[ONESHOT] STALKER

stalker

Pseudonymous presents

STALKER

starring

DAY6’s YOUNGK (BRIAN)

genre

MYSTERY & THRILLER

duration

ONESHOT

rating

PG-15

***

Mina meninggal dan tidak ada yang tahu pasti apa penyebabnya.

Gadis itu ditemukan terbujur kaku tak bernyawa di dalam kamar mandi tanpa busana. Kepalanya terkulai lemah di pinggir bathtub akibat luka menganga di sepanjang garis tenggorokannya. Kolam darah terbentuk di atas lantai bersama handuk dan sebuah cutter besar di sana. Berdasarkan semua bukti yang ada mengindikasikan bahwa kematian Mina terjadi ketika ia sedang atau baru saja selesai mandi. Tetapi pihak kepolisian belum ingin berspekulasi apakah ini pembunuhan atau upaya bunuh diri dan memutuskan akan terus melakukan penyelidikan.

Meski polisi belum berani mengambil kesimpulan tentang kasus ini, tampaknya seluruh keluarga Kang telah menganggap kejadian ini sebagai kasus bunuh diri. Tuduhan keluarga Kang sebenarnya cukup masuk akal. Jika benar bahwa ini adalah kasus pembunuhan, keluarga Kang pasti segera mengetahuinya. Mereka akan tahu jikalau ada seseorang yang menyelinap ke dalam kamar putri mereka dan membunuh Mina. Tetapi tidak ada bukti cukup yang bisa mengarah ke sana. Selain itu, Mina mengidap anxiety disorder sejak tujuh bulan yang lalu sehingga keluarga Kang kerap kali mencurigai bahwa gadis itu berusaha untuk menyakiti dirinya sendiri.

Ketika kabar ini sampai di telinganya, Brian yang saat itu sedang menempuh kuliah di Kanada segera memesan tiket pulang ke Korea. Dalam perjalanan pulang, begitu banyak hal yang terlintas dalam benak Brian. Sebagian besar dirinya belum sepenuhnya bisa menerima kabar ini. Bukan hanya karena Mina adalah adik perempuan satu-satunya, melainkan karena ia juga sangat dekat dengan Mina.

Tiada hari bagi Brian tanpa bertukar kabar dengan adik perempuannya tersebut. Mereka cukup sering berkomunikasi melalui pesan elektronik dan berbagi cerita tentang kegiatan mereka sehari-hari. Sejauh ini, percakapan yang Brian lakukan bersama Mina tidak mencurigakan. Mereka mengobrol banyak layaknya kakak-beradik yang saling menanyakan kabar satu sama lain. Tetapi satu hal yang kembali mengganggu pikiran Brian adalah ketika tiga minggu yang lalu Mina mengirimkannya sebuah pesan singkat melalui kotak obrolan dan mengeluh karena tidak bisa tidur. Brian menanyakan penyebabnya dan Mina mengatakan bahwa ia baru saja menyelesaikan sebuah film horor, American Psycho, dan mendadak kehilangan rasa kantuk meski saat itu di Korea waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi.

Yang lucu adalah Brian tahu bahwa Mina memiliki fobia acusticophobia yang sedikit serius. Gadis itu memiliki ketakutan akan suara-suara aneh dan mengagetkan sehingga mustahil bagi Mina untuk menyaksikan film mengerikan semacam itu. Namun, Brian tidak benar-benar memikirkannya saat itu. Ia pikir Mina hanya sedang berusaha mengatasi fobianya dengan memulai langkah baru, di mana Brian menganggapnya sebagai sebuah bentuk kemajuan.

Dan sekitar empat atau lima hari sebelum Brian mendengar berita kematian Mina, pemuda itu kembali mendapatkan pesan singkat dari adik perempuannya. Mina mengatakan sesuatu tentang penguntit. Brian tidak sepenuhnya mengerti dengan maksud Mina dan tidak bertanya lebih banyak karena saat itu ia sedang menjalani minggu ujian sehingga ia terlalu sibuk dan tidak punya cukup waktu untuk membalas pesan singkat yang diterimanya. Percakapan keduanya berakhir di situ dan membuat Brian menyesal karena tidak sempat mencari tahu soal penguntit yang dimaksud oleh Mina.

Sejak tadi Brian memerhatikan seorang polisi bertubuh kekar dan tegap yang ditugaskan melakukan penyelidikan atas kasus ini sedang bercakap-cakap dengan ibu dan ayahnya di depan pintu masuk. “Nyonya Myoui, jika Anda merasa menemukan sesuatu yang mencurigakan, aku harap Anda bisa segera langsung menghubungi kami,” katanya sambil mengeluarkan sebuah kartu nama. “Pihak kepolisian akan segera menindaklanjutinya.”

Brian mengamati wajah kusut ibunya yang menyambut kartu nama tersebut tanpa minat. “Ya, tapi kami pikir kami tidak akan menemukan apa-apa.”

Petugas itu mengangkat bahu. “Kalau begitu hanya untuk berjaga-jaga.”

Setelah petugas-petugas itu pergi, keluarga Kang berkumpul di meja dapur. Brian memerhatikan punggung ayahnya yang sedang menjerang air panas di atas kompor untuk membuat kopi, lalu beralih pada ibunya yang duduk di ujung meja, menutup wajahnya rapat-rapat dengan kedua tangan. Kejadian ini benar-benar menjadi mimpi buruk untuk keluarganya.

