Beautiful but Cold #1

Beautiful but Cold

Judul: Beautiful But Cold #1

Scriptwriter: LNFZVA

Genre: Angst, Sad, Romance, Friendship

Duration: Chapter, 3.700+ words

Main Cast: Kim Jongin, Jung Soojung

Support Cast: Just read the story and you’ll find so many support cast lmao.

Credit: FF ini terinspirasi dari lagu BTS – I Need U yang baitnya “I Need U girl (You’re beautiful) I Need U girl (You’re so cold)” dan langsung kepikiran alur FF kaya gini hahaha~

P.S: Sorry for typo(s), alur yang terlalu cepat atau alur bertele – tele dan bahasa yang kurang dimengerti.

Summary:

“Apa aku salah jika aku melindungi wanitaku?”

Sebenarnya siapa pria itu? Kenapa dia terlihat sangat takut dengan kehadiran pria itu?

 

◊ Story by LNFZVA

Poster by Kryzelnut ◊

You are beautiful but you are so cold.

Gadis berambut dark brown itu melangkahkan kaki jenjangnya dari lorong satu ke lorong lainnya. Secarik kertas bertuliskan judul buku dengan bahasa Belanda di genggamnya.

“Ada yang bisa saya bantu, nona?” Soojung – gadis itu – sedikit tersentak oleh suara salah satu pegawai perpustakaan di kampusnya ini.

Soojung menunjukan kertas yang sedari tadi ia genggam. Dalam beberapa detik kemudian, sang pegawai tersenyum.

“Mari ikut saya.”

Jung Soojung, gadis kelahiran Amerika yang mendekati persentasi sempurna. Cantik, mata coklatnya yang dingin, tubuhnya langsing dan kakinya yang jenjang, kulitnya putih terawat, rambut coklat gelapnya yang banyak disukai orang, prestasinya yang menonjol sejak ia menginjak sekolah dasar dan, anak seorang pengusaha kaya dan ternama di Asia maupun Eropa. Mungkin orang – orang yang mendengar tentang garis besar Soojung akan berharap nasib mereka seberuntung Soojung, atau mungkin orang – orang itu ingin menukar posisinya dengan Soojung. Tapi percayalah, mereka akan langsung menarik kata – katanya ketika mendengar kisah hidup Jung Soojung yang sebenarnya.

You are beautiful but you are so cold.

Matahari telah terbenam, dan kini bulan giliran memancarkan sinarnya. Namun salju tak hentinya turun. Orang – orang mengurangi aktifitas mereka di luar rumah.

Jung Soojung meregangkan otot – otot tubuhnya. Bosan. Sedari tadi ia hanya menatap lurus televisi, namun pikirannya mengembara kemana – mana.

Soojung mendonggakan kepalanya saat seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dengan malas ia membuka pintu kamarnya lalu tersenyum lebar saat mengetahui siapa yang ada dibalik pintu kamarnya.

“Mari makan malam, Krys.”

Daddy!” Soojung memekik dan memeluk pria paruh baya yang tadi ia sebut – Daddy – itu. Siapa lagi kalau bukan Chris Jung, atau nama Koreanya, Jung Tae Woo Ayah dari Jung Soojung.

“Aku rasa anak manisku ini merindukanku, hm?” Ujar Ayahnya.

“Sangat. Aku sangat merindukanmu, Daddy!” Pekikan ceria Soojung sangat berbeda dengan kata – kata dingin dan sarkasitik yang sehari – hari ia lontarkan kepada orang lain. Sekarang ia adalah Krystal Jung, gadis ceria, ramah, dan cerewet. Bukan Jung Soojung yang cuek, sarkasitik, dan tidak tertarik dengan pertemanan.

“Ayah juga merindukanmu. Sekarang, mari kita makan atau kau akan bertambah kurus.”  Terdengar suara kekehan Ayahnya itu.

“Aku tidak kurus, Ayah!” Soojung memekik.

“Lalu kalau tidak kurus kenapa tulang belikatmu sangat jelas terlihat? Tulang pergelangan tanganmu juga. Dan kaki kecil itu, Ayah ragu jika suatu saat kaki itu tidak akan patah.” Tutur Ayahnya lalu tertawa renyah. Berhasil membuat anaknya kesal.

“Ayah!”

