gue copas-copas fic orang buat menuh-menuhin komen padahal mah emang fic ini pantas mendapatkan komen sepanjang jarak yang memisahkan aku dengan junhong!!!!

    I love how you put some comedic elements into this story. ada kasih sayang dan rasa “manis” yang tersirat di dalamnya. bukan cuma sedih, ada limpahan rasa lain yang kamu selipkan dan tergantung pembacanyalah apa-apa saja yang kami petik dari cerita kamu. aku menemukan rasa hangat dan semangat dalam sebuah perjuangan, makanya bukan air mata yang keluar pas akhir aku baca, tapi senyuman.

    kemudian, dialog-dialog yang membuatku geram:
    “Kak Yoongi, di mobil kami ada buah-buahan lho. Tadi lupa dibawa ke sini.” THIS ONE PRETTY MUCH ADORABLE DAN DIALOGNYA YANG SENGAJA DIBIKIN ENGGAK BAKU INI LOH YANG BIKIN NJELIMET MEMELINTIR PERUTKU DEK ADEK SABAR YA NANTI KAKAK KASIH PERMEN. and I can’t contain my happiness when I imagine josh talking one-on-one as an adult friend to jihoon. emang cuma kangjosh yang paling pantas dapat peran ini.
    “aku jadi lupa dengan pengaruh Meningitis terhadap organ tubuh yang lain” APAAAAAA LUPA??? HOW COULD YOU!!! YOU FAILED AS A DOCTOR!!! ini apakah memang aku yang miss dari konten atau apa tapi aku geram membaca ini kayak “LAH KOK BISA LUPA” “APA-APAAN KAMU PARK JIMIN”
    Aneh rasanya berbicara ketika aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri, Kak. -> aku bisa ngebayangin ini bisa banget banget banget banget
    It’s not him that gave up. It’s not Min Jihoon that gave up, his body did.” -> TAK PERLU KOMENTAR, YANG DI ATAS-ATAS SUDAH MEWAKILI SAYA

    DAN AKU KELUPAAN TAPI KAMU MEMILIH KARAKTER DENGAN TEPAT SEKALI. DAH LAMA AKU INGIN MELIHAT YUNGI-JIHUN DALAM SATU CERITA ((keknya ada banyak tapi saya manusia gua yang baru keluar dari habitat, jadi maafkan))

    SAMPISI
    OKE TAK PERLU BANYAK KATA-KATA untungnya aku ngga nangis lays apa karena gue baca ini tapi backsound-nya Mama Beat-nya LC9 (lagu sonklodnya dah abis pas nyampe akhir-akhir) tapi itu pertanda bahwa fic ini mampu menarik perhatianku sampe not bothering to change backsound!!

    sebenere bagian ini diniatkan untuk bagian nyampah-nyampah yang penuh capslock sampe mau nambah-nambahin kode blinger cuma ternyata aku tak bisa menahan diri untuk tidak seperti itu di bagian yang benar di atas. kesimpulannya there are so much feels in this fic terus udah malem jadi mau nulis pake angka mataku mesem-mesem males

    mungkin sayangnya di pidato temen-temennya kali ya? keknya lebih memicu tangis kalau kamu deskripsiin cuma Josh doang yang kuat pidato, sisanya nangis dan menatap yungi, terus dideskripsiin bagaimana perasaan kosong yungi pas pemakaman. ETAPI SIAPALAH SAYA YANG NGASIH-NGASIH SARAN GINIAN kamu adalah kamu jadi terserah mba lays mau membuat sebuah adegan dan membangun suasananya seperti apa jadi pilihan mbak lays tetap bagus kok!

    komen ini banyak bagian seriusnya ya Alhamdulillah semoga mba lays tida mabok bacanya sukses terus mba lays keep writing yes bikoz you’re extraordinary great!

    xx,fikha.

    Suka

  7. aku baca komen fika sama menariknya sama ff lais hahahahha
    aku suka sih caranya kamu pake meningitis sebagai penyakitnya jihoon soalnya when most people used cancer as the death, kamu gak ngelupain eksistensi penyakit lain yg sama mematikannya
    terus ini tuh informatif, salah satu yg aku suka juga, infonya gak terlalu banyak dan nutup plot tapi tetap ngasih tahu kita banyak hal

    aku suka funeral speechnya yungi bisa banyangin banget yungi suaranya bergetar sambil bilang gitu ahhhhhh FEELSSSS

    part lain yg aku suka lagi, pas yungi ngingetin jihoon di awal auuuuuh

    this is great really great i luv lays so much

    21browniepoints, over and out!