“Bu,” Brian berusaha menggapai tangan ibunya.

Myoui mengintip dari balik ruas-ruas jarinya dan akhirnya menampakkan wajah pucatnya. “Ya, Sayang?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu soal Mina,” ucap Brian, berhati-hati.

Terdengar bunyi knop yang diputar. Younghyun telah selesai memanaskan air untuk menyeduh dua gelas kopi. Tidak lama kemudian, pria itu ikut bergabung bersama istri dan anaknya di meja. Ia menyerahkan gelas kopi pada Myoui, kemudian menatap Brian lamat-lamat, sepertinya tertarik untuk mendengarkan.

Di sisi lain, Myoui tampak kelelahan. Wanita itu mendesah ke langit-langit dapur dan menggeleng pada Brian. “Oh, sudahlah, Brian,” erangnya.

Brian merengut kecewa dan menatap kedua orangtuanya secara bergantian. “Kalian tidak benar-benar berpikir bahwa Mina akan bunuh diri, ‘kan?”

Younghyun melirik istrinya dan Myoui hanya diam, tertunduk menatap uap panas di atas kopinya. Pria itu berdeham dan berkata pada putranya dengan suara tenang, “Brian, Mina itu sakit.”

Brian mengangguk. “Tapi bukan berarti ia akan bunuh diri,” ujarnya bersikeras.

Younghyun melirik istrinya lagi untuk meminta pendapat. Wajah Myoui semakin menghilang di dalam tundukan kepalanya. Pria itu menggenggam tangan istrinya, kemudian menggeleng dengan raut sedih pada Brian.

“Mina mengatakan padaku tentang seorang penguntit sebelum ia meninggal,” tandas Brian tegas. “Aku yakin kematiannya ada hubungannya dengan penguntit yang ia sebut-sebut itu.”

Pundak Myoui mulai berguncang dan Younghyun tidak punya pilihan selain harus berteriak kepada Brian. “Brian, hentikan! Kau melukai ibumu.”

Brian menggeleng. “Aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya. Mina tidak bunuh diri.”

“Tidak ada yang percaya itu terjadi,” balas Younghyun ketus. “Tidak ada bukti yang mengatakan demikian.”

“Lalu, kalian akan begitu saja percaya dan menyalahkan penyakit mental yang dialami Mina sebagai jawabannya?”

“Brian,” kali ini suara ayahnya terdengar melembut, “Tidak satu pun dari kita yang benar-benar mengetahui kebenaran ini. Tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar mengenal Mina.”

“Justru itu,” desis Brian.

Brian tidak ingin ikut-ikutan termakan oleh asumsi keluarganya. Ia percaya bahwa ini bukan sepenuhnya kasus bunuh diri. Mina mungkin mengalami gangguan mental yang sangat serius, namun Brian yakin ada sesuatu yang lebih daripada itu. Orangtuanya boleh-boleh saja menyerah dan mengambil jalan pintas dengan mengatakan Mina bunuh diri, tapi Brian akan mencari tahu yang sebenarnya.

Maka dari itu Brian menyelinap ke dalam kamar Mina pada malam harinya dan menyalakan perangkat komputer adik perempuannya untuk mencari bukti yang dapat menguatkan dugaannya. Sesekali, Brian menolehkan kepala untuk melihat pintu kamar mandi yang tertutup di belakangnya yang kini menjadi tempat angker di rumahnya.

Ketika komputer Mina mengeluarkan bunyi selamat datang, Brian segera mengarahkan tetikusnya pada kotak obrolan. Brian tidak menyadari tangannya gemetaran saat mencoba membongkar area privasi adiknya tersebut. Ia sempat membisikkan maaf sebelum akhirnya semua pesan elektronik Mina muncul di permukaan layar komputer.

Brian menyisir dengan cepat seluruh pesan elektronik yang masuk. Sebagian besar pesan elektronik yang masuk justru berasal dari dirinya. Beberapa pesan lain yang masuk datang dari iklan-iklan tidak penting, tapi Brian sudah bersumpah tidak akan melewatkan satu titik kecil pun sebelum ia menyesal lagi. Ia membuka pesan-pesan tersebut dan mendekatkan wajahnya untuk dapat membacanya lebih jelas.

Wajah Brian tampak bersinar kucam di antara bayangan cahaya layar komputer. Pesan berisi iklan tersebut ia lewatkan dengan cepat karena isinya hanya tawaran diskon barang-barang yang tidak penting. Brian menggerakkan tetikusnya kembali ke halaman pertama dan mencari lagi, namun tidak menemukan apa-apa. Ia akhirnya beralih pada kotak keluar dan tertegun saat melihat apa yang muncul di hadapannya.

Terdapat sekitar tiga pesan elektronik yang tersimpan sebagai draft di kotak keluar dan semuanya ditujukan pada Brian. Semuanya ditulis pada hari yang berbeda semenjak pesan terakhir Mina yang masuk pada Brian soal penguntit itu. Brian mengikuti urutan tanggal yang ada dan menemukan fakta bahwa adiknya bahkan sempat menuliskan sesuatu sehari sebelum kematiannya.