Malam ini Soojung habiskan dengan berbincang – bincang dengan sang Ayah. Walau percakapan mereka lebih didominasi dengan debat yang membuat Soojung kesal dan berteriak.

You are beautiful but you are so cold.

Soojung memicingkan matanya saat cahaya matahari mulai menerobos indra penglihatannya. Hari ini jam kuliahnya mulai pukul enam pagi. Sungguh gila. Ia lebih baik menghabiskan waktunya dengan tidur seharian penuh. Toh, jika dia tidak berhasil dalam bidang yang ia geluti sekarang, ia bisa menjadi pemegang saham perusahaan Ayahnya, kan? Soojung memaksakan tubuhnya berdiri dan menuju kamar mandi. Mencoba bersemangat menjalani hari sial ini.

Gadis itu menghela napas ketika melihat bangku sebelahnya kosong. Choi Jinri, teman sebangkunya – sekaligus sahabatnya – tidak hadir untuk kesekian kalinya. Dia menghilang tanpa kabar.

Gadis bermata cantik itu meregangkan sekujur tubuhnya. Beberapa jam berlalu dari empat mata kuliahnya hari ini. Soojung melirik jam tangan yang bertengger manis dipergelangan tangan kirinya yang mungil.

1.49 PM

Oh, pantas saja perutnya sudah memberontak minta makanan. Dengan semangat, ia segera beranjak ke kantin.

Memesan steak, minuman soda dan air mineral sudah cukup baginya. Soojung pun mengantri untuk membayar makanan yang ia pesan, namun tiba – tiba ada segerombolan pria yang menyerobot barisannya.

Soojung menatap kesal segerombolan pria di hadapannya ini lalu mendengus kesa. Tanpa mengatakan sepatah apa pun, ia memilih mengalah dan pindah ke barisan belakang dibandingkan terus berdebat dengan segerombolan pria kurang ajar itu. Bukankah hanya buang – buang tenaga saja?

Soojung terkesiap ketika ia merasakan ponsel disaku celananya bergetar. Menampilkan nama Choi Jinri di layar LCD itu.

“Halo.”

Krystal, bisakah kau datang ke apartemenku setelah kau pulang kuliah?

“Iya aku bisa, ada apa? Kau baik – baik saja, kan?”

Aku akan menceritakan semuanya saat kau disini.

“Baiklah aku akan segera kesana sehabis ini. Aku sedang dikantin, ingin menitip sesuatu?”

Gotcha! Kue red velvet dua slice dan satu moccachino medium, please?

Jung Soojung memutar bola matanya malas. Sudah dia juga, pesanan Jinri tidak akan jauh dari kue dan minuman favoritnya itu.

Okay. Tunggu aku, don’t do stupid things, Jinri.”

Ofcourse I–“

Bip.

 

Soojung memutuskan sambungan teleponnya dengan Jinri tanpa permisi lalu membalikan badan. Menyapu tatapannya ke seluruh area kantin, mencari dimana sang penjual kue red velvet dan mocchachino itu.

Setelah mendapatkan kue red velvet dan mocchachino medium size sesuai apa yang Jinri katakan, Soojung langsung melesat ke apartemen Jinri yang berada tepat di pusat kota Seoul. Memasuki lift, menekan tombol yang membawanya ke lantai 13. Kamar 1309.

 

Jemari – jemari lentik Soojung menekan password apartemen Jinri yang sudah ia hapal diluar kepala dengan lincah.

Krystal Jung! I miss you so fucking much!” Soojung sedikit tersentak ketika Jinri tiba – tiba muncul dari balik pintu dan berhambur ke pelukannya.

“Salah sendiri kenapa hilang tanpa kabar hampir dua minggu ini! Ponselmu juga tidak bisa dihubungi.” Soojung mengerucutkan bibirnya kesal.

Soojung dan Jinri memang sudah bersahabat sejak kecil. Jinri benar – benar mengenal Soojung dari luar maupun dalam. Jinri pun mengerti bagaimana lemahnya Soojung saat kepergian Ibu dan Kakaknya. Dan hanya Jinri – selain keluarga Soojung – yang tau dibalik semua sifat es-nya.

“Masuklah dulu ke dalam,” Jinri menarik lengan mungil Soojung kedalam apartemennya.

“Ini pesananmu.” Soojung meletakkan bungkusan yang berisikan makanan pesanan Jinri.

