[Vignette] Bleak Resolution

bleakresolution copy

a movie by tsukiyamarisa

starring [BTS] Park Jimin, Kim Taehyung, Jeon Jungkook genre AU, Life, Friendship, Dark duration Vignette rating 17 (for underage drinking, mention of self-harm, and other trigger warning)

related to playlistfic: Nevermind and House of Cards

.

“Mungkin, kita harus bersulang untuk resolusi kita yang menyenangkan ini.”

.

.

.

Well, apa resolusi tahun baru kalian?”

Tanya itu sesungguhnya biasa saja, namun ditujukan pada orang-orang yang tak biasa. Mengakibatkan adanya sepasang kekeh sarkastis terdengar sebagai tanggapan, sementara si pemilik rasa ingin tahu menyunggingkan senyum penuh arti.

“Dari semua hal, kau menanyakan itu. Seriously, Tae?”

Kim Taehyung hanya memamerkan cengiran, mengibaskan tangan asal-asalan ke arah langit malam. Menunjukkan pendar kembang api di kejauhan, lantas menoleh pada kedua kawannya sembari berargumen, “Tahun baru, guys. Biasanya, ini waktu yang tepat untuk hal-hal melankolis begini, ‘kan?”

“Tidak, terima kasih.” Jeon Jungkook buka suara, meraih satu kaleng bir yang tergeletak di atas rerumputan taman tempat mereka bercengkerama seraya melanjutkan, “My life’s fucked up. Aku tidak tahu apa gunanya resolusi.”

“Kau juga?”

“Aku lelah.” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Park Jimin, bola mata bergulir ke arah Jungkook yang sedang menenggak entah-kaleng-keberapa serta Taehyung yang tengah memainkan sebatang rokok di jemarinya. “Memang, kau punya?”

Mmm…” Taehyung berkemam, menyisipkan lintingan tadi di sela-sela bibirnya sebelum mengembuskan asap berbau tembakau banyak-banyak. “Kalau membuat ibuku berhenti jual diri itu mudah, mungkin akan kujadikan resolusi.”

Hening menyambut. Selama beberapa jenak, ketiganya memilih untuk bungkam. Mengamati hamparan kegelapan di atas sana, sibuk dengan pikiran masing-masing. Bukan, bukan untuk memikirkan resolusi. Melainkan mengingat tiap detail kejadian yang telah terjadi selama setahun belakangan, yang mengantar mereka sampai pada titik kelam ini.

Tanpa harus diceritakan lagi, baik Jimin maupun Jungkook sudah sama-sama tahu  apa masalah Taehyung. Bagaimana lelaki itu amat membenci ibunya yang hobi pergi malam dan pulang pagi, tak pernah bercengkerama dengan Taehyung kecuali untuk memberi setumpuk uang. Oh, beliau jelas tidak peduli dengan apa kata teman-teman Taehyung di sekolah, berpikir bahwa uang hasil perbuatan nista itu akan cukup untuk menghapuskan segala duka. Beliau juga tak pernah tahu bahwa putranya itu berpikiran lain, bahwa semua uang yang diberikannya habis dalam batang-batang rokok—cara tercepat untuk membakar semua lembaran uang dan meluapkan stres, begitu kata Taehyung dulu.

Namun, Taehyung tidak sendirian.

Layaknya ia yang berpolah bagai anak berandalan, ada pula Jungkook yang memilih untuk bergantung pada kaleng-kaleng bir itu. Umurnya tujuh belas tahun ketika ia membuka kaleng pertamanya, namun pada kala itu, Taehyung sama sekali tak merasa punya hak untuk melarang atau menasihati. Tidak ketika ia tahu persis bagaimana perangai orangtua sahabatnya, bagaimana memar acap kali datang bertandang di tubuhnya untuk setiap nilai buruk yang Jungkook dapat di sekolah.

Dan terakhir, ada Jimin.

Park Jimin yang kini tengah mengamati Taehyung dan Jungkook dengan senyum sendu, yang dari luar terlihat tidak pernah mencari masalah layaknya dua orang yang lain. Jimin selalu menjadi pihak yang mengutarakan pendapatnya belakangan, yang lebih suka diam dan memendam masalahnya sampai Taehyung atau Jungkook memaksa dirinya untuk bercerita. Ia adalah lelaki dengan puluhan rahasia, seseorang yang terlampau pintar berpretensi dengan dalih ‘aku tidak apa-apa’.

Padahal, Jimin juga tahu kalau dirinya itu jauh dari kata ‘tidak apa-apa’.