Brian membuka pesan yang hendak dikirimkan Mina setelah aduannya soal penguntit itu dan beginilah isinya:

Aku tidak tahu apakah kau menerima pesanku atau tidak, tapi aku benar-benar takut saat ini. Aku semakin yakin ada sesuatu yang sedang mengikutiku. Aku harap kau segera membalas pesanku dan memberitahuku apa yang harus kulakukan.

Sebulir keringat jatuh mengaliri dahi Brian hingga membasahi garis rahangnya. Brian tidak berkata apa-apa, kemudian dengan sigap membuka pesan yang berikutnya.

Brian, sesuatu ini benar-benar serius ingin menerorku! Hari ini aku ditinggal sendiri oleh ibu dan ayah di rumah dan aku merasa sesuatu sedang mengawasiku saat itu. Sepertinya ia tahu bahwa aku sedang sendiri dan ingin melakukan sesuatu yang buruk padaku.

Brian menyeka keringat dingin yang kini membasahi dahi dan lehernya. Ia turut merasakan teror yang dialami adiknya dan membayangkan ketakutan yang dirasakan Mina saat itu. Brian menarik napas panjang-panjang untuk memberanikan diri membuka pesan terakhir yang dikirimkan Mina sehari sebelum nereka ini terbentuk di rumahnya.

Brian, ini benar-benar gila! Aku melihatnya mengintip dengan sepasang matanya yang merah gelap dari ruas-ruas ventilasi di kamar mandi. Ia melihatku sedang mandi. Aku sempat berteriak ke arahnya, namun ia berhasil kabur. Aku tahu suatu saat ia akan melakukan hal yang lebih buruk. Ia pasti ingin membunuhku jika aku sedang dalam keadaan lengah. Kini aku membawa cutter ke mana-mana, sekadar untuk berjaga-jaga. Aku benar-benar ketakutan! Kau harus menolongku!

Brian mendorong kursinya hingga jatuh ke belakang dan dengan tergesa-gesa berlari menuju ke kamar mandi saat ia mendengar sesuatu seperti bunyi sebuah lempengan besi yang jatuh ke lantai. Ia setengah mendobrak pintunya, kemudian menyalakan lampu untuk melihat kegaduhan itu.

Mata Brian bergerak dengan cepat, meninjau setiap jengkal isi ruangan tersebut. Ia tidak dapat menemukan sesuatu di atas lantai, namun Brian berhasil menangkap sepasang mata merah gelap yang mengintai dari ruas-ruas ventilasi.

“Hei, siapa itu?!” teriaknya kencang.

Sesuatu itu segera menghilang saat Brian memanjati bathtub untuk dapat menggapai ventilasi. Brian tampak terengah-engah ketika ia mengintip keluar dari lubang ventilasi. Suasana di luar sangat gelap. Yang mampu Brian lihat hanyalah cahaya lampu jalan yang menyorot trotoar yang tampak mengilat dan basah karena hujan ringan petang tadi.

Rupanya pergerakan sesuatu yang sedang mengawasinya tadi cukup cepat. Brian semakin yakin bahwa adiknya tidak bunuh diri. Ada sesuatu yang meneror adiknya. Dan sesuatu itu nampaknya tidak puas hanya dengan meneror Mina, karena sepertinya ia juga berusaha menghantui keluarga Kang. Jika Brian tidak bergerak lebih cepat, mungkin bukan hanya Mina yang akan menjadi korban. Bisa jadi ia adalah yang selanjutnya, atau bahkan ibu dan ayahnya.

***

“Mulai hari ini aku akan tidur di kamar Mina,” tukas Brian pagi itu.

Myoui dan Younghyun saling bertukar pandang. “Kau punya kamar sendiri,” ujar Younghyun. “Mengapa kau harus tidur di kamar Mina?”

“Semalam aku berada di kamar Mina,” jelas Brian, meletakkan sendok dan garpunya di pinggir piring. “Aku mendengar ada suara dari kamar mandi. Ada seseorang yang mengintip dari ventilasi kamar mandinya.”

Younghyun mencuri pandang pada Myoui dengan perasaan waswas. “Brian, jangan mulai lagi,” tegurnya.

“Dan sepertinya ia sudah mengawasi Mina sejak lama,” lanjut Brian tanpa mengindahkan ucapan ayahnya. “Ibu dan Ayah harus memikirkan seseorang yang memiliki potensi untuk melakukannya. Apakah kalian memiliki kenalan yang punya dendam terhadap kalian? Karena aku yakin sekali kali ini, seseorang ini belum puas hanya dengan membunuh Mina. Ia ingin membunuh seseorang lagi di rumah ini.” Brian melayangkan tatapannya pada ibu dan ayahnya. “Atau mungkin kita semua…”

“Brian, hentikan omong kosong ini!” jerit Myoui. Wanita itu menutup kedua telinganya dan berdiri dari kursinya.

“Kita harus melapor kepada polisi, Bu,” pekik Brian cemas. “Kita dalam keadaan bahaya.”

“Kita tidak akan melakukannya,” Younghyun bersikukuh. Pria itu mendekap istrinya yang sudah berlinang air mata ke dalam dadanya. “Apa kau tahu bahwa kau sudah keterlaluan, Brian?”

