Amato (Part 4)

amato

AMATO

Part4

Title: Amato chapter 4

scriptwriter: Yosichan

Main Cast:

  • Oh Sena
  • Park Chanyeol
  • Oh Sehun
  • Shin Chanmi

Support Cast: find by your self

Genre: Romance, family life, comedy

Duration: chapter

Rate: pg 15

Previous part: 1. 2. 3

              Aku hanya penasaran dengan akhir sebuah cerita cinta yang penuh pengorbanan. Apa berakhir bahagia? Jika iya. Aku akan memperjuangkan cinta ini. tidak peduli ini begitu menyakitkan dan begitu egois. ­–Oh Sena-

              aku mengerti mengapa seorang ayah begitu berkorban apapun demi anaknya. Aku mulai menyukainya. –Park Chanyeol-

 

“ noona!!” seakan mengetahui keadaan, Sehun pun berteriak.

“ sehun-ahh jebal…” susah payah Sena mengeluarkan suaranya.

“ apa kau tak ingat siapa orang yang menginginkan bayimu mati? Orang yang berada disampingmu!”

“ sehun-ahh geumanhae.” Ibunya pun ikut angkat bicara. Air mata Sena akhirnya jatuh. Masih dengan menggenggam tangan Chanyeol.

“ terserah!” sehun pun keluar dari ruangan tersebut. Dengan diakhiri membanting pintu kamar rumah sakit itu.

“ omo! Dasar bocah tengik. Bagaimana jika pintu itu rusak darimana dia mendapatkan uang untuk menggantinya.” Ibu Sena menggumamkan omelan untuk putranya itu. Ia kemudian menatap menantunya. Ada seulas senyum diwajahnya yang semakin menua.

“ Chanyeol-ahh, apa kau sudah makan? Kau sudah lama menjaga putriku?” ia berusaha menahan pertanyaan perihal yang Sehun katakan bahwa menantunya ini akan membunuh janin yang sedang Sena kandung. Ia enggan merusak suasana hati putrinya yang sedang ingin bersama suaminya.

“ ah ne.” Jawab Chanyeol singkat lalu kembali duduk disebelah Sena.

              Sudah 4hari Sena dirawat dirumah sakit ini. selama itu pula Chanyeol turut menjaganya. Pergi kekantor hanya setengah hari dan selebihnya ia menghabiskan waktunya dirumah sakit. Hal itu membuat kedua keluarga ini terheran-heran. Terlebih lagi Sena. Ia masih tidak percaya Chanyeol akan seperti ini. Menjaganya hingga tertidur disebelah Sena, membawakan Sena makanan tepat pada waktunya meski belum berani menyuapinya. Mengantar Sena kekamar mandi hingga rela mengerjakan tugas kantornya di ruangan itu. Berbeda dengan Chanyeol, sehun justru menjenguk Sena hanya sampai pintu masuk saja. Melihat sekilas kakaknya yang terseyum gembira ditemani suaminya. Setelah itu pergi tanpa menyapa kakak yang paling ia sayangi itu. Terkadang ia menyuruh Chanmi memberikan roti kesukaan Sena.

“ pulanglah, kau akan ikut sakit jika seperti ini.” Sena menatap Chanyeol yang sedari tadi menguap namun tetap ikut menonton drama favorit Sena.

“ aku bahkan jarang sakit. Maka dari itu cepatlah sembuh agar kita bisa pulang bersama.” Chanyeol balik menatap Sena.

“ wae?” Sena menggumam

“ mwo?” tanya Chanyeol tak mengerti.

“ kenapa kau seperti ini? kenapa tiba-tiba?”

“ apa aku salah jika bersikap baik pada istriku? Apa kau tetap menginginkanku menyakitimu?”

Sena menggeleng. Ia bangkit dari tidurnya mendekati Chanyeol.

“ mianhae. Aku selalu berpikir buruk tentangmu.” Chanyeol pun menduduki tempat Sena berbaring, duduk tepat didepan Sena. Menarik Sena dalam pelukannya.

“ gwenchana…” Sena terkejut dengan perlakuan suaminya yang tida-tiba itu. Eomma, putrimu sedang dipeluk suaminya. Putrimu dipeluk pria selain adiknya.sena bersorak dalam hatinya. Namun saking terharunya ia menangis dalam pelukan Chanyeol. Merasa istrinya terisak, Chanyeol melepas pelukannya namun Sena makin mempererat pelukannya.

“ wae?” sena menggeleng.

“ kau menangis?” kembali menggeleng.

“ aku hanya sedikit bahagia. “ akhirnya Chanyeol bisa melepas pelukan itu dan menatap wajah Sena yang masih basah karena air mata. Merengkuh wajahnya dengan telapak tangannya.

“ aku harap ini bukan mimpi. Jika ini mimpi aku tidak ingin bangun, Chanyeol-ahh.” Sena kembali memeluk Chanyeol.  Diluar pintu, Sehun menghela napas berat. Antara senang dan khawatir ia pun melangkah pergi.

              Sena sudah diperbolehkan pulang namun dengan berbagai persyaratan dari dokter. Persyaratan agar janinnya selamat hingga melahirkan nanti. Sementara itu Chanyeol bimbang dan gengsi ingin mengajukan ajakan pada Sena untuk pulang kerumahnya. Ibu dan adik Sena juga ada disana, ia tidak yakin adik ipar yang membencinya itu mengijinkannya membawa Sena. Ia memutuskan mengikuti apa yang Sena lakukan. Benar saja, sena meminta pulang kerumahnya. Akhirnya keluarga itu diantar Chanyeol menuju rumahnya. Sesampai dirumah Sena, Chanyeol juga masih dalam keraguan ingin menemani Sena atau tidak. Meski Sena sudah memberi kode agar Chanyeol menemaninya lagi. Melihat dari raut wajah Sehun yang tidak suka dengan keberadaannya ia pun memutuskan untuk pulang kerumahnya.

“ Chanyeo-ahh, tinggalah disini. Uri Sena, dia selalu mengigau menyebut namamu.”

“ eomma!” Sena menyela perkataan ibunya.

“ tak apa, jangan khawatirkan Sehun. Jika dia tidak suka maka dia yang harus keluar dari rumah ini.” ibunya melolot kepada sehun sedang yang dipelototi mendengus kesal.

“ jadi seperti ini? apa aku terlihat seperti pria simpananmu Noona? Kau selalu memintaku menemanimu tapi setelah suamimu yang baru saja baik padamu ini datang, kau membuangku?” sehun langsung masuk kamarnya.

“ Sehun-ahh, bukan begitu..” Sena menyusul Sehun memasuki kamar adiknya itu. Ia lihat Sehun mengambil jaket dan membawa rangsel favorit pemberiannya.

“ kau mau kemana? Eoh?” Sena menghadang sehun yang hendak keluar kamarnya.

“ wae? Khawatirkan saja suamimu.”

“ ahhh, jadi kau sedang cemburu, eoh? Katakan saja uri Sehun-ahh” Sena mengelus dagu Sehun namun ditepis Sehun dan melanjutkan langkahnya.

“ yak pria bodoh!! Kau mau kemana? Apa kau akan kabur dari rumah? Kau bahkan tak punya tempat tujuan lain, bodoh.” Sehun semakin melangkah menjauhi rumahnya.

              Sena tersenyum setelah mendapat pesan singkat dari Chanmi bahwa adiknya berada dirumah Jinyoung. Chanyeol mengamatinya dengan wajah datar. Sadar akan tatapan suaminya, Sena pun diam salah tingkah. Akhir-akhir ini Chanyeol sudah jarang bahkan nyaris tidak pernah menatap tajam dirinya lagi. Hanya sesekali jika Sena susah diatur seperti tetap mengerjakan sesuatu yang berpotensi keguguran.