    Suka

    1. sebenernya aku awalnya nyari penyebab tuli wkwk terus ketemu meningitis dan jeng jengggggggggg. serius funeral speechnya sikasik? wa malah awalnya ragu lho wkwk. makasih banyak syuda mampir iiiii kakay!!!!!! cinta deh laiz!<3

      xx

      Suka

  8. kakak…. aku terharu banget bacanya… sweet banget kaka ade ini..🙂 aku tambah kejer pas denger soundcloudnya… u,u KAKAK JAHAT UDAH BIKIN AKU NANGIS KAYAK GINI! yokk lanjoott teroos kak nulisnyaa >,<

    Suka

  9. LAIIIIIIIISSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS
    HUHUHUHUHUHUH
    Gatau lah harus komen cem apalagi soalnya komen komen sebelumnya udah mewakili aku banget jadi gatau mau ngetik apalagi HUHUHU MANA PAS AKU NGETIK INI LISTRIKNYA MATI PULA curcol:((

    aku suka pokoknya ini fic bagus kok udah bagus banget mau nangis juga malu soale pake komputer perpus sekolah u.u

    trus aku suka sama salah satu kalimat ini:
    “Di luar, Soonyoung dan kawan-kawannya tengah mengerubungi Yoongi bagai semut mengelilingi makanan manis.” HUHU IYA SETUJU BANGET YOONGI TUH MAKANAN MANISS.

    btw betul kata kak kay kalo ini tuh informatif banget aku aja baru tau ada penyakit meningitis bisa merambat ke segala gala :””)

    keep writing terus lais ditunggu karya karya hebat lainnyaaa!!!
    luv luv❤

    Suka

    1. lahenak ya perpus sekola ada wifinya komputernya, kok sekulaku abal sih……………… yagapapa deh.. asikasikk iyalah mas-e kan putih kek gula jadi manis ((tolong iya-in aja)) MAKASIH DHANE SUDAH MAMPIR! sukses bro un-nya<3

      xx

      Suka

  10. Ini dari awal udah kerasa bgt feelnya..
    Banyak kalimat2 yg indah, plus bikin nyesek yang baca.
    Love it!
    Ceritanya sedih bgt, cuman tetep ada part2 yg bikin aku senyum(haru). Kereeen❤

    Suka

  11. so lais. bagaimanapun ff ini adalah ff terlaris di sini beberapa minggu terakhir jadi aku mampirlah dan ya, ya, seventeen, yg castnya aku ga familiar sama sekali tapiiiii aku tetep kecemplung juga di sini haha
    terlebih liat komenannya yg luar biasa di dasbor aku jadi penasaran, aslinya ceritanya apa. dan hei, semi-canon!😄 it’s even sweeter. friendship memang ga pernah mengecewakan, dan familynya dapet juga tentunya. aku jadi iri sama jihoon yg tiap hari dibilangin ‘jangan menyerah, ada kakak’ itu ya sesuatu tiap hari aku kerjanya cuek dan dicuekin adik melulu sih hikseu
    terus juga rangkaian kata2nya….haish. aku suka perumpamaan yg kamu pake terutama ‘membelah mental jadi dua’ itu angsty banget! haks. and what the heaven, itu apa2an speech terakhirnya anak2 seventeen aku ga bisa bayangin sedihnya kayak apa. *terus siapa tadi yg ngomong ‘jihoon ga nyerah, badannya yg nyerah’ itu hati lgsg kratak gitu*
    yg mengurangi feel adalah fakta bahwa aku ga kenal anak2 seventeen *kalo castnya exo aku nangis darah mungkin* dan
    medical termsnya.
    ada yg ngereview ttg medical terms ga ya di atas?
    jadi gini, bukannya sombong atau apa sih *aku bahkan lupa meningitis itu ada ruamnya atau ga padahal kuliahnya dua semester lalu dah lewat T.T* tapi meningokokus itu bukan nama penyakit, lais… jadi dia itu adalah bakteri yg menyebabkan meningitisnya. kalo dari penjelasan di atas kamu bilang meningokokus adalah meningitis + septikemia…. ga gitu lho. tapi septikemia, bener katamu, adalah komplikasi dari meningitis, ini aku setuju. dan seperti kata kay, kamu milih penyakitnya kreatif; korea bukan tempatnya penyakit menular kyk indonesia jadinya ada penyakit kayak gini dikit bisa mati orgnya.
    hopefully aku tidak menyinggungmu, hanya meluruskan terminologi yg keliru berdasarkan pengetahuan yg pernah aku dapat, jadi selanjutnya ga salah lagi ^^ tapi kalo dari sisi tulisannya, aduh aku sampe kudu pinjem jempol org buat njempolin kamu😄
    great piece and keep writing!

    Suka

    1. ahh aku di komen kakak fokusnya ke meningokokusnya nih kak liana-_- wkwkwk aku soalnya cuma riset di beberapa tempat doang, dan meningokokus ini aku dapet dari sini: http://www.alodokter.com/meningitis

      ‘Penyakit meningokokus adalah kombinasi meningitis dan septikemia.’ dan… jadilah…… tapi ya ngga tau juga sih berarti sumbernya salah pha gimana yaa wkwk tapi (lagi) makasih loh kak udah ngasih tau, semalem aku gugling lagi jadinya. dannn dannn makasihhh banyak kak liann udah mampir dan komen! glad to see you here!!😀❤

      xx

      Suka

  12. Nangis dulu baru komentar /ambil tissue/
    Pertama, aku kaget, Woozi ganti marga jadi Min. Biar lebih real family gitu ya /sok tahu/ Kedua, Woozinya meninggal? Pas ini aku nangis beneran /nangis bareng suga/ Terus pas baca ini aku bolak balik liat kbbi biar tau arti kata-katanya hahaha. Sedihnya, lucunya, emosinya kerasa banget. At least ini bagus sekali–

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s