Brian melabrak meja dan berdiri menantang ayahnya. Ia menggelengkan kepalanya dengan kecewa pada kedua orangtuanya dan berkata, “Jika kalian tidak ingin melaporkannya pada polisi, aku sendiri yang akan menangkap orang itu.”

Brian mendengar ayahnya berteriak di belakang punggungnya, menyuruhnya kembali saat ia beranjak meninggalkan dapur. Brian naik ke lantai atas dan mengunci diri di kamar Mina.

Brian mengelilingi kamar itu sejenak, mencoba menenangkan pikirannya yang berkecamuk, kemudian membuka lemari meja televisi karena merasa bosan. Brian tersentak saat menemukan beberapa koleksi film gore yang ditemukannya di sana. Ini benar-benar lucu, pikirnya. Sepertinya Mina telah melangkah terlampau jauh daripada yang Brian pikirkan. Melihat darah saja Mina tidak sanggup, dan sejak kapan adiknya berani menonton film seperti ini?

Di tumpukan CD yang paling atas, Brian dapat melihat film American Psycho dengan wajah dingin Christian Bale sedang memegang pisau besar pada posternya. Brian mengeluarkan piringan mengilat itu dari kotaknya, kemudian memasukkannya ke dalam mesin pemutar. Ia melemparkan dirinya ke atas tempat tidur dan memutuskan untuk menikmati film itu dengan harapan ibu dan ayahnya akan merubah keputusan mereka.

***

Brian tahu-tahu terjaga dari tidurnya saat mendengar bunyi mesin mobil yang berderu dari garasi rumahnya. Layar televisi di hadapannya telah berubah menjadi hitam pekat. Film yang ditontonnya sudah berakhir. Brian sempat mendengar dirinya sendiri mengigaukan kata ‘jangan’ sebelum akhirnya benar-benar tersadar dari rasa kantuknya. Brian tidak tahu pasti apa makna kata tersebut dan mencoba mengingat kembali mimpinya barusan. Namun, yang justru ia dapatkan adalah kepala yang berdenyut kencang serta udara panas melingkari tubuhnya.

Segala sesuatu di sekelilingnya tampak tumpang tindih dan berputar dengan cepat. Brian memijat lembut pelipisnya untuk mengurangi migraine yang ia rasakan, kemudian memutuskan untuk membuka jendela agar ia bisa menghirup udara segar. Kegelapan pekat menyelimuti daerah tempat tinggalnya saat itu. Terdengar bunyi hujan rintik mengenai atap rumah. Brian menikmati suasana yang tenang itu, lalu meluncur ke dapur untuk segelas air es.

Brian melihat catatan kecil ditempelkan di kulkas. Myoui dan Younghyun sedang keluar sebentar dan meninggalkan catatan itu di sana. Brian menenggak air esnya dan meremas kertas itu di dalam telapak tangannya, lalu melemparnya ke keranjang sampah di pojok dapur.

Begitu ia meletakkan gelas kosongnya ke atas meja, Brian melihat sebuah cahaya kuning melintas di jendela ruang tamunya. Sorot cahaya itu sepertinya berasal dari sebuah senter. Brian mengerjapkan dan menggosok-gosok matanya dengan keras untuk memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Tetapi cahaya itu tidak muncul lagi di depan jendela dan menghilang bergerak ke sisi yang lain.

Brian mengikuti gerakan itu dan cahaya itu mengarahkannya ke lantai atas. Pemuda itu melonjak terkejut ketika tidak lama kemudian ia mendengar suara gaduh dari kamar Mina. Ia menahan diri untuk tidak menimbulkan gerakan apa pun sampai ia berhasil menjamin tidak ada yang salah dengan pendengarannya. Suara gaduh itu terdengar lagi, lalu Brian seakan langsung teringat bahwa ia telah membiarkan jendela kamar Mina terbuka.

Pemuda itu segera melesat ke lantai atas dan berdiri di depan pintu kamar Mina. Matanya dengan cepat bergerak menyisiri seisi ruangan dan Brian merasakan dadanya bergemuruh saat menemukan langkah kaki yang basah di atas lantai. Jendela yang ia buka telah memberikan akses jalan masuk bagi seseorang untuk menerobos masuk ke dalam rumahnya.

Brian menahan napas ketika melangkah masuk ke dalam dan mengikuti jejak langkah kaki tersebut yang mengarah ke dalam kamar mandi yang tertutup. Ia menyentuh knop pintu dengan tangan gemetaran, kemudian menempelkan telinganya di depan pintu. Namun, Brian tidak dapat mendengar apa pun selain suara detak jantungnya sendiri. Suasana di dalam kamar mandi cukup hening, seakan-akan tidak ada seseorang pun di dalam sana.

Brian melangkah mundur dan tengah bersiap-siap untuk mendobrak pintu dengan kakinya, ketika tiba-tiba knop pintu itu bergetar dan diputar secara perlahan dari dalam. Brian merasakan tempurung lututnya mulai mengendur. Ia tidak sadar terus berjalan mundur hingga kakinya menabrak kursi meja rias Mina.