“ kau, tidak lapar?” Sena mencoba mencairkan suasana. Ia memang susah sekali mencari topik untuk berbicara dengan Chanyeol. Karena suaminya itu amat sangat pendiam jika bersamanya. Berbeda ketika dengan gayeon,bahkan didepan queeni pun ia bisa bersenda gurau. Tidak dengan Sena.

“ kau?” jawabnya

“ aku? Iya, aku sedikit lapar.”

“ kajja, kita makan.”

“ eumm..” Chanyeol melihat Sena ingin mengatakan sesuatu.

“ wae?” tanyanya

“ bolehkah aku memakan sedikit jajjangmyeon?” Sena berkedip-kedip mencoba mengeluarkan puppy eyes namun selalu saja gagal apalagi Chanyeol tetap menatapnya datar.

“ baiklah.” Jawab Chanyeol lalu mengambil Jaket tebal Sena digantungan dan melemparkannya pada Sena. Chanyeol, kau masih perlu belajar bersikap romantis. Namun Sena terlihat gembira sekali seraya menggunakan jaketnya.

              Mereka berjalan berdampingan. Menyusuri trotoar tempat mereka mencari makanan keinginan Sena. Chanyeol memarkir mobilnya didepan restoran yang menyediakan jajjangmyeon namun Sena menolak dan menginginkan jajjangmyeon langganannya dengan Sehun. Dan itu membutuhkan waktu untuk berjalan kaki. Belum sempat Chanyeol menyuruh Sena untuk naik mobil saja, istrinya itu sudah berjalan melaluinya dengan cepat menghampiri penjual kue ikan. Chanyeol mendekati istrinya, melihat istrinya seperti akan meneteskan air liurnya.

“ kau mau?” tanya Chanyeol. Sena masih menatap pedagang yang sedang memasukkan kacang merah pada kue itu. Lalu menatap Chanyeol.

“ bolehkah?” tanyanya penuh harap.

“ tuan, berikan gadis ini kue ikanmu.” Raut wajah Sena berubah seketika.

“ ahjussi, apa kau mengingatku? Aku yang dulu sering membeli kuemu bersama adikku. Masukkan lebih banyak kacang merahnya ya. Apa jika aku membeli banyak kau akan memberikan diskon? Aku sudah berlangganan denganmu. Apa kau tak ingat aku?” penjual itu menatap Sena lalu berdecak.

“ ah tentu saja aku mengingatmu bahkan hanya dengan suaramu. Kau yang selalu saja meminta diskon hanya dengan membeli 3buah kue kan?” wajah Sena langsung berubah memerah menahan malu karena Chanyeol terkejut mendengar itu.

“ ahjussi, mungkin kau salah orang.” Jawab Sena tersipu.

“ aku ingat sekali. Kau yang selalu kemari dengan adik lelakimu yang selalu meminta kue tester atau kue yang rusak lalu pergi tanpa membeli kan. Oh, dimana adikmu dia bukan adikmu kan?” tanya ahjussi itu menatap Chanyeol.

“ ahjussi bisakah kau berhenti berbicara yang tidak-tidak? Bukan, ini bukan adikku. Apa kau tak lihat wajahnya lebih tua dariku?” Sena langsung terkejut dengan apa yang ia katakan lalu menatap Chanyeol yang melototinya.

“ mian..” Sena langsung menunduk.

              Mereka melanjutkan perjalanan menuju toko yang menjual jajjangmyeon langganan Sena. Sena masih mengunyah kue ikan yang dibelinya tadi. Ahjussi itu benar-benar memberikan diskon. Betapa tidak. Chanyeol membeli diluar perkiaraan Sena, ia memesan 10buah kue ikan. Biasanya Sena hanya membeli 3buah. Untuknya, ibunya, dan adiknya yang sekarang entah pergi kemana. Mengingat Sehun, ia berhenti mengunyah dan menyimpan kue ikan itu dalam tasnya.

“ wae?” tanya Chanyeol

“ anni. Aku harus menyisakan ruang pada perutku untuk makan jajjangmyeon.” Jawabnya. Mereka berjalan berdampingan sampai pada saat tangan mereka bergesek satu sama lain. Chanyeol menatap Sena sedang Sena salah tingkah dan sedikit menjauh darinya. kemudian Chanyeol menarik tangan Sena dan menggenggamnya. Sena terkejut. Namun menit berikutnya ada seulas senyum diwajahnya.

              Chanyeol menatap heran Sena yang makan jajjangmyeon dengan lahapnya. Ia seperti tidak makan selama seminggu. Chanyeol hingga melupakan makanannya sendiri. Sadar akan seseorang yang menatapnya tanpa berkedip, Sena memperlambat makannya seraya berdeham.

“ kau, tidak makan?” tanya Sena. Chanyeol hanya menggeleng.

“ kau mau?” Chanyeol menyodorkan jajjangmyeon miliknya dan dengan sigap Sena mengambilnya.

“ bolehkah?” Sena meminta ijin. Chanyeol hanya mengangguk dan kembali menatap istrinya makan. Apa dia sedang kerasukan makhluk gaib atau sebagainya? Apa lambungnya kuat menahan makanan sebanyak itu? Atau janin itu memang rakus? Chanyeol berpikir dalam diamnya. Sedang yang ditatapnya tetap asyik makan dengan lahap.

              Mereka akhirnya keluar dari kedai itu. Wajah Sena benar-benar terlihat gembira. Ia bahkan tak henti-hentinya mengelus perutnya. Berharap semua ini bukan mimpi. Bahwa ia diajak jalan-jalan oleh suaminya, bergandengan tangan, makan bersama dan pulang bersama. Sedang Chanyeol masih diam seribu bahasa memikirkan tentang kondisi Sena yang semakin aneh saja. Mereka berjalan mencari restoran tempat mobil Chanyeol diparkir tadi. Namun belum jauh mereka melangkah Sena berhenti sambil mengelus tumit kakinya. Chanyeol yang sadar berjalan sendirianpun menoleh kearah belakang menatap Sena dari kejauhan.

“ wae?” Chanyeol mendekati Sena.

“ anni, gwenchana.” Namun keadaan Sena mengatakan sebaliknya. Dilihatnya tumit kaki Sena yang memerah.

“ kau memakai sepatu baru?” tanya Chanyeol.

“ ne. Ini pemberian Yoora eonni sepulangku dari rumah sakit kemarin.” Jawab Sena berusaha bangkit.

“ naiklah kepunggungku.” Sena terkejut. Eomma, putrimu akan digendong oleh suaminya. Bukankah ini pertama kalinya pula? Bukankah ini hal romantis? Eomma! Eomma!. Sena bersorak dalam batinnya.

“ bolehkah?” tanya Sena yang masih ragu. Chanyeol mengangguk. Sena pun menaiki punggung Chanyeol.

              Belum sampai ditempat parkir Chanyeol merasakan tubuh Sena semakin lemas. Awalnya Chanyeol mengira istrinya itu pingsan lagi, namun dugaanya salah ketika terdengar dengkuran halus dari mulut Sena. Chanyeol pun menempatkan Sena pada bangku sebelah kemudi, memasangkan sabuk pengaman dan menurunkan jok mobil itu supaya lebih nyaman untuk dipakai tidur. Ia pun mengemudikan mobilnya menuju rumah Sena.