“Terima kasih! Kau benar – benar yang terbaik, Krystal!” Pekik Jinri melihat makanan favoritnya.

“Jadi… Kemana saja kau?” Soojung mengambil posisi nyaman dan memeluk bantal berbentuk kepala stich milik Jinri.

“Berlibur ke pulau Jeju,” Perkataan Jinri menggantung membuat Soojung menautkan alisnya.

“Aku hanya malas kuliah.” Lanjut gadis dengan rambut hitam pekat itu. Hingga ia merasakan sebuah bantal dilemparkan dan tepat mengenai kepalanya.

“Aku kira kau mengalami sesuatu yang buruk, bodoh.” Soojung mengumpat kesal dan Jinri hanya menanggapinya dengan cekikikan sambil menyeruput moccachinonya.

Hingga mereka mulai larut dalam obrolan mereka, ponsel Jinri bergetar menandakan ada panggilan masuk. Mereka berdua sontak melirik ponsel Jinri yang tergeletak di nakas sebelah kasurnya. Tulisan ‘Unknown number’ terpampang jelas dilayar ponsel Jinri yang membuatnya menarik alisnya keatas.

Hello? Sulli Choi at your service.”

“…”

“Oh, iya. Krystal ada disini bersamaku. Maaf, tadi aku menyuruh Krystal ke apartemenku karena aku kesepian.” Jinri menatap langit – langit apartemennya. Berpikir. Memikirkan jawaban dari pertanyaan yang akan dilontarkan seseorang disebrang sana.

“Ah iya baiklah. Sekali lagi maafkan aku.”

“Ponselmu mati, Krystal Jung. Ayahmu sangat khawatir.” Jinri mengambil cemilan yang ada dikolong kasurnya.

“Memangnya jam berapa ini?” Soojung melirik jam digital yang terletak diatas lemari disudut kamar.

8.10 PM

Shit! I have to go, Jinri!” Soojung memekik dan langsung mencari tasnya.

Jinri hanya menahan tawa melihat Soojung yang panik

“Tenanglah, Kry–“

Don’t told me to keep calm, stupid!” Potong Soojung dengan cepat.

Your father told me you should sleep here this night!” Teriak Jinri

Soojung terkesiap dan mengedipkan matanya cepat. “Woah really?!” Soojung menarik kedua ujung bibirnya menjadi sebuah senyuman yang amat manis. Senang. Tentu saja. Jinri ikut tersenyum melihat Soojung yang berseri bahagia.

“Sering – seringlah tersenyum seperti itu walau diluar lingkungan keluargamu, Soojung… Kau cantik pasti banyak yang menyukaimu. Namun mereka mundur duluan karena sifat es mu itu.” Jinri melipat kedua tangannya didepan dada.

Whatever. Suatu saat pasti ada seseorang yang tidak akan mundur,”

“Ah, Bagaimana kalau kita pergi ke supermarket, membeli cemilan dan kita akan terjaga sampai larut malam sambil menonton film!” Ujar Soojung antusias.

“Ide bagus!” Jinri dan Soojung sama – sama melempar senyum bahagia. Kapan lagi mereka seperti ini? Mereka pasti akan sibuk kuliah tidak lama lagi.

Hanya berbekal mantel, topi rajut, dan secarik kertas sebagai catatan makanan yang harus mereka beli di supermarket. Mereka berdua melesat supermarket yang tidak jauh dari apartemen Jinri dan terjangkau walau tanpa kendaraan. Udara malam di musim dingin menusuk tulang siapapun yang berada tanpa penghangat ruangan malam ini. Namun sepertinya udara malam tidak mempengaruhi kedua gadis cantik ini. Soojung dan Jinri saling bernostalgia dengan teman – teman masa sekolah menengah pertama mereka. Teman – teman yang menurut mereka sangat freak dan sinting.

Tanpa sadar, mereka sudah menginjak lantai supermarket saat ini. Jinri dan Soojung berpencar untuk membeli makanan kesukaan masing – masing dan akan bertemu di kasir dua puluh menit dari sekarang. Soojung memasuki lorong cemilan dan mengambil coklat, wafer, minuman soda dan cemilan – cemilan lainnya.

Namun fantasinya tentang makanan – makanan enak seketika buyar saat seseorang memanggilnya,

“Nona,” Soojung tidak peduli dan tetap melihat – lihat rak makanan manis di kanan dan kirinya.