Pintu kamar mandi itu terbuka secara perlahan dan Brian memicingkan mata untuk dapat melihat sosok di baliknya. Ia menahan napas lalu jatuh terduduk kala mengenali kilauan yang sepintas muncul dari balik pintu tersebut. Tidak lama kemudian, sesosok makhluk yang mengenakan jas hujan, sepatu bot, dan sarung tangan karet menyusul keluar dari sana dengan membawa sebuah pisau besar di tangannya.

“Si-siapa kau?!” Brian mendengar suaranya tercekat di tenggorokannya sendiri. Keringat membanjiri punggung dan dadanya, sementara sosok tak terlihat itu terus mendekatinya.

Pisau besar itu berayun ringan di tangan sosok tersebut, seperti telah siap untuk memakan korbannya. Suara di dalam kepala Brian terus berteriak dan menjerit, memerintahkan tubuhnya untuk menyelamatkan diri. Tetapi tubuh Brian seakan lumpuh. Ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya untuk bergerak lebih banyak selain daripada beringsut menjauh di atas lantai. Dan sosok yang berada di hadapannya tersebut terlihat sangat menikmati momen-momen kemenangannya.

Setelah berhasil menyudutkan Brian di pojok kamar, makhluk mengerikan tersebut mengangkat pisaunya tinggi-tinggi di atas udara. Di sisi lain, Brian telah memejamkan matanya erat-erat dan terus berbisik kepada dirinya sendiri bahwa ia sudah siap untuk mati sekarang. Namun, ketika Brian mendengar suara gemuruh mesin mobil di garasi rumahnya, pemuda itu seakan mendapatkan harapan hidupnya kembali.

Brian berteriak kencang dan menyerang makhluk di hadapannya dengan pundaknya hingga makhluk itu terjerembab jatuh ke belakang bersama pisaunya. Kesempatan itu digunakan Brian untuk kabur. Sementara ia berlari melompati menuruni beberapa anak tangga, Brian bisa mendengar makhluk itu telah bangkit dan mengejarnya dari belakang. Ia merasakan pisau besar itu berayun dengan liar di belakang kepalanya hingga bisa menebasnya kapan saja.

Brian terus menyumpah-nyumpah dalam upayanya melarikan diri. Napasnya tersengal-sengal dan ia mulai kehilangan keseimbangan saat mencapai pintu depan. Sedikit lagi, pikirnya. Brian berhasil memutar knop pintu rumahnya sebelum makhluk itu menangkap kerah baju Brian.

Brian melompat keluar dari rumah dan menemui Younghyun dan Myoui yang baru saja keluar dari mobil dengan beberapa tas belanjaan. Sepasang suami istri tersebut memandangi Brian dengan ganjil.

“Ada apa denganmu?” tanya ayahnya.

Brian menopang kedua tangannya di atas tempurung lutut dan napasnya terdengar terputus-putus saat mencoba untuk mengeluarkan suara. Ia melihat ke dalam rumah, menunggu makhluk itu menyusul keluar. “Kalian harus segera menelepon polisi. Ada seseorang di dalam rumah kita. Ia mencoba untuk membunuhku! Ia yang telah membunuh Mina!”

Younghyun mengintip ke dalam pintu rumah yang terbuka, tetapi tidak bisa menemukan siapa-siapa di sana. “Apa maksudmu? Tidak ada seorang pun di sana.”

Brian bergerak maju dan mencengkeram pundak ayahnya. “Aku benar-benar melihatnya, Yah. Ia mengenakan setelan jas hujan dan sepatu bot. Ia membawa pisau di tangannya dan hampir menebas kepalaku dengan pisau itu.”

Myoui menghampiri Brian dan menyentuh punggung putranya dengan lembut. “Brian, ibu rasa—”

“Ada seseorang di dalam rumah kita, Bu! Kenapa kalian tidak juga memercayaiku? Kita harus segera melaporkannya pada polisi!” jerit Brian putus asa.

Younghyun melirik Myoui untuk meminta persetujuan dan akhirnya istrinya mengangguk mengizinkan.

“Baiklah, Brian,” ujar ayahnya. “Mari kita masuk ke dalam mobil dan melaporkannya pada polisi.”

Brian melihat rumahnya menjauh dari balik kaca mobil dan mendengar ayahnya berbicara dengan polisi di telepon.

“Benar, aku ingin melaporkan bahwa ada seorang penyusup masuk ke dalam rumahku,” ucap Younghyun sambil sesekali mengintip Brian yang duduk di jok belakang melalui kaca spion di atas dashboard. “Ya, anakku bilang seseorang itu mengenakan jas hujan dan sepatu bot.”

“Dan membawa pisau!” Brian menambahkan dengan suara keras.

“Ya, dan membawa pisau,” ulang Younghyun. “Baiklah. Segera kabari aku jika kau sudah mendapatkan informasinya. Kami akan mencari tempat aman untuk berlindung selama kau memeriksa keadaan rumah kami.”

Younghyun memutuskan sambungan telepon dan melemparkan ponselnya ke atas dashboard. “Aku sudah melaporkannya kepada polisi,” katanya pada Brian. “Sementara rumah kita diperiksa, kita akan mencari tempat untuk berlindung.”