              Sementara itu dilain tempat empat orang SMA sedang makan dikedai kecil. Sehun, Chanmi, Jinyoung dan pacar Jinyoung. Mereka makan bersama. Berbeda dengan yang lain, Chanmi justru meminum soju dengan alasan sudah biasa minum soju dan dia adalah peminum terbaik. Meski dilarang oleh ketiga temannya namun tak ada yang bisa menghalangi gadis keras kepala itu.

“ bagaimana bisa kau mempunyai sepupu gila sepertinya?” sehun berdecak tak percaya dengan tingkah Chanmi yang masih menuangkan soju kedalam gelas kecil meski kesadarannya mulai hilang.

“ dia ini memang gadis aneh. Kau tak akan menemukan yang mirip dengannya.” Jawab Jinyoung menahan ketawanya meski gagal.

“ ada. Kakakku bahkan mirip dengannya. Cerobohnya, anehnya, galaknya, dan tingkahnya.” Jawab sehun masih dengan memperhatikan kelakuan Chanmi yang mengumpat tidak jelas.

“ meski dia seperti itu, dia sangat menyukaimu Sehun-ahh.” Sehun menatap jinyoung.

“ arra.” Sehun kembali menatap Chanmi.

“ hanya itu jawabanmu? Kau tidak menyukainya juga?” Sehun mendesah panjang.

“ apa kau belum tau juga seleraku? Apa kau kira gadis yang ku suka berdada rata, bertubuh kecil, galak, aneh, bodoh, dan pemabuk sepertinya?” Sehun berkata seraya memutar kepala Chanmi menghadap jinyoung. Sementara Chanmi langsung menonjok Sehun.

“ lihat, bahkan dalam keadaan tidak sadarpun dia seperti ini.” Sehun pasrah

“ tapi hubungan kalian cukup dekat.” Kali ini pacar jinyoung ikut berkomentar.

“ berhenti menutupi fakta Sehun-ahh.” Jinyoung menambahkan. Lalu mengajak pacarnya pulang karena sudah malam.

“ kau antar dia pulang. Aku akan mengantar pacarku pulang.” Jinyoung beranjak dari duduknya.

“ mwo? Kau saudaranya. Mengapa harus aku?”

“ dan dia pacarku, apa kau yang akan mengantar pacarku pulang? Tidak lucu bukan?” jawab jinyoung. Tiba-tiba Chanmi bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kedai itu tanpa mengucapkan kata. Sehun langsung bangkit dan mengejar Chanmi.

“ kau mau kemana? “ sehun menahan tangan Chanmi.

“ pergilah, aku bisa pulang sendiri jika kau tak bisa mengantarku. Kau benar-benar pria brengsek.” Chanmi terus mengumpat pada Sehun. Jinyoung dan pacarnya hanya menatap heran dengan kelakuan Chanmi.

“ jinyoung-ahh..” Sehun menoleh kearah Jinyoung.

“ aku akan menjelaskan pada orang tuanya nanti. Kau tak perlu khawatir.” Jinyoungpun akhirnya ikut membopong Chanmi menjauh dari kedai itu. Namun Chanmi menolak.

“ Sehun-ahh, kau benar-benar tak ingin mengantarku?” Sehun mendesah tak suka.

“ baiklah aku akan mengantarmu tapi bersikap baiklah dan jangan menyusahkan.” Belum selesai ia berbicara Chanmi mengeluh kakinya sakit. Ia lalu menatap wajah Sehun dan menegakkan tubuhnya. Detik berikutnya ia menaiki tubuh sehun dari depan seperti anak kecil yang digendong oleh ayah atau ibunya. Tentu saja sehun, Jinyoung dan pacarnya terkejut.

“ yak! Ige mowoya!! Kau ingin mati huh?” teriak Sehun. Orang disekitar sehun pun menatap aneh kearah 4orang remaja ini. terutama pada Sehun dan Chanmi. Wajah sehun pun memerah karena Chanmi yang harusnya naik dipunggung Sehun malah melingkarkan kakinya diperut sehun sedang tangannya meingkar dileher.

“ Cepat antar aku pulang…” Chanmi terus saja menggumam tak jelas.

“ yak! Aku tak akan mengantarmu jika seperti ini. aissh jinjja kau memalukan sekali nona Shin.” Chanmi mengangkat kepalanya dan menangkup kepala Sehun. Menatap Sehun seperti menginginkan sesuatu. Sehun mulai gugup dan wajahnya makin memerah seperi rebusan kepiting. Detik kemudian Chanmi menempelkan bibirnya pada Sehun tepat dihadapan jinyoung dan pacarnya pula. Sontak Sehun membelalakkan matanya terkejut. Akhirnya Chanmi menundukkan kepalanya lagi dan gendongan pada tubuh Sehun perlahan semakin akan terjatuh karena Sehun tak begitu kuat menahan tubuh Chanmi. Akhirnya Sehun menurunkan Chanmi dan masih dengan wajah terkejutnya memegang bibir yang baru saja disentuh oleh bibir Chanmi. Sedang Jinyoung membantu Chanmi yang berdiri karena diturunkan oleh Sehun.

“ apa yang dia lakukan? Ya tuhan dia menyentuhku?” pletak! Jinyoung menjitak kepala Sehun.

“ itu tidak penting. Sekarang yang paling penting kau antar dia pulang sebelum dia melakukan hal yang lebih buruk lagi.” Teriak jinyoung. Sehun masih menatap ngeri pada Chanmi.

“ bagaimana jika nanti dia melakukan yang lebih parah dari tadi?” Sehun menutup dadanya dengan kedua tangannya. Ya tuhan Sehun seperti anak gadis yang akan diperkosa oleh pria saja.

“ kau mulai mesum?” tanya jinyoung.

“ sepupumu yang mesum!! Dia merebut ciuman pertamaku!” Sehun berteriak. Lalu menutup mulutnya karna merasa mengatakan hal yang harusnya tak ia katakan.

“ woah daebak!! Jadi ciuman pertamamu adalah Chanmi, eoh?” Sehun langsung mengangkat Chanmi kepunggungnya dan meninggalkan Jinyoung yang menertawakannya.

              Sehun duduk dihadapan orang tua Chanmi. Setelah Chanmi dibawa oleh ayahnya memasuki kamar, Sehun tidak diijinkan pulang oleh ayah Chanmi. Dalam hatinya menggerutu mengumpat Jinyoung yang mungkin saja lupa mengatakan hal yang sebenarnya pada ayah Chanmi. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan ayah Chanmi. Berbeda dengan ibunya yang sudah akrab dengan Sehun. Terlebih lagi Chanmi sering menceritakan tentang Sehun. Ayah Chanmi mulai berdeham tanda memulai percakapan.

“ kau. Siapa kau? Apa hubunganmu dengan putriku? Dan mengapa kalian bisa mabuk bersama? Apa yang kau lakukan pada putriku?” Sehun mengeluarkan keringat dipelipisnya bibirnya sedikit bergetar. Ini pertama kalinya membawa gadis pulang malam dan mengantarnya hingga kerumah dalam keadaan mabuk.

“ yeobo, bisakah kau bertanya perlahan? Lihat, dia mulai gugup. Dia ini anak baik. Chanmi sering menceritakannya.” Kali ini Sehun sedikit tertolong karena dia tak sendirian menghadapi ayahn Chanmi.

“ jawab.” Ayah Chanmi menggeram membuat bulu kuduk Sehun bergidik.

“ joseoamnidda. Jeongmal joseoamnidda, saya teman Chanmi. Tadi kami hanya makan bersama dengan jinyoung, namun Jinyoung harus mengantar temannya pulang,” jawab Sehun gugup tak berani menatap manik mata ayah Chanmi.