“Hei,” Lagi – lagi suara itu. Soojung menghela napas kasar tanpa merespon suara sialan itu.

“Kau menghalangi jalanku.” Tepat saat kalimat itu selesai terucap, Soojung tersadar bahwa sekarang ia berada di tengah jalan dengan trolley besarnya yang menghalangi orang jalan.

Soojung langsung mendorong kereta makanannya ke lorong lain. Mencari makanan yang belum ia dapatkan dari catatan itu.

Dua puluh menit telah berlalu, dan Jinri belum juga datang ke tempat yang sudah mereka jadikan meeting point, kasir.

Soojung menghentakkan kakinya kesal. Sial, sejak kapan Choi Jinri tidak tepat waktu. Namun setelah kata – kata itu terucap di batinnya, Jinri berjalan kearahnya dengan seorang pria bertubuh tegap namun tidak terlalu tinggi, keduanya sama – sama melemparkan senyum.

“Soojung, maaf terlambat. Aku bertemu temanku, dia berada di kampus yang sama dengan kita. Baekhyun, ini Jung Soojung. Sahabatku.”

“Kau yang menyerobot barisanku dikantin kemarin.” Soojung berkata dengan nada yang sarkasitik dan tajam. Menolak ajakan Baekhyun untuk berjabat tangan.

“Dan kau yang menghalangi jalanku tadi.” Balas Baekhyun dengan nada menyindir. Oh, jadi pria sialan ini yang merusak imajinasiku. Batin Soojung.

“Apa kalian sudah saling mengenal? Oh baguslah! Kita bisa berteman baik dengan teman – temanmu yang lain ‘kan, Baek?!” Pekik Jinri antusias. Membuat Soojung memutar bola matanya malas.

“Ayo pulang.” Soojung menarik tangan Jinri dengan sedikit kasar. Jinri memutar badannya dan melambaikan tangannya sekilas kepada Baekhyun.

Malam ini mereka habiskan dengan bersenang – senang, menonton film, makan, bermain alat musik dengan asal. Dan tanpa mereka sadari, mereka baru terlelap jam tiga pagi.

You are beautiful but you are so cold.

Cahaya yang disinarkan matahari pagi ini membuat Soojung mengerjapkan mata hingga tersadar sepenuhnya. Melirik kearah jendela transparan yang entah sejak kapan tidak bertirai. Salju masih tetap saja turun. Batin Soojung. Gadis itu  melirik ke arah Jinri yang masih terlelap disebelahnya.

11.07 AM

Soojung menghela napas lega. Pasalnya mata kuliah hari ini baru mulai jam satu siang yang berarti dia tidak usah terburu – buru karena telat.

Manik mata indahnya menyapu keseluruh kamar Jinri. Sampah berserakan dimana – mana. Ulah siapa lagi kalau bukan mereka berdua semalam? Soojung menghela napas lalu memungut satu persatu sampah yang berantakan itu lalu melakahkan kakinya ke kamar mandi dan berniat untuk meminjam baju Jinri hari ini.

Soojung dan Jinri tiba dikampusnya dengan pakaian yang simple. Soojung memakai rok hitam diatas lutut dengan kemeja putih dan rambut ikalnya yang dikucir kuda, tidak lupa lipstick red mate yang selalu ia pakai dan high heels berwarna hitam. Sedangkan Jinri menggunakan celana jeans, dan kemeja shiffon tipis berwarna hitam. Juga sneakers yang senada dengan bajunya. Tidak perlu khawatir kedinginan selama di dalam kampus mereka. Penghangat ruangan berada disetiap sudut bangunan megah ini. Dan penghangat ruangan itu akan berubah menjadi pendingin ruangan selain di musim dingin.

Jongin’s Side

Ahh mengambil kuliah jurusan arsitek tidak semudah yang ku kira. Tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak boleh menyerah saat ini. Tinggal satu tahun lagi, Kim Jongin. Lalu kau akan bebas dari semua tugas sialan ini untuk sementara dan menjadi arsitek tampan dan terkenal.

“Yak kenapa kau tersenyum sendiri dengan wajah tololmu itu, Jongin!” Ah sialan, menggangu imajinasiku saja. Aku melirik kearah sahabatku, Oh Sehun yang mengerutkan dahinya.

“Kau yang tolol, albino.”