Brian mengangguk lemah dan menyandarkan kepalanya pada kaca mobil. Bayangan pisau besar tadi masih membekas jelas di kepalanya. Bulu kuduknya merinding membayangkan peristiwa tadi. Tidak ia sangka ia bisa selamat dari kematian yang tinggal seujung jengkal dari kukunya.

Tidak butuh waktu lama bagi Younghyun untuk menyetir mobil menuju rumah sakit psikiatrik di pinggir kota. Younghyun memapah tubuh Brian untuk keluar dari mobil dan berjalan menyeberangi lahan parkir menuju bangunan tersebut.

“Untuk apa kita berada di sini?” tanya Brian curiga. “Kenapa kau membawaku ke sini? Apakah aku terlihat gila? Apakah semua yang kukatakan padamu terlihat seperti lelucon?”

“Nak, kau baru saja mengalami pengalaman yang mengerikan. Ayah hanya ingin memastikan bahwa keadaanmu baik-baik saja,” jelas Younghyun dengan nada tenang.

“Apa yang akan kau lakukan padaku?”

“Tidak ada, Nak.” Younghyun mencoba tersenyum pada Brian. “Kau hanya akan diberi sedikit obat penenang saja. Setelah itu, kau akan merasa lebih baik dan bisa segera melupakan apa yang baru saja terjadi padamu.”

Brian menerima saja saat tubuhnya diseret melalui lorong-lorong berbau disinfektan tersebut. Mereka sampai di sebuah ruangan seorang ahli psikiater dan mengajak Brian berkonsultasi dengan dokter tersebut. Fei, nama dokter tersebut, menanyakan beberapa hal mengenai kronologi peristiwa tersebut dan Brian tampak bisa bekerjasama dengan baik. Setelah menyuntikkan cairan penenang pada Brian, Fei keluar dari ruang kerjanya dan meninggalkan pemuda itu berbaring santai di atas tempat tidur sementara ia menemui Myoui dan Younghyun di luar.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Myoui cemas.

“Cukup baik. Sejauh ini belum ada gangguan yang pasti, tapi aku harap semuanya hanya berakhir sampai di situ,” jelas Fei.

Younghyun memeluk lengan istrinya dan mendesah, “Syukurlah.”

“Aku benar-benar menyesal dengan apa yang terjadi pada Mina,” ucap Fei segera. “Aku turut berduka cita.”

Younghyun mengangguk samar. “Terimakasih.”

“Aku bisa membayangkan teror seperti apa yang dirasakan Mina saat mengalami histeria tersebut. Imajinasi adalah hal yang mengerikan dan sekaligus membahayakan. Sesuatu yang kita inginkan atau yang bahkan tidak kita inginkan bisa muncul kapan saja di hadapan kita. Aku harap tidak akan terjadi hal yang sama pada Brian,” tambah Fei.

“Ya, kami mengakuinya bahwa kami lalai dalam mengawasi Mina. Tapi kami tidak akan mengulangi kesalahan yang sama,” sahut Myoui sambil mengusap matanya yang basah.

Younghyun menengok Brian dari kaca pintu dan melihat pemuda itu telah tertidur pulas.

***

Younghyun pulang ke rumah seorang diri sementara istrinya menemani Brian di rumah sakit. Pria itu melepaskan mantelnya dan menyampirkannya di gantungan mantel. Ia mengecek ponselnya di dalam saku celana saat mendengarnya berbunyi.

“Anda meneleponku tadi?” Terdengar suara petugas polisi di ujung telepon. “Apakah ada sesuatu yang terjadi?”

“Ya, maaf,” Younghyun menyeka dahinya dan berkata, “Anakku sedang mengalami peristiwa buruk tadi dan aku harus berpura-pura menghubungimu untuk membuatnya yakin.”

“Ada apa? Apa yang terjadi?”

“Tidak ada,” Younghyun mengangkat bahu seolah-olah petugas itu bisa melihatnya. “Anakku hanya berkhayal bahwa seseorang telah masuk ke dalam rumah kami dan hendak membunuhnya. Ia sepertinya masih sedikit terpukul dengan kepergian adiknya.”

“Oh.” Petugas itu terdengar kecewa.

“Maafkan aku,” ucap Younghyun sekali lagi.

“Tidak apa-apa. Jika benar-benar terjadi sesuatu, kau bisa segera menghubungiku.”

Sambungan pun terputus. Younghyun menghembuskan napas kuat-kuat dan naik ke lantai atas. Ia melihat pintu kamar Mina terbuka dan menyusul masuk ke dalam. Younghyun menutup jendela kamar Mina yang sedikit terbuka dan melihat televisi yang dalam keadaan menyala. Pria itu berjongkok di depan mesin pemutar CD dan menemukan kotak film American Psycho di atas lantai.

“Film apa ini?” bisiknya pada dirinya sendiri.

Younghyun sedang membolak-balik kotak CD tersebut saat mendengar suara ribut dari arah kamar mandi. Pria itu menautkan alis dan bergegas membuka pintunya untuk mencari sumber suara tersebut. Dilihatnya kamar mandi mungil milik Mina menguarkan udara lembab seperti bau hujan, padahal hujan juga sudah berhenti sejak sejam yang lalu.

