Love Hater (Chapter 1)

cover love hater copy

Love Hater (Chapter 1)

 

phiwonby’s present

 

Terinspirasi dari kisah nyata

 

Starring

Main Cast KARA’s Hara

Other Cast BTS’s Taehyung, BEAST’s Hyunseung, BEAST’s Gikwang, KARA’s Youngji, Miss A’s Suzy, BESTie’s Dahye, BESTie’s Hyeyeon, f(x)’s Soojung, Lovelyz’s Yein

Genre Romance, Friendship, Family, Drama

Rating PG-15

Duration Serial (3.000+ words/Chapter)

 BAWAH RESMI copy

Aku benci terhadap dua fakta berikut:

Satu, lelaki sangat mudah jatuh cinta

Dua, aku tidak pernah jatuh cinta

 

Hara tak pernah menyangka liburan musim panasnya akan semenyenangkan ini.

 

Rutin, liburan musim panas tahun ini dia memilih untuk mengikuti sebuah klub musim panas yang memiliki banyak acara-acara seru untuk mengisi musim panas. Kalau ditanya Hara punya jabatan apa sih, dia hanyalah anggota biasa. Serutin apapun dia mengikuti klub-klub di tiap musim panas, dirinya tak pernah tertarik menjabat apapun karena menjadi pengurus klub bukanlah keahliannya.

 

Jujur saja Hara berterima kasih pada dirinya sendiri karena memiliki banyak teman dan mendadak menjadi pembuat cokelat. Siapapun yang ia temui di klub akan menerima cokelat batang buatan Hara sendiri—bonusnya adalah dia memetik buah cokelat sendiri karena rumah musim panas di daerah Hanjang di pinggir Kota Seoul yang ia tempati memiliki kebun cokelat tepatnya di halaman belakang rumah.

 

Memang Hara cukup aktif dalam mengikuti berbagai acara yang diselenggarakan oleh klub barunya itu, tapi ia menghindari satu jenis acara ini; “Pencarian Jodoh?” ulang Hara, suaranya terdengar seperti memekik pada Suzy.

 

“Iya, nanti malam Taehyung akan memutuskan, di dekat Sungai Hanjang. Tertarik untuk ikut?” wajah tenang Suzy rasanya ingin ditonjok oleh Hara saat itu juga. Hara menolak mentah-mentah—tentu saja karena ia mengalami sebuah trauma kecil saat ia mengikuti jenis acara itu untuk pertama kalinya. “Aku juga ikut, loh! Ayo nanti kita ke Sungai Hanjang bersama-sama!” bujuk Suzy.

 

“Suzy-ah, kamu lupa atau pura-pura tak tahu?” sungut Hara, Suzy menaikkan alisnya seolah bertanya, ‘apa’. Lantas Hara melanjutkan, “Aku kan pernah bilang, Taehyung itu orang paling menyebalkan dan sangat sulit untuk diraih, oke? Sudah begitu, kamu ikut acara itu. Ya jelas aku kalah, dong!”

 

“Ih, kok pesimis sekali!” ledek Suzy. “Kalau begitu buktikan dong, kalau kamu bisa meraihnya!” belum menyerah, Suzy terus saja membujuk Hara—bahkan sekarang memakai metode motivasi.

 

Kalau Suzy tidak memasang wajah cantiknya yang dibuat imut yang bertahan hingga 30 detik, Hara tak akan ikut ke Sungai Hanjang malam itu. Itupun Hara sangat terpaksa—sekaligus penasaran pada sosok Taehyung yang menjadi orang pertama yang menolak cokelat buatan Hara.

 

Seandainya bulan dan bintang-bintang di langit malam itu memiliki mulut, sudah pasti mereka semua akan menertawai Hara yang memaksakan senyumnya sambil bertepuk tangan menyambut pasangan kekasih baru. “Taehyung-shii,  apa aku juga boleh menjadi kakak sumpahmu juga?” mungkin kesambet ikan ganas yang bersembunyi di dasar Sungai Hanjang, Hara benar-benar mengatakan hal tersebut pada Taehyung—setelah melihat gadis-gadis lain yang tertolak kebanyakan mendaftarkan diri menjadi kakak sumpahnya Taehyung.

