[Ficlet-Mix] Four Seasons

Four Seasons (20

Ficlet-mix by KIMNAMIE

Title: Four Seasons | Cast: Oh Sehun and Xi Luhan | Genre: Angst | Duration: Ficlet-mix | Rating: G |

Setelah kakaknya pergi, semua musim terasa begitu pahit…

.

.

.

Sesungguhnya, dia tidak ingin hal ini terjadi.

Setelah ini, kakaknya akan pergi…

Tubuh kurus yang dipenuhi dengan alat bantu kehidupan itu terbaring di sana. Disebuah ranjang dengan seprai berwarna putih. Tepat disamping ranjang, sebuah monitor dengan garis-garis zig-zag hijau, terpasang.

Detik waktu yang terus berjalan, bagaikan sebuah palu yang membuat hatinya bertalu-talu, ketakutan. Angin musim gugur, menemaninya yang terus-menerus ketakutan. Menghitung mundur dalam diam, dia tidak melakukanya karena bunyi nyaring itu sudah terdengar.

Tuttt… tutt… tutt…

Genggaman pada tangan kakaknya melemah, ketika garis-garis yang sebelumnya zig-zag itu, sepenuhnya berubah menjadi sebuah garis lurus. Tanda kematian, berdentang, memporak-porandakan hatinya.

Daun berwarna kuning dengan dominan merah itu, diterbangkan angin dibalik jendela ruangan tempatnya berada. Gesekan antara angin dan daun, terasa begitu berat. Mereka, memandang sosok itu iba. Sosok yang menundukan kepala, dengan bahu yang bergetar naik turun.

Maafkan kami, Sehun, karena membawa kakakmu pergi, bersama kami…

.

.

.

Ditengah hampanya hidup…

…dia memulai hidup baru, tanpa kakaknya…

Angin Desember yang berhembus, menemaninya yang terdiam disamping nisan putih itu. Dia sama sekali tidak bergerak. Terdiam seribu bahasa, hanya suara hembusan nafasnya yang terdengar lirih. Pandangannya meluruh, pada nisan dibawah.

Setelah kakaknya pergi, mengapa semuanya terasa tidak berarti?

Mati-matian, dia menahan gejolak amarah yang ada dihati. Ditinggalkan oleh seseorang yang kau sayangi, adalah sesuatu hal yang sangat menyakitkan, lebih dari apapun. Dan seminggu yang lalu, dia baru saja merasakannya.

Sebuah kilatan tercetak disudut mata tajamnya. Mendongak, dia lakukan untuk mencegah keluarnya cairan tanda kesakitan itu.

Sayangnya, dia gagal. Cairan itu mengalir, membasahi pipi tirusnya. Dan semakin turun dengan beruntun, bersama dengan detikan waktu yang terus berputar melingkar.

Sesuatu berwarna kuning, dia letakkan di atas nisan itu.

Bunga Camelia, sebuah tanda kerinduan.

Bersamaan dengannya yang membalikan badan, kristal-kristal berwarna putih itu mulai turun dari langit. Semakin deras, ketika dia terus melangkahkan kakinya, pergi. Kristal-kristal itu manatap bersalah pada punggung tegapnya. Salju, mulai turun.

Maafkan kami, Sehun, membuatmu kedinginan, sendirian…

.

.

.

Dia kesepian, untuk kesekian kalinya…

Sekarang, dia pikir semua tempat itu membosankan. Benar-benar membosankan, hingga dia sendiri tidak mempunyai keinginan, sekedar untuk melihat. Dia tidak ingin melihatnya, karena semua itu akan mengingatkannya pada sosok yang dia panggil ‘kakak’.

Bubble tea, minuman yang paling dia sukai, bahkan terasa begitu pahit di lidahnya. Begitu pahit, hingga mengalahkan rasa obat yang sering dikeluhkan kakaknya, dulu. Jika bubble tea yang manis saja terasa pahit, lalu bagaimana hidupnya sekarang?

Sama sekali tidak ada rasa.

Angin musim semi berhembus, menggoyang-goyangkan rambut hitamnya. Untuk satu alasan indahnya hidup, dia tidak bisa merasakannya lagi. Semuanya pahit, seperti kopi yang tidak pernah ia suka. Kopi, yang berwarna hitam dan tampak mengerikan.

Wewangian bunga, menguar disetiap penjuru kota Seoul. Warna-warni bunga, adalah sesuatu yang indah, ketika bunga-bunga mulai bersemi kembali. Bersemi, dan memulai hidup lagi. Mereka menatap kasihan, pada sosok yang berjalan disepanjang trotoar, dan melewati mereka.

Maafkan kami, yang tidak bisa membuatmu kembali tumbuh, dan bersemi bersama kami…

.

.

.

Waktu, terus mengikis kesabarannya…

Panasnya matahari, mengiringi setiap langkahnya yang gontai. Lalu-lalang pejalan kaki disampingnya, bagaikan tidak terlihat dimatanya yang menatap jalan dengan kosong. Beberapa, ada yang menabrak bahunya. Tapi dia tidak peduli.

Dia pikir, semakin waktu terus berjalan, semakin mudah dia melupakan‘nya’. Tapi kenyataannya tidak, sama sekali.

Harapan, hanya tinggal harapan. Untuk semua hari yang sudah ia lewati tanpa kakaknya lagi, dia semakin merasa sepi. Jika dia hidup bagaikan robot seperti ini, mengapa Tuhan tidak mengambilnya saja? Itu lebih baik, dia rasa.

Hidup sendirian, sangat-sangat jauh dari kata menyenangkan. Sendiri, dimana kau harus melakukan semuanya tanpa orang lain disampingmu. Orang tuanya pergi, bahkan ketika dia masih berada diumur lima tahun. Dan setelah orang tuanya, mengapa kakaknya juga harus pergi?

Ketika semua orang bersenang-senang di pantai, dia justru terdiam, dengan sebuah isyarat kesakitan. Ketika semua orang bermain bersama ombak, dia justru menangis sendirian, tanpa teman.

Matahari terus memancarkan cahayanya. Angin ikut berhembus seiring dengan panasnya terik matahari. Mereka menatap sosok rapuh itu dengan rasa kasihan, bersalah, dan apapun itu yang bisa mendeskripsikannya. Bahu yang terus naik turun dan isakan lirih itu, menjelaskan betapa sakitnya ia.

Maafkan kami, karena tidak bisa menghibur hatimu yang beku, karena rindu…

.

.

.

Untuk seseorang yang tak lagi bisa kutemui…

…aku merindukanmu…

.

.

.

.

.

.

Omo!!! O_O

Ff  Tetralogi 4Musimku jadi! Yes!!! ^^

Hehe, cast-nya tetep HunHan ya. Because all my fiction only about HunHan…!!! wkwkwk ^^

 Ah, sudahlah. Happy reading ajah pokoknya… ^^

One thought on “[Ficlet-Mix] Four Seasons”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s