Beginilah aku, sehari – hari. Dikelilingi oleh orang yang ku sayangi dan hidup berkecukupan. Ibu, Ayah, dan Kakakku bernama Kim Taeyeon. Walau kedua orang tuaku sudah bercerai, Ayah dan Ibu masih berhubungan baik. Ah– dan juga sahabat – sahabatku sejak kecil. Oh Sehun, Kim Suho, Park Chanyeol, dan Byun Baekhyun. Merekalah yang selalu membuatku tersenyum, tertawa dan tempat untuk melampiaskan keluh kesahku. Tetapi kurang lengkap rasanya jika aku menyukai seseorang… dan rasanya dia sama sekali tertarik padaku. Mengenalku saja tidak, mungkin?

“Jongin, kemarin aku bertemu Soojung di supermarket.” Celetukkan Baekhyun membuatku mengerutkan dahi.

“Apa?” Tanyaku untuk memastikan.

“Aku kemarin ke supermarket untuk menemani Ibuku belanja bulanan. Aku bertemu Jinri dan dia sedang bersama Soojung,” Jelas Baekhyun. Tanpa sadar aku menghela napas yang sedari di tahan. Pikiran gilaku mulai berterbangan ke arah, – Baekhyun mengajak Soojung bertemu di supermarket. – Gila.

“Apakah kau nekat melakukan hal seperti itu lagi, hitam?” Kim Suho, – pria paling kaya raya diantara kami berlima – menatapku dengan serius. Mengingat kejadian kemarin yang sedikit memalukan. Kami berlima nekat menyerobot barisan Jung Soojung, wanita yang kusukai yang dingin seperti es untuk mendapat perhatiannya. Ternyata salah besar, dia menghindar dari kami.

“Entahlah… Dia terlalu dingin dan sepertinya sama sekali tidak tertarik dengan per–“ Kalimatku terputus ketika melihat Soojung datang dengan sahabatnya –  tetap dengan ekspresi datar dan tatapan dinginnya –. Walaupun begitu, damn. She’s beautiful as always. Dia mengikat rambutnya, yang membuat leher putihnya terekspos dengan bebas. Mataku tidak berkedip selama aku menatapnya. Keempat sahabatku tersenyum ketika mengikuti arah tatapan mataku.

“Dia terlihat sangat cantik hari ini, Jong.” Puji Park Chanyeol – pria paling jangkung diantara kami – sambil meneguk kopinya.

“Kau harus mendapatkannya, pesek. Atau aku ambil dia.” Oh Sehun – pria paling muda diantara kami – memperlihatkan evil smilenya yang ia banggakan. Menjijikan sekali.

“Diam kau setan.” Ucapku dengan sinis.

Aku berdehem sambil mengumpulkan keberanian lalu mendekat ke meja yang ia duduki.

“Permisi, nona. Boleh aku bertanya dimana mahasiswi bernama Jung Soojung? Setauku ia mahasiswi jurusan desain interior.” Ucapku dengan hati – hati. Lagi – lagi dia menatapku dengan tatapan dinginnya.

“Aku sendiri, ada apa?” Jawabnya dengan monoton.

“Bisa ikut ke meja ku dan teman – temanku? Kami ingin membicarakan sesuatu.” Aku menunjukan meja yang diduduki orang – orang tolol itu yang tersenyum jahil kepadaku. Jung Soojung melirik meja yang kutunjuk.

“Aku tidak mau menjalankan sesuatu yang tidak penting.” Acuhnya sambil meneguk minumannya.

“Ini penting.” Aku menaikkan alisku dengan tatapan yang seolah – olah mengatakan ‘Please?

Back to Author’s side

 

Jung Soojung menghela napas kasar. Kenapa orang ini memaksa sekali sih. Soojung mulai – sangat – tidak nyaman dengan perlakuan pria ini.

“Mau membicarakan apa? Waktuku tidak banyak.” Jawab Soojung masih cuek sambil melirik jam tangannya.

“Aku tidak tau. Mereka yang menyuruhku kesini dan memanggilmu.” Jongin menelan saliva mengumpulkan keberaniannya menghadapi putri es yang ia incar ini.

“Aku tidak mau.” Soojung melirik ke arah Jinri dengan tatapan ‘Bagaimana ini?’ sedangkan sahabatnya itu hanya mengangkat bahunya, tidak tau.