 

“Oh, tentu saja boleh, Hara Nuna!” balas Taehyung yang tampak sedang gembira karena telah menggaet Kwon Jihyun sebagai kekasihnya.

 

“Semuanya! Aku punya pengumuman penting!” teriak Yoona selaku ketua utama Klub. “Aku memiliki beberapa anggota baru untuk klub ini, mereka akan datang besok pagi! Mohon perhatiannya untuk mereka dan jangan sampai mereka memiliki kesan pertama yang buruk pada klub ini, mengerti?”

 

Bagus. Hara sudah sangat lelah dengan yang namanya ‘anggota baru’ dan kalimat ‘jangan sampai mereka memiliki kesan pertama yang buruk pada klub ini’. Sudah memasuki minggu kedua di liburan musim panas, tapi kalimat-kalimat itu masih saja terdengar. Rasanya sesuatu yang tak pernah diduga akan menghantui Hara.

.

 

.

 

.

 

Kelihatannya seperti sudah siang hari karena matahari tampak lebih tinggi dari pagi-pagi biasanya—atau hanya karena ini musim panas. Ketika anggota-anggota baru itu tiba, anggota-anggota biasa sudah merubungi mereka bak sekumpulan semut yang menemukan sebutir gula.

 

“Gikwang Oppa, aku punya cokelat untukmu!” tangannya menyodorkan sebatang cokelat yang dibungkus kertas minyak berwarna perak kepada seorang lelaki tampan yang merupakan salah satu anggota baru. Hara tersenyum puas lantaran Gikwang menerima cokelat tersebut dan langsung memakannya.

 

“Hm!” Gikwang tampak terkejut dengan rasa cokelat tersebut, “Apa kamu membuatnya sendiri, Hara-shii?”

 

“Wah, bagaimana Oppa bisa tahu?”

 

“Pantas saja, rasanya amatiran sekali!” entah meledek, berkomentar, atau memuji; Gikwang tertawa geli melihat Hara mengerucutkan bibirnya dengan kesal. “Hei, maukah kamu menjadi adik sumpahku?” tawar Gikwang setelah puas menertawai Hara.

 

“Tapi jangan ledek rasa cokelatku lagi!” kata Hara, memberi syarat pada Gikwang.

 

Gikwang mengacak rambut Hara dengan gemas, “Kalau tak mau ya sudah, jangan pakai syarat. Aku berniat untuk membantumu membuat cokelat yang lebih enak dari ini, tahu!”

 

Kalau Hara menolak, berarti dia adalah gadis bodoh yang menyia-nyiakan seorang lelaki tampan yang terlihat seperti lelaki yang menyenangkan dan perhatian. Jadi Hara menerima tawaran itu tanpa memberi syarat apapun pada Gikwang, sedangkan janji Gikwang untuk membantunya membuat cokelat adalah bonus tersendiri.

 

Di tengah-tengah berbincang dengan anggota baru yang lain tiba-tiba Hara—“Bwa!” teriak seorang gadis yang menepuk bahu Hara dari belakang dan membuat Hara melompat kaget, segera menoleh dan siap membunuh gadis tersebut. “Hai!”

 

Seorang gadis dengan wajah cantiknya itu telah membuat Hara bengong. “Youngji?” gadis itu tersenyum, “Astaga! Jadi kamu benar-benar masuk ke klub ini?” seru Hara yang kemudian berpelukan dengan Youngji seperti teletubis.

 

“Berkat semua cerita menggiurkan darimu, Hara-ya!”

