Love Hater (Chapter 2)

cover love hater copy

Love Hater (Chapter 2)

 

phiwonby’s present

 

Terinspirasi dari kisah nyata

 

Starring

Main Cast KARA’s Hara

Other Cast BTS’s Taehyung, BEAST’s Hyunseung, BEAST’s Gikwang, KARA’s Youngji, Miss A’s Suzy, BESTie’s Dahye, BESTie’s Hyeyeon, f(x)’s Soojung, Lovelyz’s Yein

Genre Romance, Friendship, Family, Drama

Rating PG-15

Duration Serial (3.000+ words/Chapter)

 BAWAH RESMI copy

Aku benci terhadap dua fakta berikut:

Satu, lelaki sangat mudah jatuh cinta

Dua, aku tidak pernah jatuh cinta

“Hara, adikku sayang~” panggil Gikwang dengan nada suara yang berbeda pagi itu. Gikwang meluncur duduk di sebelah Hara yang sedang berbincang dengan Hyunseung di hadapannya.

 

“Mau apa, sih?” cibir Hara yang merasa Gikwang sedang ingin merayunya. Hyunseung memandangi Gikwang yang merapatkan tubuhnya pada Hara dan mendekatkan wajahnya pada Hara, “Oppa mau pergi lagi?” tebak Hara.

 

Gikwang mengangguk-angguk kemudian mengerjapkan matanya, “Maaf ya, aku meninggalkanmu sendirian lagi” bisiknya.

 

“Berapa hari, Gikwang-ah?” tanya Hyunseung yang secara tak langsung mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Gikwang mengacungkan dua jarinya sebagai jawaban. “Aku akan menjaga Hara” tuturnya ringan.

 

Gikwang menatap Hyunseung dan mengerjapkan matanya, “Bagaimana bisa kamu menjaga Hara? Dia orang yang sangat menyusahkan dan bawel—“

 

“Apakah Gikwang Oppa sendiri sedang membicarakan dirimu sendiri? Sejak kapan aku menyusahkanmu sedangkan kamu selalu menyuruhku membersihkan rumahmu yang selalu kotor—“ Hara tak melanjutkan cibirannya ketika mendengar Hyunseung tertawa geli.

 

“Tak usah khawatir, Gikwang. Aku bisa menaklukan Hara hanya dengan kedipan mata!” pungkas Hyunseung sembari mengedipkan sebelah matanya pada Hara.

 

“Oh, baiklah. Aku harap aku bisa memercayaimu, Hyunseung-ie!” sahut Gikwang, “Yang terpenting, kamu harus menjaganya saat malam hari karena dia sedang diteror seseorang” tambahnya.

 

Hyunseung tampak sedikit terkejut mendengarnya. “Iya, aku akan berjanji untuk menjaga dan melindungi Hara selama kamu pergi!” ia mengikrarkan janjinya—dan tahu apa yang akan ia lakukan bersama Hara nanti. Senyuman penuh kemenangan milik Hyunseung menjadi senyuman terakhir yang dilihat Gikwang sebelum ia pergi meninggalkan rumahnya demi kepentingan bekerja.

.

 

.

 

.

 

Sebuah hubungan yang tak terduga kini menghantui Hara begitu saja. Sepanjang malam ia mengurung diri di dalam kamar dan merasa bahwa Hara harus menghindari dirinya dari Hyunseung. Makan malam mereka adalah mi ramen buatan Hara dan itu sudah lebih dari cukup. “Besok mau jalan-jalan?” terdengar seperti sebuah tawaran yang takut untuk ditolak oleh Hara.

 

“Kemana?”

 

“Kalau kamu mau, aku bisa membuat tur spesial untuk besok” Hara mengangguk tatkala Hyunseung menawarkan hal tersebut. Hening kembali menyapa lantaran takut mi ramen mereka akan segera dingin.

 

Tak ada percakapan lain setelah itu selain deburan pintu kamar yang tertutup, Hara memilih untuk masuk ke kamar lebih dulu tanpa berfikir Hyunseung akan macam-macam dengan rumah Gikwang yang modelis tersebut.

 

Memejamkan mata adalah hal terbaik yang dilakukan Hara sembari duduk di tepi ranjang empuknya. Hyunseung, menjadi satu-satunya hal yang selalu memenuhi fikiran Hara dan nyaris membuat kepalanya meledak.