“Nona, please?” Jongin mengangkat sebelah alisnya.

Soojung mendengus kesal lalu berjalan mendahului Jongin ke meja teman – temannya dan duduk dibangku kosong yang tak lain adalah bangku bekas Jongin. Jongin mulai menatap keempat sahabatnya khawatir. Ia tidak tau apa yang akan dibicarakan disini. Bodoh kau Kim Jongin.

“Oh, Soojung-ssi, kami hanya meminta maaf karena kejadian kemarin. Sepertinya  kau sangat kesal saat kami menerobos antrianmu.”

Gotcha! Senyum Jongin melebar saat Chanyeol dengan pintar mencari topik pembicaraan.

“Baiklah. Sudah berbicaranya? Aku mau pulang sebentar lagi.” Soojung menatap kelima pria yang berada dihadapannya ini.

“Kami semua bersahabat sejak kecil. Aku Kim Jongin mahasiswa jurusan arsitek, Oh Sehun mahasiswa jurusan bisnis, Park Chanyeol mahasiswa jurusan kedokteran, Byun Baekhyun mahasiswa jurusan hukum dan Kim Suho mahasiswa jurusan psikologi.” Jongin memperkenalkan diri dan sahabatnya kepada Soojung.

Soojung menatap lima sahabat ini secara bergantian.

“Jung Soojung, mahasiswi jurusan desain interior.” Ujar Soojung.

“Senang berkenalan denganmu, Soojung-ssi” Ucap Jongin sambil melemparkan senyum terbaiknya kepada Soojung.

“Lain kali pikirkan etika kalian jika mau melakukan sesuatu.” Soojung berlalu ke tempat semulanya tanpa menatap ‘lima serangkai’ itu.

Jongin kembali duduk dikursinya. Ia mengerang dan mengacak rambutnya frustasi

“Susah sekali.” Terlihat rahang tajamnya mengeras. Ia menahan emosinya.

“Caramu salah, Jong. Dekati dia pelan – pelan, dengan lembut. Jangan memaksa seperti tadi. Tentu dia tidak suka.” Baekhyun membantu memberi saran kepada sahabatnya yang satu itu.

“Ikuti dia, pesek!” Celetukan Sehun membuat Jongin sadar, Soojung sudah tidak ada dimejanya.

“Tidak, biarkan dia. Kau sudah memaksanya tadi. Jika kau mengikutinya, dia bisa ilfeel, Jong.”

“Kau akan terlihat seperti stalker.”

“Terserah, lah. Aku hanya tertarik padanya. Belum cinta.” Jongin menyesap kopi hangatnya.

“Kau bodoh!”

Dan saat perkataan itu selesai terucap, ia merasakan permukaan sendok mendarat di dahinya.

“Tunggu,”

“Kau masih belum cinta pada Soojung?”

“Gila kau Kim Jongin.”

“Belum cinta saja sudah nekat.”

“Bagaimana jika kau sudah cinta pada Soojung?”

“Dasar posesif.”

Overact.”

“Sial. Diam kalian semua.”

You are beautiful but you are so cold.

Daddy! Aku pergi dulu bersama Jinri.”

Soojung menggunakan baju yang sedikit girly hari ini. Sekarang ia menenteng handbag berwarna putih gading, memakai sneakers berwarna merah, sweater tebal berwarna merah menyala dan celana jeans yang senada dengan tasnya. Soojung memang pewaris perusahaan Ayahnya yang cukup ternama dikalangan pebisnis itu, tidak heran jika dia hidup berkecukupan dan selalu memakai barang berkelas. Namun Soojung belum cukup dewasa untuk menghandle credit card unlimitednya. Ia bisa membeli apapun yang ia mau dan ia suka. Jung Soojung gila.

“Mau kemana kau Krystal?”

Lotte World!” Jawab Soojung antusias.

“Sulli akan menjemputku sebentar lagi.” Lanjutnya.

“Kau tidak masuk kuliah hari ini?” Ayahnya menautkan kedua alisnya.

“Tidak ada jadwal sampai lusa.” Soojung melemparkan dirinya ke sofa empuk diruang keluarganya dan memejamkan matanya.

Ayahnya hanya tersenyum melihat tingkah anak bungsunya.

“Kau sudah dewasa, Krystal.”

Am I gonna lose you someday? Are you gonna found a new someone that could make you happy and protect you more than I do?