 

Bagus. Mulai hari itu Hara tak kesepian seperti minggu kemarin. Bisa dibilang dia memiliki keluarga sumpah yang lengkap—hanya Gikwang dan Taehyung, sih—dan  seorang sahabat di kampusnya yang membuat Hara semakin senang berada dalam klub ini. Dengan gembira, Hara berkeliling lagi mencari wajah baru di klub tanpa peduli matahari yang sudah berada tepat di atas kepala—siang sudah tiba.

 

Diantara bangku-bangku taman yang hampir semuanya penuh dengan anggota-anggota klub yang sedang berbincang, Hara menemukan wajah baru di salah satu bangku taman yang tak ada seorangpun sedang bersama lelaki pemilik wajah baru tersebut. Hara menghampirinya, “Hai, aku Hara!” sapanya sekaligus memperkenalkan diri dahulu.

 

“Oh, hai. Aku Hyunseung. Salam kenal, Hara!” meskipun tak setampan Gikwang, Hara tak menyesal berkenalan dengan Hyunseung. Hara mengeluarkan sebatang cokelat dari totte bag yang tampak lebih ringan dari sebelumnya dan menyodorkannya pada Hyunseung. “Untukku?”

 

“Iya, cokelat ini untukmu!” tukas Hara dengan ramah.

 

“Terima kasih, Hara-shii. Baru ini aku menerima cokelat dari seorang gadis cantik sepertimu” komentar Hyunseung yang langsung membuka bungkusnya dan memakannya. Hara tersenyum senang menerima pujian itu. “Hm! Rasanya enak!”

 

“Benarkah? Kurasa kamu adalah anggota baru pertama yang mengatakannya enak. Apa benar-benar enak?” kambuh menjadi sosok yang pesimis, Hara menatap Hyunseung penuh harap, seolah memintanya untuk tidak mengikuti komentar anggota baru lain yang mengatakan cokelatnya tak terlalu enak—termasuk Gikwang juga, bukan?

 

Hyunseung tertawa melihat ekspresi sebal Hara, “Memangnya kamu membuatnya sendiri?” tanya Hyunseung yang kemudian menerima anggukan dari Hara. “Wah! Kamu hebat!” serunya sembari mengacungkan jempolnya.

 

“Terima kasih, Hyunseung… haruskah aku memanggilmu ‘Oppa’?”

 

“Silahkan, asalkan jangan buat Junhyung cemburu!”

 

Hara tercengang mendengarnya, “Apa aku seterkenal itu?” tanyanya dengan nada berbisik sembari mendekatkan kepalanya pada Hyunseung agar tak ada yang mendengar. Hyunseung bergumam panjang, “Ah, aku tahu. Bukan aku yang terkenal, tapi Junhyung Oppa yang terkenal, benar, kan?” Hyunseung mengangguk—seolah enggan menjawab karena mulutnya masih penuh dengan cokelat.

 

Bagus. Hara semakin trauma dengan cinta. Setelah ia ditinggalkan Junhyung—yang berhasil menggaet Hara sebagai pasangan kencan berkat acara ‘Kencan’ yang termasuk dalam kategori acara jenis ‘jodoh’—Hara benar-benar tak mau mengikuti acara semacam itu lagi. Bonusnya Hara sedikit lega karena Junhyung tak hanya meninggalkan Hara, tapi meninggalkan klub dan menghilang entah kemana Hara tak lagi peduli.

 

Ah, lagipula Hara sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak jatuh cinta di musim panas ini.

.

 

.

 

.

 

Jujur saja, Hara tak terlalu suka dikenal banyak orang atau dengan kata lain, ‘terkenal’. Tapi karena ia masuk kedalam klub ini untuk mendapat banyak teman, tak ada salahnya kalau akhirnya dia menikmati tiap obrolan dan kegiatannya bersama para anggota.

 

Mulai dari membuat cokelat dibantu oleh Gikwang, bersepeda bersama Taehyung dan keluarga sumpahnya Taehyung, bermain ‘Truth or Dare’ bersama Youngji dan beberapa anggota perempuan lainnya, atau mengobrol bersama Hyunseung dan beberapa anggota lain di teras rumahnya.