Bunyi itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas, seperti bunyi gemeretak dan berasal dari ventilasi kamar mandi. Younghyun bertumpu pada pinggir bathtub agar bisa naik ke atas ventilasi dan mengintip keluar melalui ruas-ruasnya. Keadaan di luar sangat gelap sehingga Younghyun nyaris tidak bisa melihat apa-apa.

Younghyun berdecak kesal dan melompat turun dari atas bathtub. Ketika ia melompat turun, punggungnya menabrak sesuatu. Sesuatu itu membasahi baju belakangnya dan berbau seperti hujan. Younghyun menolehkan kepalanya belakang dan melihat sosok dengan setelan jas hujan, sepatu bot, sarung tangan karet berdiri tepat di belakangnya. Makhluk itu menarik keluar sebuah pisau besar dari belakang punggungnya membuat Younghyun melotot ketakutan. Makhluk itu mengangkat wajahnya yang tertutup tudung jas hujan dan memperlihatkan sepasang matanya yang berwarna merah gelap. []

29 thoughts on “[ONESHOT] STALKER”

  1. Jadi… jadi… Brian sama Mina itu ga sakit? Emang makhluk itu beneran ada??? Huaah~ ini menegangkan banget😄
    Tapi sempet bingung sih krn nama bapaknya Brian itu Younghyun, jadi kayak ngebayanginnya satu orang😄
    Brian = Younghyun = YoungK ^^

    Suka

    1. Ini open-ended story. Semua ending tergantung bagaimana pembaca ingin memaknainya hehe. Brian sama Mina bisa aja beneran sakit, makhluk itu beneran ada, atau bapaknya juga emang ikut-ikutan sakit di akhir cerita.

      Iya, saya bingung mau milih nama yang tepat buat bapaknya, jadi ambil jalan pintas ngambil nama aslinya YoungK. LOL.

      Suka

  2. Pembawaannya enak bgt, sampe kesan dark, hujan, sampe kamar mandi yg berubah jadi angker benar2 kerasa ;-; Ini masih siang, tapi sukses gemetar sendirian sambil sesekali nengok ke belakang -_-

    Suka

  3. Seremnya berasa bgt, jdi ikut tegang sendiri bacanya. Kyk aku yang jdi tokoh dlm ceritanya…
    Fiuh, jadi sosok itu beneran ada?
    Atau semuanya berawal dari CD itu?

    Suka

    1. Bagus deh kalo bisa ikut-ikutan tegang hehe. Berarti saya berhasil bawa pembaca ke dalam cerita.

      Ini open-ended story. Mau bagaimana kamu menyimpulkan cerita ini, semua terserah kamu hehe. Kalo mau dikasih bocoran dikit, sebenernya awalnya bukan dari CD. Semuanya berasal dari penyakit dan fobianya Mina, acusticophobia. CD sih cuma jadi batu lompatan biar bisa ngarah ke klimaks ceritanya.

      Disukai oleh 1 orang

  4. ………………………….jadi, makhluk kamar mandi itu beneran ada apa enggak ya?? ‘-‘ apa semuanya (termasuk younghyun) sakit juga??? /pusing

    ceritanya bikin merinding sampe akhir :s padahal bacanya juga udah di tempat rame……GOOD JOB ^^

    See yaaa~~ ^^

    Suka

  5. woah! kece endingnya.. bisa jadi Mina & Brian sakit jiwa beneran atau penguntit itu ada..

    kusuka nih cerita genre dark psycho yg dikemas ala petualangan Brian mencari fakta pembunuh adiknya..

    keep writing ya!!
    salam kenal, Aoko is here..🙂

    Suka

  6. KAK TIRZSAAAAAAAAA ;”””) kakak comeback yaampun. aku sudah merindukan kakak soalnya kakak senpai untuk selamanya huhuhuhu. karena saking rindunya dengan tulisan kakak sampe dengan tak tau malunya aku drop a question di sk.fm kak Tirzsa hehe hehe hehe

    dan aku baru saja menemukan kalo kakak uda ngepost fic lain… kay…

    BTW INI KAK TIRZSA BANGET. diksinya gabikin pusing jadi awam juga bisa paham sama alur ceritanya (ini kusuka dari tulisan kakak). mengalir gituu. kalem. syahdu. gatau kenapa, padahal ini thriller tapi aku bisa dapet feel itu eheheheheh

    terus aku gemassss dengan nama nama tokohnya. Mina? Myoui? Brian? Younghyun? Ini lucu bangeet. tadi nebak nebak nama bapaknya siapa ya kukira Jinyoung as in JYP e e e ternyata bukan… kakak ngestan twice day6 juga ya kak? :”””) selalu jypn ya kaakkk. YAAYY (ini kusuka dari tulisan kakak)

    KUSUKA SEMUANYAAAAAAA. Aku kebayangin yaudah bapaknya terbunuh bikos that red-eye man does exist. kurelakan saja bapak seperti itu asalkan bukan brian. ehe. ehe. dan. aku. terbawa. merinding.

    sincerely, fireynka di twitter ehehe

    Suka

    1. Ya ampun, kamu masih rusuh seperti biasa ya haha.
      Ternyata kamu toh yang di ask.fm itu, kirain siapa hehe.

      Duh, maaf banget ya kalo pemilihan nama karakternya agak-agak nggak tepat gitu. Soalnya ini milihnya juga udah di ambang putus asa, antara bingung, nggak tahu, dan pasrah haha.
      Aku sih sebenernya belum ngestan TWICE sama siapa-siapa. Kasihan mereka, masih pada bocah, baru debut juga, fansnya belum pada ikhlas mau dijodoh-jodohin sama siapa pun haha.