I really love you no matter what, Krys.” Ayahnya mengelus rambut panjang Soojung.

Soojung tersentak mendengar perkataan ayahnya.

What are you talking about, daddy.”

“Aku hanya menyadari anakku ini sangat cantik dan akan tumbuh menjadi orang yang berguna di masa depan. Aku menyadari banyak pria diluar sana yang tertarik padamu, Krys.

Dan… Salah satu dari mereka akan membuatmu senang dan melindungimu lebih dari yang aku lakukan.”

Satu cubitan pelan terasa dipinggang pria paruh baya itu.

“Aku hanya pergi ke Lotte World, dad! Kau berkata seperti itu memangnya aku akan pergi ke pulau terpencil dan diasingkan?!” Soojung memekik dan mengibaskan rambutnya kebelakang dengan kesal.

“Cih ternyata kau tetap saja si gadis pengacau.” Cibir ayahnya.

Soojung melirik luar melalui jendela besar rumahnya. Mobil hitam Jinri sudah terparkir disana.

 

“Berhenti berbicara ngawur, dad. Sulli sudah menjemputku. Aku pergi.” Soojung beranjak dari kursinya.

“Ah, aku tidak akan pulang malam dan aku tidak akan mematikan ponselku. I love you too, daddy.” Soojung mengecup pipi sang ayah melambaikan tangannya.

Selama perjalanan Soojung dan Jinri hanya diam. Sibuk dengan isi kepala masing – masing. Namun tidak dengan Soojung, ia merasa gusar dan mempunyai firasat buruk. Sesekali gadis itu menggigit bibir bawahnya. Matanya tidak lepas dari jalanan yang masih diselimuti salju. Cantik.

Soojung tersenyum melihat suasana Lotte World yang terlihat sangat menyenangkan hari ini.

“Sepertinya kita tidak salah memilih tempat ini menjadi tempat liburan!” Teriak Jinri antusias. Ah lihatlah sahabatnya itu. Tidak kalah fashionista darinya. Celana jeans berwarna putih, kemeja denim, handbag kesayangannya yang tentu saja harganya mencekik leher siapapun yang mengetahui harganya.

“Ayo kita memulai petualangan ini, Jinri!”

Soojung tertawa keras saat ia menceritakan masa kecilnya dengan Jinri. Tingkah jailnya yang memencet bel tetangganya lalu kabur. Yang mengerjai pelayan minimarket dengan membayar jajanannya dengan uang monopoli. Menjahili teman sekelasnya ditaman kanak – kanak sampai menangis dan anak itu tidak masuk beberapa hari dengan alasan ‘Aku takut pada Krystal.’ Dan masih banyak lagi.

 

 

Soojung merasakan tubuh mungilnya bertabrakan dengan tubuh orang lain.

“Oh, sorry.” Ucapnya sedikit panik. Takut sang empunya tubuh yang ia tabrak terluka atau kesakitan, mungkin?

“Jung Soojung? Senang bertemu kembali.” Pria itu tersenyum licik. Pria yang membuat hidup Soojung hancur.

“Kau tumbuh menjadi sangat cantik, Nona Jung.” Lanjut pria itu sambil menekankan setiap kata yang ia katakan.

Soojung merasakan lidahnya kelu. Sekujur tubuhnya membeku. Tanpa ia sadari genggaman tangannya mengeras pada tali tasnya. Emosinya membuncah, dan otaknya perlahan memutar kejadian 4 tahun lalu.

“Sepertinya wanita di depanku ini sedang memikirkan cara aku bebas dari penjara. Benar kan, Nona?” Lagi – lagi pria bernama Ok Taecyeon itu tersenyum licik. Membuat Soojung muak.

 

Satu tamparan keras meluncur di pipi Taecyeon. Membuatnya meringis kesakitan saat merasa ujung bibirnya mengeluarkan darah.

“Cih jadi Jung Soojung yang lemah telah menjadi pemberani sekarang.” Taecyeon melayangkan tangannya ke udara. Mengambil ancang – ancang untuk melawan wanita yang baru saja menampar pipinya.

Bugh

 

Taecyeon merasakan pukulan keras di pipinya saat ia akan melawan gadis itu.

“Dimana harga dirimu sebagai laki – laki untuk tidak melawan wanita, Tuan?”