 

Semuanya menjadi semakin menyenangkan ketika Hara berhasil mendaftarkan dirinya dan Youngji dalam sebuah acara. Hampir semua acara Hara ikuti, beberapa acara lain sengaja ia tinggalkan agar anggota lain mendapat kesempatan untuk mengikuti acara tersebut. Tak menyangka bukan, liburan musim panasnya tahun ini sangat menyenangkan?

 

Bugh. Hara memukul lengan Hyunseung lantas melipat kedua tangannya di depan dada lengkap dengan ekspresi cemberutnya. “Aw!” rintih Hyunseung, sembari memegangi lengannya, “Aw sakit!” rintihnya lagi, seolah ia benar-benar kesakitan.

 

Hara yang tadinya memalingkan muka—enggan menghiraukan Hyunseung, kini menoleh dan memandangi Hyunseung yang tampak sangat kesakitan. “A-apa sakit?” tanyanya, khawatir kalau ia kemudian diperas dengan dimintai uang muka untuk ganti rugi.

 

“Sakit-lah!” sentak Hyunseung yang terus merintih kesakitan, “Tanggung jawab, dong!” serunya dengan kesal, memandangi Hara—menunggu reaksinya sembari terus merintih.

 

“Ba-bagaimana aku bisa bertanggung jawab, Hyunseung Oppa? Maafkan aku!”

 

“Pijat lenganku!”

 

Hara mengerjapkan matanya, saling bertukar pandang dengan Hyunseung, “Baiklah…” ucapnya. Setidaknya Hara hanya harus memijat lengan Hyunseung tanpa mengeluarkan sepeser uangpun. Hara menyentuh lengan Hyunseung dan mulai memijatnya dengan lembut. “Sudah!” serunya.

 

“Sudah? Segitu saja?” timpal Hyunseung. Hara mengangguk-angguk, tingkahnya terlihat lugu dimata Hyunseung. “Yang sini juga!” pintanya sembari menunjuk lengan sebelah yang sebenarnya tak kenal pukul oleh Hara.

 

“Oh, baiklah…” entah lugu atau apa, Hara lantas berpindah tempat dan memijat lengan Hyunseung yang sebelah lainnya.

 

“Hei Hara, dia itu hanya berpura-pura! Kamu lugu sekali, sih!” tutur Hyeyeon yang kemudian menjitak kepala Hyunseung yang sudah ketahuan sengaja menyuruh-nyuruh Hara untuk memijat tubuhnya.

 

“Aw sakit!” pekik Hyunseung yang memegangi kepalanya setelah dijitak Hyeyeon.

 

Hara berhenti sejenak lalu mengendikkan bahunya, “Tak apa, aku hanya ingin membantu dia, Unni” sahut Hara. “Sini, kepalamu pasti juga sakit setelah kena jitak” Hara menepis tangan Hyunseung dari kepalanya, dan mulai memijat kepalanya.

 

“Wah, kamu berbakat menjadi tukang pijat, Hara-ya!” puji Soojung.

 

Hara hanya tersenyum membalas pujian Soojung yang terdengar seperti hinaan, tapi Hara tak begitu peduli. “Hara-ya, nanti malam kamu sibuk tidak?” tanya Hyunseung yang masih menikmati pijatan lembut Hara.

 

“Tidak sibuk, kenapa?” Hara berhenti memijat dan kembali duduk di sebelah Hyeyeon.

 

“Mau makan malam denganku?”

 

“Woo~” sorak Hyeyeon dan Soojung bersamaan.

 

Hara memandangi kedua temannya itu tanpa ekspresi lalu menatap Hyunseung, “Denganku? Hanya berdua?” ulang Hara, berusaha mengonfirmasi tawaran Hyunseung yang sangat asing bagi Hara—karena ia tak pernah makan malam dengan lelaki lain kecuali Gikwang.