 

Baru dua hari yang lalu Hyunseung secara tak langsung telah meminta Hara menjadi kekasihnya—itu kesimpulan dari Youngji yang mendengar curhatan Hara setelah kejadian tersebut. Kala itu Hyunseung terlihat seperti orang gila yang berteriak-teriak di teras rumahnya membuat beberapa—lima orang, tepatnya—menghampirinya dan menanyakan apakah dia baik-baik saja.

 

Kalau tidak boleh menjadi sepasang kekasih sebelum mengikuti acara bersama, maka Hyunseung telah mati karena patah hati saat itu juga. “Jadikan teman mesra saja” sebuah suara itu muncul dari bibir seorang gadis kecil berumur 11 tahun—kiranya dia adalah anggota paling muda.

 

“Hara-ya, apa kamu dengar katanya? Maukah kamu menjadi teman mesraku?”

 

“Sekarang fikirkan, Hara-ya, apa bedanya teman mesra dengan kekasih, ha?” tutur Youngji kemarin, saat Hara baru tiba di rumah Youngji dengan menangis tersedu-sedu.

 

Sejujurnya Hara ingin menjawab, ‘kalau mati saja, boleh tidak?’  tapi terdengar terlalu sadis dan menyakitkan untuk Hyunseung. Jadi demi menjaga perasaan seseorang yang mencintai Hara, dia menerima ucapan tersebut—dengan kata lain bersedia menjadi teman mesra Hyunseung.

 

Masih jelas teringat dalam ingatan Hara saat ia menangis sambil menceritakan semuanya pada Youngji. “Tapi kan aku sudah berjanji untuk tidak jatuh cinta, Youngji-ah!” hanya rengekan itu yang terdengar ditelinga Youngji seharian. Hingga sederet kalimat dari Youngji membuat Hara membungkam,

 

“Reaksi terhadap orang yang mencintaimu tidak harus membalas cinta juga, kamu hanya perlu menjaga perasaannya dan berusaha untuk membuatnya tetap mencintaimu. Kamu akan sangat beruntung saat berhasil melakukannya”

.

 

.

 

.

Tidak ada yang pernah menyangka kalau klub ini semakin menarik. Terlebih dengan kehadiran papan penggemar rahasia yang kerap kali menjadi perhatian selama lima hari terakhir ini. Pada papan penggemar rahasia, tertempel pesan singkat dengan pengirim yang tak disebutkan namanya dan bebas memberi pesan kepada siapa saja.

 

Termasuk pagi itu, setelah Yein menempel semua pesan singkat yang diterimanya semalam tadi, segera ia berlari pergi kembali ke rumahnya sebelum ia terkena teror dari anggota-anggota klub yang biasanya sudah penasaran akut siapa pengirim pesan singkat yang tertuju pada anggota-anggota tersebut.

 

Papan penggemar rahasia mulai ramai. “Wah! Gikwang Oppa dapat pesan!” pekik Hara, lalu memotret pesan tersebut dan mengirimkan foto tersebut pada Gikwang. Tak menyangka bahwa kakak sumpahnya yang jarang muncul di klub itu punya penggemar rahasia yang menyatakan cintanya melalui pesan di papan tersebut.

 

“Hara! Ada namamu!” seru Suzy sembari menunjuk sebuah pesan di papan penggemar rahasia.

 

Kepada: Hara

Dari: Penggemar cokelat

Sepertinya aku tahu siapa yang menerormu dan mencuri cokelatmu, malam itu aku melihatnya. Sayangnya yang kulihat terakhir adalah kamu dan kakak sumpahmu dan kalian tampak mesra, aku cemburu.

 

“Woah! Ternyata ada juga ya, yang mau menjadi penggemar rahasianya Hara!” ledek Youngji, yang kemudian tertawa puas bersama Suzy sedangkan Hara masih terpaku membaca pesan tersebut. Seseorang mengetahui kejadian malam itu?

 

Ditengah-tengah keramaian di depan papan penggemar rahasia, seorang gadis cantik yang merupakan salah satu pengurus klub bagian produser acara berteriak dengan keras, “Yang mau mendaftar acara ‘Malam minggu di Pantai Kyangnam’ silahkan mendaftar sekarang! Aku butuh sepuluh perempuan dan sepuluh laki-laki!”