Soojung menutup mulutnya dengan permukaan tangannya saat melihat siapa yang menggagalkan aksi Taecyeon yang akan melawannya. Jongin, Kim Jongin. Kenapa pria itu bisa berada disini?

Jongin meremas kerah baju Taecyeon dan menggertakan giginya sambil menatapnya geram. Kenapa ia sepanik ini saat melihat Taecyeon akan memukul Soojung? Bukankah dia hanya sebatas suka dan tertarik?

“Woah hebat, sepertinya Nona Jung sudah mempunyai pelindungnya selain Ayahnya yang brengsek dan Kakaknya yang sok pintar itu.” Taecyeon menyeringai sambil menatap Jongin dengan tatapan yang meremehkan.

Bugh

 

Satu pukulan mendarat kembali di pipi Taecyeon.

“Apa aku salah jika aku melindungi wanitaku?”

Semua orang yang berada dikerumunan itu terdiam. Wanitaku? Jung Soojung wanitanya Kim Jongin? Jinri dan sahabat – sahabat Kim Jongin mengedipkan matanya cepat. Mencoba mencerna kembali kata – kata Jongin yang baru ia ucapkan.

Beberapa detik kemudian tangan kekar Taecyeon melepas cengkraman Jongin dengan kasar.

“Kau,” Telunjuk Taecyeon mengarah pada wajah Soojung yang ketakutan.

“Urusan kita belum selesai.”

“Dan kau!” Bentak Taecyeon yang sekarang bergantian menunjuk Kim Jongin dengan geram.

“Jadilah pria jantan untuk menyelesaikan urusan kita.”

“Dengan senang hati jika itu menyangkut wanitaku, Tuan Tidak Sopan.”

Taecyeon mencibir lalu melangkah lebar meninggalkan kerumunan itu. Fokus Jongin kembali pada Soojung yang meringkuk ketakutan di pelukan Jinri. Ini pertama kalinya Jongin melihat Soojung seperti ini. Soojung yang lemah. Sungguh, rasanya ia ingin merengkuh tubuh mungil itu. Menyalurkan ketenangan dan kehangatan pada gadis yang ia incar itu.

“Mari pulang, Soojung.” Suara tenang Jinri memecah keheningan yang sedari tadi menyelimuti orang – orang itu. Soojung tetap terdiam. Jongin menatap keempat sahabatnya yang masih terlihat shock.

“Kalian pulang duluan saja, aku mengantar Soojung dulu.” Ucapan Jongin kembali membuat suasana hening.

“Tidak usah, Jongin.” Elak Jinri. Masih dengan Jung Soojung dipelukannya.

“Kalian tidak tau jika pria itu akan memberhentikan kalian di jalan, kan?” Perkataan Jongin nyaris tidak mengenai titik salah. Benar. Bagaimana jika Taecyeon ternyata menunggu depan rumah Soojung dan melakukan hal sialan lagi? Seperti menculik Jinri dan Soojung, mungkin.

Jinri mengangguk pelan. Soojung sedari tadi tidak memberikan respon apa – apa. Ia terlalu takut hingga badannya bergetar hebat.

Jongin member kode pada Jinri untuk berjalan duluan ke tempat parker mobil.

“Aku mengantar Soojung dulu, bung.” Jongin melambaikan tangannya kepada keempat sahabatnya. Dan keempat sahabatnya itu hanya bisa diam.

Mobil mewah Jongin selalu berjalan tepat di belakang mobil milik Jinri. Kaca transparan mobil Jinri membuat Jongin dengan leluasa melihat apa yang dilakukan Soojung. Gadis itu sedari tadi hanya menatap keluar jendela. Sebenarnya siapa pria itu? Kenapa Soojung terlihat sangat takut dengan kehadiran pria itu?

 

 

 

 

To Be Continued

 

a/n: Halo!! Ini pertama kalinya aku kirim FF ke sini haha:D Salam kenal readers!!

Di part ini moment KaiStal masih minim ya? *iyaaa!!*

Haha InsyaAllah, di part selanjutnya aku usaha buat memperbanyak moment KaiStal-nya. Dan mungkin, ini akan jadi FF super panjang yang sulit menemukan garis finish… aku harap readers gaakan bosen sama FF ini. Thanks!

Untuk para author-nim dan readers-nim tolong review ya, thanks!!

One thought on “Beautiful but Cold #1”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s