 

“Iya, hanya berdua. Tidak mau, ya?”

 

“Bukannya tidak mau, aku mau, kok. Cuman, ini pertama kalinya aku—“

 

“Kencan!” potong Soojung. “Ups, maksudku kedua kali!” tambahnya.

 

“Hei ini bukan kencan!” bela Hara, yang membuat Soojung dan Hyeyeon tertawa-tawa berdua, puas membuli Hara yang tampak salah tingkah menerima tawaran semacam itu.

 

Hyunseung ikut membela, “Ini bukan kencan, kok. Cuman makan malam berdua” dan merutuki dirinya sendiri dalam hati. Maksudnya, bagaimana bisa Hara tak tahu artinya tawaran makan malam berdua dengan seorang lelaki? Apa saja yang dilakukan Junhyung pada Hara, eoh?

.

 

.

 

.

 

Disore yang cerah dimana langit kekuningan dibubuhi awan jingga dan matahari yang hangat, Hara tak mau menyerah untuk membuat Taehyung mencoba cokelat buatannya. “Aku tidak suka cokelat, Nuna. Sungguh!” Taehyung mendorong tangan Hara yang masih membawa sebatang cokelat di tangannya.

 

“Tapi ini buatanku, Tae. Cobalah sedikit saja!” bujuk Hara, Taehyung masih menolak mentah-mentah. “Jihyun saja menyukai cokelat buatanku, kenapa kamu tidak?” tambahnya, barangkali kalau ia menyebutkan kekasih Taehyung, maka Taehyung akan—

 

—“Aku sudah putus, Nuna.”

 

“Ha? Kapan?”

 

“Aduh, Nuna kemana saja, sih?” pungkas Taehyung dengan kesal. “Sudah lama sekali, Nuna-ku sayang!”

 

“Apa itu? Aku baru mendengar kalau ternyata kamu menyayangiku, eoh?” bisik Hara.

 

“Terima kasih, Nuna,”

 

Hara menautkan kedua alisnya, menatap Taehyung yang balik menatapnya dengan tatapan penuh kasih sayang, “Hei, kamu… kenapa tiba-tiba berterima kasih padaku? Mau memakan cokelatku saja tidak.”

 

“Karena sudah menjadi kakak sumpahku yang paling setia!” tak kalah tampan dari Gikwang, kadang Hara harus bersyukur karena Taehyung selalu memiliki senyuman lebar yang sangat menawan. “Diantara semua kakak perempuan sumpahku, cuman Hara Nuna yang mau menganggapku dan menemaniku juga, aku berterima kasih. Apa salah?”

 

“Ah, begitu…” gumam Hara, mengangguk-anggukan kepalanya. “Aku bahkan tidak merasa menjadi se-spesial itu dimatamu, hehe… aku hanya berusaha bersikap baik pada semua orang, tak menyangka kalau kamu mengatakan itu padaku” curhatnya, lalu mengacak rambut Taehyung. “Aku juga berterima kasih padamu, karena cuman kamu adik sumpahku!”

 

“Kamu punya Yein juga, Unni” bisik sebuah suara diantara Taehyung dan Hara yang sedari tadi duduk di bangku panjang di teras rumah Taehyung. Mereka berdua menoleh ke belakang—tepat di jendela yang terbuka dan menampakkan Yein yang akhirnya keluar dari persembunyian demi menguping pembicaraan Taehyung dan Hara.

 

Hara tertawa geli, “Ah, benar. Yein juga adik sumpahku karena Yein itu adik sumpahnya Taehyung, ya!”

 

Nuna, mulai sekarang, keluarga sumpahku adalah keluarga sumpahmu juga, jadi jangan khawatir” tutur Taehyung, membuat hati Hara semakin senang—sambil berjanji untuk lebih up to date soal kabar keluarga sumpahnya, jadi dia tak akan salah sebut seperti tadi. Pasti Taehyung sangat sakit hati mendengar nama Jihyun.