“ yeobo, dia teman Jinyoung juga. Sudahlah, harusnya kita berterima kasih padanya karena Chanmi diantar olehnya dengan selamat.” Ibu Chanmi kembali membela Sehun.

“ siapa yang tau Chanmi baik-baik saja atau tidak setelah ini. kau, jika sesuatu terjadi pada Chanmi setelah ini, kau harus bertanggung jawab.”

“ nde?” sehun memberanikan diri menatap wajah Ayah Chanmi karena merasa ada yang aneh dengan kalimat yang baru saja ia dengar.

“ jangan sampai kau kabur jika Chanmi nanti terluka apalagi hamil karenamu.” Sehun membelalakkan matanya kaget.

“ mwo?” tuan, perlu anda tau. Putri andalah yang mencuri ciuman pertama saya. Sehun hanya berani berkata dalam hatinya.

“ sudahlah yeobo, biarkan dia pulang. Dia pria baik. Aku benar-benar mengenalnya.” Sehun kembali menunduk. Lalu berpamitan pulang. Ia mengumpat dalam hatinya jika Jinyoung muncul maka akan habis ditangannya.

              Sena terlihat senang melihat Sehun kembali kerumahnya meski niat adiknya itu hanya kan membawa barang-barang yang tertinggal. Sebelum Sehun keluar dari kamarnya, Sena masuk kekamar adiknya itu dan menghadangnya.

“ minggir.” Ucao Sehun datar.

“ kau masih marah padaku? Baiklah aku minta maaf. Tapi apa kau tau tidurku kurang nyenyak beberapa hari ini? mungkin janin ini sedang ingin ditemani olehmu.” Sena bergelayut manja pada lengan Sehun. Sedangkan Sehun hanya diam saja.

“ bukankah kau tidur nyenyak dengan suamimu? Jangan berbohong nyonya Park!” Sehun memberi penekanan pada kalimat terakhir.

“ tidak. Aku tidak berbohong. Jika kau tidak mau menemaniku tidur aku tak akan minum susu dari dokter yang tidak enak rasanya itu.” Sena mengancam titik lemah Sehun. Semenjak dinyatakan hamil dan kehamilannya rentan keguguran, Sena wajib meminum susu dari dokter. Dan Sehun adalah orang yang selalu cerewet akan masalah itu karena Sena selalu membuang susu yang dibuatkan Sehun untuknya.

“ kau..” Sehun terlihat frustasi dan mengalah. Sedang Sena tersenyum jahil merasa menang. Chanyeol melihat tingkah kakak-beradik itu dari dalam kamar Sena dengan ekspresi datar.

              Sena tertidur di paha Sehun didepan tv yang sedang menayangkan drama favorit Sena. Sehun memberanikan diri menatap wajah kakaknya setelah mendengar dengkuran halus dari mulut kakaknya itu. Ia membenarkan letak kepala kakaknya dan mengelus rambutnya.

“ kau. Kau yang ada dikamar. Kemarilah dan bawa istrimu masukkekamarnya. Kau tak ingin membuatnya kedinginan tidur disini kan?” sehun sadar Chanyeol memperhatikannya sedari tadi dari dalam kamar Sena. Sedikit kaget Chanyeol pun bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar Sena.

“ kenapa? Kau tak mau menggendongnya kedalam?” tanya Sehun karena Chanyeol masih diambang pintu kamar Sena. Tanpa membalas ucapan Sehun ia mendekati Sena dan menggendongnya ala bridal style memasuki kamar Sena. Namun sayang, Chanyeol melupakan pintu kamar sena yang sempit dan tidak mengubah posisinya ketika memasuki kamar itu. Alhasil kaki dan kepala Sena terbentur pintu karena tidak dapat masuk bersamaan kedalam kamar.

“ akhh!” Sena terbangun dari tidurnya. Chanyeol dan sehun terkejut bersamaan. Chanyeol menurunkan Sena dan memperhatikan wajah Sena.

“ sakit? Mian.” Jawabnya singkat sambil menatap Sena namun tak berani menyentuh Sena.

“ gwenchana.” Jawab Sena memasuki kamarnya seraya mengelus kepalanya yang terbentur. Detik berikutnya ia berlari keluar kamar dan menghambur kearah Sehun yang masih duduk di didepan tv.

“ aishh jinjja. Kembalilah kekamarmu nenek sihir!” seru sehun. Sena duduk disebelah Sehun dan melingkarkan tangannya pada lengan Sehun. Sedangkan Chanyeol masih dengan tatapan datarnya memperhatikan Sena.

“ kau, tidak akan kabur lagi kan?” tanya Sena.

“ tidurlah. Aku tak akan kemana.” Jawab Sehun ketus.

“ janji?” Sena mengajukan jari kelingkingnya pada Sehun dan disambut oleh jari kelingking Sehun.

“ baiklah nenek sihir. Kubiarkan kau menjadi princess yang selalu kuturuti kemauanmu selama hamil. Ingat, setelah hamil, habis kau ditanganku.” Diakhiri Sehun menjitak kepala Sena.

“ yak! Kau..” Sehunmendorong dahi Sena menjauhinya.

“ cepat pergi tidur atau aku berubah pikiran.” Ucap Sehun lalu berbalik menatap layar televisinya. Sena tersenyum dan bangkit dari duduknya dan menghampiri Chanyeol.

“ kajja.” Dia menggandeng tangan Chanyeol. Sedang Chanyeol hanya kaget karena pertama kalinya Sena berani menggandeng tangannya.

“ Chanmi-yya..” seru Sehun. Sedang yang dipanggil bukannya menjawab malah semakin mempercepat langkahnya menjauhi Sehun. Sehun pun akhirnya berlari mendekati Chanmi.

“ yak! Apa telingamu hanya accesories? Kau sengaja menghindariku akhir-akhir ini. wae? Kau sudah bosan menjadi permen karet yang menempel padaku?” tanya Sehun.

“ bukankah itu bagus? Kau sendiri yang tak suka aku ikuti kan?” jawab Chanmi lalu kembali melangkahkan kakinya menjauhi Sehun.

“ wuahh daebak. Kau tidak sedang kerasukan sesuatu yang gaib kan?” sehun mengimbangi langkah Chanmi karena kaki Sehun yang lebar.

“ berhenti mengangguku.”

“ mwo? Hahahahahah sejak kapan aku yang mulai mengganggumu nona Shin? Kau yang memulainya. Apa kau tidak ingat kau menciumku dan membuatku mati membeku didepan ayahmu?” seru sehun. Chanmi menghentikan langkahnya dan menatap Sehun. Ia sebenarnya ingat semua kejadian ketika ia mabuk terlebih lagi jinyoung menceritakannya dengan detil. Namun ia merasa kecewa karena Sehun tak juga membahasnya dan malah menganggap ciuman yang pertama juga untuk chanmi itu adalah lelucon bagi Sehun.

“ lalu?” tanya Chanmi serius.

“ anni. Lupakan.” Jawab Sehun lalu kembali melangkah. Sedang Chanmi masih mematung dibelakangnya.

“ apa kau menganggap ciuman itu tidak berarti sama sekali?” Sehun memberhentikan langkahnya tanpa membalikkan badannya.

“ itu ciuman pertamaku. Dan kau hanya seperti ini? apa tak itu tidak berarti apa-apa?” Sehun membalikkan badannya menatap Chanmi.

“ lalu aku harus apa? Bukan kah kau juga melakukannya dalam keadaan mabuk? Apa artinya kelakuan orang mabuk?”

“ jadi jika aku melakukannya secara sadar kau akan bereaksi lain?”