Lagi pula, sejak kapan orang yang baik-baik saja itu menyembunyikan sesuatu di balik lapisan sweter dan jaketnya? Orang yang hidup normal tak akan punya bekas-bekas luka di sepanjang lengannya, saling silang membentuk pola-pola yang nyaris permanen. Orang normal tak akan mencari jalan keluar seperti Jimin; karena mereka juga tidak akan terkena serangan panik, mendapatkan cercaan setiap hari, atau dianggap sebagai manusia yang senantiasa gagal.

Selain itu, orang-orang normal juga—

“Aku tidak paham.” Jimin kembali membuka konversasi, menarik atensi dari dua sahabatnya. Jungkitan alis adalah respon yang ia dapat, mendorongnya untuk kembali membuka mulut dan melanjutkan, “Soal apa yang biasa mereka koar-koarkan sebagai resolusi.”

“Ah.” Satu desahan dari Taehyung, selagi Jungkook menelengkan kepalanya dan menunggu. “Kurasa aku paham. Ini soal mereka yang berkata kita harus meninggalkan hal-hal buruk dan mulai memperbaiki diri, ‘kan? Yang berpikir kalau masalah di tahun lalu itu sudah selesai dan harus dilupakan.

Kekehan sarkastis dari Jungkook terdengar menyusul, sedikit mabuk tapi masih bisa mengerti perkataan Taehyung sepenuhnya. “Aku juga sering dengar. Mereka yang berkata kalau kita harus mulai jadi anak baik-baik… fuck, dikiranya hidup kita mudah, huh?”

Taehyung mengangguk-angguk setuju, sementara Jimin memilih untuk melarikan jarinya di sepanjang lengan. Ada luka-luka yang tersembunyi di sana, yang membuat ia kerap bertanya apakah goresan itu akan bertambah seiring berjalannya waktu. Sama halnya seperti Taehyung dan Jungkook, yang kadang—tanpa disadari—mempertanyakan kapan mereka bisa berhenti dari kebiasaan buruk yang terlanjur dilakoni. Namun, seperti kata Jungkook tadi, itu tidak mudah.

Semua ini adalah bentuk pelarian bagi mereka, sebuah pertahanan terakhir yang mungkin tidak mudah dipahami oleh orang lain. Dan bicara soal keinginan, tentu saja diam-diam mereka juga ingin hidup bahagia. Hidup tanpa ibu yang bekerja sebagai pelacur, tanpa orangtua yang suka melakukan kekerasan, serta jauh dari lingkungan yang membuatmu merasa rendah diri dan melarangmu menggapai mimpi.

Keinginan mereka tidak muluk, tapi juga tidak mudah dicapai. Jadi, wajar ‘kan, kalau mereka jadi enggan membuat resolusi apa pun?

Karena, alih-alih bergantung pada harapan, bisa jadi tahun ini malah semakin buruk, bukan? Bagaimana jika masalah mereka bertambah parah, jika keinginan untuk bertahan itu perlahan-lahan lenyap? Pergantian tahun bukan berarti semua perkara di tahun sebelumnya lesap begitu saja; juga bukan berarti semua orang di dunia mendapatkan awal yang baru.

Yeah, mereka akui, mereka itu memang sekumpulan makhluk tanpa harapan. Tetapi, sejak kapan seseorang yang telah rusak itu bisa seratus persen diperbaiki, seakan tak pernah ada hal buruk yang terjadi?

Shit, asalkan aku bisa bertahan sampai akhir tahun saja, itu sudah cukup.”

Mendengarnya, Taehyung dan Jungkook pun spontan tergelak dan mengangguk setuju. Tidak lucu memang, tetapi kadar kebenaran yang terkandung dalam pernyataan Jimin barusan memang cukup untuk membuat mereka tertawa di atas ironi. Mengingat betapa susahnya hari-hari yang mereka jalani selama ini, Taehyung rasa, resolusi Jimin itu adalah yang paling masuk akal.

Fucking pessimistic, aren’t we?” imbuh Jungkook, melempar kaleng bir yang masih utuh ke arah Taehyung dan Jimin seraya menarik sudut-sudut bibirnya selebar mungkin. “Mungkin, kita harus bersulang untuk resolusi kita yang menyenangkan ini.”

Suara kaleng terbuka terdengar tak lama kemudian, disusul dengan Taehyung yang buru-buru memadamkan rokoknya sebelum bersulang. Lelaki itu berdeham-deham sejenak, memandang kedua kawan baiknya lekat-lekat sambil berucap, “Baiklah, untuk resolusi kita. Dan ingat, kita punya satu sama lain untuk saling membantu agar tujuan kita tadi tercapai, bukan?”

Damn, diucapkan dengan indah sekali, Kim Taehyung,” balas Jimin, tangan terangkat untuk mengulurkan kalengnya ke udara kosong. “Oke, untuk bertahan sampai akhir tahun?”