.

 

.

 

.

 

Suara tepuk tangan Youngji yang nyaring membuat Hara harus menutup kedua lubang telinganya. Ia tertawa senang setelah itu dan berseru, “Selamat, sahabatku!” seru Suzy, yang malam itu juga ikut acara pesta tidur di rumah Hara.

 

“Iya! Aku benar-benar tak menyangka kamu akhirnya sedekat itu dengan Taehyung!” imbuh Youngji.

 

“Memangnya kenapa, sih?”

 

Suzy dan Youngji saling melempar pandang dan melontarkan senyuman penuh arti. “Kamu tidak ingat, kamu kan pernah bilang kalau Taehyung itu orang paling menyebalkan dan sangat sulit untuk diraih!” jelas Youngji, disambung dengan jeritan senang dari Youngji dan Suzy.

 

“Hm, baiklah. Sebenarnya kalimat itu terarah pada ‘cinta’, jadi intinya aku masih tidak bisa meraih Taehyung, tentu saja. Itu karena… aku merasa, kalau aku tak bisa menjadikannya kekasihku, maka aku akan menjadi keluarga sumpahnya, itu saja.” Jelas Hara, yang tak ingin kedua sahabatnya itu salah paham.

 

Krik krik. Suara jangkrik diluar sana terdengar nyaring setelah Hara selesai menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi. “Oke, terserah. Sekarang saatnya kita tidur!” seru Hara sembari mengacungkan tangannya ke udara, sangat senang dengan pesta tidur pertamanya.

 

Detik berikutnya Youngji mengedarkan pandangannya keseisi kamar tidur Hara, lalu meraih ponselnya yang bergetar sedari tadi, “Sebentar, ya” bisiknya, menggagalkan ‘tidur’ mereka. Youngji mendekatkan ponselnya ke telinganya, tampak berbincang dengan seseorang di seberang sana.

 

“Hara, bagaimana kabarmu dengan Hyunseung?” tanya Suzy lantaran menunggu Youngji yang masih memiliki konversasi bersama orang yang menelponnya.

 

“Apa maksudmu? Aku tak berhubungan apa-apa dengan Hyunseung Oppa, tahu!” sergah Hara.

 

“Ssshh!” desis Youngji, mengingatkan Suzy dan Hara untuk tetap tenang. “Iya, sampai jumpa!” Youngji selesai, lantas ia menatap Hara dengan tatapan sedih, “Maaf… tiba-tiba aku dipanggil Yein untuk ikut rapat kepengurusan klub, malam ini”

 

“Jadi hanya aku dan Hara?”

 

“Suzy-ah!” teriak sebuah suara dari luar rumah Hara.

 

Mereka bertiga mendengus bersama, “Jangan bilang kamu belum minta izin Jonghyun—kakak sumpahmu yang tampan itu?” tebak Hara yang langsung dinyatakan benar oleh Suzy. “Baiklah, kita tunda saja pesta tidurnya, lain waktu saja!” Hara memutuskan, dengan berat hati.

 

Demi Suzy dan Youngji yang akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Hara, Hara takut sendirian di malam hari. Biasanya dia akan menghubungi Gikwang dan berbincang dengannya melalui telepon, tapi malam ini Hara memutuskan untuk membuat cokelat di dapur sambil menyalakan musik yang berasal dari radio di ruang depan rumahnya.

 

You better walk away na honja eottheokae—“ Hara menghentikan nyanyiannya saat menyadari musiknya berhenti begitu saja. Hara menengok ke belakang, melihat ke ruang depan yang terpisahkan oleh lorong panjang.