“ hentikan. Kita akan terlambat masuk kelas.” Sehun membalikkan badannya lagi lalu melangkah pergi. Sedang Chanmi masih mematung. Air matanya menggenang. Ia malah melangkah melawan arah dari Sehun dan berlari. Sehun sadar dan melihat Chanmi yang berlari melawan arah menuju sekolah.

              Sehun masih memikirkan keadaan Chanmi. Bangkunya benar-benar kosong. Jinyoung yang duduk sebangku dengannya pun tak mengetahui keberadaan sepupunya itu. Handphonenya juga tidak aktif. Sebenarnya da perasaan bersalah namun perasaan gengsinya untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Chanmi terlalu besar. Jinyoung pun mencoba menghubungi rumah Chanmi dan ibunya malah mengatakan bahwa chanmi tadi sudah berangkat sekolah. Hal ini semakin membuat dua pria remaja ini khawatir.Terutama Sehun.

“ apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau mencampakkannya?” tanya jinyoung.

“ mencamppakkan? Aku hanya bingung harus mengatakan apa. Aishh jinjja. Kenapa gadis yang sedang pubertas itu merepotkan.” Sehun mengacak rambutnya.

“ mwo? Kau bilang merepotkan? Kau tau, kau cinta pertama Chanmi. Dan itu adalah ciuman pertamanya. Tentu saja dia kecewa karna kau malah bersikap seolah tak terjadi apa-apa.” Jawab Jinyoung. Lalu menjitak kepala Sehun.

“ yak! Lalu aku harus berbuat apa?” tanya Sehun

“ apa kau benar-benar tak memiliki rasa padanya?” jinyoung mencoba bertanya serius.

“ entahlah.” Sehun mendesah berat.

“ jangan berbohong pada perasaanmu sendiri Oh Sehun.” Jinyoung meninggalkan Sehun yang mematung dibangkunya.

              Jinyoung berlari menuju cafe tempat Sehun bekerja. Ia mencoba menghubungi Sehun sebisa mungkin meski ia tahu bahwa Sehun tak akan sempat memegang handphonenya ketika bekerja. Ia mengatur napasnya ketika sudah memasuki cafe itu dan menatap Sehun yang sedang berada didepan meja kasir dengan wajah cemas.

“ yak oh Sehun. Chanmi..” Sehun menatap Jinyoung yang baru saja datang dengan wajah heran.

“ wae?” tanyanya

“ Chanmi belum kembali kerumahnya.” Sehun langsung terkejut dan menatap jam yang berada dicafe itu. Benar saja ini aneh. 20 menit lagi cafe ini akan tutup dan Chanmi belum juga pulang kerumahnya. Tanpa menjawab jinyoung ia segera membuka celemeknya dan berpamitan pada pemilik cafe dengan tergesa-gesa dan berlari keluar cafe meninggalkan Jinyoung yang masih didalam Cafe. Ia mencoba menghubungi nomor chanmi meski tidak juga tersambung. Jinyoung menyusulnya dari belakang.

“ orang tuanya benar-benar khawatir dengannya. Sebenarnya ada apa dengan kalian? Eoh?” Jinyoung kembali mencoba menghubungi Chanmi meski yakin bahwa itu sia-sia.

“ dimana anak itu sebenarnya?” Sehun mengacak rambutnya kasar membuat rambutnya berantakan namun tak mengurangi kadar ketampanannya.

“ dia pasti pergi kesuatu tempat yang sering dikunjunginya.” Jawab Jinyoung.

“ tempat yang sepi.” Tambah sehun

“ tempat yang bisa membuatnya menangis puas.” Jinyoung kembali menambahi lalu mereka berdua saling menatap. Detik kemudian mereka berlari seakan tahu dimana Chanmi berada.

              Sehun terengah mengatur napasnya. Ia lebih dulu tiba ditempat ini. Sungai Han. Ia yakin Chanmi berada disini karena chanmi masih belum terlalu mengerti kota ini dan ini adalah tempat favoritnya setelah Jinyoung dan Sehun mengajaknya kesini. Sehunpun kembali berlari mengitari sekitar tempat ini. ia berhenti ketika melihat sosok yang ia cari sedang meringkuk kedinginan. Lalu bangkit dari duduknya dan berjalan. Sehun berlari mendekatinya.

“ yak!! Apa kau mulai gila?” Chanmi menatap Sehun datar. Matanya benar-benar bengkak dan sembab. Masih ada sisa air mata diwajahnya.

“ minggir.” Jawabnya singkat lalu kembali berjalan. Sehun menahan tangan Chanmi lalu ditepis Chanmi.

“ apa kau tidak tau betapa khawatirnya orang-orang disekitarmu?” Sehun membentak Chanmi

“ lalu kau? Apa kau juga khawatir?” Chanmi balik bertanya.

“ apa kau melakukan ini hanya untuk membuatku khawatir? Apa kau tidak memikirkan ibu dan ayahmu? Mereka akan menyalahkanku jika kau tidak pulang dengan selamat. Kau tau itu?” Sehun berteriak didepan wajah Chanmi.

“ jawab aku. Apa kau khawatir denganku?” Chanmi ikut berteriak.

“ jika aku tidak khawatir denganmu, aku tidak akan mencarimu nona Shin. Berhenti bersikap seperti anak kecil. Kau akan lulus SMA tapi kelakuanmu benar-benar kekanakan.”

“ benar. Kau benar sekali. Kau, tak akan pernah melihatku. Tidak akan pernah.” Chanmi kembali meneteskan air matanya lalu berbalik arah berjalan menjauhi Sehun.

“ kau akan kemana lagi Shin Chanmi?” Sehun kembali menahan Chanmi.

“ tak bisakah kau meninggalkanku? Jika kau tidak menyukai, biarkan aku belajar melupakanmu.” Chanmi melanjutkan langkahnya. Sehun hanya terpaku dengan ucapan Chanmi. Sehun berbalik arah dan mengikuti langklah Chanmi dari belakang. Ia masih berfikir apa yang harus ia perbuat pada gadis ini.

“ aku bilang pergi. Aku akan pulang jadi kau tak perlu khawatir.” Teriak Chanmi karena merasa Sehun masih mengikutinya. Sehun menghentikan langkahnya sejenak namun kembali melangkah ketika Chanmi ikut melangkah.

“ aku bilang berhenti! Apa kau tuli?” Chanmi membalikkan badannya dan berteriak pada Sehun. Sehun segera mendekatinya, menatap Chanmi. Semakin Sehun mendekatinya. Hingga jarak mereka semakin sempit. Sehun mencium puncak kepala Chanmi. Sedangkan Chanmi hanya terkejut dengan perlakuan Sehun yang tiba-tiba ini.

“ mianhae. Aku terlalu pengecut. Tetaplah disisiku. Tetaplah menyukaiku sebanyak yang kau mau. Karna aku akan melakukan hal yang sama.” Sehun lalu memeluk Chanmi. Chanmi hanya terpaku mendengar ucapan Sehun. Jinyoung yang dari jauh memperhatikan dua sahabatnya ini hanya tersenyum lalu membalikkan badannya, membiarkan dua remaja itu menyelesaikan masalah perasaan mereka.

              Sehun ragu melangkahkan kakinya memasuki pagar rumah Chanmi. Ia tak yakin kali ini selamat dari kemarahan ayah Chanmi. Ia menatap Chanmi dan Chanmi meyakinkannya. Kemudian ia masuk. Benar saja, ayah, ibu dan adik lelaki Chanmi sedang berdiri didepan pintu rumahnya. Melihat Chanmi datang bersama Sehun, ayah Chanmi melotot membuat Sehun berbalik arah melangkah keluar dari pagar namun ditahan oleh Chanmi.