      Kamu kok udah jarang nongol di Twitter sih?
      Aku kangen nih kita ngebully Seulong lagi hiks. Pokoknya mention ya kalo udah nongol di Twitter lagi hehe. See ya!

      Suka

  7. ASTAGA KAKTIRZSA😦 You have no idea how long aku menunggumu:”” Ini enak banget dibaca, thrillernya nyampe ke hati apalagi tadi bacanya pas di kelas😦 udah melotot-melotot sendirian akunya:’) Terus aku suka bahasa kakak di sini, sekaligus karakternya, apalagi castnyaHAHAHA young k tuh ena banget diliatin ya ampun apalagi dipanggil brian :”’))) so delicious

    Dan menurutku ini unik, open-ended story mang kadang kalo gak bikin muter otak, puas karena bisa nerka-nerka sendiri, sekaligus gigit-gigit bibir karena penasaran dan aku dapet semuanya hahaha. Aku seneng banget kak Tirzsa udah ngepost fic lagi ㅡyang tak kusadari dari november rupanya. Jadi, salam kenal lagi, aku Dhila dari line 98, kakak. Kayaknya kakak udah lupa aku hehe

    THANK YOU FOR POSTIIIING:)

    p.s : udah lama gabaca ff&menghayati banget dan berasa ketiban durian runtuh:)))

    Suka

    1. Halo, Dhilla. Tenang aja, aku masih inget kok hehe.
      Kayaknya kita sempat follow-followan juga di Twitter, bener nggak sih? Hehe.

      Iya, aku baru sempat ngepost fic lagi setelah berabad-abad lamanya disibukkan sama urusan kuliah dan skripsi hahay.
      Terimakasih masih berkenan baca fanficku yang busuk ini hihi.

      Disukai oleh 1 orang

  8. Hallo. Belum lama ini jadi reader IFK. Dan aku langsung jatuh cinta sama cerita ini. Salam kenal, aku Lila, 98-liner.
    Aku suka sama jalan ceritanya, diksi yang digunakan, juga penggambaran suasana yang dapet banget.
    Aku sampai takut sendiri bacanya.Hahaha. Kerennnn.
    Dan sejujurnya, ending yang kayak gini itu TOP banget. Karena ending yang bikin kepikiran itu sebenernya sulit diciptakan. Salut.
    Sukses selalu!

    Suka

  9. OKESIP……

    *mindblown*

    Halohalo, kak! Aaah, setelah sekian lama aku nemu fanfic thriller-mistery berkualitas kayak gini (yaah, meskipun open-ending wkwk). Sebenernya aku bukan penyuka cerita berbau horor kayak gini, tapiii karena poster (dan cast)nya bang brian (posternya cucok banget kak, sumpee. Oiya, jangan lupa sertakan credit buat fanmaster yg ngambil njepret bang brian dengan sangat kecenya❤ wkwk), i dun have any other choice dan jadilah aku baca fanfic ini sampe selesai. Wkwk dan alhamdulillah aku nggak nyesel bacanya karena fanfic ini termasuk one in a million (biar kayak TWICE ngehehe) alias keren sekaleeee.

    Okay, maaf lebay tapi sumpe keren banget. Tingkatkan & pertahankan yaa, kak! Ku tunggu karyamu yg lain dg cast yg kece juga tentunya, kayak *uhuk* jyp *uhuk* nation wkwkwkk

    Suka

    1. Hi! Thank you for spending your precious time to read this fan fiction.🙂
      Ya, saya ngambil gambarnya secara random dari Google dengan logo fantaken tulisan Korea. Tapi, karena saya nggak paham baca dan nulis huruf Korea, jadi nggak saya tulis. Semoga bisa dimaklumi ya hehe.

      Saya udah nulis beberapa fiction dengan cast JYP Nation, kok.
      Silahkan disearch aja.🙂

      Suka

  10. keren thor !! gakbisa ketebak isi ceritanya…
    awalnya aku pikir mina beneran sakit trus pas liat yang terjadi ama young k aku pikir ini orang tuanya deh yang sakit,trus pas baca ending nya….???

    pokoknyaa…kereeeeeennn….

    Suka

  11. Aku gak kuat bacanya. Help juseyo~
    Baru baca sampe Brian main ke kamar Mina, ga aku lanjutin, aku skip sampe Pak Younghyun yang buktiin si red eyes. Berhasil buatku deg-degan.
    Padahal main kesini lagi haus kisah romantis, tapi ternyata aku nyasar. Duh gak sanggup.

    Suka

  12. Keren banget thor sumpah.
    Gila… Aq tegang banget pas si Brain di kejar2 tu, mana bacanya malam gini. Tp ending yang gini malah buat aq bingung, ni 2 anak nya yang gila, atau orang jahat itu emang ada?? Kepikiran terus jadinya😦 . Tp cerita nya TOP banget.

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s