 

“Apa itu sejenis acara perjodohan?” tanya Dahye yang kebetulan berdiri di dekat Minkyung—gadis cantik yang baru saja selesai berteriak itu.

 

“Tentu saja, pendaftaran terbatas, ayo daftar!” teriaknya lagi. Mendengar penyataan bahwa acara tersebut merupakan acara perjodohan, para anggota yang tadinya merubungi papan penggemar rahasia kini beralih merubungi Minkyung dan mendaftar.

 

Nuna, kamu mau ikut?” tanya Taehyung yang tiba-tiba berdiri sendirian di depan papan penggemar rahasia bersama Hara. Hara bergumam panjang, dan menggeleng. “Ayo ikut!” serunya, lalu menarik paksa Hara dan mendaftar.

 

“Aku juga mendaftar, Minkyung-ie. Tulis namaku, aku Hyunseung, please!”

 

Hara melangkah mundur, rasanya ingin mati setelah mendengar teriakan Hyunseung yang mendaftarkan diri dalam acara tersebut. Dan fakta bahwa namanya sudah tercantum dalam anggota acara ‘Malam minggu di Pantai Kyangnam’ membuatnya makin menciut.

 

“Pendaftaran ditutup! Anggotanya sudah 20 orang, maaf ya yang belum bisa terdaftar, masih banyak acara yang akan digelar oleh Tim Produser Acara di Klub, oke?” bak profesional, Minkyung berhasil membuat daftar anggota acaranya hanya kurang dari 10 menit. “Bagi anggota acara ini silahkan merapat padaku!”

 

Hara berdiri di sebelah Hyeyeon, dan mengapit lengannya. “Unni, aku takut…” bisiknya tepat di telinga Hyeyeon. Hyeyeon terkekeh mendengar bisikan Hara, mencubit pipinya dengan gemas.

 

“Kenapa kamu masih saja memanggilku ‘Unni’, hm? Aku kan bibi sumpahmu, jadi panggil aku ‘Ahjumma’, oke?” tutur Hyeyeon—sama sekali tak mengerti apa yang sedang dirasakan Hara. Hara mengangguk pelan, dan melepas tangannya dari lengan Hyeyeon. Hara bahkan hampir saja lupa kalau Hyeyeon adalah bibi sumpahnya, dan selama ini Hara masih saja memanggilnya dengan panggilan ‘Unni’.

 

“Karena di acara sebelumnya perempuan yang memilih laki-laki, kali ini aku membaliknya. Silahkan laki-laki memilih perempuan. Aku akan memanggil nama laki-laki, dan kalian tinggal sebutkan perempuan yang kalian pilih sebagai pasangan dalam acara ini” jelas Minkyung.

 

Hara merasakan jantungnya berdegub kencang. Sudah ia yakini kalau Hyunseung akan memilihnya. Bagaimana tidak, ini adalah kesempatan bagi Hyunseung untuk menembak Hara setelah kemarin siang menyatakan cintanya dengan frustasi karena peraturan klub mengatakan tidak boleh berpacaran sebelum sama-sama mengikuti acara ‘perjodohan’ di klub. Miris bagi Hara yang sama sekali tak punya perasaan apa-apa pada Hyunseung.

 

“Mark?” panggil Minkyung.

 

“Hyeyeon.” Jawab Mark.

 

Hyeyeon terkejut, lalu tersenyum manis. “Aw, aku tersentuh karena kamu memilihku, haha!” dengan tingkah aneh khas Hyeyeon, mereka berdua jadi tampak serasi.

 

“Hyunseung?” panggil Minkyung.

 

“Hara!” jawab Hyunseung dengan gembira.

 

Hara menghela nafas, lalu melirik Hyunseung yang tersenyum puas. “Selamat, Nuna” bisik Taehyung yang ternyata berdiri di belakang Hara.

 

“Taehyung?” panggil Minkyung.

 

“Um…” gumamnya, “Perempuan yang mau kupilih sudah dipilih, aku harus bagaimana?” tanyanya, lebih terdengar seperti curhatan yang menyedihkan.

 

“Pilih perempuan lain-lah, mau bagaimana lagi?” timpal Minkyung.

 

Taehyung memutar pandangannya dan memperhatikan gadis-gadis lain yang belum terpilih, “Kalau begitu aku memilih Soojung” jawabnya kemudian.