 

Terdengar langkah kaki yang sepertinya merupakan sepatu high heels. Hara buru-buru melangkah hati-hati masuk ke kamar tidurnya, mengunci pintu kamarnya dan meringkuk di balik selimut tebalnya. “Apa itu pencuri? Atau Suzy? Youngji? Soojung? Atau Hye—“ Hara tak melanjutkan gumamannya saat mendengar pintu kamarnya bergetar—sedang berusaha didobrak.

 

Keringat dingin mulai membasahi tubuh Hara yang makin yakin kalau orang yang diluar kamar tidurnya adalah orang jahat—karena kalau itu temannya, sudah pasti mengetuk pintu atau mengeraskan volume musiknya bukan mematikannya. Bersama dengan udara lembab di malam hari, Hara mengutak-atik ponselnya, berdecak pelan seolah sedang kehilangan sesuatu dari ponselnya.

 

Tak mau berlarut-larut sedih karena kehilangan tersebut, Hara segera menghubungi nomer telepon Gikwang dan berdalih lirih, “Gikwang Oppa… kemarilah… aku takut…”

 

Satu-satunya orang terakhir yang terfikirkan Hara untuk menyelamatkannya hanyalah Gikwang. Tak perlu menunggu lama, pintu kamar Hara terbuka dan Gikwang menarik selimut Hara, “Hara! Kamu baik-baik saja, kan?” pekik Gikwang.

 

Alih-alih menjawab, Hara spontan memeluk Gikwang dengan erat, melampiaskan rasa takutnya. “Aku rasa orang itu selalu menerorku, Oppa…”

 

Gikwang membelai rambut Hara, membantunya untuk kembali tenang. “Aku tidak melihat siapapun saat kemari, Hara” sahut Gikwang. “Malam ini, tidurlah dirumahku” ajak Gikwang yang kebetulan rumah mereka tak terlalu jauh.

 

Malam itu sudah larut sekali, dan beberapa pencahayaan sudah dimatikan. Jadi tak akan ada yang tahu kalau ada orang lain yang berdiri di balik dinding samping rumah Hara yang melihat Hara dan Gikwang jalan beriringan menuju ke rumah Gikwang.

.

 

.

 

.

 

Hara tidak mengerti kenapa klub ini semakin menakutkan dari hari ke hari. Hampir semua persediaan cokelat Hara yang sudah ia buat bersama Gikwang—hilang setelah malam itu pergi. “Hhmm! Sangat lezat! Aku adalah penggemar berat cokelatmu, Unni!” seru Dahye yang tampak sangat ganas melahap cokelat yang ia pesan kemarin hari pada Hara.

 

Di puncak bukit Hanjang, matahari terasa makin hangat. Sama seperti teman-teman klub yang sedang berkumpul di sana dan tak sedikit yang sedang berbincang bersama Hara, mereka sehangat matahari pagi itu. “Aku juga minta, dong!” seru Hyunseung sembari menengadahkan kedua tangannya.

 

Hara memberikannya sebatang cokelat, “Cara Hyunseung Oppa meminta cokelat mirip seperti pengemis, ya?” ledek Dahye pada Hyunseung. Hyunseung hanya mencibir dan menirukan suara imut Dahye, membuat Dahye makin meledak dan memukuli lengan Hyunseung.

 

“Hara, apa kamu sudah punya kekasih?” tanya Hyunseung sembari melahap cokelat Hara dengan santai.

 

“Aku tidak pernah punya—“

 

“Pembohong! Terus Junhyung itu siapa, eoh?” potong Soojung yang tampak selalu sensitif saat Hara tidak mengakui Junhyung sebagai mantan kekasihnya—sebenarnya memang bukan, sih.

 

Hara mencubit pipi Soojung dan menjawab dengan nada kesal, “Itu cuman kencan sehari, dilatar belakangi oleh acara buatan Yoona Unni, apa kemudian aku menganggapnya sebagai kekasih? Mantan kekasih?”

 

“Oh… jadi kalian cuman kencan sehari, bukan pacaran?” tanya Jimin yang akhirnya ikut mengobrol setelah beberapa lama diam dan sibuk menikmati cokelat buatan Hara yang makin enak dari hari ke hari. Hara mengiyakan pertanyaan Jimin.