“ apa kau benar-benar akan menjadi seorang pengecut?” akhirnya Sehun pasrah dan mengikuti Chanmi hingga tiba didepan keluarganya. Mengucapkan salam dan mendengar ibu dan adik Chanmi bersyukur karena Chanmi pulang dengan selamat. Berbeda dengan ayah Chanmi yang hanya memperhatikan Sehun. Membuat Sehun salah tingkah dan ingin berlari keluar dari rumah itu.

“ kau. Kau lagi yang  membuat putriku seperti ini eoh?” buk! Buk! Ternyata ayah dibalik punggung ayah Chanmi sedang memegang sapu rumah dan memukulkannya pada Sehun. Sontak Sehun, Chanmi, ibu dan adik Chanmi kaget dan melerai mereka.

“ appa geumanhae!!” seru Chanmi.

“ apa? Kau akan membela pria tengik ini eoh?” ayah chanmi tetap memukuli Sehun meski dihalangi oleh Chanmi dan ibunya.

“ yeobo, dia yang selalu bertanggung jawab atas Chanmi. Kau harusnya berterima kasih padanya karenanya Chanmi pulang dengan selamat.” ibu Chanmi berteriak pada ayah Chanmi karena kesal suaminya tak mau mendengarkannya. Akhirnya ayah Chanmi berhenti memukul sehun dan mengatur napasnya.

“ apa kau pacar Chanmi? Kenapa kau terus menempel pada putriku eoh?” Sehun menatap wajah ayah Chanmi. Lalu menatap Chanmi karena bingung harus menjawab apa.

“ bukan, dia bukan pacarku, appa.” Jawab Chanmi melirik Sehun.

“ mwo? Lalu apa hubungan kalian? Apa kau mencampakkan putriku? Eoh?” ayah Chanmi kembali memukul Sehun dan kegaduhanpun kembali terjadi.

“ akhh !! appo!! Yak Chanmi, apa yang kau katakan?” Sehun ingin membela diri.

“ memang benar yang aku katakan bukan? Kau tidak pernah mengajakku berkencan.” Jawab Chanmi enteng dan membiarkan Sehun dipukuli ayah Chanmi. Sementara ibu Chanmi berusaha menghentikan suaminya itu.

“ geurae!! Shin Chanmi. Berkencanlah denganku.” Semuanya terdiam dan terpaku dengan ucapan Sehun yang lantang.

“ yak! Apa seperti itu cara seorang pria mengajak berkencan? Apa kau menunggu kupukuli terlebih dahulu?” ayah Chanmi kembali memukul Sehun lalu menjambak rambut Sehun. Sementara Chanmi tersenyum jahil dan menghadangi ayahnya memukul Sehun.

“ appa geamnhae.” Seru Chanmi.

“ yeobo!! Apa kau tak ingat kau bahkan lebih tidak romantis ketika melamarku dulu.” Ibu Chanmi berteriak didepan wajah Suaminya lalu mendengus kesal. Ayah Chanmi terdiam dan salah tingkah. Akhirnya ia memasuki rumahnya. Sehun bernapas lega.

“ aku rasa aku akan mati. “ Sehun berkata dengan wajah suram dan penampilan yang acak-acakkan karena ulah ayah Chanmi. Chanmi hanya tersenyum lalu mengajak Sehun memasuki rumahnya.

“ anni. Aku ingin pulang dan memeluk ibuku. Bahkan ibuku tidak pernah memukuliku hingga seperti itu.” Wajahnya seperti anak kecil yang habis dimarahi oleh ibunya.

“ aigoo, kau akan mengadu pada ibumu dan menangis dipelukannya? Wuaah Oh Sehun yang tampan ternyata seperti ini. ahhahah” Chanmi tertawa keras. Sehun menatap Chanmi dengan wajah menakutkan dan Chanmi langsung menutup mulutnya.

“ kau puas sekarang? Kau bahkan lebih parah dari tingkah kakakku Shin Chanmi. Akhh perutku. Akkhh punggungku, eomma…” ia merintih karena pukulan sapu tadi benar-benar mebuatnya sakit.

“ gwenchana? Apa ada yang terluka? Eoh?” raut wajah Chanmi terlihat khawatir. Sehun melangkah keluar dari pagar rumah Chanmi lalu dihentikan oleh Chanmi.

“ yak! Gwenchana? Katakan jika sakit, aku akan mengobatimu.”

“ ini. aku rasa ini yang perlu kau obati.” Sehun menunjukkan bibirnya.

“ bibir itu kan tidak terluka.” Chanmi bingung.

“ bisakah kau mengobatinya sekarang dengan bibirmu?” Sehun mengeluarkan jurus puppy eyesnya. Detik berikutnya Chanmi berjinjit mengimbangi tinggi Sehun dan menempelkan bibirnya pada bibir sehun. Sehun kaget karena tak menyangka Chanmi akan benar-benar melakukannya.

“ wuahh, wanita agresif. “ Sehun menatap Chanmi yang masih tersenyum malu. Lalu Chanmi berlari memasuki rumahnya.

              Sena manatap Chanyeol yang sedang berkemas didalam kamarnya. Ia masih belum berani bertanya. Namun firasatnya berkata Chanyeol akan pulang kerumahnya. Karena tidak mungkin suaminya itu akan tinggal selamanya dirumah kecilnya. Sadar sedang diperhatikan oleh istrinya Chanyeol menatap Sena dan menghentikan pekerjaanya.

“ aku. Aku akan kembali kerumah karna pekerjaanku banyak disana.” Jawabnya seraya menebak reaksi Sena.

“ eoh.” Sena hanya menatapnya dengan ekspresi yang susah sekali ditebak. Chanyeol mendekati Sena.

“ kau, mau ikut pulang denganku?” Sena menatap Chanyeol. Masih terdiam dan berpikir.

“ baiklah aku tak akan memaksamu.” Chanyeol  meneruskan aktivitasnya membereskan baju-bajunya. Sena masih mematung memperhatikan suaminya. Setelah selesai Chanyeol akan berpamitan pada ibu Sena.

“ benar. Kau pasti tidak nyaman dirumah ini kan? Baiklah aku tidak akan menahanmu. Tapi, kau akan membawa sena ?” tanya ibu Sena kemudian menatap Sena yang mematung diambang pintu kamarnya.

“ aku tidak ingin memaksanya eommanim. Jika dia sudah siap aku akan segera menjemputnya. Dan juga, setiap hari aku akan mampir kemari.” Jawab Chanyeol lalu menatap Sena dan melangkah keluar rumah.

“ yak! Kau mau sampai kapan tinggal dirumah ini? suamimu sudah berbaik hati menemani dan menjemputmu bukan?” Sena tetap diam tak bergeming mendengar omelan ibunya. Sepeninggal ibunya ke dapur Sena kembali teringat bayangan ketika Chanyeol memaksanya menggugurkan kandungannya, bayangan berikutnya ketika Chanyeol setia menemaninya di rumah sakit dan bersedia menginap dirumahnya. Kemudian ia berlari mengejar Chanyeol dengan tergesa-gesa.