 

Sedangkan Minkyung melanjutkan pendataan, Hara menerima pesan singkat di ponsel dari Gikwang.

 

Dari: Kakak sumpahku tercinta

“Gikwang-ie, sebenarnya aku menyukaimu” apa kamu yang mengirim pesan itu untuk ditempel di papan penggemar rahasia? Dan apalagi ini? Jahat sekali kamu tak mau mendaftarkanku di acara perjodohan itu—lagipula besok Sabtu aku sudah di rumah. Aku kan juga ingin punya kekasih!

 

Hara mengangkat tangannya, “Ada apa, Hara?” tanya Minkyung yang merasa Hara ingin menanyakan sesuatu.

 

“Apa aku boleh keluar dari acara ini? Aku ingin menemani Gikwang Oppa saja dan aku merasa bersalah karena aku tidak mendaftarkan dia—“

 

“Tidak boleh. Apa kamu belum juga sadar betapa sulitnya mendaftarkan diri ke acara perjodohan? Banyak anggota yang ingin mendaftar juga, jadi jangan seenaknya keluar begitu” potong Minkyung, berlagak seperti produser acara TV yang sesungguhnya.

 

Hara mendengus, “Baiklah, maaf.”

 

“Apa Nuna berencana untuk berpasangan dengan Gikwang hyung?” tanya Taehyung pada Hara yang tampak sangat kesal.

 

“Tidak juga, sih” jawab Hara singkat.

 

Taehyung mengangguk mengerti, “Nuna, nanti sore main sama aku di bukit Hanjang, ya” bisiknya lengkap dengan sebuah senyuman menawan khasnya.

 

“Nanti aku mau pergi—“

 

“Acara ini akan dilaksanakan empat hari lagi, tepat di hari Sabtu. Berkumpullah di Pantai Kyangnam pukul 7 pagi. Sama dengan acara kencan pada umumnya, pada hari Sabtu itu kalian boleh kemana saja dan melakukan apa saja—kecuali berhubungan tubuh—dan aku sudah menyiapkan pesta kembang api di malam hari” Minkyung menjelaskan acara perdana keduanya selama menjadi anggota klub. “Ada pertanyaan?”

 

Segera, berbagai pertanyaan menyerbu Minkyung.

 

“Disana ada kamar mandi, kan?”

 

“Ada restoran?”

 

“Benar-benar hanya kita yang ada di sana, kan?”

 

“Bisa menembak, kan?”

 

Yang terakhir itu, keluar dari mulut Hyunseung.

.

 

.

 

.

 

Hara berlari sekuat tenaga menaiki bukit Hanjang dan berhenti di hadapan Taehyung yang sedang meniup gelembung sendirian. “Tae—“ ia terbatuk dan memutuskan untuk mengatur nafasnya sebelum berbicara.

 

Nuna sangat terlambat, aku sudah selesai bermain.” Tutur Taehyung dengan dingin sembari memberesi sabun gelembung dan alat-alat lainnya.

 

Hara memandangi Taehyung yang sibuk bersiap untuk kembali kerumahnya, “Kamu kenapa, sih? Kok dingin begitu?” Hara menahan lengan Taehyung sebelum lelaki itu pergi meninggalkannya.

 

Taehyung menundukkan kepalanya, enggan menatap Hara. “Aku merasa Hara Nuna berubah.” Ucapnya lirih. Detik berikutnya ia melepaskan tangan Hara dan pergi dari bukit Hanjang, kembali ke rumahnya bersama peralatan gelembungnya.

 

“Apa maksudmu berubah?” teriak Hara yang tampak terlalu lelah untuk berlari lagi mengejar Taehyung. “Berubah bagaimana, eoh?” teriaknya lagi, berharap Taehyung berhenti melangkah dan menjawab Hara.

 

Kini ia berdiri di puncak bukit Hanjang, bersama matahari yang semakin menenggelamkan diri tanpa berkomentar apapun padahal masih ingin setia menggantung di langit mumpung musim panas masih berlangsung meski sudah hampir berakhir. Sejenak, Hara berharap musim panas segera berakhir dan semuanya akan kembali berjalan dengan lancar di musim gugur yang akan datang.