 

“Tapi sepertinya kamu dekat dengan Gikwang” tutur Hyunseung.

 

“Gikwang itu hanya kakak laki-laki sumpahnya Hara, tahu!” sentak Youngji yang tampak tak terima dengan kesalahpahaman Hyunseung yang mungkin mengira Hara dan Gikwang berpacaran. Hara mengonfirmasi kebenaran pernyataan Youngji.

 

“Jungkook hentikan!” teriak Yein yang sedang berbincang dengan Taehyung dan Jungkook di dekat kolam renang bersama beberapa gadis lain. Teriakan kerasnya itu membuat beberapa anggota lain menoleh dan memandangi mereka sebentar, lalu kembali pada topik mereka masing-masing.

 

Termasuk kelompok berbincang Hara pagi ini. “Taehyung makin terkenal, ya” tukas Jimin tiba-tiba.

 

“Iya, dia itu unik dan menyenangkan, orang-orang jadi banyak yang suka” komentar Dahye.

 

“Tapi bagi Hara, Taehyung itu menyebalkan dan sangat sul—“ Hara buru-buru membungkam mulut Youngji dan menjitak kepalanya. Youngji melepas tangan Hara dengan mudahnya dan berkata, “Maaf, aku tak akan mengatakannya lagi, Hara si Nuna sumpah kesayang—“

 

“Ah, kamu ini sahabatku atau bukan, sih?” bentak Hara dengan kesal.

 

“Kenapa sih?” tanya Dahye. Disambung dengan pertanyaan Hyunseung, “Memang apa hubungannya Hara sama Taehyung?”

 

“Aku keluarga sumpahnya Taehyung, itu saja” jelas Hara. “Dan tampaknya seseorang sedang mengharapkan Jungkook karena Jungkook juga keluarga sumpahku” balas Hara sembari melirik Youngji yang tampak berapi.

 

“Hei-hei! Enak saja!” bentak Youngji.

 

“Tak apa, katakan saja kalau kamu menyukai Jungkook. Dia pasti terbiasa dengan ungkapan perasaan gadis-gadis padanya, kayaknya sehari dia mendapat tiga pengakuan cinta” ujar Soojung seolah tahu segalanya—memang seharusnya begitu karena dia adalah wakil ketua klub ketiga.

 

Sudah beberapa hari ini Youngji memutuskan untuk selalu bersama Hara apalagi saat Hara beraktivitas bersama keluarga sumpahnya dan menyatakan bahwa dia menyukai Jungkook pada Hara dan berkata bahwa ia ingin meraih hati Jungkook tak peduli seterkenal apapun Jungkook di klub ini.

 

Tapi sepertinya—“Oh, ya, Gikwang kemana? Dua hari ini aku tak melihatnya” tanya Youngji pada Hara.

 

“Menghadiri pertemuan di kantornya di tengah liburan musim panas. Dan bonus buatnya, aku telah bersedia membersihkan rumah Gikwang Oppa tiap hari” jawab Hara, menambahi curhatan menyedihkan miliknya.

 

“Kamu tinggal dirumah Gikwang Oppa sekarang?” tanya Dahye, Hara mengangguk sebagai jawaban.

-To be continued-

A/N: INI DRAMA ATAU FANFICTION SIH T_T Oke, jangan suruh aku jelasin kenapa aku tulis “Terinspirasi dari kisah nyata” ya. Kalo kalian pernah denger kata “roleplayer”, ya itu yang aku maksud. Dan maafkan aku karena aku make cast-cast ga jelas ini :’D

By the way on busway, ini jadi ff terakhir sebelum aku hibernasi panjanggggggg buat fokus UAN :’D mohon ditunggu chapter 2-nya yaa🙂

One thought on “Love Hater (Chapter 1)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s