              Chanyeol sudah sampai di tempat dimana ia biasa memarkir mobilnya ketika dirumah Sena. Sebelum ia membuka pintu mobilnya ia merasa seseorang menabraknya dari belakang dan memeluknya erat. Sena. Setelah bimbang dengan pikirannya, akhirnya ia mengejar Chanyeol dan langsung memeluk suaminya itu dari belakang. Chanyeol melepas tangan Sena yang melingkar diperutnya. Membalikkan badan dan menatap istrinya. Ia tahu istrinya masih ragu dengan sikapnya selama ini. ia mengangkat dagu Sena mencoba membaca raut wajah Sena yang baru saja meneteskan air matanya. Jauh dilubuk hatinya, ingin sekali pulang bersama Chanyeol. Namun ia masih mengingat kejadian dimana Chanyeol sering menyiksanya dikamar itu.

“ kau, mau ikut denganku?” tanya Chanyeol. Sena menggeleng namun air matanya masih jatuh membasahi pipinya.

“ aku janji akan sering berkunjung kerumahmu. Janji.” Detik kemudian Chanyeol mencium dahi  Sena. Sementara Sena antara percaya dan tidak dengan kejadian ini. kemudian Chanyeol memeluk Sena.

“ ahh ya selama tak ada aku, aku harus memastikan kau tetap meminum susu dari dokter itu, mengerti? Ah apa aku perlu memberi tahu Sehun agar pulang kerumah dan menjagamu selama tak ada aku?”

“ apa menurutmu Sehun akan menuruti orang yang sedang dibencinya?” Sena bertanya balik lalu Chanyeol tersenyum dan mengiyakan kata-kata Sena. Sena juga ikut tersenyum.

“ aku akan menjemputmu kapanpun jika kau ingin pulang kerumah.” Ucap Chanyeol.

“ bukankah rumahku disini?” tanya Sena air matanya mulai dihapusnya.

“ jadi kau tidak mau menganggap rumahku adalah rumahmu?”  Chanyeol balik bertanya.

“ aku tidak bilang begitu!” seru Sena lalu Chanyeol tersenyum dan mengacak rambut Sena.

“ masuklah, diluar dingin.” Sena menggangguk lalu membalikkan badan dan melangkah meninggalkan Chanyeol.

“ emmm, apa setelah sampai dirumahmu, kau akan langsung mengerjakan tugas-tugasmu?” sena kembali membalikkan badannya.

“ wae?” Chanyeol kembali memasang wajah datarnya.

“ ahh anni.” Sena mengurung niatnya setelah melihat raut wajah Chanyeol.

“ katakan jika kau menginginkan sesuatu Oh Sena.” Chanyeol menambahkan.

“ emmm, kabari aku setelah kau sampai. Jika kau tak sibuk.” Ia lalu berbalik arah dan berlari menjauhi Chanyeol. Sedang Chanyeol kembali tersenyum melihat tingkah istrinya.

              Setelah 3hari kepergian Chanyeol, Sehun benar-benar kembali kerumahnya karena merasa tak enak terus saja bermalam dirumah Jinyoung. Meski jinyoung membuka lebar pintu rumahnya untuk Sehun, namun bukan itu saja alasannya. Ia mendapat pesan dari kakak iparnya bahwa kakak iparnya telah pulang dan meminta Sehun menjaga kakaknya. Sena menatap senang ketika adiknya datang dengan membawa kembali barang-barang yang ia bawa sebelumnya.

“ wuahh, si pemberontak ini sudah kembali rupanya. Aku tau kau pasti merindukanku.” Seru Sena sambil membantu Sehun meletakkan baju-baju dari dalam tasnya. Mendengar itu Sehun kembali memasukkan bajunya kedalam tas.

“ yak! Wae? Aku hanya bercanda.” Sena berteriak didepan wajah Sehun. Sebenarnya Sehun sudah tidak tahan ingin tertawa namun ia masih menampakkan wajah datarnya didepan Sena.

“ aku kembali karna tidak nyaman terus-terusan menumpang dirumah orang. Apa kau merasakan hal yang sama ketika dirumah Chanyeol?” raut wajah Sena langsung berubah.

“ wae? Kau merindukan suamimu.” Sehun menerka.

“ anni!!” jawab Sena lantang lalu keluar dari kamar Sehun.

“ hahah liat, wajahmu memerah noona. Kau tidak pandai dalam hal berbohong.” Sehun mengikuti kakaknya keluar dari kamarnya. Mereka menuju dapur.

“ diam atau tak akan kusajikan satupun makanan untukmu.” Jawab Sena sambil mengangkat sendok hendak dipukulkan pada dahi Sehun.

“ apa ketika bersama Chanyeol kau akan anarkis seperti ini?” Sena tidak menjawab pertanyaan adiknya. Justru sendok yang dia pegang melayang didahi Sehun dengan keras hingga Sehun merintih kesakitan. Beruntunglah handphone Sena berbunyi ketika hendak kembali memukul dahi Sehun. Raut wajah Sena berubah ketika membaca pesan dari handphonenya. Terdiam menatap layar handphonenya, lalu menatap Sehun.

“ wae? Ada hal buruk yang sedang terjadi?” Sehun bertanya.

“ Chanyeol. Dia sakit.” Jawab Sena masih dengan wajah khawatir namun berusaha ia tutupi didepan adiknya.

“ lalu? Kau akan pergi kesana?” tanya Sehun. Bukannya menjawab Sena malah berlari kedalam kamarnya mengambil tas kecilnya dan berlari keluar rumah. Sehun mengejarnya dan menangkap tangannya.

“ Sehun-ahh jebal…” wajah sena memelas didepan Sehun. Sedang Sehun mengerutkan dahinya.

“ dia. Dia masih suamiku. Anak dari bayi yang sedang aku kandung sedang sakit, apa aku akan diam saja?” air mata dipelupuknya mulai menggenang.

“ diam disini aku akan mengantarmu.” Jawab Sehun lalu masuk kerumahnya mengambil kunci skuternya dan mengeluarkan skuter pemberian Tuan Park dari halaman rumahnya.

              Sena melepas helm dan memberikannya pada Sehun. Ia tak memaksa Sehun untuk masuk karena diperjalanan tadi Sehun mengatakan tak ingin bertemu dengan kakak iparnya. Terlebih lagi ia juga ada janji dengan Chanmi. Segera Sena masuk kerumah besar Tuan Park setelah Sehun pergi. Rumah ini memang tidak begitu banyak berubah. Bahkan para pelayan yang bekerja pun masih tetap. Tentu saja karena Sena meninggalkan rumah ini tidak terlalu lama. Ia memasuki ruang tamu dan melihat ayah dan ibu mertuanya sedang berada diruang keluarga tempat diaman keluarga ini sering berbincang dan berkumpul, kecuali Chanyeol yang tak ikut serta jika ada Sena.

“ Oh Sena, aigoo aku benar-benar merindukanmu.” Seru Tuan Park yang sedikit terlihat pucat. Ia masih duduk dikursi rodanya. Sedang ibu mertuanya sedang mengupas beberapa buah untuk suaminya dan tersenyum hangat menyambut Sena.

“ akhirnya kau datang.” Sambut Nyonya Park. Sena membungkukkan badannya dan menghampiri mereka.

“ Chanyeol beberapa hari ini sedang tidak sehat. Ia bahkan pulang kerja lebih awal dan tidak ikut serta makan malam. Apa dia datang menjengukmu?” tanya Nyonya Park.

“ beberapa hari terakhir dia memang tidak datang kerumah eommanim.” Jawab Sena.

“ pulanglah kemari agar kalian tinggal bersama. Wanita hamil harus selalu disamping suaminya.” Tambah tuan Park. Sena tidak menjawab namun langsung berpamitan untuk masuk kekamar Chanyeol.