 

Rasa bersalahnya akan keterlambatannya menemani Taehyung bermain menyeret bersama langkah kakinya menuju ke rumahnya—enggan pulang ke rumah Gikwang agar ia tidak bertemu dengan Hyunseung malam ini. Bukannya merasa ini semua salah Hyunseung yang sudah mengajaknya pergi sampai ke Namsan Tower, tapi lebih kepada rasa bersalahnya pada Taehyung.

 

Setelah meletakkan boneka Beruang Teddy yang menggunakan sweeter merah muda dan celana hitam—sebuah penyamaran dari sebuah boneka menjadi seorang lelaki yang merupakan pemberian dari Hyunseung dari Museum Beruang Teddy yang mereka kunjungi tadi pagi—, Hara membaringkan tubuhnya di ranjangnya yang dingin karena sudah lama tidak ia sentuh selama berminggu-minggu semenjak ia menginap dirumah Gikwang.

 

“Hei, cepat pergi!”

 

Niat Hara yang ingin tidur sebelum larut malam tiba tergantikan dengan sebuah suara bisikan yang membuat Hara terduduk dan mengedarkan pandangannya keseisi kamarnya yang hanya berpenghuni dirinya sendiri.

 

Bagus. Sekarang Hara tak mau takut lagi dengan pencuri cokelatnya lagi. Jadi dia berdiri dan melangkahkan kaki dengan hati-hati menuju ke pintu kamarnya dan mengintip dilubang kunci kamarnya. Terlihat dua manusia diluar kamarnya, sedang berdiri saling berhadapan. Hara mengira dua manusia itu adalah seorang gadis dan seorang lelaki—dilihat dari bentuk tubuh mereka.

 

“Kamu kenapa kemari? Bukankah kamu dan Hara seharusnya ada dirumah Gikwang Oppa?” Hara semakin yakin kalau salah satunya adalah seorang gadis setelah mendengar suara seorang gadis yang tak asing…

 

Iya, Hara sering mendengar suara tersebut.

 

“Aku yang seharusnya bertanya padamu, Dahye-shii

 

“-‘shii’? Se-asing itukah aku untukmu?”

 

“Kenapa kamu mencuri cokelatnya Hara?”

 

“Karena aku menyukaimu, Op—“

 

Brak. Pintu kamar Hara terbuka tanpa sengaja—dan membuatnya jatuh tersungkur diantara kaki dua manusia yang akhirnya Hara ketahui merupakan Hyunseung dan Dahye. “Hara?” panggil Hyunseung.

 

Hara mengangkat kepalanya, lalu mengangkat tubuhnya untuk berdiri tegak. Pertama ia menatap Dahye dengan tatapan tak suka, “Aku pergi, dah!” tanpa rasa bersalah, Dahye meluncur keluar dari rumah Hara dan menghilang dalam sekejap—dan segera merencanakan sesuatu yang baru untuk besok.

 

“Kenapa tidak pulang ke rumah Gikwang hyung?” tanya Hyunseung yang tampak acuh tak acuh terhadap kepergian Dahye dan menatap Hara dengan tatapan khawatir. Rasa-rasanya lidah Hara mulai kelu, tak dapat berkata apapun lagi selain menatap Hyunseung. Merupakan tatapan baru dari Hara. Tatapan yang datang dari hati.

 

Sebanyak itukah gadis yang sedang dekat dengan Hyunseung sampai Hara harus mendengar salah satu dari mereka menyatakan perasaannya di hadapan Hara? Dikelilingi banyak gadis adalah salah satu alasan Hara menghindari Hyunseung.

 

Namanya juga perasaan cinta, mana bisa dibohongi. Hyunseung tak semudah itu menyerah. Lihat, dia bahkan telah mengabadikan cintanya pada Hara dalam bentuk gembok yang sudah terpasang dengan aman diantara beribu gembok lain di Menara Namsan yang mereka kunjungi tadi siang. Lantas, apakah Hara selugu itu?

 

Tidak. Hara tak ingin mencintai seseorang dengan mudah seperti halnya seorang lelaki yang selalu jatuh cinta dengan mudahnya. Butuh waktu baginya untuk mencari zona nyaman bersama Hyunseung, dan hari ini adalah waktunya. “Oppa…” panggil Hara, hendak berbicara.