Jungkook dan Taehyung kompak mengiakan; membiarkan tiga kaleng bir saling berbenturan, diikuti dengan teriakan keras di tengah berisiknya suara kembang api dan perayaan tahun baru.

.

.

“Yeah! Untuk bertahan sampai akhir tahun!!”

.

.

fin.

fic pertama untuk 2016!!

Oke, sebenarnya nggak bermaksud menyampah dengan fic dark terus, tapi entah kenapa malah nyasar ke sini dan kepikirannya ini… Ya sudahlah, mohon dimaafkan karena saya jadi terus-terusan meracuni pembaca dengan tema seperti ini :”)

Anyway, happy new year! Dan bagi yang berminat ikut challenge kecil-kecilan dan berhadiah, boleh banget berkunjung ke sini!! (numpang promo)

See ya!❤

11 thoughts on “[Vignette] Bleak Resolution”

  1. Aku kudu komen dari mana mer? Ini awal thun udah bawa kebaperan pada diriku yang hobi baper ini…………mer, dari kemaren itu aku sebenernya lagi nyari nyari fic angst ato paling engga yang bisa bikin baper lah………dan aku seneng kamu bikin fic dark begini ((iyaa aku selalu suka fic kamu yang kaya gini mer)) dan berhasil……….aku baper aku hampir nangis padahal ini nggak angst.
    Aku suka karakter mereka bertigaa. Anjir aku baca dialog juga mana pake intonasi kaya beneran lagi praktik drama huhuhu. Sini peluk duluuu kimtae, junjungkuk sama jiminie sini peluk dulu sama claire………/dibuang/

    Sudahlah aku selalu lemah sama fic life-mu, mer……ditunggu fic yang kaya gini lagi yaaa uhuhuhu /.\
    See yaa amerrr❤

    Suka

  2. heeemmm suka banget sama ff friendship dengan genre yang dark angst gini yang cast nya jimin jungkook v
    selalu suka yang nyeritain sisi gelap mereka
    kebaperan tengah malem ditemenin ff iniii, berharap ada sequel dari masing masing cast wkwkwk
    nice ff!!! ^^

    Suka

  3. ARGH!

    Ini…

    Ini…

    Ini menohok bgt ;-;

    Di saat semua orang berharap yg muluk2 di tahun baru dan para orangtua mewanti anak-anaknya biar jadi anak baek2, justru ada sebagian dari kita yg terpaksa jadi seorang ‘berandalan’ dan cuma bisa berharap tetap hidup sampai tahun depan…. Seriusan, ini nohok bgt kak ;-;

    Parahnya lagi, ini beneran terjadi dan akrab di keseharian kita ;-;

    Duh, cuma bisa terpukau dan bilang FF ini bagus aja :’v

    Suka

  4. ini life bgt :’v selalu suka tulisan kakak.. :’v gimana ya? *garuk2pala..yg jelas kereen pisan ini. >_< anak2 bangtan emang cocok dah buat karakter begituan :v wkks

    Suka

  5. merrr wkwk entah kenapa aku suka kalo jjk disiksa begini /ini kenapa kakak satu jahat banget ya tuhan aku gak ngerti/

    darkmu daebak loh, aku juga gamau sok bikin resolusi, gak ada yg tahu besok bakal kejadian apa so better be prepared for the worst. emang sih sedikit harapan perlu (dan aku suka caramu ngasih mereka sedikit harapan itu pake resolusi untuk bertahan hidup sampe akhir tahun meski kedengarannya agak sedih)

    keep writing ya mer! and cheer up! ilu!

    Suka

  6. Dark nya kerasa bgt dan sediiih pas tau resolusi mereka, buat bisa bertahan hidup sampai akhir tahun. Ya ampuun, seberat itu kah hidup mereka?
    Daku bapeeeer T.T

    Suka

  7. Kak amer~ ini…
    Akhirnya resolusi mereka di tahun baru ada juga :”
    Yah hidup mereka betiga emang susah banget sih~
    Aku suka banget cara kak amer rangkai kata-katanya T.T bikin baper dan ini gelap sekali /?/ *ditendang kak amer*

    Keep nulis kak ^^

    Suka

  8. Suka diksi dan narasimu, thor. Ceritanya sederhana tapi….uhuk…..uhuk…bikin saya bijimana ya bilangnya. Intinya terasa real, karena kasus kek gitu banyak di kehidupan nyata. Jadi terasa dekat aja. Semoga mereka bertiga segera menemukan kebahagiaannya yaa. Gak tega liat tiga orang pemuda kece ‘pesakitan’ begitu. Hidup kalian susah ya, Nak #eeaaaaaa.

    Btw, author selain aktif di sini aktif nulis dimana lagi kah?

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s