              Ia mengetuk pelan pintu kamar Chanyeol. Jantungnya masih berdegup kencang karena terakhir ia berada dalam kamar ini saat bertengkar hebat dengan Chanyeol. Begitu banyak kenangan buruk dalam rumah ini. penyiksaan dan caci makian yang selalu Chanyeol lakukan padanya menjadikan Sena sedikit trauma saat ini. Namun tekadnya untuk bertemu Chanyeol begitu kuat. Akhirnya ia memberanikan diri membuka pelan pintu kamar Chanyeol. Dilihatnya Chanyeol sedang tertidur didepan meja kerjanya. Menyandarkan kepalanya pada kursi. Wajahnya sedikit pucat. Sena mendekatinya. Semakin dekat hingga berada tidak lebih dari 1meter lalu menatap lekat wajah suaminya. Chanyeol terlihat begitu pulas dalam tidurnya hingga tidak menyadari sena berada didekatnya dan sedang menatapnya. Sena memegang dahi Chanyeol. Panas. dahi Chanyeol terasa panas ditangan Sena. Akhirnya Chanyeol menyadari keberadaan Sena setelah mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia segera membenarkan posisi duduknya dan menatap Sena dengan heran.

“ wae?” tanyanya

“ anni. “ jawab Sena bingung harus mengatakan apa.

“ kau datang dengan siapa? Sendiri?” Sena menggeleng.

“ bersama Sehun. Tapi dia langsung pergi setelah mengantarku.” Jawab Sena lalu tersenyum.

“ kau, sudah makan?” tanya Sena.

“ wae? Kau lapar?” Chanyeol bertanya balik. Sena mengangguk.

“ baiklah kita makan bersama. Kau ingin makan apa? Makan diluar?” sena menggeleng.

“ aku sudah lama tidak makan masakan han ahjumma.” Jawabnya.

“ baiklah kita makan.” Chanyeol bangkit dari duduknya melangkah menuju pintu kamarnya tanpa menunggu reaksi Sena.

              Mereka akhirnya makan berdua karena anggota keluarga yang lain sudah makan. Sena menyajikan makanannya. Sedang Chanyeol memperhatikan Sena dan juga perut Sena. Setelah selesai Sena duduk disebelah Chanyeol, memberika sumpit dan sendok kepada Chanyeol. Tanpa disuruh chanyeol memakan yang dihidangkan Sena. Sena terlihat senyum sambil menunduk mengaduk supnya.selesai makan Chanyeol melarang Sena untuk mencuci pring. Sena menurut dan mengeluarkan satu kaplet obat dari saku jaketnya dan memberikannya pada Chanyeol. Ia juga segera mengambil segelas air putih.

“ tenang. Ini hanya obat penurun demam saja.” Sadar akan tatapan chanyeol Sena segera menjelaskan. Lalu Chanyeol meminumnya.

              Chanyeol tidur di kamarnya sedang Sena mengompres dahinya dengan handuk dan air. Setelah yakin Chanyeol terlelap Sena bangkit dari duduknya namun sesuatu menahannya.

“ kau, akan pulang?” Chanyeol membuka matanya. Sena mengangguk.

“ tak bisakah kau menemaniku semalam saja? Hanya menemani.” Tanya Chanyeol. Sena menatap Chanyeol iba. Ia lalu tanpa sengaja mengalihkan perhatiannya pada kamar mandi dan lemari besar Chanyeol. Tempat ia dulu tidur dan belajar.

“ aku sudah membuangnya. Kau tidur disini. Bukan disana.” Chanyeol sadar dengan tatapan Sena.

Akhirnya Sena luluh dan mau menemani suaminya itu tidur disebelahnya. Memeluknya.

              Tidur Sena benar-benar nyenyak. Seperti saat ia tidur bersama dengan Chanyeol sebelumnya. Tidak menginggau apalagi mual-mual ditengah malam. Ia bahkan bangun siang dan baru menyadari matahari sudah tinggi menerpa wajahnya lewat jendela kamar Chanyeol. Dilihatnya suaminya sudah tidak ada ditempat tidur ia pun segera bangkit dan melihat Chanyeol sedang memakai kemejanya didepan kaca. Sena mendekati Chanyeol.

“ kau akan berangkat kerja?” tanya Sena.

“ eoh.” Jawab Chanyeol. Sena lalu memedang dahi Chanyeol.

“ kau masih demam. Kau yakin?” Chanyeol mengangguk dengan wajah datarnya.

“ baiklah aku mandi lalu menyajikan makananmu.” Sena berbalik menuju kamar mandi.

“ tidak perlu. Aku terlambat dan tidak akan sarapan. Kau jangan lupa sarapan dan minum susumu. Ah ya, kau tidak membawa susu dari dokter itu? Semalam tidak meminumnya?” sena bukannya menjawab malah tersenyum. Ia begitu gembira karena suaminya begitu memperhatikannya meski dalam keadaan sakit.

“ nanti sehun akan mengantarkannya.” Jawab Sena masih dengan tersenyum. Chanyeol kembali melanjutkan aktivitasnya kali ini akan memasang dasi.

“ mmm….”

“ wae?” tanya Chanyeol.

“ bolehkah aku memasangkan dasi untukmu?” tanya Sena ragu ia kemudian menunduk menanti jawaban Chanyeol.

“ eoh.” Jawab Chanyeol membuat Sena terperangah tak percaya. ia kemudian tersenyum dan mendekati Chanyeol.

“ sudahlah aku saja yang memasangnya. Aku bisa terlambat jika seperti ini.” Chanyeol mulai kesal karena hampir 30 menit Sena belum selesai menyimpulkan dasi dileher Chanyeol. Sementara Chanyeol sudah terlambat. Sena mulai cemberut.

“ tunggu sebentar saja. Aku hampir menyelesaikannya.” Jawab Sena

“ ta-da!!” setelah menunggu lama akhirnya Sena menyelesaikannya. Namun Chanyeol hanya mendesah karena simpulan dasinya benar-benar buruk dan tidak rapi.

“ mianhae, aku baru pertama kali memasangkan dasi dileher orang. Biasanya aku memasang dasi sekolahku pada leherku sendiri.” Sena tertunduk karena takut dimarahi Chanyeol.

“ gwenchana, aku sudah terlambat. Aku berangkat.” Chanyeol mengambil tasnya lalu melngkah keluar kamarnya. Bukan ini yang diinginkan Sena. Setelah menyimpulkan dasi sena berharap Chanyeol mencium dahinya seperti yang Chanyeol lakukan ketika akan pulang dari rumahnya.

              Sena tergesa-gesa memasuki kantor Chanyeol dan menaiki lift menuju ruang rapat. Sekitar satu jam yang lalu Chanyeol mengiriminya pesan karena lupa membawa flashdisk yang masih tertancap di laptop meja kerja dikamarnya. Tak ingin mengulang kesalahn terdahulu, Sena masuk ruamg rapat tanpa mengetuk karena takut terlambat memberikannya barang pesanan Chanyeol. Namun naas, rapat sudah dimulai dan sekarang semua mata tertuju pada Sena yang berdiri menghentikan rapat yang dipimpim Chanyeol. Wajahnya berpeluh, tangannya gemetar dan jantungya berdegup begitu kencang. Pikirannya hanya satu. Chanyeol pasti akan memakinya habis-habisan. Ia membungkukkan badannya seraya berkali-kali meminta maaf karena masuk tanpa permisi. Chanyeol mendekatinya dengan wajah datar.

“ perkenalkan, dia istriku.” Chanyeol menggenggam tangan Sena seraya tersenyum pada rekan-rekan kerjanya. Sedang Sena hanya terkejut bukan main sambil menatap wajah Chanyeol. Ia berharap agar ini bukan mimpi.

To be continued…

2 thoughts on “Amato (Part 4)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s