 

“Maafkan aku, aku terlalu mengkhawatirkanmu, aku mengikutimu ke bukit Hanjang tanpa kamu ketahui dan melihatmu bertengkar dengan Taehyung. Hal itu membuatku ingin…”

 

Tatapan tulus Hara mendadak berubah menjadi tatapan dingin, “Apakah pengirim pesan penggemar rahasia yang tertuju padaku itu… kamu?” tebak Hara, masih selalu mengingat isi pesan tersebut. Hyunseung menghembuskan nafasnya perlahan, lalu mengangguk pelan.

 

Hara terkekeh pelan, merajut satu langkah mendekat pada Hyunseung dan mendaratkan pukulan didada bidang Hyunseung, “Kenapa tidak bilang…” suara yang seharusnya terdengar seperti protesan itu lebih pantas disebut rengekan. “Kamu pasti mematikan ponselmu karena kamu takut ketahuan bersembunyi, kan? Aku menelponmu dan berharap kamu datang menolongku!” sekarang ia menjerit, diiringi sebuah tangisan.

 

“Gikwang terlalu cepat datang padahal aku hendak…“ Hyunseung memotong argumennya sendiri kemudian meralatnya menjadi sebuah dorongan tangannya pada tubuh mungil Hara hingga membuatnya tersandar pada dinding, “Aku hanya ingin kamu milikku, tak mau ada orang lain lagi, Hara-ya…”

 

Sebuah ciuman meluncur begitu saja selama tiga detik tanpa memberikan Hara kesempatan untuk memejamkan mata atau—“Maafkan aku. Sekarang kamu harus tidur di rumahmu sendiri dan aku akan pulang. Pencurinya sudah ketemu dan besok aku bisa membantumu melaporkan Dahye”

 

Lantaran Hara mematung di sana, Hyunseung melangkah pergi meninggalkan Hara. “Oppa jangan pergi…” suara sumbang Hara berucap lagi menghentikan langkah Hyunseung dan membuat kepalanya berputar menoleh ke belakang, memandangi Hara yang kini menarik-narik tangan Hyunseung, “Temani aku malam ini… temani aku seperti yang seharusnya kamu lakukan malam itu…”

 

Bukan hal mudah bagi Hara untuk menerima Hyunseung sepenuhnya, tapi inilah yang ia putuskan sekarang. Benar adanya bahwa Hara telah melanggar janjinya yang berbunyi bahwa ia tak akan jatuh cinta di musim panas ini, tetapi bukankah lelaki yang sedang mencintainya dengan tulus akan sia-sia bila ditinggalkan? Itu yang ada difikiran Hara, tanpa sadar ia melupakan satu hal yang tak kalah tulus dari cinta Hyunseung padanya.

.

 

.

 

.

 

“Hara!” teriak Youngji yang tampak sedang berlari menghampiri Hara dari arah barat. “Tae… Taehyung!” kini ia meneriaki nama Taehyung saat tiba di hadapan Hara yang sedang duduk manis di teras rumahnya sambil memakan cokelat buatannya yang rasanya masih semanis terakhir kali ia buat bersama Gikwang.

 

Mendengar sederet nama tersebut lantas membuat Hara tersedak, “Apa yang terjadi pada Taehyung?” pekiknya pada Youngji yang masih sibuk mengatur nafasnya setelah berlari cukup jauh.

 

“Dia ada dibelakang rumahnya sedang…” jawab Youngji semampunya. “Me…”

 

Enggan mendengar penjelasan Youngji yang lambat tersebut, Hara buru-buru meletakkan cokelatnya di tangan Youngji lalu berlari menuju rumah Taehyung. Hatinya mengatakan bahwa ada hal buruk yang terjadi setelah kemarin Taehyung berkata bahwa Hara telah berubah.

 

Garis-garis tipis yang membentuk retakan kecil di dinding belakang rumah Taehyung menjadi perhatian Hara saat tiba di sana. Kemudian pandangannya beralih pada Taehyung yang sedang terduduk di rumput halaman belakangnya bersama Dahye, Yein, dan Soojung dengan sebelah tangan yang bengkak dan mengeluarkan darah.

 

“Taehyung, kamu kenapa?” pekik Hara, ikut duduk.

 

“Tak apa, Nuna. Kenapa Nuna kemari?” tatapan penuh kasih sayang khas Taehyung merasuk ke dalam kedua mata Hara.

 

“Jadi kamu ini kenapa melukai dirimu sendiri? Ceritakan pada kami, eoh” tutur Dahye sesaat setelah mendengar Taehyung merintih lagi saat Yein sedang membersihkan luka di tangan Taehyung.

 

Taehyung memandangi tangannya, “Aku merasa bersalah telah menyukai dia…” jawabnya, suara khas beratnya mendadak serak dan sumbang, seperti hendak menangis. “Seharusnya aku tidak menyukainya…”

 

“Jangan bilang kamu belum menyatakan perasaanmu—“

 

“—Bagaimana bisa?!” teriak Taehyung pada Soojung.

 

“Lalu kenapa kamu merasa bersalah menyukai orang itu?” tanya Hara, berfikir bahwa kemarin Taehyung telah salah bicara—maksudnya, seharusnya Hara yang berkata pada Taehyung bahwa Taehyung berubah, bukan Hara yang berubah.

 

Taehyung beralih menatap Hara, “Orang itu… sudah ada yang punya, Nun. Aku tak punya kesempatan untuk meraihnya…” jawab Taehyung, “Dan aku hanyalah keluarga sumpahnya, aku tak seharusnya menyukainya” tambahnya sembari memalingkan muka dari Hara dan menatap adik sumpahnya, Yein.

 

“Siapa orang itu?” tanya Dahye—merasa mendapatkan beberapa orang yang mungkin menempati posisi ‘gadis yang disukai Taehyung’.

 

“Tidak perlu tahu” timpal Taehyung. “Yein, ayo kita masuk” ajaknya sembari mengenggam tangan Yein.

 

Taehyung berdiri dibantu Yein, mendorong Hara, Soojung, dan Dahye ikut berdiri. Belum puas dengan jawaban Taehyung yang tak mau menyebutkan gadis yang ia suka, Dahye terus menyebutkan nama-nama gadis yang ia fikirkan, “Yein?”

 

“Tidak, hei, aku tidak mungkin menyukai Yein yang sudah menjadi milik Jungkook!”

 

“Soojung?”

 

“Bukan. Sudahlah, Dahye.” Taehyung mulai melangkah bersama Yein yang menjajari langkahnya. “Jangan bahas dia lagi, aku ingin di rumah dengan Yein, kalian semua pulanglah” tukasnya.

 

Hara menghela nafas, “Tae, kamu salah tentang apa yang kamu ucapkan kemarin” tuturnya, ingin membela dirinya, tak terima dengan suasana dingin diantara dia dan Taehyung. Taehyung menoleh dan menatap Hara dengan tatapan dingin, “Kamu yang berubah, bukan aku. Maksudku, aku tak berbeda jauh dengan Yein, kan? Aku bisa kamu jadikan tempat bercerita dan bermain seperti biasanya, bukan?”

 

“Aku pulang.” Soojung dengan datarnya pamit dan segera pergi dari sana, seolah enggan mengikuti pertengkaran tak berarti tersebut—mengingat berbagai pertengkaran anggota lain yang menumpuk di fikirannya dan harus ia selesaikan selaku pengurus klub.

 

“Atau… Hara?” setidaknya itulah nama terakhir yang ada difikiran Dahye.

 

“Tae Oppa, sudah ayo kita masuk” kata Yein sembari menarik pelan tangan Taehyung, tak ingin momen ini berlanjut.

 

Hara saling bertatap muka dengan Taehyung dengan tatapan dingin, “Ah, jadi benar, ya…” ujar Dahye, “Aku pulang juga, kalau begitu.” Ia kibaskan tangannya ke udara, lalu berlari pergi keluar dari rumah Taehyung—barangkali muak dengan kehadiran Hara.

 

“Sudah puas?” tohok Taehyung dengan nada tak suka. Hara menundukkan kepalanya, rasanya ingin mati saat itu juga. “Iya, aku memang menyukaimu, Hara Nuna. Dan kamu tak pernah menyadarinya sampai aku terlambat mengatakannya, orang lain lebih dulu mengatakannya.”

-To be continued-

A/N: Rasanya pengen bunuh diri waktu ngepos fanfict ini -_- /abaikan/

Aku harap kamu bukan silent reader dan terima kasih untuk like-nya di Chapter 1🙂 Sekali lagi, ini adalah fanfict terakhir sebelum aku hibernasi, kakak-kakak semuanya :’D

Ditunggu chapter 3-nya ya~

One thought on “Love Hater (Chapter 2)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s